Sunday, January 14, 2018

Siapa yang Dapat Menambah “Sehasta” Hidupmu?

Siapa yang Dapat Menambah “Sehasta” Hidupmu?
(Kedaulatan Allah akan Kehidupan Kita)

Ev. Susana Heng

Matius 6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
Lukas 12:25-26
25  Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?
26  Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?
Yakobus 4:13-17
13  Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,"
14  sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
15  Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
16  Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
17  Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Pendahuluan

              Bagi siswa sekolah hari berlalu dengan lambat sekali. Sebaliknya, bagi orang yang sudah menikah waktu berjalan cepat sekali bahkan bagi orang tua waktu seakan berlari. Namun kita bersyukur kita mempunyai Allah yang luar biasa.
              Pada minggu pertama Januri tahun lalu (2017) adalah peringatan hari ulang tahun pernikahan papa dan mama saya ke 54. Saat itu kami sekeluarga besar berkumpula dan makan bersama. Waktu itu papa foto dengan saudara-saudaranya (cici dan adik-adiknya). Dengan berlalunya waktu, pada bulan April 2017 cici papa saya yang terbesar meninggal. Kemudian pada bulan Agustus 2017, suami dari adik perempuan papa saya (ko tio) juga meninggal. Disusul kemudian A-yi saya (adik mama) akhir tahun 2017 juga meninggal. Waktu kami berfoto tanggal 5 Januari 2017 kami semua begitu bahagia, namun adakah yang tahu bahwa pada bulan berapa dia sudah tidak ada? Kalau kami berfoto kembali pada tahun 2018 ini  sudah 3 orang yang berkurang. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan meninggal. Sehingga memasuki tahun 2018, saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya memasuki 2018. Saat menapaki satu hasta saja dalam hidup kita kita harus mengucapkan syukur bahwa itu sesungguhnya itu adalah anugerah Tuhan.

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
-        Adakah seseorang yang akan tahu semenit kemudian dalam hidup kita?
-        Adakah seseorang yang akan tahun sejam kemudian, apa yang akan terjadi dalam hidup kita?
-        Adakah seseorang yanga akan tahu apa yang akan terjadi besok?

Saat saya datang saya tidak tahu bertemu dengan kakak tingkat saya di SAAT Malang (Ci Ami yang tinggal di Malang). Saya begitu excited. Tidak ada seorang pun yang tahu yang akan terjadi. Kalau semenit saja tidak tahu apalagi setahun. Terkadang selesai kebaktian , saya berencana ingin makan. Sering rencana dan janji gagal. Kita bisa rencana ini itu tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Apalagi satu tahun. Waktu itu ada koko papa saya yang wajahnya penuh sukacita karena kumpul keluarga. Tetapi beberapa bulan kemudian ia dipanggil Tuhan. Dalam hidup yang sama sekali kita tidak tahu, bagaimana sikap hidup kita? Apa kita merasa tidak tahu apa-apa dan merasa goncang karena tidak tahu apa-apa? Saya bersyukur mengenal dan memiliki Tuhan Yesus. Sehingga kalau saya tidak berkhotbah pun saya ingin menyampaikan bahwa Tuhan saya itu adalah Tuhan yang menguasai hidup saya. Bahwa Tuhan saya itu bukan saja memikirkan hidup saya sekarang, karena Alkitab mengatakan bahwa Ia akan memberikan hidup yang kekal, bukan yang sekarang saja Ia peduli. Bahkan setelah saya mati pun Ia peduli. Bahkan rumahku pun sudah disediakan seperti yang dikatakan pada kitab Yohanes. Saya rindu, kita semua percaya hidup kita sepenuhnya kepada Dia karena seperti itulah yang saya lakukan.

Kedaulatan Allah

-        Allah yang berdaulat adalah Allah yang mengasihi kita.
-        Allah  yang berdaulat adalah Allah yang peduli pada kita.
-        Itu sebabnya kita dapat menyerahkan hidup kita kepadaNya.

