Thursday, July 12, 2018

Melakukan Firman-Nya Mengakui KedaulatanNya





Ev. Susan Kwok

Keluaran 14:1-2, 11-14
1   Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian:
2  "Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut.
11  dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?
12  Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini."
13  Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.
14  TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."

Pendahuluan

              Dengan melakukan firman Tuhan, itu menjadi tanda bahwa kita mengakui kedaulatan Tuhan. Dengan kata lain kita mengakui kedaulatan Tuhan ketika kita melakukan firman Tuhan. Ketika firman Tuhan disampaikan kepada kita, baik kita mendengarnya atau tidak, mempercayainya atau tidak, mau melakukannya atau tidak maka hal itu akan berdampak pada sikap kita apakah kita akan mengakui kedaulatan Dia atas diri kita atau tidak. Kalau kita mengakui kedaulatan Dia atas hidup kita, maka sebaliknya kita juga akan melakukan, mentaati dan mendengarkan firman Tuhan.

Belajar Firman Allah Berbeda dengan Belajar dari Allah.

Banyak orang belajar firman Allah tetapi ada orang yang berlajar dari Allah. Ini adalah dua hal yang tidak sama. Keduanya penting tapi tidak sama. Ketika belajar tentang Allah, maka Allah itu menjadi objek  (materi, bahan) yang ingin kita selidiki dan ketahui. Di sini kita mencari tahu siapa Allah, bagaimana Dia dsbnya. Belajar tentang Allah bisa tidak mempunyai akibat apa-apa dalam hidup kita, karena Allah itu menjadi hanya sebagai sumber atau objek penggalian, perdebatan dan pengetahuan. Itu sebabnya seorang Kristen yang hanya datang ke gereja atau dalam hidupnya sehari-hari hanya belajar tentang Allah, seringkali tidak bisa mengaitkan, mengintegrasikan, ,menghubungkan antara apa yang Allah katakan (apa yang diketahui tentang Allah) dengan kejadian sehari-hari yang dialami (baik dalam segala hal yang pahit maupun yang enak dalam hidupnya). Dia tidak bisa mengaitkan firman Allah dengan hobi , talenta bahkan  pelayanannya. Karena baginya, Allah hanya menjadi bahan yang dipelajari (tidak ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari). Ini berbahaya. Itu sebabnya ketika tidak berkaitan terus-menerus dengan Allah dalam suatu hubungan yang hidup maka dosa yang selalu mengintai seperti harimau yang buas itu akan segera menyergapnya ketika ia lemah. Allah itu seperti sesuatu yang jauh (tidak ada hubungan dengan hidupnya).
              Akhir-akhir ini ada berita yang memalukan korps hamba Tuhan, gereja dan denominasi gereja. Seorang pendeta yang sudah berusia setengah baya dulu pernah mengambil dan memelihara seorang anak perempuan. Anak itu kemudian menjadi besar dan pergi kuliah. Ternyata apa yang terjadi? Sang pendeta melakukan hubungan percintaan dengan anaknya tersebut! Ketika anaknya ini ternyata punya hubungan lain dengan seorang pemuda di kampusnya, maka sang pendeta membunuh anaknya di kamar mandi (WC) gereja. Hal ini mengejutkan sekali ,terlebih lagi pelakunya menyandang jabatan pendeta. Sulit membayangkan hati jemaatnya ketika mengetahui kejadian tersebut. Ada juga sepasang mahasiswa-mahasiswi teologi (belajar tentang Alkitab dan Allah) berpacaran. Namun kemudia terjadi pertikaian sehingga yang cowo membunuh yang cewe.

Allah sebagai Pribadi yang Mendidik

Ketika seseorang yang percaya kepada Kristus (baik dia pendeta, calon rohaniawan, siswa sekolah teologi atau umat biasa yang belajar Alkitab) maka saat belajar firman Allah, seharusnya ia tidak berhenti hanya belajar tentang Allah. Namun ia harus masuk lebih jauh yaitu belajar dari Allah. Belajar dari Allah berarti kita melihat Allah sebagai pribadi yang mengajar dan mendidik kita. Kalau belajar dari Allah maka Allah secara langsung bersentuhan dengan hidupnya. Kata-kataNya mau didengar dan dicermatinya dan selalu punya relasi dengan Dia. Sehingga dalam hidup yang penuh kekacauan dan dosa ini , maka ketika mulai  dilingkupi dengan hal-hal yang menyesakkan hidup (kejadian sulit atau kebencian) atau sebaliknya sesuatu yang menyenangkan, maka ia bisa mengaitkannya dengan Allah. Dengan mengaitkannya dengan Allah , dalam keadaan sukacita  maka ia bisa bersyukur (berkat Allah luar biasa). Ketika sedang senang atau sedih maka ia bisa mengaitkannya dengan Allah (Allah ingin kita belajar apa).

Belajar dari Allah Melahirkan Sikap Hormat kepada Allah

              Belajar tentang Allah dan belajar dari Allah akan melahirkan sikap yang berbeda baik saat kita beribadah, menjalani kehidupan kita, bekerja di perusahaan atau saat mengelola keluarga kita. Sikap kita berbeda bila kita hanya mengenal Allah dengan sikap kalau kita belajar dari Allah. Itu sebabnya kalau kita belajar dari Allah maka kita akan tahu bahwa Dia adalah pribadi  yang berkuasa, mengasihi, adil , tidak terduga cara kerjaNya, tidak terselami hati dan tujuanNya, tidak bisa dikekang oleh waktu dan tuntutan kita. Walau kita berdoa 10 kali sehari, kalau Dia belum berkata iya, Dia tidak akan berkata iya. Ia tidak bisa dituntut dan disetir oleh kita. Dia bebas melakukan tindakanNya seorang diri dan kita tidak bisa berbuat apa-apa karena kita hanyalah manusia fana yang terbatas karena ciptaanNya. Ini akan melahirkan sikap di satu sisi perasaan yang tidak berdaya (merasa kecil-hina-berdosa-fana) tetapi di sisi lain akan melahirkan ketergantungan yang mutlak kepada dia yang berkuasa. Saya tidak berkuasa, berdaya, tidak punya jalan keluar tetapi Dia berkuasa, berdaya dan bisa memberi jalan keluar. Akhirnya ini akan melahirkan sikap hormat kita yang  luar biasa kepada Allah. Kalau kita belajar dari Allah akan melahirkan sikap hormat kepada Allah dengan luar biasa.

