Friday, May 17, 2019

Kristologi “Masih Relevankah Kristus di Zaman Sekarang”

Tiranus 18 (12 Mei 2019)
Kristologi “Masih Relevankah Kristus di Zaman Sekarang”
Pdt. Imanuel Adam

2 Tim 3:1-6
1   Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.
2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,
3  tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik,
4  suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
5  Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!
6  Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,

Rasul Paulus sudah mengingatkan kepada Timotius yang muda, pada hari-hari terakhir mereka akan menghadapi masalah yang sulit. Situasi yang egois, tidak ada kasih dstnya. Ketika berbicara tetang masih relevankah Kristus di zaman ini? ini masalah teologi. Begitu banyak aliran teologi yang ada tergantung perkembangan yang ada.

Masa kini tidak lepas pengaruhnya dari masa lampau

Ada dampaknya dari masa lampau (ada kaitannya), tidak langsung masa kini terjadi begitu saja (ada prosesnya). Kehidupan masyarakat sekarang ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan industri. Sekarang semua pegang hanphone. Begitu tidak ada listrik, maka Jakarta akan macet. Bila tidak pegang handphone sejam saja sudah gatal. Segala hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari semuanya tidak lepas dari teknologi.
Kemarin ini istri saya dibelikan sebuah kompor listrik oleh menantu saya. Selama ini kami menggunakan kompor gas. “Mami daripada nanti susah, sekarang lebih baik pakai kompor listrik” Hanya dipakai sekali lalu tidak dipakai karena harus pencet sana-sini, tidak mengerti cara pakainya. Namun mau tidak mau , suka tidak suka,kita harus berhadapan dengan perkembangan yang ada. Istri saya dari yang tidak mau pegang komputer, karena buat di ngejelimet tapi sekarang mau tidak mau harus pegang tab (computer tablet). Karena dia kalau sedang menyiapkan khotbah, selama ini dia langsung ke lantai 2, tempat kami untuk persiapan khotbah di mana di sana banyak buku sehingga ia bisa baca buku.  Untuk mencari bahan-bahannya saja perlu 2 jam, belum lagi untuk menyusun strukturnya dan itu harus cari buku lagi. Anak saya berkata, “Mami buang waktu untuk naik-turun, cari buku-buku. Jadi aku belikan ini, agar mami tinggal cari di google apa yang mami butuhkan”. Awalnya tidak mau dipakai, tetapi lama-lama istri saya mulai berpikir dan berkata, benar juga. Ia mulai melihat youtube dll. Bahkan dia sekarang bisa membelikan makanan lewat Go-Food. Semuanya serba dipermudah. Itu kemajuan -kemajuan yang kita temui saat ini.
Bagaimana dengan kehidupan gereja? Apakah gereja juga berubah? Gereja dulu nyanyinya dengan orgel. Dulu saya pemain orgel di gereja yang suaranya bergaung. Dulu belum ada yang elektronik, masih kuno semuanya. Sekarang semua sudah pakai drum band, piano. Mau tidak mau gereja harus berhadapan dengan kemajuan teknologi. Baru sekitar 2 tahun lalu , kami berdebat dalam persidangan majelis jemaat tentang alat untuk transfer uang dengan mesin EDC. Ada yang mengatakan perlu ada mesin EDC di gereja. Yang lain mengatakan tidak boleh begitu. Ide ini muncul karena cukup banyak jemaat kami yang kerjanya di pasar Tanah Abang. Saat pulang lewat gereja, ada rejeki mau kasih berkat tidak dapat gembolan uang, jadi mau digesek saja. Perdebaan terjadi cukup lama. Saya hanya mengatakan, “Mau tidak mau , suka tidak suka , gereja harus berhadapan dengan teknologi.” “Jadi mau bagaimana Pak Pendeta?” tanya mereka. “Siapkan saja mesin EDC. Tetapi  Tetapi jangan sampai persembahan Minggu pakai EDC. Belum siap. Karena berdampak pada pemahaman teologis (arti dari sebuah persembahan)”.
Contoh kedua, untuk cari jodoh sekarang bisa pakai teknologi. Anak saya cukup mengenal dunia ini. Suatu hari dia berkata, “Pi, ini  ada satu aplikasi. Menurut papi, kalau mencari jodoh harus bagaimana? Biro jodoh itu seperti apa?” “Papi tahu, biro jodoh adalah tempat di mana orang-orang mencari pasangan hidup, setelah memenuhi kriteria lalu dipertemukan. Kemudian mereka kemudian berkomunikasi dan seterusnya.” jawab saya. Dia langsung berseru,“Wah ketinggalan zaman,Pi. Sekarang ketinggalan zaman. Ini aplikasinya ada di handphone saya.” Saya lihat di handphone-nya ada wanita, 30 tahun, mencari suami usia maksimum 37 tahun, pekerjaan ini , dan ada beberapa persyaratan lainnya. “Hanya begini saja Noni?” tanya saja. “Oh tidak begitu. Sekarang coba papi menghadap ke handphone aku, untuk di-scan wajah dan tubuh papi”. Setelah didesak anak saya, saya berdiri dan discan, dan hanya dalam hitungan detik keluar “fail” karena umur sudah 56 tahun sehingga tidak sesuai. Jadi tidak perlu dilanjutkan lagi. Tinggi saya juga tidak sesuai. Hebat sekali. Itu baru sebagian dari kehidupan yang dialami.

5 masa perkembangan teknologi yang terjadi.

Dalam pertembangan teknologi, ada 5 masa yang sempat dicatat. Sekarang ini disebut sebagai era kelima. Handphone sudah mengarah kepada 5G.

1.     Revolusi Industri
Masa pertama dimulai 1780-an muncul mesin-mesin. Hidup manusia tidak lagi manual sudah menggunakan mesin. Untuk menjahit dengan pakai mesin jahit. Industri mesin semakin berkembang.

2.     Masa kedua : Industri massal.
Mulailah orang merasa penting dengan adanya listrik. Semua alat yang digunakan menggunakan listrik.

3.     Masa 3 : munculnya sistem otomatis.
Semuanya serba otomtas, elektronik dan komputerisasi. Pengaruhnya sampai sekarang terasa.

