Monday, August 14, 2017

Keluarga Penting! Hanya Teori? (Kenyataan Terabaikan)


Ev. Charlotte

Ulangan 6:4-9
4  Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

Pendahuluan

                Tema hari ini “Keluarga Penting! Hanya Teori?”. Keluarga penting, apakah hanya teori? Kalau selama ini menganggap keluarga penting, apakah  itu hanya ‘omdo’ (bicara saja)?. Apakah dikatakan saja tetapi tidak dilakukan? Alkitab bila diperas hanya menjadi 2 ayat saja yakni Matius 22:37-39.  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi dan bukti kita mengasihi Tuhan adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Hukum inilah yang seharusnya ada di dalam hidup kita baik di keluarga, pekerjaan maupun dalam pelayanan. Intinya : hanya mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Jadi sewaktu membangun keluarga untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, kalau hal itu sudah dicapai maka dengan demikian kita akan mudah mengasihi istri, suami, papa, mama, anak , keluarga, karyawan dll.
                Yang paling penting di dalam diri kita apa? Apakah pekerjaan , pelayanan , keluarga saya yang paling penting? Ketika dihadapi pada berbagai pilihan, kita bisa bingung memilih yang mana. Akhirnya bertanya,”Bagaimana keseimbangan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga?” Selamanya tidak pernah bisa seimbang  karena porosnya salah. Bila memiliki 3 orang anak, orang tua tidak pernah bisa mengasihi ketiganya dengan sama besarnya. Ada yang lebih dan kurang sedikit. Mungkin anak yang baik, rajin, pintar dan mirip dengan orang tua, lebih disayangi. Kalau nakal, bodoh, malas kurang disayang. Manusia tidak bisa pernah adil.
                Waktu saya kecil ada lagu “Aku Sedih” Joan Tanamal (1971) yang liriknya, “Aku sedih, duduk sendiri, mama pergi, papa pergi. Oh itu dia mereka datang. Aku senang hatiku riang.” Itu lagu dulu di mana  kalau anak ditinggal akan merasa sedih. Namun sekarang liriknya berbeda,”Aku senang duduk sendiri. Mama pergi papa pergi. Oh itu dia mengapa pulang? Aku sedih hatiku pedih.” Mengapa bisa begitu? Pada iklan produk biskuit Khong Guan , tampak ada seorang ibu dengan 2 anaknya. Pertanyaannya,”Di mana Papa?” Saat itu bisa dijawab,”Papanya yang memfoto” karena pada zaman dulu tidak ada tongsis. Tetapi yang sekarang,”Di mana Papa? Di mana Mama?” Tidak ada! Mereka tidak hadir dalam kehidupan anak-anak. Kalau dulu sekeluarga masih berkumpul, di dalam keluarga ada interaksi dan komunikasi, tetapi sekarang keluarga inti masih duduk bersama-sama tetapi tidak ada kebersamaan. Masing-masing dengan gawainya masing-masing. Bahkan anjingnya saja santai untuk dirinya sendiri , padahal anjing ada untuk tuannya. Apa yang salah dengan kondisi sekarang ini?

1.    Salah fokus

Roma 14:7-8 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati kita adalah milik Tuhan! Ayat ini menginspirasi lagu “Ku Hidup bagiMu” (Sari Simorangkir) dengan lirik,”Kalau kuhidup, kuhidup bagiMu. Hatiku tetap, tetap menyembahMu. Dunia tidak bisa menjauhkanku dari kasihMu. Selama ku hidup, kuhidup bagiMu. Mataku tetap, tetap memandangMu. Dunia tak bisa menjauhkanku dari kasihMu.” Fokus hidup kita hanya satu yaitu untuk Tuhan. Karena Ia sudah memberi hidupNya untuk kita. Jadi hidup kita bukan lagi tentang kita tetapi tentang Dia. Ada ayat yang sering dibaca yakni Roma 8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Atau penderitaan, sakit-penyakit, perceraian? Singkatnya apapun yang dialami saat ini.
Semalam saya baru tiba dari Singapura. Saya bergumul karena anak mantu saya sakit. Saya baru menikahkan anak pertama saya yang menjadi dokter. Mereka berdua adalah dokter, mereka akan segera pelayanan di Papua. Menantu saya waktu kelas 2 SMP satu ginjalnya sudah pecah. Pembuluh darahnya melebar dan pecah sehingga hanya ada 1 ginjal. 10 tahun lalu ternyata ginjal yang satunya lagi pembuluh darah sudah melebar (aneurisma) dan sewaktu-waktu bisa pecah. Setelah menikah, pembuluh darah dipasang selongsong stent graft. Suami saya seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah. Dia melihat pembuluh darah menantu saya sangat rapuh. Biasanya hal ini terjadi di otak tetapi ini di ginjal. Di Indonesia kejadian ini sangat langka. Setelah mencari dokter yang tepat akhirnya ditemukan ada dokter yang dapat menanganinya di Singapura yang telah menangani kasus seperti ini. Sehingga ia didaftarkan di sana dan dapat jadwal dioperasi hari Jumat kemarin. Saya bergumul tapi saya datang hari ini. Kami berharap stent bisa dipasang supaya pembuluh darahnya tidak  pecah karena kalau pecah hanya bisa punya 1 ginjal. Ternyata tidak bisa pasang stent. Sewaktu dibedah, ternyata pembuluh darah itu sangat banyak cabangnya, tidak tahu yang mana harus dipasang stent. Kalau dipasang stent kemungkinan gagal ginjal 40%. Yang mengoperasinya ada 2 dokter. 1 dokter konsulen biasanya menangani pembuluh darah di otak. Dia berkata, “Ya sudah pasang saja stent karena anak dan menantu saya mau ke pedalaman. Ia mengusulkan agar pembuluh darahnya tinggal dipasang-stent. Pasang atau tidak pasang stent tetap memiliki resiko. Jadi setelah peralatan operasi dicopot semua, mereka diskusi bertiga. Akhirnya dokter yang ahli pembuluh darah di otak berkata, “Sudahlah daripada 40% ginjal rusak tidak perlu pasang stent, toh dia bisa hidup 10 tahun seperti ini. Kita hanya bisa berharap dia bisa tetap seperti ini, tidak menjadi lebih buruk.” Kesimpulan ,”sudah dibiarkan saja”. Tentu saja, kami kecewa. Anak ini mau melayani Tuhan , hidupnya untuk Tuhan. Tetapi kenapa Tuhan tidak kasih dia? Mengapa kasusnya paling unik sendiri? Tapi kami disadarkan seakan-akan Tuhan berbicara, “Memangnya siapa yang bisa memberi hidup?” Pertama kali saya berdoa,”Ya Tuhan anak mantu saya sakit seperti ini dan sewaktu-waktu bisa dipanggil. Boleh tidak Tuhan, kalau usianya pendek, mereka jangan menikah. Kasihan anak saya, kalau baru satu tahun menikah istrinya meninggal, nanti bisa jadi duda.” Tetapi bisa saja anak saya yang mati duluan. Kita berpikir,”Apa anak kita bisa tahan lama?” Siapa bisa menduga pembuluh darah di otak dan jantung bagus-bagus , bisa saja ada aneurisma (pelebaran pembuluh darah abnormal) di otak dan sewaktu-waktu bisa pecah. Bisa saja seperti mainan , baterenya habis sehingga mainannya mati. Kita juga bisa habis ‘batere’ dan mati. Kitar merenungkan hal ini. Keluar dari rumah sakit, Kita bersyukur dan berdoa bergandengan tangan berempat, “Tuhan bukankah kami sudah berdoa kepadamu?  Apapun hasilnya kami tetap percaya Engkau baik dan semua baik. Dan hidup kami hanya untuk Engkau. Pergunakanlah semua untukMu selama Engkau mau.” Ini pengalaman rohani buat anak dan menantu kami saat mereka nanti melayani di pedalaman. Kalau Tuhan mau tidak ada yang mustahil. Tuhan mau seberapa lama pelayananmu lakukanlah. Sebagai manusia kita lakukan. Setelah melakukan yang terbaik, lakukan saja. Apa yang memisahkan kita dari kasih Kristus? Apakah kesulitan, penderitaan, kekecewaan sehingga ada yang begitu kecewanya hingga berkata,”Saya tidak mau lagi mengasihi Tuhan.” Tidak ada! Tuhan mengasihi kita sewaktu kita berdosa (sewaktu kita tidak layak dikasihi). Jadi kasih Tuhan tidak tergantung dari apa yang kita lakukan.
Apa yang kita kejar? Uang, prestasi akademik dan bidang lainnya, kemewahan, deposito, reputasi, gengsi yang memisahkan kita dari kasih Kristus dan menganggapnya yang utama? 1 Yoh 2:15-17  Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya. Agustus tahun lalu (2016) saya mengkhotbahkan hal ini. Tentang keinginan daging (hedonisme), keinginan mata (materialisme), dan keangkuhan hidup (narsisisme). Orang ingin punya ilah (i) sehingga ada i-pad, i-phone. Kalau mencintai hal seperti ini maka  kasih akan Allah tidak ada. Tidak bisa kita katakan,”Ada secuil kasih untuk diri , anak, suami saya jadi saya kasih Tuhan 99%” tidak bisa! Kita harus mengasihi Tuhan 100%, dengan kasih kepada Tuhan baru mampu mengasihi anak, istri, orang tua bahkan siapapun yang melukai kita. Tanpa kasih ini, kita tidak mampu. Jadi kita hanya fokus kepada Dia.
Apa yang menjadi fokus kita? When Christ is the center of your foucs. All elese will come into proper perspective. Bila Kristus yang jadi pusat dari fokus, maka yang lain akan berada dalam perspektif yang tepat. Misalnya : keluarga dulu , bukan pelayanan. Atau sebaliknya sehingga keluarga diabaikan. Kalau Kristus yang menjadi fokus (core) maka semua akan seimbang. Punya uang, teman, rekreasi, pekerjaan, hobi, keluarga, sekolah,rekreasi untuk Tuhan. Semuanya untuk Tuhan. Jadi tidak usah bingung. Karena kalau bingung akan terkotak-kotak. Seolah-olah yang satu bukan urusan Tuhan. Jadi dari Senin-Sabtu hidup untuk diri sendiri sedangkan Minggu untuk Tuhan? Tidak! Kita hidup dari Senin sampai Minggu untuk Tuhan. Bahkan buang air besar pun untuk Tuhan. Anak saya tidak makan sayur jadi sulit buang air. Saya katakan kepadanya,”Makanlah sayur bukan masalah kamu mau atau tidak tetapi karena tubuh kamu butuh.” Dia menjawab,”Saya tidak apa-apa! Saya kan sehat” Saya berkata lagi,”Bagaimana tidak apa-apa ? Kamu kan sulit BAB.” Firman Tuhan bahkan berkata makan dan minum untuk memuliakan Tuhan, melalui tubuhmu mempersembahkannya sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah (bukan tubuh yang mati). Persembahkanlah tubuh yang sehat untuk Tuhan. Bukan kita sehat untuk hemat (tidak keluar masuk rumah sakit). Bukan itu. Kita perlu hidup sehat karena kita mau memuliakan Tuhan. Bisa buang air besar itu anugerah Tuhan. Karena anugerah Tuhan, maka tiap hari kita harus buang air besar. Kalau mules pagi hari, itu sehat. Kalau harus makan obat untuk mules, berarti tidak sehat. Demikian juga dengan buang angin. Waktu anak saya di rumah sakit untuk dioperasi , dia merasa haus dan ingin minum. Saya berkata,”Tidak bisa minum, karena kamu belum kentut!” Dia pun merengek,”Mami tolong belikan kentut”. Saya menjawab,”Kalau bisa mami belikan.” Ternyata bisa  kentut saja anugerah. Saya pun mendukungnya,”Mami tidak minum - makan sampai kamu kentut supaya setelah itu kita sama-sama makan.” Saya ingin menemaninya terus. Jadi waktu itu kita berdoa,”Tuhan bagaimana caranya kirimkan kentut agar ia bisa minum.” Hidup itu anugerah. Saat bangun pagi ini apakah ada yang bisa membuka mata sendiri? Siapa yang membukakan mata kita selain Tuhan? Tuhan yang membukakan mata kita , hidup kita rapuh sekali.

