Friday, March 1, 2019

Allah Sanggup Pelihara Keluargamu

Pdt. Theofilus Sudari

Mazmur 46
1      Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.
2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
3  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;
4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela
5  Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.
6  Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.
7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.
8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela
9  Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi,
10 yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!
11 "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"
12 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

Sekalipun hidup kita di dalam Tuhan, hidup tetap merupakan perjalanan dari satu masalah ke masalah lainnya

              Kita semua mempunyai iman yang sama yakni iman kepada Yesus Kristus, iman kepada Allah yang hidup dan yang memperhatikan pergumulan-pergumulan kita. Kita bersyukur iman itu diberikan karena anugerah di dalam Yesus Kristus. Dalam iman kepada Yesus Kristus ada mujizat, pemulihan, kuasa , kekuatan dan lainnya namun harus diakui dengan jujur sekalipun kita hidup di dalam Tuhan, hidup kita merupakan perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain. Masalah yang satu belum selesai, sudah antri masalah yang ada di belakangnya. Masalah-masalah itu bahkan seringkali menghampiri kita secara bersamaan.
              Ketika masalah datang bertubi-tubi kita mempertanyakan benarkah Tuhan itu ada? Kita menjadi stres, depresi,  ragu, takut, cemas.  Masalah dan kemunduran kemudian hadir dalam hidup kita. Sekitar 25 tahun lalu, saya menjadi orang percaya. Saya lahir dari keluarga non Kristen. Papa saya adalah seorang penerjemah Al Quran, kakek-nenek saya khotib (pengkhotbah) di mesjid. Saya keturunan dari keluarga yang sungguh-sungguh belajar agama. Sehingga suatu hari, keluarga saya percaya kepada Yesus Kristus, namun saya tidak mau percaya. Saya sekolah SMP kelas 3  di sekolah yang mayoritas teman saya adalah orang-orang Tionghoa. Suatu hari seorang teman mengajak saya ke gereja dan akhirnya percaya dan menerima Kristus. Belum seminggu saya dibaptis, keluarga kami didatangi orang sekampung. Mereka berkata,”Iman kamu dengan kami sudah berbeda. Kalau tetap percaya, kamu tinggalkan kampung ini. Tetapi kalau kamu sangkal imanmu, kamu tetap tinggal di sini”. Keluarga kami sebenarnya sangat baik dan diterima oleh masyarakat . Tetapi hanya karena percaya kepada Yesus, mereka mengatakan hal yang berbeda. Akhirnya papa yang sudah terlebih dahulu percaya mengatakan, “Kalau memang susah biar kita susah.” Kami hanya diberi waktu 1 bulan untuk pindah, dan kami tidak tahu mau pindah ke mana. Tanah yang kami tinggali sebenarnya diberikan oleh seorang sahabat papa. Karena tidak ada secarik kertas, maka tanah tersebut diambil lagi. Belum selesai bergumul dengan persoalan pindah tempat tinggal, papa terkena stroke. Belum selesai hal itu teratasi, adik saya yang paling kecil terkena kanker otak. Saat kami belum tahu adik saya mau dibawa ke rumah sakit mana, usaha keluarga kami bangkrut sampai ke titik nol. Dalam kondisi seperti itu, keluarga papa dan mama mulai berdatangan dan membujuk, “Kami akan bantu kalau kalian kembali ke agama semula”. Dalam kondisi seperti itu, akan sangat mudah buat saya untuk mengatakan, “Iya ternyata salah pintu, salah Allah.” Ternyata apa  yang dikatakan sebagai Allah yang membela ternyata tidak juga karena hidup makin susah. Masalah benar-benar bertumpuk. Puji Tuhan karena kami diberi kekuatan walaupun akhirnya adik saya meninggal dan papa sembuh walau tidak sungguh sembuh secara tuntas. Namun hal itu membuat pengalaman iman kami menjadi nyata. Kami pindah ke satu tempat dan puji Tuhan di sana ada 1 gereja dan di sana iman saya bertumbuh dan kemudian menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan.
              Pada umumnya ketika masalah datang ke dalam keluarga kita tidak bersamaan waktunya (datang satu per satu), tetapi sering kali berefek domino. Misalnya : sakit fisik berkepanjangan mengakibatkan kita kehilangan pekerjaan. Kehilangan pekerjaan menyebabkan  ekonomi menjadi tidak baik. Kondisi ekonomi tidak baik menyebabkan anak-anak putus sekolah. Ini terjadi pada kakak saya semua yang keluar dari sekolahnya. Kemudian muncul masalah-masalah lain  alias berefek domino. Satu masalah  yang tidak selesai akan menimbulkan persoalan-persoalan lain. Seperti ada pernyataan yang sering dipakai orang ketika ditanya, “Apa di sini banyak nyamuk?” Yang dijawab,”Tidak. Nyamuknya tidak banyak. Hanya ada 1 nyamuk. Tetapi teman-nya banyak sekali.” Masalah hanya 1 seperti sakitnya berkepanjangan sehingga akhirnya menimbulkan masalah. Begitu satu masalah datang, muncul masalah lain karena ada efek domino.

Mazmur 46 (Kekuatan saat menghadapi Masalah)

Biarlah saat membaca Mazmur 46 menjadi kekuatan bagi kita yang sedang menghadapi masalah, krisis dalam keluarga yang sedang terjadi saat ini seperti dalam relasi suami-istri, relasi orang tua-anak, pekerjaan dan lain sebagainya . Kita tidak tahu sampai berapa lama masalah itu datang dan sampai kapan masalah selesai. Tetapi Mazmur memberi kekuatan, Allah dulu sekarang dan selamanya tetaplah melindungi dan  menjaga kita. Mazmur 46 mengingatkan kita pada  peristiwa 31 Oktober 1517 yaitu peristiwa Martin Luther  dengan 95 dalilnya yaitu ketika ia menancapkan dalilnya pada pintu gerbang gereja Wittenberg. Jelas Martin Luther sedang ingin mengajak orang-orang percaya agar kembali kepada anugerah Allah dan iman sesungguhnya. Karena pada saat itu orang Kristen mulai meninggalkan imannya, Alkitab dan Tuhannya, maka Martin Luther berjuang dan terus mendorong di tengah kondisi yang sangat sulit (dikejar-kejar untuk dibunuh). Martin Luther mengambil lagu dari Marzmur 45 ini (A Mighty Fortress is Our God - Allah Kota Benteng Teguh, KPPK no. 387). Syair lagunya sangat bagus sekali. Di tengah kondisi yang menghimpit dan sepertinya persoalan itu tidak akan selesai Martin Luther mengatakan Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku, menolong bilaku jatuh dan jadi pengharapanku. Meski musuh keji, menyerang tak henti, ngeri kuasanya dan tipu dayanya, namun Kristus p’liharaku. Martin Luther dengan pujian ini selama berabad-abad memberi kekuatan dan kemampuan bagi orang percaya, mereka yang sedang ditindas , dikucilkan dan akan dibunuh. Pujian ini membuat mereka tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, Allah yang hidup. Pemazmur mengungkapkan satu bagian yang sangat baik yang memberi tahu kepada kita, saat engkau tertekan oleh satu masalah (apapun persoalannya), Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Maz 46:2). Dia mengungkapkan  tetap bagaimana pun Allah adalah sumber kekuatan dan pemeliharaan, tidak ada yang lain. Sumber perlindungan yaitu tempat di mana kita merasa aman, diamankan, mencari rasa aman. Pada waktu itu orang selalu berfokus bahwa tempat teraman adalah di dalam benteng. Sehingga orang-orang zaman dahulu saat peperangan pasti akan membangun benteng yang sangat kuat seperti Tembok Besar di Tiongkok adalah benteng untuk mempertahankan diri agar musuh tidak bisa masuk. Benteng yang kokoh bisa jadi tempat berlindung tetapi tidak punya kekuatan untuk mengusir musuh dan tidak ada jaminan orang yang berada di dalamnya akan selamat.

