Sunday, December 9, 2012

"Tidak Mungkin" Menjadi "Kenyataan"

Pdt. Bambang Wijanto

Lukas 1:26-38
26   Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
27  kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
28  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
29  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
30  Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
31  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
32  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
33  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."
34  Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"
35  Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
36  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
37  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."
38  Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Luk 2:8-20
8  Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
9  Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10  Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
11  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
12  Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
13  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
14  "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
15  Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita."
16  Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.
17  Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.
18  Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.
19  Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20  Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Pada waktu peristiwa natal (kelahiran Tuhan Yesus) yang terjadi lebih dari 2.000 tahun lalu, ada 3 hal unik yang terjadi secara beruntun terkait peristiwa tersebut. Ketiganya begitu unik dan memiliki kemiripan yakni :
1.       Luk 1:30-31. Malaikat memberitahu Maria bahwa ia akan melahirkan anak laki-laki yang akan diberi nama Yesus. Hal ini sebenarnya tidak mungkin terjadi karena Maria masih perawan dan ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “dikandung daripada Roh Kudus”. Ayat 34 “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Hal ini  tidak mungkin terjadi dalam pikiran manusia dan dalam teori apa pun.
2.       Luk 1:36. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Hal ini sesuatu yang tidak mungkin, bagaimana seorang perempuan di masa tuanya mengandung? Apalagi hal ini ditulis oleh seorang dokter yakni Lukas. Lukas menuliskannya secara detil yakni “masa tuanya”. Menurut teori kedokteran kehamilan di masa tua tidak mungkin terjadi. Apalagi Elisabet mandul. Wanita yang mandul saat usia muda tidak bisa hamil, apalagi di hari masa tuanya. Tetapi inilah keunikan, yang tidak terpikirkan manusia dapat terjadi.
3.       Luk 2:8-20. Ada peristiwa malaikat datang kepada para gembala dan mengatakan ada berita sukacita kepada seluruh bangsa. Karena akan lahir seorang Juruselamat di kota Daud. Tetapi pada ayat 12 dikatakan,Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Ini tidak mungkin. Kesukaan bagi seluruh dunia (bangsa), seorang Juruselamat yakni  Kristus Tuhan, ironisnya lahir di sebuah palungan yang notabene tempatnya kotor dan menjadi tempat menaruh makanan domba. Gembala terkejut bagaimana seorang Tuhan lahir di palungan. Di dalam diri dan benak para gembala , ini sesuatu yang tidak mungkin.  Ayat 13  Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah,” Seorang Juruselamat , Tuhan, lahir di sebuah palungan, tetapi diperlihatkan oleh bala tentara Allah.  Bagaimana mungkin? Orang di palungan , disembah di tempat yang maha tinggi. Itulah kenyataan (keunikan).

Ketiganya sama, tidak masuk akal, tetapi merupakan kenyataan yang terjadi yang membuat mereka bersukacita. Gembala itu kembali dan memuji Allah. Kata kembali, artinya mereka kembali ke profesi mereka sebagai gembala, yang saat itu bukan profesi yang terhormat. Gembala merupakan profesi paling rendah saat itu. Para gembala dianggap orang paling bodoh, tapi mau jadi gembala. Mereka dikatakan lebih rendah dari seekor domba. Gembala dianggap sebagai sampah masyarakat. Mereka kembali ke profesi masing-masing. Sebelum mendengar berita natal, mereka tersisih  dan miskin. Lalu berita natal disampaikan. Sesuatu yang tidak mungkin, mereka kembali kepada kenyataan yang pahit tapi mereka bisa memuji Tuhan. Itu berita natal.
Demikian juga Maria, bagaimana itu terjadi? Maria bergumul. Ia belum bersuami. Wanita dianggap sebagai warga negera kelas dua. Pada waktu melakukan pelanggaran apalagi susila, wanita akan dihukum mati. Ia belum bersuami. Masyarakat tidak paham ia dikadung dari Roh Kudus. Di pundaknya, ada pergumulan yang berat. Berita natal merupakan berita “berat” bagi dirinya. Kenyataannya, Maria justru berkata, “Sesungguhnya akulah hamba Tuhan , jadilah padaku seperti perkataanMu.” Maria berkata dengan penuh sukacita. Ia menerima walau percobaan masih dihadapi, bagaimana masyarakat menilai dirinya. Maria menerimanya!

