Tuesday, April 16, 2019

Yesus Imam Besar yang Turut Merasakan Kelemahan Kita


Ev.  Endi Darmawan

Ibrani 4:14-16
14  Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
15  Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
16  Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Kelemahan (Weakness) dan Dosa

              Berbicara tentang “kelemahan”, hal apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika ada orang yang berkata, “Aku sedang memiliki kelemahan dalam diriku”? Kapan kita merasa diri kita lemah? Ada beberapa alternatif jawaban misalnya :

-        Waktu mengalami kegagalan walau telah berusaha mencoba berulang-kali (contoh : saat studi, bekerja)  namun tetap gagal.
-        Ketika merasa sakit. Tubuh yang seharusnya bisa melakukan banyak hal tetapi sekarang sudah tidak bisa lagi terutama saat usia sudah di atas 60 tahun. Jemaat gereja saya di GKKK BCS Serpong (BSD) ada yang sudah berusia di atas 60 tahun dan tergabung dalam komunitas lansia. Biasanya saat sharing , yang mereka saksikan adalah tentang kesehatan. Misalnya : tadi sewaktu bangun tidur, saya tidak bisa berdiri karena lutut terasa sakit. Atau mungkin pinggang, tangan atau lehernya yang sakit. GKKK BCS tempat saya melayani berlokasi di Froggie Flaoting Castle di mana toilet-nya terletak di lantai 2 sedangkan tempat ibadah di lantai 1. Jadi setelah saya ajak minum, bila mau buang air kecil, maka para lansia perlu berjuang. Maka ia minta diantar ke atas karena lututnya mulai terasa sakit.
-        Saat tidak punya uang. Istri yang tidak diberi uang belanja oleh suami, maka saat bangun tidur di pagi hari merasa lemas dan tidak bergairah. Demikian juga saat suami tidak punya uang akan merasa lemas sekali (karena istri akan cemberut, anak-anak merengek-rengek) dan sedih.

         Khotbah hari ini bukan untuk menghibur saat kita menghadapi sakit-penyakit, tidak punya uang, gagal, tetapi berbicara hal yang jauh lebih rumit serta mempengaruhi bahkan merusak hidup kita yaitu dosa. Dosa adalah sebuah perkara yang rumit dalam hidup kita karena semua manusia terlahir dengan natur dosa. Dosa menjadi sebuah kelemahan yang kita sadari sebagai sesuatu yang sulit dihindari. Jatuh dalam dosa bukanlah sesuatu hal yang mengenakkan tetapi membuat susah hati kita. Apalagi menyadari setelah konseling (kosnultasi) dengan hamba Tuhan untuk meninggalkan dosa itu tetapi masih terus jatuh. Anak-istri  sakit hati bahkan kita bisa berkali-kali menyalahkan diri karena berkali-kali jatuh. Dosa membuat hidup semakin rumit. Tidak ada yang tidak pernah melakukan dosa.
              Ada dosa yang sulit bagi kita untuk ditinggalkan . Dosa bisa membawa kita ke situasi di mana kita merasa frustasi. Apalagi saat kita dipercayakan untuk melayani, satu kalimat yang seringkali dikatakan,”Aku tidak layak!”. Dosa seringkali menjadi hal yang membuat kita frustasi. Ketika orang yang melihatnya komplain dan berkata,”Kok kamu tidak berubah?” Ia menjawab,”Bukannya aku tidak berubah, tetapi tiap kali godaan datang, tiap kali itu juga aku jatuh dalam dosa.” Godaan dosa menjadi sesuatu yang rumit.
              Dari cuplikan sebuah video dikisahkan ada seorang anak kecil yang nakal. Ketika ia ditanya oleh ibunya, “Mengapa kamu masih main ke sawah?” Ia mencoba menjawab,”Ini lho otakku ma! Otakku ini yang membawaku” Mendengar jawaban anaknya, ibunya kembali bertanya,”Siapa yang mengajak kamu bermain? Otakmu? Di mana otakmu?” Anak tersebut kembali menjawab,”Jangan dipukul ma, sakit!” Ini fakta yang lucu. Ada anak kecil dimarahi. Dia mencari kambing hitam seperti otak, tangannya, yang penting bukan dirinya sendiri. Bukankah kita seringkali sama seperti itu? Melakukan dosa, tetapi mengatakan,”Habis teman-teman yang ajak, kalau saya tidak ikut , tidak enak.” Korupsi juga dikatakan,”Habis kalau tidak begitu, kasihan yang lain. Kan lumayan uangnya bisa dibagi-bagi.” Proyek suap dikatakan,”Habis kalau tidak begitu, kasihan karyawan saya, saya tidak terlalu butuh-butuh amat, saya hanya memikirkan karyawan saya.” Jadi akhirnya jatuh dalam dosa. Memang banyak alasan manusia jatuh dalam dosa.
Suatu kali saya didatangi seorang jemaat yang sangat mencintai Tuhan. Dia datang dan berkata bahwa dia frustasi. Ada hal yang membuatnya frustasi. Ia datang dan berkata,”Saya tidak mau melayani  lagi karena saya merasa tidak layak”. Saya bertanya apa yang membuatnya tidak layak. Dia berkata,”Sulit bagiku untuk meninggalkan hal itu.” Ia merasa frustasi. Ia merasa ada kalanya hidupnya tidak berguna. Sulit sekali meninggalkan dosa itu. Dosa menghancurkan banyak hal dalam hidup-nya. Tidak ada seorang pun yang imun (kebal) terhadap dosa. Dari seorang anak kecil , orang dewasa sampai orang tua bisa melakukan dosa dalam kemengertian mereka.

