Tuesday, April 16, 2019

Kristus Juru Bicara Allah

Pdt. Hery Kwok

Ibrani 1:2
1  Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
2  maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
3  Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
4  jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Pendahuluan

              Hari ini adalah hari pra-Paskah ke-6. Di GKI , Gereja Kristus atau gereja Injil lainnya ada yang menyalakan 5 buah lilin minggu ini karena tanggal 19 April saat Jumat Agung dikategorikan sebagai pra-Paskah ke-7 sedangkan GKKK hanya menghitung hari Minggu saja. Dalam minggu-minggu pra-Paskah tema-nya tentang Kristus yang dilihat dari beraneka sudut (kristology). Hari ini kita akan melihat Yesus Kristus dari sudut pandang penulis kitab Ibrani. Hari ini nats diambil dari kitab Ibrani 1:1-4 yang perlu dibaca dan dipelihara. Metode untuk mengingat dan memelihara (menaruh, mengingat , menghafal dan melakukannya) yang saat ini dipakai lagi di sekolah-sekolah  Alkitab (sekolah teologia). Para siswa diminta untuk membaca dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu serta menghafalkannya. Hal ini perlu dilakukan karena sewaktu orang Kristen bergumul dan mengalami kesulitan maka ayat yang ditaruh di dalam hati akan muncul sehingga kita bisa melewati masa-masa yang sulit. Yang berbahagia adalah orang yang membaca, memelihara (menyimpan dan melakukannya) sehingga kita akan punya kekuatan.
              Tema hari ini adalah “Kristus Juru Bicara Allah”. Di film Mandarin bergenre silat, sutradaranya sering memberi beberapa penekanan pada alur ceritanya. Misal : saat sang kaisar mengirim utusannya (seperti seorang menteri) untuk datang ke suatu wilayah atau propinsi, maka para pejabat dan rakyat di provinsi itu akan menerimanya dengan hormat karena bagi mereka utusan itu adalah orang yang memiliki tempat yang terhormat. Bahasa sekarang-nya adalah  VIP (very important person atau orang yang istimewa). Namun sutradara saat menggambarkan anak kaisar sebagai utusan biasanya menggambarkannya sebagai utusan yang sangat istimewa melebihi utusan lainnya. Ini menyangkut bagaimana (cara) dan kualitas penyambutannya karena yang diutus adalah anak kaisar sendiri.

Yesus Kristus dalam Kitab Ibrani

              Kitab Ibrani ditulis oleh penulisnya (yang tidak diketahui siapa penulisnya. Ada penafsir Alkitab yang mengatakan kitab ini ditulis oleh Rasul Paulus). Ia ingin menulis surat yang ditujukan kepada orang-orang percaya (baik orang-orang  Yahudi maupun orang-orang non Yahudi) di masa-masa susah yang menguji iman mereka untuk menguatkan perjalanan iman mereka. Ia ingin meneguhkan iman mereka khususnya kepercayaan mereka yang hanya kepada  Yesus Kristus. Maka pada Kitab Ibrani pasal 1-7 penulis ingin membawa pembacanya untuk berjumpa dengan Kristus yang sangat berbeda dengan seluruh utusan Allah lainnya. Karena ia menyampaikan bahwa cara Yesus Kristus bicara yang berbeda dengan nabi , malaikat (mahluk surgawi) atau Musa (tokoh legendaris orang Yahudi dan sangat berkarismatik), Melkisedek (imam besar yang kepadanya Abraham memberikan perpuluhan). Dengan kata lain, penulis kitab Ibrani ingin mengatakan bahwa Yesus Kristus berbeda dengan utusan-utusan Allah sebelumnya. Penulis Ibrani ini mau menekankan tentang Kristus yang sejati. Maka pada ayat 1, penulis Ibrani memberi sebuah penekanan bahwa setelah pada zaman dahulu, Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi. Alkitab kita dibagi dalam 2 buku besar yaitu Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Ini merupakan sebuah masa di mana Allah memberikan anugerah pada masa itu. Waktu Alalh memberikan anugerah pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu baik, keduanya adalah anugerah Allah yang menjelaskan hati Allah yang ingin menyelamatkan manusia. Pada masa Perjanjian Lama,  Allah menggunakan berbagai cara dengan berbagai orang untuk menyampaikan isi hatiNya. Allah menjanjikan tentang keselamatan. Masa Perjanjian Lama adalah masa di mana Allah menjanjikan kepada orang berdosa untuk memberikan Juruselamat. Jadi isinya janji agar orang-orang di Perjanjian Lama sungguh-sungguh memahami bahwa  Allah itu baik dan mereka diberikan janjiNya. Pada Perjanjian Baru , Allah menggenapi janji-janjiNya sehingga seluruh apa yang dinubuatkan oleh janji tersebut digenapkan pada Yesus Kristus yang final.
              Tema-tema untuk Kelompok Sel dimulai dari apa itu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berbicara tentang janji-janji Allah tentang apa yang akan diberikan nanti kelak. Perjanjian Baru adalah realisasinya. Apa yang Allah janjikan dinyatakan dalam Yesus Kristus. Di komsel, ada di bulan terakhir 2018 di mana pada  bulan November 2018 diadakan launching (perkenalan) komsel. Sedang tema pada bulan Januari  2019 – Maret 2019 berbicara tentang berbuah dan pokok anggur dan lainnya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah 2 masa yang dipakai Allah apa yang diberikan dalam keselamatan.