Mengapa mereka bersukacita walau menghadapi pergumulan berat? Kuncinya adalah mereka dengan rendah hati menerima berita natal itu. Mereka menerimanya dengan iman. Mereka percaya perkataan Allah dan sungguh merasakan, itu berita sukacita. Maria berkata dengan rendah hati, “Aku ini hamba Tuhan” sehingga ia merasakan damai sukacita natal. Demikian juga gembala. Para gembala pada pasal 2:16, “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.” Mereka dengan rendah hati pergi walau ke tempat makanan binatang (palungan). Mereka tetap mau datang. Kita juga melihat Elisabet, berkata, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Elizabet rendah hati. Ia lebih senior dari Maria. Maria dikatakan sebagai ibu Tuhanku. Ini adalah orang yang rendah hati. Dia mengatakan “ibu Tuhan” karena  ia tahu ada Yesus yang lahir dan ia sungguh mengalami sukacita. Itulah natal. Yang tidak mungkin menjadi kenyataan : syalom.

Ada juga orang yang tidak mengalami sukacita natal (syalom). Yakni orang farisi, Herodes, ahli taurat, imam kepala. Mereka tidak mengalami sukacita. Herodes mengetahui berita natal dari orang Majus. Orang Majus datang memberi tahu, menyelidiki dan melapor kepadanya. Setelah itu Orang Majus tidak lagi datang, sehingga Herodes merasa ditipu dan ingin membunuh bayi Yesus. Orang Farisi dan imam kepala, ditanya oleh Herodes. Kita suci mengatakannya, tapi mereka tidak mau datang. Malah mereka mencelakakan Yesus sampai di kayu salib. Mereka tidak mengalami sukacita natal. Karena mereka orang yang penuh kesombongan.

Roma 3:10-18. Tidak ada seorang pun yang benar, seorang pun tidak. Semua orang berdosa, tidak ada yang benar. Pada ayat 11 dikatakan “Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu. Kenyataannya, Herodes dan kawan-kawan tidak mencari Allah, dalam keberdosaannya , manusia tidak mau tunduk kepada Allah. Dengan penuh keseombongan mereka mengabaikan Tuhan , tidak ada rasa takut kepda Allah. Rasul Paulus berkata, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan Allah.” Semua orang berdosa dalam kesombongannya. Mereka gagal karena dikuasai nafsu, sehingga manusia menjadikan dirinya menjadi sumber kebiasaan. Itulah pernyataan orang berdosa. Kita juga. Persoalannya : sebentar lagi kita merayakan natal, kita sama seperti Elizabet, Maria dan para gembala. Kita hidup dalam kenyataan, seperti Maria, menghadapi problem kehidupan, untuk kemudian melepaskan diri dari masalah. Ada suami-isti, mertua-menantu, ortu-anak bertengkar. Ada masalah perekonomian. Dalam hidup, masyarakat berinteraksi. Kita tidak luput dari pergumulan hidup ini. Banyak orang Kristen putus asa. Banyak orang Kristen mengalami pergumulan begitu berat, tidak mudah melepaskan diri. Orang Kristen zaman ini, tidak bebas dari masalah kehidupan , di seluruh dunia sedang merayakan natal saat ini, tetapi apakah syalom (sukacita) natal menjadi bagian dalam hidupnya? Apakah setelah menerima pesan ini, sukacita natal tetap menjadi sukacita. Sesuatu yang tidak mungkin. Bagaimana persoalan hidup ada, tetapi kita mengalami sukacita. Apakah benar, kita mengalami sukacita natal selagi ada persoalan hidup? Kenyataannya, Maria, walaupun ada problem kehidupan, tetapi menghadapinya dan mengalami sukacita.
Bagian yang tidak mungkin terjadi dalam hidup? Mari belajar dari seorang yang besar, Rasul Paulus. Rom 7:24 ia berkata, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Tidak ada yang meragukan Rasul Paulus. Bukankah ia rasul yang hebat? Pelayanannya begitu hebat, pengorbanannya begitu sungguh-sungguh dan tetap konsisten melayani Tuhan, orang yang pintar dan punya banyak potensi, tetapi menuliskan, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”  Di situ Rasul Paulus memberitahu Tuhan, ia manusia jahat, orang berdosa. Kalau kita sombong, seperti ahli Farisi, imam Kepala , tetapi Rasul Paulus rendah hati, walau ia hebat dan pelayanannya luar biasa. Pada 1 Tim 1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.” Rasul Paulus berkata bahwa dialah orang yang paling besar  dosanya. Inilah kuncinya. Rasul Paulus dalam kerendahaan hatinya, menyambut natal. Malaikat yang jatuh tidak diselamatkan, hanya manusia keturunan Abraham diselamatkan. Paulus mengerti, bahwa Allah berbelas kasihan kepadanya. Ia mengaku orang yang paling berdosa. Setelah ia mengaku seperti ini, apakah ia tidak mengalami persoalan kehidupan?  2 Kor 4:8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.