Surat kepada Orang Ibrani : Yesus adalah Penyingkapan Akhir Allah

              Ada jemaat wanita lansia yang sudah lemah fisiknya dan terus berbaring tidur. Salah seorang anak perempuan-nya mendedikasikan hidupnya untuk merawatnya (memandikan, menyuapi makan dan menjaganya). Tetapi wanita lansia tersebut mencaci-maki anak perempuan-nya tersebut. Setiap kali diingatkan bahwa siapa lagi yang menjaganya, kembali ia mencaci-maki. Begitulah dosa sudah merasuki hidup manusia. Masalah ini terjadi juga di konteks dalam surat Ibrani. Ada cukup banyak jemaat yang tengah bergumul dengan dosa yaitu cukup banyak dari mereka yang kembali pada tradisi-tradisi. Latar belakang jemaat dalam Surat Ibrani adalah orang-orang Yahudi. Sehingga tidak heran, beberapa bagian firman Tuhan di kitab Ibrani membandingkan dengan apa yang terjadi dalam Perjanjian Lama. Ada persoalan di sana di mana mereka digoda untuk kembali kepada tradisi mereka. Misalnya : ketika membahas tentang imam besar. Di mana di Kitab Ibrani ditekankan bahwa Yesus adalah imam besar yang lebih dari imam besar yang lain.

The Lord is My Helper

Cukup banyak di antara mereka yang menjadikan imam besar sebagai objek penyembahan, sosok yang dihormati bahkan mungkin dianggap lebih dari Tuhan. Karena lewat imam besar itulah mereka bisa menghampiri Allah. Ada cukup banyak dari mereka yang menganggap tradisi yang dilakukan oleh nenek moyang mereka (yang oleh Yesus dikatakan sudah digenapi semuanya) mereka menganggap itu jauh lebih penting. Cukup banyak orang Yahudi yang menjadi orang Kristen ditekan dan dianiaya sehingga akhirnya memutuskan meninggalkan Kristus dan kembali kepada kehidupan mereka yang dahulu. Dalam latar belakang seperti itu beberapa bagian firman Tuhan disampaikan dan secara khusus membicarakan kelemahan itu (bagaimana caranya untuk bisa mengatasi dosa). Pertanyaannya : siapa yang bisa menolong sehingga kita bisa menghadapi kelemahan dalam kehidupan kita? Ibrani 13:5b-6 Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?". The Lord is my helper. Hanya Yesus yang bisa menolong kita, ketika kita merasa begitu mudah tergelincir dalam dosa.

Bagaimana Yesus Menolongku?

              Suatu kali seorang wanita asyik berjalan-jalan di kebun binatang. Singkat cerita ia tiba di daerah beruang kutub. Entah mengapa atau mungkin karena gemas, ia mencoba mendekati kandang beruang dengan cara melewati pagar pembatasnya. Ia berhasil masuk, dan  beruang yang menghuni kandang itu melihat wanita itu lalu beruang itu menyerang dan menggigit kaki wanita tersebut. Semua orang yang melihat hanya bisa melihat tidak tahu cara menolongnya. Siapa yang bisa menolong wanita itu? Hanya pawangnya yang bisa menolong! Pawang masuk dan memerintahkan beruang itu untuk melepaskan wanita itu sehingga ia bebas dari cengkeraman beruang. Tuhan itu menjadi penolong kita terhadap godaan dosa karena Tuhanlah yang bisa mengendalikan ikatan dosa itu. Hanya Tuhan yang bisa membuat kita bebas dari jerat dosa.
              Ayat 15 dikatakan Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebaliknya sama dengan kita Ia pernah dicobai. Kalau pakai kalimat positif maka dikatakan imam besar itu turut merasakan kelemahan kita. Apakah hal ini berarti kalau Yesus turut merasakan kelemahan kita, Yesus yang kita sembah dan disebut imam besar itu adalah imam besar yang juga jatuh dalam dosa? Pertanyaannya : mengapa Yesus bisa kita jadikan tempat untuk kita bebas dari ikatan dosa? Mengapa Yesus disebut sebagai penolong?

1.       Karena Yesus punya kuasa.

Ayat 14 Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
-          Yesus “melintasi” semua langit
Kata “melintasi” adalah kata menarik. Kata “melintasi” mengacu pada apa yang dilakukan imam besar yang seorang manusia dalam menjalankan tugasnya. Bait Allah terdiri dari pelataran, ruang kudus dan maha kudus. Di antara ruang kudus dan maha kudus ada sebuah tirai pembatas. Seorang imam besar saat melakukan tugasnya, ia tidak hanya sampai pada ruang kudus, tetapi ia harus melintasi ruang kudus itu dan masuk ruang maha kudus lalu mempersembahkan korban kepada Allah. Yesus adalah Imam Besar yang  bukan saja melintasi dari ruang kudus ke ruang maha kudus, tetapi ia adalah Allah yang melintasi dari bumi sampai kepada langit dan bahkan lebih daripada itu. Apa yang dicatat pada ayat 14 menunjukkan kekuasaan Allah dalam kehidupan kita sebagai imam besar.

-          Yesus adalah korban itu sendiri
Sebagai imam besar, Ia bukan saja jadi perantara antara kita dengan Allah tetapi ia adalah korban itu sendiri. Dia mempersembahkan diri agar kita yang terpisah dari Allah kemudian disatukan kembali dengan Allah.

-          Yesus adalah anak Allah
Ada frasa, Yesus disebut sebagai anak Allah. Untuk konsep orang Romawi ,ketika raja mereka disebut sebagai anak dewa maka mereka mengkonotasikan anak dewa itu sebagai dewa itu sendiri. Sehingga waktu Yesus disebut anak Allah, penulis Ibrani hendak menekankan pada jemaat waktu itu bahwa Yesus yang bisa menjadi penolong mereka adalah Yesus yang berkuasa, bukan hanya sekedar Ia menjadi imam besar yang melintasi langit bukan saja Ia menjadi korban itu sendiri tetapi yang paling penting adalah Ia adalah Allah itu sendiri! Ketika menyadari hal itu, kita tahu satu hal bahwa di dalam Allah kita mendapat pertolongan. Ketika kita bergumul dengan dosa dan kekotoran hidup maka hanya Allah yang bisa menolong diri kita . Hanya Allah saja imam besar yang sudah melintasi langit, turun ke dalam dunia , mengorbankan dirinya dan menebus dosa kita.