Allah Berbicara melalui Pelbagai Orang dan  Berbagai Cara

1.     Melalui Pelbagai Orang

         Pada Ibrani 1:1 dikatakan  Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, Apa maksudnya ‘berbagai cara’? Yaitu dengan penekanan bahwa nanti (dari) perempuan itu akan datang Mesias. Jadi caranya, mulai dari Kitab Kejadian Allah sudah memberi penekanan bahwa Ia akan memberikan Penebus. Allah menekankan nanti dari perempuan itu akan lahir Juruselamat. Pada zaman Abraham, Allah memberikan penekanan kepada Abraham, “Yang berasal daripadamulah yang akan menjadi orang yang akan Kuutus”. Dari keturunan sah Abraham masuk ke Ishak lalu ke Yakub yang dikenal sebagai bapak-bapak orang percaya. Allah menyampaikan pesan ke Yakub, “Nanti dari suku Yehuda akan lahir Sang Mesias”. Kita melihat berbagai cara masuk dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Lalu masuk zaman Raja Daud, Allah akan membangkitkan tunas yaitu Juruselamat. Nabi Mikha berkata,”Nanti akan lahir dari Betlehem (kota yang tidak pernah diperhitungkan) akan muncul Sang Raja”. Nabi Yesaya memberi penekanan bahwa yang nanti di Betlehem akan lahir dari Sang Perawan. Dari perempuan yang masih perawan akan lahir Sang Juruselamat. Mulai dari Kitab Kejadian Dia berbicara tentang keturunan perempuan dan ditekankan melalui perempuan yang masih perawan akan lahir Juruselamat.

2.     Melalui Berbagai Cara

Pada ayat 1 dikatakan Allah menggunakan berbagai cara. Waktu Abraham duduk di bawah pohon tarbantin, Allah menyatakan diri (teofani). Allah bisa menyatakan keinginanNya melalui penglihatan dan berbicara melalui suara-suara. Seperti sewaktu Samuel masih kecil, ia dipanggil oleh Tuhan. Karena tidak tahu siapa yang memanggilnya, ia datang kepada Imam Eli dan bertanya, “Bapak, memanggil aku?” Dijawab “tidak” sehingga ia tidur lagi. Allah berbicara (teofani) dan bentuknya bisa berupa suara atau penglihatan dan tidak bisa  diberikan satu patokan tapi melalui berbagai cara. Allah bisa menyatakan diri melalui :
-          Berbicara melalui suaraNya
-          Penglihatan-penglihatan yang diberikan kepada orang-orang tertentu
-          Tulisan-tulisan. Contoh : Allah bisa menyatakan diriNya  langsung seperti saat Allah menulis 10 Perintah Allah di loh batu pada zaman Musa, atau tangan Allah menulis di dinding saat Raja Bersyazar berpesta. Allah mengunakan berbagai metode  di Perjanjian Lama karena Allah ingin menyatakan kepada umatNya tentang janjiNya.

Janji Allah Sudah Sempurna melalui Yesus Kristus

              Pada pasal 2 penulis Ibrani memberi penekanan yang hebat. Pada zaman akhir ini (Perjanjian Baru), Ia telah berbicara dengan perantaraan anakNya. Ini penting, karena penulis kitab Ibrani ingin memberi penekanan kepada kita bahwa janji Allah yang diberikan sejak manusia jatuh dalam dosa, melalui nabi dan melalui berbagai cara dan sekarang Allah mengutus anakNya. Pada zaman akhir masa di mana anugerah Allah (janji Allah) telah final (sempurna) dinyatakan melalui Yesus. Setelah itu tidak ada lagi cara-cara lain. Allah sudah menggunakan firmanNya untuk menyatakan kehendakNya.
              Ayat kedua ini menjadi penting karena sekarang banyak jemaat Tuhan khususnya gereja-gereja yang terbius dengan cerita dari orang-orang yang berani memberikan kesaksian hebat karena telah bertemu Tuhan lalu berbicara dengan-‘Nya’. Sehingga mengatakan ada yang terkecoh dan berkata,”Ia hebat sekali”. Mereka mengklaim ,”Tuhan Yesus bicara dengan saya dan saya melihat Tuhan Yesus.” Membaca kesaksian seperti ini saya suka tersenyum karena cukup banyak yang tidak memahami Allah yang menyatakan diriNya dan kehendak Allah di dalam diri Yesus Kristus  sudah final. Sehingga Rasul Yohanes berkata dalam suratnya bahwa apa yang aku tulis meskipun hanya dalam sekian pasal, sudah cukup menjelaskan tentang anak Allah (Yesus Kristus). Waktu membaca Firman Tuhan, kita dibawa dalam pengenalan yang sempurna tentang Allah di dalam Yesus Kristus, tidak perlu yang lain dan tidak ada cara yang lain. Waktu ada yang berkata ,”Tuhan Yesus datang kepada saya dan berbicara”  maka muka Yesus Kristus yang mana yang datang?. Muka Yesus yang mana yang dilihat? Pertanyaannya : muka Yesus yang ada di gambar-gambar? Karena berbeda-beda. Ada yang dari artis pemeran film Passion of Christ atau tokoh yang lain, itu semua gambaran yang mencoba mencari gambaran raut muka Tuhan Yesus. Kalau ada yang berkata bahwa Yesus berbicara kepadanya, pertanyaannya : Yesus yang mana?
              Saya pernah bertanya, waktu berdoa boleh tidak kita membayangkan wajah Yesus Kristus? Pertanyaannya : wajah yang mana? Karena kita hanya membayangkan gambaran yang sudah ada. Ada orang-orang yang senang dengan berita yang spektakuler tentang adanya orang yang bertemu dan berbicara dengan Tuhan Yesus. Apalagi kalau suka ‘jajan’ untuk melihat dan mendengar pengalaman rohani dari pimpinan rohani yang ‘luar biasa’. Padahal kanonisasi selesai waktu Yesus hadir. Dan Allah menulisnya dan sudah selesai. Allah mengutus Yesus Kristus sebagai juru bicaranya yang final. Kalau kita menemukan kebenaran dalam kitab Ibrani yang memberi suatu penekanan tentang Yesus. Kristus yang bagaimana?