4.     Masa keempat : munculnya sistem dunia maya.
Semuanya cyber. Semuanya  bisa dilihat di dunia maya. Bahkan kita punya sahabat pun di dunia maya. Di Jepang dikenal  Hikikomori, kelompok anak-anak muda yang menarik diri dari pergaulan social dan mereka hidup sendiri (di apartemen sendirian). Teman mereka ribuan karena teman mereka ada di-facebook (dunia maya) dan hal ini tidak realistis. Itu sebabnya punya dampak yakni betapa sulitnya orang-orang sekarang ini bersosialisasi. Mereka lebih senang bersosialisasi di dunia maya daripada ketemu dan berbicara. Bahkan sekarang usaha pun sudah elektronik. Anak saya bekerja di-disain grafis. Pekerjaannya mempromosikan produk-produk dan dia membuat produk-produk itu  agar bisa dilihat di dunia maya dengan lebih detil. Biasanya ibu-ibu kalau beli baju, maka yang pertama-tama dilihat adalah jahitannya terlebih dahulu. Itu tugas anak saya. Dia coba membuat 3 dimensi produknya. Lalu bisa lihat ke dalam, jahatiannya seperti apa. Lalu bentuknya seperti apa, bisa dilihat 3 dimensi dan berputar. Wajah kita bisa difoto di sana. Lalu pakaian itu dipakaikan di foto kita untuk dicocokkan. Kerahnya seperti apa dan seterusnya. Itu tugas anak saya di disain grafis. Mengapa? Karena bisnis sekarang sudah mengarah ke business online. Beberapa pedagang di pasar Tanah Abang , anggota jemaat kami, hampir tutup toko karena semuanya beralih ke on-line. Mereka mulai berpikir tentang tokonya, sehingga toko hanya digunakan untuk pajangan dan taruh stock barang. Selebihnya semua online. Bahkan Hewlett Packard sekarang kalau mau menerima pegawai , tidak langsung ketemu HRD tetapi bertemu mesin dahulu untuk dites. Alat ini bisa memberikan  informasi ke HRD, bahwa orang seperti ini 2 tahun lagi akan keluar. Apakah diterima? Kalau tidak diterima, baru face-to-face (bertemu), kalau tidak mau diterima tinggal di-cut. Jadi kita berhadapan dengan mesin.
Sekarang berhadapan dengan mesin. Ibu-ibu punya kulkas dan sekarang kalau sendirian di dapur mesin itu bisa diajak ngomong. Kalau lagi pusing, tinggal diucapkan dan mesin itu akan berkata, “pusing kenapa?” “tidak usah khawatir”. Dia punya sahabat yaitu mesin. Diambil dari teknologi cyri. Teknologi sudah semakin canggih. Sekarang tidak perlu lagi manusia, melainkan robot karena robot lebih memahami manusia. Itu sebabnya pemuda Jepang menunda pernikahan dan lebih senang memelihara boneka atau robot wanita sebagai pasangan hidupnya. Karena deprogram lebih mengerti daripada pacaran ribut melulu. Yang satu mau makan bapau, sedangkan yang lain maunya makan bakmi sehingga ribut. Robot tidak begitu, ketika mau makan bakmi, robot akan mempersilahkan karena robot tidak makan. Semakin canggih tekonologi, semakin canggih juga taraf kehidupan kita, karena kalau mengikuti teknologi maka perlu banyak uang untuk membelinya. Itu sebabnya, saat ini ada begitu banyak orang mengalami stress yang luar biasa baik dalam dunia kerja maupun dunia usaha. Di dunia kerja, ada persaingan luar biasa bahkan tidak malu-malu mereka menggeser rekan-rekan kerjanya. Di gereja apa ada hal seperti ini? Ada! Pendeta atau panatua yang satu menggeser pendeta atau panutua yang lain. Persaingan bahkan dalam pelayanan gereja pun penuh dengan persaingan, gereja satu dengan gereja yang lain. Dulu waktu saya berjemaat di Kebun Jati Bandung, belum pernah membuat poster apa pun untuk menarik anggota jemaat. Sekarang cukup banyak gereja-gereja membuat spanduk, “Hayo siapa yang bergereja di sini, akan dapat bonus ini itu”. Rumah Sakit di Sunter banyak sekali spanduk-nya. Di situ dikatakan, “Kalau periksa darah sekian akan mendapat promosi ini itu”. Dulu rumah sakit tidak seperti itu. Sekarang begitu karena persaingan yang sangat luar biasa.

5.     Masyarakat berbasis teknologi
Masyarat sangat dibentuk oleh teknologi. Anak-anak kita adalah anak-anak yang super pandai. Saya ketinggalan di sini. Contoh : saya mengajar katekisasi. Saat itu kita bicara tentang kasih Tuhan. Di awal pertemuan, saya bicara dengan anak-anak. Anak-anak ini kebanyakan remaja dan pemuda. Saya bertanya, “Menurut kalian ‘kasih’ itu apa?” Semuanya terdiam. Saya mengulang pertanyaannya kembali. Tapi diam semua. Sehingga saya tanya satu per satu, dan dijawab oleh mereka. Jawabannya mantap-mantap. Dari seluruh jawaban mereka semua pelajaran hari itu sudah selesai hanya dalam waktu 10 menit. Karena waktu ditanya, langsung mereka bertanya ke mbah Google. Ada segala macam jawaban. Secara teologis. Wah canggih-canggih. Saya terdiam dan merenung. Mereka anak-anak yang pandai mendapat, menyerap informasi tetapi belum tentu mengerti. Akhirnya saya berkata, “Hari ini pelajaran sudah selesai 10 menit. Lalu kita teruskan kakisasinya ke Grand Indonesia.” Saya boyong mereka ke Grand Indoneisa dengan berjalan kaki selama  15 menit. Di tempat ngopi, Saya pesan minuman. Namun saya pesan,”Jangan diminum dulu, tunda dulu, kalian harus menyelesaikan satu tugas dahulu”. Semua ditugaskan untuk mengitari seluruh Grand Indonesia. Setiap kali bertemu dengan seseorang, saya minta mereka tersenyum. Orang gila? Tidak! Lalu tangkap respon mereka seperti apa. Jangan dibalas direspon. Lalu balik lagi ke sini. Diberi waktu 30 menit. Setelah 30 menit mereka datang kembali dan saya berkata, “Jangan ngopi dulu. Saya mau tanya, apa respon yang didapat ketika engkau tersenyum?”
Jawabannya kalau dikelompokkan: yang pertama kalau orang yang disenyumi mulai pikir orang gila. Yang kedua, begitu diajak senyum, merasa ragu-ragu. Yang ketiga, ketika diberikan senyum maka langsung ia ikut tersenyum dan bertanya, “Orang gereja ya? “Jadi apa maksudnya pendeta?” tanya mereka. Maksudnya : kasih itu memberi bukan menerima. Berikan. Ketika orang bererspon macam-macam, itu urusan dia, yang penting adalah menabur kasih. Tersenyum adalah memberikan kebahagian untuk lain, damai ke orang lain. Orang itu mau terima atau tidak, itu  urusan orang itu. Tetapi kita sedang belajar sesuatu yang luar biasa yaitu menekan ego, gengsi untuk tersenyum. Tidak mudah untuk tersenyum. Apalagi saat sedang banyak persoalan. Setelah selesai mereka hanya berkata,”Oh begitu ya Pak Pendeta? Sekarang boleh ngopi dan sharing. Lalu mereka sharing betapa sulitnya untuk memberi senyum.” Ada yang berkata, “Iya betul. Papi disenyumin tidak pernah mau senyum. Memang papi terkenal jutek dari dulu.” Sekarang engkau tersenyum terus dengan  papimu, maka besok begitu bangun dan bertemu papimu tersenyum ,”Selamat pagi, Papi ” dan tersenyum. Setelah itu terserah mau disambut atau tidak, itu urusan papimu. Tapi ketika kamu terus menerus menebar senyummu, suatu hari papimu akan tersenyum padamu.” Benar saja, beberapa bulan giliran saya mengajar lagi, saya tanya,”Bagaimana hasilnya. Sudah tersenyum belum?”. Sekarang papi seumur hidup baru saya lihat tersenyum.” Dulu tidak pernah tersenyum. Apa yang engkau tabur itu yang akan engkau tuai. Tetapi di jaman teknologi hal seperti ini sudah hilang

Indikasi Era Saat Ini

1.     Persaingan = individualistis.
Dalam kehidupan, orang semakin memikirkan diri sendiri. Kalau pindah rumah, tetangga pada menghampiri dan bertanya,”Pindah ke mana?”. Sekarang kalau pindah rumah, tidak ada orang yang menghampiri, hanya sedikit yang menghampiri. Di mal, orang lebih senang telinganya ditutup dengan headset mendengar lagu dan goyang sendiri. Tidak peduli orang melihatnya dan disebut orang gila, pokoknya “ini gue”. Sangat individualistis.

2.     Angka perceraian semakin tinggi.
Ini banyak data-nya. Mengapa? Karena semakin orang kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Di tengah dunia yang penuh tekanan, pekerjaan yang berat dan  persaingan di mana-mana mereka capai, sampai di rumah diributkan hal-hal sepele (dianggap tidak perlu diributkan), tekanan seperti ini membuat perceraian semakin tinggi.