Ia mengendalikan hidup kita. Saat khotbah di bukit , Tuhan mengatakan “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Tuhan Yesus mengerti bahwa manusia hidup dengan penuh kekuatiran. Tuhan Yesus ingin mengatakan, kamu kuatir begitu banyak padahal kamu tidak tahu besok akan terjadi apa. Jadi daripada kita kuatir serahkan ke Tuhan yang berdaulat. Tuhan yang berdaulat adalah Tuhan yang menyayangi saya. Orang yang menyembah dewa karena takut ia akan melakukan yang jahat, beda dengan Allah kita yang mengasihi kita (Ia tidak akan melakukan hal yang jahat). Karena Ia begitu mengasihi kita, Dia tidak mau hidup kita penuh kekuatiran. Anak-anak yang kuliah biasanya berpikir bagaimana bisa lulus. Setelah lulus dan diwisuda khawatir apakah dapat kerja atau tidak. Yang kerja , tahun ini bagaimana pekerjaan, yang bisnis juga kuatir bagaimana ekonomi tahun ini. Jadi kita penuh kekuatairan. Yang belum menikah, khawatir siapa yang akan menjadi pasangan saya. Tahun kapan saya akan menikah. Karena tidak mungkin sembarangan menarik orang menjadi pasangan. Orang yang sudah menikah, juga kuatir. Kalau yang belum menikah berpikir siapa pasangannya, yang sudah menikah memikirkan anak (kakek nenek khawatir kapan bisa menggendong cucu). Bagi yang sudah punya anak kuatir sekolah. Setelah lulus SMA dan mau kuliah, kita kuatir hidup anak di tengah kondisi yang tidak aman (bisa terkena narkoba). Anak pulang malam, orang tua khawatir. Kalau sedang Handphone ada yang mau merebut handphonenya dan bila tidak dapat menusuknya. Segitu banyak hal yang kita khawatirkan. Ada survey yang mengatakan 92% kita kuatir tentang hal yang tidak-tidak, 4% kita kuatir akan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi. Hidup kita selalu penuh dengan kekuatiran. Orang yang sudah menikah 7 tahun tidak punya anak sehingga tentu saja dia khawatir. Anak yang belum menikah, kita kuatir apakah dia akan mendapat pasangan atau tidak. Setelah anak menikah , kita khawatir dia akan mendapat anak atau tidak. Sudah punya anak, kita khawatir apakah anak dididik dengan baik atau tidak. Setelah anak besar dan bekerja kita kuatir pekerjaannya bagaimana. Kita hidup penuh kekuatiran. Hidup ibu-ibu di dalam gereja khawatir karena anaknya Sekolah Minggu berjalan ke sana ke mari kalau-kalau terjadi sesuatu. Hidup kita penuh kekuatiran. 5 menit kemudian kita tidak tahu tahu-tahu ada anak-anak masuk ke dalam ruang ibadah. Itu sebabnya Tuhan katakan serahkan itu semua pada Tuhan karena kita tidak tahu 5 menit di depan dalam hidup kita.

Bagaimana mengatasi kekuatiran?

1.     Berserah pada Tuhan.

-        Tidak ada seorang yang dapat menambah sehasta dalam hidupmu, jadi janganlah kuatir tapi berserahlah pada Tuhan.
Saya punya kebiasaan, setelah kembali dari luar sampai di rumah  pada malam hari maka saya langsung pakai baju tidur, berdoa dan tidur dengan nyenyak. Kalau saya sedang banyak pikiran, saya akan berdoa dan langsung tidur. Dulu belum ada HP yang bisa membuat kaget dan mengganggu tidur. Namun suatu kali belasan tahun lalu, saya menyadari bahwa di tengah malam itu suami saya belum pulang dari pelayanan. Saya pun mencarinya dan kemudian ada telpon masuk dari suami saya yang mengabarkan bahwa dia mengalami kecelakaan. Karena dia sudah bisa memberi kabar, jadi saya tidak terlalu khawatir. Suami saya kemudian pulang diantar orang lain karena mobilnya hancur. Tuhan mengenal saya. Saya orangnya cepat stress. Setelah semuanya berlalu, Tuhan seolah-olah berkata bahwa semuanya baik-baik saja. Kalau saya tahu kejadiannya saat itu sebelum suami saya pulang, hal ini bisa membuat saya stress.
Rupanya malam itu, suami saya ada ibadah ucapan syukur dan pulang lewat tol outer ring road. Saat itu ada seorang pengemudi yang menelpon dengan HP sambil mengemudi di tol sedangkan jalan sedang menurun. Mobilnya dengan kecepatan yang kencang menabrak mobil suami saya hingga berbalik arah dan badan mobilnya melesak. Sementara itu dari arah sebaliknya ada sebuah truk yang sedang meluncur sehingga tidak bisa memperlambat jalannya. Melihat hal ini, suami saya tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berseru minta pertolongan Tuhan. Jadi kembali truk menghantam  mobil suami saya sehingga berbentuk huruf T. Hanya tempat duduk pengemudi yang masih aman, bagian lainnya (belakangnya) sudah berbentuk huruf T. Seminggu kemudian, saya bertemu dengan hamba Tuhan lainnya yang mengatakan bahwa mobilnya sudah hancur. Saya tidak tahu karena saat mobilnya kembali, kondisinya sudah baik. Kita tidak tahu hidup kita, tetapi kita punya Allah yang berdaulat. Allah yang berdaulat  adalah Allah yang memelihara kita. Ia yang akan menjaga kita seperti biji mataNya. Kita tidak tahu hal yang akan terjadi di depan. Allah kita bukan Allah yang kejam dan sadis yang membuat hal-hal  mengerikan dan membangunkan kita malam-malam menyebabkan kita kaget. Dia Allah yang berdaulat yang mengasihi kita dan peduli pada kita. Dan saat sesuatu yang tidak baik terjadi, kita tahu ada Allah yang menggendong , menggandeng dan memegang tangan kita. Kita tidak tahu apa yang terjadi. Kepada Dia kita boleh menyerahkan hidup kita.