Rasul Paulus menghadapi problem kehidupan. Menghadapi kenyataan hidup tidak gampang. Adakah syalom dan sukacita natal di dalam hatinya. Rasul Paulus berkata,”Walau kesulian hidup terjadi, tetapi dirinya tidak pernah terlepas dan dalam pemeliharaan Allah. Paulus ingin mengatakan Yesuslah yang memberikan kesukacitaan. Sukacita tidak menghapus masalah hidup. Tanpa kesadaran, perayaan natal hanyalah event. Kebaktian natal hanyalah kegiatan. Maria seperti gembala. Maria, Elisabet, Paulus, kita sadar siapa diri kita. John Calvin mengatakan Saat Adam dicipta dari debu dan tanah , hal ini untuk mengingatkan Adam agar tidak menyombongkan diri. Karena tidak ada yang patut disombongkan, Jangan sombongkan diri karena kita dari debu dan tanah. Hanya orang yang rendah hati yang akan mengalami sukacita.

Ada sepasang suami-istri yang datang kepada saya. Mereka adalah jemaat yang aktif dalam pelayanan. Keluarga yang dipandang berhasil dalam kehidupan rohani.  Mereka datang dengan pergumulan berat atas sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan (peristiwa yang tidak mereka bayangkan). Tidak memimpikan hal itu terjadi. Anak mereka yang berumur 20 tahun menikahi pria beristri berusia 50 tahun lebih. Hati mereka hancur dan datang dengan tangisan. Tidak pernah mereka bayangkan. Mereka adalah anak Tuhan yang senantiasa bergumul bersama dengan Tuhan. Tidak pernah hal ini mereka mimpikan. Tidak mungkin menghibur mereka. Saya hanya diam. Saya tahu betapa sakit dan pedihnya hati mereka. Sulit bagi saya menasehati dan memberikan penghiburan. Tetapi karena pergumulan itu, istrinya berkata, “Ini resiko yang harus kami tanggung.” Dengan jujur ia berkata, “Saat menikah kami juga tidak jujur pada pendeta. Waktu ditanya pendeta, apakah sudah berhubungan seks sebelum menikah, dijawab belum.”  Akhirnya pernikahan mereka diberkati di gereja. Sang istri kemudian berkata,”Ini konsekuensi yang harus ditanggung. Saya berdosa , menipu pendeta dan Tuhan.” Akhirnya sang istri berkata, “Ini resiko yang saya hadapi. Kenyataan hidup yang harus dihadapi.” Akhirnya mereka mengalami kelegaan jiwa.

Dalam hidup, kita sadar siapa diri kita. Kita kembali diingatkan, kita membutuhkan tubuh dan darah Kristus.  Agar kita mengalami kembali syalom, damai dalam hati.

Sunday, December 2, 2012

Hati yang Melayani



(Natal Aktifis GKKK Mabes 021212)
Ev. Hans Wuysang

Natal aktifis diadakan karena saat natal umum, para aktifis tidak bisa menikmati natal itu sendiri. Supaya para aktifis dilayani terlebih dahulu, sebelum melayani orang yang dipercayakan.

Fil 2:1-8
1  Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2  karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
3  dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
4  dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
5  Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Lukas 17:7-10
7  "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!
8  Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.
9  Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?
Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Yoh 15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.
Yoh 15:15  Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
Yoh 15:17  Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Hati yang Melayani
Melayani memang harus keluar dari hati yang sungguh-sungguh karena telah dilayani Tuhan terlebih dahulu. Hati yang bisa diteladani adalah hati Allah yang nyata kasihNya, pengorbananNya dan pelayananNya lewat natal. Natal adalah pernyataan kasih Allah Bapa (Dia rela mengutus AnakNya) dan hati Anak (mengosongkan diriNya rela menjadi manusia). Setelah itu kita coba terapkan dalam hidup kita.

Bagaimana meneladani dengan hati?
Fil 2:6-8 Natal dan Jumat Agung satu paket pengorbanan Allah Putra (Yesus Kristus). Bukan sekedar inkarnasi, dalam ketaatanNya sebagai hamba, Dia rela mati. Setelah Jumat Agung, lalu bangkit pada hari yang ketiga membuktikan kuasa maut telah dikalahkanNya, setelah itu turun Roh Kudus dan terakhir Tuhan Yesus akan datang kembali.

1.       Hati sebagai Hamba
Pada ayat 7 dan 8, ada kata hamba. Yesus merendahkan diri jadi manusia dan hamba. Ciri hamba adalah taat kepada kehendak yang menjadi tuannya. Allah Putra , Allah yang setara dengan Allah Bapa dalam Tritunggal, taat kepada Allah Bapa datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia. Hati yang melayani adalah hati seorang hamba. Karakter yang utama adalah taat kepada tuannya.