Kemuliaan jabatan Yesus Kristus

1.     Yesus berhak menerima segala yang ada

         Ibrani 1:2a 2  maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.. Yang berhak menerima yang ada. Penulis Ibrani ingin mebawa kepada kita kemuliaan jabatan Yesus Kristus yang menjadi jurubicara dimulai dari kemuliaan jabatanNya. Jabatan sebagai juru bicara luar biasa mulia. Ia berhak menerima segala yang ada. Pada abad pertama pribadi Yesus Kristus (Allah Anak) dipertentangkan sehingga pada Pengakuan Iman Rasuli pengakuan Allah Bapa hanya sepotong (Aku percaya kepada Allah Bapa) sedangkan Yesus Kristus (Allah Anak) digambarkan sampai Allah Anak yang naik ke surga. Saat itu sulit diterima rasio karena pribadi Yesus, Ia adalah Allah dan manusia. Ia manusia 100% sekaligus Allah 100%. Sebagai Allah Ia mempunyai segala-galanya, sebagai manusia Ia adalah utusan yang Allah Bapa suruh, sehingga dikatakan Ia menerima hak yang diberikan. Penulis Ibrani ingin mengatakan Yesus Kristus sebagai Allah manusia, diberikan hak untuk menerima segala yang ada yaitu Yesus yang mempunyai kedaulatan, kemampuan menetapkan sanggup mengendalikan dan mempunyai kemampuan memerintah. Di dalam kitab Injil, kita menemukan penulis Injil mencatat kedaulatan yang dinyatakan Yesus Kristus. Waktu Yesus Kristus bicara kepada angin “Diamlah!” maka angin pun diam. Siapa yang bisa melakukan itu? Hanya Allah! Itu sebabnya penulis Injil ingin mengatakan siapa Dia, waktu murid-muridNya ada di atas perahu. Waktu itu murid bertanya-tanya,”Siapa orang ini?” Ini pertanyaan kepada pribadi yang sanggup menaklukkan alam semesta. Angin diminta berhenti. Ini hebat sekali. Kalau kita berada di angin ribut dan ada pribadi yang mengatakan angin berhenti, lalu angin berhenti, ini luar biasa. Siapa yang bisa menghentikan angin? Tidak ada yang bisa menahannya. Bahkan gedung dan tiang bisa dihancurkan. Saat angin tornado melanda, bangunan, mobil truk yang paling besar dan kapal terbawa. Angin yang mengerikan seperti ini pun tahluk dibawah kaki Tuhan.
         Waktu penulis Ibrani mengatakan ia berhak menerima segala yang ada. Ia berhak menerima kedaulutan yang berada dan menjadi milik Allah. Ia yang menetapkan, memerintah dan sungguh-ssungguh mengendalikan. Yesus berani bicara, “Sembuhllah engkau” dan kepada Setan, “Keluarlah engkau!” atau berkata “Dosamu diampuni”, karena ia punya kedaulataan untuk melakukannya. Sehingga penulis Ibrani menyarikannya : Kristus dalam kemuliaan jabatannya telah menerima hak yang Allah telah tetapkan untukNya.
         Maka waktu Yesus berbicara kepada murid-muridnya setelah kebangkitan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Karena ia punya kuasa di dalam tanganNya yang sungguh menyertai kita. Sehingga Yesus Kristus adalah juru bicara yang final dan telah ditetapkan , sehingga semua tertuju padaNya.

2.     Oleh Yesuslah Allah menjadikan alam semesta

Ibrani 1:2b Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Oleh dialah Allah menjadikan alam semesta yang kelihatan dan tidak kelihatan, dunia pada zaman lalu dan akan datang. Dialah Allah yang menciptakan semuanya dan Kristus menguasai seluruh ciptaan yang ada. Kadang waktu melihat orang membuat mobil terdiri dari berbagai ahli, baik ahli mesin atau  spare-part lain. Waktu rusak, ahli mesin belum tentu mengatasi nya. Padahal mobil diciptakan oleh berbagai orang. Karena setiap orang punya keahlian dan tidak bisa mengambil bagian lain. Waktu dikatakan, alam semesta, itu semua dari Allah, sebab itu Ia berkuasa menaklukan semuanya baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan.
         Sebagai pencipta , Ia sungguh-sungguh punya kemampuan mengatur mengolah ciptaanNya. Maka votum dimulai dengan perkataan, “Kiranya turun kasih kurnia dari Allah Bapa dan Allah Anak karena Ialah yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya.”  Maka saat menghayati  ciptaan dunia ini, kita kagum. Seluruh alam semesta diatur secara sempurna oleh Allah, kapan adanya pagi-siang-malam, ia turunkan hujan, berikan salju, tumbuhkan bunga ini dan melayukannya. Itu ada di dalam kekuatan Allah dan agenda Dia untuk melakukan semuanya. Ini merupakan gambaran Allah yang hebat. Maka di dalam Yesus Kristus, kemuliaan jabatan ada padaNya.

3.  Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan menopang segalaNya dengan penuh kekuasaan

Ibrani 1:3b Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Ia menggambarkan dunia yang ditopang Allah adalah dunia yang hancur. Kapan hancurnya? Karena kita membaca dari sudut fiksi seperti benda yang terbakar hancur. Istilah yang digunakan penulis Ibrani adalah dunia yang sudah hancur karena dosa, itu digambarkan dengan  kehancuran yang berkeping – keeping dan mengerikan. Dosa bila tidak dipandang dengan sedemikian benar maka kita tidak akan merasa dosa itu  luar bisa menakutkan dan itu menjadi kutukan yang membuat kita hidup dalam kesengsaraan. Kalau kita tidak memahami dosa seperti ini maka kita tidak memahami bahwa Yesus menopang dunia  yang sudah berkeping-keping hancur karena dosa (berarti tidak ada harapan di dunia ini). Yesus Kristus yang menopang dengan kasihNya yang menyelematkan sehingga penulis Ibrani menyampaikan kebenaran bahwa Yesus  Kristus memang Jurubicara Allah. Karena di dalam diriNya mencerminkan siapa Dia.
          