Sebagai Penolong dalam Kesesakan Sangat Terbukti

Kalau membaca sejarah, kita akan tahu peristiwa benteng Masada. 2 tahun lalu saya pergi ke sana dan belajar ke Yordania dan ke beberapa tempat situs-situs Alkitab dengan beberapa teman. Pada tahun 72/73 Masehi, ada peristiwa benteng Masada yang merupakan peristiwa tragis bagi bangsa Yahudi. Benteng Masada mulanya adalah  istana yang dibangun oleh Raja Herodes sebagai tempat ia beristirahat. Dari atas benteng itu , dia akan melihat semua kota yang ada di Israel (terlihat dari atas, bahkan kalau diteropong dapat melihat ke seluruh penjuru). Dari istana, Herodes dapat melihat semuanya. Tetapi pada tahun 68 orang Yahudi dipimpin oleh kaum Zelot yang merupakan pasukan berani mati dan sangat perkasa dan ingin menyerang benteng Masada dan akhirnya dikuasainya. Semua orang di dalamnya dihabisi termasuk Raja Herodes. Zaman kaisar Titus panglima Romawi mengirim pasukan dan mengepung benteng Masada pada tahun 72 SM. Lalu orang Yahudi yang tinggal di dalam terkepung dan tidak bisa keluar. Setelah 1 bulan lebih, mereka kehabisan makanan. Ketika tidak punya makanan, lalu Eliezer  berpidato kepada rakyatnya,”Kita mungkin tidak bisa bertahan dan akan mati. Tetapi kita masih punya kehormatan yang tidak terletak di kaki bangsa Romawi. Kita punya kehormatan tidak pernah menyembah tentara Romawi. Kalau kita keluar dari benteng maka kita menjadi hamba Bangsa Romawi.” Eliezer kemudian mengajak semuanya bunuh diri. Sebelum bunuh diri Eliezer meminta untuk memilih 10 orang untuk membunuh semuanya. Dari 10 orang tersebut ditunjuk 1 orang untuk membunuh yang 9 orang lainnya, lalu yang 1 orang ini kemudian membunuh dirinya sendiri. Akhirnya saat tentara Romawi masuk ke benteng Masada mereka kaget menjumpai sekitar 960 orang Yahudi sudah mati. Peristiwa Masada ini menjadi dasar untuk memperingati kepahlawanan orang-orang Yahudi. Orang Yahudi mengingat ada orang yang berani mati demi suatu kehormatan tidak mau menyembah kepada tentara Romawi.
              Dari benteng yang sangat indah tadi,, benteng yang kokoh dan kuat memang dapat menjadi tempat perlindungan tetapi tidak mempunyai  kekuatan untuk menolak musuh. Benteng yang kuat tidak ada jaminan bahwa orang yang tinggal di dalamnya akan selamat selamanya. Tetapi berbeda waktu pemazmur mengungkapkan “ Siapa Allah orang percaya? Allah bukan hanya adalah tempat perlindungan tetapi juga memberi kekuatan untuk melawan segala sesuatu yang bisa membahayakan orang itu. Dengan kata lain pemazmur ingin mengungkapkan Allah yang hidup bukan hanya menjaga kita tetapi kalau ada musuh datang, Allah yang hidup memberi kekuatan bagi kita untuk menolak dan melawannya. Kalau iblis datang, kita bisa usir dalam nama Yesus. Dengan kata lain pemazmur ingin mengatakan Allah benteng yang hidup tetapi benteng Masada adalah benteng yang mati, yang hanya memberi kekuatan sementara. Pemazmur mengatakan bahwa harta bisa beri kenyamanan tetapi tidak bisa menjamin orang itu damai sejahtera. Rumah yang megah bisa menjamin orang bisa berlindung di dalamnya tetapi tidak menjamin tidak akan roboh oleh badai dan sebagainya. Baik uang maupun harta benda semua dikejar manusia tetapi tidak pernah menjamin manusia tetap selamat di hadapan Tuhan. Pemazmur mengatakan,”Sebagai penolong, benteng yang kokoh dan kuat dapat menjadi tempat perlindungan tetapi tidak mempunyai kekuatan.”