Lukas 17: 7-10 konsep hamba.
Fil 2 bicara tentang Yesus dalam keteladanan sebagai Allah Putra mau jadi hamba untuk taat kepada kehendak Bapa. Hati Yesus yang melayani adalah hati seorang hamba. Luk 17:7-10 hati anak-anak Tuhan yang sudah dimerdekakan dari dosa, bukan lagi miliki Ibils tetapi milik Allah. Bukan berarti kita otonom. Ilustrasi ini tepat sekali untuk saya sebagai hamba Tuhan. Doulus = hamba milik Tuhan sepenenuhnya (apapun juga).
Kita milik Tuhan dua kali (doble). Pertama karena kita ciptaan Tuhan (semua mahluk ciptaan Tuhan. Walaupun kita jadi ateis). Kita adalah milik Tuhan yang berdosa dan  ditebus dengan harga yang mahal. Kita ditebus jadi milikNya kembali. Sehingga kita milik Tuhan dua kali. Tidak ada milik kita lagi.
Hati yang melayani Tuhan Yesus harus ditaruh dalam hati kita. Sebagai aktifis yang giat melayani, apakah melayani sebagai hamba yang mau taat kepada kehendak Bapa bukan mengharapkan pujian (diapresiasi)? Kalau kita dikritik , hal itu manusiawi sekali. Kita belajar melayani dengan hati seperti hamba dengan meneladani Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab yang taat kepada kehendak Allah.
Setelah kita sibuk dengan kegiatan melayani natal, jangan sampai kita ngomel karena kita tidak dipedulikan orang lain. Dalam hati seorang hamba, kita hanya tahu ini tugas saya karena kita milik Tuhan, tidak harapkan  apresiasi walau ada apresiasi Allah kepada hamba yang setia.

2.     Hati  yang Penuh Kasih
Yoh 3:16. Hati yang melayani, adalah hati yang penuh kasih.
Hati hamba harus taat karena milik Tuhan. Kalau hanya di sini saja kita melayani seperti robot (yang penting melayani). Hati yang melayani penuh kasih dan hal ini telah diteladani oleh Allah Bapa, yang rela mengorbankan Yesus. Kasih sejati mencakup tindakan yang nyata, ingin kebaikan buat orang yang dikasihi.  Allah Bapa mengasihi AnakNya (bersama-sama dalam Allah Tritunggal). Tetapi saat Allah menyatakan kasih, maka Tritunggal rela dipecah dengan mengutus Anak untuk turun dalam dunia (mengasihi dengan mengorbankan diri).
Pada Yoh 15:12 kita diperintahkan untuk saling mengasihi. Itu dalam rangka meneladani Tuhan Yesus. Kita mengasihi karena sudah dikasihi terlebih dahulu, sekarang kita menyatakan kasih kepada Tuhan dan orang-orang lain. Tuhan memberi teladan kasih dengan rela berkorban, kita dipanggil dalam komunitas aktifis GKKK Mabes untuk saling mengasihi. Bukan basa basi, namun seperti kasih Tuhan. Terkandung unsur menerima perbedaan , kekurangan, mengampuni kesalahan dan  bersedia dilayani. Kita memberi kesempatan orang lain untuk juga menyatakan kasihnya. Itu kasih, bukan iri karena dilayani orang lain tetapi juga mempunyai hak untuk menikmati pelayanan.
Tuhan Yesus memberikan contoh orang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabatnya. Rasul Paulus : mati buat orang yang bukan sahabat tapi juga musuh. Saat terlalu giat pelayanan dan sedang ada yang perlu dikerjakan, lalu ada yang bergerak sendiri dan menyakiti orang lain secara tidak sadar (bisa gampang terjadi gesekan). Apakah kita melayani dengan kasih, mengorbankan diri tanpa menerima pujian. Kita bertekad : “Saya ingin berikan yang terbaik , supaya natal jadi berkat.”
Untuk menyambut natal, setiap jemaat GKKK Mabes mendapat kesempatan untuk membawa jiwa.  Kalau tempat di dalam gereja tidak cukup, maka aktifis, rela duduk di depan gereja (di bawah tenda), supaya tamu dapat duduk di ruang di dalam. Walau di luar berisik dan panas, namun para aktifis meneladani Kristus yang pengorbanannya jauh melampaui pengorbanan kita.