Setiap awal tahun , saya tidak tahu bagaimana perasaan saudara-saudari kita mengawali suatu tahun? Apakah tahun 2018 lebih baik atau buruk dari 2017 bagi orang bisnis dan karyawan. Sepanjang 365 hari kita tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya rindu mengatakan bahwa Allah kita tahu dan  Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Sehingga kita pertahankan hidup kita dan serahkan hidup kita pada Tuhan karena kita tahu dengan masa depan kita. Ada yang berkata saya tidak tahu tetapi tahun ini saya mau melakukan ini dan itu.

-        Percayakanlah hidup kita pada Tuhan

Lukas 12:18-20
18 Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
19  Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
20  Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Hidup ada perencanaan itu baik, tapi sebagai anak Tuhan kita menyerahkan rencana kita pada Tuhan.

Pada akhir tahun ada yang membuat resolusi baru. Namun sesudah membuat resolusi biasanya tidak semuanya berhasil dilaksanakan. Misalnya : mau melayani dengan lebih semangat, tahun ini mau membayar perpuluhan, mengikuti pelayanan misi dll. Tetapi sewaktu ingin melakukannya ternyata sibuk sehingga rencana tersebut gagal. Membuat rencana itu baik. Setiap orang yang hidup saat bangun pagi sudah membuat rencana. Ada orang yang bangun pagi, ingin pergi ke pasar dan belanja dulu. Dalam pikirannya ada suaminya yang  ingin makan udang, karena istrinya bisa  masak lebih baik. Itu sudah rencana. Ada juga yang saat bangun pagi berkata dalam hatinya, “Hari ini tidak usah bekerja dan ingin santai-santai saja. Tidak usah mencuci dan membersihkan rumah (biar saja sedikit jorok)”. Ini juga termasuk rencana bermalasan di rumah. Begitu bangun tidur dan membuka mata, otak sudah membuat rencana walau kita belum membaca ALkitab dan bersaat teduh. Seluruh hidup kita penuh rencana. Tetapi apakah kita menyerahkan rencana kita ke dalam tangan Tuhan? Apakah ada yang seperti di kitab Yakobus bertanya, “Apakah Tuhan ijinkan saya melakukan ini-itu?” Biasanya tidak ada yang ‘melapor’ kepada Tuhan kalau ingin ke pasar. Padahal Tuhan tidak peduli dengan hal besar dan kecil.
Tahun ini kami bersyukur bisa liburan satu keluarga ke Osaka, Jepang. Tanggal 1 Januari 2018 teman anak saya mengajak jalan-jalan ke kota Nara (ke tempat ibadah mereka). Anak saya berkata,”Tanggal 1 kita sepakat ke gereja (ke Bait Allah)”. Waktu ke gereja, saya berdoa, “Tuhan, saya sangat rindu dengan firmanMu.” Saya ingin mendengarNya. Hari ini hamba Tuhannya berkhotbah dari kitab Yakobus. Gereja yang kami hadiri ada di Osaka (G3). Banyak mahasiswa dan pekerja yang beribadah di sana.  Khotbahnya disampaikan  dengan bahasa Indonesia. Pendeta itu bercerita bahwa ada seorang jemaatnya yang bekerja di Jepang dan menabung hasilnya. Lalu ia mengajak pendeta ini untuk pergi makan dan ia menceritakan ke pendetanya bahwa ia sudah menabung dan mengirim uang ke om-nya di Indonesia. Tetapi om-nya membelanjakan uang sehingga ia kesal dengan omnya dan ia tidak mau mengirim uangnya lagi ke om-nya tersebut. Ia telah membeli tanah di Makasar dan juga mengirim uang ke adiknya untuk ditabung. Saat pulang ke Indonesia, ia rencananya ingin menjadi tuan tanah dan menikah sehingga ia menabung uangnya. Suatu hari ia pergi kerja seperti biasa. Waktu jam istirahat, ia makan dan ngobrol dengan temannya. Setelah bel berbunyi untuk masuk kerja kembali tiba-tiba ia diam saja. Ia dipanggil untuk masuk kembali masuh kerja dan menyentuhnya, tubuhnya terjatuh. Ternyata dia sudah meninggal. Pendetanya dipanggil dan bingung. Pendetanya menghubungi kedutaan untuk mengirim pulang ke Indonesia. Pendetanya baru tahu, mengirim jenazah ke Indonesia butuh dana sebesar Rp 1,3 miliar. Ia tidak tahu darimana mengumpulkan uang sebanyak itu walau ia sudah bercerita tapi tidak memberi tahu ia menyimpan sertifikat di mana. Jemaat mengumpulkan uang tidak mungkin miliaran. Kemudian pendetanya mengontak adiknya. Adiknya berkata bahwa memang kakaknya ada menitip uang. Akhirnya uang itu dipakai untuk membawa jenazahnya pulang ke Indonesia. Pendetanya mengatakan bahwa kita bisa membuat rencana , ingin punya tanah dan menikah, punya modal, tetapi kita tidak tahu di depannya seperti apa dan bagaimana. Bahkan uang untuk mengirim jenazahnya saja tidak ada. Pendetanya sibuk ke sana ke mari mencari uang untuk mengirim jenazahnya. Kita tidak tahu bagaimana ke depannya hidup seperti apa. Itulah kenyataan hidup. Kita bersyukur saat menghadapi kenyataan hidup yang begitu pesimis kita punya Tuhan Yesus. Kita punya Tuhan Yesus berarti kita mempunyai semuanya. Sewaktu  kita memiliki Tuhan dan membuat rencana serahkan rencana kita pada Tuhan.

