Tuesday, March 13, 2018

Perintah yang Tidak Berubah : Kabarkan Injil

Pdt Imanuel Adam

Matius 28:19-20
19  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Perintah untuk Mengabarkan Injil

              Apa yang tertulis dalam nats Matius 28:19-20 (Amanat Agung untuk memberitakan Injil)  adalah perintah bukan undangan. Kalau sebagai undangan maka orang yang diundang boleh datang atau tidak (mau melakukannya atau tidak)  karena tidak menjadi masalah. Tetapi karena bersifat perintah, maka orang yang menerimanya mau tidak mau harus tunduk dan melakukannya. Kalau dikatakan “memberitakan Injil adalah keharusan”, lalu mengapa kita harus memberitakan Injil? Ada apa di dalam Injil itu? Injil itu adalah kabar sukacita. Apa yang membuat kita bersukacita saat mendengar Injil? Agar kita boleh menjadi orang yang memberitakan Injil (kabar sukacita), maka dalam diri kita harus ada sukacita terlebih dahulu.
              Terdapat perbedaan dalam Allah menciptakan alam semesta dan manusia. Saat menjadikan alam semesta dan binatang, Allah  “hanya” berfirman (mengucapkan) kata “Jadilah…” maka apa yang difirmankannya terjadi. Namun saat mencipta manusia, Allah membuat gambar terlebih dahulu. Ibarat orang ingin membangun rumah, ia membuat gambar (rancangan, denah, sketsa) rumahnya terlebih dahulu di mana ada dapur bersih, dapur kotor, ruang tidur, ruang keluarga, ruang makan, ruang tamu dan lainnya yang mencerminkan apa yang saya rindukan dan sukai (mau). Semuanya sudah digambar terlebih dahulu. Gambar adalah cermin dari pikiran, jadi nanti rumah yang dibuat akan seperti gambar yang dibuat. Dengan demikian setelah rumahnya jadi, kita akan merasa nyaman saat memasukinya. Demikian pula saat menciptakan manusia, Tuhan menciptakannya sedemikian rupa agar Ia bisa tinggal di dalamnya dan Tuhan tidak pernah menciptakan kerbau (binatang atau mahluk lain) sesuai gambar dan rupa-Nya karena Tuhan tidak ingin tinggal di sana. Tuhan hanya mau tinggal di ciptaanNya yang dirancang sedemikian rupa sehingga Ia bisa tinggal dan hadir di sana. Bila dikatakan “Aku (manusia) ciptaan Tuhan” maka di dalam diri dan tubuh kita ada tempat tinggal untuk Tuhan (itu kerinduan Tuhan). Tuhan ingin tinggal karena begitu ada, kita adalah  ciptaanNya yang mulian, sangat spesial (khusus) dan menyenangkan hatinya.

Manusia Diciptakan untuk MenyenangkanNya

Kita adalah orang yang diciptakanNya untuk menyenangkanNya. Bila seorang anak lahir dan hidupnya bertolak belakang dengan apa yang kita mau, maka kita tidak akan menyukainya dan sebaliknya. Saat saya pulang ke rumah, anak perempuan saya yang masih kecil datang menyambut lalu mengambil tas saya dan menyeret-nyeretnya untuk ditaruh di tempat saya biasa menaruhnya. Melihat apa yang dilakukannya, anak ini menyenangkan saya. Setelah saya duduk, ia pun ke dapur, mengambil gelas yang relatif besar untuk usianya yang lalu diisinya dengan air dan selanjutnya diberikan kepada saya. Sungguh anak yang menyenangkan hati saya dan saya pun merasa sangat bahagia punya anak seperti itu. Demikian pula ketika manusia berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dirindukan dan menyenangkan hati Tuhan, maka Dia akan bersukacita. Tuhan tidak ingin ciptaanNya binasa (rusak). Tuhan menjadi sangat marah ,ketika pikiran manusia tidak seturut pikiran Tuhan. Maka sebagai mahluk ciptaanNya, kita patut berkomitmen,”Tuhan, mulai detik ini aku sepikiran dengan Tuhan!” Ketika kita tidak sepikiran dengan (sesuai kerinduan) Tuhan, hal itu dikatakan oleh Alkitab sebagai dosa. Jadi dosa adalah bila kita tidak mau sepikiran dengan Tuhan.
Yeremia 17: 5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Terkutuklah (sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki) untuk orang yang mengandalkan diri sendiri dan tidak sepikiran dengan Tuhan. 6  Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Dikatakan orang ini akan seperti semak bulus di padang belantara, menjadi busuk, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik. Ia tidak mungkin menerima keadaan yang baik. Ia akan tinggal di padang gurun dan menyusahkan hidupnya. Di padang yang terasing dan sendirian menjalani hidup. Itu orang yang terkutuk. Ada gula dan ada semut. Itu hukum dunia. Bila kita punya sesgala sesuatu, semua akan berusaha mendekat. Namun sebaliknya bila semuanya diambil Tuhan, siapa yang menolong kita? Artinya binasa. 7  Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ayat 7 artinya pikiran dan hatinya tertuju pada Tuhan. 8  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya (berpegang pada Tuhan) ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Artinya manusia mengandalkan Tuhan, saat mengalami datangnya panas terik maka ia tidak mengeluh karena ia tahu Tuhan adalah Tuhan yang setia dalam hidupnya . Daunnya tetap hijau artinya ia merasa damai dalam hidupnya walaupun gajinya dicopet orang, ia tetap damai dan merasa sukacita.
              Suatu kali saat saya datang ke gereja, ada seorang panatua (majelis) menghampiri saya dan memberikan uang jaminan hidup untuk satu bulan (honorarium, tidak disebut sebagai gaji). Dikatakan “jaminan hidup” berarti  hidup seorang pendeta (hamba Tuhan) hanya dijamin oleh Tuhan melalui gerejaNya. Saat hamba Tuhan dipanggil untuk melayani suatu gereja, maka ia ditanya berapa jaminan hidup di gereja sebelumnya, dan diusahakan tidak kurang. Apabila kurang, maka majelis merapatkannya dahulu agar dapat disesuaikan. Namun sebagai hamba Tuhan bukan besarnya tunjangan hidup yang menjadi alasan utama dalam pelayanan di suatu gereja dan tidak terlalu mempermasalahkan besarnya tunjangan tersebut. Walau jumlah yang diterima terlalu kecil, seorang hamba Tuhan tidak boleh terlalu mempermasalahkannya. Apapun yang terjadi dalam hidup tetap mengucap syukur. Lalu saya meletakkan uang itu di kantong celana. Sesampai di Grogol menuju Taman Ratu. Orang di depan saya , suami istri dirampok. Karena cincin yang tidak mau diberikan, lalu dipotong jarinya.  Sewaktu cincin itu diketahui palsu, orang perampon disuruh telan. Setelah itu ia beralih ke saya dan ternyata ia dapat menemukan uang jaminan tersebut dan mengambilnya. Habislah uang jaminan itu. Bagaimana mau hidup sebulan itu? Sesampai di rumah, istri berkata, “Tadi panatua menelpon dan mengabarkan bahwa sudah diberikan jaminan hidup. Di mana?” Saya jawab,”Habis!” Istri saya bertanya lagi,”Habis kemana Pi?” “Ditodong”jawab saya. Istri saya mengira saya bercanda, saya katakana,”Sungguh ditodong” dan saya pun menceritakan peristiwanya. Istri saya berkata,”Ya sudah. Masih saya sedikit simpanan untuk hidup setengah bulan” Maka hidup pun dijalankan. Namun, apa yang tidak pernah saya pikirkan dan harapkan, Tuhan sediakan. Dari hari ke hari ada saja tetangga yang datang. Ada yang masak sayur asam kelebihan dan mengirim kepada kami sebagian. Puji Tuhan, lepas hari itu. Ada saja yang memberi yang lain-lain. Dalam sebulan kami bisa makan, minum , melakukan segala aktifitas, bahkan untuk uang sekolah ada saja berkat Tuhan. Bulan berikutnya, saat diberikan jaminan hidup oleh panatua, saya simpan dengan hati-hati dan diikat. Di bulan itu tidak ada lagi yang memberi sayur dan ini-itu.