Allah Menuntun UmatNya

              Kita mau belajar bagaimana Allah mengajar orang Israel untuk melihat siapa Allah yang menuntun mereka keluar dari tanah Mesir. Allah tidak mau Israel cupat, picik, kerdil hanya tahu Allah dari satu sisi. Allah ingin Israel belajar berbagai segi dari Allah yang luar biasa, Allah yang berdaulat yang bisa membawa keluar dari Mesir, baik, perkasa namun Dia juga mau mengajar sisi lainNya dalam paragraph Kitab Keluaran yang dibaca.
              Dalam Keluaran 13:17-22, LAI mengatakan “Allah menuntun umatNya”. Saya membayangkan bangsa Israel enak sekali karena tidak banyak pergumulan, pertanyaan dan penafsiran, karena Allah secara langsung  dan jelas menuntun mereka. Kalau tiang awan di siang hari berhenti atau tiang api di malam hari berhenti, maka orang Israel berhenti. Demikian pula sebaliknya. Itu tinggal lihat saja dengan mata. Mau jalan dan berhenti begitu jelas dalam pernyataan, jawaban dan tuntunanNya. Sepertinya tidak susah jadi orang percaya. Hal ini terkadang membuat kita iri dan ingin juga mengalaminya. Dengan demikian kalau kita berada di persimpangan jalan (pilih A atau B) maka Dia langsung menjawab pilihannya. Atau saat bingung memilih destinasi (saya mau liburan ke Tegal atau ke Bali?) bila Tuhan menjawab langsung ke Bali maka kita tinggal ke Bali tanpa perlu berpikir.
              Ada orang Kristen tertentu yang diajar, “Kamu berdoa, tutup mata lalu buka Alkitab secara sembarangan, tunjuk jarimu mau yang mana maka itulah jawabanNya.” Ternyata banyak yang melakukan hal itu. Hal ini bodoh. Bagaimana kalau giliran kita menunjuk ke Yudas yang keluar menggantung diri bagaimana? Maka kita akan ikut gantung diri? Tapi ada orang Kristen yang mau seperti itu karena mengikut Tuhan begitu saja. Yang dilakukan Allah sudah benar, menuntun Israel begitu gampang, jelas dan lugas, tanpa perdebatan. Berjalan, berhenti, berkemah mudah. Tetapi itu hanya satu sisi. Allah ingin Israel mengenal Allah di sisi lain. Supaya mereka mengenal Allah yang komplit dan seimbang sehingga akan membuat mereka semakin taat, tahu diri, tahu berjalan dalam hidup seperti apa.
              Berfirmanlah Tuhan kepada Musa, di ayat 2, “katakan kepada orang Israel untuk balik kembali.” Tempat itu sudah dilewati. Allah membawa orang Israel keluar Mesir dengan jalan memutar dan tempat ini sudah dilalui. Allah melakukan itu karena Allah tahu Israel ibarat bayi, jadi Allah kasih yang enak dulu supaya orang Israel merasa lega dan relaks dahulu. Tetapi kemudian Allah berkata, “Balik kembali berkemah di Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon.” Mereka disuruh utnuk berkemah di sana, suatu tempat yang telah dilewati tapi diminta untuk putar kembali. Ini hal yang aneh. Mengapa? Bukan hanya karena tadi mereka melewatinya, tetapi tempat itu sebenarnya merupakan suatu jalan buntu. Kalau dikejar musuh sudah susah balik lagi. Karena Baal-Zefon di Utara ada benteng Mesir yang terbuat dari batu cadas yang luar biasa besar dan tinggi. Maka saat perang Mesir berlindung di baliknya sehingga musuh susah menyerang mereka. Mereka ngeri melihat benteng Mesir karena kalau ada apa-apa apakah mereka harus balik ke sana. Sedangkan kalau orang Israel ada apa-apa mau lari ke mana? Di Selatan ada padang gurun yang luas dan terik, yang sejauh mata memandang hanya hamparan pasir sehingga  orang Israel bisa mati kalau lari ke sana. Di Barat merupakan tempat tinggal mereka saat menjadi budak di kota Raamses dan Gosyen, Tuhan sudah menyuruh mereka keluar dari sana , tidak mungkin mereka kembali ke sana lagi. Di Timur pas di hadapan mereka adalah laut Teberau yang luas, kalau ada apa-apa bagaimana? Kalau jadi umat Israel kita berpikir,  “Mengapa Tuhan suruh saya harus balik lagi?” Bukankah ini keputusan yang bodoh dan konyol kalau ada apa-apa bagaimana dan ternyata ada apa-apa.

Mau-Maunya Tuhan (Kedaulatan Tuhan)