4.     Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah

Penulis Ibrani menutup ayat 3 dan 4, bagaimana jabatan itu dipegang oleh pribadi yang mulia. Keluhuran dan keagungan dari pribadi yang mulia ini. Ibrani 1: 3  Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,  Dikatakan pada awal ayat tersebut, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah” Ini menarik sekali. Penulis Ibrani merujuk  pada pribadi Yesus Kristus, pribadi yang mencerminkan kemuliaan Allah.
Ciri dari pribadi adalah Dia hidup dan punya kehendak. Maka dalam pelajaran katekisasi tentang Allah , kita diajar bahwa Allah adalah pribadi. Pribadi artinya Dia hidup. Kalau benda bukan pribadi karena tidak hidup dan tidak punya kehendak. Jadi bicara pribadi tidak bisa ditujukan juga pada binatang seperti macan yang hidup tapi tidak punya kehendak dan keinginan yang sama seperti manusia. Waktu berbicara Yesus yang adalah pribadi , penulis Ibrani ingin mengatakan bahwa Ia pribadi yang hidup, punya kehendak yang kodratnya sama dengan Allah Bapa.
         Contoh sederhana : waktu manusia membantai orang lain, maka kita mengatakan , “Gila, ini bukan manusia!” Saya saja mau bunuh ayam takut sedangkan ia membunuh sesame manusia. Itu bukan sifat manusia , karena sifat manusia tidak seperti itu. Berani membunuh itu adalah sifat binatang. Di film digambarkan ada harimau (raja hutan) dikelilingi oleh segerombolan Cheetah. Mereka mengerubuti raja hutan sampai mati. Padahal itu raja hutan yang biasanya waktu ia mengaum binatang yang lain takut. Namun ternyata waktu dikerumuni,ia kalah. Naluri membunuh ada pada binatang. Sehingga manusia yang membunuh sifatnya seperti binatang.
         Waktu penulis Ibrani mengatakan bahwa Ia adalah cahaya kemuliaan Allah , maka ia bicara tentang Yesus yang sifatnya sama dengan Bapa di sorga yang adalah Allah. Apa  yang dikatakan oleh Rasul Yohanes pada pasal 14 (ayat 9 dan 11), “Siapa melihat Anak berarti ia melihat Bapa. Siapa yang percaya kepada Anak, percaya kepada Bapa”. Penulis kitab Ibrani memberi penekanan bahwa Ialah sungguh-sungguh  memiliki keluhuran pribadi Allah.

Penutup

              Sewaktu Ibrani membawa kita kepada Yesus sebagai Jurubicara Allah, apa respon kita? Apakah respon kita seperti tertulis pada kitab Injil yang mencatat tentang perumpamaan Allah tentang penggarap kebun anggur. Utusan yang dikirim oleh pemilik kebun malah disakiti dan dianiaya sehingga akhirnya pemilik kebun mengirim anaknya sebagai utusan. Waktu para penggarap melihat nya, mereka malah berkata,”Anaknya datang, mari kita bunuh dia!” Penggarap kebun adalah orang-orang yang menolak Kristus. Apakah kita sungguh-sungguh percaya atau malah menolakNya? Tidak ada pilihan lain. Kalau kita berkata ‘percaya’ betulkah? Karena di kitab Injil banyak yang berkata ‘percaya’ tapi sebenarnya tidak percaya. Yesus bertanya,”Di mana imanmu kamu yang kurang (tidak) percaya?” Kemuliaan jabatan Yesus ada  di dalam diriNya. Bagaimana respon kita terhadap Yesus? Kita hanya percaya secara kognitif  (dalam pikiran saja) atau kita juga melakukan perintahNya? Alkitab berkata,”Jangan kamu khawatir / takut / gelisah” (dikatakan sebanyak 365 kali di Alkitab). Artinya sebanyak 365 hari kita diberikan setiap tahunnya, sehingga setiap hari kita tidak perlu takut. Waktu seminar kebangsaan kemarin, isunya pada tanggal 17 April 2019 mendatang akan ada huru-hara dan pemerkosaan seperti peristiwa pada Mei 1998 dan diharapkan banyak orang termakan isu ini sehingga takut untuk memberikan suara saat pemilu. Pada seminar tersebut diimbau agar kita jangan golput. Mana  yang kita percaya? Pesan di whatsapp yang menakut-nakuti atau firman Allah yang mengatakan ‘jangan takut!’. Pada waktu kita sakit dan terkapar, apakah kita yakin Tuhan Yesus sungguh-sungguh akan menolong?
              Waktu saya pelayanan di Sumatra, ada seorang ibu yang terkena kanker. Ia sebenarnya seorang yang sangat teliti menjaga badannya. Tiap tahun ia memeriksa kesehatan, bandingkan dengan saya yang hanya pernah mengecek kesehatan selama 2 kali selama hidup. Karena ia orang kaya, saat dokter mengatakan tentang penyakitnya, ia merasa sangat terpukul sekali. Ia berkata,”Setiap kali saya mendengar orang bicara tentang kanker, hati saya takut sekali. Karena saya punya keturunan penderita kanker sehingga saya minta dicek setiap tahun”. Semua organ tubuh dicek, namun sekarang ternyata terkena kanker. Akhir tahun 2018 ia cek kesehatan dan dinyatakan bersih. Ternyata di bulan Februari 2019 saat dicek ternyata ia terkena kanker, sehingga ia merasa down sekali.
              Saya berkata, “Ini berat karena penyakit ini dipukul dan dialami. Tetapi Yesus Tuhan  kita tahu memelihara kita. Ia sanggup mengangkat ketakutan.” Karena ibu ini memiliki ketakutan yang berlebihan. Saat membaca Alkitab seolah-olah tidak bicara, saat menjalani ibadah terasa hampa. Yesus Kristus sanggup memelihara. Sejauh mana keyakinan kita bukan hanya kognitif tapi sungguh masuk dalam hati kita. Kalau cuma sebatas pengetahuan, tapi sewaktu menjalani hidup belum tentu merasakannya. Tetapi kalau Kristus benar-benar ada  dalam pemahaman dan hati saya pasti berbeda. Orang yang percaya dengan hatinya berbeda sekali. Ia akan berani mengatakan apa yang Yesus katakan.
              Kitab Injil mencatat wanita yang pendarahan selama 12 tahun seluruh uangnya habis. Ia hanya punya harapan, waktu ada Yesus Kristus , ia hanya ingin menjamah jubah Yesus Kristus. Waktu itu pada orang banyak, tapi hatinya menggerakan-nya untuk menghampiri Yesus Kristus. Kalau kognitif, maka hanya sifatnya pengetahuan sehingga hampa, karena kita tidak mengalami perjumpaan dengan firmanNya. Yesus dalam kita Ibrani digambarkan dengan jelas sekali.
              Memasuki minggu paskah terakhir, seberapa jauh kita mengalami Yesus Kristus yang sungguh hadir dan membawa langkah hidup  kita. Kiranya Tuhan menolong kita.
             