2.    Salah prioritas

“Kekurangan waktu” menjadi problem keluarga masa kini. Kita diberi waktu 24 jam. Semua manusia sama. Tetapi kita selalu bilang kurang waktu dan sibuk sekali. Sehingga seolah-olah waktu itu menjadi sesuatu yang mahal. Berapa banyak waktu yang diluangkan ayah bagi anaknya? Menurut survey hanya 7 menit/hari. Menjadi ayah (being father) tidak sama dengan having children (punya anak). Keduanya berbeda, jangan katakan saya punya anak harus cari uang. Ketika menjadi ayah atau ibu apakah kita sudah menjalankan fungsinya? Efesus 6:4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Apakah kita sudah melakukannya? Ulangan 6:4-9 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.   Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,   haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ada 3 hal  yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, hati dan kekuatan. Itulah yang harus diajarkan. Bagaimana anak mengasihi , kagum dan hormat yang kudus? Mengasihi Tuhan sesuatu yang abstrak. Kalau mengagumi Tuhan yang kudus , itu lebih konkrit. Kalau Tuhan ada di sampingmu, kita tidak akan berani membuka situs porno, tidak berani menulis untuk mengumpat di situs medsos. Kalau orang yang kamu bully itu punya Tuhan, maka tidak berani kita lakukan. Jadi ketika mengasihi Tuhan dengan seluruh keberadaan. Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Dengan segenap keberadaan, semua dikasihi Tuhan. Tidak ada kesenangan saya tetapi yang ada adalah kesenangan Tuhan. Tidak ada kepentingan saya tetapi yang ada kepentingan Tuhan. Bagaimana bentuk mengasihi Tuhan? Cowo datang ke cewenya dan mengatakan,”Saya mengasihi kamu. Ini dompet saya. Kalau tidak cukup, ini jam tangan saya. Kalau masih tidak cukup, saya kasih baju dll, semuanya dikasih” sampai si cowo membuktikan kalau kamu berada di ruangan yang terbakar, si cowo masuk ke dalam menyelamatkan si cewe sehingga cewenya mengatakan,”Iya betul kamu mengasihi saya!” Memberi yang utama bagi orang lain adalah nyawa. Suatu hari kalau kita ditanya,”Percaya dan mengasihi Tuhan tidak?” Kalau percaya akan dipancung. Akhir-akhir ini kita dikhawatirkan oleh ISIS. Sebagai orang Kristen kita dipertaruhkan. Apakah sampai pada titik itu mengatakan , “Kita tetap mengasihi Tuhan walaupun mengalami penderitaan.” Kalau kita menghadapi masalah itu apakah kita masih tetap mengasihi Tuhan atau tidak? Saya berdoa supaya kita tetap mengasihiNya.
Kita menghadirkan Tuhan dalam segenap aspek hidup kita (masalah, pergumulan). Apakah waktu mengambil pilihan, apakah menghadirkan Tuhan dalam hidup? Apakah saat menghadapi masalah, lari ke Tuhan atau ke yang lain? Apakah kita melihat, di dalam masalah dan pilihan-pilihan ,“Tuhan yang ada di sini, bantulah kami mengambil keputusan” . Ketika Tuhan ada maka damai sejahtera Tuhan menaungi kami.
Dalam memilih karir, teman, sekolah, pekerjaan dan teman hidup apakah untuk mengutamakan Tuhan? Seperti yang ditulis pada Ulangan 6, apakah kita mengasihi Tuhan melebihi apapun? Membenci dosa melebihi apapun? Apakah kita mengutamakan Tuhan dalam setiap kegiatan dan kesempatan kita? Kalau kita mengutamakan Tuhan, yang lain dianggap sampah (yang lain kuanggap rugi karena Kristus). Karena Kristus lebih mulia dari apa pun. Ketika kita mengasihi, mengutamakan dan menghadirkan Tuhan, itulah prioritas. Jadi hal yang menyebabkan kehancuran keluarga adalah  salah fokus (bukan pada Kristus).
Mana yang lebih penting : kualitas atau kuantitas? Bukan soal waktu yang menjadi sasaran tapi waktu hanya menjadi sarana untuk menicptakan hubungan (kedekatan). Jadi bukan masalah kualitas atau kuantitas tapi apakah waktu yang diluangkan bersama dapat memperat hubungan. Kalau anak mau curhat pada hari Selasa tidak bisa dijawab tunggu sampai nanti akhir Minggu. Waktu itu adalah sarana, sasarannya adalah hubungan (relasi). Ada orang yang tua diwawancara, “Kalau anak ingin hadiah yang paling baik seperti apa?” Hadiah yang terindah. Orang tua pikir anaknya pasti mau main dan pergi jalan-jalan tetapi apa yang terjadi ketika anak itu ditinggal? Anak ini hanya menginginkan punya papa dan pergi dengan papa!

