Thursday, May 5, 2016

Galilah Firman Allah dan Temukan Mutiara Rohani


Pdt. Hery Kwok

Mat 13:44-46
44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
45  Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
46  Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."
Maz 119:14-16
14  Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.
15  Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu.
16  Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.

Pendahuluan

                Pada Mat 13:44-46 ada orang yang menemukan harta terpendam yang tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan di hidupnya sehingga ia pun menukarnya. Ada juga seorang pedagang yang  menemukan mutiara yang sangat berharga yang sangat tinggi nilainya sehingga ia menjual seluruh miliknya dan kemudian membeli mutiara itu.
                Tahun 1997 seorang sutradara Hollywood James Cameron membuat film Titanic yang didasari latar belakangi musibah kapal Titanic pada tahun 1912. Kapal Titanic merupakan kapal yang dibuat sedemikian megah dan dinilai tidak bisa tenggelam. Saat tenggelam, kapal tersebut sedang berlayar dari London menuju ke Amerika. James Cameron membuat alur ceritanya dengan menarik dalam balutan romansa percintaan antara Jack dan Rose. Banyak yang menyukai film tersebut, bahkan  ada orang yang menontonnya berkali-kali dan mendapat inspirasi dari film tersebut. Seperti Krisdayanti yang memberi nama anaknya sesuai dengan nama dalam film tersebut. Film ini dimulai dengan tim ekpsedisi yang terdiri dari sekelompok orang yang mencari kalung bertahta berlian (Heart of the Ocean Diamond) seberat 15 karat di kapal Titanic yang tenggelam. Ekspedisi ini menggunakan teknologi robot untuk merambah laut dalam untuk melihat apa yang ada di dalam bangkai kapal itu. Rupanya ada seorang wanita (Rose) yang diberikan sebuah kalung hati bertahtakan berlian biru oleh kekasihnya. Harry Winston mendapat inspirasi dari kalung tersebut dan membuat imitasinya. Kalung imitasi tersebut kemudian dijual 20 juta dolar Amerika Serikat (dengan kurs Rp 13.200/dolar setara dengan Rp 264 miliar). Itu baru tiruannya berarti memang kalung aslinya sangat mahal sekali. Ekspedisi itu berusaha mencarinya meskipun menghabiskan biaya yang sangat besar dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Untuk mendapatkannya mereka harus berjuang melawan badai, menahan rasa kantuk dan lapar mereka di lautan. Betapa berharganya kalung bertahtakan berlian tersebut. Nilainya sedemikian luar biasa mahalnya. Sehingga orang berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya karena bila berhasil maka mereka akan mendapat harta yang besar. Ada seorang pemain sinetron Indonesia yang mendapat kekayaan dengan mengeruk harta dari kapal-kapal yang tenggelam di Indonesia. Dia benar-benar mencoba melakukan ekspedisi mencari harta di kapal tersebut. Orang-orang seperti ini punya cara pandang ,betapa berharganya harta yang mereka cari.

                Hari ini ingin digali betapa berharganya firman Allah. Orang punya sukacita dan kerinduan untuk menggali firman Allah dimulai di dalam cara pandang dari mana kita melihat firman Allah. Jangan sampai kita memandang firman Tuhan sebagai sekedar buku yang berisi nasehat yang terbatas untuk mengeksploitasi keinginan kita (sesuai dengan apa yang kita mau). Jadi dalam mencari teman hidup,  jangan hanya sekedar paras atau fisiknya saja karena Alkitab mengatakan harus sepadan dan beriman. Ade Manuhutu pernah memandang Alkitab sebagai buku kuno yang diwarisi dari zaman dulu (ada jangka waktu panjang) yang tidak punya relasi dengan kehidupan zaman ini. Konsep cara pandang kita menentukan bagaimana kita mempunyai kerinduan yang dalam terhadap firman Tuhan.

Sukacita dan Kerinduan untuk Menggali Firman Allah : dimulai dari sudut pandang terhadap Firman Allah