Monday, April 1, 2019

Para Rasul adalah Saksi Hidup tentang Janji Penebusan

Pdt. Jimmy Lucas

Kis 2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.


Moment of Truth

              Moment of truth adalah istilah untuk menyatakan apakah kita siap menghadapi kebenaran kita sendiri. Orang bule mengatakan,” Jim, ini saatnya untuk kamu melihat kebenaran kamu sendiri”. Biasanya istilah ini digunakan saat kita diperhadapkan pada tantangan besar yang mengharuskan kita untuk memilih apa yang benar-benar penting bagi kita. You know what is your truth (apa yang benar-benar penting bagi kita). Memilih mana yang betul-betul kita cintai (sukai). Di hari Pentakosta Para Rasul berhadapan dengan moment of truth mereka. Ketika Roh Kudus dicurahkan , mereka yang melihat, mengejek para rasul sebagai orang-orang yang sedang mabuk di pagi hari. Rasul Petrus kemudian berdiri, kemudian bersama-sama dengan 11 rasul yang lain memberikan apologetika (pembelaan iman mereka). Ini tidak mudah karena tindakan ini bisa menimbulkan konsekuensi serius. Mereka bisa saja dilempari dengan batu sampai mati karena mereka dianggap menghujat. Namun ini adalah kebenaran mereka. Mereka harus melihat dan bisa menunjukkan apakah keyakinan mereka sungguh-sungguh bisa diuji.

Kesaksian Rasul Petrus

Rasul Petrus berbicara tentang 3 hal yang mendasari kesaksiannya (martus , baca Kisah Para Rasul 2:14-40) :

1.     Berdasarkan firman Allah.
Di dalam khotbah, Rasul Petrus mengutip begitu banyak firman Allah.
2.     Ke-mesias-an Yesus.
Dia menunjukkan bahwa Yesus yang disaksikan adalah Mesias yang dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi.
3.     Berita Injil adalah pengalaman yang berpusat pada Yesus sendiri.
Ia bersaksi tentang pengalamannya.

Poin 1 dan 2 terkait dengan apa yang diketahui. Poin 3 adalah terkait pengalaman Rasul Petrus dan rasul-rasul lainnya. Maka para rasul kemudian berkata bahwa kami adalah saksi. Kata “saksi” berasal dari bahasa Yunani yaitu martus.

Kata martus mengandung 3 pengertian :

1.     Saksi di dalam pengertian legal.
Misalnya : kita dipanggil di sebuah pengadilan, maka status saksi kita sebagai saksi hukum (legal). Ketika Rasul Petrus menggunakan kata martus maka sebetulnya ia adalah secara sah dan meyakinkan atas dasar hukum / firman Allah, ia adalah saksi yang legal (kesaksiannya adalah kesaksian yang legal).
2.     Pengertian historis
Ia menjadi saksi karena mempunyai pengalaman masa lalu dengan apa yang disaksikan . Ia bukan saja melihat an memahami tapi ia juga mengalami apa yang dia saksikan.
3.     Kesaksian yang etis.
Rasul Petrus bukan orang yang bersaksi hanya berdasarkan dengan apa yang dilihat / dialami, tetapi secara etis hidupnya mendukung kesaksian itu.

