Tuesday, October 8, 2019

Nama Allah dianggap Enteng (Hukum Taurat yang ke-3)





Ev. Putra Waruwu

Keluaran 20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

Pendahuluan

              Tadi sewaktu masuk ke ruangan ini dan naik ke atas altar saya disambut oleh aroma terapi. Sekarang ruang ini lebih wangi. Ini suatu gerakan / hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana ibadah yang nyaman ketika mendengarkan firman Tuhan. Bulan ini kita belajar tentang 10 hukum Taurat. Minggu lalu kita belajar hukum kedua tentang bagaimana memaknai larangan Allah agar tidak membuat (menyembah) patung dan minggu sebelumnya kita belajar Allah yang membebaskan bangsa  Israel keluar dari tanah Mesir. Minggu ini kita belajar tentang nama Allah dianggap enteng ,biasa, tidak punya makna (arti) sehingga semaunya untuk menyebutnya.

Nama tentu penting bagi semua orang, tidak terkecuali bagi Tuhan

Setiap orang sangat mementingkan nama. Contoh : sebelum bayi lahir, namanya sudah disiapkan. Itu umumnya terjadi di kota besar, tetapi di kampung saya (Nias) berbeda. Sebelum bayi lahir tabu untuk menyiapkan namanya. Sedangkan di kota besar berbeda, orang tua membuka google atau bertanya pada hamba Tuhan sebelum bayinya lahir. Itu menunjukkan nama itu penting bagi tiap orang, tidak terkecuali bagi Tuhan. Tuhan juga punya nama (sebutan).
Sehingga di dalam perintah (hukum) yang ketiga dikatakan “jangan menyebut nama  Tuhan dengan sembarangan (=sembrono, seenakku saja)”. Karena ada makna dibalik itu. Mengapa kita harus memelihara (menjaga) nama Tuhan, mengekang diri kita agar tidak menyebut nama Tuhan dengan sembarangan? Mari kita lihat sekeliling kita. Kenyataan bahwa kita tidak suka kalau nama kita dijadikan bahan permainan. Kita tidak suka nama kita jadi bahan cemoohan, bukan karena nama kita jelek (tidak bagus), tapi nama adalah identitas diri kita. Sehingga kita sangat menjaga nama baik kita supaya tidak tercoret dengan hal-hal yang tidak berkenan.
Di zaman kita sekolah, teman-teman seusia yang paling senang (kepo) akan nama orang tua temannya, setelah tahu lalu diolok-olok. Di kampung saya hal itu tabu. Saat berinteraksi kami tidak menyebut nama asli tapi menggunakan nama (sapaan) lain. Itu karena pentingnya nama. Waktu itu saat usia SD-SMP, tiap kali mengambil rapor, ambil rapor teman lalu membuka halaman (bagian) depan dan membaca nama orang tuanya, lalu setelah dapat , menutup rapor tersebut dan mulai mengolok-olok. Itu membuat anak itu sangat sedih, karena nama papa-mamanya dibuat jadi bahan permainan. Bukan berarti nama papa-mamanya jelek. Itu menunjukkan betapa pentingnya nama yang dilekatkan pada kita. Ada lirik lagu yang berkata, “Nama baik lebihlah berharga daripada emas dan permata”. Nama itu penting karena menunjukkan siapa orang itu, siapa dia, maka ia diberi nama. Demikianlah dengan tema hari ini : Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan.

Jangan Menyebut nama TUHAN dengan sembarangan

Keluaran 20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. Di sini kita tidak dilarang untuk menyebut nama Tuhan. Kita diberi kebebasan dan hak untuk menyebut nama Tuhan, tetapi jangan sampai menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Kalau begitu  lebih baik tidak usah disebut. Itu yang Tuhan larang (penyebutan namaNya secara sembarangan)
-        Nama dalam budaya Israel seringkali dikaitkan dengan PRIBADI.
Kalau kita tahu Dia adalah Tuhan , maka kita akan hormat dan sangat tunduk kepada Nya. Karena Dia adalah Pribadi yang tertinggi. Tetapi seringkali hal ini terlupakan. Karena kemungkinan terlalu sering menyebut nama Tuhan, sehingga tidak ada lagi makna yang terdapat di balik namaNya. Dibalik kata Tuhan ada kata Hantu. Jangan sampai salah kita menyebut nama Tuhan tapi tujuannya dari hantu. Hal ini bisa demikian karena dikaitkan dengan pribadi seseorang.
-        Nama bukan hanya sebuah SEBUTAN untuk membedakan si A dan si B. 
Bukan hanya sebuah sebutan untuk membedakan antara pendeta dengan penginjil. Untuk keduanya agar sadar diri. Nama tidak sebatas itu, nama itu adalah gambaran dari pribadi seseorang. Ini yang penting. Jadi ketika ditanya arti sebuah nama, maka jawabannya : “Sangat berarti (sangat penting). Dengan nama engkau dikenal, bisa dilihat oleh orang”. Kalau kasih nama untuk anak-anak, pasti ada arti di belakangnya. Misal : pada orang Jawab memberi nama “Sugiarto” tujuannya agar anaknya jadi kaya (sugi =kaya).
-        Nama mengungkapkan siapa orang yang memiliki nama tersebut. Setiap nama punya arti (makna). Itu adalah pentingnya sebuah nama.

Apa yang dimaksud dengan “jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan”?

“Sembarangan” berarti  
-        tidak dengan pilih-pilih, tidak dengan pandang-memandang, asal, dan tidak dengan aturan.
-        bebas melakukan apa yang dikehendaki, semaunya/ sesukanya /seenaknya/sebebas-bebasnya. Misalnya : aturan duduk harus rapi , kaki tidak boleh diangkat tetapi karena tidak mau maka saya menaikan kaki , itu yang disebut sebagai sembarangan (tidak berarturan). Ini pengertian sederhana dari kata “sembarangan”. Berarti kalau dikaitkan dengan tema kita, maka menyebut nama Tuhan dengan sembarangan berarti menyebut nama Tuhan tanpa arti.