Jalani dan Alami Terlebih Dahulu Kebaikan Tuhan

Firman Tuhan mau mengatakan, “Cukuplah kasih karuniaKu padamu”artinya bersyukur dan lihat, alami apa yang Tuhan  sudah lakukan dalam hidup kita. Sukacita berarti kita tahu siapa Tuhan. Sukacita artinya memahami dan mengalami pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang sangat luar biasa dalam hidup kita.  Saya hanya bisa mengatakan Tuhan itu baik , kalau kita sudah mengalaminya. Jadi jalani dan alami Firman Tuhan. Orang yang mau mengabarkan Injil, berarti ia telah mengalami Injil itu dan hidup di dalamnya. Yesaya 55: 11  demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. Ketika diamine, Firman itu akan bekerja dan akan berhasil. Tuhan ada dan hadir dalam hidup kita dan akan menimbulkan damai dan sukacita yang luar biasa. Sehingga Yeremia 17:8 8  Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya (berpegang pada Tuhan) ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Saya sedih mendengar gereja-gereja di Eropa banyak yang tutup karena dunia tidak suka dengan Injil. Dunia tidak suka dengan sukacita Tuhan, tetapi suka dengan sukacitanya sendiri. Dunia sangat banyak menangkap dan memahami apa yang menjadi pergumulan manusia dan disiapkan solusinya.
              Contoh saya memiliki 2 anak yang terdiri dari satu anak laki-laki dan satu anak perempuan, keduanya sudah bekerja. Saya selalu mengajarkan ke anak laki-laki saya untuk tidak pacaran sebelum selesai menempuh pendidikan. “Mengapa papi kasih aturan macam-macam?” anak saya bertanya. Saya jelaskan,”Karena dulu papi pacaran sambil sekolah hasilnya berantakan. Jadi papi tidak mau kamu seperti itu.” Suatu malam saat bersama dengan anak laki-laki, saya bertanya kepadanya,”Kamu sudah umur berapa sekarang?” Dijawabnya,”29 tahun Pi”. “Cari jodoh?”kata saya. Dijawabnya lagi,”Tidak ada waktu Pi. Coba bayangin saja, saya pulang pk 10 malam dan paling cepat sampai di rumah pk 11.30, kalau cepat pk 11. Kapan saya cari jodoh pi? Jadi yang saya lakukan, saya buka internet, mana yang sesuai. Papi juga tolongin saya, bila melihat ada yang sesuai tolong WA saya.” Saya berkata, “Kamu macam-macam saja.” Dunia menangkap persoalan anak-anak sekarang tersebut dan menyiapkan biro jodoh. Biro jodoh ada di mana-mana. Di Kanada ada biro jodoh (Rose Brides) yang sangat berpengaruh sampai di Amerika dan masuk Australia. Di Indonesia biro tersebut tidak masuk karena beberapa Lembaga kemasyarakatan di Indonesia menolak. Di Lembaga biro jodoh  ini banyak ahli seperti psikolog, teolog (pendeta), ahli medis dan ahli hukum. Jadi kalau mau cari jodoh, harus ambil cuti lalu pergi ke Kanada. Hari pertama bertemu suatu kelompok dan ditest untuk melihat karakter, kepribadian, penyakit yang mungkin timbul di masa mendatang, pasangan seperti apa  yang cocok yang bisa memahaminya dan mempunyai karakater yang cocok. Lalu dipilihkan oleh mereka. Lalu sang pencari jodoh tinggal dengan pasangan yang dipilihkan biro tersebut selama 3 minggu. Setiap hari apa yang terjadi, harus diberitahukan dan dikonsultasikan ke tim. Apa yang menjadi kekurangan diperbaiki. Kalau dalam waktu 3 minggu tidak bisa menyatukan hati, maka perjodohan diputus dan dicari kembali calon yang lain, lalu tinggal lagi bersama selama 3 minggu. Bila ini terjadi, maka pernikahannya seperti apa? Belum lagi, sekarang ada yang membicarakan tentang three ways. Latar belakangnya : tidak mungkin seseorang menceritakan segala sesuatu kepada istri. Kalau diceritakan, ia akan sakit hati. Ada hal-hal yang lebih baik dipendam, maka ia diijinkan punya sahabat (wanita lain) yang sah secara hukum. Saya bisa curhat dengannya dan melakukan hubungan seks dengannya. Ia bahkan bisa mempunyai anak dengan ‘sahabat’ tersebut. Ia pun tidak boleh marah bila istrinya mempunyai ‘sahabat’ yang lain karena sah secara hukum. Dunia mau dibawa ke mana?
              Kita yang sudah menikah mungkin tidak akan mengalami hal seperti ini, namun anak dan cucu kita menghadapi situasi-situasi seperti ini karena rasa takut, khawatir dan kering rohani. Gereja ditinggalkan karena tidak memberi jawaban yang diinginkan. Padahal pernikahan adalah perjalanan bersama antara saya, pasangan dan Tuhan. Di situ kita bergumul dari hari ke hari. Semakin hari hubungan ini akan semakin dewasa. Ini semua membutuhkan proses namun sekarang tidak bisa begitu (semua serba instan). Inilah dunia. Kalau begitu, bagaimana saya bisa mengalami Injil itu hadir dalam dunia seperti ini? Perintah : terobos situasi itu dengan imanmu kepada Tuhan. Jangan katakan,”Ah orang Kristen mengatakan iman-iman terus”. Iman itu punya kuasa dan kekuatan karena lahirnya dari dalam (bukan digerakkan dari luar). Yang menggerakan adalah RohKu akan diberikan kepadamu dan akan tinggal di dalammu (yang menggerakkan iman adalah roh). Ia memampukan kita untuk menerobos apa yang menurut dunia ini tidak mungkin.