Saya termasuk orang yang suka kuliner dan di depan saya ada 3 piring. Pada piring pertama ada ikan kembung. Ikan tersebut dapat dibeli di pasar lalu dimasak dan disajikan  di rumah makan warteg. Harganya dengan nasi sekitar Rp 8.000-10.000 tetapi kemudian menjadi indah karena ditata dengan sangat baik (dikasih garnish). Di piring kedua ada telor mata sapi yang dibeli di warteg yang sama. Menjadi menarik karena ada daun bawang yang diiris tipis dan disajikan sebagai garnish dan dikasih bon cabe. Piring ketiga ada ikan teri balado. Harganya Rp 2.000 yang cukup dimakan satu kali bersama dengan nasi panas. Belinya di warteg. Waktu melihat gambar ini, saya berefleksi. Ketika hidup kita merasa kotor , tidak berguna dan bukan siapa-siapa tetapi hidup kita bisa menjadi indah ketika berada di tangan yang tepat. Ikan kembung ini hanya akan menjadi ikan kembung biasa bila disajikan dengan nasi yang banyak namun ikan kembungnya hanya 1, sehingga melihatnya saja tidak menimbulkan selera. Tetapi ketika berada di tangan yang tepat , diletakkan dengan cara yang tepat hanya dengan ditambahkan dengan beberapa dan sedikit saus maka dianggap sebagai  makanan yang mahal. Bukankah hidup kita juga demikian? Hidup kita dalam dosa, tetapi kalau hidup kita diserahkan kepada Allah yang berkuasa, Yesus yang adalah imam besar itu, maka Yesus akan membuat hidup kita menjadi indah.

2.     Dia Alalh yang memiliki belas kasihan (compassion).

-        Yesus bukanlah Imam besar yang tidak turut merasakan kelemahan-kelemahan kita
Dikatakan Yesus merasakan kelemahan kita. Ayat 15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.
.
Mengapa penulis Ibrani tidak terus terang (to the point) pada ayat 15 menuliskan bahwa Yesus adalah imam besar yang turut merasakan kelemahan kita? Tetapi mengapa ia menggunakan kalimat negatif, (sebab imam besar yang kita punya bukanlah imam besar yang tidak turut merasakan kelemahan-kelamahan kita). Mengapa penulis Ibrani tidak terus terang saja bahwa Yesus adalah imam besar yang turut merasakan. Seolah-olah kalimatnya bertele-tele. Ternyata ketika merenungkan bagian firman Tuhan kita dapatkan sebuah kebenaran. Beberapa bagian firman Tuhan dalam kitab Ibrani ingin membandingkan antara Yesus dengan tradisi, antara Yesus sebagai Imam Besar dengan imam besar yang notabene manusia biasa. Dengan kata lain Penulis Ibrani ingin mengatakan  bahwa Yesus yang kamu sembah tidak sama dengan imam besar yang selama ini menghantarkan korban kepada Allah. Yesus yang kamu sembah tidak sama dengan imam besar yang lain. Apa yang berbeda? Imam besar saat mempersembahkan korban kepada Allah mungkin mereka tidak peduli dengan pergumulan hidupmu, dengan kegagalanmu dan dosamu. Mereka hanya tahu tugas mereka yaitu membawa persembahan yang mereka berikan kepada Allah. Sedangkan Yesus yang disembah bukanlah imam besar yang seperti itu . Waktu Yesus menjadi imam besar, Ia adalah imam besar yang punya empati, simpati, tahu apa yang  kita rasakan. Ketika mempersembahkan hidupNya di atas kayu salib, Ia tidak saja secara formalitas melakukan tugas yang diberikan Allah kepadanya. Ketika Yesus berada di Taman Getsemani , Ia berkata (dengan gaya bahasa kekinian), “Asal kamu tahu ya, kalau Saya mau minta Allah Saya menurunkan 12 pasukan malaikat untuk menolong Saya, Saya bisa melakukannya!” Ketika ada seorang muridNya menebas telinga seorang tentara, Yesus berkata,”Kalau kamu tahu bahwa kalau Saya mau minta Allah menurunkan 12 pasukan malaikat, saya bisa. Tetapi Saya tidak mau karena Saya harus mati untuk orang-orang berdosa.” Ketika Yesus dibandingkan dengan imam besar, hal inilah yang ditekankan bahwa  Yesus yang adalah imam besar kita, Ia adalah imam besar yang tahu segala pergumulan dan kelemahan kita dan Ia adalah imam besar yang menerima kita dengan cintaNya. Tetapi persoalannya adalah  apakah itu berarti Yesus jatuh dalam dosa walaupun  di dalam bagian firman Tuhan ini dikatakan,”Ia telah dicobai namun tidak berdosa”. Bagaimana caranya Yesus berempati dengan kita?

-        Yesus tahu dengan pasti beratnya dicobai. Kapan Yesus dicobai? Bukankah Yesus pernah dicobai setelah berpuasa 40 hari. Betul Yesus adalah Allah dan sekaligus manusia. Setelah 40 hari tidak makan, tiba-tiba Iblis berkata, “Ubah batu ini menjadi roti.” Secara logika, Yesus akan berkata,”Kamu pikir Saya tidak bisa?” Ia bisa mengubah! Ia mengubah 5 roti dan 2 ikan sisanya 12 keranjang. Ini sangat bisa. Ketika itu Yesus lapar dan Yesus tahu rasanya dicobai dan hal ini sangat tidak mudah. Ketika Yesus dibawa ke bubungan Bait Allah dan Iblis berkata,”Jatuhkan diriMu!” maka  Allah akan mengutus malaikatNya. Kalau kita jadi Yesus, dalam hati bisa berkata,”Memang kamu pikir Saya tidak bisa?”. Bisa saja ada godaan untuk menunjukkan kepada Iblis  bahwa Yesus berkuasa. Namun Yesus tahu satu hal, sekalipun Ia bisa melakukannya tetapi kalau Ia melakukannya berarti di momen itu Ia tunduk kepada perintah Iblis.  Penulis Ibrani menjelaskan hal itu setelah menyatakan bahwa Yesus bukanlah adalah imam besar yang tidak turut karena Ia pernah dicobai . Ini yang mau ditekankan bahwa dicobai oleh dosa itu adalah sesuatu yang berat. Yesus berkata, “Aku tahu itu. Aku mengerti dan kamu tidak pernah sendirian.” Ketika merenungkan firman Tuhan ini dan kita merasa dosa sulit untuk dihindari, kita mendapat penghiburan, kita punya Kristsus yang mau berjalan-jalan dengan kita. Yesus yang mau memeluk kita di tengah-tengah jatuhnya kita. Yesus yang tidak pernah bosan-bosannya berkali-kali berkata, “Yuk kembali lagi! Yuk kembali lagi”.