Beberapa sebutan
-        Beberapa jargon (sebutan)  rohani yang sering kita temui (lontarkan) sehari-hari terutama saat kita sedang mengalami sukacita, bersedih atau kesandung, kita berkata seperti “Oh My God, My Lord, My Jesus, Ya Allahku, Ya Tuhanku, Oh Tuhan, Ya Yesus” (apalagi kalau ada berita heboh). Saat tersandung menyebut “Oh My God”.  Apakah melontarkan sebutan ini salah? Tidak sepenuhnya salah tetapi ketika menyebut nama Allah tanpa makna, kita berdosa. Tapi ketika menyebut nama Tuhan dengan satu keyakinan bahwa Tuhan pasti tolong, itu bermakna! Menyebut nama Tuhan, jangan sampai kita terjebak ke ritual (Tuhan kasih kamu, Tuhan pedulikan kamu), tetapi sebenarnya kita tidak yakin dengan apa yang sedang kita sampaikan.
-        Seringkali hanya menjadi ritual semata tanpa esensi yang benar dan tepat.
Kita seringkali menyebut untuk menghibur orang lain. Kita hanya menyampaikan itu hanya untuk menghibur diri dan orang lain. Kalau kita mengagungkan nama Tuhan tanpa keyakinan di dalam diri, maka kita sudah berdosa karena menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Kita adalah manusia, tetapi keyakinanmu harus lebih besar dari kekhawatiran. Jangan sampai terjebak, hanya berani menyebut namun tidak yakin sepenuhnya kepada Tuhan.


Manusia menyebut nama Tuhan dengan sembarangan berarti :
Menyebut nama Tuhan dengan sembarangan, berarti manusia berani menyebut pekerjaanNya, manusia menyatakan bahwa nama Tuhan sungguh amat baik , sungguh amat baik. Itu ikrar / pernyataan tetapi melawan hakekatNya. Dikala kita mengatakan Tuhan Yesus baik dan Tuhan berkata ‘baca firman Tuhan’ tetapi tidak mau maka berarti kita sudah melawan hakekat Tuhan. Tidak meyakini ketika bergumul dan Tuhan berkata ‘Jangan khawatir , kekhawatiranmu tidak menambah sehasta hidupmu” tetapi kita juga masih tidak percaya kepada Tuhan. “Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan” tidak terbatas hanya ketika kita berucap. Ingat dalam Perjanjian Baru dikatakan “Kita adalah surat Kristus yang dibaca oleh semua orang”. Tanpa b ngomong pun, orang bisa melihat kita orang Kristen dan kelakuannya baik berarti nama Tuhan sudah kita muliakan. Tetapi ketika orang lihat Kristen tetapi hidup kita sembarangan, berarti orang sudah bisa melihat berarti kita tidak memuliakan nama Tuhan. Seringkali ada dalam bagian ini , jujur tidak jujur, mau tidak mau di dalam pekerjaan, pelayanan, rekan bisnis, usaha, mereka tahu kita Kristen (anak Tuhan) tetapi cara kita tidak seperti cara Tuhan. Itu sudah menyebut nama Tuhan sembarangan.

Hubungan dengan Perjanjian Baru

Di dalam Perjanjian Baru dikatakan bahwa penyebutan nama Tuhan dikorelasikan (dikaitkan) dengan sikap. Jika kita melakukan kejahatan, maka kita sudah menyembarangkan nama Tuhan seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. Terkadang ada orang melakukan segala sesuatu atas dasar nama Tuhan, menggunakan nama Tuhan , mengklaim nama Tuhan untuk membenarkan diri. Jujurlah di hadapan Tuhan, padahal ceritanya tidak seperti itu. Seringkali manusia lemahnya di sana tanpa kita sadari. Hati-hati , nama Tuhan dihubungkan dengan sikap kita ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Jangan sampai Tuhan Yesus berkata,” Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan semua orang yang menyebut nama-Ku akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, hanya mereka yang melakukan kehendak Allah yang dapat masuk sorga” (Matius 7:21). Ini saat banyak orang berteriak-teriak,”Tuhan! Tuhan! Tuhan!”. Tuhan berkata,”Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu. Enyahlah kamu!” Ini tragis sekali. Kita jangan hanya sampai pada perasaan kita kenal Tuhan tetapi kita tidak mau melakukan apa yang Tuhan mau.

Nama “TUHAN ALLAH”

Allah adalah nama dari pribadi yang paling di atas segalanya, paling adil, paling bijak, paling sempurna, paling mutlak, paling suci, paling benar, paling indah, paling tinggi, dan seterusnya. Semua di atas yang paling, hanya nama Allah yang paling tinggi. Maka ketika engkau menyebut nama Allah, tidak boleh tanpa memiliki rasa tanggung jawab.
              Waktu saya masih SD dan mengikuti sekolah Minggu di daerah, kita pernah dihadapkan suatu perkara besar dari Guru Sekolah Minggu yang melarang kami menyebutkan nama Allah. Itu berlangsung selama 2-3 bulan. Ia tetap mengajar dan melarang anak-anak untuk menyebut nama Allah dengan paham “Nama Allah itu tidak pantas untuk kamu sebutkan” dan dengan pemahaman-pemahaman lainnya. Akhirnya Namanya anak-anak, kami bercerita ke orang tua. Sampai di sekolah kita berkata ke teman-teman untuk tidak menyebut nama Allah karena kata guru Sekolah Minggu, itu salah. Selidik demi selidik, ternyata guru yang mengajarkan itu sedang dalam proses diri namun melewati jalan yang salah. Akhirnya dia kena siasat dan disiplin dari greja, dan mengikuti pembinaan selama beberapa waktu hanya karena melarang anak-anak menyebut nama Allah dengan pemahaman dia yang tidak benar. Seberapa banyak kita menyebut nama Tuhan di dalam hidup kita dalam satu hari yang kita lewati? Jangan sampai menggunakan firman Tuhan dan nama Tuhan sebagai tameng untuk menunjukkan bahwa kita benar padahal kita salah. Hati-hati menggunakan firman  dan  nama Tuhan. Kelihatan rohani tetapi jangan sampai kita berbuat dosa dalam hal yang rohani. Justru dalam hal-hal rohani , kita berbuat dosa. Jangan sampai kita berseru-seru tentang nama Tuhan, padahal di dalamnya kita sedang melakukan banyak dosa. Jangan sekali-kali menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Pertanyaannya :

Mengapa ada orang yang berani menyebut nama Allah dengan sembarangan?