Pengalaman Bersama Tuhan Membuat Kita Tegar

              Suatu kali anak saya yang besar bekerja di marketing berkata, “Pi tolong doakan saya karena target (sekitar Rp 400 juta) belum tercapai.” Saya pun mendoakannya dan akhirnya targetnya tercapai di akhir bulan. Ia pun mengucapkan terima kasih. Saya mengingatkan, “Tetapi kamu harus berdoa dan harusnya kamu bergumul denganNya.” Seminggu kemudian saya lihat ia sedang cemberut sehingga saya menanyakan masalahnya. Rupanya dia sedang kesal dengan atasannya yang juga orang Kristen. “Ada-ada saja atasan saya, Ia memanggil saya dan bertanya apakah saya anak pendeta?” Anak saya bingung apa hubungan pekerjaan dengan pendeta namun menjawab,”Saya membenarkan papi memang seorang pendeta tapi bukan saya.” Atasannya berkata,”Firman Tuhan berkata, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil bukan?" Anak saya menjawab,”Amin!” Atasannya kemudian menambahkan,”Jadi target kamu saya naikkan jadi Rp 1,7 miliar!” Sehingga anak saya menjawab,”Apa tidak keterlaluan. Ini ketinggian” Atasannya menambahkan,”Kamu kan anak pendeta, imanmu lebih kuat dari saya.” Berapa bulan lalu saja targetnya Rp 400 juta, tetapi sekarang jadi Rp 1,7 miliar di akhir Desember 2017 dan harus tercapai!” Saya menimpali,”Bukannya kamu bilang amin bagi Tuhan tidak ada yang mustahil?” Anak saya berkata,”Benar. Tapi bukan untuk urusan ini!” Saya katakan, “Otakmu harus dibersihkan. Karena kamu mendengar kata Tuhan bukan kata-kata orang. Sekali-kali Tuhan tidak akan membiarkan engkau dan meninggalkan engkau! Jangan katakan,’Tuhan di mana engkau, kenapa tidak mendengar doaku? Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.” Manusia yang biasa meninggalkan Tuhan dengan pikiran-pikrannya. Pada bulan November saya bertanya, “Ko, sudah mencapai berapa?” Ia menjawab,”Baru Rp 340 juta.” Sekarang bapaknya yang bergumul. Saya katakan,”Jalankan saja.” Tanggal 4 Desember saya kembali bertanya dan ternyata walau hasilnya sudah hampir Rp 500 juta tetapi waktunya hanya tinggal 2 minggu lagi sepertinya tidak sampai Rp 1,7 miliar. Saya menasehatkan dia untuk mengatakan kepada atasannya,”Katakan bahwa Tuhan sudah memberikan kemampuan dan kekuatan yang maksimal dan hasilnya seperti ini. Bosmu orang Kristen kan? “ Ia menjawab,”Ya Betul! Orang gereja dan panatua” Saya menambahkan,”Ia akan memahami. Imani dan jalani sampai akhirnya dan lihatlah ujungnya Tuhan. Jangan melihat ujungnya sendiri karena akan kecewa.”
Pada tanggal 14 Desember 2017, setelah selesai rapat dengan majelis jemaat pk 20 anak saya menelpon. “Pi, sudah selesai rapat di gereja? Mau melakukan apa lagi di gereja? Setelah dari sana mari kita nongkrong.” Saya tahu kalau dia bilang nongkrong, saya yang bayari makannya. Anak saya berkata lagi,”Nanti pulang sama-sama”. Saya pun memenuhi keinginannya. Sesampai di tempat yang dijanjikan, saya ditanya,”Mau ngopi? Sekalian makan saja, kan sudah malam.” Saya pun melihat menunya. Makanan daun-daunan saja paling murah Rp 80.000, sedangkan makanan daging sekurangnya Rp 200.000an, akhirnya saya berkata,”Minum saja.” Anak saya berkata,”Jangan takut Pi! Pesan saja, nanti saya yang bayar. Hamba Tuhan harus kenyang agar pelayanannya maksimal.” Lalu dia melanjutkan,”Waktu tadi pagi ibadah, telpon berbunyi dan saya lihat dari bosku, sehingga saya bergumul mau angkat tidak? Saya ingat pesan papi,’Kalau lagi ibadah, selain Tuhan yang telpon jangan diangkat dan setelah itu baru hubungi dan sampaikan ‘Maaf saya tadi sedang ibadah’. Selesai kebaktian, saya menelepon bos. Ia berkata,’Telpon nih ada 2 pembeli yang mengejar-ngerja saya.’ Lalu saya telpon pembeli yang satu yang berkata, ‘Dari tadi ditelpon, kenapa tidak diangkat teleponnya? Tolong diisi gudang saya. Setelah dijumlah nilai pesanannya Rp 1,4 miliar. Demikian juga dengan pembeli yang kedua. Nilai pesanannya juga delapan ratus juta. Jadi akhirnya semuanya Rp 2,2 miliar belum lagi ditambah dengan pesanan yang sebelumnya.” Pantas dia berani ajak makan di Grand Indonesia karena bonusnya besar. Saya berkata,”Maka tuh lihat ujungnya. Ketika kamu setia maka Tuhan setia kepadamu, kalau kamu tidak setia, maka Tuhan menangis karena,”Kenapa kamu tidak setia?” Kalau kamu katakan tidak mungkin, Tuhan mengakakan, ‘Mengapa anak ini tidak percaya ya?’ Aku di dalam dia dan dia di dalam Aku.” Masalahnya apapun di dunia ini bisa diselesaikan bersama Tuhan. Masalahnya adakah ruang buat Tuhan untuk bergumul bersama? Tuhan ingin mengatakan,”Benar! Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.”
              Pengalaman seperti ini membuat kita tetap tegar berdiri menghadapi di masa depan, walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bagi yang mempunyai anak yang usianya sekitar 25-30 tahun, kira-kira menantu seperti apa yang diidam-idamkan? Ada yang berkata,”Takut akan Tuhan, kaya dll”.  Kalau punya anak perempuan yang membawa teman prianya lalu berkata,”Papi mami ini calonku.”  Oleh papi-maminya akan ditanya,”Asalnya dari mana?” Dijawab,”Dari Cirebon”. “Tinggal di mana?” Dijawab,”Kebetulan ada teman yang punya apartemen tapi tidak mau tinggal sendiri di apartemen,jadi saya tinggal bersamanya”. “Oh numpang. Lalu kerja apa?” Dijawab,”Sudah 4 tahun, tidak dapat-dapat.”  “Orang tua masih kerja di Cirebon, Cirebonnya  di mana?” Dijawab,”MT Haryono.” “Di mal?”  “Bukan! Tetapi masuk ke dalam.” “Orang tua masih kerja?” “Sudah pensiun.” “Anaknya ada berapa?” “7 orang dan saya yang pertama.” Ketika kita berpikir tentang apa yang dikehendaki dan apa yang kita pikirkan tidak terjadi dalam hidup, apakah kecewa?”
Saya punya seorang teman pendeta yang pelayanannya luar biasa. Anaknya dari kecil sudah ikut persekutuan dan pelayanan dari Sekolah Minggu sampai kuliah. Suatu kali anaknya datang,”Pi, kami sudah sepakat mau menikah.” Selama ini teman saya hanya melihatnya datang dan berbincang bersama. “Kapan mau menikah?” tanyanya. Lalu disebutkan tanggal, bulan dan tahunnya. “Mau diberkati di mana?” tanyanya lagi. Dijawab,”Bukan, Pi. Ia bukan orang Kristen, tetapi yang di ‘seberang’.” Kalau kita berada di posisi teman saya itu, bagaimana jadinya? Pasti malu karena anaknya adalah  anak seorang pendeta. Nanti ketika jemaat bertanya tentang anaknya, ia harus menjawab bagaimana? Maka ia berkata,”Jangan Nak! Pikirkan kembali karena tidak baik.” Anaknya menjawab,”Betul yang Papi ngomong. Tapi ini pilihanku, kalau tidak sama dia, saya tidak akan kawin seumur hidup!” Ini pilihannya, mau bicara apalagi? Setelah anaknya menikah, pendeta ini kalau ketemu jemaat akan menghindar ke tempat lain. Ia merasa bebannya berat. Saya katakan, “Jalani saja!” Kita perlu koreksi diri kita, bila ada yang tidak benar perlu dibenahi. Untuk saya pribadi, selama kita hidup berarti itu kesempatan bagi kita untuk berubah. Mari balik lagi dan bantu dia dalam doa. 4 tahun pernikahan anaknya melahirkan seorang bayi dan pada tahun keenam suaminya kawin siri. Anak pendeta ini tidak mau dimadu dan akhirnya dicerai. Ia tinggal dengan teman  saya bersama cucunya. Ia tidak pernah bisa membayangkan kehidupan anaknya di masa depan seperti ini. Namun terkadang diijinkan Tuhan, agar kita belajar tidak konyol lagi dalam hidup. Sampai saat ini saya seringkali guyon dengan anaknya, “Mau menikah lagi? Mumpung masih muda.” Dia menjawab,”Om mengajarkan hal yang tidak beres nih. Kan firman Tuhan berkata,’Apa  yang disatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia! Jadi saya akan tetap bertahan” “Lalu bagaimana masa depan kamu?” tanya saya. Dia menjawab,”Saya percaya, dari kesalahan-kesalahan saya , saya mau bersandar pada Tuhan. Om dulu pernah mengajarkan, ‘Jangan pernah menyerah dalam hidup ini tetapi berserah.’ Seperti lagu ‘Berserah kepada Yesus’. Selama hidup , Tuhan bisa memberikan kemampuan kita untuk berubah.” Pengalaman ini menjadi pelita yang luar biasa.