Teddy Hung (洪漢義) “Crossing From Darkness Into Light”

         Teddy Hung adalah mantan pimpinan kelompok gangster Triad 14K di Hongkong. Ia cukup terkenal. Ia menulis kesaksian dalam buku Crossing from darkness into Light. Ia sudah menjadi anggota gangster di usia 15 tahun. Lalu ia berkata, “Jangan kamu pikir orang yang menjadi gangster adalah orang-orang yang hanya bisa berkelahi dan menakut-nakuti orang. Untuk menjadi gangter tidak mudah. Untuk menjadi gangster harus memenuhi kualifikasinya yaitu  orang yang otaknya encer karena dipercayakan banyak bisnis seperti kasino, peredaran narkoba, rumah prostitusi dan lain sebagainya. Setiap usaha yang dipegangnya maju dan menghasilkan banyak uang untuk kelompok mereka. Ia berkata, “Tidak mudah menjadi gangster.” Mengapa? Karena perlu komitmen. Kalau kamu sudah bergabung dengan sebuah kelompok, maka tidak boleh berkhianat dengan pindah ke kelompok lain. Karena kalau pindah maka esoknya akan hilang (mati). Kalau kamu ditangkap maka tidak boleh sedikit pun memberi informasi kepada polisi tentang rekanmu. Karena kalau ketahuan, meskipun berada di penjara maka keesokannya akan hilang.
Singkat cerita waktu itu Hong Kong dikuasai oleh Inggris, kemudian ia ditangkap. Penjara tempatnya tinggal adalah kumuh sehingga ia menyumbang uang dan membangun penjaranya. Ia tetap tinggal di penjara. Ia menjalankan usahanya di penjara. Ia mengatur kasino, mengedarkan narkoba sehingga uangnya menjadi banyak. Tetapi sampai pada suatu titik ia merasa hidupnya tidak berguna ketika ada seorang pendoa di gereja mendatangi dan bertanya, “Kamu memang kaya, terkenal dan hebat. Pertanyaan saya satu. Kalau meninggal kamu mau dikenang sebagai apa?” Pertanyaan ini sangat menohok hatinya dan membuat ia menyadari bahwa selama ini ia melakukan kesalahan. Di tengah-tengah  pergumulan yang dialami, ia bertanya, “Kepada siapa saya harus minta tolong?” Sang pendoa berkata, “Datanglah kepada Yesus!” Singkatnya ia percaya kepada dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun masalahnya, ketika ia percaya kepada Yesus, ia harus meninggalkan bisnisnya. Ini pergumulan yang tidak mudah. Teman-temannya berkata, “Kamu bodoh dan mau hidup susah karena mengikuti Yesus konsekuensinya ia ditinggalkan oleh teman-temannya”. Di tengah pergumulan seperti itu , Ia berteriak dan berkata, “Tuhan berbelaskasihan-lah kepadaku.” Akhirnya Ia dipercaya untuk mengelola suatu usaha yang baik dan benar dan akhirnya Ia berkata ,”bisa menjalankan usahanya dengan baik dan kehidupannya oke.  Mungkin sekarang ia sudah meninggal, tapi ia mengakhiri hidupnya dengan sangat indah. Apa yang membuat ia bisa lepas dari pergumulan dosanya? Kata kuncinya adalah “belas kasihan Tuhan” Saya tidak tahu  apa pergumulan jemaat terkait dengan dosa. Pertanyaan: apakah engkau mencari Yesus dan berharap belas kasihan kepadaNya?

Penutup

              Ada orang yang diminta berjalan dengan mata terpejam (mata ditutup) dan tidak boleh mengintip. Setelah tubuhnya diputar-putar lalu ia diberi aba-aba untuk berjalan mencapai garis akhir yang sudah diperlihatkan saat matanya belum ditutup. Ternyata orang tersebut gagal melakukan tugasnya. Lalu matanya ditutup kembali dan tubuhnya diputar-putar kembali, namun kali ini orang tersebut diminta untuk memegang pundak orang yang melihat yang menuntunnya berjalan mencapai garis akhir. Sehingga ia bisa mencapai garis akhir dengan mudah. Ilustrasi ini menggambarkan ketika kita hidup dan bergumul dalam dosa serta memilih berjalan sendiri, maka hidup akan terasa begitu sulit . Tetapi ketika kita menyadari hidup  bergumul dalam dosa dan mau berjalan bersama-sama dengan Yesus, maka Yesus akan menuntun kita ke arah yang benar (ke arah yang Tuhan mau). Sekalipun kita sadar sampai kita kembali ke rumah Bapak di surga, kita mungkin tidak bisa hidup sebagai manusia yang sempurna (tetap ada kelemahan). Tetapi kita harus tetap berpegang teguh pada anugerahNya karena Dia adalah Imam Besar kita. Amin.