Karena mereka tidak tahu siapa itu Allah dan tidak mengenal Allah. Kalau kita mengenal Allah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan menjaga nama itu dengan baik. Bagi yang sudah punya anak, pasti anak-anak dibekali dengan pembekalan hidup untuk menjaga nama baik keluarga dan orang tua. Kalau tidak mengenal orang tua, maka bisa saja nama baik tercoreng, tetapi karena sudah kenal maka nama itu bisa terjadi dengan baik. Kalau kita terus-menerus menyembarangkan nama itu dengan banyak alasan (nama itu dibuat lelucon, candaan) maka kita harus mengoreksi diri apakah kita sungguh-sungguh mengenal Allah atau belum. Nama Tuhan punya kuasa, sehingga dalam akhir doa kita menyebut ‘dalam nama Yesus’ karena namaNya berkuasa untuk menggenapi apa yang sedang kita doakan.

TIDAK boleh menggunakan nama TUHAN dengan sembarangan karena :

1.     Alkitab mengatakan kepada kita bahwa nama Tuhan adalah nama yang berkuasa.
Waktu di kampus seminari, saya memimpin doa dan tidak menyebut ‘dalam nama Tuhan Yesus’ tetapi mengatakan ‘dalam namaMu kami berdoa’. Setelah selesai doa, kakak tingkat saya memukul tangan saya dan berkata,”Kamu doanya salah” bukan diapresiasi malah dihakimi doanya salah. Saya bertanya mengapa dan dijelaskan, kamu tidak menyebut nama Tuhan Yesus, jadi kamu berdoa kepada siapa? Ke Tuhan yang mana? Nama Tuhan Yesus itu penting untuk menunjukkan melalui Dia kita meminta. Sehingga setiap kali kita berdoa dalam nama Yesus, yang menjadi keyakinan iman kita, kesungguhan di dalam kepercayaan kita. 
-          Dalam Yeremia 15:21, Yeremia berkata,”Siapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan”.
-          Nama Tuhan adalah benteng yang teguh. Nama Tuhan adalah kubu pertahanan. Kubu/banteng, kita berlindung dan bersembunyi didalamnya. Di balik nama Tuhan, kita juga bisa menyatakan kuasa Tuhan kepada orang lain. Sehingga bila ada doa-doa pelepasan, penggunaan-penggunaan jimat maka nama Tuhan berkuasa untuk menghanguskan semuanya itu. Namanya penuh kuasa! Pertanyaan nya : seberapa berkuasa nama Tuhan di dalam hidup kita? Seberapa berkuasa  memulihkan hidup kita, menghibur kita, menolong kita, menyukakan hati kita? Atau malah mendukakan hati kita ketika kita terus berharap kepada Tuhan namun Tuhan belum kunjung menjawab doa-doa kita.
Kemarin sore kita membesuk dan berdoa Ibu Lusi yang akan operasi beberapa hari kemudian, Di dalam kemanusiaannya ia takut dan ini wajar. Tetapi dengan firman yang disampaikan dan doa dipanjatkan, ada kekuatan yang Tuhan berikan di dalam dirinya. Kalau kita belum mengalaminya, maka kita akan sulit untuk menceritakan (Ah itu mah biasa. Bisalah). Tetapi kalau kita berada di posisi paling bawah dalam kehidupan kita, kita akan merasakan pertolongan Tuhan itu penting dan memang dibutuhkan. Itulah nama Tuhan yang berkuasa. Sebelum kita pulang dia minta untuk menyanyikan sebuah lagu dan kita menyanyikan lagu “Kemurahan Tuhan lebih dari Hidup”. Inilah kekuatan dari nama kita, maka jangan sekali-kali menyembarangkan nama Tuhan.

2.     Nama Allah mulia dan dahsyat. Ulangan 28:58, Hakim 2:13)
                         
Di lirik lagu dikatakan “Nama Yesus, Nama atas segala nama. Raja segala Raja” Itu nama Tuhan. Dia mulia dan dahsyat. Dalam tradisi Timur Dekat Kuno yaitu kebudayaan waktu Kitab Perjanjian Lama ini ditulis, seorang yang memberi nama atau seorang yang diberi nama , itu adalah pribadi yang memiliki kuasa atas sesuatu (tanda menguasai). Tuhan punya nama. Ketika Musa bertanya,”Tuhan bila orang Israel bertanya, siapakah Engkau? Maka apa jawabku?” Allah berkata,” Katakan kepada mereka, Aku adalah Aku.” Artinya Aku ada sebagaimana Aku ada.  Aku lah YHWH itu, Akulah Yahweh itu, Akulah Allah yang besar itu!” Itulah pentingnya nama Tuhan. Mulia dan agung nama Tuhan, itu kita tidak bisa kita tutupi dan batasi. Kebesaran dan keagunganNya mengatasi semuanya. Oleh karena namaNya mulia dan dahsyat maka di dalam semua kehidupan kita, Tuhan harus menjadi yang utama. Sebab Ia yang mulia atas kita. Kalau nama Tuhan mulia dan dahysat, maka ketika kita menyebut nama Tuhan maka orang yang mendengar sebutan kita harus bisa menghargai Tuhan kita. Ketika kita berbicara tentang Tuhan yang menyelematkan kita, maka orang yang merespon harus bisa menghormati Tuhan kita (oh benar, Tuhannya besar sekalipun ia belum mau percaya tetapi ia punya rasa penghormatan terhadap Tuhan kita). Jangan sampai kita menceritakan Tuhan kepada orang lain, tetapi orang lain tidak menghormati Tuhan kita. Hati-hati! Lidah memang tidak bertulang, kecil, tetapi dapat menghanguskan. Kecil tapi dapat membahayakan. Nama Tuhan itu sangat teramat penting untuk kita perlu hati-hati menyebutkannya di dalam kehidupan.