Jangan Malu dengan Masa Lalu, Beritakan Injil

              Ada sebuah dorongan untuk berbicara tentang kasih, kebaikan dan kuasa Tuhan yang kita alami kepada orang-orang di sekeliling kita. Tidak perlu malu dengan masa lalu yang pernah dialami karena kita adalah ciptaan yang baru, yang lama sudah berlalu. Saya tidak malu tentang masa lalu karena memang pernah terjadi. Orang akan melihat dari buahnya bukan dari masa lalu. Saya dulu paling takut kalau anak saya bertemu dengan teman-teman saya. Tapi ajaib Tuhan izinkan hal itu terjadi. Waktu anak saya masih remaja, saya membawanya ke Bandung bersama istri saya lalu bertemu dengan omanya dan  berkumpul dengan teman-teman saya. Seorang teman saya bertanya,”Kamu anak Imanuel ya?” lalu ia menceritakan kelakuan buruk saya di masa lalu.  Di situ ada istri saya dan hanya bisa melongo. Namun anak saya berkata,”Om, Papi sudah menceritakannya. Papi sudah katakan,’Jangan seperti papi di masa lalu’ Tidak ada berkat pertolongan Tuhan dan yang ada adalah rusak”. Teman saya hanya bisa berkata,”Oh papamu sudah cerita? Hebat! Saya saja tidak berani cerita ke anak!” Jangan malu dengan masa lalu karena itu sudah berlalu, Tuhan tidak mau kita mengingat masa lalu dan kesalahan kita. Masa lalu tidak membuat kita berjalan ke depan. Walau zaman sekarang kalau masa lalu berperan sangat luar biasa. Dengan maraknya penggunaan WA, saya juga diundang di group teman-teman SMP. Begitu diundang, ada seorang teman yang bertanya,”Eh kamu tahu tidak ada Mercy yang dulu kamu dekati.” Kenangan masa lalu yang tidak ingin diingat, ternyata dibangkitkan lagi sehingga kita bisa jatuh dalam dosa. Itu sebabnya firman Tuhan berkata untuk bijak. Karena harus bijak, saya pun keluar dari group itu. Bergabung dengan group WA, terkadang membuat kita repot. Begitu dibuka handphone, setiap pagi isinya ucapan selamat pagi dari banyak orang sehingga membuat jaringan lemot. Ada yang membicarakan hal-hal yang negative dan membicarakan kelakukan buruk di masa lalu sehingga banyak kejatuhan yang terjadi. Namun teman saya memasukkan kembali nomor WA saya dan sebagai reaksinya saya keluar lagi. Kembali teman saya memasukan nomor saya. Akhirnya saya membiarkannya saja  dan untuk tidak membuat lemot, dilakukan clear chat saja karena saya tidak mau hidup di dalamnya dan karena bila demikian saya akan diikat oleh masa lalu dan tidak menjadi pelita Tuhan.
              Jadi mau tidak mau, berkat harus dimulai dari saya yang mengalami kasih, pembaharuan, keselamatan dan banyak anugerah dari Tuhan. Itu yang akan mendorong saya untuk menjadi pelita bagi Tuhan. Seperti apa yang dialami papi-mami jalan bersama Tuhan maka kamu jalani. Jangan katakana ke anak yang sedang bergumul,”Dasar elu  memang seperti itu! Elu bego …!” kepada anak-anak sehingga  tidak ada damai. Anak yang sedang bergumul dan buntu mengharapkan jalan keluar. Bagi yang sudah mengalami kasih Tuhan, akan memberi nasehat yang bijak seperti “Jangan putus asa nak. Sama seperti apa yang papi dan mami alami dulu, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ayo, saya mau mendoakan kamu.” Perkataan seperti ini walau kecil sangat mempengaruhi kegelapan yang ada dalam kehidupan anak-anak. Itu baru keluarga, belum lagi perkataan dari orang-orang lainnya. Saat orang punya masalah jangan menambahi dan membebaninya.
              Saat bertemu dengan orang yang menderita sakit, seringkali kita bertanya, “Sakit apa Ci?” Mungkin dijawab,”Ini dari kemarin sudah seminggu di rumah sakit,  sakitnya ini itu” Lalu ditambah pertanyaan,”Makan obat apa Ci?” dijawab,”Dokter kasih ini-itu”. Lalu dikomentari,”Jangan. Makan saja kumis kucing. Ini bagus” dan seterusnya. Pasien yang ada tambah bergumul. Ia yang sedang susah akan bertambah susah. Maka kita jadi menyusahkan orang yang sakit. Sebaiknya saat mengunjungi yang sakit kita bisa bertanya,”Sakit apa Ibu?” lalu bila dijawab,”Saya sedang sakit ini-itu.” Dan kita bisa memberikan penghiburan,”Adakalanya Tuhan mengijinkan kita mengalami sakit-penyakit, tetapi satu hal yang perlu diingat adalah Tuhan tidak pernah  meninggalkan kita. Ia mau kita bergumul bersama Tuhan. Saya juga pernah mengalami sakit , walau beda sakitnya. Tetapi saya mengalami bagaimana Tuhan bekerja dengan cara yang sanagt luar biasa. Mari kita berdoa” Maka orang yang sakit akan merasa lega. Ia akan berkata,”Saya juga mau mengalaminya.” Dengan demikian kehadiran kita sudah menjadi pelita.

Penutup

              Pengalaman hidup bersama Tuhan adalah sangat intim dalam hal iman. Itu yang akan memampukan kita menjadi pelita di mana pun berada . Itu perintah bukan undangan. Perintah berarti di mana pun, dalam keadaan apapun, suka atau tidak suka maka kita harus menjalankannya. Jadilah pelita buat Tuhan di mana pun dan Tuhan akan menolong

Sunday, March 4, 2018

Suara dari Seberang! (Misi Paulus ke Eropa)




Ev. Susan Kwok

Kisah 16:4-10
4  Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.
5  Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.
6  Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.
7  Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.
8  Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas.
9  Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!"
10  Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.

Pendahuluan

              Kalau membaca kitab Kisah Para Rasul,  pasal 1 berbicara tentang Yesus naik ke sorga, pasal 2 berbicara tentang Roh Kudus turun, Rasul Petrus berkhotbah dan hari itu 3.000 orang bertobat, maka gereja kecil mulai bertumbuh. Setiap hari karena kehidupan mereka begitu menggambarkan kasih Tuhan, maka Tuhan menambahkan kepada mereka banyak sekali petobat baru. Intinya pada pasal 2-15 gereja berkembang walau pada pasal 7 ada penganiayaan yang membuat para rasul dan orang-orang percaya tersebar dari Yerusalem pergi ke kota-kota lain. Tuhan tidak menginginkan jemaat Tuhan menjadi eksklusif. Salah satu caranya adalah melalui penganiayaan yang dimulai dengan dibunuhnya Stefanus (Kisah 7). Tetapi penganiyaan itu tidak memadamkan semangat penginjilan dan memadamkan Roh Kudus yang bekerja menjangkau jiwa-jiwa. Gereja tidak mati  karena penganiayaan, tetapi gereja semakin besar ketika ada penganiayaan. Sebaliknya sejarah gereja membuktikan bahwa gereja akan mati ketika gereja hidup mapan (tenang-tenang saja), hidup stabil, semua terpenuhi, hidup makmur, tidak ada tantangan yang membuat mereka berteriak minta tolong kepada Tuhan, saat itu gereja akan melempem dan lama kelamaan mati. Itu sebabnya gereja perlu dianiaya, tetapi tentu ada dalam ketetapan (rencana) Allah, Allah yang tahu kapan harus berbuat dan bertindak untuk gerejaNya. Ketika kekristenan berkembang pesat, maka orang-orang yang percaya kepada Yesus, bukan saja dari golongan orang Yahudi (ada orang Farisi, ahli Taurat, suku-suku di Israel)  yang bertobat tapi Injil juga dipercaya oleh orang-orang non Yahudi (orang -orang di luar Israel, seperti orang-orang Romawi dan Yunani dan bangsa lain).