Kristus Juru Bicara Allah

Pdt. Hery Kwok

Ibrani 1:2
1  Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
2  maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
3  Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
4  jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Pendahuluan

              Hari ini adalah hari pra-Paskah ke-6. Di GKI , Gereja Kristus atau gereja Injil lainnya ada yang menyalakan 5 buah lilin minggu ini karena tanggal 19 April saat Jumat Agung dikategorikan sebagai pra-Paskah ke-7 sedangkan GKKK hanya menghitung hari Minggu saja. Dalam minggu-minggu pra-Paskah tema-nya tentang Kristus yang dilihat dari beraneka sudut (kristology). Hari ini kita akan melihat Yesus Kristus dari sudut pandang penulis kitab Ibrani. Hari ini nats diambil dari kitab Ibrani 1:1-4 yang perlu dibaca dan dipelihara. Metode untuk mengingat dan memelihara (menaruh, mengingat , menghafal dan melakukannya) yang saat ini dipakai lagi di sekolah-sekolah  Alkitab (sekolah teologia). Para siswa diminta untuk membaca dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu serta menghafalkannya. Hal ini perlu dilakukan karena sewaktu orang Kristen bergumul dan mengalami kesulitan maka ayat yang ditaruh di dalam hati akan muncul sehingga kita bisa melewati masa-masa yang sulit. Yang berbahagia adalah orang yang membaca, memelihara (menyimpan dan melakukannya) sehingga kita akan punya kekuatan.
              Tema hari ini adalah “Kristus Juru Bicara Allah”. Di film Mandarin bergenre silat, sutradaranya sering memberi beberapa penekanan pada alur ceritanya. Misal : saat sang kaisar mengirim utusannya (seperti seorang menteri) untuk datang ke suatu wilayah atau propinsi, maka para pejabat dan rakyat di provinsi itu akan menerimanya dengan hormat karena bagi mereka utusan itu adalah orang yang memiliki tempat yang terhormat. Bahasa sekarang-nya adalah  VIP (very important person atau orang yang istimewa). Namun sutradara saat menggambarkan anak kaisar sebagai utusan biasanya menggambarkannya sebagai utusan yang sangat istimewa melebihi utusan lainnya. Ini menyangkut bagaimana (cara) dan kualitas penyambutannya karena yang diutus adalah anak kaisar sendiri.

Yesus Kristus dalam Kitab Ibrani

              Kitab Ibrani ditulis oleh penulisnya (yang tidak diketahui siapa penulisnya. Ada penafsir Alkitab yang mengatakan kitab ini ditulis oleh Rasul Paulus). Ia ingin menulis surat yang ditujukan kepada orang-orang percaya (baik orang-orang  Yahudi maupun orang-orang non Yahudi) di masa-masa susah yang menguji iman mereka untuk menguatkan perjalanan iman mereka. Ia ingin meneguhkan iman mereka khususnya kepercayaan mereka yang hanya kepada  Yesus Kristus. Maka pada Kitab Ibrani pasal 1-7 penulis ingin membawa pembacanya untuk berjumpa dengan Kristus yang sangat berbeda dengan seluruh utusan Allah lainnya. Karena ia menyampaikan bahwa cara Yesus Kristus bicara yang berbeda dengan nabi , malaikat (mahluk surgawi) atau Musa (tokoh legendaris orang Yahudi dan sangat berkarismatik), Melkisedek (imam besar yang kepadanya Abraham memberikan perpuluhan). Dengan kata lain, penulis kitab Ibrani ingin mengatakan bahwa Yesus Kristus berbeda dengan utusan-utusan Allah sebelumnya. Penulis Ibrani ini mau menekankan tentang Kristus yang sejati. Maka pada ayat 1, penulis Ibrani memberi sebuah penekanan bahwa setelah pada zaman dahulu, Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi. Alkitab kita dibagi dalam 2 buku besar yaitu Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Ini merupakan sebuah masa di mana Allah memberikan anugerah pada masa itu. Waktu Alalh memberikan anugerah pada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu baik, keduanya adalah anugerah Allah yang menjelaskan hati Allah yang ingin menyelamatkan manusia. Pada masa Perjanjian Lama,  Allah menggunakan berbagai cara dengan berbagai orang untuk menyampaikan isi hatiNya. Allah menjanjikan tentang keselamatan. Masa Perjanjian Lama adalah masa di mana Allah menjanjikan kepada orang berdosa untuk memberikan Juruselamat. Jadi isinya janji agar orang-orang di Perjanjian Lama sungguh-sungguh memahami bahwa  Allah itu baik dan mereka diberikan janjiNya. Pada Perjanjian Baru , Allah menggenapi janji-janjiNya sehingga seluruh apa yang dinubuatkan oleh janji tersebut digenapkan pada Yesus Kristus yang final.
              Tema-tema untuk Kelompok Sel dimulai dari apa itu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berbicara tentang janji-janji Allah tentang apa yang akan diberikan nanti kelak. Perjanjian Baru adalah realisasinya. Apa yang Allah janjikan dinyatakan dalam Yesus Kristus. Di komsel, ada di bulan terakhir 2018 di mana pada  bulan November 2018 diadakan launching (perkenalan) komsel. Sedang tema pada bulan Januari  2019 – Maret 2019 berbicara tentang berbuah dan pokok anggur dan lainnya. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah 2 masa yang dipakai Allah apa yang diberikan dalam keselamatan.

Allah Berbicara melalui Pelbagai Orang dan  Berbagai Cara

1.     Melalui Pelbagai Orang

         Pada Ibrani 1:1 dikatakan  Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, Apa maksudnya ‘berbagai cara’? Yaitu dengan penekanan bahwa nanti (dari) perempuan itu akan datang Mesias. Jadi caranya, mulai dari Kitab Kejadian Allah sudah memberi penekanan bahwa Ia akan memberikan Penebus. Allah menekankan nanti dari perempuan itu akan lahir Juruselamat. Pada zaman Abraham, Allah memberikan penekanan kepada Abraham, “Yang berasal daripadamulah yang akan menjadi orang yang akan Kuutus”. Dari keturunan sah Abraham masuk ke Ishak lalu ke Yakub yang dikenal sebagai bapak-bapak orang percaya. Allah menyampaikan pesan ke Yakub, “Nanti dari suku Yehuda akan lahir Sang Mesias”. Kita melihat berbagai cara masuk dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Lalu masuk zaman Raja Daud, Allah akan membangkitkan tunas yaitu Juruselamat. Nabi Mikha berkata,”Nanti akan lahir dari Betlehem (kota yang tidak pernah diperhitungkan) akan muncul Sang Raja”. Nabi Yesaya memberi penekanan bahwa yang nanti di Betlehem akan lahir dari Sang Perawan. Dari perempuan yang masih perawan akan lahir Sang Juruselamat. Mulai dari Kitab Kejadian Dia berbicara tentang keturunan perempuan dan ditekankan melalui perempuan yang masih perawan akan lahir Juruselamat.