                Dari kedua perikop Alkitab (Mat 13:44-6 dan Maz 119:14-16), Matius mencatat tentang kerajaan sorga. Kristus mengumpamakan sorga seperti harta yang terpendam di ladang yang kemudian ditemukan seseorang dan mutiara indah yang ditemukan oleh pedagang. Keduanya sangat tinggi nilainya sehingga tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki. Ia rela melepaskan hartanya untuk mendapatnya. Sudut pandang membuat kita mempunya perilaku (sikap) yang tepat atau tidak tepat terhadap firman Allah. Kalau memandang Firman Allah sebagai bagian yang tidak terpisahkan, maka kita menemukan sesuatu yang penting. Firman Allah diibaratkan mutiara atau harta. Orang yang menemukan harta akan sangat bersukacita. Kalau saat kita sedang berjalan-jalan untuk menenangkan pikiran , lalu tiba-tiba kita menemukan cincin emas di jalan, maka reaksi kita biasanya gembira. Itu reaksi spontan dan alami yang keluar dari diri kita karena menemukan barang berharga. Yang lagi pusing hilang pusingnya. Sehingga penulis Kitab Suci berkata, “FirmanMu seperti harta atau mutiara”. Orang yang begitu melihat dan menemukannya, hal pertama yang dialami adalah sukacita yang luar biasa. Sukacita ini menjadi dasar orang mengalami kekuatan dalam hidupnya. Kalau membaca firman Tuhan, apakah kita menemukan sukacita itu? Reaksi menunjukkan sudut pandang kita. Kalau kita membaca firman dan tidak punya sukacita, kita tidak bisa menemukan firman itu seperti orang yang mendapatkan harta. Tidak bisa mendapat harta seperti yang dikatakan penulis Alkitab. FirmanMu seperti segala harta, itulah yang aku rasakan waktu aku mendapatkan firmanMu.
                Bergembirakah (enjoy) waktu firman Allah menjadi bagian yang kita baca. Kalau kita tidak merasa gembira dan mendapat kekuatan yang dalam , kita hanya sekedar formalitas atau tuntutan dari gereja untuk membacanya dari Kejadian – Wahyu. Ada tuntutan yang tidak enak (saat teduh menjadi kewajiban kita)? Berapa banyak yang membaca kitab suci sebagai kewajiban? Firman Tuhan dibaca sebagai sebuah tuntutan agar kalau ditanya , jawabannya “sudah baca”. Apakah kita dalam kondisi seperti itu? Tidak ada yang merasa mendapat mutiara.

Waktu memandang Firman Tuhan seperti segala harta maka kita akan berusaha untuk menggali dan menemukan artinya yang paling penting.

Seperti orang yang memendam harta lalu menjual miliknya untuk mendapatkannya, ada rasa lelah, tapi demi sesuatu yang berharga, ada usaha untuk mendapatkannya. Mama saya seorang petani dan pekerja keras. Pagi hari ia pergi ke ladang. Ia korbankan masa mudanya agar adik-adiknya bisa sekolah. Sehingga adik-adiknya bisa berbahasa Mandarin sedangkan ia sendiri tidak bisa. Ia harus menyangkul tanah di sawah. Waktu nyangkul di pagi hari, siang berhenti, lalu dilanjutkan sore. Kalau tanah tidak dicangkul, apa yang ditanam tidak bisa baik. Waktu mencangkul , lelah luar biasa. Waktu saya di sekolah Alkitab pernah nakal. Disuruh tidak boleh keluar jam tertentu, saya kelaparan karena tidak suka makan ikan sehingga saya mendapat nasi putih dan urap. Suatu kali saya tertangkap ke luar kampus sehingga dihukum. Saat tertangkap , saya berani mengaku salah sehingga hati jadi tenang. Sebagai hukuman, saya disuruh mencangkul dan menyabit, sehingga kulit tangan saya jadi melepuh. Padahal saya bekerja hanya beberapa jam dari pagi sampai pk 10. Itu juga saat bertani, kita boleh minum teh. Saya hanya seminggu dapat hukuman, tetapi tangan saya berdarah. Waktu mendengar mama saya jadi petani, ia harus bangun pagi, menahan rasa lelah untuk mengelola sebidang tanah untuk keluarga. Ini sesuatu yang hebat. Ini yang tidak kita lakukan.

Saya mendapat nasehat dari Pdt. Pdt. Dr. K.A.M Jusuf Roni, “Saat makan ayam , apakah kita makan tulangnya juga? Tidak! Kita hanya makan dagingnya saja. Sewaktu baca Firman Tuhan, bacalah apa  yang bisa dibaca dan dimengerti. Bagian yang tidak dimengerti jangan digigit karena nanti gigi kita rontok, tetapi catatlah dan tanya ke pendeta dan penginjil. Karena di situlah kita menggali Firman Tuhan.” Dalam menggalinya ada usaha yang dilakukan, mungkin usaha menahan rasa bosan dan mengantuk tapi karena dasarnya sukacita maka hal ini dapat menolong. Waktu pertama kali lahir baru saya membeli konkordansi Alkitab, peta Alkitab dan buku tafsiran Alkitab sederhana. Saat membaca Alkitab , saya coba melihat lokasinya di peta untuk mengetahui tempat kejadiannya. Itu usaha menggali Alkitab yang membuat saya mengalami kemajuan secara rohani.