3.    Salah relasi

Hukum kasih tidak bisa berjalan tanpa relasi. Apa relasi yang ada? Relasi yang kita bangun biasnya hanya relasi memiliki. Karena saya punya orang tua, maka saya jadi anak. Jadi being bukan having. Yang ada demanding (menuntut). Karena saya mama maka kamu harus hormat ke mama atau “Turut ke papa” itu relasi having. Seharusnya relasi being bukan transaksional , apakah saya telah menjadi mama dan papa yang baik? Apakah saya sudah menjadi suami yang mengasihi istri, apakah sebagai istri saya tunduk ke suami? Kalau relasi being, maka kita harus menghargai orang di sekeliling. Saya akan menjadikan diri saya berharga pada suaminya. Supaya suami nyaman, tidak diganggu saya, ditolong dan membuat kita merefleksikan diri. Kalau tidak,”Apakah dia sudah jadi suami yang baik? Dia saja tinggalkan saya dan tidak ada waktu temani saya jalan-jalan.” Jadi yang ada tuntut-menuntut. Ketika diri sendiri, relasi diri kita beres, maka relasi kita dengan pasangan dan anak-anak akan menjadi beres, juga relasi dengan anggota gereja. Jadi negara kalau mau kuat maka keluarga harus kuat. Gereja kuat kalau anggota keluarga kuat. Mau tidak mau diri kita sendiri diperbaiki. Masalah muncul karena diri sendiri yang menyimpang. Saat konseling, saya memberi nasehat ke seorang ibu,”Ibu harus berubah!”. Sang Ibu menjawab,”Kenapa suami saya tidak?Kan dia yang selingkuh!” Saya menjawab,”Saya sangat mengerti. Masalahnya suami Ibu tidak berada di depan saya. Ibu yang berubah dahulu. Tanpa ibu yang berubah, suami tidak akan berubah. Ibu lakukan apa yang Tuhan mau Ibu lakukan. Lakukan dengan taat dan setia” Memang tidak mudah berubah, dimulai dari diri sendiri.
2 minggu lalu setelah seharian penuh saya pelayanan dan pulang malam hari pk 21.30 setelah kondangan dengan tubuh yang lelah sekali. Lalu suami saya berkata “Coba lihat waze”. Waze sebagai aplikasi penunjuk jalan mengarahkan untuk belok ke kiri, tetapi suami saya tidak belok kiri hanya mengambil jalan kiri. Jadi saya berkata,”belok kiri”, suami menjawab,”Ini saya sudah kiri” dengan nada jengkel. Lalu dia berkata,”Jangan ngomong” sehingga hati saya jadi mendidih. Lalu saya diam dan sampai di rumah saya diamkan saja. Dia mengajak bicara namun saya diamkan. Firman Tuhan mengatakan, “Sebelum matahari terbenam, harus dibereskan”. Tetapi kalau setelah matahari terbenam, diselesaikan sebelum matahari terbit alias sesegera mungkin. Suami saya setelah pulang langsung mandi dan tidur, jadi  belum bisa dibereskan masalahnya. Keesokan pagi saya mau pergi pelayanan. Sebelumnya saya berdoa,”Tuhan hari ini saya mau melayani Tuhan.” Namun saya teringat 2 tema yang akan disampaikan yaitu bagaimana komunikasi efektif dalam keluarga dan bagaimana keluarga yang saling mengampuni. Tuhan ingatkan ada hal yang belum beres,”Tetapi kamu harus beres dengan Aku”,kata Tuhan. Saya berdoa minta ampun“Tuhan, ampuni saya! Tuhan, saya sombong dan egois. Saya tidak mau mengampuni suami saya.” Akhirnya ada damai sejahtera Tuhan. Saya tahu Tuhan mengasihi saya. Saya mandi , siap-siap dan waktu saya cium suami saya, dia diam saja. Akhirnya saya bilang, “Pap saya pergi dulu.” Dia mejawab, “Hmm...” Kalau dulu, saya balikkan, “Sudah bagus saya ngomong dulu. Tahu rasa” Itu dulu. Begitu beres dengan Tuhan, tingkah laku dia tidak mengganggu saya, sukacita saya tidak hilang. Saya baru mengerti apa yang Rasul Yohanes katakan, “Sukacitamu menjadi penuh!” Seperti beras yang ditakar dan sudah padat jadi bila digoyang-goyang pun tidak jadi tumpah. Saya bilang,”Tuhan tolonglah dia, supaya sukacita Tuhan ada di dalam dia!” Belas kasihan muncul dalam diri saya. Sepanjang perjalanan untuk pergi pelayanan saya merasa gemibra. Dengan mengetahui firman Tuhan, maka saya tidak merasa jengkel dan kesal dengan perlakuan orang lain. Karena sukacita Tuhan ada di dalam diri kita. Kalau keluarga penting, apakah kita mau melakukan yang the best untuk keluarga karena sedang melakukan yang the best untuk Tuhan? Orang yang mengkomunikasikan tentang keluarga kepada rekannya dan mengkomunikasikan pekerjaan pada keluarganya, maka ia akan berada lebih puas dan efektif dalam lingkungan itu karena bekerja untuk keluarga sehingga pergi bekerja dengan semangat. Ada tulisan : never get so busy making a living that  you forget to make a life. Biasanya kita sibuk, bagaimana supaya kita bisa hidup tetapi kita lupa tentang kehidupan kita sendiri.
Ada seorang anak yang akan berulang tahun seminggu lagi dan diberi satu tas berisi hadiah-hadiah ulang tahun oleh orang tuanya.  Ibunya mempersilahkannya untuk membukanya lebih dahulu. Ia mendapat banyak hadiah dari 2 film, piyama, kaos disney-land dan makanan-makanan kecil. Lalu sang anak ditawarkan hadiah ulang tahun yang paling diinginkan yaitu pergi ke disney land hari itu juga bersama orang tuanya.  Sang anak merasa begitu terkejut hingga menangis. Mereka sekeluarga akan pergi setelah papanya bekerja. Orang tua kita saja bisa memberi apa yang menjadi keinginan kita,bukan hanya kebutuhan kita terlebih lagi Tuhan yang kita sembah. Dia memberikan lebih dari segalanya. Karena Tuhan tidak hanya tahu tetapi Dia selalu memberi yang terbaik untuk kita. God not only gives you presents on your birthday, but He always gives the special gifts for you at present. Don’t just do things for the one you love only on special days. Make everyday for HIM special.  Maz 103:13   Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. 1 Kor 2:9  Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."


Sunday, August 6, 2017

Lihatlah Generasi Muda di Gerejamu

Ev. Mercy Matakupan

Hakim 2:8-11
8  Dan Yosua bin Nun, hamba TUHAN itu, mati pada umur seratus sepuluh tahun;
9  ia dikuburkan di daerah milik pusakanya di Timnat-Heres, di pegunungan Efraim, di sebelah utara gunung Gaas.
10  Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.
11  Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.

1 Yoh 2:14-17
14  Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.
15  Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
16  Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
17  Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

Orang-Orang Muda yang Dipakai Tuhan

                Alkitab memberikan perhatian yang besar sekali untuk orang-orang muda. Tuhan membangkitkan pahlawan-pahlawan iman yang mengarahkan sejarah dan itu dimulai dari orang-orang muda. Bahkan Tuhan bekerja dalam hidup mereka pada usia mereka yang masih sangat muda. Ada yang masih dalam kandungan seperti Simson dan ada juga yang mulai dari bayi seperti Musa. Bahkan Yosia yang menjadi raja pada usia 8 tahun lahir dari keluarga yang tidak mengenal Tuhan (kakek dan ayahnya jahat). Alkitab memberi catatan hidupnya begitu saleh dan berkenan di hadapan Tuhan. Tetapi di antara raja-raja tidak ada yang seperti Yosia yang memiliki iman seperti leluhurnya Daud. Tuhan membangkitkan orang-orang muda seperti Musa, juga Samuel yang masih minum susu  sapi lalu dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan memakai Yosua yang sejak muda mengikuti Musa. Tuhan memakai Daniel dan ketiga temannya Sadrakh , Mesakh dan Abednego untuk mengguncangkan raja-raja  besar. Daniel berkuasa selama pemerintahan 4 raja. Semua raja tersebut turun satu per satu dan diganti tetapi Daniel tetap dipakai sebagai perdana menteri. Padahal Daniel dan teman-temannya dididik di  antara usia 12-15 tahun (teenager). Rasul Yohanes memberikan perhatian yang besar kepada orang-orang muda, “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.(1 Yoh 2:14). Rasul Yohanes saat menulis surat tersebut sudah tua dan sebentar lagi dibuang ke Pulau Patmos lalu menulis kitab Wahyu. Ia menulis kepada orang muda, karena Rasul Yohanes melihat orang muda adalah orang yang kuat dan Firman Allah diam di dalam mereka dan mereka telah mengalahkan yang jahat. Itu pesannya kepada orang muda. Kegagalan besar gereja yang terjadi terus berulang. Apa yang tidak penting bagi Allah itu yang sering dipentingkan. Hal-hal yang sekunder seperti  bangunan gereja dan musik diperhatikan, tetapi hal utama yang diminta Tuhan tidak diperhatikan.