Tuhan Memberkati GerejaNya yang Bersatu

Tetapi ada masalah yaitu orang Yahudi sangat ekslusif. Dia tidak memperbolehkan orang -orang non-Yahudi masuk ke sinagoge (bait Allah) mereka dengan alasan itu hanya untuk orang Yahudi. Non Yahudi tidak boleh bersama-sama beribadah dengan mereka. Mereka mengharuskan orang non Yahudi, kalau mau menjadi orang percaya harus melakukan tradisi-tradisi dan upacara-upacara yang dilakukan oleh orang Yahudi. Mereka harus melakukan banyak hal supaya mereka nanti menjadi orang Yahudi dahulu baru mereka bisa menjadi orang Kristen. Itu sebabnya ada istilah yang muncul yaitu baptisan proselit.
Baptisan proselit adalah ketika orang non Yahudi dibaptis menurut cara Yahudi, maka ia menjadi orang Yahudi dahulu setelah itu ia baru menjadi orang Kristen dan diakui sebagai Kristen. Yang kedua harus dilakukan adalah sunat. Orang Yahudi harus disunat, sedangkan orang non Yahudi tidak mengenal sunat secara lahiriah (fisik). Mereka mengharuskan orang non-Yahudi disunat terlebih dahulu baru mereka boleh menjadi Kristen. Maka dalam sidang para rasul dan panatua diputuskan bahwa orang Kristen non Yahudi tidak perlu disunat dan tidak perlu melakukan upacara-upacara Yahudi untuk bisa menjadi orang Kristen. Itulah yang di dalam ayat 4 , Rasul Paulus dan Silas membawa misi (keputusan) ini untuk disampaikan ke banyak gereja pada waktu itu supaya jemaat-jemaat menurutinya. Tugas ini pasti susah , karena pikiran orang bermacam-macam, belum tentu mereka mau menerima. Tetapi Paulus dan Silas sangat antusias. Mereka memasang strategi harus ke kota mana terlebih dahulu. Mereka berpikir sangat strategis. Mereka menetapkan dan melakukan langkah-langkah supaya keputusan ini didengar oleh semua orang. Awalnya mereka melakukan perjalanan-perjalanan itu, semua diberkati Tuhan. Setelah mereka masuk ke kota A , kasih tahu keputusan-keputusan para rasul, berkhotbah dan menjelaskan, semua jemaat mendengar dan menurutinya. Maka jemaat pada pasal 5 diteguhkan dalam iman yang benar (bukan iman berdasarkan tradisi Yahudi) dan semakin lama semakin bertambah besar jumlahnya.
Pelajaran yang bisa dipetik, ketika gereja bisa bersatu maka kesatuan itu (visi , misi, hati , beban, iman)  sama-sama mau bergandengan tangan,berjalan, menuruti iman yang benar maka Tuhan akan membekati gerejaNya. Tetapi sebaliknya gereja yang tidak bisa bersatu (selalu cenderung untuk ribut, bertikai) tidak akan pernah bisa menjadi besar, maju dan di dalamnya berantakan dan orang di luar juga tidak respek dan tidak punya keinginan untuk masuk ke dalam. Karena baginya, “Dunia sudah susah untuk apa lagi masuk ke dalam gereja karena akan membuat kepala bertambah pusing”.