3.       Hati Seorang Sahabat
Pada Yoh 15:15 tertulis bagaimana Yesus menerima kita yang melayani sebagai hamba. Yesus menyebutnya sebagai sahabat. Hati yang melayani adalah hati seorang sahabat. “Kepada sahabat, Aku memberitahukan isi hatiKu. Apa yang kudengar dari Bapa , yang mengasihi dunia ini dan rela berkorban.” Itu yang di-sharing-kan kepada sahabatNya. Hati yang menyelamatkan manusia supaya kita bisa mengasihi seperti Allah mengasihi. Hati seorang sahabat. “Aku tidak lagi menyebut kamu lagi hamba” namun tidak otomatis, kita tidak berkata aku bukan lagi hamba. Tetapi status kita yang awal adalah hamba , milik Tuhan dobel (dua kali). Itu tidak boleh lupa. Dalam diri hamba, ada ketaatan. Kita dipanggil untuk taat dan mengasihi dan disebut sebagai sahabat, dan sebagai sahabat kita dipercaya isi hati Allah. Berarti melayani dengan setia dengan sepenuh hati, berkorban, Tuhan menganggap kita layak sebagai rekan kerja. Kita layak dibagi isi hatiNya, kita dipercaya. Kita diandalkan. Kita diberi wewenang. Seperti ilustrasi hamba yang setia dalam perkara kecil dipercaya dalam perkara besar.  Waktu hamba belajar taat sepenuhnya tanpa pamrih, belajar mengasihi dan berkoran, Allah bisa “curhat”. Natal bukan sekedar hura-hura, pesta pora, natal adalah mewartakan kasih Allah. Bukan sekedar orang di dalam gereja , tetapi di luar gereja. Waktu saya mau berangkat ke GKKK Mabes , saya menerima pesan di facebook. Ada orang yang menyanyi di mal di Negara barat yang menyanyikan lagu natal. Mula-mula satu orang lalu disusul satu per satu menjadi banyak sehingga membentuk format seperti pohon natal dan mereka menyanyikan lagu secara medley. Ada komen yang membuat airmata terharu.  Saat lagu yang dinyanyikan benar-benar berisikan berita natal yakni  Anak Allah datang sebagai manusia. Nama Yesus disebut. Di bagian akhir ada drama singkatnya di mana Yusuf-Maria-bayi berjalan. Komentar di video : luar biasa di mal yang biasanya natal itu bersifat bisnis ( jualan) yakni natal hura-hura, namun kali ini nama  Kristus diberitakan. Saya terharu. Itu isi hati Allah. Ada natal dengan suasana holy day (hari kudus) bukan holiday (liburan). Biasanya suasana meriah tetapi bukan penghayatan. Seperti di Mangga Dua, banyak perhiasan natal dan suasana natal, tetapi bukan seperti isi hati Bapa di mana kasih Allah dicurahkan.

Bagaimana menerapkan hati seorang sahabat? Bagaimana bisa menjadi sahabat Kristus yang Allah percayakan isi hati Nya. Kita belajar mengasihi yang Tuhan kasihi. Kita belajar melalui firmanNya. Hati yang melayani. Kita persiapkan diri memasuki hari bulan Desember, sebelum kita terjebak kepada kesibukan sebagai aktifis.Mari kita hayati segala persiapan dan kegiatan natal. Kita lakukan dengan hati yang meneladani Tuhan Yesus. Hati yang dimiliki Kristus. Hati seorang hamba , yang mau melayani tanpa pamrih tanpa dikomentari (dipuji). Hati yang penuh kasih, siap berkorban. Perasaan cape tidak apa, karena memang memberikan yang terbaik untuk Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi. Kita jadi sahabat Kristus mau mendengar isi hatiNya. Bukan dengan pikiran dan pengertian sendiri, tapi pikiran yang dari Tuhan. Lewat baca Alkitab, berdoa dan bersekutu. Kita siap layani dengan hati kita. Kita siap diatur Tuhan dan taat. Belajar yang Tuhan kasihi.



Ev Hans Wuysang

Firman Tuhan, Dasar Pelayanan

Hans Wuysang, Direktur Pancar Pijar Alkitab

PERTUMBUHAN seseorang  banyak dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada. Gereja Tuhan memiliki tanggung jawab besar dalam menolong pertumbuhan rohani seseorang. Hal ini dialami oleh Hans Wuysang. Kamp penginjilan kaum muda yang digelar gereja, menjadi momen awal Hans menyadari diri sebagai pribadi yang telah ditebus. Kesadaran ini mendorong Hans menyerahkan diri secara pribadi dan sungguh-sungguh serta merasa terpanggil menjadi hamba Tuhan. Padahal saat itu dia masih duduk di kelas 1 SMP. Keyakinan ini disampaikan Hans kepada keluarga. Namun saat itu  keluarga tidak terlalu antusias, malah berkata bahwa Hans sebagai anak muda yang se-dang berkobar dengan semangat sesaat, dan pasti akan lupa dengan keinginan tersebut. Namun ternyata, perkiraan keluarga itu jauh berbeda dengan yang dialami Hans.