3.     Nama Tuhan besar di antara bangsa-bangsa – Malaekhi.

Dalam kisah tembok Yeriko, ketika orang Israel mau masuk tanah Kanaan, orang-orang di Yeriko ketakutan terlebih dahulu. Mereka ketakutan karena ada orang Israel di samping jumlahnya yang banyak, mereka punya Allah yang besar. Ketika orang Israel berseru kepada Tuhan itulah yang  membuat orang Yeriko ketakutan (gentar) karena kebesaran Tuhan orang Israel. Ketika Tuhan berfirman kepada orang Israel untuk mengelilingi tembok Yeriko satu hari beberapa kali selama berhari-hari tetapi di hari terakhir, mereka mengelilingi tembok itu dan tembok itu hancur. Itulah kekuatan nama Tuhan. Ketika kita mau melakukan apa yang Tuhan inginkan di dalam kehidupan kita. Kita harus jujur bahwa kita lemah , seringkali gagal dan berdosa, seberapa kali kita jatuh tetapi setidaknya seperti itu juga kita belajar untuk bangkit, melakukan apa yang Tuhan mau (kehendaki), mengerjakan apa yang Tuhan inginkan dalam kehidupan kita. Hamba Tuhan tidak terlepas dari teguran ini, justru hamba tuhan harus lebih berhati-hati (waspada) karena tugas hamba Tuhan adalah memperkatakan firman Tuhan. Seorang teolog berkata, “Kalau hamba Tuhan khotbah tanpa persiapan, hanya mengandalkan pengalaman maka ia juga menggunakan nama Tuhan sembarangan. Ini adalah teguran. Tetapi biaran teguran ini menjadikan kita melihat kita bersyukur Tuhan memperkenalkan diri kepada kita. Tuhan harus jadi role model dalam hidup kita. Jangan hanya kita yang bisa mendengar dan mengenal nama Tuhan.
-          Bangsa-bangsa lain harus tahu dan gentar (takut) akan nama Tuhan yang besar. Inilah pentingnya mengapa kita tidak boleh menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Kalau nama kita saja tidak mau disebut sembarangan, terlebih lagi nama Tuhan.
-          Orang-orang di luar harus tahu kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan. Hukum ini muncul karena kehidupan orang Israel saat itu bobrok di hadapan Tuhan. Bukan lebih baik sebaliknya hidupnya lebih buruk. Jauh daripada Tuhan. Tidak mengikuti Tuhan. Bahkan ketika Musa naik ke gunung Sinai menunggu hukum ini diberikan Tuhan, apa yang dilakukan orang-orang Israel di kaku gunung? Mereka membuat patung emas! Itu sedang menunggu hukum, menunggu Tuhan bicara melalui Musa tetapi mereka sempat berbuat dosa. Mereka menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Ada yang mengatakan tidak menyebut namaNya sembarangan, tetapi sikap hidup,cara kerja,  cara bisnis, cara pelayanan, cara bicara, cara kita berelasi apakah sesuai dengan maunya Tuhan atau tidak? Kehadiran kita harus bisa dirasakan oleh orang lain. Dan nama Tuhan yang berkuasa bagi kita, itu  juga harus dirasakan oleh orang-orang lain. Mari kita sama-sama belajar dari bagian ini. Sungguhkan kita mengerti dengan benar nama Tuhan? Ini pertanyaan refleksi. Kalau belum mengerti dengan baik, maka lebih baik jangan sebutkan secara kata-kata, lebih baik diam saja daripada kita salah kalau kita paham dengan benar. Jaga kekudusan Nama itu. Jaga kemuliaan Nama itu.  Siapkah kita menyebut nama Tuhan dengan benar. Benar artinya kita sebutkan sesuai pada porsi (tempat)nya dan tepat pada waktunya. Tidak untuk hal-hal yang tidak menyenangkan Tuhan. Adakah kebenaran itu berada di dalam hati kita? Kebenaran di mana kita mengenal Tuhan dengan baik dan kita kenal Tuhan dengan benar dan kita sungguh-sungguh mau melakukan apa yang Dia kehendaki di dalam kehidupan kita. SIlahkan menyebut (menyerukan) nama Tuhan tetapi jangan sampai dengan sembarangan. Silahkan bertindak, berbuat, bekerja , melayani tetapi jangan sampai sembarangan. Silahkan menegur atas nama Tuhan, mengingatkan atas dasar nama Tuhan, tetapi jangan sampai dilakukan degnan sembarangan. Itu yang penting. Nama Tuhan Allah, Akulah Dia dalam perkataanmu! Nyatakanlah Dia dalam lakumu! Hiduplah seturut kehendakNya! Ketika kita mengakui maka kita juga melakukan. Ketika kita mengakui dan melakukan, kita hidup seturut dengan apa yang Tuhan mau. Perjalanan kita di dalam dunia, adalah perjalanan iman. Ada spiritual journey di sana, ada perarakan rohani. Di mana setiap hari, setiap waktu, setiap saat, kita diubahkan hidupnya, semakin hari harus semakin serupa dengan Kristus. Walau pun kita tidak dan belum sempurna, tetapi hari demi hari adalah pengudusan untuk kita. Setiap waktu adalah masa pengudusan untuk kita. Bukan setelah mati baru kita dikuduskan. Tetapi di dalam perjalanan iman kita dikuduskan. Salah  satunya kita diingatkan, “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan”. Itu yang Tuhan mau tekankan (ingatkan, beritakan) kepada kita. Di dalam Filipi, Rasul Paulus mengatakan, “Di dalam nama Yesus, semua lidah mengaku, semua lutut bertekuk” menyatakan bahwa Ia besar, agung dan mulia.

Penutup

Jumat lalu saat pelayanan perjamuan kudus, berkeliling beberapa tempat, satu hal yang paling kita ingatkan adalah tentang Yesus. Asuk-ayi boleh lupa pada kita yang datang (pembesuk), tetapi jangan sampai lupa kepada Tuhan Yesus. Ingat Tuhan Yesus? Dijawab,”Ingat”. Bukan semata-mata karena kita mau ingat, tetapi karena Tuhan berkata untuk kita ingat Dia. Di RS Husada (bangsal Nusa Indah) juga sama. “Saat ditanya “Tahu Tuhan Yesus?” Dijawab,”Tahu”. Tahu dokternya tidak?" Dijawab,"Tidak." Saya ambil positifnya yaitu dia ingat Tuhan sebagai Juruselamat. Bagaimana dengan kita? Apa yang kita ingat dari Tuhan sehingga kita berani menyebut namaNya? Apa yang kita rasakan dari Tuhan sehingga kita berani menyatakan namaNya? Atau apa yang bagi kita, versi kita kita dikecewakan oleh Tuhan sehingga membuat kita menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Ketika kita berkata Tuhan adil (benar, pedulikan saya) maka saat itu kita sedang menggunakan nama Tuhan dengan sembarangan. Hati-hatilah! Pengertian sembarangan tidak hanya berhenti di perkataan yang banyak, tetapi ketika tidak yakin sepenuhnya kepada Tuhan kita sudah menyembarangkan nama yang kudus dan nama yang mulia. Apa yang difirmankan Tuhan kepada kita, hendaknya menjadi kekuatan bagi setiap kita menjadi pegangan (bukan jimat) buat kita. Tetapi keyakinan ada kelepasan di dalam Tuhan. Nama Tuhan mulia dan kudus untuk itu. Mari kita jaga dengan baik! Mari kita pelihara dengan baik Nama Tuhan! Ini gereja tempat di mana setiap waktu Nama itu dipercakapkan , jangan sampai di tempat ini , kita juga menyembarangkan nama Tuhan. Bukan berarti kita tidakk boleh berkata-kata tetapi ingatlah jangan sammpai sembarangan!