Teledor Mewariskan Iman kepada Generasi Berikut

Yosua dalam pidatonya yang terkenal mengatakan, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15). Pilihan pertama (allah yang disembah Abraham di seberang sungai Efrat) adalah pilihan agama tradisi, pilihan yang kedua (ilah orang Amori) memuaskan seks, memberi kekayaan, kesuburan dan kenikmatan masa muda tetapi Yosua dan keluarganya akan menyembah Allah Israel. Waktu Yosua berpidato, kebanyakan pemimpin-pemimpin saat itu juga sudah tua. Yosua hanya membutuhkan satu lembar pidato pemisah lalu setelah itu matilah Yousa di usia 110 tahun. Lalu bangkitlah generasi yang jahat, yang tidak mengenal Tuhan, yang berpaling dari hadapan Tuhan. Setelah Yosua mati , orang Israel tidak peduli lagi kepada Tuhan. Sebelum Yosua mati iman mereka adalah iman warisan. Bila pemimpinnya lurus, iman Israel juga lurus. Kalau pemimpinnya bengkok maka iman mereka juga bengkok. Waktu Yosua mati, mereka sudah masuk ke tanah perjanjian yang subur. Masih ada perang tapi mereka telah masuk di tanah yang subur. Tetapi manusia tidak belajar dari sejarah. Socrates (469 SM - 399 SM, filsuf dari Athena Yunani) berkata,”Kesalahan manusia terbesar adalah manusia terus-menerus membuat kesalahan dan tidak menyadari kesalahannya.” Hegel (1770-1831) mengatakan,”Sejarah mencatat bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah”. Yang dibaca di catatan Alkitab 3.000-3.500 tahun lalu, kesalahan bangsa Israel yang tidak peduli generasi muda mereka akan menjadi seperti apa. Papa-mamanya mungkin masih memegang iman yang diwariskan dari Musa kepada Yosua. Mereka menyembah Allah Yehova juga. Tetapi setelah Yosua dan orang-orang tua mati, maka bangkitlah suatu generasi yang jahat dan tidak mengenal Tuhan. Generasi yang tinggal di tanah Kanaan adalah generasi yang jahat. Bukan karena kehidupan seks mereka tidak bermoral (karena mereka tetap melakukan tindakan agama seperti memberi persembahan, pergi ke Kemah Suci dll) tetapi karena hati mereka tidak mengarah kepada Tuhan.
Kita seringkali teledor untuk mewariskan iman ke generasi berikutnya. Papa-mama semangat melayani, bahkan terkadang tidak punya waktu untuk keluarga. Dari hari Senin sampai Minggu mengikuti berbagai kegiatan gerejawi seperti paduan suara, perkunjungan, PA dll  tetapi lupa melihat anaknya yang  tidak dilibatkan. Ada anak-anak yang  merasa gereja telah merampok waktu mereka bersama dengan orang tua. Saya adalah salah satu korban seperti itu. Kalau Tuhan tidak menangkap saya, maka saya benci sekali dengan gereja, karena merasa papa tidak pernah punya waktu dengan keluarga. Anak sakit harus berusaha sendiri (survive) sendiri. Papa sibuk terus di gereja. Saya hanya menjadi penonton dari luar.

Peperangan pada Usia Muda

Betapa pentingnya menyelamatkan satu generasi itu. Baik pada Perjanjian Lama  maupun Perjanjian Baru memberikan dimensi bahwa  peperangan paling besar terjadi pada usia orang-orang muda. Iblis paling tertarik menghancurkan anak-anak muda. Anak-anak usia di bawah 17 tahun menjadi generasi yang baru. Perang yang terjadi tidak seperti zaman Israel yang menaklukan musuh untuk mendapat tanah. Tetapi ada dimensi peperangan yang jauh lebih menakutkan dari sekedar perang fisik yang menggunakan senjata seperti tombak, pisau, pistol, nuklir dan sejenisnya karena musuhnya tidak terlihatan. Musuh yang paling sulit ditaklukan adalah musuh yang tidak dikenali. Kalau musuh dikenali maka akan mudah menjadi sasaran. Musuh yang tidak dikenali lebih menakutkan dan bahaya. Alkitab mengatakan ruang peperangan rohani yang paling besar adalah memperebutkan hati orang muda, menarik orang muda , membawa mereka agar tidak datang kepada Tuhan. Peperangan kita bukan melawan darah dan daging, pisau dengan pisau, atau tombak dengan tombak . Tetapi peperangan yang sangat serius yaitu melawan si jahat yang bertahta di udara dan ingin menguasai pola pikir manusia. Itu paling sulit. Rasul Paulus mengatakan,” ”Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata dari Allah agar kamu sanggup berdiri teguh melawan siasat-siasat licik Iblis (Efesus 6:11)”. Ada dimensi peperangan yang lebih serius, tapi sering dianggap sepele karena musuhnya tidak kelihatan. Alkitab mencatat bahwa iblis melihat hidup orang muda adalah  hidup yang layak diperebutkan. Hidup orang muda adalah hidup yang berharga. Untuk menjatuhkan gereja maka jatuhkanlah orang-orang mudanya. Jatuhkan orang-orang muda di gereja maka secara perlahan gereja akan hancur.
                Keluarga besar Israel (Yakob) datang ke Mesir sebanyak 70 orang. Orang Israel sangat terkenal karena janji berkat Tuhan yang diberikan ke Abraham bahwa rahim perempuan-perempuan  Israel akan menghasilkan keturunan yang diberkati oleh Tuhan. Kandungan mereka diberkati Tuhan. Waktu mereka masuk ke Mesir jumlahnya 70 orang, tetapi Keluaran pasal 1 ada kalimat repetisi yang membuat Firaun takut, “Lihatlah bangsa itu, mereka menjadi sangat banyak , dahsyat dan berlipat ganda. Bahkan negeri ini dipenuhi oleh orang-orang itu.” Firaun tidak takut dengan orang Israel yang tua. Ia takut karena melihat orang Israel yang waktu masuk sebanyak 70 orang, tetapi sekarang jumlahnya dahsyat (beranak-pinak) dan memenuhi Mesir. Iblis memakai raja-raja  dahsyat dan yang diserang adalah anak-anak. Anak-anak menakutkan iblis. Bagi yang berusia 40 tahun ke atas, tidak lama lagi waktunya karena banyak sakitnya, berkurang banyak kapasitasnya dan tidak level (layak). Tetapi anak muda, paling fresh. Kekuatan memori dan kemampuan berbicara paling baik terjadi di usia muda. Walau datang ‘hanya’ 70 orang, tetapi orang Israel terus hamil. Firaun ketakutan dan membuat kerja paksa. Dengan kerja paksa dan dikasih makan hanya 1 hari sekali, harapan Firaun mereka pulang tidur kecapaian. Tetapi perempuan Israel tetap hamil lagi. Sehingga anak-anak dibuang dan dibunuh . Tapi Tuhan mengirim 1 anak yaitu Musa untuk dididik di istana Firaun sendiri pakai uang Firaun dan suatu kali kelak akan memukul balik Firaun. Yang dibunuh Firaun beribu anak, tetapi Tuhan menitip hanya 1 bayi saja. Anak-anak sungguh menakutkan. Dalam the art of war (seni perang) setelah penaklukan, panglima dari pihak pemenang akan mencari di mana anak raja yang ditaklukannya. Ada anak raja yang disembunyikan di ruang bawah tanah atau gua. Tetapi perang tidak bisa dimenangkan sebelum dibunuh generasi selanjutnya. Agar perang betul-betul menang final, maka kalahkan yang kecil yang digendong inang pengasuhnya (dayang-dayang). Maka raja yang taklukan musuhnya akan mencari anak-anak raja yang dikalahkannya baik dari istri maupun selirnya. Sepertinya anak itu lemah  dan tidak tahu apa-apa tetapi itu musuh potensial yang menakutkan. Zaman Yesus juga begitu, Herodes takut ada anak kecil lahir  di tanah Yudea yang akan menjadi raja. Itu membuat dia grogi dan takut. Ia peduli bayi yang akan menjadi raja. Jadi jangan main dengan generasi berikut. Kamu bisa mengalahkan papa-mamanya tetapi belum tentu anak-anaknya.