              Di ayat 11-12 ketika menoleh ke belakang mereka melihat debu hasil kuda-kuda tentara Mesir yang berlari mengejar mereka. Mereka mendengar deru seperti deru suara perang karena prajurit yang gagah perkasa mengejar dan ingin membunuh mereka. Tuhan tahu itu yang akan terjadi. Kalau membacanya,Tuhan luar biasa unik. Siapa yang menjebak siapa? Waktu Tuhan suruh mereka balik, Tuhan berkata ke Musa,”Aku akan mengeraskan hati Firaun. Nanti Firaun akan berpikir karena Israel berkemah di Baal-Zefon berarti Israel tersesat, lalu dikejar. Pikiran Firaun memang seperti itu. Ia mengira Israel yang terjebak dan dikejar. Siapa yang mengejar siapa? Tuhan yang sedang mengintai Mesir atau Mesir yang mengelabui Israel sehingga Israel berada di sudut buntu? Tuhan yang membawa mereka ke jalan buntu. Walaupun Firaun berpikir sudah bisa mendesak Israel sampai ke jalan buntu, padahal Tuhanlah yang membawa. Pada kelas Tiranus yang lalu yang membahas tentang kedaulatan , Pak Tommy Matakupan menggunakan istilah yang cukup unit dan dikenal, “Tuhan punya mauNya sendiri kalau sudah punya mau karena Dia berdaulat melakukan apa pun yang Dia mau. Mau-mauNya Tuhan. Rencana-rencana Tuhan terkadang tidak bisa kita terima karena di otak kita Tuhan itu hanya satu sisi yang kita kenal. Tuhan itu baik, tidak mungkin mendatangkan celaka, tidak mungkin membiarkan kita di jalan buntu, itu Tuhan yang kita bangun menurut konsep kita sendiri. Tuhan ingin orang Israel belajar. Tuhan punya kehendak yang kadangkala jauh beda dengan pikiran kita. Ketika hal itu berbenturan dengan pikiran kita, apakah kita tetap percaya kepadaNya, menghormati Dia dan mengakui kedaulatan Dia atau tidak? Itu yang Tuhan ingin ajarkan. Itu sebabnya ketika orang Israel melihat itu mereka jadi takut dan panik.
              Pada ayat 11, untuk pertama kali setelah keluar dari Mesir dikatakan mereka berseru-seru bersama-sama kepada Allah oleh karena ada bahaya yang mengejar mereka. Tidak salah untuk berseru kepada Tuhan. Ketika terhimpit dan terjepit kita minta pertolongan kepada Allah, tidak salah. Masalahnya ada di mana? Orang Israel berseru-seru. Kita juga sering berseru-seru kepada Allah dengan melihat Allah itu memiliki cara pandang yang berbeda dengan cara pandang kita. Ketika takut dan berseru kepada Allah, kita melihat Allah tidak lebih seperti mesin ATM. “Tuhan ini lintah darat sudah mau datang dan mau membunuh saya tapi saya tidak punya uang, Tuhan tolong seperti mesin ATM.” Saat kita berdoa itu adalah kode agar Allah seperti mesin yang keluarkan uang. Itu yang sering kita pikirkan tentang Allah. “Tuhan, bagaimana dengan hidup saya ini? Anak saya begini dan suami saya begini-begitu, bagaimana ya Tuhan?” Melihat Allah saat berseru tidak lebih seperti bola kristal seorang peramal yang berkata, “Sabar ya anak, Setahun ini kamu susah. 2 tahun lagi kamu akan hebat, 3 tahun lagi kamu akan mendapat jodoh, 4 tahun lagi kamu akan menjadi direktur dsbnya. Itu melihat Allah seperi itu.
              Saya punya seorang kenalan yang jauh lebih tua dari gereja lain. Ketika keluarga punya masalah yang berat dan tidak tahu mau bicara apa sakit beratnya. Ia menjadi tidak sabar suatu hari ia berkata,” Saya mau cari peramal. Karena berdoa kepada Tuhan melalui pendeta-pendeta percuma. Baik pendeta dari gereja A, B,C dstnya tidak selesai masalahnya, jadi ia mau cari peramal supaya tahu jalan keluarnya. Siapa dia? Dia seorang aktifis, berkali-kali menjadi majelis ternyata hanya belajar tentang Allah, tidak belajar dari Allah. Cara dia berpikir tentang Allah dan cara kerjanya seperti yang ia mau. Banyak orang seperti ini. Ketika ada masalah baru ketahuan kita seperti apa. Tetapi masalah itu akan datang tiba-tiba, siapkah kita? Waktu masalah itu datang, kita seperti apa di hadapan Allah? Itu akan ketahuan.
              Di dalam ayat ke 11, dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Israel mulai bernostalgia mengenang masa lalu yang indah. Dulu saya di Mesir walaupun tidak ada Tuhan, hidup lancar dan sukses dsbnya namun ketika dituntun Tuhan mengapa malah seperti ini ya? Saya sering mendengar orang berbicara seperti itu. Dulu sebelum saya kenal Tuhan, sukses dan lancar namun ketika sudah mengenal Tuhan dan mau melakukan firman Tuhan mengapa malah jadi susah? Pernah berpikir tidak, “Apa dan cara bagaimana Tuhan mendidik kita dewasa, kuat dan tidak hanya bayi yang selalu diberi minum susu saja , tetapi mulai diberi makanan keras supaya gigi dan kakinya kuat dan nalarnya jalan. Tuhan ingin kita menjadi pribadi yang kuat tetapi selalu ingin mengenang masa lalu seolah-olah menyesal kita mengenal Tuhan. Kasihan juga. Terkadang saya berpikir,”Ada manusia yang merasa tidak ada untungnya mengenal Tuhan.” Kadang saya berpikir, “Tuhan jangan kasihani dia, karena dia tidak tahu diri karena merasa mengenal Tuhan tetapi tidak ada untungnya.”
              Lalu mereka berkata ke Musa, Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." Ini keadaan terjadi karena salah kamu. Saat takut dan panik orang menyalahkan orang lain. Israel menyalahkan Musa. Kalau kita menyalahkan Tuhan, pasangan kita, orang-orang di sekitar kita, pemimpin kita (perusahaan, gereja, ayah kita dll). Kalau panik dan takut bisanya menyalahkan orang lain. Ini manusia dan Israel sudah mencontohkannya untuk kita pelajari. Keluaran 14:1-2;11-12, saya beri judul ,”Ikut Allah akan bertemu jalan buntu” walau tidak semua jalan akan buntu tetapi siap-siap saja suatu kali akan bertemu jalan buntu karena  jalan buntu diberikan Allah untuk mendidik kita.
              Keluaran 14:13-14 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.  TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." “Janganlah takut. Berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN” adalah perintah. Manusia kalau panik itu selalu suka lari dari kenyataan. Kalau tidak lari dari kenyataan, maka berkelahi satu dengan lain atau mencari kesalahan orang lain. Kalau saya takut apa yang akan saya lakukan yang bisa menjadi gambaran untuk banyak orang. Mulut tidak berhenti ngomong. Omong ke sana-sini, tentang kesusahan pribadi, omong terus  tidak ada berhenti-hentinya. Dengan harapan orang yang diajak bicara bisa melegakan, membantu, tetapi tidak lega juga dan terus omong lagi, kasih tahu ke semua orang. Pada ayat 13-14, Tuhan katakan,”Jangan takut dan jangan lari. Aku akan berperang bagimu.” Bagaimana cara Allah berperang bagi orang Israel? Allah bisa memberhentikan tiang awan, menjadi benteng antara orang Israel dan Mesir supaya orang Mesir tidak bisa mencapai mereka dan agar orang Israel tidak terus-menerus melihat bangsa Mesir yang sedang mengejar mereka (tiang awan menghalangi). Allah membuka satu jalan di Laut Teberau dan Allah mengacaukan sehingga tidak ada tentara Mesir yang selamat. Seorang ahli arkeologi dan sejarah mencari tahu dan mencatat sejak Keluaran pasal 14, ketika tentara Mesir dan Firaun mati di tengah-tengah Laut Teberau, di daerah sebelah Timur ini sampai 20 tahun lebih orang Mesir tidak berani menginjakkan kakinya ke daerah ini apalagi memperluas kerajaannya sampai ke tempat ini karena mereka trauma. Karena setiap kali mereka mengingat kisah Laut Teberau mereka mengingat kekalahan mereka yang luar biasa. Karena mereka berperang bukan melawan orang Israel tetapi melawan sesuatu atau seseorang yang tidak bisa mereka lihat wujudnya. Mereka seperti melawan suatu pribadi yang betul-betul hebat luar biasa dan tidak bisa mereka sentuh. Orang Mesir sedemikian trauma terhadap kejadian ini. Apa sikap orang Israel? Kalau musuhnya trauma sampai puluhan tahun, apakah Israel memuji Tuhan sampai puluhan tahun? Jawabannya tidak!  Itulah manusia. Itulah sebabnya Tuhan mau menghajar Israel dan menghajar kita semua. Orang yang tidak kenal Tuhan bisa trauma melihat perbuatan kita tetapi orang yang mengalami kasih Tuhan, sebulan sudah lupa akan kebaikan Tuhan seolah-olah Tuhan tidak pernah melakukan kebaikan terhadap mereka. Israel di Keluaran 15-17, pada bulan yang kedua hari yang kelima belas (2 bulan lebih sedikit) mereka bersungut-sunggut karena tidak ada air. Walau Tuhan sudah memberi manna, namun baru berjalan mereka lupa lagi dan berkata, “Tuhan, aku mau daging dan roti.” Ini manusia. Mengapa Israel dan kita hari ini Tuhan membuat kebaikan, bisakah selama 20 tahun kita tidak lupa? Kalau bisa begitu betapa banyak kebaikan Tuhan dan itu membuat kita seumur hidup tidak akan pernah bisa melupakannya