Sunday, September 8, 2019

Berhala dalam Hatimu (Hukum Taurat yang ke-2)

Pdt. Agung Gunawan

Keluaran 20:4-6
4  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
5  Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
6  tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Pendahuluan

              Bangsa Israel pada mulanya dijajah dan ditindas di tanah perbudakan (Mesir). Mereka berteriak kepada Tuhan dan kemudian Tuhan mengasihi dan mengjawab doa mereka melalui hambaNya Musa. Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Ketika hidup di Mesir mereka menuruti peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang ada di Mesir. Ketika keluar dari Mesir, mereka bukan lagi orang-orang yang ada di dalam penindasan dan hukum di Mesir tetapi mereka sekarang adalah umat pilihan Allah. Oleh sebab itu, sebagai umat pilihan Allah, Allah memberikan hukum untuk mereka patuhi untuk menuntun perjalanan mereka di padang gurun sampai akhirnya mereka masuk di tanah perjanjian yaitu tanah Kanaan yang penuh susu dan madu.

Allah ingin bangsa Israel setia kepada Allah

              Di dalam Keluaran 20 berisi 10 hukum. Di mana hukum ke 1-4 bicara tentang relasi antara umat Israel dengan Allah sendiri. Hukum ke 5-10 bicara tentang relasi antara orang Israel dengan sesama baik dengan keluarga maupun orang lain. Pada hukum  pertama memang hanya berbicara tentang 1 hal yaitu kesetiaan. Allah ingin umatNya setia karena Allah terlebih dulu setia. Allah telah mengeluarkan bangsa Israel dari tanah perbudakan , tanah di mana mereka ditindas, dijajah dan mereka tidak punya hak untuk memilih apa yang harus dikerjakan. Ada yang harus membuat patung untuk disembah dan lainnya. Jadi kuncinya setia karena Allah lebih dahulu setia. Dalam hukum pertama, pada Keluaran 20:3 dikatakan,  Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku bicara tentang orang-orang Kristen adalah umat Tuhan. Kita adalah orang-orang monoteisme, artinya kita hanya menyembah satu Allah (tidak ada Allah lain). Jadi salah kalau orang-orang di luar megnatakan bahwa orang Kristen menyembah 3 Allah (Allah Bapa Allah Putra – Allah Roh Kudus) sehingga menganggap orang Kristen sebagai orang kafir karena menyembah 3 allah. Dari ayat ini kita lihat bahwa Tuhan sendiri memberitahukan bangsa Israel “Jangan menyembah Allah lain”  jadi kita adalah agama monoteisme (hanya  menyembah Allah yang esa).

Hukum kedua

              Hukum kedua berbicara tentang larangan Tuhan untuk orang-orang Israel sebagai umat pilihanNya untuk membuat patung yang menyerupai apa pun yang ada di di langit, yang ada di bawah bumi, di air dan sebagainya. Lalu dikatakan,”jangan menyembah”. Kalau diperhatikan penekanannya tidak  berhenti di sini. Kita seringkali berhenti pada ,  Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Tetapi yang paling penting adalah pada ayat kelima yaitu  Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.
Allah kita adalah Allah yang cemburu. Artinya apa? Cemburu itu adalah sesuatu yang wajar. Untuk suami yang sudah beristri atau sebaliknya tetapi masih melirik laki-laki / wanita lain tentunya pasangannya pasti marah. Namun jangan sampai keluarga-keluarga Kristen hancur karena cemburu yang berlebihan. Cemburu boleh tapi jangan berlebihan. Ada yang cemburu, karena suami melirik perempuan lain bahkan melirik sapi juga cemburu.  Ini keterlaluan. Tetapi cemburu yang wajar memang begitu. Kalau suatu hari saat berjalan-jalan di mal istri melihat suami menggandeng wanita lain maka boleh marah, itu cemburu yang wajar. Karena suami -istri harus setia. Ini sebenarnya yang ditekankan oleh Tuhan di sini bukan “jangan membuat patung” tapi membuat patung dan menyembah dan beribadah kepadanya. Itu yang membuat Tuhan marah.

Jadi hukum kedua ini berbicara 2 larangan :