Sewaktu membuat rencana ke Osaka, kita berkumpul berdoa sekeluarga (saya, suami dan anak-anak). Dari rencana mau pergi , kami setiap malam mendoakan rencana liburan kami.  Karena dari dulu saya tahu satu hal bahwa tidak ada satu pun bisa terjadi kecuali Tuhan ada di dalam rencana kita. Karena Dia membuat segala sesuatu itu indah. Demikian pula dalam hidup kita. Bukan kita tidak boleh membuat rencana. Setiap manusia hidup harus membuat rencana. Tetapi dalam membuat rencana, Tuhan ada di dalam hidupku. Saat Tuhan ada dalam hidup, kita tidak perlu kuatir . Kita membuat rencana sepanjang tahun, kita tidak perlu kuatir karena diserahkan ke dalam tangan Tuhan

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

2.     Janganlah berbangga diri

Tidak seorangpun yang dapat menambah sehasta dalam hidupnya, jadi tidak perlu menyombongkan diri, kalau berhasil. Seperti contoh dalam Lukas 12 :18-20.
18  Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
19  Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!
20  Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?

Yakobus 4:13-17
13  Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung,"
14  sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
15  Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
16  Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
17  Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Konklusi

Kita baru mengawali tahun ini dan mungkin baru membuat rencana. Kita serahkan rencana kita kepada Tuhan. Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah, jadi jangan merasa sedih dan kecewa bila nantinya rencana kita gagal. Tuhan memberi janji dan harapan kepada kita. Saya rindu kita memulai tahun ini dengan berserah kepada Tuhan. Benarkah kita milik Tuhan dan Tuhan milik kita? Kalau benar, Dia memberikan kita jaminan yaitu kita mempunyai masa depan yang penuh harapan dan damai sejahtera karena Tuhan yang memberikan kepada kita. Maukah kita menyerahkan hidup dan masa depan kita kepadaNya? Karena kita tidak bisa menambah sehasta pun tetapi Dia tahu sehingga serahkanlah kekhawatiran dan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Hidup pasti ada kekhawatiran. Saya juga merasa khawatir tetapi saya bersyukur karena saya memiliki Tuhan Yesus. Setiap kali merasa khawatir , saya berdoa. Setiap kali saya memikirkan apa yang akan terjadi di depan, saya berdoa pada Tuhan. Biarlah kita memulai tahun ini dengan berserah kepada Tuhan, menyerahkan rencana, hidup  , kekhawatiran kita dan semuanya ke dalam tangan Tuhan.
Memasuki tahun yang baru ini,kita tidak tahu apakah akan lebih baikkah atau lebih buruk. Namun sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Tuhan akan menolong kita. Allah Imanuel beserta kita. Allah kita adalah Allah yang berdaulat, Dia sanggup dan Dia mengasihi kita, Dia akan memelihara hidup kita. Jangan takut, percayakanlah hidupmu kepada Tuhan. Marilah kita renungkan lirik lagu ini.
Selalu untukMu, selalu untukMu, Tuhan dan Rajaku.
Semua yang ‘ku perbuat, baik siang dan malam, selalu untukMu.
Segenap hidupku, adalah milikMu,‘tuk kemuliaanMu.
Sampai ‘ku tua nanti, sampai di Surga nanti, selalu untukMu.
Selalu untukMu,selalu untukMu, Tuhan dan Rajaku.
Semua yang ‘ku perbuat, baik siang dan malam,selalu untukMu.
Segenap hidupku, adalah milikMu, ‘tuk kemuliaanMu.
Sampai ‘ku tua nanti, sampai di Surga nanti, selalu untukMu.