Penghancuran Generasi Melalui Kenikmatan Dunia

                Orang tua sering teledor generasi di bawah kita. Peperangan kita sangat berat. Bukan lagi fisik, tetapi peperangan bergeser. Iblis belajar bila menghancurkan fisik anak-anak Tuhan yang cinta Tuhan tidak akan habis. Maka anak-anak Tuhan dibiarkan beranak-pinak, hidup mapan dan membesarkan anak mereka lalu dihancurkanlah hati mereka. Peperangan bergeser , bukan lagi fisik pedang dengan pedang , bom atom melawan bom atom. 20-30 tahun lalu, peperangan terjadi di dunia pikir, filosofi , semua diberikan untuk menaklukkan anak muda. Teori kalahkan teori.  Buktikan bagaimana Alkitab itu benar? Maka anak muda dipaparkan bahwa Alkitab banyak kesalahan. Maka generasi berikut akan gentar sekali. Peperangan berubah ke teori (taklukkan logika). Ateis menyerang kekristenan dengan mengatakan,”Saya buktikan Allah tidak ada. Saya buktikan Yesus bukan satu-satunya Allah. Saya buktikan Kristus tidak bangkit.” Peperangan di area pengetahuan. Pengetahuan menaklukkan pengetahuan. Maka sekarang makin menjadi . Sekarang bukan lagi di logika, tetapi di basic sexual pleasure, insting , peperangan bergeser ke hiburan (di area yang seru dan gembira). Sejarah mencatat bahwa bila taklukan orang dengan  logika melawan logika, otak melawan otak, mereka tidak bisa membuang Allah. Sekarang tidak masuk peperangan, mereka menonton TV, mendengar musik , melihat film, membaca majalah, itu semua medan peperangan untuk merampas mereka dari Tuhan. Peperangan ini berat.
Suatu kali saya ditelpon dari Sekolah Dian Harapan dan Pelita Harapan. Saya ditanya apakah ada hamba Tuhan lain yang bisa mengisi jadwal khotbah di sana di kebaktian awal pengajaran baru. Lalu saya pun menyebut beberapa nama. Kemudian saya ditanya,”Bu, apakah mereka bisa bicara dengan anak-anak sehingga anak-anak bisa bertahan 30 menit mendengarkan khotbah?” Rupanya mereka kebingungan untuk mencari pembicara yang bisa menghibur anak-anak. Bagaimana anak-anak SMP dan SMA bisa bertahan mendengar khotbah selama 30 menit tidak bergerak ke kanan kiri karena mereka sudah sangat dipuaskan dengan segala hiburan. Mereka merasa bosan mendengar hamba Tuhan berkhotbah. Waktu mendengar seminar 45 menit, mereka tidak bisa tahan, mereka gelisah terutama yang remaja. Untuk anak-anak kecil masih bisa dimarahi ,”Kalau tidak mau duduk, silahkan keluar!” Tetapi bagi anak-anak remaja, mereka akan memilih keluar. Mereka tidak  mau mendengar firman. Jadi mereka minta dicarikan hamba Tuhan yang bisa bicara ke anak-anak.
Kita masuk ke generasi yang mati rasa dengan kesukaan akan hal-hal  rohani sangat rendah sekali. Mereka melihat semua iklan dan tokoh idola mereka seperti artis K-Pop dan band-band mereka. Para artis dan anggota band tersebut tidak ada yang berkata,”Pakai baju seperti saya!” ,”Kasih tangan seperti saya” atau “Keluarkan lidah seperti saya” namun herannya anak-anak hanya mendengar mereka beryanyi lalu mereka mengikuti gerakan artis idola mereka. Ada ‘nabi’ dunia yang merampas anak-anak kita. Peperangan ini menjadi tidak adil. Saat orang dewasa mengajar anaknya, modelnya membosankan. Ada hamba Tuhan, pembina remaja, pendeta yang bicara dengan mereka dengan cara one way (monolog) dan  tidak pakai power point, tidak ada seru-serunya saat mereka diminta duduk mendengarkannya. Lalu mereka menjadi berat dan tidak seimbang. Kita ajari mereka takut akan Tuhan tapi dengan cara monolog. Padahal dunia berusaha merampas hati mereka. Sewaktu mereka berada di kamar sendiri  yang ber-AC, minum coke sambil berselancar di dunia maya maka ‘sampah’ pun masuk ke pikiran mereka.
Ada seorang anak perempaun kelas 5 SD yang kecanduan menonton video porno. Ia mendekati siswa laki-laki yang kelas 6 SD. Ia tidak bisa mengendalikan diri dan melakukan hal-hal yang memalukan. Rupanya ia menonton film porno pertama kali dari kamar papa-mamanya yang lupa menyimpannya. Dulu kita takut anak-anak akan  dirusak di luar rumah. Sehingga kita melarang anak untuk berkumpul dengan kelompok tertentu tetapi sekarang anak-anak dirusak di rumah dan di kamar sendiri. Semua ide ‘sampah’ masuk otak anak lewat lagu, musik, kartun,  film, fashion (cara berpakaian) dan semua itu mereka terima. Tidak ada yang menyuruh mereka untuk pakai baju apa dan mereka hanya melihat saja sambil tertawa-tawa. Anak menyanyikan lagu dunia tanpa mengetahui inti dan artinya. Saya berkomentar ke adik saya,”Anakmu kok bisa nyanyi seperti itu?” Padahal iman timbul dari pendengaran. Kalau yang didengar firman Tuhan, maka imanmu akan bertumbuh sesuai firman Tuhan, tetapi bila mereka mendengar sampah maka imanmu menjadi sampah. Zaman dulu perselingkuhan merupakan hal yang nista (hina-dina) sekarang jadi trend, tetapi sekarang ada lagu yang berlirik,”Jadikan aku yang kedua.” Apakah lagu yang dinyanyikan tersebut bisa dimengerti artinya oleh mereka? Dunia menghibur dan menarik hati mereka. Ada video musik di MTV di mana perempuan penyanyinya berpakaian hampir telanjang. Bajunya minim sekali tetapi keponakan saya mengatakan ,”Keren” padahal komentar seperti itu bagi kita  bisa sport jantung. Mereka melihat hal itu dari video musik sambil tertawa-tertawa dengan temannya. Lalu saat di-counter oleh hamba Tuhan di seminar, mereka berkata, “Teori itu bagus di hari minggu.” Senin-Sabtu mereka hidup dengan kesenangan mereka sendiri. Dunia menanamkan ideologi mereka dengan menggunakan kenikmatan. Dan gereja pun dengan susah berusaha mengambil hati mereka lewat edukasi (pengajaran). Namun kita jangan gentar. Alkitab mengatakan,”Ajarkan itu berulang-ulang.” tetapi dengan bijaksana. Mengulang tanpa bijaksana bisa membuat mereka membenci gereja.

Ketidakpeduliaan Hal Rohani dan Kenyamanan Hidup yang Menghancurkan Generasi Muda

Untuk menjual produk minuman dunia menggunakan pola Alkitab yaitu dengan cara memasang iklan berulang-ulang walau harga tayang iklan tersebut selama 5 detik bisa bertarif puluhan juta rupiah di TV. Prinsipnya dilakukan berulang-ulang. Diulang terus sehingga dengan mendengar musiknya saja kita tahu itu iklan produk apa. Prinsipnya siapa yang mengajarkan pertama kali  akan diingat. Hal ini terus berlaku sehingga menjadi kepercayaan. Mari kita belajar, sejarah mencatat bagaimana anak-anak muda dirampas oleh  dunia ini. Bagaimana peperangan itu dibukakan di hadapan kita. Masalahnya ada 2 yaitu dalam diri orang tua dan gereja. Mengapa setelah Yosua mati, lalu bangkit generasi di bawahnya yang tidak mengenal Tuhan?” Gereja teledor dan  tidak peduli dengan hal-hal rohani. Ini tidak fokus dalam pendidikan anak yaitu ketidakpedulian hal rohani. Tetapi saya perhatikan hal ini terjadi walau tidak semuanya salah. Ada kegiatan yang dicatat di majalah dinding gereja seperti lomba basket, lomba fashion show. Saya kaget di gereja ada brosur fashion show untuk memperingati 17 Agustus. Lalu diadakan latihan band. Hal ini tidak salah, tetapi dampaknya anak dibuat sibuk saja tetapi tidak ada relasi kedekatan dengan Tuhan (kerohanian mereka). Pembimbingnya berkata, “Penginjil tahu generasi anak-anak tidak suka datang ke PA atau KTB kecuali dengan nonton bersama sebulan sekali. Mobil gereja menjemput mereka. Apa ini solusi untuk memenangkan anak kita?” Supaya dapat fans pengikut yang banyak (kuantitas), tetapi kita kehilangan kualitas iman mereka (kehilangan iman yang sungguh-sungguh di hadapan Allah) .
Kemungkinan besar, bangsa Israel sudah nyaman masuk tanah perjanjian. Orang tua tidak lagi mengajar dan membimbing untuk mengenal Tuhan. Mereka tidak perang lagi melainkan mereka membangun rumah, beternak, bercocok tanam, semakin kaya dan tidak peduli hal rohani. Kedua, kenyamanan hidup. Saya dibesarkan di Madura. Orang-orang di tempat saya tinggal kebanyakan muslim (95%) dan militan. Saya belajar agama islam di sekolah supaya dapat nilai rapot. Keinginan mereka untuk mendidik anak berkenan di hadapan Tuhan tinggi sekali. Ada seorang bapak yang punya istri lebih dari satu. Suatu kali sang bapak ini berlari-lari dan ketika ditanya,”mengapa?” Dia menjawab,”Saya mau pulang, istri saya mau melahirkan.” Dia tidak tahu anak yang akan dilahirkan anak yang ke berapa dan urutan istri yang mana juga tidak tahu karena mereka banyak. Tetapi ia berkata, “Saya mau  menjadi papa yang mengendong anaknya, untuk memberikan 2 kalimat syahadat.” Kalau anak lahir pertama kali, ia harus memahami asma Allah. Saat menghirup nafas mendengar kalimat syahadat beda (ini beda dengan orang Kristen, saat anaknya lahir yang didengarkan adalah musik klasik).

Didiklah Anak-Anak di Usia Muda untuk Takut akan Tuhan!