1.     Jangan menggantikan Allah dengan buatan manusia. Jangan menyembah barang buatan tangan manusia.

Patung itu buatan manusia. Ada orang yang membuat patung Tuhan Yesus, apakah salah? Tidak salah! Apakah salah membuat salib yang sebenarnya termasuk patung juga? Ada orang yang membuat patung Bunda Maria, apakah salah? Tidak salah! Apakah salah bila di rumah ada salib, gambar-gambar Tuhan Yesus disalib, dimahkotai duri (itu termasuk patung buatan manusia)? Itu sebenarnya tidak masalah, tetapi jangan kamu menyembah karena itu buatan tangan manusia. Kalau menyembah kepada patung buatan tangan manusia berarti kita merendahkan derajat kita sendiri. Dengan menyembahnya justru kita mengabdikan diri pada apa yang kita buat dan itu yang Tuhan tidak mau. Kita harus menyembah dan beribadah kepada Sang Pembuat (Pencipta) kita yaitu  Allah sendiri. Jadi jangan terbalik, jangan membuat sesuatu dan kemudian kita menyembahNya tetapi marilah kita menyembah Allah yang menciptakan kita. Dialah sumber peribadahan dan penyembahan kita, bukan objek-objek  yang kita buat. Sekali lagi jangan salah, ada banyak pendeta yang menafsirkan hal ini secara harafiah dan begitu keliru, sehingga orang Kristen tidak boleh ada patung-patung dan gambar Tuhan Yesus. Bahkan ada seorang jemaat yang berkata, “Saya senang mengumpulkan guci dari Tiongkok karena bagus. Ada yang motifnya naga, harimau dll. Kata pendeta saya, ini tidak boleh. Ini iblis dan harus dihancurkan. Harganya puluhan juta bahkan ada yang ratusan juta Rupiah. Katanya harus dihancurkan.” Saya berkata, “Jangan! Tidak harus seperti itu. Itu berlebihan. Saya ingin bertanya, ‘Apakah kamu menyembahnya?’” “Tidak Pak! Saya hanya taruh di rumah supaya indah dan supaya orang yang datang senang melihat motifnya buatan Tiongkok yang luar biasa.”, jawabnya.
Apakah salah memiliki salib yang digantung di rumah? Tidak masalah. Itu menunjukkan bahwa kita adalah orang Kristen. Tetapi salah, kalau kita menjadikan salib tersebut untuk disembah. Bahkan menganggap salib memiliki kekuatan magis, itu yang tidak boleh. Ada yang takut  sehingga waktu tidur membawa salib agar setannya takut seperti di film (orang kerasukan setan dikalahkan dengan salib). Itu tidak benar. Itu buatan tangan kita. Kita yang lebih kuasa dari salib. Iblis tidak takut dengan salib, tetapi Yesus yang disalib itu yang ditakuti oleh iblis. Sehingga Tuhan katakan, “Jangan kamu membuat patung dan menyembahnya”. Itu yang dilarang. Jadi jangan salah. “Oh kalau begitu, saya tidak boleh punya kalung salib?” Tidak masalah. Kalung salib nya jangan dibuang atau dibakar,lebih baik kasihkan saya kalau tidak mau. Tetapi artinya jangan dipakai salib sebagai jimat. Banyak orang pakai salib untuk jimat. Saya pernah pergi ke satu toko. Waktu itu  wanita pemiliknya mau ke toilet dan minta saya menjagakan toko sebentar dengan pesan,”Nanti kalau ada orang mau beli dan bila perlu uang kembalinya , tempatnya di laci ini”. Akhirnya ia ke toilet sebentar. Ternyata ada orang beli dan perlu uang kembalian sehingga saya buka lacinya. Di dalamnya ada salib.  Selesai transaksi dan pemiliknya datang saya bertanya, “Tante ,salibnya untuk apa?” “Oh salibnya, saya sengaja taruh di sana untuk mengusir tuyul. Katanya tuyul itu suka mencuri uang, makanya saya taruh di situ agar tuyul takut!” Itu  tidak benar.
Jangan Alkitab disembah! Jangan kalau tidur takut, Alkitab dijadikan bantal sehingga setannya hilang dan bisa tidur. Bukan seperti itu. Kalau tidak bisa tidur bukan gara-gara setan tetapi banyak pikiran yang aneh-aneh. Ada penyakit yang namanya insomnia karena stress memikirkan macam-macam.  Seperti pikir tidak bisa bayar utang. Walaupun taruh Alkitab di kepala tidak ada gunanya. Itu yang dilarang di dalam hukum yang kedua. Bukan!
Di GKA Surabaya (Citra Raya) banyak lukisan. Ada lukisan Tuhan Yesus, Martin Luther, Zwingli, John Calvin, Martin Luther, Zwingli dll  untuk mengingatkan jemaat akan tokoh-tokoh reformasi gereja. Yang penting tidak disembah. Itu yang dilarang. Jadi yang pertama berbicara, jangan kita menyembah buatan tangan kita. Posisi kita lebih tinggi dari patung yang kita buat. Jangan kita sembah dan mengabdikan diri kepada patung-patung itu. Justru kita harus menyembah kepada yang membuat dan menciptakan kita yaitu Allah. Dalam pengakuan Iman Rasuli dikatakan,”Aku percaya kepada Allah , Bapa yang Maha Kuasa, Khalik langit dan bumi”. Jadi maksud larangan ini , jangan kita menyembah atau mengabdikan diri kepada buatan tangan kita. Itu sesuatu yang membuat Tuhan marah dan cemburu. Bahkan dihukum dan dibalas sampai angkatan ke-3 dan 4, karena Tuhan cemburu dan tidak mau diduakan.

2.     Hati-hati ada falsafah hidup yang membuat kita akhirnya tidak menyembah Allah, justru menyembah kepada falsafah hidup.

Rasul Paulus dalam Roma 12:2  mengatakan Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Ada apa dengan dunia ini? Dunia telah dihancurkan oleh kuasa dosa dan dunia hari ini sedang menarik orang-orang percaya agar mereka jauh dari Tuhan, tidak lagi menyembah Tuhan tetapi menyembah apa yang mereka tawarkan. Ada 2 falfasah yang ingin saya sampaikan yaitu :