FirmanNya Membentuk dan Membuat Taat

Roma 15:4   Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semua yang tertulis di dalam firman Tuhan dan kisah yang baru kita dengar terutama bagian itu menjadi satu hal yang Allah berikan kepada kita untuk membentuk kita agar kita bisa hidup taat kepada FirmanNya dengan demikian kita bisa mengakui Allah itu benar-benar mengakui bahwa berdaulat dalam hidup kita. Karena kita sudah biasa hidup dan berpikir dengan kekuatan dan pikiran sendiri , berjalan dengan cara kita sendiri. Israel selama ratusan tahun biasa membaca tulisan Mesir, sudah biasa dididik dalam didikan Mesir, biasa melihat Baal Mesir, biasa dipimpin oleh orang-orang Mesir yang tidak mengenal Tuhan. Pikirannya sudah terkontaminasi. Allah perlu membawa mereka keluar , masuk bertemu jalan buntu di Baal Zefon sehingga mereka dibentuk oleh Tuhan. Bagaimana dengan kita? Semakian kita karatan dalam kebiasaan-kebiasaan buruk kita, maka semakin kita perlu jalan buntu-jalan buntu untuk bisa mengikis kita. Kebiasaan-kebiasaan, cara pikir yang membuat kita sulit mengakui kedaulatan Allah, sulit mentaati firman Allah, perlu dikikis. Karena kalau tidak, hal itu bisa membawa kita pada jurung maut. Kristus yang sudah memerdekakan kita dari status kita, Dia juga ingin kita merdeka di dalam segala pemikiran dosa yang pernah mengungkung kita. Tidak cukup percaya Yesus yang merupakan awal, tapi selanjutnya perlu bertumbuh dalam pemikiran kita yang kudus, sikap terhadap firman dan Tuhan, kita harus benar-benar menjadi orang-orang merdeka.
              Saat libur pergi ke suatu gereja di Malang. Ada hal yang membuat saya kesal. Saya merasa senang saat mendengar firman Tuhan. Tapi sejak awal masuk ibadah, perempuan -perempuan di sebelah saya ngobrol terus. Itu membuat saya terganggu. Apa yang digosipkan? Apa sudah tidak bertemu selama 30 tahun? Apa tidak ada waktu sebentar lagi selesai ibadah baru bicara? Ini bicara terus sejak liturgis masuk dan membawa puji-pujian kepada Tuhan. Ketiga  perempuan tersebut membuka handphone , ternyata mereka melihat galeri foto. Lalu mereka membicarakan tentang foto-foto tersebut. Saya gregetan dan kesal. Mereka melihat saya tapi saya diamkan saja. Saya berkata ke mu-shi, “Saya kesal.” Mu-shi meminta saya mendiamkannya saja. Sampai tiba waktu khotbah juga begitu. Kalau dari lagu pujian sampai khotbah mereka begitu,lau apa yang didengar mereka? Saya tidak menghakimi orang, tetapi kebiasaan jelek ini bisa membuat celaka. Akhirnya karena kesal, saya ‘balas dendam’. Waktu diminta berdiri dan salam-salaman satu dengan lain, saya berdiri namun saya tidak mau salaman dengan mereka. , saya pergi keluar dan salaman dengan orang lain. Sebelum bicara belum selesai masalahnya,tapi tidak bertemu mereka lagi.
              Kemarin saya menonton Jurassic Park. Dari lampu belum dimatikan, lampu dimatikan sampai berakhir filmnya, di pojok ada 8 orang anak remaja  (sekitar 12-15 tahun) mereka bicara seperti belalang, Belum lagi sinar HP nya. Mereka lihat ke sana -sini. Saya merasa kesal dan semua orang sudah meminta mereka diam. Tapi tetap tidak diam. Saya tidak tahu mereka tahu tidak ceritanya. Mereka mau bayar Rp 45.000 untuk ke gedung bioskop dan main handphone. Saat saya antri di WC mereka juga ada dan mereka tidak bisa diam. Saya diamkan saja. Tetapi di gedung bioskop apalagi di gereja? Saya tidak bayangkan kalau suatu kali mereka menjadi hamba Tuhan tetapi tidak bisa melepas gadget mereka. Kebiasaan yang dibangun perlu tempat Baal-Zefon untuk membuat kita bertemu jalan buntu dan hanya Allah yang bisa menyelesaikan.
              Kita diajar tentang waktu Allah karena Allah berdaulat atas waktu. Waktu Allah adalah kedaulatan Allah. Laut Teberau solusi (jalan keluar) diblok oleh Allah berdasarkan waktuNya. Laut Teberau terbuka dan tertutup hanya pada saat Allah berfirman, Tidak sebelum Allah berfirman. Hanya saat Allah berfirman. Waktu-waktu dalam hidup kita, tidak mungkin Allah tidak tahu. Bisakah kita mempercayakan diri kita seutuhnya kepada Allah sang pemegang waktu karena Dia berdaulat atas waktu?


Tidak Ada yang Dapat Menandingi Besarnya Kasih Allah

Pdt. Alex Haryanto

Roma 5:6-11
6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.
7  Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar  —  tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati  — .
8  Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
9  Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.
10  Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
11  Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.