Monday, January 8, 2018

Keselamatan yang Tak Hilang Namun Dihidupi dengan Sembarangan?

Pdt. Hery Kwok

Efesus 1:4-5
4  Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5  Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

Efesus 2:1-3, 8-9
1  Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
2  Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
3  Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.
8  Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
9  itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Efesus 4:17-18, 20-25
17  Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
18  dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
20  Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
21  Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
22  yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
23  supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
24  dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
25  Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

Pendahuluan

              Selama setahun akan dibicarakan tentang kedaulutan Allah dan dimulai dengan tema “Keselamatan yang Tak Hilang ,  Namun Dihidupi dengan Sembarangan?” Sembarangan artinya sembrono, tidak sesuai dengan keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Terkait dengan tema “Keselamatan yang Tidak Hilang”, timbul pertanyaan : “Apa benar keselamatan itu tidak bisa hilang?” Kalau keselamatan tidak hilang, bagaimana kita menghidupi keselamatan itu sehingga sepadan dengan keselamatan yang dianugerahkan dan hidup yang dijalani? Sebelum membahas tema di atas, terlebih dahulu dilemparkan 2 buah pertanyaan yakni :

1.     Apa Anda yakin sudah Diselamatkan?

Ini adalah pertanyaan penting menyangkut pribadi kita dengan Tuhan. Setiap minggu kita datang beribadah, tetapi apakah kita yakin bahwa kita  sudah memiliki keselamatan itu? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan kata “rasanya” atau “perasaan saya” karena jawaban seperti itu menunjukkan dasar yang sangat rapuh . Bila “perasaan” yang menjadi dasar keselamatan, maka kita perlu mengkaji ulang tentang apa yang kita yakini.
Misalnya ada seorang laki-laki dan seorang perempuan.  Laki-laki itu kemudian berkata “Sepertinya perempuan itu jatuh cinta kepada saya” maka perkataannya itu tidak memiliki landasan yang kuat karena belum dikonfirmasi oleh sang perempuan. Kalau ditanya dasar perkataannya,  sang lelaki memberi alasan yang tidak tepat seperti “Dia terus memandang (tersenyum ke) saya, jadi jangan-jangan dia jatuh cinta”. Karena bisa saja saat ditanyakan ke sang  perempuan, dia bisa menyangkal “Siapa yang cinta kamu?” sehingga dengan jawaban ini,  pernyataan sang lelaki menjadi tidak benar dan selanjutnya penolakan ini bisa menghancurkan hati sang lelaki .

Pernah sewaktu saya dan shi mu sedang makan di sebuah restoran, tiba-tiba ada seorang perempuan melihat kepada saya lalu kemudian tersenyum. Karena saya takut dia adalah jemaat yang tidak saya kenal karena saya sudah menyampaikan khotbah di mana-mana , maka bila tidak membalas senyumnya saya akan dikatakan sombong. Maka saya pun ikut senyum. Lalu ia datang ,”Ko, saya mau menawarkan bak pao”. Rupanya ini alasan sebenarnya sang perempuan tersenyum kepada saya. Jadi bisa menjadi pemahaman yang keliru kalau seseorang menilai orang lain ,”Dia jatuh cinta kepada saya.” berdasarkan perasaan semata.

Seharusnya dasar keselamatan kita adalah firman Tuhan. Pada waktu seseorang mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, membuka hati dan menerimaNya dalam hidup karena anugerah dan belas kasihan Nya maka itulah dasarnya bahwa kita memperoleh keselamatan. Jadi dasarnya adalah Firman (perkataan) Tuhan di mana kita diingatkan bahwa setiap orang yang mulutnya mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan percaya dalam hati bahwa Engkaulah Tuhan saya, maka disitulah kita memperoleh keselamatan. Dulu sewaktu muda saya pernah ikut pelayanan mudika di gereja Katholik (ikut menyanyi walau suara fals). Saya ke gereja dan melayani tetapi belum berjumpa dengan Tuhan Yesus secara pribadi. Saat saya menjadi mahasiswa jurusan teologia, baru saya dibukakan bahwa saya orang berdosa dan Kitab Suci mengatakan ,”Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Roma 10:9). Itulah keselamatan yang menjadi keyakinan yang kokoh dalam kehidupan kita.