Pemazmur mengatakan sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti berarti peran Allah sebagai tempat perlindungan dan kekuatan tidak perlu diragukan. Sejarah mencatat dari kitab Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru memperlihatkan bagaimana orang-orang yang tetap berlindung setia kepada Tuhan, Tuhan akan pelihara sampai kesudahannya. Menjelang pagi artinya  Allah tidak pernah terlambat walaupun terlihat agak terlambat. Pemazmur berkata  ketika Daud dalam kesulitan, dikejar musuh, dalam kesesakan Daud naik ke atas gunung. Maz 121:1-2 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?  Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Gunung pada saat itu adalah simbol keamanan karena banyak dewa di sana. Ketika saya naik ke gunung Sinai pk 1 malam, naik tanpa dituntun orang tetapi naik di atas onta dalam kondisi gelap dan  onta berjalan sampai ke puncak.   Saya baru tahu setelah ada matahari, di kanan-kiri jalan adalah jurang yang curam. Kalau kita berteriak “Haleluyah” gemanya bisa sampai ke mana-mana. Saya bertanya kepada orang di sana, “Gunung di sana punya kekuatan mistis yang luar bisa”. Hingga saya percaya Daud berkata, “Adakah kekuatan yang bisa menolong saya?” Tidak ada! Karena pertolonganku dari TUHAN yang menjadikan langit dan bumi. Tuhan disini adalah TUHAN (memakai huruf besar semua) YHWH yakni Allah yang menciptakan langit-bumi, alam semesta, umat manusia, yang berjanji ya dan amin , Allah yang memelihara umatNya dengan sungguh-sungguh. Ada yang mengatakan TUHAN merupakan simbol Allah Tritunggal ada di sana. Adakah di antara kita yang menghadapi pergumulan, kesulitan (sakit-penyakit) datang kepada Tuhan lalu ada damai sejahtera. Kalau kita sudah menyerahkan pergumulan, tetapi masih cemas , takut dan bimbang, saya ragu saudara bukan sedang datang kepada Tuhan.
Saya masih ingat saat diusir, kami sama-sama berdoa pada pk 4 pagi. Doa kami persis sama dengan lagu tadi. Jangan lepaskan kami Tuhan. Kalau Engkau lepaskan, kami pasti sangkal imanMu. Apalagi adik dari papa kami berkata, “Sudahlah kalau kamu tinggalkan iman, satu keluarga semua umroh.” Saat itu umroh adalah kebanggaan luar biasa. Dalam doa kami tidak minta disediakan rumah. Doa kami hanyalah,”Tuhan jangan lepaskan”. Kami tidak minta agar papa disembuhkan karena kami tahu sakit stroke dan kanker otak bukan perkara mudah untuk disembuhkan. Kami tidak ragu dengan iman. Saat itu kami di GBI  yang katanya penuh mujizat sebelum saya kuliah di STRII. Kami hanya berdoa, “Tuhan jangan lepaskan. Beri kami kekuatan damai sejahtera.” Terkadang kita begitu kurang ajar datang kepada Tuhan.  Ketika kondisi baik, kita tidak datang dengan serius. Baru setelah masalah, kita “paksa-paksa” Tuhan.
              Seperti kemarin di lapangan Monas ada yang berkata, “Kalau Tuhan tidak pulihkan dan sembuhkan, kami tidak sembah Engkau lagi.” Banyak orang Kristen seperti itu. “Tuhan kalau tidak pulihkan ekonomi dan keluargaku, sembuhkan sakitku, saya tidak akan melayani Engkau lagi, perpuluhan akan saya kurangi.” Di gereja saya banyak jemaat seperti itu. Kita begitu kurang ajar, tidak serius ikut Tuhan. Siapa orang yang paling kurang ajar memandang Allah sehingga tidak ada damai sejahtera? Selalu saya katakan sebagai mantan orang Muslim yang taat adalah orang  Kristen yang mengaku sebagai anak Allah dan selalu menyebut Allah sebagai Bapa. Saya tidak  pernah lihat di mesjid orang berdoa bawa handphone sambil lihat Instagram, Facebook, balas  pesan WA, tidak ada, tetapi di gereja banyak. Lagi buat pengakuan dosa, dia buat dosa. Cekakak-cekikik baca yang lucu-lucu. Tidak ada orang di klenteng, saat sedang berdoa membalas pesan handphone terlebih dahulu. Moga-moga di sini tidak ada jemaat seperti itu. Kalau ada bertobatlah! TUHAN adalah Allah yang dahsyat. Jangan engkau main-mainkan. Engkau menyebut Dia sebagai Bapa sehingga harusnya ada hormat. Saya tidak sedang marah tetapi sedang banyak menegur gereja. Mentang-mentang sekarang tidak tidak bawa Alkitab, maka ketika khotbahnya membosankan, lalu membuka Instagram, Whatsapp, Twitter, Facebook. Kita sedang beribadah ke Tuhan, bukan sedang datang ke Ko Akiong untuk pinjam uang. Barangkali saat ibadah, tidak sunggguh-sungguh datang kepada Tuhan. Dalam doanya dikatakan,”Aku datang kepada Tuhan siapa tahu Tuhan tolong saya.” Di dalam Maz 46:3 mengatakan  Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kalau sungguh percaya bahwa pertolongan dan  perlindungan adalah Tuhan, maka kita yang percaya kepada Allah YHWH , tidak akan takut sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang, di dalam laut sekalipun ada tsunami, bencana dan sebagainya. Pemazmur mengungkapkan apa yang dirasakannya saat menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan karena Allah tidak tergoncangkan. Situasi dunia bisa goncang, laut bergelora, terjadi gempa bumi, tsunami, banjir di mana-mana, tetapi Allah tidak tergoncangkan.
              Tiap hari saya mendengar, stock makanan di bulan April tidak ada, tidak tahu apa yang akan terjadi. Kalau terjadi dalam kedaulatan Allah akan memurnikan kita. Kita boleh bersiap-siap tetapi jangan melampaui kekuatan iman kita. Situasi dunia akan semakin buruk, masalah demi masalah hadir. Pemazmur berkata, orang yang disembah orang Kristen adalah Allah yang tidak tergoncangkan. Saya bersyukur kepada Allah dan hanya mengatakan ,”Bapa, Bapa jangan lepaskan tangan kami, anakmu.” Sampai hari ini kami beriman dan cukup. Pemazmur memberi 2 alasan kenapa kita tidak takut dan kita percaya Allah sanggup menjaga dan memelihara kita :

1.     Ayat 5. Kota Allah, kediaman yang maha tinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

Ayat 6. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang. Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bagian ini ingin mengatakan bahwa orang -orang yang mengandalkan pertolongan Tuhan, tidak akan pernah layu. Sungai itu adalah lambang kehidupan. Tuhan Yesus mengatakan,”Akulah air hidup”. Kalau dekat dengan Tuhan, maka kita tidak mengalami kekeringan rohani dan segala kebutuhan kita karena Dialah yang terus menghidupi kita.  Pemamur memaksudkan sungai bukan secara lahiriah tetapi sebagai Roh Kudus. Yoh 7:38-39  Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup."  Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan. Diberikan kepada  mereka yang percaya kepadaNya. Apakah kita yakin percaya kepadaNya. Saya bertanya kepada anak saya,”Kamu percaya papa akan mengasihi dan menjagamumu?” Dia menjawab,”Saya percaya karena papa saya”. Percaya itu ada 2 yaitu trust dan believe dan keduanya berbeda. Believe sekedar percaya. Trust melampaui believe. Ia bukan sekedar percaya kepada papanya tetapi papanya sudah membuktikan artinya dia kenal dan punya pengalaman bersama papanya. Banyak orang Kristen tidak punya pengalaman bersama dengan Tuhan karena hanya percaya. Dia tidak pernah menguji firman Tuhan untuk dialami. Sudah waktunya kita menguji firman Tuhan artinya kita mengalami apa yang dikatakan Firman itu. Roh Kudus ketika kita percaya, akan berperan, Kalau masalah belum selesai fungsinya memberi damai sejahtera, mengingatkan kita kepada firman Tuhan. Di saat kita mulai mencari pegangan yang lain, Roh Kudus akan berkata, “Jangan ke sana!  Datang kepada Tuhan!” Saat masalah belum selesai karena menunggu menjelang pagi, Alkitab mencatat Roh Kudus memberi kekuatan, penghiburan, kepekaan bahkan damai sejahtera yang melampaui segala akal pikiran.
         Roh Kudus tinggal di hati orang yang sungguh-sungguh percaya kepadaNya dan menaruh hidupnya kepada Kristus dan Kristus hidup di dalamnya. Itulah sebabnya Kristus saat berkhotbah di bukit pernah berkata, “Bukan setiap orang yang berseru-seru ‘Tuhan, Tuhan’, bukan setiap orang  yang melakukan mujizat , mengusir setan demi nama Yesus pasti masuk sorga.” Siapa yang diterima? Orang yang melakukan kehendak Tuhan dan mengenal Dia. Hidup kekal adalah mengenal satu-satunya Allah. Dalam hidup kita banyak allah.  Allahnya  bisa berupa harta, jabatan atau uang. Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Kalau sungguh – sungguh percaya kepada Yesus Kristus, maka Roh Kudus akan memampukan kita menghadapi masalah.