3.     Anak-anak kehilangan figur ayah / ibu.
Anak-anak laki-laki sekarang yang kehilangan figur ayah menjadi orang-orang yang kewanita-wanitaan karena peranan ibu yang sangat luar biasa mempengaruhi cara hidupnya. Sebaliknya anak-anak perempuan yang kehilangan figur ibu menjadi kelaki-lakian.

4.     Perubahan budaya dan gaya hidup.
Kita menghadapi sebuah perubahan budaya dan gaya hidup. Beberapa waktu lalu saat saya jalan pagi bersama istri saya, kami melihat seorang ibu berusia sekitar 67-68 tahun. Wanita berusia seperti itu dalam bayangan kita berpakaian seperti apa? Pertama saya lihat rambutnya panjang dan penuh warna (merah, kuning , biru) serta dikepang. Kami berpikir kalau dilihat dari belakang dia adalah seorang anak muda. Pakaian dan celananya ketat. Istri saya berkata, “Anak muda ini mau ke pesta atau mau berjalan kaki?”. Jalannya lambat dan ia pegang HP dan sekali-kali ke pinggir dan ber-swafoto. Itu menghalangi langkah kami. Akhirnya kami menyusulkan. Waktu saya mengucapkan selamat pagi kepadanya, baru tahu usianya sudah tua. Perasaan di belakang orangnya muda sekali. Buat saya, wanita 67 tahun pasti tidak akan berpakaian seperti itu., tetapi sekarang terjadi perubahan budaya dan gaya hidup.
Salah atau boleh tidak wanita berusia 67 tahun berpakaian seperti itu? Bisa atau boleh saja, tidak ada yang melarang. Hanya saya yang lahir di zaman baby-boomer (tahun 60-an) melihat keadaan seperti ini tidak bisa menerima hal seperti ini oleh mata saya. Tapi saya harus belajar memahami bahwa sekarang terjadi perubahan budaya dan gaya hidup. Sebentar-sebentar ke cafĂ©, nongkrong sana-sini, makannya di kedai kopi. Dulu tidak ada seperti ini. Namun ini sudah menjadi kebutuhan. Saya berpikir di situlah tempat-tempat anak muda berkumpul. Kebetulan saya juga suka ngopi. Kalau ada waktu sebelum pelayanan,  sekitar 1 jam lebih sedikit, saya beli segelas kopi dulu. Saya pikir yang nongkrong anak-anak muda, ternyata tidak juga. Ibu-ibu muda pada nongkrong sambil tertawa-tawa dan merokok. Saya mulai berpikir, ini zaman apa? Mengapa jadi seperti ini? Bukan anak-anak muda malah anak-anak muda tidak terlalu banyak.
Ada juga demi gengsi berani pinjam uang. Hanya gara-gara gengsi saja! Suatu hari anak saya berkata, “Pi, saya sudah habis uang jajan minggu ini” (waktu itu masih kuliah). Saya menyerahkan uang dan berkata “Nih untuk seminggu ya”. Dia menjawab lagi,”Iya Pi. Irit-irit. Ini kan buat uang jajan saja, uang untuk bus belum.” Jadi saya tambah lagi Rp 50.000. Lalu ia berkata lagi,”Nanti sore , Papi ada pelayanan?”. Saya menjawab,”Oh ada. Di gereja ada pelayanan pk 19-20.30.” Dia berkata lagi,”Oh kebetulan, saya selesai kuliah pk 20.30 an. Nanti papi bisa jemput saya tidak sekalian pulang?” “Kan kamu sudah dapat uang untuk naik bus?” jawab saya. “Iya sekalian kan, sudah malam kan dekat dari gereja ke sini”. “Baiklah saya jemput”, jawab saya. Lalu saya jemput. Waktu sudah di mobil ia berkata, “Pi, saya minta uang lagi. Tadi, teman saya pinjam uang. Dia  sedang tidak ada uang. Dia banyak keperluannya. Uang tuanya sedang di luar kota. Dia tadi pinjam Rp 50.000” “Oh Rp 50.000? Ya, sudahlah. Adik besok papi gantikan. Kalau dia tidak bisa ganti , ya sudah tidak usah diganti. Karena dari luar kota, mungkin belum  dapat kiriman”, kata saya. Lalu kami mutar kampus untuk keluar. Pas melewati Star-buck, anak saya melihat dan berkata,”Yailah, dia nongkrong di Star-buck. Pinjam uang Rp 50.000 untuk nongkrong.” Anak saya langsung buka jendela , melambaikan tangan dan berteriak memanggilnya.  Temannya membalas dan berkata,”ngopi”. Yailah pinjam uang hanya untuk ngopi saja! Namun demi gengsi semua dilakukan. Ini zaman gaya modern.

5.     Absolut vs relativisme.
Segala hal yang absolut dulu (yang tidak bisa diubah) sekarang semua jadi relative. Misalnya : Apa yang sudah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Sekarang ditambahkan apa yang sudah disatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia kecuali kasus-kasus khusus. Di Alkitab tidak ada kasus-kasus khusus. Sekarang yang tidak bisa diubah, sekarang mulai dipikirkan ulang. Maka Yesus yang begitu absolut, melalui perkembangan ilmu pengetahuan saat ini muncul teologi modern yang mulai merekonstruksi tentang Yesus. Yesus dilihat dari kacamata yang berbeda.
Contoh : waktu Yesus berjalan di atas air, kira-kira kita menggambarkan Yesus yang seperti apa di sini? Ada yang mengatakan,”Allah yang luar biasa berjalan di atas air”. Sekarang Deddy Cobuzer bisa berjalan di atas air. Chriss Angel, seorang pesulap, bisa naik ke atas tanpa satu alat bantuan apapun. Jadi ternyata cerita Alkitab tentang Kristus itu perlu direkonstruksi (diubah, di tata ulang). Ada yang masuk akal dan ada yang tidak masuk akal. Yang tidak masuk akal, jangan masuk bagian dalam iman. Tapi yang masuk akal, itu harus masuk dalam bagian iman. Masuklah pemahaman teologi Yesus sejarah. Yesus sejarah mulai merekonstruksi keberadaan Yesus. Ternyata Yesus digambarkan sebagai orang yang patah hati. Yesus dilihat dari berbagai macam sudut. Dari ilmu psikologi, Yesus dilihat sebagai orang yang patah hati, mengalami penyakit kejiwaan yang sangat serius karena Dia adalah orang yang selalu membanggakan diriNya. Itu sudah penyakit, disimpulkan demikian. Kemudian juga dikatakan Yesus terlalu banyak mengalah berarti dia dahulu punya banyak trauma dalam kehidupannya. Tekanan-tekanan emosional yang sangat luar biasa. Jadi sewaktu Yesus mengajarkan,”Kalau engkau ditampar pipi kirimu berikan pipi kananmu” karena Yesus pernah mengalami trauma yang luar biasa. Yesus yang adalah Tuhan mulai bergeser mulai menjadi Yesus yang bisa dipikirkan di dalam begitu banyak ilmu yang ada sekarang ini. Itu sebabnya di dalam ilmu teologi modern diajarkan sekarang tentang merekonstruksi Yesus. Ketika dikatakan Yesus bangkit dari kubur, Yesus tidak bangkit dari kubur sebenarnya. Yesus mati ya sudah mati. Hanya yang bangkit  itu adalah namaNya dan pengaruhNya, bukan tubuhNya yang bangkit. Ini bertambah gawat. Bahkan bukan hanya Yesus saja yang dipersoalkan, tetapi Musa juga dipersoalkan. Yaitu ketika Musa berjalan di tengah-tengah air dan air mulai terbelah, itu sebenarnya bukan berjalan di laut tapi jalannya di parit kecil. Jadi ketika jalan di parit kecil, ada air di situ. Banyak orang berjalan di sana, maka airnya menyibak. Itu yang katanya disebut terbelah. Kalau diceritakan lebih jauh maka jadi tambah kacau. Itulah perkembangan yang sedang dipikirkan sekarang. Belum lagi mengenai wajah Yesus. Seperti apa wajah Yesus? Direkonstruksi lagi wajah Yesus. Dari saat kain kafan, dilihat ada bentuk-bentuknya direkonstruksi lagi dengan teori karbon, sehingga muncullah Yesus yang wajahnya hitam ,berambut kriting seperti orang dari Afrika. Kita melihat Yesus seperti apa? Orang bule rambutnya panjang, matanya biru? Mereka katakana, itu Yesusnya orang Belanda yang dibawa ke mari. Kita mengenalnya yang digambar-gambar. Sebenarnya tidak seperti itu. Kita bertambah bingung  waktu berjalan-jalan di China, Yesus matanya sipit, rambut dikepang. Buat orang China mengatakan rekonstruksinya seperti ini. Di era digital semakin bingung lagi.
Itu sebabnya mengapa begitu banyak orang ketika melihat kebingungan-kebingungan yang ada, belum lagi mereka mempertanyakan kuasa Tuhan dalam kehidupan mereka. Tidak ada! Mereka ditolong karena teknologi. Mereka bisa ini itu karena teknologi. Mereka punya sahabat karena tekonologi. Mereka bisa berusaha karena tekonologi. Semua serba teknologi. Di mana kuasa Tuhan? Tidak ada! Mulailah dipertanyakan tentang spiritualitas. Itu sebabnya mengapa gereja-gereja tradisional di Eropa dan AS mulai sepi. Karena mereka semakin mempertanyakan tentang Yesus yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka saat ini. Kok bisa ya orang-orang zaman dulu menyembah Yesus seperti ini? Kok bisa ya, orang-orang zaman dahulu memuji Tuhan yang seperti ini? Mereka mulai mempertanyakan tentang Yesus.