a.     Humanisme

Falsafah ini mengajarkan manusia adalah segala-galanya.  Manusia tidak membutuhkan Allah. Banyak orang merasa pintar, hebat dan tidak butuh Tuhan. Siapa Tuhan? Saya ini ,karena saya bisa berbuat apa saja. Memang manusia semakin hari semakin canggih dan tambah pintar. Di dunia kedokteran perkembangannya luar biasa walau pun masih belum bisa mengatasi kanker. Baru saja ada anak SMA dari daerah Kalimantan menemukan daun yang bisa membunuh sel kanker. Artinya manusia semakin pintar dengan perkembangan teknologi. Wanita sekarang kalau mau cantik pergi ke Korea yang terkenal dengan teknologi kecantikan. Binatang film saja bisa menjadi bintang film karena disulap. Macam-macam dan itu luar biasa. Dulu ada botox, disuntik agar wajahnya berseri-seri. Sekarang ada namanya dye-spot. Kalau tadi efeknya seminggu, sekarang dengan teknik dye-spot efeknya cepat. Yang kendor dan keriput langsung kencang. Ada rejuvenile, peremajaan kulit. Canggih! Itu biasanya ke Korea. Jadi kalau punya teman yang sering ke Korea, kemungkinannya seperti itu karena operasi plastik.
Amerika teknologi nya luar biasa. Siapa yang tidak kenal mbah Google? Luar biasa! Tadi bicara dengan A Hok, maka informasi itu langsung dapat. Di sekolah, siswa lebih pintar dari guru karena dengan Google. Informasi apapun bisa didapat di Google. Anak saya 3 bulan magang di Google. Saya sempat ke Singapore dan pergi kesana. Kantornya luar biasa canggih. Tidak butuh Tuhan, tinggal Google saja bisa tahu. Mau masak ayam tanpa tulang, ada semua di sana. Untuk bapak-bapak yang ingin  membuat mobilnya lebih enak suaranya dan macam-macam ada.  Bahkan ada informasi untuk merakit bom seperti yang digunakan teroris. Manusia pintar dan merasa tidak butuh Tuhan.
 Stephen Hawking , seorang fisikawan dan matematika yang terkenal. Dalam cacatnya, ia menciptakan kursi roda  yang dikendalikan oleh pikirannya. Hayo maju maka kursinya bisa maju. Luar biasa. Jenius. Suatu kali ia ditanya oleh wartawan, “Menurut kamu, Tuhan itu ada atau tidak? “Oh mudah jawabannya, Tuhan itu tidak ada. Saya ini Tuhan” Manusia semakin hari semakin hebat. Kalau Amerika teknologinya luar biasa. Juga Tiongkok. Amerika sekarang takut dengan Tiongkok. Apa yang sekarang tidak bisa dibuat oleh Tiongkok? Sehingga ada yang mengatakan,”Tiongkok sebenarnya penduduknya bukan 2 miliar tetapi 1 miliar yang 1 miliar adalah KW (tiruan)”, karena orang Tiongkok pintar meniru. Semua barang merek mahal, seperti tas LV dan lain-lain bisa ditiru. Waktu ke Tiongkok saya ditawari jam tangan merek Rolex. Waktu itu harganya Rp 20.000. Saya senang dan membeli banyak untuk dosen-dosen di Aletheia. Saya bagikan ke mereka dan mereka merasa senang. Namun satu minggu kemudian ada seorang dosen (Yunus), “Pak Agung ini beli di mana?” “Kenapa?”  “Tidak jalan Pak. Saya waktu bawa ke tukang arloji, dalamnya jebol semua”. Itulah barang KW. Tiongkok luar biasa. Contoh : Hwawei. Katanya kamera nya luar biasa karena mengalahnya iphone dan Samsung. Tiongkok juga baru saja membuat lampu yang sinar terangnya 8x dari sinar bulan. Jadi malam-malam tidak perlu bulan. Luar biasa! Maka hari ini banyak orang Tiongkok yang menjadi ateis (tidak percaya Tuhan) karena merasa hebat.
Jepang sekarang terkenal dengan robotnya. Ada robot yang bisa melayani dan membuat kopi. Ia menjadi pelayan, bahkan ada robot yang bisa diajak kencan. Banyak lelaki di Jepang, tidak mau punya pacar, karena punya pacar itu menjengkelkan (cerewet). Sekarang orang Jepang pacaran dengan robot karena bisa diajak bicara. Ada bitbox, semacam hologram. Kalau kita pulang kerja dibukakan pintu dan disapa, “Selamat malam. Anda ada janji ini.” Jadi bisa diajak omong. Kata-katanya manis. Ibu-ibu banyak yang membuat suami tidak betah di rumah. Kata-katanya tidak sedap didengar. Banyak ibu yang membuat suami tidak betah di rumah karena mulutnya terlalu kasar. Bahkan ada orang yang baru menikah 3 bulan, tidak tahan di rumah. Saat ditanya alasannya ia tidak tahan di rumah dan sering keluar malam bahkan terkadang tidak pulang. Ia menjawab,”Aku tidak suka dengan istri. Karena ia berubah. Kalau dulu waktu pengantin baru, cepat pulang kantor karena ia begitu mesra. Pulang bekerja dan mengklakson, anjing menggonggong dan istri buka pintu dan memanggil ‘sayang’ (darling)’. Sekarang tidak. Aku pulang kerja dan mengklakson, anjing buka pintu dan istri menggonggong.” Makanya banyak suami tidak betah di rumah. Sehingga di Jepang kalau tidak senang, pakai robot yang bisa diajak bicara. Banyak orang Jepang tidak percaya Tuhan. Hati-hati. Itu humanisme. Ajaran falsafah, manusia segala-galanya. Saya hebat dan tidak butuh Tuhan. Makanya saya tidak perlu menyembah Tuhan. Hati-hati! Yang menjadi berhala adalah diri sendiri (kehebatan kita). Ada anak pendeta yang pintar dan bersekolah di Amerika. Sewaktu pulang dari Amerika ia berkata ke orang tuanya,”Pa saya  sekarang tidak percaya Tuhan. Aku ateis, Pa” Orang tuanya terkejut. Kata profesornya Tuhan tidak ada. Jadi dia lebih percaya dengan profesornya yang luar biasa. Hati-hati! Sekolah harus, tapi jangan menggantikan Allah dengan yang lain. Allah kita adalah Allah yang pencemburu. Sehingga Rasul Paulus berkata, Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu.