2.     Tuhan semesta alam menjaga dan menyertai kita (ayat 8).

Mazmur 46:6-8 , Tuhan semesta alam menjaga dan menyertai kita. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela. Allah menjaga dan memelihara setiap kita. Pemazmur kembali mengatakan Sesungguhnya tidak tertelelap dan  tertidur penjaga Israel, Tuhanlah penjagamu dan naunganmu. Di sebelah tangan kananmu Ia menjaga kita artinya kalau ia berada di sebelah kanan kita , Ia tidak akan pernah membiarkan kita jatuh tergeletak. Ketika kita sudah mau jatuh , ditopangnya.
         Apabila kita sudah percaya dari kecil, apakah kita sungguh-sungguh mengalami topangan Tuhan yang dahsyat. Ayat selanjutnya berkata, “Diamlah dan ketahuilah Akulah Allah.” Dari kata “diamlah” pemazmur ingin mengingatkan kita yang seringkali merasa lebih mampu , tahu atau berinisiatif  ketika kita menghadapi masalah , otak cepat bergerak (kita ingin ini-itu, selesaikan ini-itu minta bantuan sana -sini) sehingga Tuhan membentak kita ,”Diam kamu! Kamu percaya kepadaKu, Aku tetap Allah yang mengontrol hidup kamu”. Saat kita tidak tahu mau berbuat apa lagi, Allah berkata,”Diamlah! Be still! Akulah Allah. Tidak ada bandingannya” Di sini dalam kehidupan seringkali , kita hanya menghubungkan dengan Allah saat duduk seperti ini. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga harus praktek. Setiap saya ke mal susah cari tempat parkir. Saya ajari anak saya berdoa yang sederhana tapi kuasanya luar biasa,”Tuhan hari ini saya tidak minta mobil tetapi cukup 1 tempat parkir saja.” Selalu dapat. Selesai berkata “amin” ada mobil yang keluar atau bila tidak keluar dikasih tempat yang spesial. Jadi anak saya (Rexy) sebelum masuk mal minta berdoa, “Pi tutup mata dulu Rexy mau berdoa. Tuhan tidak minta ganti mobil , hanya minta parkir satu saja.” Itu hal sederhana , tetapi kalau tidak minta bila ke Central Park bisa 1 jam mencari tempat parkir. Kita seringkali menganggap untuk apa untuk hal yang sepele minta Tuhan, padahal kita anakNya. Saya banyak minta hal-hal yang sederhana. Tadi pagi saya berdoa,”Tuhan salama khotbah jangan saya bersin-bersin”  sampai saat ini tidak bersin-bersin dan jangan bersin-bersin. Saya tidak minta untuk sembuh dulu, mungkin dengan sakit ini saya bisa punya alasan untuk istirahat di rumah. Kadangkala saya berpikir karena minggu ini saya harus beberapa kali berkhotbah , pimpin retreat dan pembinaan , Tuhan kasih pilek agar bisa di tempat tidur. Tapi saya tidak mungkin batalkan di sini. Ternyata benar. Pdt. Hery Kwok berkhotbah di tempat lain, kalau dibatalkan bingung mencari penggantinya. Dalam kehidupan, bukan hanya tiap Minggu kita berkaitan dengan Tuhan. Tiap hari kita berhak asal kita sungguh-sungguh. Kata diamlah secara hurufiah dalam bahasa Ibrani  berarti“Angkatlah tanganmu” dan berkata,” I will be still  know you are God”. Kalau Tuhan berkata, “Aku masih Tuhanmu” dan kau berkata,”Aku masih tetap menenal Engkau adalah Allah yang menolong saya”.  Kadangkala kita perlu angkat tangan agar Tuhan turun tangan. Biarkan Tuhan secara leluasa bekerja dalam hidup kita.
         Istri saya orang Bangka asli. Membentuk 1 keluarga tidak mudah. Setelah menikah baru 6 tahun Tuhan beri kami anak. Keluarga kami dari Bangka dengan tradisi Tionghoa yang kuat, setahun pertama kami belum punya anak kami ditanya. Waktu belum menikah ditanya kapan. Belum punya anak ditanya kapan. Sekarang sudah punya anak satu tiap minggu ditanya kapan tambah. Di gereja jangan kepo (jangan tanya urusan orang lain). Mau jomblo atau menikah apakah terganggu, bukan urusanmu. Kalau sudah punya anak, kalau tambah satu apakah kamu akan mencukupi kebutuhan hidupnya. Sebelum punya anak saya capai. Tahun kedua mulai ada desakan keluarga banyak. Tahun 3 tingkat stess tinggi karena papa-mama berkata “Oh iya, waktu menikah belum dikasih selendang.” Saya bertanya,”Selendang buat apa ma?” DIjawab,”Itu tradisi kita.” Akhirnya cari dokter sana-sini, capai. Istri saya memaksa terus berobat seminggu 2 kali terapi padahal saya pelayanan. Saya berkata di dalam taxi,”Kalau kamu masih menuntut anak terus, kita pisah. Dari awal kita nikah bukan untuk punya anak” Sampai supir taxi berkata,”Ada apa Pak? Kalau ada masalah  selesaikan dulu Pak. Jangan marah-marah.” Saya sudah capai. Semua berusaha. Setiap hari Minggu jemaat saya banyak dan mereka membawa toge agar supaya subur. Maka sampai hari ini kalau saya melihat toge menjadi trauma.Saat itu  di kulkas penuh toge. Ada jemaat yang baru datang di gereja berkata,”Mu shi  ini dimakan ya. Tambah sambal kacang enak.” Tiap hari makan toge. Sehari tiga kali .Jadi sebulan berapa. Maka hari ini kalau saya melihat tauge saya tutup mata karena  trauma. Sampai titik tertentu, saya berdoa, “Tuhan saya capai. Saya marah dengan Tuhan.” Saya suka mengungkapkan isi hati,”Tuhan lihat cicak di dinding saja punya anak. Kecoa yang menjijikkan punya anak. Ini Theofilus, seorang pendeta! Pendeta mendoakan pernikahan dan hampir 99% punya anak. Tuhan, saya minta anak Tuhan.” Bahkan sampai titik tertentu bahasa saya sudah tidak benar,”Tuhan tahu. Saya buat dengan cara yang benar di tempat yang benar bukan di semak-semak. Seperti Tuhan berkata, “Diam Theo!! Aku tetap Allah.” Saya baru mengerti singkat kata hingga saya minta ampun, dari awal saya menikah bukan untuk punya anak tetapi agar hidup saya makin dewasa dan efektif dipakai Tuhan. Rupanya Tuhan ingin saya selesai S2 di Reform. Istri saya selesai S2 di UPH. Doa saya ,”Kalau Tuhan tidak kasih kami soerang anak, saya punya anak sekolah minggu banyak dan saya akan mengasihi mereka. Tetapi kalau Tuhan kasih anak, persis pas istri saya mau wisuda sebagai bukti . Kalau tidak jangan kasih anak, saya tidak butuh anak lagi.” Persis saat istri saya besok wisuda, dia merasa perutnya sakit. Walau istri saya lembut tapi kalau sudah keluar marahnya menjadi galak. Waktu itu di Karawaci ia sedang antri ambil undangan wisuda, lalu ditikung oleh 2 cowo dan disikut perutnya hingga terjatuh. Sehingga kerah cowo tersebut dipegang dan ditariknya. Karena sakit perut, temannya mengusulkan untuk diperiksa. Setelah diperiksa ternyata ada bayi. Saat kehamilan 7 bulan, air ketubannya habis sehingga bayi tersebut lahir saat usia kandungan 8 bulan. Waktu istri saya memberitahu, “Saya hamil!” Saya tidak bereaksi dengan lompat-lompat. Saya masuk kamar sehingga dia marah sekali. “Kamu tidak senang?” istri saya bertanya. “Saya mau bersenang-senang dengan Tuhan dulu,” jawab saya.  Saya berdoa,”Tuhan terima kasih!” Saya belum memberitahu papa-mama dahulu. Setelah istri wisuda dan ucapan syukur baru saya memberitahu,”Ada berita yang baik. Dia Tuhan tetaplah Tuhan yang menjawab semua masalah menjelang pagi” Semuanya menjadi gembira.
Sebelum nikah kita tertekan mencari pasangan. Setelah menikah tertekan mencari anak. Setelah punya anak, tertekan mencari biayanya. Setelah ada biaya, tertekan untuk tambah anak. Setelah tambah, sakit-sakitan. Jadi jangan kepo. Jadi suka tanya kapan nikah, kapan punya anak dll. Itu urusan dengan Tuhan. Tetapi ini sudah menjadi budaya. Orang yang ditanya (beberapa teman saya ditanya begitu) menjadi stress dikonseling dan akhirnya tidak ke gereja. Jadi kalau tidak punya anak, berlutut berdoa , “Tuhan punya anak membuat saya damai.”
         Saya usia 9 tahun baru kelas 1 SD karena terlahir dengan IQ tidak sampai 100. Anak saya belum 5 tahun sudah kelas 1 SD. Saya berkata kepadanya,”Kamu setelah selesai kuliah kalau bisa menikah karena papi masih sehat. Sekarang usia 49 tahun. Saya hanya ingin mengantarkan kamu ke altar adalah saya.” Doa saya sekarang,”Tuhan, kalau Tuhan kasih jodoh kepada anak saya, saya tidak mau yang menuntun anak saya ke altar orang lain. Yang berkati boleh orang lain.” Jangan khawatir yang masih muda-muda. Mungkin ada yang sudah berdoa 15 tahun, tetapi 15 tahun  itu mungkin baru pk 3, masih ada pk 4. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Saya bersyukur semua keluarga saya sudah percaya, tinggal 1 lagi (kakak saya). Saya percaya dia percaya. Karena sudah 3 tahun natal dan paskah, ia mengirim pesan “Yesus mati bagi orang berdosa”. Kakak saya dulu sebenarnya Katolik, sekarang ia seorang pelukis dan pemusik. Ia berdakwah lewat musik. Ia yang berkata,”Kalau kamu jadi pendeta, saya orang pertama yang akan turunkan kamu kalau motivasi kamu bukan pelayanan tetapi uang. Mari kita bersaing. Kamu menyatakan kepada orang untuk menerima anugerah Yesus, dan saya akan berbicara kepada orang untuk menerima hidayah.” Saya berkata,”Suatu kali saya berdoa kamu menerima anugerah Yesus Kristus.” Dan ia berkata,”Suatu kali  saya akan berdoa kamu akan menerima hidayah”. Kata “diamlah” secara hurufiah mau berkata, “Tuhan, aku berserah kepadaMu.” Kenapa? Pegang janji Tuhan.
Yesaya 41:10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. Yesaya 46:4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.