Bersatu di Dalam Perbedaan

              Ada sebuah cerita (bukan kejadian sebenarnya). Cerita ini saya baca waktu masih remaja. Ada dua orang ibu yang sedang ribut di pasar. Sewaktu ribut dan berkelahi , ada seorang teman mereka  yang berkata kepada keduanya, “Kalau mau ribut jangan di pasar. Pasar itu tempat orang untuk berdagang, tempat mencari uang (rejeki), mencari pelanggan (klien), jadi kalau ribut di sini nanti tidak ada yang mau belanja”. Akhirnya mereka berhenti dan bertanya, “Kalau begitu kalau kami ribut, harus ribut di mana?” Dijawab,”Kalau mau ribut, di gereja saja karena gereja itu memang tempat untuk ribut.” Ini cerita konyol, sinis, tapi menyindirinya cukup sadis. Ini cerita orang sekuler . Sebenarnya apa yang ingin mereka katakan? Mereka melihat bahwa di gereja banyak keributan (ribut A, B, C dsb-nya). Hari ini banyak gereja ribut karena ambisi pribadi atau motivasi yang tidak benar. Saya tidak bermaksud menghakimi, tetapi ada orang yang marah karena tidak terpilih menjadi majelis. Berbeda dengan di GKKK Mabes yang susah mencari majelis. Rupanya ia ada maunya kalau menjadi majelis (ada ambisi pribadi). Ketika ia tidak terpilih, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Baginya, menjadi majelis adalah sebuah prestise. Ia tidak mengerti pelayanan. Jadi majelis itu capai dan perlu banyak pengorbanan. Prestise kalau menjadi majelis, sepertinya berwibawa dan dihormati orang. Ketika tidak dipilih, dianggapnya teman-temannya menusuk dari belakang. Rupanya di gereja tersebut, kalau mau ada pemilihan majelis, seperti pemilihan DPR (walau tanpa politik uang tapi lobbynya kencang). Menurut peraturan bila ada 5 orang yang mengajukan nama satu orang, maka ia bisa dipilih. Saya berkata, “Kalau begitu lebih baik jangan ada pemilihan majelis, karena akan membuat gereja runtuh karena ada ambisi dan motivasi yang lain”. Gereja menjadi ribut karena ada jemaat ataupun orang yang hadir di gereja memiliki banyak perbedaan dan mereka menonjolkan perbedaan itu menjadi hal yang paling utama (bukannya memikirkan bagaimana bekerjasama tetapi mereka mempertajam perbedaan-perbedaan).
              Sekitar 3 bulan lalu, saya diundang untuk menyampaikan khotbah di salah satu arisan ibu-ibu orang Batak . Arisan ini dikelola oleh ibu-ibu kaya (The Haves). Mendengar mereka bicara, saya ternganga. Taraf mereka sangat tinggi. Ada yang bercerita, “Saya sudah bilang ke bapak saya kalau mau bantu masyarakat, jangan tanggung-tanggung, Kita buka Pom Bensin di sana, kan di sana belum ada SPBU.” Sepertinya bicaranya enak sekali. Membuat satu pom bensin sangat mahal biayanya. Sepertinya mendirikan SPBU sangat mudah. “Setidaknya 7-8 pom bensin kita dirikan”, katanya lagi. Saya tidak betanya darimana uangnya (semoga uang pribadi). Mungkin ia ingin memberikan shock therapy agar saya berkhotbah sesuai dengan kemauan dia. Dia berkata,”Saya paling tidak suka di gereja, karena Pak Pendetanya kuno sekali. Saya sudah berkata, ‘kalau khotbah harus begini-begini’”. “Maksudnya begini-begini bagaimana?“ tanya saya. “Begini Bu Pendeta. Kalau khotbah, banyaklah kasih kesaksian orang-orang. Kesaksian orang itu kalau dikhotbahkan banyak membuat kita semangat. Jangan buka lagi Alkitab.. Alkitab…Alkitab… Alkitab!”. Dalam hati saya berkata,”Kalau saya hanya kesaksian orang dan tidak kasih Alkitab, maka lebih baik buat CD atau apa saja. Oh.. mungkin dia mau kasih shock therapy buat saya,” Tetapi saya berdoa,”’Tuhan tolong saya dengan persiapan yang sudah saya lakukan, karena saya tidak tahu isi hati dan pergumulan mereka. Ingatkan saya kalau saya harus memberi contoh atau sesuatu supaya hati saya peka agar firman Tuhan yang disampaikan bisa masuk ke dalam hati mereka.” Saya tidak mau tertutup dengan masukan yang diberikan  tetapi saya juga tidak ingin tergoyahkan. Setelah berkhotbah , saya bertanya,”Bagaimana Ibu, apakah khotbahku kuno atau sudah modern sedikit?” Dia menjawab“Khotbah Ibu pendeta, sudah lebih sangat modern dibanding Pak Pendeta aku, tapi dibandingkan Pak Gilbert Lumoindong Ibu belum modern” Saya berkata,”Oh iya, saya tidak kenal dengan Pdt. Gilbert Lumoindong dan  saya hanya melihatnya di TV”. Orang Batak langsung berbicara jadi kita tidak perlu sakit hati. Tiap suku memang berbeda, jadi kita tidak perlu baper (bawa perasaan, red) dan sakit hati. Hal itu biasa saja.