                Anak orang Islam harus pakai jilbab agar mereka tahu dibesarkan dari keluarga Muslim. Di belakang rumah saya dulu ada langgar (mesjid kecil). Anak-anak nya dididik menyanyikan lagu “Happy ya ya ya . happy he ye.ye.. aku ini seorang muslimah, aku rajin berdoa dan suka sadakoh, aku ini anak soleha”. Saya kaget. Papa saya berkata,”Kamu terlalu enak tinggal di lingkungan Kristen sehingga kamu lupa keinginannya” Mereka belajar tapi tidak sebentar. Saat radikalisme bangkit kita tertidur. Mereka belajar dengan mendidik orang pasang bom dan mereka merasa dengan berbuat demikian dianggap “menikah dengan Allah”. “Itu 20 tahun lalu kamu tidak baca koran?” papa saya mengingatkan. Waktu 1.000 orang dikirim untuk jadi guru agar bisa mendidik jadi orang militan. Untuk menjadi besar, mereka dididik secara ekstrim. Jangan didik waktu mereka sudah besar (harus usia paling kecil). Amerika  pernah menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, lalu Jepang bangkit kerja keras mati-matian. 50 tahun kemudian Amerika  hancur dari dalam sendiri. Anak-anaknya rusak dan tidak tahu bekerja. Mereka mendatangkan tenaga kerja dari Asia. Sedangkan mereka sendiri hanya ingin menjadi artis, berjudi dan mereka tidak mau kerja. Generasi mudanya rontok. Jepang bangkit dan mendidik orang dari muda. Amerika  menghancurkan fisik orang Jepang, namun anak Jepang dididik untuk menjadi orang paling pintar. Etos kerja orang Amerika  merosot, kenyamanan dan kemapanan membuat rontok. Generasi yang dididik sekarang tidak tahan uji , instan, tidak mau berjuang.
Di sekolah Calvin, anak kelas 5 SD diajar untuk menyapu dan ini dilakukan seadanya. Ada yang baru lari sedikit terjatuh, lalu pura-pura sakit. Anak sekarang merupakan hasil produk instan yang kurang berhikmat. Jadi orang tua maunya anak tidak boleh susah karena  anak sekarang dididik untuk bisa melanjutkan bisnis keluarganya. Mereka pintar tapi kurang berhikmat dan tidak takut akan Tuhan. Mereka tidak mau bekerja keras. Jika merasa susah sedikit mereka pun bunuh diri. Suatu kali saya mengunjungi jemaat. Di rumahnya ada musik klasik dan  tulisan “Hush... my baby is asleep.” Lampu dibuat remang untuk tidak menganggu bayinya. Sewaktu bicara sedikit keras, saya diingatkan bahwa saya bukan sedang berkhotbah jadi bicaranya agar pelan-pelan saja. Sehingga saya pun bicaranya berbisik-bisik. Kalau anak mau keluar makan, ada mangkok berisi air panas, semuanya tersedia dan sang anak sangat dilindungi. Saya berkata ke ibunya, ‘Saya kasih tahu ya, itu anakmu kalau sudah besar, saat mendengar suara anjing kentut pun bisa sakit jantungan.” Dia berkata,”Jangan begitu dong!” Masa anak jatuh langsung panik dan suster yang menjaganya langsung dimarahi? Binatang dapat mendidik anak dengan lebih bijaksana. Seekor induk burung rajawali akan mendorong anaknya untuk keluar hingga terjatuh dari sarangnya. Namun sebelum terbentur tanah, induknya terbang mengejar dan mengangkatnya kembali. Burung rajawali ternyata lebih berhikmat. Tuhan telah memberi insting kepada binatang, karena kalau tidak begitu maka anaknya rusak.   Sedangkan bila seorang ibu sudah menyiapkan semua untuk anaknya maka anaknya akan susah mandiri dan kita akan kehilangan generasi kita. Anak kita punya kebutuhan rohani mereka. Doakan satu persatu dan sebutkan nama mereka. Ceritakan firman Tuhan kepada mereka. Bila anak salah, maka berani untuk memberikan hukuman. Jangan hanya memberikan kenikmatan. Anak Pdt. Stephen Tong, saat belajar di Amerika juga bekerja cuci piring. Sedangkan anak di tempat kita kalau boleh tidak ngapa-ngapain. Padahal orang muda mempunyai 3 tantangan yaitu kedagingan, keinganan mata dan keangkuhan hidup. Itu PR orang-orang muda. Kiranya Tuhan memberkati gereja ini dan sebagai orang tua. Socrates berkata,”Apa gunanya kamu memperoleh setiap jengkal tanah kalau kamu kehilangan generasi muda?” Dengan kata lain ia berkata, “Bodoh kalau kamu mendapat setiap jengkal tanah tapi kehilangan generasi muda. Kiranya anak muda dididik untuk takut akan Tuhan.


Monday, July 31, 2017

FirmanMu Seperti Api (Memurnikan juga Menghanguskan)


Pdt. Ronny Sumantri

Yoh 17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.
Maz 119:9-11 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.
Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pendahuluan
               
Beberapa hari lalu saya mendapat email dari Israel Study Centre yang mengatakan bahwa kalau mau ikut kursus tentang Kitab Suci mereka bersedia mengajar (bisa melalui surat atau orangnya datang). Salah bagian kalimat yang penting dikatakan dalam email tersebut,”Kita bukan perlu menulis ulang (rewrite) Alkitab, tetapi kita perlu membaca ulang (reread) Alkitab. Kita tahu bahwa Alkitab adalah Firman Allah, Tuhan sedang berbicara melalui Firman Allah , sehingga bukan perlu ditulis ulang tetapi dibaca ulang. Apakah kita membaca Kitab Suci setiap hari? Ada yang membacanya dari Senin-Sabtu sedangkan hari Minggu libur karena ke Gereja. Yang penting adalah membaca dan mendengar Kitab Suci untuk pribadi. Ada jemaat yang setelah pulang dari ibadah di gereja lalu menelepon temannya dan berkata,”Kamu tidak datang sih, firmannya cocok untukmu!’. Kalau demikian, perlu bertobat. Firman Tuhan bukan untuk orang lain tetapi untuk kita sendiri. Saya tidak akan mengkhotbahkan hal yang tidak saya terima, atau saya tidak akan khotbahkan sesuatu yang belum saya alami.  Karena kalau begitu, maka lebih baik saya putarkan kaset khotbah Pdt. Gilbert Lumoindong atau Pdt. Dr. Stephen Tong saja. Tetapi Firman Tuhan untuk diri sendiri bukan untuk orang lain (istri atau anak), bukan untuk menambah perbendaharaan firman agar dapat mengkritik. Jadi mari kita mendengar dengan sungguh-sungguh dengan mata, telinga, perasaan dan keberadaan saya.

3 poin penting yang dapat kita pelajari tentang Firman Tuhan yang memurnikan juga menghanguskan :