Percaya bahwa Tuhan beserta kita? Saya tidak tahu apa pergumulan saudara. Tetapi pergumulan seberat apa pun yang dialami, kalau sampai hari ini kita masih bisa ke gereja, berarti Tuhan sedang menuntun dan memelihara kita. Tuhan ingin menyatakan perkara-perkara besar. Seberapa jauh kita menangkap iman itu, kita berkata,”Tuhan aku menyerah di hadapanMu” dan Ia akan berkata,”Diamlah! Akulah tetap Allah.” Jikalau Tuhan sudah menolong banyak orang, menolong dan memelihara saya sampai hari ini, Tuhan akan menolong saudara. Kalau Tuhan pakai Theofilus yang bodoh , IQ-nya  tidak sampai 100, 9 tahun baru kelas 1 SD. Dia bisa menjadi alat Tuhan, apalagi hidup saudara yang Tuhan pakai juga akan luar biasa. Apakah kita berkata, “Tuhan aku tetap percaya, Engkau Allah yang memelihara”? Amin.


Wednesday, February 13, 2019

Ketika Dunia Menghimpitmu





Ev. Susana Heng

Matius 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Kejadian 37:3-4
3  Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.
4  Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah.

Dunia yang menghimpit

Hal-hal apa saja yang bisa menghimpit orang-orang percaya?

Bersyukur hari ini kita bisa bertemu dan saat tiba di gereja, saya melihat seragam anggota paduan suara berwarna merah. Imlek adalah  suatu hari yang spesial, semuanya bisa berkumpul bersama dan makan bersama dengan keluarga. Hidup ini memang tidak selalu baik. Terkadang ada hal-hal yang tidak baik. Namun dalam suasana imlek bagi orang Tionghoa, suasana baik atau tidak baik tetap harus baik. Berkumpul saja sudah baik karena kita diberkati Tuhan dan masih bisa berkumpul. Memang sepanjang tahun ada susah dan senang, tetapi saat kita masih berkumpul dengan keluarga kita dan masih ada makanan untuk kita dan semua bisa duduk bersama, itu merupakan anugerah besar dari Tuhan bagi setiap kita.  Puji Tuhan saya percaya berkat Tuhan tidak pernah berkesudahan dalam hidup kita walaupun ada kesusahan terjadi dalam hidup kita.
Tema hari ini “Ketika Dunia Menghimpitmu”. Dalam Matius 13:7;22 dikatakan  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Ini perumpamaan tentang seorang penabur yang menabur benih. Ada yang jatuh di pinggir jalan , di tanah berbatu-batu dan ada yang jatuh di tengah semak duri. Lalu murid-murid bertanya arti tentang perumpamaan itu kepada Tuhan Yesus. Di sini kita melihat ketika benih sudah ditabur saat bertumbuh ternyata bisa dihimpit hingga mati sehingga tidak berbuah. Apa saja yang bisa menghimpit? Himpitan itu  bisa berupa kekhawatiran dan tipu daya kekayaan.
Saya tidak tahu bagaimana suasana hati kita saat ini. Tetapi sewaktu kita melihat semua orang memakai pakaian baru , berwarna merah dengan senyum lebar sehingga  suasana menjadi cerah dan menyenangkan. Sewaktu melihat warna seragam paduan suara  merah bisa mempengaruhi hati kita. Kita dalam keadaan bahagia. Hidup tidak selalu senang atau sebaliknya hanya susah belaka. Firman Tuhan mengatakan bahwa yang membuat kita terhimpit bukan saja kesusahan dan kekhawatiran tetapi harta kekayaan juga bisa menghimpit kita. Terlalu senang bisa membuat kita melupakan Tuhan. Mungkin saat bangun, kita merasa lega, sangat bersyukur dan indah, namun  bukan hari ini saja kita bersyukur kepada Tuhan. Sebagai orang Tionghoa, saya juga merayakan imlek. Pernah saya minta orang untuk mengambil foto saya dan minta membuka mata padahal saya tidak menutup mata. Kalau sedang tersenyum, memang mata saya tinggal segitu.
Di sini kita melihat saat ini saya seperti saudara saya juga senang. Namun pada hari pertama imlek saya terjatuh, padahal saya sudah memakai sepatu datar (tanpa hak tinggi), sehingga hari ini saya naik tangga dengan hati-hati. Selasa lalu (tanggal 5 Feb 2019), tepat saat merayakan imlek dengan mengenakan baju merah, saya terjatuh dan tidak bisa bangun. Suami dan anak saya laki-laki terperanjat. Anak saya akhirnya mengangkat saya berdiri. Saya bersyukur kepada Tuhan, saya tiba-tiba teringat nats Alkitab, “kalau jatuh tidak sampai tergeletak”. Akhirnya bangun juga, walaupun kemudian saya menyadari bahwa ternyata kaki saya tidak bisa menyangga diri sendiri sehingga harus pakai koyo sekujur tubuh. Tangan saya juga memakai koyo dan sekarang masih ada bekas luka. Sewaktu jatuh saya bangun dan bersyukur kepada Tuhan. Saya berkata,”Tuhan sekarang saya mengerti Mazmur yang berkata TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24) .
Di hari imlek, semua kita bersukacita. Kita dengan semangat dan bersukcita. Tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Saat sarapan pagi apakah saya tahu bahwa saya akan jatuh ? Tidak! Saya tidak tahu saya akan  jatuh parah sehingga kaki tidak bisa diangkat. Saya berjalan sambil digandeng suami dengan satu kaki diseret-seret. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa detik kemudian, apakah ada hal yang buruk atau baik. Tetapi sebagai orang Kristen kita tahu satu hal pasti yaitu tangan Tuhan memegang kita. Tuhan tahu seringkali masalah dalam hidup kita bisa membuat kita jatuh.
Saya tidak tahu keadaan setiap kita sekarang ini apakah ada yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi sehingga saat menghadapi imlek ada yang kesulitan memberi angpao atau membeli baju baru untuk anak-anak. Tidak semua orang punya uang yang segitu banyak atau tabungan untuk dipakai. Tetapi sebagai orang Tionghoa kita ingin memakai baju baru. Kita biarkan anak-anak memakai baju baru sedangkan kita mengenakan baju seadanya yang penting berwarna merah karena bajunya hanya dipakai setahun sekali. 
Di dalam hidup tidak semua berjalan baik. Saya mengenal seseorang yang sekarang mencari penghasilan dengan menjadi pengemudi go-jek sampai malam. Ia mengemudi sampai malam karena ia perlu uang untuk membayar biaya kuliah anaknya. Pk 4 pagi ia sudah bangun lalu mengantar kue-kue yang dibuat istrinya lalu ditaruh di sekolah-sekolah untuk dijual. Nantinya ia akan datang mengambil kembali sisanya. Hidupnya sama sekali tidak mudah. Tetapi ia seorang yang sangat taat pada Tuhan. Tidak setiap saat hidup kita baik, tidak setiap saat yang kita lihat baik itu ternyata benar-benar baik. Tetapi satu hal yang pasti adalah Tuhan menolong.