              Contoh seperti ini bisa membuat jemaat tidak bisa bersatu. Ada jemaat yang berkata,”Pendeta itu saya tidak saya suka, ganti dia. Panggil pendeta yang lain.” Kalau datang pendeta yang lain dan dia tidak suka maka ganti lagi yang lain. Jadi kapan majunya kalau berdasarkan kesenangan? Pada ayat 4-5 Paulus berhasil datang ke kota-kota yang sudah ditentukan dan menyampaikan keputusan-keputusan para rasul. Jumlah jemaat bertambah banyak dan  sekarang mereka akan pergi ke tempat lain . Dikatakan pada ayat 6-7 Rasul Paulus mempunyai rencana yang baik untuk dari kota kota Frigria menyeberang ke kota Asia . Tetapi Roh Kudus mencegah sehingga mereka masuk ke Misia dan mau masuk ke kota Bitinia, tetapi Roh Kudus juga tidak mengijinkan. Jadi sampai 2 kali dikatakan Roh Kudus tidak mengijinkan (mencegah) mereka masuk ke Asia dan Bitinia. Akhirnya mereka pergi ke kota Troas. Di kota inilah Paulus mendapat penglihatan tentang suara dari seberang yaitu Makekonia.

Kekosongan yang Harus Diisi Tuhan Yesus

Makedonia adalah kota yang penting waktu itu karena Makedonia adalah  suatu propinsi (daerah) yang besar dengan ibukota Filipi. Ratusan tahun kota Makedonia telah menjadi pusat kekuatan militer untuk penjajah (Romawi) jadi bukan kota sembarangan yang bisa dimasuki. Orang-orang yang hebat ada di sana. Pasti banyak jendral dan pasukan. Kota ini adalah pusat budaya Yunani. Walau sudah diruntuhkan oleh Romawi, tetapi secara budaya Yunani tidak bisa diruntuhkan. Sehingga kebudayaan Yunani (helenisme), sekalipun penjajahnya Romawi tetapi cara berpikir, filsuf-filsuf yang ada dan budaya yang ada kiblatnya ke Yunani.  Sehingga bahasa pasarannya adalah  bahasa Yunani bukan bahasa Romawi sehingga Yesus terkadang masuk ke bahasa Yunani. Perjanjian Baru juga  diterjemahkan ke bahasa Yunani karena budaya Yunani begitu hebat mencengkram. Intinya, Tuhan menyuruh dia untuk datang ke Makedonia, melalui satu penglihatan di mana ada seorang yang berkata, “Menyeberang ke mari dan tolonglah kami.” Ini sesuatu yang luar biasa. Orang-orang  di sana bukan orang sembarang, akan banyak orang hebat, pintar, berbudaya, berilmu tinggi, tetapi mereka perlu untuk ditolong. Mereka mempunyai kekosongan yang tidak bisa diisi baik oleh kekuatan militer dan kepintaran yang ada. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali oleh suatu pribadi yaitu Yesus Kristus!
              Ada satu pelajaran untuk kita semua yaitu manusia sepanjang zaman di dunia memiliki suatu kekosongan yang tidak bisa tidak harus diisi oleh satu pribadi yaitu Yesus, baru ia tidak merasa kosong lagi. Ilmu , kekayaan, kedudukan dan kekuasaan tidak bisa menggantikanNya dan  Allah tahu itu. Manusia sekalipun tidak menyadari atau tidak mau mengakui kekosongan, namun Allah tahu kekosongan itu ada dan harus diisi. Itu sebabnya Allah dalam mimpi memberitahu Paulus untuk membawa Injil kepada orang-orang yang ada di sana. Paulus punya rencana yang strategis, ia bukan orang bodoh tetapi orang pintar. Ia pemimpin yang hebat dan bukan pemimpin tanpa perencanaan. Ia tahu rencana, tujuan dan cara mencapainya. Tetapi kita lihat di sini sampai 2 kali Roh Kudus mencegah dan tidak mengijinkan, dan kepekaan Rasul Paulus sangat tajam sehingga ia tidak jadi datang ke tempat yang tidak diijinkan tersebut. Rencananya sebagai manusia adalah hal yang penting. Namun bagaimana rencana dia harus dipadukan (dikombinasikan) dengan apa yang Allah mau. Ia tahu Allah sedang mengintervensi dan memberi dia tugas khusus untuknya. Di sini kepekaan dia sebagai seorang rasul ditampakkan dan dibuktikan luar biasa. Sehingga akhirnya ia yakin bahwa mereka akan ke Makedonia (ayat 10b kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana).
              Setiap kita perlu membuat rencana dalam hidup tetapi kita perlu kepekaan dari Allah. Tidak semua rencana kita bisa dijalankan dan selaras dengan maunya Tuhan. Kadang bisa selaras kadang berbeda. Kadang Allah perlu membelokkan dan menyetopnya. Tidak ada rumus yang mudah untuk mengetahui apa yang Allah mau dalam hidup saya. Tidak ada generalisasi , tidak bisa kita mengambil kesimpulan umum bahwa setelah begini pasti begitu. Itu sifatnya pribadi sekali dan sifatnya adalah hubungan yang hidup dengan Tuhan. Masing-masing pribadi perlu tahu maunya Tuhan apa dengan saya. Hanya saya yang harus bergumul , punya hubungan dengan Tuhan untuk mengetahui maunya Tuhan.  Kita harus punya hubungan dengan Tuhan, tidak bisa mengikuti yang lain. Apa yang Tuhan mau untuk dia tidak sama dengan yang lainnya untuk pergumulan pribadi masing-masing. Sehingga hubungan yang hidup dengan Allah sangat penting.