1.    Firman Tuhan adalah kebenaran (aletheia)

Yoh 17:17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran (Sanctify them through thy truth: thy word is truth). Ayat ini adalah bagian kecil dari doa Yesus. Doa Yesus yang paling panjang di Alkitab ditulis di kitab Yohanes pasal 17. Dimulai dari kemuliaan bagi Bapa dan yang terakhir “Ya Tuhan yang adil”. Di tengah-tengahnya dikatakan, “Kuduslah mereka dengan kebenaran (αληθεια).” Thy word is truth (firmanMu adalah kebenaranMu satu-satunya). Ini penting. Karena kebenaran hari ini menjadi relatif. Di zaman post-modern, prulasime di mana ada toleransi yang sangat besar dikatakan, “jangan bilang kita benar sendiri. Semua adalah kebenaran.” Siapa bilang? Sering orang Kristen posting “salam super” atau “super sekali” yang dikutip dari motivator Mario Teguh. Ada juga yang isinya motivasi atau video pendek dari guru Mandarin dan dikomentari “super sekali”. Saya berdukacita karena kalimat dari Mario Teguh itu. Karena hal itu berarti kita lebih dipengaruhi sesuatu yang lain. Kita memang harus bertoleransi , mendengar dan mengerti orang lain. Tetapi kebenaran hanya satu yaitu di dalam Yesus Kristus. Kalau tidak mau berlandaskan (berdiri, punya standpoint) bahwa Firman Allah satu-satunya kebenaran, maka kita tidak bisa ngobrol. Kita punya pondasi yang sama (berdiri di atas Kitab Suci), mari kita bicara. Tetapi kalau beda, saya tidak mau ngobrol.  Berbicara kepada diri kita bukan dasarnya Kitab Suci, terserah bicara tentang Pak Jokowi, Prabowo, A Hok, Fahri Hamzah dll  tidak penting. Yang penting kita berdiri di atas kebenaran. Sekarang Indonesia terpuruk karena banyak orang benar diam saja. Kalau urusan gereja biarlah para teolog (pendeta, doktor teologi) berantem tetapi kita ikut Kristus (Kitab Suci). Hari ini di gereja (di mimbar gereja), sangat terpengaruh oleh kebenaran yang bukan kebenaran. Contoh : tidak mudah ikut Tuhan Yesus dan Alkitab. Kalau tidak mudah yang bisa ikut Tuhan siapa? Doktor atau orang yang telah membaca Alkitab 50 kali? Lalu siapa yang bisa? Tidak ada yang bisa! Rasul Paulus berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7:19). Kalimat “tidak mudah ikut Tuhan Yesus” tidak ada di Alkitab hingga buang jauh-jauh. Justru itu tidak mungkin. Keluargamu rusak tidak mungkin dipulihkan kecuali oleh Roh Kudus.
Ada orang yang parah sekali, 3-4 kali konseling tidak muncul. Dia sudah hutang di dalam dan luar negeri (Singapore dan Melbourne). Utangnya sudah ratusan juta. Bapaknya bilang, “Mau di penjara atau dimatiin tidak pusing, yang penting  bertobat. Atau jangan jadi anak saya!” Lalu anak ini konseling dengan seorang pendeta yang juga pakar psikologi yang berkata,”Anak ini tidak mungkin dikembalikan normal, tetapi kalau anak ini berbalik dan bertobat maka Roh Kudus sanggup!” Kalau konseling dengan pakar kejiwaan, doktor psikologi, maka ilmu psikologi mentok kecuali Roh Kudus. Lalu Bapak ini telpon ke pendeta yang juga dokter psikologi di Hong Kong, “Kalau tidak bisa maka ilmunya masih rendah”. Pendeta dan dokter ini berkata, “Ilmunya kecil kalau tidak bisa tangani.” Bapak ini menjadi bingung lalu menelepon dan meminta pendapat saya. Saya pun berkata,”Saya bukan doktor namun pengikut Yesus. Kalau Ia tidak hidup saya berhenti jadi pendeta. Kalau dia bukan satu-satunya Juruselamat maka saya berhenti jadi orang Kristen (percaya). Saya berkata yang di Hong Kong yang salah karena betul hanya Roh Kudus yang bisa menolong.” Roh Kudus menuntun orang dalam seluruh kebenaran. Maka Yesus berkata, “Bapak kuduskan mereka dengan motivasi dan cara pikir yang dunia buka, tetapi sucikan mereka dalam kebenaran karena firmanMu adalah kebenaran.” FirmanMu itu dari Kejadian sampai Maleakhi (39 buku Perjanjian Lama). Belum ditulis perjanjian Baru, waktu itu Perjanjian Baru baru Injil. Kalau Tuhan Yesus menunjuk pada Perjanjian Lama. Sekali pun pakai dari Kejadian-Malaekhi, firman Tuhan sanggup menyucikan. Kita tidak bisa mengatakan hanya Perjanjian Baru tetapi juga Perjanjian Lama. Perjanjian Baru referensi nya Perjanjian Lama. Itu adalah firman Allah bukan isinya firman Allah. Hari ini, Alkitab firman itu sedang menyucikan kita. Ia tajam seperti pedang bermata dua. Ia memisahkan pikiran dan perasaan kita. Ia sanggup memberitahu mana yang benar dan benar sekali. Bukan hanya yang salah. Kita disucikan, dikuduskan, dimurnikan karena bisa membedakan antara benar kata dunia dan betul-betul benar. Antara benar relatif dan benar mutlak. Orang Kristen adalah orang yang paling punya kebenaran. Ada yang berkata, “Kitab sucimu tidak benar, ajaran kami yang benar.” Tidak perlu berkata itu. Firman Tuhan adalah kebenaran dan itu memurnikan dan menyucikan saya dan bukan yang lain.
Tahun 1989 , 3 kali saya tidak lulus ujian arsitektur di UniversitasTrisakti. Jadi belum S1. Saya arsitek tapi bukan sarjana. Setelah itu saya bengong (hang). Saya sudah baca Alkitab berkali-kali , saya melayani Tuhan di kampus, gereja dan di manapun. Saya senang ikut Yesus. Tetapi ketika gagal 3 kali, saya hang. Saya bukan tidak pernah baca Alkitab. Saya hari minggu di gereja pulang pk 15.30 dari kebaktian pagi pk 7 di GSRI. Tetapi  setelah itu setelah kebaktian pk 7 saya pulang. Teman saya menelpon, “Ron kalau kamu seperti begini terus kamu jadi batu sandungan.” Dalam hati saya berkata,” 1984-1989 saya tidak pernah absen pelayanan, saya baca Alkitab setiap hari 3 sampai 6 pasal. Saya melayani Tuhan di jalan, kampus dan gereja. Bagaimana saya jadi batu sandungan?” Saya tidak menjawab. Saya pulang dan diam saja di rumah. Saya berkata, “Benar saya jadi batu sandungan.” Saya bersyukur kepada Tuhan diberi kesempatan oleh Tuhan. Kita diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sendiri. Orang hang tidak bisa memperbaiki diri. Saya duduk tenang, doa , buka Alkitab dan baca. Di saat tidak benar kita harus benar. Saya baca di Maz 73:15 Seandainya aku berkata: "Aku mau berkata-kata seperti itu," maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. Saya membuat skripsi dan ujian 3 kali dengan jujur dan gagal 3 kali. Saya merasa pahit dengan Tuhan. Seperti yang ditulis pada Mazmur 73:13-14 Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi., orang benar seperti mengalami kesusahan. Di samping meja di studio, saya melihat teman yang dengan jelas menyontek tetapi mendapat nilai B. Tetapi saya yang belajar dengan jujur mendapat nilai D alias tidak lulus (untuk lulus minimal nilainya C), padahal saya rajin membaca Alkitab. Sepertinya lebih baik jadi orang fasik karena bisa  nyontek dan lulus. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa bila saya melakukan hal itu maka, “Aku akan menjadi sandungan bagi generasi (angkatan) di bawahku”. Sejak itu saya bertobat dan tidak hang lagi. Orang hang diperbaiki dengan cara Sanctify them through thy truth.  FirmanMu adalah kebenaran dan bukan yang lain. Saya menasehatkan bagi yang masih muda dan mumpung belum hang (mengalami benturan yang sangat keras) mari tiap hari disucikan oleh Kitab Suci. Kalau ada yang bertanya, “Ronny, kamu yang sudah berusia 50 tahun apa yang akan kamu nasehati ke anak muda sampai umur 39 tahun?” Saya akan menjawab,”Baca Alkitab banyak-banyak!” Saya dulu tidak memakai kacamata, namun kalau sekarang tidak memakai kacamata, maka penglihatan menjadi buram dan susah melihat huruf. Kalau saya buka kacamata maka semua tulisan menjadi buram. Maka nasehat saya ke orang muda,”Bacalah Alkitab banyak-banyak!” Bagi yang sudah tua bagaimana? Download audio-bible di playstore dan bisa dibaca offline. Setelah itu setiap hari buka. Semakin tua kita semakin sulit membaca. Jadi bagi yang bisa membaca dan mendengar , baca dan dengarlah Firman Tuhan sebanyak-banyaknya sekarang juga. Firman Tuhan seperti api. Dia memurnikan kita. Kalau sekarang ada masalah atau perdebatan terkait dengan tema rohani tertentu, maka kita tinggal mencari dan berselancar di dunia maya. Sedangkan kalau dulu, saya biasanya membawa dan membuka Alkitab dan konkordansi (untuk mencari ayat). Misal : untuk mencari kata “kasih”. Sekarang enak tinggal cari pakai HP lalu ketik kata kuncinya (kasih) dan klik saja. Dengan demikian saat sedang berdebat , hati kita bisa berkata ini tidak benar. Dulu tidak ada HP, sekarang bisa buka dan mudah mencarinya. Kitab suci bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri.