Pendahuluan

              Pada bulan lalu saya berbicara degan seorang anak muda. Saya bertanya,”Apa yang kamu pahami tentang kasih Tuhan? Apakah kamu pernah mengalami cinta Tuhan?” Dia terdiam sejenak lalu menjawab,”Saya pernah mengalaminya.” Lalu saya bertanya kembali,”Bagaimana kamu mengalami cinta Tuhan?”. Dia langsung menjawab,“Saya melihat matahari, menghirup udara, melihat keindahan alam semesta ini.” Tanpa berpikir panjang saya kembali bertanya,“Lalu apa bedanya dengan orang-orang yang non Kristen?”. Ia diam dan tidak menjawab. Sebenarnya jawabannya tidak salah karena memang Allah mencintai kita pertama-tama melalui alam semesta (matahari, bulan, hujan, udara dll). Orang baik dan tidak, beragama dan tidak, mengasihi Tuhan dan tidak , semua mengalaminya dan ini merupakan cinta kasih Tuhan. Tapi itu tidak cukup. Dalam teologi dikatakan sebagai anugerah umum. Tetapi itu tidak cukup membuat orang percaya bahwa ada Allah yang mengasihinya. Banyak orang ateis yang menerima dan mengalami hujan, udara, matahari tapi mereka tidak percaya kepada Yesus. Sehingga kita sebagai orang percaya perlu mengalami kasih Yesus Kristus. Ini yang disebut sebagai anugerah khusus yang diberikan kepada orang-orang khusus pula. Anugerah khusus inilah yang membuat kita bisa melihat bahwa secara ultimat Allah menyatakan kasihnya melalui Yesus Kristus. Alam semesta ini tidak cukup untuk menyatakan kasih Allah yang begitu besar walaupun kita menyelidiki alam semesta ini, kita melihat foto begitu luasnya tapi tidak cukup luas untuk menggambarkan kasih Tuhan yang teramat luas yang dinyatakan oleh Yesus Kristus kepada kita semua. Seperti pada sebuah lagu hymne yang berjudul Kasih Allah (FM Lehman). Liriknya Kasih Allah amat besar dan tak dapat dilukiskan. Lebih tinggi dari bintang namun mencapai dunia. Mengaruniakan AnakNya memberi kemenangan … Walau dengan dawat selaut langit dijadikan kertas ,tiap batang sebagai pena dan tiap orang penulis. Tak mungkin akan menuliskan kasih Allah yang besar. Langit dari timur ke barat tak akan memuatnya. Namun Rasul Paulus berdoa dalam kitab Efesus 3:18-19a Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Ini suatu doa yang tidak dapat dikabulkan oleh alam semensta ini (segala ciptaan Tuhan) kecuali oleh Tuhan sendiri.

Bagaimana kita mengenal kasih yang melampaui segala pengetahuan ini? Bagaiamana kita mengukur kasih Allah yang tidak terukur?

Kita mau mengukur dan mengenal kasih Tuhan melalui :

1.     Kebenaran kasih / cinta manusiawi natural kita.

a.     Kebahagiaan tercipta ketika manusia saling mengasihi
Di dalam sebuah video ada seorang anak kecil  yang begitu senang saat berinteraksi dengan tukang sampah. Kita merasa  senang  menyaksikannya. Saya bermimpi suatu saat di Indonesia, anak-anak Indonesia juga senang berinteraksi dengan tukang sampah walau sekarang hal ini tidak mungkin. Dalam video ini sang anak memeluk sang tukang sampah yang dianggap pahlawan. Inilah gambaran (suasana) kasih sebenarnya. Ini keadaan selamat  dimana tidak ada rasa takut. Pekerjaan yang dianggap kotor dan rendah tidak memisahkan anak kecil dengan sang tukang sampah. Kita ingin saling mencintai karena saat mencintai tidak ada perbedaan antara orang yang berkulit hitam dan putih ,kelas atas dan bawah. Kita ingin  mencintai karena ada rasa bahagia dan selamat. Kebutuhan akan bahagia dan selamat inilah yang mendorong kita untuk mencintai. Karena ada kerinduan untuk kebahagian sehingga kita mencintai. Kebahagian tercipta saat semua orang saling mencintai. Tanpa cinta maka tidak ada bahagia dan selamat.
Misal seorang suka makan babi (bukan ayam karena sudah bosan) atau pada waktu senggang digunakan untuk membaca (tidak pilih menonton) karena itu yang paling membahagiakan (merasa tenang). Mengapa memilih makanan tertentu dibanding menu yang lain karena itu yang disukai. Apa yang kita buat dan paling kita sukai menunjukkan itulah yang paling membuat kita bahagia. Kita bisa pikirkan segala macam ketika berada sendirian. Pikiran apa yang paling senang dipikirkan, itulah yang membuat bahagia. Misalnya : ia berpikir tentang jalan-jalan ke Hong Kong maka hal itu paling membuatnya bahagia. Itulah yang melekat dalam diri kita karena itu membuat kita bahagia. Demikian juga dengan perbuatan dan pekerjaan.

b.     Kesukaan/kecintaan kita pada sesuatu menunjukkan di mana kebahagiaan kita terletak

Kecintaan kita pada sesuatu menunjukkan kebahagian. Sebenarnya kita meletakkan cinta (kesukaan) kita pada hal-hal yang paling memberikan kebahagiaan kita. Kebahagiaanlah yang menyetir cinta dan kasih kita, di mana kita  mau menaruh cinta kita, di situ yang paling membuat kita paling bahagia. Misalnya saja, saya ingin sekali membeli iPhone X padahal iPhone 5 saya masih bagus lalu saya membujuk istri saya untuk membeli. Istri saya berkomentar,”Yang ini masih bagus dan  yang itu lebih mahal.” Lalu saya membujuknya,”Yang ini lebih canggih dan cocok dengan pekerjaan saya  yang sibuk, teknologinya begini begitu.” Akhirnya istri saya setuju. Tetapi sebenarnya opsi pertimbangan utama dari saya sebagai seorang laki-laki dalam membeli iPhone X bukan karena teknologinya tapi karena suka (memberi lebih banyak kebahagiaan). Saya bahagia karena  iPhone X lebih baru dan sedang trend sehingga mengangkat harkat pribadi saya dan memberi kebahagian. Seringkali keputusan kita untuk membeli tidak masuk akal untuk orang lain, karena alasannya untuk kebahagiannya dan kebahagiaan itu tidak selalu masuk akal. Itu bersifat pribadi. Demikian juga dengan kasih yang buat orang lain sering tidak masuk akal. Ada yang jatuh cinta pada barang tertentu, kita pikir ,”Mengapa bisa suka mobil kuno?” Karena ia bahagia dengan mobil kuno, sehingga ia mau mengeluarkan demikian banyak uang untuk mendapatkannya. Bukan mobil yang dibeli, tapi kebahagiaan , jadi ia rela mengeluarkan banyak uang. Kebahagian itu penting. Ada seorang anak remaja pindah agama. Dulu ia seorang aktifis Kristen di persekutuan remaja. Setelah berbicara panjang dengannya ternyata alasannya adalah masalah kebahagiaan. Orang tuanya tidak mendidik dengan baik, sehingga dia tidak merasa bahagia dengan orang tuanya sendiri dan ia tidak bisa bercerita apa adanya. Kalau bercerita apa adanya langsung dimarahi. Tantenya lebih terbuka seperti pengganti mama yang sesungguhnya. Ia bisa bercerita apa saja. Tantenya bisa memberi nasehat sehingga waktu ia diajak ke tempat ibadahnya, ia merasa bahagia di tempat ibadah itu dan bersama tantenya , sehingga ia memutuskan untuk memberi cintanya pada tante dan agamanya.

c.     Jadi, kita meletakkan cinta/kesukaan kita pada hal atau perbuatan yang paling memberikan kebahagiaan.