b.       Materialisme

Falsafah ini mengajarkan bahwa materi adalah segala-galanya. Uang adalah segala-galanya. Ini bisa menjadi berhala sehingga Tuhan disisihkan. Karena uang adalah uang segala-galanya, materi segala-galanya maka hidupnya diabdikan (diperhambakan) kepada uang. Kerjanya mencari uang dan tidak ada waktu untuk keluarga, apalagi untuk ibadah. Tidak ada waktu lagi untuk baca Alkitab. Uang yang dicari. Bukan berarti kita tidak boeh cari uang. Kita butuh uang, hal ini tidak bisa dipungkiri. Tetapi hati-hati. Karena materialisme, uang segala-galanya sehingga kamu boleh dengan cara apapun mendapatkan uang ini. Ini yang bahaya karena menghalalkan segala cara, akhirnya menipu orang lain. Hari ini dalam kondisi dunia bisnis yang lesu, banyak orang yang karena ingin mendapat uang, diperhamba uang dan menipu orang lain. Banyak orang Kristen jadi batu sandungan. Pelayanan di gereja tetapi tidak jujur, suka makan uang orang lain. Hati-hati sebagai orang Tionghoa yang suka menipu.
Saya saat diundang gereja Tionghoa bertanya,”Pak hari ini makan apa, maka di mana? Besok lusa makan siapa Pak?” Jangan cia siapa? Materialisme seperti itu menghalalkan segala cara, menipu, korupsi. Korupsi dimana-mana. Juga di dunia sama. Negara terkorup nomor satu adalah Tiongkok dan kalau mereka korupsi tidak kecil-kecil. Kalau di sini hanya Rp 100 juta atau Rp 300 juta. Kalau di Tiongkok korupsinya langsung triliunan. Tetapi pemerintah Tiongkok tegas. Kalau tertangkap tidak ada ampun, divonis mati. Di Indonsia tidak. Di Tiongkok mereka sangat hati-hati. Kalau mereka korupsi di bawah meja (under the table) tidak berani terang-terangan. Negara kedua terkorup adalah India, terang-terangan dan tidak takut. Jaksa, polisi, hakim semua korupsi. Kalau di Tiongkok di bawah meja, justru di India above the table (di atas meja). Negara ketiga adalah Indonesia. Ada lelucon yang mengatakan kalau di TIongkok di bawah meja, di india di atas meja dan di Indonesia meja-mejanya dikoruspi. Hati-hati banyak orang yang bisnis bohong (bodong). Buka travel bohong. Saya punya kenalan, travel ke Israel. Saya ingatkan,”Hati-hati. Jangan travel ke Israel tapi kamu menipu.” Ini zaman kita. Uang dan uang. Akhirnya tidak ada waktu untuk keluarga. Keluarga berantakan. Alasannya cari duit, anak-anak terlantar dan rusak. Banyak anak-anak kita hancur. Hidupnya terpengaruh narkoba, pergaulan bebas dan free sex. Tidak ada perhatian orang tua, karena materialisme. Orang tua cari uang. Suami istri kerja dari pagi hingga malam. Anaknya tidak ada yang urusi. Anaknya merasa tidak dimiliki orang tua. Akhirnya kumpul-kumpul dengan temannya dan terlibat narkoba. Sekarang ada semacam tembakau (Gorila) yang luar biasa. Banyak anak muda (SMP-SMA) yang menghisapnya. Efeknya lebih dari ganja dan heroin. Jangan kita jatuh kepada materialisme dan menyembah uang sehingga anak-anaknya hancur dan terlibat narkoba, percuma! Walaupun kaya tetapi anak rusak.
Selain sebagai rektor STT Aletheia, saya juga konselor dan menangani keluarga yang masalah. Ada seorang bapak yang punya anak usia 17 tahun , laki-laki ganteng tapi sayang terlibat narkoba, jantungnya bocor dan akhirnya meninggal dunia. Papanya stress. “Buat apa saya punya semua ini? “ Dia menangis tapi tidak ada gunanya, Menyesal tidak ada gunanya. Alasannya duit , tidak ada waktu untuk anak-anak. Kita semua butuh uang, tetapi anakmu juga butuh perhatian. Kalau tidak nanti aneh-aneh. Apalagi sekarang ini menggunakan medsos. Ada kejadian seorang anak perempuan yang berusia 17 tahun tidak ada perhatian orang tua dan berkenalan dengan seorang laki-laki di Facebook. Laki-lakinya luar biasa. Pagi hari disapa,”Good morning. Bagaimana harimu? Sehat tidak?” Orang tuanya tidak pernah memperhatikannya. Temannya itu menyapa sehingga akhirnya ia jatuh cinta pada laki-laki itu dan mau menikah dengan orang itu dan mau bertemu. Akhirnya mereka bertemu. Orang tuanya terkejut. Anaknya perempuan umur 17 tahun dan yang laki-laki usia 71 tahun. Tetapi tidak bisa dipisah dan mereka minta menikah. Hati-hati , materialisme itu berhala yang membuat kita lupa keluarga kita dan bahkan lupa Tuhan. Tidak ada waktu untuk ibadah. Waktu khotah dianggap kelamaan dan tidak selesai-selesai. Toko saya bagaimana? Bingung! Ada orang seperti itu, sehingga ibadah tidak konsentrasi. Padahal Tuhan katakan,”Ingatlah dan kuduskanlah hari sabat!” Fokus untuk Tuhan. Karena materialisme yang menjadi berhala adalah uang, toko, usaha akhirnya kita menyembah itu. Tidak ada waktu, apalagi waktu pelayanan. Saya sibuk karena harus kerja. Jadi ayat firman Tuhan (hukum yang kedua) mengingatkan kita agar jangan kita menomorduakan Tuhan. Tuhan ingin kita setia karena Dia telah setia. Dia sudah bebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Tuhan sudah bebaskan kita dari perbudakan dosa. Kita yang harusnya binasa dan dihukum, masuk neraka, Tuhan bebaskan melalui kematiannya di atas kayu salib sehingga Tuhan juga mau kita juga setia. Jangan kita menyembah barang-barang buatan kita sendiri seperti patung Yesus atau salib. Tidak apa-apa membuat tetapi bukan untuk disembah. Untuk hiasan rumah tidak masalah, tetapi jangan dipakai untuk disembah dan dianggap punya kuasa magis. Bahkan ada pendeta tertentu yang mengajari tidak benar. Seperti cawan perjamuan kudus itu dibuat sendiri dan dijual , karena bisa untuk menyembuhkan penyakit. Minyak urapan itu omong kosong. Hati-hati, itu ngawur. Itu pendeta cari uang. Kalau mau sembuh pakai minyak urapan, semua diurapi. Saya punya teman suaminya sakit keras. Dia berkata,”Saya doakan , dan tiap malam kasih minyak urapan. Tetapi tidak baik-baik Pak. Malah semakin hari semakin keras kepala”. Hati-hati,tidak boleh! Walaupun yang punya dan yang buat dan didoakan pendeta, jangan!

Penutup

Kita harus ingat kepada Pencipta kita yaitu Allah Yehova (Yahweh) yang menciptakan langit-bumi. Itu yang kita sembah. Jangan kita membuat patung dan menyembahnya. Hati-hati dengan falsafah hidup yang merebut hati kita sehingga kita tidak lagi menyembah Tuhan yaitu humanisme (manusia segala-galanya, hebat, tidak butuh Tuhan) dan materialisme (uang , harta sehingga semua fokusnya uang saja, tidak ada waktu keluarga, pelayanan untuk Tuhan). Biarlah firman Tuhan pagi ini sungguh-sungguh menolong kita agar kita sungguh-sungguh mau setia seperti lagu yang dinyanyikan, kita mau setia hingga kita menutup mata kita tetap setia. Supaya kita mendapat mahkota yang Tuhan sediakan.