Awal kegagalan meniti panggilan
Sampai lulus dari SMA, keinginan untuk menjadi hamba Tuhan tetap kuat bercokol di hati dan jiwa pria kelahiran Plaju, Sumatera Selatan, 24 Juni 1962 ini. Namun ketika dia menyatakan tekad untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah teologi, sebagaimana cita-citanya sejak SMP, keluarga menyatakan ketidaksetujuan mereka.
 Hans akhirnya melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia, demi mengabulkan keinginan orang tua. Harapan untuk menghadiahkan gelar sarjana (insinyur) kepada orang tua, menjadi motivasi Hans melakukan hal ini. Di tahun ke-4 perkuliahan, Hans mengalami perubahan yang tidak dapat dipahami. Hans tidak dapat fokus mengikuti seluruh perkuliahan. Kondisi ini menyebabkan suami dari Suprapti Sekarmadidjaja ini, memikirkan ulang tujuan dan panggilan hidupnya.
Inilah titik awal Hans kembali mengingat kerinduan awalnya akan panggilan sebagai hamba Tuhan. Maka pada 1984 Hans melanjutkan studi ke Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang, Jawa Timur, dan menyelesaikannya pada 1990, dengan mendapat gelar sarjana theologi. Masa-masa pendidikan dengan pengaruh dosen yang mendidiknya, menghantar Hans, sebagai pribadi yang menyenangi sejarah Perjanjian Lama, dan Biblika.

Dia mendapat kesempatan melayani sebagai pembina pemuda di Gereja Kristen Abdiel Gloria, Surabaya, sejak 1989-1994. Di sini pula ayah dari Hanny dan Sophia ini menemukan keunggulan dalam dirinya untuk konsen dalam pembinaan-pembinaan. Hans juga membuat renungan bagi jemaat. Fokusnya terhadap sejarah Perjanjian Lama, dan Biblika, mempermudahkan dirinya untuk berbagi dalam hal ini.
Sang istri yang mensupport penuh pelayanan, dengan latar belakang yang sama, sungguh-sungguh dirasakan Hans sebagai penolong yang memberi perkembangan tersendiri bagi dirinya dan pelayanan.

Melayani Alkitab
Kesenangan dalam mengajar dan bidang pembinaan mendorong Hans terlibat sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Cipanas, Jawa Barat, dari 1994-2003. Selain mengajar, Hans juga dipercaya menangani puket kemahasiswaan. Kesempatan ini mendorong Hans untuk terus memperlengkapi diri dalam pendidikan. Maka pada 1996-1998, Hans melanjutkan studi ke Trinity Thelogical College, Singapura dan mendapat gelar Master Theologi. Hans tetap menjadi dosen selain di STT Cipanas, dan juga menjadi dosen tamu di Sekolah Tinggi Teologi Bandung dan Sekolah Tinggi Theologi Amanat Agung.

Ketika ditanya tentang siapa di balik keberadaan Hans sehingga dia tetap dipercayakan untuk melayani, dia menjawab: “Kasih setia Tuhan yang mempercayakan saya pelayanan. Karena saya bukan orang hebat dan pintar, ada mahasiswa yang saya didik pun lebih pintar dari saya. Selain itu, dukungan dari istri saya dalam melayani dan bertukar pikiran”.
Pengabdian dan kemampuan yang dimiliki Hans, terus menghan-tarnya mengenal diri untuk lebih maksimal melayani Tuhan. Waktu dan kondisi akhirnya membawa Hans harus kembali ke Jakarta. Hingga akhirnya, Hans bergabung melalui pelayanan Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA), Jakarta di bagian penerbitan sejak 2003-2008. Kini dia dipercaya sebagai direktur Pancar Pijar Alkitab/PPA. Walaupun demikian, Hans tetap aktif sebagai penulis dan editor, serta mengerjakan tanggung jawab besar untuk pengembangan PPA, mengadakan pembi-naan-pembinaan ke wilayah-wilayah pelayanan PPA.
Dalam kesibukan, Hans selalu merasakan kebahagiaan terutama dengan keberadaan keluarga. “Istri yang mengerti dan anak- anak yang mengerti, serta kini ikut terlibat melayani. Berdoa malam bersama, Sharing, makan malam bersama, di tengah-tengah kesibu-kan setiap hari. Tetap ada keber-samaan untuk menikmati kesukacitaan keluarga,” ungkap Hans sambil tersenyum.
Sebagai sosok yang melayani Alkitab dan sebagai Hamba Tuhan, Hans mengurai pengamatannya: “Ada Hamba Tuhan yang menya-dari kebutuhan mereka untuk diisi dengan firman Tuhan. Ada yang enggan melayani dengan basis firman Tuhan. Ada yang berkharis-ma, tapi isinya tidak setia kepada Firman Tuhan. Ada yang berlatar belakang tidak percaya Alkitab sebagai firman Tuhan, sehingga firman Tuhan hanya sebagai hiasan. Hanya ide, tapi bukan khotbah Alkitab”.