Semua orang punya tujuan dalm hidupnya yaitu meraih kebahagiaan. Saya mau melakukan sesuatu dengan tujuan pasti kebahagiaannya (apapun pilihannya). Mau ke mana pun, pelihara apa pun tujuannya kebahagiaan. Kita memilih pasangan sebagai suami-istri karena kita percaya bahwa kita akan berbahagia dengan dia. Semua orang punya tujuan dalam hidupnya yakni kebahagiaan. Namun secara natural semua manusia mencintai sesuatu atau seseorang atau pekerjaannya karena ia ingin bahagia, tetapi kerinduan untuk bahagia bisa tidak tepat sehingga cinta kita pun bisa salah. Visi kebahagiaan kita bisa salah juga sehingga akibatnya tidak bahagia. C.S. Lewis menulis dalam bukunya Mere Christianity : Sejarah dunia ini seperti peperangan , perbudakan, pembagian kelas-kelas dalam masyarakat , pelacuran dan sebagainya adalah usaha manusia untuk mendapatkan kebahagiaan di luar atau tanpa Tuhan. Ironis karena kebahagiaan seharusnya adalah suatu keadaan shalom dan baik namun karena ia mencari di luar Tuhan maka terjadi peperangan. Hal ini masih benar sampai hari ini walaupun tulisannya dibuat pada awal abad 20. Tanpa Tuhan yang hadir dalam hidup manusia, orang akan saling menyakiti demi  mendapatkan apa yang menurut dia membuatnya bahagia. Contoh : orang korupsi tidak habis-habisnya. Korupsi berarti orang cinta uang. Orang yang haus kekuasaan, mau menghalalkan segala cara untuk mendapat kekuasaan karena dengannya mungkin ia bisa perintahkan orang sesuka dia. Ia menjadi Tuhan di dalam negara ini.

Mengapa kebahagiaan kita salah sasaran, sehingga menyebabkan kita salah mencintai?

Semua orang salah menempatkan kebahagiaan, jadi salah  mencintai. Ia mencintai uang karena ia pikir uang bisa memberikan kebahagiaan. Mengapa mencari uang mati-matian bahkan sampai membunuh? Karena berpikir uang memberi kebahagiaan sehingga manusia menjadi serigala bagi yang lainnya (homo homini lupus). Ia akan injak dan sikut orang lainnya. Ia salah menempatkan kebahagiaan sehingga ia salah mencintai. Tidak ada Tuhan di sana. Bila ada Tuhan maka Dia akan dikesampingkan (tidak perlu dipikirkan). Mengapa hal ini terjadi? Secara natural cinta manusia salah. Visi kebahagiaan yang salah. Inilah cinta manusia yang natural.
Agustinus dalam bukunya The Confessions of St. Augustine mengatakan, manusia diciptakan untuk Tuhan dan manusia tidak akan tenang sampai ia beristirahat dalam Tuhan. Kalau kita tidak menemukan Tuhan  maka hidup kita tidak akan tenang dan akan terus mencari. Allah menciptakan kita untuk diriNya bukan untuk yang lain. Kita datang dari Tuhan dan kita akan kembali kepadaNya. Sasaran kebahagiaan kita sebenarnya adalah Tuhan sehingga secara alamiah seorang Kristen harus melihat Allah sebagai sumber sukacita dan kebahagiaannya. Visi kebahagiaannya dilihat dalam Tuhan sehingga ia bisa mencintai Tuhannya. Kebahagiaan tertinggi ada pada Tuhan. Dalam teologi Reform dikatakan, tujuan hidup umat manusia adalah memuliakan Allah dan bersukacita (menikmati / berbahagia) di dalam Dia selamanya (Katekismus Westminster). Kalau kita berbahagia karena Tuhan maka tidak perlu disuruh-suruh lagi memuliakan Tuhan dalam ibadah dan pekerjaan. Sehingga kalau Tuhan tidak menjadi tujuan dari kasih dan kebahagiaan kita maka kita tidak pernah terpuaskan. Allah begitu besar dan Dia menciptakan kita sesuai gambarNya. Dan apa yang ada dalam tubuh dan hati kita begitu luas namun hanya bisa cocok dengan Tuhan. Bila tanpa Tuhan (Tuhan tidak menjadi raja dalam hidup kita) maka kita akan menjadi restless  dan terus mencari sesuatu yang bisa memberi kebahagian yang tidak mungkin kita dapatkan seberapa pun usaha kita mendapatkannya karena kita diciptakan untuk Tuhan. Dari sananya Allah menciptakan  kita agar Dia menjadi kepuasaan kita, bukan ciptaan atau barang yang lain. Problemnya ketika mau memuaskan kebahagiaan kita dengan ciptaan dan barang lain, maka kita tidak akan pernah puas. Makanya teknologi berkembang dengan cepat (modelnya berubah-ubah) sehingga orang merasa baru. Pakaian terus dianggap baru padahal hanya kelihatan baru (hanya dimodifikasi). Dekorasi diubah terus untuk memuaskan kebahagiaan manusia. Hal ini seperti kutuk karena kita tidak pernah puas untuk mendapatkan kebahagiaan kita. Cinta kita pun tidak pernah puas dan terus mencintai lainnya karena tidak ada Tuhan di dalamnya. Padahal kita diciptakan untuk Tuhan dan kita puas hanya di dalam Tuhan. Dengan mata yang mengasihi Tuhan dan dengan hati yang bahagia di dalam Tuhan, kita bisa melihat alam semesta dengan segala ciptaannya tanpa sedikit pun merasa haus dan rindu untuk mendapatkan kebahagiaan dari mereka semua. Kita menikmatinya namun bukan yang tertinggi. Bukan berarti kalau tidak mendapatkannya kita akan mati atau sengsara karena ada Tuhan di sana.