6.     Materialisme.
Tidak ada uang, tidak bisa hidup. Itu sebabnya anak-anak muda sekarang dalam dunia kerja berusaha sekuat tenaga dan semampu mereka untuk bisa meraih uang. Karena dengan uang mereka bisa melakukan segala perkara. Secara sederhana dikatakan tanpa uang , manusia tidak bisa hidup. Kasihan sekali anak-anak sekarang. Mereka bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka, habis setiap bulan. Anak perempuan saya begitu bekerja , saya selalu mengajarkan ke anak saya begitu selesai kuliah harus bekerja dengan orang. Dia pun memprotesnya,”Pi, saya kan bisa bekerja sendiri”.  “Tidak bisa! Karena kamu harus belajar jadi karyawan. Kamu harus belajar tentang disiplin , struktur dan banyak hal di situ.” Setelah 2-3 tahun dia bisa menyerap semua dan kalau mampu bekerja sendiri, bisa bekerja sendiri. Kokonya tetap bekerja di perusahaan.
Tetapi apa yang terjadi? Karena kemajuan teknologi yang sangat luar biasa, seseorang bisa bekerja di beberapa perusahaan. Kalau dulu hanya bekerja di satu perusahaan. Suatu hari anak saya, saat diskusi tentang dunia kerja, saya katakana,”Justru papi dengar dari beberapa pengusaha zaman sekarang. Mereka selalu mencari orang yang jujur dan orang yang setia. Susah dapatnya. Pernah ada pengusaha bertanya, Pak Pendeta, ada tidak siapa rekomendasinya  orang yang jujur dan setia?” Saya jawab,” Kan di perusahaan kamu banyak. Kan ada direktur-direktur yang hebat.” “Betul, mereka orang-orang  yang hebat. Tapi saya tidak percaya mereka orang yang setia, karena saya ambil mereka dari perusahaan lain” jawabnya. Berapa tahun bekerja di sini , lalu cari kerja di tempat lain pakai headhunter untuk pindah kerja dan naik jabatan. Seorang dapat jabatan yang tinggi belum tentu dia mulai dari nol di satu perusahaan itu. Orang itu pindah-pindah untuk sampai di sana. Orang-orang yang pindah-pindah kerja seperti ini bisa disebut sebagai orang setia? Belum tentu! Itu sebabnya mencari orang yang jujur dan setia, susah. Anak saya berkata, “Tidak bisa begitu. Itu cara berpikir yang kuno kalau papi menginginkan di satu perusahaan sampai nanti pensiun. Saya tidak bisa. Saya harus pindah. Sekian tahun, saya harus punya target. Sekian tahun aku kerja di sini dan pindah. Naik jabatan lagi. Karena hiidup perlu uang! Papi jangan munafik.” Saya katakana,”Memang benar kita perlu uang, tapi uang dari mana? Kalau Tuhan tidak buka jalan, uang tidak akan datang. Semua asalnya dari Tuhan. Kamu bisa sehat , kuat dan punya peluang itu semua karena Tuhan yang berikan itu.” Walau memakan waktu yang lama, akhirnya ia bisa juga mengerti setelah didiskusikan terus tentang itu. Tapi karena pengaruh zaman yang mulai berpikir tentang pola yang baru memang susah. Itu sebabnya segala sesuatu diukur secara materi. Gereja yang berhasil dilihat dari jemaatnya yang banyak, persembahannya sammpai miliaran, gedungnya dari kristal, dan buat saya ini tidak menjamin sebuah gereja yang berhasil. Gereja yang berhasil adalah gereja yang mengetahui siapa Tuhannya dan apa kemauan Tuhannya dan gereja yang selalu belajar tunduk pada perintah Tuhan. Bukan dari jumlah tapi dari kesungguhan dan kesetiaan orang-orang ada di gereja  yang menyembah dan melayani Tuhan dalam doa dan persekutuan-persekutuan mereka. Itu yang disebut gereja yang berhasil. Intinya banyak orang hanya melihat dari sudut luarnya, tidak melihat dari dalamnya (casing- nya saja).

7.     Pengaruh media informasi yang berlimpah.
Banyak hoax karena pengaruh media informasi yang berlimpah.. Itu membuat kita kehilangan arah. Mana yang benar-benar benar sekarang ini. Contohnya : mau pilih Probowo atau Jokowi? Dengar sana-sini, ketika mau mencoblos pengaruhnya sangat luar biasa. Itu pengaruh dari media informasi yang sangat luar biasa. Suatu hari kami rapat. Di gereja kami ada yang disebut kelompok kesaksian dan pelayanan. Kelompok ini mengundang pembicara dari gereja yang tidak seazas (misal dari Pentakosta, GBI dll) untuk berkhotbah di gereja kami. Kelompok ini wadah untuk anggota jemaat kami yang ingin mempunyai warna ibadah yang sedikit berbeda. Gereja kami adalah mainstream yang sangat kaki di mana lagu-lagunya dari kidung jemaat, kalau bertepuk tangan saat bernyanyi akan dilihatin orang. Pendeta yang berkata,”Mari jemaat kita nyanyikan pujian yang indah ini, kita bertepuk tangan” langsung akan menimbulkan pertanyaan. Jadi ini wadah untuk jemaat yang beribadah pada gereja-gereja yang sangat terbuka untuk hal-hal yang baru. Suatu hari kami berpikir bagaimana caranya agar bisa mengumpulkan orang bisa beribadah di tempat ini. Saya hanya mengatakan,”Apa tujuan kelompok ini ada?”. Ada yang mengatakan,”Sebenarnya , kami melihat di lingkungan pasar ini banyak orang yang belum kenal Tuhan, kiranya dengan kehadiran kami secara sederhana mereka bisa mengenal Tuhan. Karena semuanya serba sederhana. Khotbahnya sederhana. Pujiannya juga sederhana.” “Ok, kalau begitu, bagaimana kalau kita wartakan?” “Saya katakana, kalau diwarkan  tidak kena. Jadi kita pakai WA. Buat teks undangan lalu sebarkan ke seluruh tetanggamu memakai WA  dan undang mereka.” Jadi tidak perlu diwartakan karena saya percaya media informasi punya pengaruh luar biasa. Hanya dalam hitungan 4 hari, hari H-nya, gereja penuh. Datangnya informasi itu dari WA. Itu baru dari WA, belum masuk instragram dll. Sekarang zamannya kita hidup dalam dunia seperti ini. Apakah kita bisa melihat kebenaran di sini? Semakin sulit melihat kebenaran di sini.