2.     Melalui Berbagai Cara

Pada ayat 1 dikatakan Allah menggunakan berbagai cara. Waktu Abraham duduk di bawah pohon tarbantin, Allah menyatakan diri (teofani). Allah bisa menyatakan keinginanNya melalui penglihatan dan berbicara melalui suara-suara. Seperti sewaktu Samuel masih kecil, ia dipanggil oleh Tuhan. Karena tidak tahu siapa yang memanggilnya, ia datang kepada Imam Eli dan bertanya, “Bapak, memanggil aku?” Dijawab “tidak” sehingga ia tidur lagi. Allah berbicara (teofani) dan bentuknya bisa berupa suara atau penglihatan dan tidak bisa  diberikan satu patokan tapi melalui berbagai cara. Allah bisa menyatakan diri melalui :
-          Berbicara melalui suaraNya
-          Penglihatan-penglihatan yang diberikan kepada orang-orang tertentu
-          Tulisan-tulisan. Contoh : Allah bisa menyatakan diriNya  langsung seperti saat Allah menulis 10 Perintah Allah di loh batu pada zaman Musa, atau tangan Allah menulis di dinding saat Raja Bersyazar berpesta. Allah mengunakan berbagai metode  di Perjanjian Lama karena Allah ingin menyatakan kepada umatNya tentang janjiNya.

Janji Allah Sudah Sempurna melalui Yesus Kristus

              Pada pasal 2 penulis Ibrani memberi penekanan yang hebat. Pada zaman akhir ini (Perjanjian Baru), Ia telah berbicara dengan perantaraan anakNya. Ini penting, karena penulis kitab Ibrani ingin memberi penekanan kepada kita bahwa janji Allah yang diberikan sejak manusia jatuh dalam dosa, melalui nabi dan melalui berbagai cara dan sekarang Allah mengutus anakNya. Pada zaman akhir masa di mana anugerah Allah (janji Allah) telah final (sempurna) dinyatakan melalui Yesus. Setelah itu tidak ada lagi cara-cara lain. Allah sudah menggunakan firmanNya untuk menyatakan kehendakNya.
              Ayat kedua ini menjadi penting karena sekarang banyak jemaat Tuhan khususnya gereja-gereja yang terbius dengan cerita dari orang-orang yang berani memberikan kesaksian hebat karena telah bertemu Tuhan lalu berbicara dengan-‘Nya’. Sehingga mengatakan ada yang terkecoh dan berkata,”Ia hebat sekali”. Mereka mengklaim ,”Tuhan Yesus bicara dengan saya dan saya melihat Tuhan Yesus.” Membaca kesaksian seperti ini saya suka tersenyum karena cukup banyak yang tidak memahami Allah yang menyatakan diriNya dan kehendak Allah di dalam diri Yesus Kristus  sudah final. Sehingga Rasul Yohanes berkata dalam suratnya bahwa apa yang aku tulis meskipun hanya dalam sekian pasal, sudah cukup menjelaskan tentang anak Allah (Yesus Kristus). Waktu membaca Firman Tuhan, kita dibawa dalam pengenalan yang sempurna tentang Allah di dalam Yesus Kristus, tidak perlu yang lain dan tidak ada cara yang lain. Waktu ada yang berkata ,”Tuhan Yesus datang kepada saya dan berbicara”  maka muka Yesus Kristus yang mana yang datang?. Muka Yesus yang mana yang dilihat? Pertanyaannya : muka Yesus yang ada di gambar-gambar? Karena berbeda-beda. Ada yang dari artis pemeran film Passion of Christ atau tokoh yang lain, itu semua gambaran yang mencoba mencari gambaran raut muka Tuhan Yesus. Kalau ada yang berkata bahwa Yesus berbicara kepadanya, pertanyaannya : Yesus yang mana?
              Saya pernah bertanya, waktu berdoa boleh tidak kita membayangkan wajah Yesus Kristus? Pertanyaannya : wajah yang mana? Karena kita hanya membayangkan gambaran yang sudah ada. Ada orang-orang yang senang dengan berita yang spektakuler tentang adanya orang yang bertemu dan berbicara dengan Tuhan Yesus. Apalagi kalau suka ‘jajan’ untuk melihat dan mendengar pengalaman rohani dari pimpinan rohani yang ‘luar biasa’. Padahal kanonisasi selesai waktu Yesus hadir. Dan Allah menulisnya dan sudah selesai. Allah mengutus Yesus Kristus sebagai juru bicaranya yang final. Kalau kita menemukan kebenaran dalam kitab Ibrani yang memberi suatu penekanan tentang Yesus. Kristus yang bagaimana?