Penyebab melesetnya sasaran kebahagiaan

Semuanya adalah karena dosa. Dosa membuat kebahagiaan dan cinta kita salah karena cinta membuat :
a.       Kebutaan.
Cinta membuat kita buta dan berkata itu yang membuat kita bahagia. Kita yakin barang , mobil, rumah atau orang yang membuat bahagia. Kita tidak bisa melihat mana yang paling bisa membuat kita merasa bahagia sehingga kita bisa mencintainya dengan segenap kasih dan seluruh kekuatan dan akal budi kita. Ini semua karena dosa.
b.       Kematian.
Dosa membuat kita mati artinya kita mati secara fisik dan terlebih lagi rohani karena terputus dengan sumber hidup sejati yaitu Tuhan Yesus. Ketika terputus dari Allah berarti kita mati. Buktinya kita tidak menginginkanNya (kita tertarik dengan Tuhan).
c.        Keegoisan. Manusia menjadi egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Kalau saya ingin sesuatu maka saya tidak peduli dengan orang lain. Dengan keegoisannya, manusia menjadi Tuhan  atas dirinya sendiri. Semakin pintar seseorang maka ia merasa bisa mengatur segala sesuatu.
d.       Permusuhan
Manusia menjadi begitu egois sehingga akhirnya terjadi permusuhan. Semakin pintar ia merasa bisa memenuhi segala sesuatu sehingga terjadi permusuhan dengan yang lain dan terputus satu manusia dengan manusia lain. Bahkan kita mengeksploitasi yang lain karena menganggapnya benda. Kita mengeksploitasi alam ini tanpa memikirkan anak-cucu , yang penting saya puas. Semuanya karena dosa. Betapa dalamnya kita sudah berdosa sehingga tidak bisa kita mengukurnya. Saya tidak berbicara tentang perbuatan dosa tapi motivasi (di dalam hati dan pikiran kita sudah berdosa). Berita baik-nya :  akan tetapi Allah telah menunjukkan kasihNya ketika kita masih berdosa. Ketika masih berdosa , saat tidak menginginkan Tuhan, tergila-gila dengan barang tidak peduli dengan Allah, memandang Tuhan sebagai pengganggu kebahagiaan, menganggap Tuhan tidak suka saat saya tenang (jangan dekat dengan Tuhan karena nanti saya rugi) atau menganggap Allah sebagai seteru, namun saat itu Allah sudah mencintai kita di dalam Yesus Kristus. Ini kabar gembira yang luar biasa.

Seorang anak yang kotor , hitam , cacat dan miskin namun Tuhan sayang. Nabi Yesaya mengatakan kita ibarat kain kotor semacam pembalut wanita yang kotor (tidak diinginkan siapapun) Allah di dalam Kristus sudah mengasihi kita. Allah menghidupkan Yesus Kristus yang taat pada Firman Allah yang hidup. Dia taat pada firman Tuhan mati untuk kita semua sehingga kita hidup dan diciptakan kembali. Dahulu (pada kitab Kejadian) Allah menciptakan alam semesta dengan firmanNya dan pada Perjanjian Baru Dia menciptakan kembali ciptaanNya melalui firmanNya yaitu Yesus Kristus pada saat semuanya hancur luluh , tidak mampu mengangkat tangan memuji Tuhan dan tidak mampu melihat Tuhan sebagai sumber sukacitanya. Kita hanya melihat Tuhan sebagai seteru. Saat kita tidak mau dekat dengan Tuhan, Allah sudah mencintai kita. Tidak ada kasih yang lebih besar dari ini. Di mana pun dalam dunia ini, orang selalu bilang, kamu pantas tidak dicintai tidak? Kamu mungkin ganteng-pakai baju bagus, cantik, bersih baru pantas dicintai. Tetapi kalau kamu kotor, cacat, mental terkebelakang? Ibu misalnya ketika tahu anaknya cacat lebih baik digugurkan. Cinta apakah ini? Tetapi Yesus tidak seperti itu. Walau paling jelek tetapi Allah mencintai kita. Ini kasih yang  menyembuhkan dan menghidupkan. Ketika kita masih berdosa (penyelewengan kasih kita, saat kita masih lemah, menganggap seteru Allah dan berdosa) Allah sudah mencintai kita. Apakah ada kasih seperti itu? Rasul Paulus dalam Roma pasal 8, kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita , apakah ada yang bisa melepaskan pelukan Allah kepada kita? Tidak ada yang memisahkan kita dari kasih Allah dalam Yesus Kristus. Segala sesuatu bekerja bersama-sama untuk mendatangkan kebaikan untuk semua orang yang mengasihiNya dan terpanggil sesuai dengan rencanaNya. Ketika Allah mencintai kita, kita tidak perlu ragu. Bahkan yang jahat sekalipun bekerja untuk melayani kebenaran Tuhan sehingga bekerja untuk kebaikan kita. Orang jahat diubahkan Tuhan nuntuk mendatangkan kebaikan untuk kita, karena Tuhan mencintai kita di dalam Yesus Kristus. Tandanya apa? Bagiamana kita mengalami kasih Tuhan semakin dalam? Dengan kita mengenal dosa-dosa kita. Kita hanya mengerti bahwa dosa menyelewangkan kebahagian dan cinta kita ketika kasih Allah kita alami. Penyesalan yang kita alami itu adalah bukti cinta pekerjaan Roh Kudus. Tapi harus hati-hati kalau kita  terus menyesal sepanjang hidup dan merasa tidak layak, itu bukan pekerjaan cinta Tuhan. Pekerjaan cinta Tuhan memberikan kesadaran bahwa itu adalah kesalahan (dosa) dan menyesal lalu kembali pada jalan yang benar. Allah mencintai kita maka Dia mengampuni kita saat kita tertarik padaNya. Tidak ada hukuman buat orang yang mengasihi Tuhan, karena Roh Kudus ada di dalam kita dan Kristus mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Maka kita perlu meredefinisi cinta natural kita. Kita jangan pernah mencintai barang-barang bahkan istri-suami seperti kita mencintai Tuhan. Tuhan harus nomor satu. Kebahagiaan tertinggi di dalam Tuhan sehingga kita mampu mencintai pasangan kita. Kasihilah istri seperti Kristus mengasihi kita. Tuhan sudah meluruskan cinta kasih dan visi kebahagiaan kita. Perjamuan kekal dan pesta anggur di sorga itu kebahagiaan kita. Mata kita melihat ke sana. Kita perlu meredefinisikan ulang, bagaimana kita berbahagia dan memuliakan Tuhan di dunia ini.