Kata martus mengandung pengertian yang luar biasa. Dia adalah saksi yang sah secara hukum, ia mengalami apa yang disaksikan dan hidupnya setangkup dengan apa yang disaksikan. Rasul Petrus menggunakan kata ini, untuk menunjukkan ia saksi yang sesungguhnya berdasarkan pengalaman bukan hanya pengetahuan. Ini adalah cara para rasul bersaksi.  Ketika Rasul Yohanes menulis suratnya (1 Yohanes 1:1-3)   Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup -- itulah yang kami tuliskan kepada kamu.  Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.  Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.
Itulah metode kesaksian dari para rasul. Para rasul bukan saja menyaksikan pengetahuan saja tapi mereka menyaksikan juga pengalaman pribadi mereka dengan Yesus. Itu yang membuat kesaksian mereka menjadi kuat (powerful). Yesus sendiri menegaskan,”Kita akan menjadi orang Kristen yang berbuah jika kita punya pengalaman seperti itu dan kita menjadi orang Kristen yang berbuah bila kita tinggal di dalam Yesus”. Dalam Yohanes 15:4  Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” Yesus mendorong kita untuk memiliki hubungan yang saling-tinggal. Hubungan di mana saya tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam saya. Hubungan di mana saya mengalami Yesus sebagai hal yang nyata. Ketika kita memiliki hubungan ini, maka kita akan memiliki pengalaman yang nyata dengan Tuhan Yesus dan pengalaman inilah  menjadi modal kesaksian kita kepada orang lain.  
Tidak semua orang suka Gado-Gado Boplo, tetapi tidak ada yang boleh melarang saya untuk berkata bahwa Gado-Gado Boplo enak. Karena itu adalah pengalaman saya dan saya berhak untuk menyaksikan apa pun dengan Gado-Gado Boplo. Jadi saksikan apa yang kita alami!

Saya punya seorang adik ipar dan ia punya seorang adik. Adiknya ini kemudian menikah. Suaminya saat dilihat pertama kali tidak simpatik. Sosok tubuhnya besar sehingga ada yang menyebutnya kodok blentung (kintel, brown bullfrog). Adik ipar saya cantik sekali, mengapa ia bisa mendapatkan seorang ‘kodok blentung’? Di samping itu , kalau ia hanya sekedar gemuk, keringatan dan bawaannya basah terus, tetapi kalau ramah dan baik masih tidak masalah. Tetapi yang ini, malah asem , bau dan tidak ramah. Sehingga membuat kita merasa tidak simpatik kepadanya. Tapi bagaimana pun juga itu pilihan dia. Saya hanya diam saja, tersenyum dan tidak ada urusan. Setelah menikah kami hanya bertemu sekali selama 10 tahun yakni saat imlek. Namun setelah itu saat pertemuan kami yang ketiga , saya menjadi terkejut. Karena sekarang sosok tubuhnya menjadi kecil , berotot dan ia memakai baju yang slimfit. Saya pun bertanya,”Kamu sakit?” Lalu ia pun mulai bercerita tentang produk anti-aging yang dimakannya. Dalam waktu 90 hari berat badannya turun 20 kg! Turun namun bukan berarti sekedar kurus tapi berotot! Dengan antusias dia bercerita tentang produknya yang telah mengubah tubuh dan seluruh hidupnya. Ketika mendengarnya saya menjadi skeptik karena saya punya pendidikan dan  latar belakang di bidang ini. Tanpa menggunakan obat seperti itu, silahkan datang ke dojo saya. Dalam waktu 8 bulan, saya bisa membentuk tubuh menjadi kecil dan berotot juga melalui pelatihan Muay Thai (olah raga nasional kerajaan Thai) di dojo saya. Tapi melihat penampilan orangnya dan bagaimana ia bercerita tentang produk itu dan pengalaman dengan produk itu saya melihat bahwa ia benar-benar bisa berubah! Dari orang yang malas berbicara sekarang menjadi orang yang antusias dan bersemangat. Dari orang yang tidak percaya diri sekarang menjadi orang yang penuh percaya diri. Dari orang yang cuek menjadi orang yang penuh perhatian terhadap lawan bicara. Biasanya dulu kalau diajak bicara membuang muka, tetapi sekarang saat berbicara ia memperhatikannya. Orang ini berubah 180 derajat dari orang yang sebelumnya saya kenal. Jadi saya bertanya, “Produk apa yang kamu pakai?” Akhirnya saya membelikan 1 paket produknya untuk istri saya. Saya yang awalnya skeptis, tapi saat melihat hidupnya berubah, maka mau tidak mau saya membelinya. Itulah kekuatan sebuah testimoni (kesaksian)!