Kemuliaan jabatan Yesus Kristus

1.     Yesus berhak menerima segala yang ada

         Ibrani 1:2a 2  maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada.. Yang berhak menerima yang ada. Penulis Ibrani ingin mebawa kepada kita kemuliaan jabatan Yesus Kristus yang menjadi jurubicara dimulai dari kemuliaan jabatanNya. Jabatan sebagai juru bicara luar biasa mulia. Ia berhak menerima segala yang ada. Pada abad pertama pribadi Yesus Kristus (Allah Anak) dipertentangkan sehingga pada Pengakuan Iman Rasuli pengakuan Allah Bapa hanya sepotong (Aku percaya kepada Allah Bapa) sedangkan Yesus Kristus (Allah Anak) digambarkan sampai Allah Anak yang naik ke surga. Saat itu sulit diterima rasio karena pribadi Yesus, Ia adalah Allah dan manusia. Ia manusia 100% sekaligus Allah 100%. Sebagai Allah Ia mempunyai segala-galanya, sebagai manusia Ia adalah utusan yang Allah Bapa suruh, sehingga dikatakan Ia menerima hak yang diberikan. Penulis Ibrani ingin mengatakan Yesus Kristus sebagai Allah manusia, diberikan hak untuk menerima segala yang ada yaitu Yesus yang mempunyai kedaulatan, kemampuan menetapkan sanggup mengendalikan dan mempunyai kemampuan memerintah. Di dalam kitab Injil, kita menemukan penulis Injil mencatat kedaulatan yang dinyatakan Yesus Kristus. Waktu Yesus Kristus bicara kepada angin “Diamlah!” maka angin pun diam. Siapa yang bisa melakukan itu? Hanya Allah! Itu sebabnya penulis Injil ingin mengatakan siapa Dia, waktu murid-muridNya ada di atas perahu. Waktu itu murid bertanya-tanya,”Siapa orang ini?” Ini pertanyaan kepada pribadi yang sanggup menaklukkan alam semesta. Angin diminta berhenti. Ini hebat sekali. Kalau kita berada di angin ribut dan ada pribadi yang mengatakan angin berhenti, lalu angin berhenti, ini luar biasa. Siapa yang bisa menghentikan angin? Tidak ada yang bisa menahannya. Bahkan gedung dan tiang bisa dihancurkan. Saat angin tornado melanda, bangunan, mobil truk yang paling besar dan kapal terbawa. Angin yang mengerikan seperti ini pun tahluk dibawah kaki Tuhan.
         Waktu penulis Ibrani mengatakan ia berhak menerima segala yang ada. Ia berhak menerima kedaulutan yang berada dan menjadi milik Allah. Ia yang menetapkan, memerintah dan sungguh-ssungguh mengendalikan. Yesus berani bicara, “Sembuhllah engkau” dan kepada Setan, “Keluarlah engkau!” atau berkata “Dosamu diampuni”, karena ia punya kedaulataan untuk melakukannya. Sehingga penulis Ibrani menyarikannya : Kristus dalam kemuliaan jabatannya telah menerima hak yang Allah telah tetapkan untukNya.
         Maka waktu Yesus berbicara kepada murid-muridnya setelah kebangkitan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Karena ia punya kuasa di dalam tanganNya yang sungguh menyertai kita. Sehingga Yesus Kristus adalah juru bicara yang final dan telah ditetapkan , sehingga semua tertuju padaNya.

2.     Oleh Yesuslah Allah menjadikan alam semesta

Ibrani 1:2b Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Oleh dialah Allah menjadikan alam semesta yang kelihatan dan tidak kelihatan, dunia pada zaman lalu dan akan datang. Dialah Allah yang menciptakan semuanya dan Kristus menguasai seluruh ciptaan yang ada. Kadang waktu melihat orang membuat mobil terdiri dari berbagai ahli, baik ahli mesin atau  spare-part lain. Waktu rusak, ahli mesin belum tentu mengatasi nya. Padahal mobil diciptakan oleh berbagai orang. Karena setiap orang punya keahlian dan tidak bisa mengambil bagian lain. Waktu dikatakan, alam semesta, itu semua dari Allah, sebab itu Ia berkuasa menaklukan semuanya baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan.
         Sebagai pencipta , Ia sungguh-sungguh punya kemampuan mengatur mengolah ciptaanNya. Maka votum dimulai dengan perkataan, “Kiranya turun kasih kurnia dari Allah Bapa dan Allah Anak karena Ialah yang menciptakan alam semesta dan memeliharanya.”  Maka saat menghayati  ciptaan dunia ini, kita kagum. Seluruh alam semesta diatur secara sempurna oleh Allah, kapan adanya pagi-siang-malam, ia turunkan hujan, berikan salju, tumbuhkan bunga ini dan melayukannya. Itu ada di dalam kekuatan Allah dan agenda Dia untuk melakukan semuanya. Ini merupakan gambaran Allah yang hebat. Maka di dalam Yesus Kristus, kemuliaan jabatan ada padaNya.

3.  Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan menopang segalaNya dengan penuh kekuasaan

Ibrani 1:3b Ia menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Ia menggambarkan dunia yang ditopang Allah adalah dunia yang hancur. Kapan hancurnya? Karena kita membaca dari sudut fiksi seperti benda yang terbakar hancur. Istilah yang digunakan penulis Ibrani adalah dunia yang sudah hancur karena dosa, itu digambarkan dengan  kehancuran yang berkeping – keeping dan mengerikan. Dosa bila tidak dipandang dengan sedemikian benar maka kita tidak akan merasa dosa itu  luar bisa menakutkan dan itu menjadi kutukan yang membuat kita hidup dalam kesengsaraan. Kalau kita tidak memahami dosa seperti ini maka kita tidak memahami bahwa Yesus menopang dunia  yang sudah berkeping-keping hancur karena dosa (berarti tidak ada harapan di dunia ini). Yesus Kristus yang menopang dengan kasihNya yang menyelematkan sehingga penulis Ibrani menyampaikan kebenaran bahwa Yesus  Kristus memang Jurubicara Allah. Karena di dalam diriNya mencerminkan siapa Dia.
          