2.     Bagaimana Anda menjalani hidup yang Anda yakini sudah diselamatkan?

Kalau ada yanag berkata, “Sepertinya saya sudah diselamatkan tetapi masih suka bicara kotor, sering memukul istri, tipu-menipu , hidup dalam perzinahan, hidup yang sembrono (seperti main judi dll)”, apakah Anda diselamatkan dengan hidup yang seperti itu?  Maka itu membuktikan bahwa keselamatannya itu bukan dari sorga karena hidup dijalani dengan sembarangan. Sayangnya, banyak orang Kristen yang hidupnya tidak karuan.  Saya pernah melakukan konseling terhadap sepasang suami-istri. Istrinya diperlakukan dengan tidak karuan seperti dipukul oleh suami. Kalau kita (berani) berkata bahwa sudah diselamatkan tetapi hidup seperti itu maka kita harus malu. Kalau masih bicara kotor maka malu dengan mulut kita. Kalau masih pukul orang maka kita malu dengan tangan kita, masih nonton film porno malu dengan mata kita, kalau masih senang bergosip maka malu dengan telinga. Artinya hidupmu dengan keselamatan yang diyakini adalah 2 hal yang berbeda. Saya ingin jemaat mengalami apa yang benar-benar anugerah Allah dan dihidupi itu sesuai.

Pemahaman tentang keselamatan

Roma 10:9  Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. maka apakah saat kita mengaku percaya itu karena kita mampu untuk merespon tawaran Allah melalui hamba Tuhannya? Saya dididik dan dilayani seorang mentor dari kakak tingkat mahasiswa yang melayani di Perkantas dan ia membimbing saya untuk mengaku dan menerima Tuhan. Saat saya menerima Tuhan, apakah saya mampu meresponi tawaran Allah? Kalau salah tafsir, maka kita menjadi sombong dalam keselamatan dan tidak bisa mengisi keselamatan dengan baik dan benar.  Dasar untuk bisa percaya apakah karena kita mampu meresponi saat ada panggilan untuk percaya (siapa yang mau terima Tuhan angkat tangan). Pdt. Stephen Tong dalam rally (pelayanan di daerah), ia merasa terpanggil untuk datang ke Kalimantan Barat. Pdt. Stephen Tong selalu mengakhiri dengan tantangan (altar call). Pdt. Rudi (ipar mu shi yang melayani di GRII) bercerita , “Pdt Stepehn Tong dalam rally pelayanan ke daerah, saat ia tantang semua orang , banyak orang Tionghoa yang maju.” Ia berkata,”Di lingkungan gereja Tionghoa , apakah kita melihat orang Tionghoa perlu diselamatkan atu tidak itu menjadi tanggung jawab yang Tuhan taruh dalam diri kita. Saat di Kalbar, Pdt. Stephen Tong memberitakan firman dan banyak yang merespons percaya. Apakah saat Pdt. Stephen Tong menantang keselamatan dari Kitab Suci dan kita percaya berdasarkan kekuatan kita?. Apakah keselamatan itu saya yang bisa responi?

Efesus 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Saat Rasul Paulus berkata dahulu kamu sudah mati, kamu adalah orang berdosa. Dulu kami seperti kamu karena kami mengikuti jalan dunia dan mentaati penguasa dan hidup dalam nafsu daging (menurut kehendak daging). Dengan kata lain, Rasul Paulus berkata, kita orang berdosa dan tidak punya kemampuan untuk percaya Allah. Orang mati tidak bisa meresponi. Kalau orang meninggal dicubit, maka ia tidak meresponi bahwa ia sakit. Kalau ia berteriak maka pengunjung akan kabur. Kalau ia meresponi berarti ia tidak mati. Orang mati tidak bisa berbuat apa-apa. Rasul Paulus berkata, “Kita orang berdosa adalah orang yang tidak bisa meresponi apa-apa.” Itulah hidup kita. Kita hidup dikuasai oleh dunia ini. Orientasi hidup kita adalah mengikuti penguasa di udara dan kesenangannya mengikuti keinginan daging. Maka saat mengenal Allah, kita tidak merasa gentar / takut. Orang berdosa saat berbuat dosa tidak merasa apa-apa. Sedangkan orang benar saat berbuat jahat merasa takut dan dag-dig-dug.  Kalau tukang nyontek saat nyontek tidak merasa dag-dig-dug. Saat Rasul Paulus berkata pada pasal 2 , kita tidak bisa meresponi apa yang sebenarnya kita lihat.