Suatu kali saya jatuh sakit dan pergi berobat ke seorang sinshe (tabib Tionghoa tradisional). Dia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia dan  hanya menggunakan bahasa Mandarin, kebalikannya saya hanya bisa berbicara bahasa Indonesia dan hanya mengerti sedikit bahasa Mandarin. Ia kurang lebih bertanya ,”Kamu kenapa?”. Saya menjelaskan,”Badan saya sakit semua, leher tidak enak seperti dicekik. Perut mual ingin muntah”. Lalu ia membaui mulut saya dan kemudian berkata,”Organmu semua hancur! Hati , limpa , jantung sudah rusak semua!” Sedikit terkejut saya bertanya,”Penyebabnya apa?” Dia menjawab,”Penyebabnya adalah kamu stress! Kamu punya cita-cita tinggi tapi tidak tercapai.” Saya sendiri tidak tahu bahwa saya sedang stress. Bagaimana mungkin dalam Yesus merasa stress? Dia kemudian bertanya lagi,”Kamu menyembah apa?” Saya menjawab,”Saya pergi ke gereja.” Dia pun berkomentar, ”Kalau melihat dari mukamu dan kalau orang Kristen sepertimu maka saya tidak mau menjadi orang Kristen!’ Dia berkata,”Kalau orang Kristen model dan mukanya seperti kamu” padahal  dia bicara dan tidak tahu dosa saya, tapi melihat dari muka saya yang sepertinya berbeban berat, tidak damai dan tidak ada sukacita, maka dia lebih baik tidak ikut Tuhan Yesus. Kalimatnya itu mengubah hati saya walaupun muka saya tetap kereng (garang) karena tuntutan kerjaan. Satu hal yang saya pelajari bahwa kesaksian saya penting karena saat saya berbicara tentang Yesus, kalau kita berbicara tentang ‘produk’ bagus, tapi kamu sendiri tidak menunjukkannya siapa yang akan percaya?
Saya pernah berkata ke istri, “Papa saya terkena stroke selama 6 tahun. Saya tidak mau ada orang seperti itu. Saya mau ibu-ibu, anak remaja dan orang dewasa punya badan yang langsing. Saya percaya orang yang berlatih dengan Muay Thai tubuhnya akan langsing. Mendengar perkataan saya, istri saya memperhatikan saya dari atas (ujung rambut) sampai ke bawah (ujung kaki) dan kemudian dia berkata, “Tidak bisa!”. “Kamu jangan meremehkan, karena saya belajar karate dari umur 8 tahun!” sanggah saya. Dia berkata,”Bukan masalah karatenya. Coba kamu mengaca!” Saya tahu alasannya dan itu menusuk hati saya. Saya tidak gemuk tapi gendut. Gemuk berbeda dengan gendut. Kalau orang gemuk perutnya masih merata, sedangkan orang gendut akan terlihat di lingkar pinggang. Dengan tinggi saya 163  cm, tapi linggar pinggang saya saat itu 36 cm.  Jadi saya mengerti apa maksudnya maka setelah itu saya berlatih Muay Thai sehingga dalam waktu 3 bulan lingkar pinggang saya turun menjadi 32 (ini masih belum ideal) dan saya kerja lebih keras sehingga dalam waktu seminggu tinggal 29 sampai sekarang. Jadi hal ini bisa menjadi testimoni Muay Thai bisa membuat tubuh menjadi langsing.
Kalau kita ingin berkata, “Yesus baik , luar biasa dan dahsyat tapi kalau tidak mengalami sendiri, bagaimana bisa bersaksi? Itu hanya masalah pemahaman (teori) saja dan semua orang bisa bicara seperti itu. Orang akan lebih tertarik dari apa yang betul-betul kita alami.” Apa susahnya bersaksi tentang Tuhan? Di daerah Mangga Besar ada restoran Kam Seng yang buburnya enak walau pun ada yang berkata,”Bubur yang ada di sana lebih enak!”. “Kok tahu?” “Karena saya pernah makan!” Kalau kamu sudah merasakan makanannya , maka kita baru bisa dengan mudah mengatakannya. Mengapa kita tidak berani bersaksi tentang Yesus? Karena kita tidak pernah mengalaminya! Saya bingung karena ada orang Kristen yang tidak pernah menyaksikan tentang Tuhan Yesus. Selama ini ngapain saja di rumah dan di gereja? Bersaat teduh tidak? Bergumul dengan Tuhan tidak? Waktu mengalami pergumulan dalam kehidupan, apakah kita bersungguh-sungguh mencari Tuhan Yesus dan berpegang padaNya? Seperti yang dialami oleh Yakub, di mana saat bertemu dengan Esau ia merasa gemetar. Di dalam ketakutan, ia menggandoli Allah (berpegang pada Allah) dan ia terus memegang Allah. Setelah itu baru ia bisa bercerita pengalaman dia dengan Tuhan,”Inilah lho Yesus yang saya alami. Ini lho Tuhan Yesus yang menolong saya dan melakukan mujizat buat saya.” Cerita ini nyata. Baru dari situ kita bisa cerita, Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa, Yesus bangkit kembali untuk memberi kita hidup yang baru , Yesus naik ke surga untuk menyediakan tempat bagi kita, Ia akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan mati tetapi starting point-nya selalu memiliki pengalaman dengan Yesus.