4.     Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah

Penulis Ibrani menutup ayat 3 dan 4, bagaimana jabatan itu dipegang oleh pribadi yang mulia. Keluhuran dan keagungan dari pribadi yang mulia ini. Ibrani 1: 3  Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,  Dikatakan pada awal ayat tersebut, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah” Ini menarik sekali. Penulis Ibrani merujuk  pada pribadi Yesus Kristus, pribadi yang mencerminkan kemuliaan Allah.
Ciri dari pribadi adalah Dia hidup dan punya kehendak. Maka dalam pelajaran katekisasi tentang Allah , kita diajar bahwa Allah adalah pribadi. Pribadi artinya Dia hidup. Kalau benda bukan pribadi karena tidak hidup dan tidak punya kehendak. Jadi bicara pribadi tidak bisa ditujukan juga pada binatang seperti macan yang hidup tapi tidak punya kehendak dan keinginan yang sama seperti manusia. Waktu berbicara Yesus yang adalah pribadi , penulis Ibrani ingin mengatakan bahwa Ia pribadi yang hidup, punya kehendak yang kodratnya sama dengan Allah Bapa.
         Contoh sederhana : waktu manusia membantai orang lain, maka kita mengatakan , “Gila, ini bukan manusia!” Saya saja mau bunuh ayam takut sedangkan ia membunuh sesame manusia. Itu bukan sifat manusia , karena sifat manusia tidak seperti itu. Berani membunuh itu adalah sifat binatang. Di film digambarkan ada harimau (raja hutan) dikelilingi oleh segerombolan Cheetah. Mereka mengerubuti raja hutan sampai mati. Padahal itu raja hutan yang biasanya waktu ia mengaum binatang yang lain takut. Namun ternyata waktu dikerumuni,ia kalah. Naluri membunuh ada pada binatang. Sehingga manusia yang membunuh sifatnya seperti binatang.
         Waktu penulis Ibrani mengatakan bahwa Ia adalah cahaya kemuliaan Allah , maka ia bicara tentang Yesus yang sifatnya sama dengan Bapa di sorga yang adalah Allah. Apa  yang dikatakan oleh Rasul Yohanes pada pasal 14 (ayat 9 dan 11), “Siapa melihat Anak berarti ia melihat Bapa. Siapa yang percaya kepada Anak, percaya kepada Bapa”. Penulis kitab Ibrani memberi penekanan bahwa Ialah sungguh-sungguh  memiliki keluhuran pribadi Allah.

Penutup

              Sewaktu Ibrani membawa kita kepada Yesus sebagai Jurubicara Allah, apa respon kita? Apakah respon kita seperti tertulis pada kitab Injil yang mencatat tentang perumpamaan Allah tentang penggarap kebun anggur. Utusan yang dikirim oleh pemilik kebun malah disakiti dan dianiaya sehingga akhirnya pemilik kebun mengirim anaknya sebagai utusan. Waktu para penggarap melihat nya, mereka malah berkata,”Anaknya datang, mari kita bunuh dia!” Penggarap kebun adalah orang-orang yang menolak Kristus. Apakah kita sungguh-sungguh percaya atau malah menolakNya? Tidak ada pilihan lain. Kalau kita berkata ‘percaya’ betulkah? Karena di kitab Injil banyak yang berkata ‘percaya’ tapi sebenarnya tidak percaya. Yesus bertanya,”Di mana imanmu kamu yang kurang (tidak) percaya?” Kemuliaan jabatan Yesus ada  di dalam diriNya. Bagaimana respon kita terhadap Yesus? Kita hanya percaya secara kognitif  (dalam pikiran saja) atau kita juga melakukan perintahNya? Alkitab berkata,”Jangan kamu khawatir / takut / gelisah” (dikatakan sebanyak 365 kali di Alkitab). Artinya sebanyak 365 hari kita diberikan setiap tahunnya, sehingga setiap hari kita tidak perlu takut. Waktu seminar kebangsaan kemarin, isunya pada tanggal 17 April 2019 mendatang akan ada huru-hara dan pemerkosaan seperti peristiwa pada Mei 1998 dan diharapkan banyak orang termakan isu ini sehingga takut untuk memberikan suara saat pemilu. Pada seminar tersebut diimbau agar kita jangan golput. Mana  yang kita percaya? Pesan di whatsapp yang menakut-nakuti atau firman Allah yang mengatakan ‘jangan takut!’. Pada waktu kita sakit dan terkapar, apakah kita yakin Tuhan Yesus sungguh-sungguh akan menolong?
              Waktu saya pelayanan di Sumatra, ada seorang ibu yang terkena kanker. Ia sebenarnya seorang yang sangat teliti menjaga badannya. Tiap tahun ia memeriksa kesehatan, bandingkan dengan saya yang hanya pernah mengecek kesehatan selama 2 kali selama hidup. Karena ia orang kaya, saat dokter mengatakan tentang penyakitnya, ia merasa sangat terpukul sekali. Ia berkata,”Setiap kali saya mendengar orang bicara tentang kanker, hati saya takut sekali. Karena saya punya keturunan penderita kanker sehingga saya minta dicek setiap tahun”. Semua organ tubuh dicek, namun sekarang ternyata terkena kanker. Akhir tahun 2018 ia cek kesehatan dan dinyatakan bersih. Ternyata di bulan Februari 2019 saat dicek ternyata ia terkena kanker, sehingga ia merasa down sekali.
              Saya berkata, “Ini berat karena penyakit ini dipukul dan dialami. Tetapi Yesus Tuhan  kita tahu memelihara kita. Ia sanggup mengangkat ketakutan.” Karena ibu ini memiliki ketakutan yang berlebihan. Saat membaca Alkitab seolah-olah tidak bicara, saat menjalani ibadah terasa hampa. Yesus Kristus sanggup memelihara. Sejauh mana keyakinan kita bukan hanya kognitif tapi sungguh masuk dalam hati kita. Kalau cuma sebatas pengetahuan, tapi sewaktu menjalani hidup belum tentu merasakannya. Tetapi kalau Kristus benar-benar ada  dalam pemahaman dan hati saya pasti berbeda. Orang yang percaya dengan hatinya berbeda sekali. Ia akan berani mengatakan apa yang Yesus katakan.
              Kitab Injil mencatat wanita yang pendarahan selama 12 tahun seluruh uangnya habis. Ia hanya punya harapan, waktu ada Yesus Kristus , ia hanya ingin menjamah jubah Yesus Kristus. Waktu itu pada orang banyak, tapi hatinya menggerakan-nya untuk menghampiri Yesus Kristus. Kalau kognitif, maka hanya sifatnya pengetahuan sehingga hampa, karena kita tidak mengalami perjumpaan dengan firmanNya. Yesus dalam kita Ibrani digambarkan dengan jelas sekali.
              Memasuki minggu paskah terakhir, seberapa jauh kita mengalami Yesus Kristus yang sungguh hadir dan membawa langkah hidup  kita. Kiranya Tuhan menolong kita.