8.     Kekosongan spiritualitas.
Begitu banyak orang merasa kosong dalam kehidupan spiritual. Justru saya melihat bahwa dalam perubahan zaman dan teknologi yang luar biasa, begitu banyak orang kesepian, hampa, membutuhkan kekuatan tapi mereka tidak tahu dari mana kekuatan itu. Begitu banyak orang yang rindu mendapat penghiburan tetapi mereka tidak mendapat hiburan spiritual itu seperti apa. Ini pintu gereja untuk masuk bagi mereka.

Di masa 5G, generasi milenial membutuhkan Kristus.

Sebenarnya tidak bisa dipungkiri. Di masa sekarang banyak orang membutuhkan Kristus. Namun Kristus yang seperti apa?

1.     Di dalam Kristus ada persahabatan Sejati

Mereka tidak memerlukan Yesus yang konseptual tapi Yesus yang bersahabat. Ketika dikatakan Yesus yang bersahabat, begitu banyak orang yang meninggalkan kamu, tapi Yesus mau menjadi sahabat untukmu. Yesus menjadi sahabat bagi orang -orang yang membutuhkan saat ini. Ada pergeseran lebih ke pemahaman yang praktis yang menyentuh hati dan pikiran orang-orang sekarang ini.
Dulu pernah diajarkan, hanya tidak diberikan penekanan yang kuat dalam kehidupan bergereja. Yoh 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Di tengah-tengah murid-murid yang saat itu mengalami kekosongan jiwa. Dan juga Yesus menyapa orang-orang pada zaman sekarang,”Akulah sahabatmu”. Kamu tidak sendirian, tetapi ada Aku. Aku bukan sekedar teman tetapi sahabat. Apa beda sahabat dengan teman? Kalau teman sekarang ada, besok belum tentu ada. Kalau sahabat walaupun orangnya tidak ada, saat di-WA ‘kamu ada di mana?’ akan dibalas ‘Saya ada di sini. Kenapa kamu? Ada apa kamu? Jangan takut, saya selalu ada untukmu”. Itu seorang sahabat. Yesus yang seperti apalagi yang dibutuhkan pada zaman ini?

2.     Di dalam Kristus ada tujuan hidup

Kalau punya Tuhan, Ia harus tahu ke mana saya pergi. Saya harus melangkah ke mana? Di dalam Kristus saya punya tujuan. Apa Tujuan Tuhan? Tujuan Tuhan hanya mengatakan,”Aku  mau bersama-sama dengan kamu, di dunia ini sampai di dalam kekekalan. Tujuan Tuhan harus menjadi tujuan kita. Orang-orang zaman sekarang ini dan anak-anak sekarang ini mulai diarahkan bahwa ternyata hidupnya bukan hanya sekedar di dunia ini saja, tetapi juga di dalam kerajaan sorga. Itu sebabnya harus ada kebangkitan orang mati. Pada pengakuan iman rasuli dikatakan,” Aku percaya kepada kebangkitan orang mati”.  Mengapa harus ada kebangkitan orang mati?
-        Yesus yang hidup tidak pernah bisa hidup bersama orang mati.
Harus ada kebangkitan orang mati karena Yesus yang hidup tidak pernah bisa hidup bersama orang mati. Tetapi Yesus yang hidup hanya mau hidup dengan orang yang hidup. Persoalannya,”Alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia punya batas-batas hidup usia 70 tahun, kalau kuat 80 tahun. Saya selalu mengukurnya dari ujung. Kalau dulu bangga waktu ditanyakan usia berapa , saya menjawab 32 tahun. Berarti sudah 32 tahun hidup di dunia. Sekarang kalau ditanya, saya selalu hitungnya dari ujung (70 tahun). Kalau ditanya umurnya berapa, berarti kalau tinggal berapa tahun lagi saya hidup? Pernah berpikir begitu. Jangan hitung dari nol hingga ke usia sekarang tetapi dari ujung 70 tahun. Kalau usia sekarang 50 tahun, berarti tinggal 20 tahun lagi hidup. Kalau sekarang usianya 60 tahun berarti tinggal 10 tahun lagi. Bukankah dengan menghitung seperti itu, kita mulai berpikir saat ini ,”Wow… betapa berartinya waktu itu.” Waktu itu berjalan sangat cepat sekali. Saya mau bersyukur dengan Tuhan Yesus karena Ialah Allah yang menerobos hukum-hukum Nya sendiri, aturan-aturanNya sendiri. Orang yang mati, mati saja. Namun Yesus hidup dari kematian, berarti kita akan hidup dari kematian secara badani. Waktu kita dibangkitkan, maka yang dibangkitkan apanya? Ini yang menjadi pertanyaan orang-orang zaman sekarang ini. Apakah tubuh, jiwa dan roh nya dibangkitkan? Ini yang jadi persoalan. Karena kita dipermainkan oleh ilmu filsafat. Yang namanya ilmu akan berkembang terus. Sejak Perjanjian Lama , filsafat mengajarkan bahwa manusia terbagi 2 bagian yaitu tubuh dan roh. Di zaman Yesus, setelah Yesus naik ke surge dan filsafat Yunani mulai menguasai Timur Tengah dan mengajarkan bukan 2 tapi 3 yaitu tubuh , jiwa (psike) dan roh. Pemahaman ini bertahan sampai beberapa puluh sammpai ratusan tahun. Sekitar tahun 80-an ada seorang filsuf Jerman mengajarkan bahwa bukan 3 tetapi 4 dalam penelitiannya yaitu tubuh, jiwa , roh dan paradigma.
Beberapa tahun kemarin, timbul filsafat baru yang mengatakan bukan 4 tetapi 5 yaitu  tubuh, jiwa, roh, paradigma dan ide. Ilmu tambah terus. Alkitab tidak pernah berbicara tentang, manusia terdiri dari 2, 3, 4 atau 5 bagian. Bukan persoalan. Tetapi Alkitab melihat manusia secara keseluruhan. Jadi ketika manusia dibangkitkan, maka yang dibangkitkan adalah orang mati. Orang keseluruhan inilah yang dibangkitkan. Jadi bukan hanya sebagaian tapi seluruhnya.
Ketika Yesus bangkit, ,Yesus bertemu dengan murid-muridnya di rumah yang tertutup dan terkunci pintunya, tiba-tiba Yesus masuk. Dikatakan,”Yang ini adalah roh”. Namun saat itu Yesus bertanya, “Apakah ada makanan di sini?” Murid-muridNya mengatakan,”Oh ini ada ikan baka.” Yesus makan ikan itu. Artinya apa? Tubuh! Yesus mau mengatakan,”Inilah tubuh kekekalan itu yang tidak terbatas pada ruang dan waktu.” Itu sebabnya kebangkitan yang ada , bukan kebangkitan roh atau hanya tubuh atau jiwa saja tetapi manusia secara utuh. Jadi ketika kita ditanya, nanti yang dibangkitkan apa? Jawabnya,”Aku secara utuh”. Ini yang dibangkitkan Tuhan. Supaya kita hidup dalam kekekalan bersama dengan Tuhan. Itu tujuannya ke sana. Dan ketika anak-anak muda bertanya, “Pak Pendeta, sebenarnya tujuan kita ke mana?” “Ke sana. Yesus sudah mengatakan ke sana. Barang siapa kepadaNya tidak ada yang binasa, tetapi supaya mereka memperoleh hidup yang kekal. Itu tujuannya.” Dan sekarang kita sedang berjalan ke sana. Tanpa Dia, kita tidak bisa berjalan ke sana. Sehingga Yesus mengatakan,”Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun sampai ke sana tanpa melalui Aku.” Dialah yang menunjukkan kekekalan itu, tujuan ke sana. Banyak anak-anak muda kita di dunia milenial, kehilangan tujuan hidup dan mereka butuh tujuan hidup mereka. Di dalam Kristus ada tujuan hidup. Ini yang tadi saya khotbahkan. Tujuan Tuhan yang lain adalah berjalan bersama dengan kita. Di dunia ini begitu banyak orang yang menggunakan materialisme dan ilmu teknologi. Tetapi itu sesaat bisa menemani mereka. Mereka sadar bahwa ini hanya alat. Tetapi yang sungguh-sungguh yang bisa memberikan mereka kekuatan, inspirasi, kemampuan bahkan kemampuan menerobs hal yang sukar saat Yesus tinggal di dalam mereka dan mereka tinggal di dalam Kristus. Jadi Yesus adalah Allah yang hidup y ang mau berjalan dengan mereka. Kristologi inilah yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh orang-orang di zaman ini. Jadi apakah Yesus ini relevan? Ya, sangat relevan dengan perubahan pada zaman sekarang ini. Justru di zaman sekarang ini, begitu banyak orang membutuhkan Yesus. Amin.