Di tempat saya melatih Muay Thai, saya tidak membuat dojo untuk melatih kekerasan tapi membangun keluarga. Saya tidak mengurus orang latihan Muay Thay saja tetapi saya selalu kepo. Saya suka bertanya ,”Kuliah sudah lulus belum?”, “Bagaimana keluarga?”, “Pekerjaan lancar atau tidak?” dll. Suatu kali ada yang datang ke dojo dengan muka cemberut dan pulang dengan muka cemberut lagi. Muay Thay tidak membawa keselamatan. Saat coba bertanya ,”Ada apa denganmu?” dan  ia mulai bercerita tentang bagaimana ia bergumul tentang kuliah nya yang hampir drop out, ia bercerita tentang ini-itu. Saya mendengarkan dia bercerita. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Lalu setelah itu dia bercerita untuk kedua kalinya minggu berikutnya dan setiap kali bertemu ia bercerita lagi tentang hal yang sama. Mungkin karena ada yang mendengarkan. Hingga suatu kali, saya berkata, “Cukup!” Saya bertanya, “Kamu pernah puasa?” Dijawab,”Pernah!” “Puasa apa?” saya kembali bertanya. “Kan kalau mau Jumat Agung, kita puasa”, jawabnya.  “Tidak, tidak! Bukan itu yang saya maksud. Kalau saat Jumat Agung berpuasa maka itu adalah puasa ritual. Banyak orang di jam-jam itu puasa, tetapi apakah kamu puasa dalam pergumulan mu?” Dia menjawab,”Tidak pernah!” Saat ditanya lagi,”Mengapa tidak pernah puasa?” Ia terdiam. Saya berkata, “Kemarin ada seorang murid Muay Thai dan saya minta dia diet.” Dia langsung berkata,”Koko, saya diet bukan sekedar diet. Besok saya puasa selama 2 minggu.” Saya bertanya lagi,”Kamu kuat tidak ikut Muay Thai lagi?” “Kuat, Ko! Tenang saja! Pokoknya saya tekadkan untuk puasa 2 minggu!” Saya bertanya lagi,”Memang  kamu ada pergumulan apa? Mengapa kamu bergumul lalu puasa?” Dia menjawab,”Waktu punya pergumulan, saya berpuasa. Dan ternyata Tuhan menjawab saya dengan luar biasa!” Saya terdiam. Ia punya pengalaman sehingga ia bersaksi bagaimana ia bergumul bersama Allah dan bagaimana ia menggelandoti Tuhan melalui puasa. Saya berkata pada orang lain,”Dia puasa, kamu puasa tidak?” Ada berapa agama di Indonesia?” Dijawabnya,”Enam”. Dari semuanya hanya Tuhan Yesus yang bangkit dari orang mati. Itu menunjukkan Yesus hidup. Kalau Yesus hidup berarti Ia ada di sini bersamamu sekarang. Mengapa kamu menganggap Dia angin lalu. Mengapa kamu tidak melibatkanNya dalam pergumulanmu, menggandoli Dia, mengganggu Dia  dan bersikap “kurang ajar” terhadap Dia? Jadi orang Kristen, Yesus itu Tuhannya, mengapa tidak bersikap kurang ajar dengan Tuhan Yesus (bukan dalam pengeritan ‘mengata-ngatain’)? Beranilah sedikit! (Tuhan saya mau ini, Tuhan, tetapi mengapa tidak bisa?. Tolong Tuhan! Tuhan tolong  sembuhkan sakit kanker tetapi biarlah kehendakMu terjadi!” Mengapa berdoa seperti itu? Belum bergumul sudah menyerah. Ngototlah berdoa (ketuk pintuNya) tiap malam. Sembuhkanlah ya Tuhan! Mengapa tidak pernah berdoa seperti janda yang mengganggu hakim setiap malam sehingga hakimnya menyerah? Mengapa tidak datang seperti seorang sahabat yang minta roti, “Tolong dong, kasih!” Mengapa tidak percaya ketika Yesus berkata,"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.sehingga pintu dibukakan kepadamu? (Matius 7:7). Mengapa tidak minta gunung pindah sekalian? Iman apa yang kamu punya?  Tempe! Bergumullah dengan berani, minta dengan sungguh-sungguh,gedor pintu Tuhan,  alami Dia sehingga kalau ditolakpun tahu ternyata Tuhan tidak menjawab doa saya karena Tuhan tahu yang lebih baik dari saya.” Alami Tuhan dan bergumullah bersama Tuhan setelah itu ceritakanlah kepada  orang lain. “Saya sudah berdoa puasa, tetapi Tuhan tidak jawab walau sudah berdoa seperti itu!” karena Tuhan sudah menyediakan yang lebih baik dan ternyata itu benar. Tuhan saya hidup! Ia mati di atas kayu salib untuk saya. Ia tidak berhenti kaena mati, tapi bangkit kembali dan hidup bersama saya.” Jadi orang Kristen , jangan tidak pernah mengalami Tuhan! Tuhan itu hidup dan bangkit dari orang mati. Satu-satunya pendiri agama yang seperti itu. Mengapa tidak mengalami Dia dan kalau tidak mengalami Dia bagaimana kita akan bersaksi tentang Dia? Mari, jangan jadi orang Kristen yang tidak mengalami Dia! Tinggal terus di dalam Yesus, terus berdoa, terus cari kehendakNya, terus intim denganNya , sehingga bisa bercerita Kristus yang termanis dan terbaik buat kita.  Kalau hanya tahu saja , orang tidak setia dan hanya bisa beragumentasi.
Pada awal abad 20 ada 2 pengkhotbah akan yang mengubah wajah kekristenan yaitu Billy Graham (1918-2018) dan Charles Templeton (1915-2001) yang sangat pintar sekali. Suatu kali mereka berdua bertemu dan Billy Graham kalah berdebat dengannya. Kemudian Billy Graham masuk ke hutan dan berlutut lalu berdoa, “Tuhan, saya orang bodoh. Saya tidak tahu hal-hal lain dan tentang teologi. Satu hal yang saya tahu adalah Alkitab adalah firman Allah dan Yesus adalah firman Allah. Saya percaya kepada Yesus dan Alkitab. Dalam nama Yesus saya berdoa. Amin”. Ia memutuskan untuk tidak tahu apapun. Yang dia tahu hanyalah Alkitab dan ‘saya mengalami Yesus’ sedangkan teologi tidak perlu pintar. Lawan debatnya itu kemudian masuk Universitas Westminster dan menjadi orang luar biasa pintar tapi akhirnya menjadi ateis dan mati bunuh diri. Billy Graham setiap kali berkhotbah memulai dengan kalimat, “and the Bible says”. Setiap kali berkhotbah ia bisa berkata begitu sebanyak 150 kali. Apakah iman nya sederhana dan bodoh? Imannya hidup karena ia beriman pada apa yang dia alami bersama Yesus. Yesus untuknya bukanlah teori dan teologi tetapi pribadi yang nyata dan ia hidupi. Dari sana ia punya kesaksian yang kuat!

Saya tidak melarang saudara bersaksi. Tetapi saya menantang saudara untuk mengalami Yesus setiap hari seperti pada lirik lagu Day by Day (1971, Stephen Schwartz dan John-Michael Tebelak). Day by day, Dear Lord, of thee three things I pray: To see thee more clearly, Love thee more dearly, Follow thee more nearly, Day by day. Hari lepas hari., Tuhan, 3 hal yang saya doakan adalah melihatMu lebih jelas, mengasihiMu lebih dalam, mengikutiMu tepat di belakang. Tiga hal ini saja. Alami Yesus! Ceritakan Yesus! Alami Yesus ceritakan Yesus. Alami manisnya Yesus, ceritakan manisnya Yesus. Alami kemahakuasaan Yesus , ceritakan Yesus yang berdaulat. Alami Yesus yang melakukan mujizat ,ceritakan mujizat yang Yesus lakukan. Alami Yesus yang menyelamatkan, ceritakan kesalamatan dari Yesus. Yesus hidup! Mari kita ambil sikap hari ini bahwa hari ini saya mau mengalami Yesus dan saya mau menceritakan Yesus.