Hubungan yang hidup

              Paulus, Lukas, Timotius, Silas yang ada  dalam perjalanan misi yang kedua ke Makedonia, mempunyai hubungan yang hidup dengan Tuhan. Hubungan yang hidup artinya hubungan yang bukannya ritual tetapi bersifat spiritual. Bukan sekedar ibadah, upacara, sekedar pergi ke gereja lalu selesai, tetapi bagaimana dan apa yang sudah dilakukan secara ritual, seremonial, ibadah , harafiah dan tampak luar, betul-betul dijalankan di dalam keseharian dan dalam seluruh aspek hidup kita. Bukan sekedar membaca Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu tetapi bagaimana menghidupi firman Tuhan untuk kita dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekedar menghafal ayat Alkitab tetapi tidak menghidupinya. Bukan hanya sekedar datang ke gereja, tetapi sehari-harinya berbeda. Bukan hanya untuk hidup pribadi, tetapi juga untuk hidup sesama, pelayanan, keluarga dan komunitas. Itulah hubungan yang hidup. Allah memakai orang-orang yang berbeda. Paulus berbeda dengan Lukas, Timotius, Silas, tetapi perbedaan itu bisa disatukan karena punya hati yang sama yaitu  hati yang mau menyeberang menolong orang. Hati yang seperti hati Allah yang ingin menolong orang lain. Orang sering berkata,”Kita bisa menolong orang dan mau menolong orang ketika sudah tahu indahnya dan petingnya ditolong orang” Kalau kita tidak tahu itu maka sulit untuk menolong orang lain. Kalau kita menghidupi, tahu dan sadar bahwa keselamatan itu anugerah maka kita punya hati untuk membagikan itu kepada orang lain.
              Minggu lalu kami (saya dan mu shi) berlibur ke Bali dengan suami-istri jemaat gereja lain. Mereka senang bisa berbincang-bincang dengan kami. Suaminya walau sudah berumur tetapi masih sigap, senang jalan-jalan dan kesukaannya makan daging babi! Setiap hari kami makan daging babi, sehingga saya sampai berkata,”Aduh Pak, kalau kita lama-lama di Bali, kita bisa ke-babi-an. Lebih baik makan yang lain.” Namun waktu makan tetap babi lagi, saya sampai sudah mual. Sehingga kalau makan babi, saya bagi berdua dengan mu shi. Dia begitu suka dengan makanan babi sehingga begitu sampai dan mendarat di Bali , dia langsung mencari makanan babi. Terus makan babi membuat saya mual, sehingga berapa hari ini saya berhenti dahulu makan babi. Selain itu ia juga senang dengan berenang,  tetapi ia maunya berenang di pantai. Padahal di hotel ada kolam renang yang bagus dan besar. Ia berkata, “Setelah renang di laut lalu naik ke gunung.” Waktu sampai di pantai, anginnya kencang sehingga diingatkan agar jangan berenang ke tengah (ada batas berupa  bendera yang tidak boleh dilalui, namun saat renang batasan ini terkadang tidak disadari). Tetapi Bapak tersebut dan mu shi berdua tetap mau berenang. Sebelum berenang , kacamata mu shi dititip ke saya, jadi saat renang pandangannya buram. Saya hanya bercakap-cakap dengan istrinya yang suka bercakap-cakap. Istrinya sambil bercakap terus melihat ke suaminya. Ia kemudian berteriak-teriak ke suaminya walau jaraknya jauh, “Papa!! Naik!! Naik!!” Saya tertawa saja karena yakin suaranya tidak akan terdengar. Ia berkata,“Bu Susan, lihat mereka tambah ke tengah” Saya pun memperhatikan dan benar saja yang terlihat hanya tangan mereka saja padahal tidak ada lagi ombak besar yang membawa mereka ke pantai. Sebaliknya ombak malah membuat mereka bertambah jauh ke tengah. Hati saya menjadi tidak tenang. Karena tidak ada jalan pintas memberitahu mereka, saya ikut berteriak, “Naik!! Naik!!” Mendengar teriakan saya, barulah penjaga pantai mengeluarkan dan membunyikan pluit. Akhirnya ada wisatawan asing yang membantu mereka ke pantai. Ternyata mereka benar-benar sudah terseret ke tengah.  Mereka berdua sempoyongan setelah diselamatkan. Kondisinya memang berada dalam keadaan, “nyawa sudah di ujung tanduk”. Dalam kondisi seperti ini, baru manusia merasa sedang genting dan perlu diselamatkan.

Penutup

              Siapa di antara kita yang punya hati Allah yang peka? Hati yang bisa membuat telinga kita mendengar teriakan orang ataukah kita hanya duduk diam, memberikan teori atau berbicara saja dan tidak melakukannya? Saat mendengar permintaan tolong orang Makedonia , Rasul Paulus pun bertindak dengan datang ke Makedonia. Mungkin ada di antara keluarga kita, orang-orang dekat yang belum percaya.  Ada kekosongan dalam diri mereka dan hanya ada satu pribadi yaitu Yesus Kristus yang bisa menolong. Maukah kita datang kepada mereka dan menyampaikan Injil untuk menolong mereka?