Hal mengenai kekhawatiran

Siapa di antara kita yang tidak pernah kuatir? Tidak ada! Saya orangnya sangat khawatir. Misalnya : anak saya berkata,”Ma, saya mau keluar.” Saya berpikir anak saya akan menyeberangi jalan , jadi saya berdoa, “Tuhan pimpin dia menyeberang jalan” dan saat berpikir dia mau naik bus, saya berdoa, “Tuhan tolong dia naik bus.”.  Karena bisa saja saat naik, bus sudah jalan sehingga kita bisa terjatuh. Saya berdoa,”Tuhan jauhkan dia dari orang jahat”. Saya berdoa semuanya karena saya penuh kekhawatiran. Saya tipe orang yang terlalu banyak khawatir. Terkadang saat malam hari , saya susah tidur karena khawatir. Padahal kejadian belum terjadi. Walau khawatir setengah mati, tetapi kalau mau kejadian tetap saja terjadi. Tetapi saya bodoh  karena merasa khawatir terus-menerus. Saya berdoa, “Tuhan Yesus tolong dan kasihani saya agar saya jangan khawatir”. Saya terlalu banyak khawatir. Untuk satu kejadian, saya bisa berpikir dari A sampai Z padahal tidak mungkin terjadi sampai Z karena bila terjadi sampai B dan C saja sudah aneh. Tetapi saya bisa khawatir seperti itu, namun saya bersyukur karena saya punya Tuhan Yesus. Bersyukur pada Tuhan. Jadi saya selalu berdoa. Saya mau mengajak orang-orang yang penuh kekhawatiran seperti saya untuk membaca Alkitab. Kata Alkitab kekhawatiran bisa membuat kita jatuh. Tuhan tahu hidup kita ada kekhawatiran, Tuhan tahu kita bisa khawatir.

Matius 6:25-26,33
25  "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?
26  Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Tuhan berjanji Tuhan akan menyediakan apa yang kita butuhkan.
33  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Kekhawatiran bisa menjatuhkan kita. Saya melayani kelompok kecil. Suatu kali salah satu pemimpin kelompok kecil mengeluh kepada saya. Ia membawa satu jiwa. Orang itu baru mau percaya kepada Tuhan.  Adik suaminya orang Kristen. Tetapi orang itu adalah orang Kristen yang tidak punya kesaksian. Saat usahanya jatuh , dia meramal nasib di kelenteng. Bagaimana ia bisa punya kesaksian untuk saudaranya? Orang Kristen saja bisa mengeluh melihat orang Kristen saat menghadapi kesulitan, bukannya mencari Tuhan tetapi ia pergi kwa mia (melihat nasib). Karena usahanya gagal maka ia akan melakukan hal-hal  yang tidak menjadi kesaksian bagi orang yang belum percaya. Hal ini semakin lama akan membuat ia meninggalkan Tuhan karena ia lebih percaya hal-hal itu daripada Tuhan.
Seringkali kekuatiran kita seperti “bagaimana usaha nanti? Bagaimana anak-anak kita nanti?” Kita tidak bisa menyerahkan itu pada Tuhan. Hal ini membuat kita menjauh dari Tuhan dan mencari pertolongan yang lain daripada Tuhan. Sewaktu kita melangkah dengan kekhawatiran dan mencari sesuatu yang lain dari Tuhan, maka saat itu kita dihimpit mati seperti benih yang tumbuh di semak duri. Karena kita sudah tidak percaya pada Tuhan (lebih percaya yang lain). Itu sebabnya kekhawartiran pada masa depan sering membuat kita menjauh dari Tuhan. Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Allah sudah tahu. Sebelum kita bicara, Tuhan sudah tahu dan Ia ingin kita mencariNya dan Tuhan akan menolong kita langkah demi langkah.
             
Kekayaan Dunia bisa menghimpit kita.

Ternyata kekayaan dunia terkadang bisa menghimpit kita. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita sudah senang dan kaya dan banyak orang seperti itu merasa bisa semuanya. Dia merasa itu semua bisa dalam pengaturannya sehingga ia tidak membutuhkan Tuhan. Seaktu Tuhan memberkati kita, biarlah kita berkata, “Puji Tuhan!” dan bersyukur . Jangan merasa kita sudah hebat dan pintar hingga bisa mencapai posisi ini lalu merasa tidak membutuhkan Tuhan dan meninggalkanNya.

Bagaimana anak Tuhan menghadapi himpitan hidup?

Kejadian 37:23-27
23   Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu.
24  Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair.
25  Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir.
26  Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya?
27  Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu.

Kejadian 39:7-9
7   Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku."
8  Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,
9  bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?"
             