2.     Merenungkan kasih Allah (dalam kasih Kristus) sesering mungkin

Ini lebih doktrinal, tadi lebih kejiwaan. Kita ingat Kasih Allah. Ada 2 misteri :
a.       Inkarnasi yaitu Allah menjadi manusia sebagai bukti cintaNya (Yohanes 3:16). Bagaimana kalau kita mau melihat dan merasakan Allah menjadi manusia, mungkinkah Allah meninggalkan segala kemuliaanNya, Allah Maha Tahu menjadi yang tidak Maha Tahu , Allah yang Maha Ada menjadi Tidak Maha Ada? Rasanya bagaimana? Ini misteri inkarnasi. Kita tidak bisa membayangkannya kecuali kalau kita pernah berubah menjadi tikus baru bekerja untuk menyelamatkan tikus-tikus yang lain mungkin baru saya punya gambaran bagaimana Allah menjadi manusia. Kurang lebih seperti itu. Betapa besarnya cinta Tuhan dalam Yesus Kristus ketika Allah menjadi manusia. Bisakah kita mengukur seberapa jauhnya langit dari bumi Allah seberangi karena ia mengasihi kita.  Bisakah kita mengukur surga dari bumi , itu bagaikan surga dan neraka karena bumi penuh dosa. Kita hanya tahu berbuat dosa. Kita baru tahu berbuat baik ketika mengenal Tuhan Yesus. Begitu jauhnya sorga dari neraka namun Dia seberangi, Dia rela meninggalkan segala kemuliaan. Kata-kata tidak sanggup mengungkapkan betapa besarnya kasih Tuhan sehingga mau mengecilkan diriNya serupa ciptaanNya.
b.       Ia bukan menjadi manusia yang kaya atau raja, ia menjadi manusia yang menderita ketidakadilan dan kejahatan manusia lalu mati di kayu salib. Ini adalah kenosis menurut Rasul Paulus. ‘Allahnya’ habis semua dan secara manusia juga habis, nama-harga diriNya baik  dan harkatnya habis dengan mati di atas kayu salib hanya untuk kita. Sebenarnya kalau melihat besarnya cinta Tuhan kepada kita ,seharusnya ada kuasa dan cinta  yang tidak terbendung untuk mengasihi Dia kembali dan semua ciptaanNya. Kalau mengenal dan mengalami cintaNya yang begitu besar, maka kita perlu merenungkan misteri inkarnasi dan misteri pengorbanan kematian Yesus di dalam hidup kita.

Bagaimana kematian Yesus menjadi pertukaran sehingga kita dibenarkan? Ketika Yesus mati di atas kayu salib, Dia mati untuk dosa-dosa kita. Seharusnya kita yang mati tetapi kita tidak perlu mati karena Yesus telah mati menggantikan kita. Dosa kita diperhitungkan kepada Yesus di atas kayu salib. KebenaranNya  diperhitungkan kepada kita yaitu melalu kematian dan kebangitkanNya. Kebangkitan Yesus diberikan kepada saya. Dosa-dosa saya dipikul Tuhan Yesus dan kebenaranNya diberikan ke saya. Ketika Yesus mati, dosa kita ikut mati bersama Tuhan Yesus ketika kita percaya. Ketika iman dihubungkan dengan Yesus, dosa kita sudah ikut mati dengan Yesus. Ketika Yesus bangkit kita juga bangkit, tetapi kita bangkit bukan karena kita baik tetapi kebenaran Yesus diperhitungkan pada kita. Nanti kalau kita mati semua dan dihakimi, Allah Bapa tidak melihat perbuatan baik kita. Yang dilihat Tuhan adalah Yesus yang mati untuk kita. Kita tidak perlu berbangga dengan kebaikan kita, kita hanya berbangga di dalam Tuhan karena sejak awal hingga akhirnya hanya Yesus kita di-cover oleh darahNya. Namun aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Artinya bukan saya yang hidup tetapi Kristus adalah titik awal kehidupan saya yang sejati, ketika Kristus hidup dalam saya.Tidak ada satu pun hidup karena ia berbuat baik seperti banyak pelayanan atau ke gereja supaya diberkati Tuhan. Itu adalah tahayul, tidak benar sama sekali. Tidak ada sedikit pun perbuatan baik kita yang bisa membuat Allah lebih mengasihi kita. Tidak ada satu pun dosa yang membuat Allah membenci kita. Karena cintaNya sempurna, ketika kita datang kepada Tuhan , diselamatkan dalam darahNya ,semua dikasihi dengan kasih yang sama walaupun kita berdosa. Dengan cintaNya yang besar apakah kita mau mengikuti keinginan daging? Kita harus berjaga-jaga.

Apa yang harus saya lakukan?

1.     Mengenal dosa -dosa
Dua hal ini yaitu ingat dosa-dosa (kebutaan kebahagiaan sehingga kita buta dengan cinta kita) dan pengorbanan Yesus sehingga kita perlu mengenal dosa. Kita tidak berhenti berbuat dosa tapi kita bisa mengenal dosa-dosa  kita dan dengan kekuatan firmanNya kita menolak untuk berbuat lagi. Setiap orang percaya membenci dosa-dosanya tetapi dia bisa jatuh dalam dosa. Dia harus tahu dosanya itu dan minta pertolongan dari Tuhan. Di mana kebahagian terbesar kita? Harus di dalam Tuhan. Kalau kebahagiaan kita di dalam game atau pekerjaan , maka kita membayar harga segala-galanya untuk mendapatkannya, tetapi kalau cinta kepada Tuhan maka kita bayar harga kepada Tuhan dan kita didorong oleh kasih Tuhan. Kita harus celik tentang  tujuan sehingga kita tidak menyerahkan hidup kita kepada yang lainnya. Tetapi memberikan hidup kita pada Tuhan bukan hanya uang tetapi hidup, jiwa dan raga. Ketika menyesal dan mohon ampun , maka kita serahkan hidup kita sampai suatu kali kita kembali kepada Tuhan melihat bahwa  darah Yesus sungguh-sungguh bekerja dalam hidup kita.

2.     Membaca dan merenungkan kasih Kristus (inkarnasiNya).
Kita membaca Alkitab sesering mungkin. Tanpa membaca firman Tuhan, tidak mungkin kita memiliki cinta yang bertumbuh kepada Tuhan. Kita melihat bagaimana bagaimana Tuhan mencintai manusia melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Sumber segala kecelakaan dan penyelewengan orang percaya di dunia ini karena tidak tahu firman Tuhan. Bacalah firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan membentuk keinginan dan kebahagiaan kita. Meluruskan cinta kita. Sehingga cinta Tuhan sungguh kita alami dan dinyatakan dalam hidup kita. Bukan karena cinta manusia tapi karena cinta ilahi.