Zaman sekarang sudah diberikan kenikmatan dunia sehingga tidak perlu mencari. Remaja sekarang maunya serba cepat termasuk makanan cepat saja sehingga menderita kolestorel dan cepat sakit. Itulah konsumsi zaman ini dan merasa tidak perlu mencari lagi. Di GK Ketapang punya ciri : KTB yang kuat karena untuk membawa firmanNya harus bertanggungjawab. Gerakan di Ketapang membuat orang muda menggali Firman. Saya diundang di pertemuan KTB yang sudah usianya tergolong senior, orang-orangnya sudah matang, di Puri. Bilangnya mulai pk 19 tapi realitanya mulai pk 21. Begitu datang makan dulu, sehingga mulainya pk 21. Waktu menjelaskan fiman Tuhan, saya masih menikmati persekutuan dengan orang-orang yang dulu merupakan jemaat saya. Mereka menggali firman Allah dan mereka punya kepemimpian dalam mengambil keputusan di perusahaan sesuai firman Allah. Ada seorang ibu terkena kanker di bonggol tangannya. Ia menceritakan penyakitnya dengan  santai sehingga yang mendengarnya tertawa. Walaupun penyakitnya kanker ia berkata, “Saya punya firman Tuhan yang membuat saya kuat walau saya sedih.” Orang seperti ini berbicara dengan ‘enjoy’ dan santai, membuat kita cekikikan. Rupanya penderita penyakit kanker punya komunitas sendiri. Dalam sehari ia bisa menerima 1.000 SMS yang macam-macam isinya. Dia bercerita tentang salah  satu anggota komunitas yang keluarganya harus makan daging agar tidak terkena kanker. Saya bertanya, “Memang kamu sakit?” Dibilang tidak, hanya ada salah satu anggota keluarganya yang sakit. Yang membuat tertawa ternyata bukan dia tetapi ada 1 anggota keluarganya yang dirawat di ICU. Tidak ada yang lebih kuat dari firman Allah. Kalau tidak menggali dan menemukan kebenaran Firman Tuhan, waktu menghadapi tantangan hidup  badai akan terlalu besar untuk dilewati. Badai itu bisa bernama penyakit, kesulitan, kehancuran rumah tangga atau apapun namanya dalam hidup.

Bagaimana Bisa Menikmati  Firman Tuhan?

Pada persekutuan doa Rabu lalu, ada seorang Ibu yang memberikan kesaksian tentang suaminya yang terkena sakit gigi. Walau sudah diperiksa dan diobati ternyata tidak sembuh-sembuh. Setelah dibiopsi ternyata ketahuan suaminya terkena kanker. Bahkan tingkat kankernya sudah parah. Rahangnya sudah hancur. Seorang penderita kanker perlu pendamping yang tugasnya tidak mudah. Sang istri mendampingi suaminya dengan setia. Istrinya harus membantu mengeluarkan dahaknya dengan susah. Pendetanya berusaha memberi kekuatan dengan berkata, “Mengucapsyukurlah senantiasa”. Ibu ini awalnya belum bisa menerima dan berkata, “Bagaimana orang yang tidak bisa makan besoknya bisa mengucap syukur?”. Pendeta tersebut berkata, “Nanti suatu saat kamu akan mengerti.” Akhirnya Ibu tersebut berkata,”Saya baru mengerti waktu suami saya mengalami kanker.” Kalau kita tidak mempunyai kekuatan dari firman Tuhan, belum tentu kita bisa melewatinya. Tanpa memiliki kekuatan, orang bisa uring-uringan dan emosi. Sewaktu papa saya menderita gagal ginjal selama 6 tahun, walaupun sudah menjadi hamba Tuhan, saya mengalami kritis emosi, pikiran dan iman. Jangan berpikir hamba Tuhan itu hebat, karena hamba Tuhan juga punya kelemahan. Waktu sang pendeta berkata, “Nanti kamu mengerti saat mengalaminya”, akhirnya ia mengerti, Tuhan tidak meninggalkan anak-anaknya sampai sekarang anak-anaknya sudah menikah. Dulu waktu suaminya masuk rumah sakit, ia bahkan berutang Rp 20 juta dan terbukti Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anakNya.
Saat membaca firman bagaimana? Bagaimana kita menggalinya? Jangan hanya menjadi orang Kristen yang maunya “senang-senang” saja, tetapi kita harus bergumul dan berjuang membaca firman Tuhan dengan baik. Waktu menggalinya, ‘mutiara’ akan keluar dalam kebenaran dan kita menikmati karena firman Tuhan adalah kekuatan seperti yang dikatakan nats Alkitab, “Aku menikmati firman Tuhan setiap hari”. Kiranya kita bisa menyediakan waktu dan menggumuli firman Tuhan dengan baik. Dengan melakukannya, maka kita akan hidup.


No comments:

Post a Comment