Pada pasal 39:7 , setelah Yusuf dijual ke rumah Potifar ia dipercaya tetapi terjadi kejadian lain. Pada ayat di atas, Yusuf baru berusia 17 tahun dan ia adalah anak kesayangan bapaknya,Yakub, yang membuat jubah maha indah sehingga saudaranya iri kepadanya. Pada Kejadian 37 mereka punya rencana jahat kepadanya dan mereka menangkapnya, menanggalkan jubahnya dan berobohong kepada ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang namun kenyataannya ia dijual ke Mesir. Seorang anak yang baru 17 tahun artinya masih remaja. Ia seorang anak kesayangan bapak yang berarti ia sangat dimanja, semua yang dimau diberikan. Tiba-tiba dalam sekejap dia dimasukkan ke sumur lalu dijual ke Mesir. Seperti apa perbedaannya? Dari seorang anak kesayangan kemudian menjadi budak. Ia belum dewasa dan bisa berpikir matang karena baru berusia 17 tahun. Tetapi ketika kesusahan hidup menimpa dia dan dia dijual sebagai budak, saya kagum dengannya bagaimana di tempat penjualan budak ia tidak bercerita bagaimana ia mengalami kepahitan. Hari ini kita banyak mendengar orang mendapatkan kepahitan karena ia dulu kaya sekarang jatuh miskin padahal ia tidak dijual seperti Yusuf. Bahkan bapaknya masih berusaha membiayainya sekolah. Orang seperti itu saja sudah mengalami kepahitan. Sedangkan Yusuf dari anak kesayangan menjadi seorang budak. Berarti ia harus menjadi orang asing di satu rumah berarti ia harus bekerja keras.
Saya salut dengannya. 17 tahun sebagai budak , bekerja di rumah orang bertahun-tahun. Ia menjadi orang kepercayaan dari Potifar. Begitu dijual sebagai orang asing, tidak ada orang yang menganggap dia. Ia masih kecil, 17 tahun. Sebagai seorang yang masih kecil, mungkin ia bisa di-bully oleh pembantu-pembantu yang lebih senior. Anak muda ini menjadi pembantu dan budak baru. Ada yang menganggap remeh dan menekan dia. Dalam keadaan seperti ini, ia bisa bertahan  dan tidak berdoa, “Tuhan mengapa engkau meninggalkan aku. Aku dulu anak kesayangan dan sekarang saya jadi budak”. Saya kira, kalau saya bisa berdoa dan menangis-nangis cukup panjang. Tetapi di usia 17 tahun, Alkitab mencatat ia melakukan yang paling baik. Sebagai pembantu pun ia menjadi yang terbaik sampai mendapat kepercayaan. Ini membutuhkan proses yang panjang. Kalau kita masuk tempat baru, tidak mungkin langsung dipercaya. Kita harus bekerja keras baru diakui. Tetapi anak 17 tahun ini mengapa ia bisa punya konsep yang begitu bagus dan bekerja dengan begitu baik sehingga diakui?

1.     Yusuf seorang yang berpegang teguh dalam iman.

Yakub cukup berhasil di masa tuanya mendidik 1 anak untuk takut akan Tuhan. Yusuf mengenal dan belajar Tuhan dari Yakub. Sewaktu ia dibuang ke Mesir, ia tetap berpegang teguh pada imannya. Sehingga ia selalu melakukan yang terbaik. Bosnya dan orang lain tidak melihat tetapi Tuhan melihat. Bandingkan kalau sedang menyapu tidak ada yang melihat, terkadang kita menyapu sembarangan. Juga saat berkendaraan tidak ada polisi atau tidak orang yang melihat kita melanggar peraturan lalu-lintas (menerobos lampu merah). Hal itu terjadi karena kita tidak merasa Tuhan melihat, tetapi Yusuf tahu Tuhan melihat. Sehingga ketika kesulitan datang dan himpitan dunia seperti menekan, dia tidak mengatakan ,”Saya mengalami kepahitan. Hidupku sungguh susah dari seorang anak kesayangan menjadi budak. Sekarang saya menjadi pembantu di rumah orang. Saya paling muda dan ditekan oleh orang-orang yang lebih senior.” Tetapi ia menunjukkan bahwa ialah yang terbaik dan ia tetap berpegang teguh pada imannya. Dalam semua persoalan hidup, tantangan, godaan kehidupan, Yusuf selalu bersandar pada Tuhan. Walaupun ada harga yang harus dibayar. Hal ini bisa kita lihat pada Kejadian 39.
Saat itu Yusuf keadaannya sudah membaik dan menjadi orang kedua sesudah bos. Ini posisi yang tinggi. Tahu-tahu istri Potifar menaksirnya. Kejadian 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Saat itu Yusuf berusia 17 tahun, tampan dan pintar. Istri Potifar melihat Yusuf dari kacamata berbeda dan jatuh cinta kepada Yusuf. Lalu ia membuat rencana dengan mengosongkan rumah sehingga tinggallah ia bersama Yusuf. Ia terus-menerus menggoda Yusuf. Dari pasal 39 ia sudah meminta agar Yusuf tidur dengannya. Tetapi anak muda ini tidak berpikir yang lain. Ia hanya berkata,”Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kej 39:9b). Dia tahu semua orang tidak melihat, tetapi Tuhan melihat.  Yusuf menjawab “tidak”. Alkitab dengan jelas mencatat hal ini. Ia tidak mau jatuh dalam dosa walau dihimpit oleh dunia karena takut akan Tuhan. Ia berpegang teguh pada imannya dan tidak luntur.
Dari kacamata dunia, kalau ia jadi dengan istri Potifar, maka posisi akan bertambah baik? Semua orang disuruh pergi sehingga tinggal Yusuf berdua dengannya. Yusuf digoda terus hingga sampai lari meninggalkan bajunya. Kalau tidak seram, ia tidak akan lari terbirit-birit. Memang ada godaan yang harus pakai jurus lari. Jangan sampai jatuh dalam dosa, tidak usah berfilsafat tapi lari! Itu yang dipakai oleh Yusuf dan ia benar-benar lari. Terkadang ada bapak-bapak berkata kepada teman wanita-nya,”Kamu duduk di sebelah saya. Saya kan tidak berdosa” . Tetapi  Alkitab berkata,”memandang saja sudah berdosa”. Ia berkilah,”Bukan saya yang datang tetapi kamu yang datang. Kamu duduk di sebelah saya. Saya senang-senang saja. Kamu suka saya, jadi bukan saya yang salah!”. Kalau berfilsafat maka kita bisa terperangkap jatuh. Jadi pakai jurus Yusuf : lari!!
Sekarang di kantor banyak yang berkata,”Saya hanya makan siang berdua, tidak apa-apa.” Dosa dimulai dari tidak ada apa-apa. Hanya mulai makan siang berdua, lama-lama bicara, lalu lama-lama dari hati ke hati karena mulai dari tidak ada apa-apa (tidak masalah). Tetapi Yusuf pakai cara lari dan menghindar. Namun apa yang terjadi? Sudah jatuh tertimpa tangga. Kalau berpikir secara manusia, Yusuf bukan saja bisa menjadi kesayangan tuan , tetapi ia bisa menjadi kesayangan istrinya juga. Kalau Potifar tidak ada, maka ia bisa menjadi tuannya. Secara duniawi yang diam-diam itu yang menguntungkan. Tetapi Yusuf tidak melakukan itu karena berdosa kepada Tuhan. Yusuf berpegang teguh pada imannya. Banyak orang jatuh walau tidak merencanakan jatuh. Tetapi selalu ada celah-celah yang dipakai iblis menggoda dan membuat kita jatuh. Banyak keluarga baik-baik dan tidak ada suami yang rencana menyeleweng tetapi kemudian jatuh.
Di kantor berteman baik, lau duduk berdua bicara. Awalnya jaraknya cukup jauh, keesokan harinya jaraknya mendekat. Bulan depan sudah makin dekat dan bulan depannya lagi sudah tidak ada jarak. Semuanya terjadi pelan-pelan. Itu sebabnya kita harus berpegang teguh pada Tuhan. Katakan tidak pada yang  tidak . Tidak usah sungkan-sungkan. Tentu saja ada resikonya. Waktu itu Yusuf tidak berpikir resikonya, tetapi ia hanya berpikir satu hal : Tuhan. Tuhan melihat , saya tidak boleh berbuat dosa. Lalu Yusuf dijebloskan ke penjara. Dari anak kesayangan, menjadi budak lalu masuk penjara selama bertahun-tahun. Tetapi ia tetap berpegang teguh pada imannya. Ternyata untuk beriman ada harga yang harus dibayar. Seringkali kita tidak mau membayar harganya  dan lebih baik ikut dunia. Kita lebih baik fleksibel sedikit daripada membuat kita rugi dan susah. Otak kita akan selalu berpikir itu jalan teraman bagi saya, itu lebih baik saya daripada saya menanggung resiko. Tetapi itu bukan jalan dan kehendak Tuhan. Yusuf tahu dan ia takut akan Tuhan.. Ia mencapi tujuan yang Tuhan kehendaki.