Monday, May 6, 2019

Pikirkan Perkara dari Atas bukan di Bumi





Pdt. Hery Kwok

Kolose 3:1-4
1  Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
2  Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3  Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
4  Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Pendahuluan

              Pernahkah mengalami suatu kejadian di mana saat kita sedang mengendarai mobil lalu di depan mobil kita ada sebuah motor yang menyalakan lampu sen untuk belok ke arah kiri namun ternyata akhirnya motornya malah belok ke kanan? Saya pernah mengalami hal tersebut. Kalau kita tidak peka dalam mengantisipasinya sehingga tidak menginjak rem mobil, maka bisa menimbulkan kecelakaan. Dan bila hal itu terjadi yang disalahkan tetaplah yang pengemudi mobil yang menabraknya. Kalau kita baru belajar mengemudi mobil, maka hari itu menjadi sebuah peristiwa menyeramkan dalam hidup kita, bahkan bisa menimbulkan trauma karena kita menganggap bahwa kita sudah gagal untuk mengemudi mobil. Padahal yang gagal adalah sang pengemudi motor. Perhatikan bagaimana peristiwa mengemudi mobil yang membuat saya menjadi kaget (terkejut) , namun saya bisa tertolong karena saya memperhatikan jalan dengan seksama. Kalau tidak maka saya akan mengalami kesulitan besar sekali.
              Rasul Paulus menulis surat ke jemaat Kolose tentang bagaimana kita melihat tentang hidup yang kita hidupi. Bila melihat dengan baik, kita akan menimbang dengan baik dan melakukan apa yang dilihat dan ditimbang dengan baik. Titik berangkatnya adalah bagaimana kita melihat hidup dengan baik. Itu sebabnya waktu Rasul Paulus memberikan penekanan kepada jemaat di Kolose agar orang percaya sungguh-sungguh mempunyai sebuah cara melihat yaitu mencari perkara yang di atas, di mana Kristus ada dan duduk di sebelah kanan Allah menjadi prioritas bagi orang-orang percaya. Permasalahannya : waktu Rasul Paulus berbicara tentang carilah perkara yang di atas, Rasul Paulus memberi penekanan kepada kita, hal itu bisa terjadi (dihidupi) waktu kita berada di posisi ayat pertama  Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Ayat 3  Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
              Rasul Paulus begitu kuat memberikan penekanan agar hidup kita benar-benar hidup yang mencari perkara yang di atas. Karena pada kedua ayat itu perkataan “perkara di atas” diulang 2 kali. Pada ayat 1 dikatakan “carilah perkara di atas” dan pada ayat 2 dikatakan “pikirkanlah perkara di atas”. Kata kerja “carilah” adalah kata yang di dalam bahasa Yunani memberikan penekanan kalimat perintah yang harus dikerjakan dari hari ke hari , harus dilakukan dari waktu ke waktu tanpa ada jeda (berhenti). Saat kita hidup sebagai orang yang sudah mati bersama Kristus maka hidup kita sekarang hanya satu yaitu carilah perkara yang di atas. Untuk memikirkan “perkara di atas” dan bisa “mencari perkara di atas”, dimulai dengan kita memahami hidup kita sudah mati di dalam Kristus atau tidak.

Pola Hidup yang Berbeda

              Waktu Rasul Paulus berkata, “Carilah dan pikirkanlah perkara di atas” , hal itu harus dimulai dengan kesadaran bahwa hidup kita sudah mati di dalam Kristus. Saat hidup kita memiliki fokus untuk mencari perkara yang di atas, itu hanya bisa waktu kita memahami posisi kita terlebih dahulu. Posisi-nya di mana kita benar-benar sudah mati atau belum di dalam Kristus. Hal ini menjadi sesuatu yang penting, karena zaman ini orang terlalu sederhana untuk mengatakan saya percaya kepada Kristus dan punya keyakinan untuk masuk sorga tapi hidupnya amburadul (berantakan). Hidupnya tidak sesuai dengan pengakuannya dan apa yang diikrarkannya. Sehingga Rasul Paulus memberikan kepada kita suatu penekanan agar kita merefleksikan , mengoreksi diri dan merenungkan apakah kita memahami posisi kita atau tidak. Apakah kita benar-benar sudah mati dalam Kristus? Kalau posisi kita sudah benar-benar mati dalam Krisuts maka orientasi dan fokusnya berbeda. Pdt. Stephen Tong berkata,”Bertobat adalah suatu focus yang berbalik dari berjalan ke arah sini lalu menjadi berjalan ke arah sana”. Fokus ini akan mempengaruhi seluruh keberadaanmu, baik tingkah laku, pola pikir dan cara hidupmu. Jangan kita berani berkata,”Saya pasti masuk sorga, saya percaya pada Kristus” tetapi hidup kita masih menjadi batu sandungan (hidup yang tidak mencerminkan Yesus Kristus)! Karena Rasul Paulus menulis dalam suratnya dimana ia berkata, “Waktu dahulu belum mengenal Kristus, aku hidup secara duniawi. Seluruh perkara yang bersifat material aku banggakan. Tetapi waktu aku percaya kepada Kristus, maka seluruh yang dulu menjadi kebanggaanku  di dunia ini menjadi sampah (tidak ada harganya). Apa yang dibanggakan secara fisik seperti  keberadaan sebagai status orang terhormat, sekarang tidak ada artinya lagi malah menjijikkan karena aku sekarang berada di status yang berbeda. Dulu statusku sebagai orang berdosa. Pikiranku adalah pikiran duniawi, berorientasi pada materi, berorientasi pada kebanggaan manusia, segala kesenangan dunia yang bisa saya nikmati, tetapi pada waktu sudah ditebus olehNya, maka pikiran , fokus dan orientasiku sudah berbeda. Ini hal yang penting untuk menjadi landasan  kita harus memahami status kita terlebih dahulu. Saat bicara kekristenan maka engkau sudah lama menjadi orang Kristen tetapi hidupmu tidak berbeda dengan orang dunia maka jangan berani berkata , “Aku percaya Kristus dan aku pasti masuk sorga”. Mengapa?
              Kehidupan orang yang mengikrarkan Kristus dalam Kitab Suci, menjadi orang yang (berpola) berbeda dari yang dahulu. Rasul Paulus membuktikan ciri-cirinya secara jelas. Maka kalau mengatakan saya percaya pada Kristus tetapi ciri-cirinya tidak kelihatan, maka perlu mempertanyakan posisi (status)-nya di mana. Karena kalau tidak memahami posisi bahwa kita sudah mati , maka kita akan sulit untuk punya pikiran kepada Kristus dan “carilah perkara di atas” menjadi sulit.