Hal-hal ini mendorong Hans berpesan kepada seluruh rekan-rekannya sesama hamba Tuhan: “Kita sama-sama melayani Tuhan. Dasar pelayanan adalah firman Tuhan. Maka firman Tuhan harus menjadi dasar, isi pengajaran, penggembalaan kita”. Kepada setiap pribadi, Hans mengingatkan betapa pentingnya menjaga saat teduh. Akhir kata dia menekankan kepada gereja agar terfokus pada firman Tuhan. Lidya

Allah Menjadi Sama dengan Manusia

Ev. Suwandi

Fil 2:6-7
6  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Manusia seringkali dipacu untuk menjadi lebih luar biasa, meningkatkan prestasi dan reputasinya serta menunjukkan kemampuannya yang tidak terbatas. Akibat dipacu , banyak efek samping yang terjadi yakni manusia menjadi egois, memikirkan / mementingkan diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain dan manusia kehilangan kasih. Hal  ini merasuk juga pada banyak diri orang Kristen sehingga banyak orang Kristen kehilangan kasih. Banyak orang yang belum percaya menuduh orang Kristen kehilangan kasih Kristus.

Di dalam hidup kita sebagai orang Kristen, mau tidak mau kita harus mempunyai kasih. Karena kasih merupakan cirri khas dari anak-anak Tuhan (orang percaya) seperti yang tertulis pada Mat 7:37 dan 39 :  Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.  Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan hal tersebut sebagai hukum yang utama dan terutama. Hal ini menunjukkan kita mempunyai Allah yang mengasihi. Juga dapat dilihat pada 1 Yoh 4:8 (Allah adalah kasih). Allah bukan saja dengan mulut mengasihi kita atau menyerukan bahwa ia mengasihi manusia tetapi Allah menyatakan kasihnya melalui tindakan dengan mengutus anakNya Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia (Yoh 3:16).

Siapakah kita manusia?
Manusia yang hidup di dalam dunia sudah jatuh dalam dosa, merupakan ciptaan Tuhan yang sudah rusak, sudah memberontak terhadap Allah, tidak menaati perintah Tuhan dan ingin hidup menurut kebebasan dan menurut keinginan sendiri, hidup di bawah murka TUhan, seharusnya dihukum Tuhan dan seharusnya binasa. Tetapi Allah tidak ingin manusia binasa, Allah mengasihi manusia yang berdosa sehingga ingin menyelamatkan manusia. Dosa merupakan masalah yang serius sekali. Banyak orang berusaha mencari berbagai cara untuk menyelesaikan masalah dosa, tetapi manusia tidak mampu. Hanya Tuhan sendiri yang dapat menyelesaikan dosa, Allah telah merancang caranya dengan datang menjadi manusia. Tidak ada cara lain selain mengutus Yesus, yang adalah Allah, datang ke dalam manusia.  Hanya kedatangan Tuhan Yesus yang dapat menebus dosa manusia dan maut dapat dikalahkan dan manusia diselamatkan.

Pada Fil 2:7,  Tuhan Yesus mengosongkan dirinya sendiri mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Karena kasihNya kepada manusia, Tuhan Yesus rela mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia. Kasih Yesus adalah kasih Allah kepada semua manusia.  Manusia suka membedakan (membuat tingkatan / kasta). Misal : manusia yang hebat-bodoh, kaya-miskin, berpendidikan-tidak berpendidikan dll. Dalam pandangan Allah, semua manusia sama yaitu manusia yang berdosa dan membutuhkan keselamatan. Sehingga Tuhan Yesus mau mengosongkan diri datang sebagai manusia. Secara teologi, Tuhan Yesus telah datang menetapkan diriNya seperti manusia dan menahan keilahianNya supaya semuanya dinyatakan. Ini paradox yang dilakukan Tuhan Yesus. Yesus adalah Tuhan yang tidak terbatas, di mana saja dan terserah Dia mau ke mana, tetapi untuk selamatkan manusia, ia batasi diriNya. Tuhan Yesus sebenarnya adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu. Tetapi waktu Ia datang , membatasi diriNya di bawah hukum Taurat dan menjadi tidak berkuasa. Tuhan Yesus yang disembah dan Maha Tinggi, tetapi saat datang Ia merendahkan diriNya, tidak berdaya, bahkan pada  Fill 2, dikatakan sampai mati di atas kayu salib. Allah rela meninggalkan surga dan kemulianNya untuk datang mencari manusia. Allah begitu menghormati manusia yang berdosa. Sebenarnya Allah bisa membinasakan semua manusia yang berdosa , menggantikan objek kasihnya ke malaikat atau menciptakan manusia baru tetapi Ia tidak melakukan semua itu. Tetapi Allah memilih menghargai manusia yang berdosa walau manusia tidak mau mentaati lagi Allah. Manusia dipilih jadi objek penyelamatan dan kasihNya. Orang Kristen senang karena Allah begitu baik tetapi dalam hidupnya melupakan Allah yang kasih dan tidak mau sungguh-sungguh percaya. Saat datang sebagai manusia, Tuhan Yesus menyebut kita sebagai saudara. Itulah kasih. Tuhan Yesus yang Allah dan dilayani malaikat rela datang ke dunia, dikhianati , diludahi, dipukuli sampai mati.