2.     Yusuf seorang yang mempunyai hati yang bersih dan tulus.

Dengan memelihara hati yang bersih, Yusuf yang masih muda ini hidup kudus di hadapan Tuhan, walaupun dia digoda, Yusuf tetap tidak jatuh dalam dosa. Yusuf lebih rela menderita dalam kebenaran, menjaga hidup suci, daripada memmperoleh kesenangan-kekayaan duniawi, tapi berdosa pada Tuhan. Himpitan dunia tidak membuat Yusuf jatuh.
Ia berpegang teguh pada iman dan selalu menjaga hati yang murni di hadapan Tuhan. Untuk menjaga hati yang murni tidak mudah. Banyak hal yang bisa membuat hati kita menyimpang ke kiri dan ke kanan. Waktu muda kita disebut orang yang naif, hati kita tulus-tulus saja. Kita tidak pernah berpikir orang akan menggunakan perkataan kita untuk berbalik menyerang kita. Kita tulus dan baik, tetapi kemudian kita mengalami banyak hal dan hati kita tidak menerimanya. Kita melihat Yusuf tetap memiliki hati yang bersih dan tulus. Sewaktu di penjara, apakah dulu ia berpikir,”Saya bekerja di rumah Potifar dengan begitu baik kemudian saya difitnah. Jadi buat apa saya bekerja baik-baik?”  Dengan demikian pekerjaannya biasanya menjadi tidak baik. Namun hati Yusuf tetap baik dan tulus karena di penjara pun ia menjadi yang terbaik. Ia selalu menjadi dirinya sendiri yang adalah yang terbaik dan yang Tuhan melihat apapun juga sehingga hatinya tetap bersih dan tulus.  Apapun yang ia kerjakan, Tuhan membuatnya berhasil. Karena ia memiliki iman yang teguh kepada Tuhan dan ia memiliki hati yang bersih dan ia menjaga hatinya di hadapan Tuhan. Untuk menjaga hati yang bersih di hadapan Tuhan tidak mudah.
Bertemu dengan orang-orang  di gereja, semua memiliki wajah yang baik-baik. Tetapi kalau bertemu orang di luar, ada yang di depannya manis-manis namun di belakang menusuk kita. Maka wajah dan hati kita tidak bisa dijaga bersih-bersih. Kita seringkali menjadi sama dengan dunia ini karena kita tidak berpegang pada Tuhan. Tetapi Yusuf tetap mengandalkan Tuhan. Sejak ia berada di dalam penjara selama bertahun-tahun sampai umur 30-an tahun hingga ia menjadi orang kedua di bawah Firaun, itu waktu yang panjang sekali. Tetapi himpitan dunia yang menekan dia membuat Yusuf justru semakin teguh di hadapan Tuhan. Rupanya itu merupakan pelatihan Tuhan baginya karena Tuhan mempunyai maksud di dalamnya.  Sehingga hari ini, saat kita menghadapi himpitan hidup dan masalah yang bertubi-tubi , itu mungkin latihan Tuhan bagi kita menjadi orang yang lebih tangguh (teguh), memelihara hati dan menjadi seorang yang lebih baik. Seringkali hidup tidak selalu baik, tetapi kita percaya Tuhan selalu menolong agar kita berjalan sesuai dengan firman Tuhan.

Penutup

Saya bersyukur kepada Tuhan. Saya melihat banyak teman-teman seangkatan saya yang melayani walaupun banyak rekan yang hidupnya tidak mudah. Ada yang diterpa sakit-penyakit dan ada seorang teman walaupun menderita sakit namunn sampai akhir hidupnya ia tetap melayani Tuhan. Ia masih muda saat terkena kanker dan anaknya masih kecil. Tetapi istrinya begitu kuat dan sampai di detik akhir ia tetap setia dan percaya kepada Tuhan. Padahal ia baru berumur 30-an tahun dan terkena kanker usus. Saya melihat dia menjalani kemoterapi berkali-kali  padahal dulu belum ada BPJS. Kesulitan keuangan , masalah kesehatan dan anak-anak tentu menjadi beban pikirannya. Tetapi ia tetap bepegang teguh pada Tuhan. Mengikut Tuhan dan selalu setia kepadaNya tidak mudah. Pelayanan Ev. Merce juga tidak mudah. Bertahun-tahun ia harus bekerja untuk pelayanan di Malaysia. Ia orangnya teguh dan tahan susah dan saya percaya Tuhan akan menolongnya terus. Setiap hamba Tuhan punya beban dan masalah masing-masing. Tetapi satu hal kita belajar dari Yusuf adalah bahwa ia tetap berpegang teguh pada Tuhan dan ia punya hati yang murni. Langit tidak selalu akan biru tetapi Tuhan selalu ada di sana untuk kita.
Dunia bisa menghimpit kita dengan kesulitan, fitnahan dan berbagai masalah (keuangan, orang yang menyerang kita atau lainnya), tetapi satu hal yang kita tahu yaitu kita punya Tuhan Yesus yang selalu ada di sana untuk kita. Tetapi di dalam kesusahan, kita mengalami tangan Tuhan. Seperti saat saya jatuh dan tidak bisa apa-apa, tetapi saya melihat itu yang terbaik yang sudah Tuhan berikan bagi saya. Kalau orang lain yang seumur saya mungkin sudah patah tulang dan dioperasi. Tetapi saya hanya susah jalan saja, tinggal pakai koyo dan obat gosok. Saya sangat bersyukur pada Tuhan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya tahu satu hal  : Tuhan Yesus saya adalah Tuhan saya. Dia memegang saya, saya jatuh tetapi tidak akan sampai tergeletak karena ada Dia. Saya tahu Tuhan selalu menolong dalam hidup saya. Bahkan kalau saya mengalami sesuatu, terkadang saya berpikir,”Tuhan ingin mengingatkan saya tentang sesuatu?” Mungkin saya sudah melakukan hal yang tidak memperkenankan Tuhan. Tetapi dalam kedekatan kita dengan Tuhan , kita tahu ada sesuatu yang Tuhan mau lakukan dalam hidup kita. Seperti Yusuf , Tuhan ijinkan dari seorang anak kesayangan menjadi seorang budak dan masuk ke penjara menjadi narapidana, karena Tuhan ingin melatih Yusuf menjadi orang kedua setelah Firaun. Dalam kehidupan kita pun Tuhan punya rencana. Mengapa hal itu terjadi? Mungkin Tuhan mau melatih kita menjadi sesuatu yang luar bisa. Biarlah kita tetap berpegang teguh kepada Tuhan dan kita tetap menjaga hati kita tetap bersih. Orang boleh menyerang kita, melukai kita atau berbuat sesuatu, tetapi hati kita tetap tulus dan bersih di hadapan Tuhan karena Tuhan melihat itu semuanya.