Tidak Lagi Berfokus pada Harta, Tahta dan Wanita

Kita sering mendengar istilah bahwa manusia seringkali jatuh dalam 3 “ta” yaitu harta, tahta dan wanita. Orang yang posisinya sudah matinya dalam Kristus tidak berorientasi lagi hidupnya dengan harta. Harta tidak menjadi kebanggaannya. Dulu waktu saya masih remaja (sekolah) saya suka minder karena teman-teman saya berasal dari keluarga kaya. Pada zaman saya, kalau tidak punya motor akan dianggap sebagai anak sekolah yang miskin, tidak dihitung dan saat berteman tidak diakui. Jadi kita berpikir ,”Saya harus punya motor”. Lalu saya merongrong papa saya untuk membelikan motor padahal papa saya tidak mampu. Karena saya berpikir dengan harta itu, saya punya sesuatu dalam diri saya. Kalau tidak punya harta nothing , dan sebaliknya kalau punya harta menjadi something. Orientasi ini akan terlihat dalam cara hidup kita. Sehingga harta menjadi landasan hidup kita untuk menjadi orang.
Papa saya pernah berkata saat saya masuk sekolah Alkitab, “Kamu sekolah Alkitab maka kamu menjadi orang susah , miskin dan tidak dihargai orang.” Jadi dalam pandangannya harta itu sepertinya membuat kita dilihat (dihargai) orang. itulah yang membangun seluruh kehidupan kita dengan cara  memburu harta. Waktu saya selesai sekolah Alkitab, papa saya berkata ,”Kamu harus punya mobil karena kalau tidak punya mobil, maka sebagai hamba Tuhan saat diundang maka kamu tidak dipandang orang.” Pikiran duniawi papa saya sangat jelas menggambarkan apakah kita berada di sanakah? Engkau tidak merasa dihargai kalau engkau tidak memiliki harta dan uang. Saya sekarang berani bicara, ‘Saya sekarang lebih senang naik bus Transjakarta. Tidak pusing, dengan uang Rp 3.500 bisa berkeliling Jakarta. Asal tidak sampai stasiun terakhir. Tiap rapat sinode saya naik bus Transjakarta, saya tidak merasa minder. Bahkan bagi saya merupakan suatu kesukaan karena saya senang jalan-jalan. Apalagi sekarang ada aplikasi kalau kita berjalan 1.000 langkah, kita dapat uang. Hal ini bagi saya jadi sehat. Orientasi saya bukanlah “kalau tidak pakai mobil, maka nilai dan harga saya turun”. Kalau tidak punya harta maka merasa tidak dihargai. Maka tidak heran, orang-orang mulai menanamkan kuasa di rumah. Contoh : suami mencoba dengan cara otoriter karena kalau kita punya kekuasaan  maka semua harus tunduk. Perkara-perkara inilah yang  memberikan kepada kita suatu gambaran apakah hidup kita sudah di dalam Kristus atau tidak. Kalau hidup kita benar-benar mati dan di dalam Kristus tersembunyi, maka kita akan berbeda di dalam orientasi dan fokus. Zaman ini adalah zaman di mana kita dirangsang untuk menikmati kesenangan hidup sangat kuat sekali. Kita bisa berjuang memperoleh hidup dengan kesenangan walaupun kita susah.
              Kemarin di persekutuan pasutri, pembicaranya membagikan kesaksian. Ia punya kebiasaan berpola hidup mewah. Contoh : anaknya dibelikan susu impor dll. Suatu kali dia mengalami PHK. Saat itu zaman krisis moneter sampai uang tidak ada, lalu ia menggunakan kartu kredit-kartu kredit. Penggunaan kartu kredit yang tidak bijaksana membuatnya terlilit hutang yang sedemikian hebat. Kebiasaan hidup enak membawa ia merasa hidupnya harus terus seperti itu. Sehingga waktu berada di posisi susah, ia tidak pernah bergeser dari polanya dan ia tetap melakukan apa yang disenangi. Hidup kesenangan yang kita lakukan, tidak salah. Tetapi kalau hidup kesenangan lalu dipraktekkan dengan cara-cara  yang salah, itu yang berbahaya. Misalnya : kalau ingin jalan-jalan tapi tidak punya kemampuan, maka jor-joran dengan cara apapun punya uang lalu pergi. Ini pola yang seringkali ditawarkan dunia. Maka harta, tahta dan wanita (kesenangan) menjadi bagian yang mencerminkan apakah kita sungguh-sungguh memahami apakah kita hidup sudah mati di dalam Kristus.
Rasul Paulus berkata,”Dulu aku punya kebanggaan. Aku seorang Yahudi. Aku dari suku Benyamin (Saul adalah raja Yahudi pertama dari suku Benyamin). Aku seorang Farisi. Aku menjalankan hukum Taurat dengan baik. Aku sungguh-sungguh melakukan apa yang menjadi tuntutan hukum. Aku hebat.  Di antara rekan-rekanku , aku lebih hebat .” Kebanggaan-kebanggaan semua baik dalam harta dan kesenangan bagi Rasul Paulus indikatornya sudah hilang waktu ia hidup bersama Kristus. Ini penting dan harus dipikirkan dahulu. Saya seringkali mendengar sedemikian mudah orang Kristen berkata, “Saya percaya Kristus” tapi hidupnya berbeda dengan pengakuannya. Hidupnya masih pakai pola dunia tetapi berkata bahwa percaya pada Yesus. Rasul Paulus memberi peringatan, “Kalau kamu sudah mati dan dibangkitkan bersama Kristus, maka  kamu harus berbeda hidupmu” karena hidupmu sekarang memikirkan perkara di atas. Rasul Paulus mengatakan,”Sekarang mari kita pikirkan perkara yang diatas di mana Kristus ada”.
Suatu kali saya pergi ke Menado. Di pesawat ada sepasang suami-istri. Kami makan bersama karena maskapai penerbangan memberikan makanan. Waktu saya mulai makan, saya menawarkan makan, “Makan Pak!Makan Bu!” Terjadilah sebuah komunikasi. Lalu ditanya,”Kamu mau ke mana?” Saya menjawab,”Mau ke Menado.” Dia berkata,”Saya juga”. “Maksudnya kamu mau apa di sana?” dia bertanya lagi. Saya menjawab, “Saya ada urusan (tugas)”. Sebelum saya berkata panjang, dia berkata, “Saya pendeta” dan ia menginjili saya. Dia tidak tahu bahwa saya pendeta. Dia bercerita banyak. Lalu dia berkata, “Kalau saudara benar-benar sudah hidup di dalam Kristus, maka saudara harus punya pikiran seperti Kristus. Pikirkan  yang di atas, jangan saudara pikirkan yang di bumi”. Saya hanya mengiyakan saja. Sewaktu turun dari pesawat, saya pikir-pikir, orang ini Tuhan pakai untuk mengingatkan saya meskipun saya hamba Tuhan, tetapi apakah pikiran saya sama dengan yang Rasul Paulus katakan? Ini menjadi perhatian penting yang saya pikirkan. Kalau saya ternyata tidak seperti yang Rasul Paulus tulis “carilah dan pikirkan perkara di atas bukan di bumi”, saya sebenarnya belum menjadi orang yang berani berkata , “Kamu telah dibangkitkan bersama Kristus karena kamu telah mati dan hidupmu sekarang tersembunyi dalam Kristus”.