Ada orang yang menganggap Allah seolah-oleh begitu bodoh karena mau datang ke dalam dunia. Ibarat anak yang diberikan hadiah mobil-mobilan senilai puluhan juta rupiah. Lalu ia bawanya  ke luar untuk bermain-main dengan teman-temannysa sampai sore. Saat pulang, mobil-mobilan yang berharga jutaan sudah menjadi mobil yang harganya puluhan ribu rupiah karena menganggap mobil temannya lebih bagus. Kita ingin marah karena kebodohan sang anak. Masa barang yang jutaan rupiah ditukar dengan barang yang puluhan ribu rupiah. Demikian juga seakan-akan Allah itu bodoh. Mau menukarkan anakNya, Yesus Kristus yang harganya begitu tinggi dengan manusia yang telah berdosa yang tidak ada nilainya. Mereka menganggap Allah perhitungannya salah (tidak bisa berhitung). Tetapi inilah Allah. Bukan bodoh, tetapi semata-mata Allah memikul kebodohan , ketidakberdayaan manusia karena Allah begitu mengasihi manusia. Allah ingin selamatkan manusia berdosa. Kita mengakui kita tidak punya apa-apa. Yang seharusnya dibinasakan, karena jatuh dalam dosa, tetapi karena belas kasihan dan anugerah Allah, kita diselamatkan.

Kita sebenarnya manusia tidak berarti, hampa, tidak ada nilainya, tetapi dijadikan bernilai dengan datangnya Allah menjadi manusia. Kita bukan menjadi manusia yang tidak ada harganya lagi karena sudah ditebus dengan darah Kristus yang sangat mahal. Sehingga kita tidak lagi menyombongkan diri dengan merasa hebat atau merendahkan diri tetapi manusia yang sudah ditebus oleh darah Yesus. Saat merayakan natal, kita mengingat bagaimana Tuhan Yesus datang dalam dunia , Ia tidak lahir di istana yang begitu indah, yang pantas dan sewajarnya. Tetapi Ia lahir di dalam palungan. Saya pernah melihat sebuah drama natal tentang kelahiran Tuhan Yesus. Dikisahkan Yusuf dan Maria yang sedang menantikan kelahiran datang ke Betlehem mengetuk rumah penginapan dan penduduk. Saat diketuk, semuanya berkata, “Tidak ada tempat bagimu.” Pintu diketuk terus, sampai semua rumah di Betlehem diketuk dan nyatanya tidak ada tempat. Hanya tersisa palungan. Semuanya ini merupakan kasih Allah yang begitu besar kepada manusia yang berdosa. Kita tidak layak mendapat kasih Tuhan tapi Allah begitu mengasihi kita dengan datang menjadi sama dengan manusia dan hamba. Tidak ada orang yang mau jadi hamba. Semuanya ingin jadi orang hebat. Kerelaan Yesus datang untuk menjembatani hubungan Allah dengan manusia. Jaraknya yang semula begitu jauh, namun akhirnya manusia yang berdosa dapat datang kepada Allah. Oleh karena itu sebagai manusia, kita seharusnya senantiasa rindu datang kepada Allah. Kedatangan Tuhan Yesus rela menderita seperti manusia sehingga kita mengerti. Ia mengerti penderitaan kita. Ia turut merasakan perasaan orang kehilangan, kesepian dan ditinggalkan. Tuhan Yesus mengerti perasaan manusia. Sewaktu dalam pergumulan, kita bisa datang kepada Tuhan. Kalau manusia menasehati, kita belum tentu bisa terima. Karena mereka menasehati dengan perkataan saja, tidak pernah mengalami. Sedangkan sewaktu menderita, kita bisa datang kepada Tuhan karena  Ia pernah merasakan apa yang kita alami. Kerelaan Tuhan Yesus datang kepada manusia merupakan tantangan untuk mempedulikan orang lain. Seharusnya Ia di surga, menjadi Tuhan yang disembah, tetapi Ia mau datang kepada manusia. Ini mengajarkan, sebagai anak-anak Tuhan punya kerinduan seperti Yesus mempedulikan orang lain. Kita rindu melayani orang lain. Kita sulit melayani karena menempatkan diri kita di atas orang lain. Tetapi Tuhan Yesus menempatkan diri sebagai hamba sehingga melayani. Mari kita belajar merendahkan diri untuk melayani orang lain. Allah rela jadi sama dengan mansia. Mari kita belajar melalui firman Tuhan, seperti Allah merendahkan diri untuk melayani manusia yang jatuh dalam dosa.  Saat ini, masih banyak orang yang belum percaya kepada Tuhan. Mari kabarkan Injil kepada orang lain.