Ilustrasi, pada waktu kertas jatuh, ia tidak bisa naik sendiri ke meja lagi kalau bukan manusia yang mempunyai inisiatif mengangkatnya kembali maka kertas ini akan tetap tergeletak di bawah. Tetapi saat manusia mau dan punya keinginan dan meletakkannya kembali maka kertas itu bisa ada di meja kembali. Waktu kita menjadi orang berdosa maka kita mati dan tidak bisa untuk bangkit, naik ke atas tetapi tetap berada dalam keberdosaanmu.
Efesus 2: 8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.  Karena anugerah dan kasih karunia kita bisa percaya dan meresponinya, karena kita mendapat belas kasihan, maka kita bisa mengaku percaya. Bagaimana Allah membuktikan itu? Ia sudah menetapkannya pada Efesus 1:4  Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.Sebelum dunia dijadikan, Aku sudah memilih engkau. Sebelum engkau melakukan kejahatan / berdosa, Aku sudah menetapkan engkau sebagai orang yang dianugerahkan keselamatan. Inilah keagungan keselamatan , doktrin keselamatan yang dengan jelas disampaikan Alkitab bahwa kala kita bisa meresponi , itu merupakan kemurahan Allah. Ini menjadi dasar untuk kita bisa melihat dengan baik, bagaimana kita bisa menghidupinya?

Menghidupi Keselamatan dalam Hidup

Ada 3 hal yang ingin disampaikan. Kalau kita ditetapkan untuk diselamatkan sebelum dunia dijadikan (seperti tertulis pada Efesus 1:4), Sebelum dunia ada, sebelum Kejadian 1 (diciptakannya pada mulanya langit dan bumi) atau sebelum Adam dan Hawa, Allah sudah menetapkan saya untuk nanti diselamatkan. Waktu saya dihadirkan melalui orang tua saya menjadi anak kecil, saya adalah orang berdosa. Tetapi waktu Ia menentukan saya sudah mendapat anugerah, suatu saat Ia memberikan pernyataan keselamatan itu sehingga saya bisa percaya. Kalau anugerah itu hebat, mulia dan luar biasa dan kita memahami anugerah yang benar seperti itu, bagaimana hidup kita? Keselamatan yang adalah anugerah Allah, harus nyata dalam hidup Anda melalui :

1.     Beribadah kepada Allah, bersekutu dengan Allah, bereleasi dengan Allah (orientasi /focus/tujuan hidup kita)
Efesus 4:20-21 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus. Waktu dia menentukan bahwa saya mendapat anugerah dan Dia memberikan pernyataan itu maka saya bisa percaya. Kalau kita dianugerahkan keselamatan maka itu seharusnya nyata dalam ibadah, sekutu dan relasi kita dengan Allah. Itu yang menjadi orientasi dan tujuan hidup kita yaitu untuk menyembah Dia.  Waktu bangsa Israel dibebaskan dari Mesir (kitab Keluaran), Musa menyampaikan ke Firaun, “Aku akan membawa umatku keluar ke tanah perjanjian. Pada waktu di padang gurun, mereka harus beribadah kepada Allah.” Pembebasan Israel dari perbudakan orang Mesir maksudnya agar orang Israel harus beribadah kepada Allah. Pada Kitab Keluaran, orang Israel dilepaskan dari perbudakan Mesir dan mereka harus beribadah. Seperti juga setelah kita dilepaskan dari dosa, Tuhan ingin kita beribadah kepadaNya. Karena Tuhan tahu bahwa ibadah itu penting, maka Ia memberikan suatu hari khusus (Pada Kitab Keluaran pasal 20 dikatakan kuduskanlah hari Sabat). Ibadah itu khusus dan penting dan karena manusia bisa tidak punya waktu maka Allah memberikan satu hari yang khusus. Pada hukum ke-4 “Kuduskanlah hari Sabat”, Allah ingin bersekutu dengan umat yang ditebusNya. Ibadah penting sehingga setelah umat Israel diselamatkan mereka perlu beribadah. Bersekutu dan beribadah bukan pilihan. Orang Kristen yang tidak memahami dan menghargai tentang keselamatan menganggap ibadah sebagai pilihan sehingga boleh datang boleh tidak. Ibadah adalah perintah dari Allah. Allah katakan ke bangsa Israel bahwa ibadah adalah kewajiban (bukan kerelaan). Orang Israel hidup 430 tahun dalam perbudakan Mesir di mana mereka menyembah ilah-ilah orang Mesir (seperti dewa matahari dll), hidup rohani mereka tidak ada yang baik. Makanya Tuhan minta mereka wajib beribadah.