Carilah perkara di atas.

              Apakah yang harus kita pikirkan? Carilah perkara di atas. Rasul Yohanes membuka dengan bagus sekali. Dia katakan, “Dia turun ke dunia”. Pada waktu Rasul Yohanes membuka dengan kalimat, “Yesus yang turun ke dalam dunia, mari kita pikirkan pikiran Kristus”. Dia tidak menganggap kesetaraannya sebagai kesetaraan yang harus dipertahankan tetapi Dia   turun ke bumi, karena Dia ingin menyatakan keselamatan. Dia ingin mengatakan bahwa Dialah hidup itu sehingga siapa yang percaya kepadaNya akan peroleh keselamatan. Dari surga, Dia turun ke bumi, Dia meninggalkan tahtaNya dan Ia datang di antara manusia ciptaanNya yang berdosa. Kitab Suci mengatakan justru manusialah yang menolak Dia. Kalau saat datang tapi ditolak , maka sakitnya luar bisasa dan Yesus mengalaminya. Demi apa? Hanya satu yaitu demi engkau dan saya agar kita peroleh keselamatan. Apa artinya?

1.     Pikirkan pikiran Yesus.

Dia datang dari sorga untuk melayani kita. Apakah kita melayani Tuhan dalam hidup kita sebagai orang percaya? Mari kita pikirkan pikiran Kristus yang datang ke bumi untuk melayani. Ada yang berkata, “Saya sudah memegang satu pelayanan”.  Ia merasa bangga tapi begitu dituntut untuk membayar harga yang lain seringkali menolak. Kristus membayar harga total. Dia turun dari atas ke dunia secara totalitas,tidak ada yang Dia sisakan berbeda dengan kita yang suka hitung-hitungan dalam melayani. Generasi zaman kita sekarang adalah generasi di mana jemaat senang beribadah tapi tidak mau dituntut lebih jauh dari ibadah (setelah ibadah pulang). Apa yang ada di dalam diri saya, sudah saya bayar, lepas daripada  itu tidak usah. Orang yang senang beribadah tapi tidak mempunyai sebuah hati melayani , ada banyak . Dan itu ada di zaman itu. Yesus tidak memikirkan perkara ini dan Dia sungguh-sungguh ingin melayani.
Saat pergi ke rumah duka , saya berkata ke Ev. Putra, “Seringkali pelayanan yang paling sepi adalah pelayanan kedukaan. Padahal pelayanan kedukaan adalah pelayanan yang paling hebat.” Kita datang dan menghibur orang yang berduka, lebih bermakna dan dirasakan. Kita cukup duduk saja bersama orang yang berduka, tidak perlu banyak bicara, kalau perlu tepuk saja pundaknya, hati orang yang berduka seperti orang yang disiram air yang segar. Tidak perlu banyak bicara dahulu, hanya menepuk dan bertanya,”Sudah makan belum? Bagaimana kesehatan?” Kalimat sederhana tapi orang yang berduka merasa diperhatikan. Pelayanan kedukaan di gereja adalah pelayanan yang sangat jarang diminati. Seringkali itu menjadi pilihan akhir. Tetapi herannya waktu keluarganya mengalami kedukaan, kalau yang lain-lain tidak datang maka dia merasa tidak diperhatikan lalu selanjutnya ia akan mengamuk. Apakah hidup kita memikirkan yang Kristus pikirkan? Saya sungguh mau menyampaikan hal ini menjadi bagian bersama kita karena kita berada di dalam satu gereja yang sama. Dalam tubuh yang sama, apakah engkau hidup  memikirkan apa yang dipikirkan Kristus?

2.     Di dalam Kisah Para Rasul, Rasul Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kisah 20:35)”.

Namun cukup banyak manusia yang lebih senang menerima daripada menberi. Rasul Paulus membenarkan apa yang dikatakan Kristus (lebih berbahagia memberi daripada menerima. Mari kita pikirkan pikiran Kristus). Ada rekan pembicara pasutri yang mengatakan bahwa ada rekannya pada saat memberikan persembahan mencari bilangan yang paling besar. Sedangkan banyak yang melakukan sebaliknya yaitu mencari denominasi terkecil. Begitu memberi Rp 1.000 untuk Tuhan , dia merasa tidak terganggu ekonominya. Yesus hidupNya hanya satu tujuan yaitu memberi tapi tidak menerima.  Maka Ia berani mengatakan bahwa yang berbahagia itu adalah yang memberi , bukan yang menerima. Berani tidak memberikan waktu, pikiran kepadaNya? Kita sering perhitungan, mulai dari yang material dan immaterial seperti pikiran, pendapat dan segala macam kita masih hitung-hitungan. Sebentar lagi pergantian majelis, dan jemaat yang dihubungi pada menolak. Kalau sudah dikatakan seperti itu (merasa tidak layak), maka sulit untuk negosiasi. Jangankan memberi uang, memberi waktu dan pikiran saja terkadang hitung-hitungan dan tidak mau. Kita akan ke Blitar untuk pelayanan misi. Meskipun kota dan desa beda tetapi esensinya bisa sama. Waktu mereka siang hari, anak-anak desa dikumpulkan dan mereka mengajar mata pelajaran. Ada orang yang memberikan pikiran untuk mengajar. Saya tawarkan, “Apakah kita mau coba melakukan hal ini? “DIjawab, “Susah, mu-shi”. Tidak pernah berfikir dahulu, kira-kira bagaimana melakukannya? Kalau sudah dikatakan demikian, saya susah menjawab. Jadi   tidak ada percakapan atau negosiasi lagi. Kristus dalam pikiranNya hanya satu yaitu memberi.


Penutup

              Mari kita pikirkan , Dari sorga Dia datang ke bumi untuk melayani dan selama di bumi Dia hanya ingin memberi. Mari pikirkan perkara yang di atas. Kita memang harus memikirkan keluarga, tapi pikiran keluarga yang sangat fokus membuat kita kehilangan pikiran Kristus, maka kita harus berhati-hati. Karena Kristus tidak pernah menempatkan keluarga untuk mengambil pikiran Dia. Kemarin konseling terakhir dengan pasangan yang akan menikah, saya hanya berkata,”Salah satu hal yang menarik, seluruh apa yang akan dilakukan dikaitkan dengan iman Kristen” Contoh : dalam anggaran harus ada iman Kristen yang melayani, Kalau kita hanya mampu sejumlah uang tertentu, cukupkanlah dengan uang itu. Jangan kita merasa orang akan memandang pesta harus hebat (megah) tapi setelah itu bayar hutang maka akan celaka. Iman Kristen tidak menuntut ke sana. Segala sesuatu dengan iman Kristen. Waktu punya anak, iman Kristen mu tidak membawa engkau punya anak lalu tidak melayani lagi dan hidup tidak memberi. Kristus tidak memberi keluarga yang membuat kita kehilangan apa yang sudah kita bangun dengan baik. Apa yang sudah kita pikirkan dengan baik dalam hidup kita. Kecuali kita ada dalam status di dalam hidup yang belum mengalami kematian bersama Kristus. Mari kita pikirkan sekali lagi, apakah Kristus bersama dengan saya, saya mengalami kematian bersama nya dan saya sudah disembunyikan di dalam Kristus. Sehingga yang ada hanyalah pikiran Kristus dalam hidup saya. Apakah kita menjadi orang Kristen yang berjalan dengan pikiran Kristus? Carilah perkara yang di atas bukan yang di bumi.