2.     Firman Tuhan disimpan di hati (bukan sekedar di kepala /  pikiran)

Maz 119:9-11 Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Bicara dengan hati. Firman Allah ditaruhnya bukan di kepala kita. Guru-guru Sekolah Minggu meminta anak-anak Sekolah Minggu untuk menghafalkan ayat. Cara belajar paling mudah dengan cara menghafal. Kalau susah hafal, akan sulit. Kalau hafal, akan menolong kita. Untuk mengemudikan modil matic tinggal membaca dan mengikuti buku manual. Setelah hafal cara mengemudinya maka dengan mudah bisa bawa. Walau bisa juga langsung praktek, hanya ada bagian tertentu yang tidak tahu caranya. Saya pernah dipinjamkan mobil Innova matic, lalu ketika sampai di rumah, mobilnya diparkir , namun kuncinya tidak bisa ditarik keluar. Maka saya pun menelpon pemiliknya yang menjelaskan bahwa agar kuncinya bisa ditarik keluar harus dalam kondisi gigi di “P” (parkir). Setelah dituruti petunjuknya, barulah saya bisa menarik keluar kuncinya. Lalu bagaimana bila saat diparkir tidak bisa didorong? Ternyata tinggal pencet tombol tertentu, mobil bisa didorong. Sekarang bila ingin mengemudi mobil matic caranya sederhana yakni tinggal tanya Google. Kalau kita tahu teorinya maka akan lebih mudah mempelajari. Saya bisa cerita tentang mengemudi mobil matic setelah mengalaminya  tetapi kalau tahu teorinya tidak perlu sedikit-sedikit bertanya. Sekarang kita bisa mencari sendiri sehingga tahu mana yang tidak sesuai dengan Kitab Suci (bukan dari pendeta).
Ada orang tua berkata saya bukan orang muda sehingga tidak perlu simpan firman di hati. Walau tahun ini sudah berusia 54 tahun, namun saya tahu gejolak dalam diri orang baik saat masih usia 20 ,30  dan 40-an tahun. Kalau sudah berusia 50 tahun, ada teman yang berkata ,”Pk 21 saya sudah ngantuk.” Ada juga yang pk 22 paling lama sudah harus pulang ke rumah karena tidak kuat pulang malam-malam masuk angin. Sehingga ada teman yang berkata,”Kamu sekarang alim ya.” Saya bilang sudah tua tidak kuat macam-macam, masuk angin. Yang sudah tua, sekarang tidak bisa buat dosa macam-macam karena sudah pelan. Dengan apa orang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Apakah orang tua tidak usah? Karena kerjanya makan-minum saja (pensiunan). Orang muda masih mau macam-macam sehingga perlu menjaganya sesuai dengan firmanMu. Dikatakan , “Dalam hati aku menyimpan janji Tuhan supaya aku jangan berdosa (bukan kepada bos, istri, pacar dll) tetapi kepada Tuhan.” Orang Kristen senang saat ibadah selesai dan pendetanya berkata,”Pulanglah  dan Tuhan menyertai kita.” (siapa lawan kita kalau Tuhan bersama kita?). Tetapi jangan lupa akan 2 sisi mata uang dari Firman Tuhan yaitu Firman Tuhan menjaga dan menopang kita tetapi di sisi lain mengawasi dan menghanguskan. Jadi kalau sadar bahwa berdosa itu kepada Tuhan bukan kepada yang lain maka bicara tentang selingkuh tidak berani bicaranya bahwa istri tidak di rumah. Bicara korupsi bukan bicara KPK tetapi Tuhan. Jadi firman Tuhan disimpan di hati bukan di kepala. Kalau firman disimpan di hati maka hidup kita bisa sesuai dengan Firman Tuhan. Yang taruh di kepala harus diubah ibarat menyetir mobil dari manual ke matic (harus pakai pikiran bukan hati kalau pakai hati bisa menyenggol). Jadi hidup sehari-hari bukan soal kepala tetapi soal hati.
Seorang nenek (menjelang umur 70 tahun) terkena stroke yang ketiga kalinya sehingga meninggal. Supirnya bercerita, “Di Kelapa Gading ada lontong cap-go-me Rusmini. Hampir setiap hari nenek ini minta dibelikan lontong tersebut. Padahal kalau menderita stroke , maka tidak boleh makan santen banyak-banyak seperti juga orang diabetes, tidak boleh makan makanan manis. Penderita darah tinggi tidak boleh makan yang asin-asin.  Penderita diabet awalnya senang makanan manis dan penderita stroke senang makanan bersantan. Dokter tahu hal ini dan ini bukan soal kepala tetapi hati. Yang selingkuh, korupsi dan pemakai narkoba sudah  tahu bahwa hal itu dosa. Tidak perlu baca Kitab Suci karena dari lahir orang sudah tahu hal itu salah. Zaman ini aneh, KPK malah menangkap menteri, ketua dan anggota DPR, gubernur, bupati dll dan sampai hari ini masih ada pejabat yang tertangkap tangan melakukan korupsi. Para koruptor tahu itu bahaya tetapi tetap dilakukan (karena mau kaya). Sekarang Tuhan sedang bekerja. Banyak pejabat yang naik jabatan ditangkap KPK. Jangan terpengaruh oleh dunia, tapi terpengaruhlah oleh Kitab Suci. Bila para politisi senior masih mengganggu pemerintah biarkan saja. Semua orang tahu, tidak usah pusing. Kepala kita bilang, “Ini benar, itu salah.” A  Hok kalah karena orang pilih tidak pakai kepala tetapi hati.  Kampanye “pilih dengan hati” dimana dikatakan bahwa kalau kamu mau masuk neraka maka pilihlah A Hok. Dan terbukti ‘pembodohan’-nya berhasil. Demikian pula orang Kristen sering ditipu dengan logika. Kaum Injili sering ditipu dengan kepalanya, padahal firman Tuhan bukan di kepala tetapi di hati. Mari simpan firman Tuhan di hati. Caranya : Bila ada yang tidak mengerti, maka bablas baca saja. Bila ada pengalaman yang tidak kita mengerti, terima saja. Suatu hari Ia akan bicara.

3.     Firman Allah mengubah cara berpikir kita.

Roma 12:1-2 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:1-2. Itu adalah ibadah yang sejati dalam terjemahan lain dikatakan, pelayanan yang masuk akal. Mari layani Tuhan dengan segala keberadaan kita. Ada yang berkata,”Maaf saya tidak datang, tetapi saya akan doakan ya.” Ini mengerikan ada hati cekat-cekot datang. Firman Tuhan berkata, “Persembahkanlah tubuhmu!” kalau sudah menjadi anggota panitia maka ia harus hadir secara fisik. Kalau tidak bisa hadir maka jangan menjadi anggota panitia. Di banyak gereja, banyak orang mau menjadi anggota majelis tetapi tidak mau datang saat ada persekutuan doa. Alasannya,”Saya tidak bisa datang karena saya masih bekerja.” Kalau begitu cara mengatasinya mudah. Berhenti saja menjadi majelis! Karena masih banyak pelayanan lain. Kalau kamu tidak menyediakan hati, bagaimana bisa jadi teladan? Ini terjadi di mana-mana. Maka datanglah ke Persekutuan Doa. Mari tekadkan, “Saya datang!” sebagai wujud mempersembahkan tubuhmu. Di ayat 2 Rasul Paulus berkata, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini Falsafah dunia membuat kamu menjadi serupa dengan dunia. Tetapi berubahlah mind set mu supaya bisa membedakan kehendak Allah. Orang Kristen tidak mengetahui kehendak Tuhan karena tidak diperbarui pikirannya. Memperbarui pikiran kita dengan pikirannya Tuhan. Semboyan toko buku Metanoia : Mewarnai Dunia dengan Pikiran Baru. Ada yang berkata,”Firman Tuhan itu di atas akal”. Bukannya Kitab Suci tidak masuk akal, tetapi akal mu bisa masuk kepada Kitab Suci dan betul dan logik karena pikiranmu cocok dengan kitab suci. Contoh : Abraham ditulis di zaman awal padahal kitab Kejadian saja belum ada. Waktu itu ia mau mempersembahkan Ishak di bukit Muria. Ia sungguh-sungguh ingin menyembelih Ishak. Abraham percaya, Tuhan sanggup membangunkan orang mati. Kalau Tuhan berjanji bahwa Ishak adalah anak perjanjian, maka tidak ada anak lain selain Ishak sekalipun dibunuh Tuhan sanggup membangunkan orang mati. Abraham berpikir (Yunani). Orang mati bangkit tidak masuk akal. Tetapi pikiran Allah sanggup membangunkan orang mati. Itu pikiran Alkitab. Maka pikiran kita yang diperbarui Kitab Suci bisa menerobos sesuatu yang tidak masuk akal karena janji Tuhan (bukan karena kemampuan kita).

Penutup

Kita belajar 3 poin :
1.     Kitab suci satu-satunya alat menyucikan kita.
2.     Kitab suci perlu disimpan di hati bukan di kepala.
3.     Kalaupun harus berlogika, maka pikiran yang terus diperbarui, dimulai dari ditebus oleh Tuhan Yesus. Tetapi Tuhan tidak mau kita jadi robot. Dia mau umatnya mempersembahan tubuh yang kudus, baik dan berkenan. Kalau mau persembahkan tubuhmu maka teruslah diubahkan. Diubahkan terus menerus oleh pembaharuan pikiranmu, sehingga pikiranmu tahu kehendak Tuhan. Di hadapan Tuhan yang Abraham percaya, Tuhan mem bangunkan orang mati (dari tidak ada menjadi ada). Tuhan juga sanggup membangunkan orang mati. Itu firman Tuhan yang ada di Kitab Suci kita.

Alkitab berkata, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh 1:14)” dan kita melihat kemuliaanNya , penuh kasih karunia dan kebenaran. Mari hidup dalam kasih dan kebenaran di dalam Tuhan Yesus. Firman Tuhan bukan kitab Tauarat tetapi Bukan tidak boleh ini-itu tetapi penuh kasih karunia dan kebenaran karena hidup di Perjanjian Baru. Mari hari ini hidup dalam kasih karunia dan kebenaran. Semakin membaca Kitab Suci dan menerima Firman Tuhan, benar kebenaran itu mutlak tetapi kasih karunia perlu dinyatakan. “Jadi nyatakan kebenaran di dalam kasih “, kata Rasul Paulus. Isinya kebenaran, bungkusnya kasih. Jangan di luarnya kebenaran dan di dalamnya kasih. Harusnya kebenaran dibungkus kasih.


Bagian mana yang paling tengah dari Alkitab? Mazmur 118 adalah pasal paling tengah dari seluruh Alkitab. Mazmur 117 (sebelum Mazmur 118) adalah pasal terpendek dalam Alkitab sedangkan Mazmur 119 (sesudah Mazmur 118) adalah pasal terpanjang dalam Alkitab. Alkitab terdiri atas 594 pasal sebelum Mazmur 118 dan 594 Pasal sesudah Mazmur 118. Jumlahkan seluruh pasal kecuali Mazmur 118, hasilnya adalah 1188 pasal. Dalam Alkitab bahasa Inggris, 1188 atau Mazmur 118 ayat 8 adalah ayat paling tengah dalam seluruh Alkitab. Bunyinya "Lebih baik berlindung pada TUHAN daripada berharap dan percaya kepada manusia". Kitab suci kita yang paling tengah berkata begitu. Luar biasa!