Seorang dokter mendiagnosa bahwa pasiennya kena sakit jantung dan mewajibkan pasiennya untuk minum obat setiap hari. Perkataan “wajib minum obat” adalah perkataan yang tidak bertujuan jahat. Karena kalau obat tidak diminum maka pasiennya akan mati. Apakah perkataan dokter tersebut adalah peraturan yang jahat? Tidak, karena akan membuat pasiennya hidup. Waktu Tuhan berkata orang Israel wajib beribadah, itu bukan pilihan atau kehendak (kemauan) saya untuk beribadah. Saat beribadah dengan baik maka kita tidak akan merasa terbebani. Saat beribadah kepada Allah, maka yang beruntung adalah kita. Dia memberikan rahmat, anugerah dan sukacitaNya, maka itulah yang Dia ingin berikan. Dalam ibadah raya, bila ada seorang laki-laki yang diwajibkan tidak hadir maka ia harus dihukum mati. Sepertinya Tuhan tidak adil karena tidak memberikan pilihan sendiri. Ternyata salah, Allah ingin kita hidup maka dia ingin kita beribadah. Keselamatan anugerah Allah yang sudah didapat karena kebenaran kitab Suci, apakah kita hidup dalam ibadah yang baik? Ibadah di mana kita datang dalam kehausan. Mari kita refleksikan apakah ibadah kita bolong-bolong atau menjadi kesukaan kita? Allah menyelamatkan kita agar kita bisa datang kepadaNya.

2.       Manusia baru yang diubahkan dari hari ke hari (cara/ sikap hidup kita)
         Orang-orang Kristen yang mengaku telah diselamatkan tetapi masih suka menampar istri atau istri yang suka berkata kasar kepada suami, anak yang tidak hormat kepada orang tua, orang-orang muda yang masih suka perkara porno maka pertanyaannya sederhana : apakah manusia baru itu benar-benar telah terjadi dalam diri mereka? Kalau masih hidup bergelimang dosa maka kita harus sungguh-sungguh menggumulinya. Orang Kristen memang masih bisa berbuat dosa namun perbedaannya, setelah mendapat anugerah keselamatan dan diperbarui, kita tidak hidup dalam dosa. Kita masih bisa jatuh mencontek. Contoh : saat menghadapi ujian di S2, saya hanya bisa menjawab 1 dari 5 pertanyaan, godaannya sangat besar untuk mencontek namun karena saya duduk di depan maka terbebaslah saya dari dosa untuk mencontek. Yusuf lari saat digoda istri Potifar karena ia tahu bila tidak lari ia bisa jatuh ke dalam dosa. Sayangnya, kita senang ‘lari di tempat’ dalam menghadapi dosa sehingga bisa jatuh berkali-kali dalam dosa. Sehingga Rasul Paulus berkata dalam Efesus 4:22-24. yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,  supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,  dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.   Maka biarlah manusia baru terjadi dalam pengudusan demi pengudusan sehingga kita diubahkan sesuai dengan gambar anak Allah. Roma 8:29a Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.  Allah ingin orang yang ditebusnya menyerupai gambar Anak Allah. Dia ingin kita berubah dalam karakter dan dari kehidupan lama kita. Poin kedua ini dengan mudah bisa dilihat oleh orang lain sehingga kalau kita masih suka omong kotor, nonton film porno, hidup dalam pelacuran, perjudian dan gossip maka cara manusia lama itu harus ditanggalkan.

3.       Menjadi berkat bagi sesamamu melalu hidup melayani (hidup yang berbagi bukan hidup egois)
         Efesus 4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Keselamatan bila tidak menjadi berkat bagi sesama, maka berarti kita masih egois. Allah berkata bahwa Aku membawa orang Israel untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa dari awal Alkitab sudah memberikan sebuah penuntun agar orang Israel mewartakan dan menyatakan Allah Yahweh dalam hidup mereka dan hal yang sama juga berlaku untuk kita. Dalam lirik lagu, “Apakah engkau kenal Yesus?” pertanyaan ini bukan untuk diri kita tetapi untuk orang lain. Kita menjadi orang Kristen yang egois dan individual (misal : setelah ibadah langsung pulang) maka keselamatan yang demikian mahal dan sempurna sangat disayangkan bila dikaitkan dengan cara hidup yang tidak Tuhan kehendaki. Sehingga Rasul Paulus mengatakan pada Efesus 4:12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, . Mari hidupi keselamatan dengan benar sesuai yang diajarkan Kitab Suci. Ikuti ajaran Kitab Suci maka kita bisa menikmati perjalanan keselamatan kita dengan indah dan luar biasa. Tahun 2018 menjadi tahun resolusi untuk hidup dalam kebenaran firman dengan baik.