Monday, April 29, 2019

Kebangkitan Kristus Menguatkan Iman Murid-Murid

Ev. Putra Waruwu

Yohanes 20:24-29
24  Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.
25  Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
27  Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."
28  Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"
29  Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Pendahuluan

              Bagaimana kebangkitan Kristus menguatkan iman murid-muridNya? Kalau minggu-minggu sebelumnya kita belajar garis besar apa yang telah Allah lakukan, tanpa memandang kepada semua manusia yang berdosa. Itu berlaku bagi setiap kita yang mau merespon akan anugerah penyelamatan Allah. Tetapi pagi ini kita diajak melihat bahwa kebangkitan itu menguatkan iman murid-muridNya. Murid yang dimaksudkan adalah orang-orang yang telah diselamatkan oleh Tuhan, jadi bukan untuk orang kafir (orang luar). Tetapi saya dan bapak-ibu yang sudah ada di dalam Kristus disebut murid. Firman pagi ini memang khusus untuk kita yang sudah ada di dalam Kristus. Sudahkah kebangkitan itu menguatkan iman kita atau malah sebaliknya melemahkan iman kita?
              Ada lirik dari pujian “Dalam Yesus” (Edward Chen) yang  berbunyi , “Ajaib kau Tuhan penuh kuasa. Sanggup pulihkan keadaanku.” Ajaibnya Tuhan memulihkan hidup kita. Pertanyaannya : apakah ajaibnya Tuhan sanggup menguatkan iman kita? Untuk memulai khotbah ini ijinkan saya mengajukan pertanyaan sederhana :
1.       Kapan terakhir kali kita merasa paling sedih?
2.       Kapan terakhir kali kita merasa paling bahagia (senang)?
3.       Kapan terakhir kali kita merasa semuanya biasa-biasa saja.

Sebelum datang ke gereja hari ini bagaimana perasaan kita? Ada sukacita atau banyak beban atau biasa saja? Sekedar ibadah, menyanyi , mendengar firman lalu pulang? Ini situasi perasaan kita. Setiap mansuia dianugerahkan perasaan, dan perasaan tidak selalu sama. Adakalanya kita berjuang dengan kesedihan, kegirangan adakalanya kita merasa semuanya biasa-biasa saja (tidak ada sesuatu yang baru).
              Murid-murid adalah mereka yang merasa sedih ketika Yesus disalibkan, tercerai-berai saat Yesus ditangkap. Tidak ada murid yang mengaku menjadi murid Yesus saat ditangkap. Semua menyelamatkan diri. Murid-murid Yesus adalah murid-murid yang bertanya-tanya ketika melihat kubur Yesus kosong, memikirkan bahwa jasad Yesus dicuri orang, bersukacita ketika melihat Yesus yang hidup kembali, ketika mereka semua biasa-biasa saja. Hari ini sebutan murid-murid itu berlaku untuk kita.

Uniknya Kebangkitan Yesus Kristus

              Sedikit saya mengulas dari apa yang dipelajari beberapa minggu lalu tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Adalah penting untuk memahami bahwa kebangkitan Kristus adalah unik, berbeda bila dibanding dengan kebangkitan orang sebelum dan sesudah zaman Yesus. Disebut unik karena beberapa alasan yakni :
1.   Kebangkitan Yesus Kristus berkaitan dengan salib, penderitaan, penganiayaan dan pengorbanan
2.   Tuduhan yang disampaikan kepada Yesus sebelum Ia disalib adalah salah. Sebab apa yang disampaikan / dituduhkan Imam Besar ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
3.   Yesus tidak dibangkitkan oleh manusia.
Lazarus dibangkitkan oleh Yesus. Beberapa tokoh Perjanjian Lama dibangkitan oleh nabi. Tetapi Yesus bukan manusia yang membangkitkanNya. Karena Ia adalah Allah sendiri  yang membangkitkan dari antara orang mati.
4.     Pernyataan kepada kita bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat yang hidup. Pilatus bertanya,”Engkaukah raja orang  Yahudi itu?” dan dijawab oleh Yesus, “Engkau sendiri yang mengatakannya”. Ini sebuah pernyataan yang disampaikan melalui pertanyaan. Pertanyaan yang menimbukan pernyataan. Adalah benar kalau percaya kepada Yesus, maka kita tidak salah memilih Juruselamat, karena kita memang ada dalam kebenaran itu.

Untuk melihat kebangkitan itu menguatakan iman para murid, ada beberapa yang bisa direnungkan :

1.     Kebangkitan Kristus membawa pembebasan yang besar bagi murid-murid baik kali itu, saat ini dan di masa mendatang.
Membawa pembebasan karena ada 2 keadaan yang berbeda sebelum dan sesudah kebangkitan Kristus. Sebelum Yesus bangkit, murid-muridNya ketakutan sehingga mereka berkumpul dalam satu rumah. Karena bisa saja dituduh mereka menculik dan menyembunyikan mayat Yesus. Sehingga takut adalah hal yang lumrah. Itu kenyataan saat itu. Mereka bersekutu dengan situasi yang tidak nyaman. Tetapi setelah bangkit, Yesus memberikan mereka damai sejahtera. Saat menampakkan diri, Yesus berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”. Itu peneguhan sukacita dan pernyataan pengharapan yang diberikan kepada murid-muridNya yakni damai sejahtera (suatu sukacita, keadaan hati yang boleh tenang bersama dengan Tuhan). Murid-murid dipulihkan dari takut menjadi tidak takut, dari yang tidak berani menjadi berani, dari yang menutup diri menjadi berani membuka diri. Inilah pembebasan yang Yesus berikan kepada murid saat itu. KebangkitanNya menyatakan kuasa yang Ia miliki.
Ada 1 murid Yesus yang tidak percaya yaitu Tomas. Sehingga ada ungkapan bagi orang yang tidak percaya disebut, “Dasar lu Tomas!”. Tomas berkata, “Aku baru percaya setelah melihat” tetapi di akhir kisah , ia tidak memegang Yesus. Yesus hanya memperlihatkan dan ia sudah menjadi percaya. Inilah pembebasan yang Tuhan berikan. Dari yang tidak percaya menjadi yakin, bahwa Yesus sudah bangkit. Seberapa kita yakin bahwa Yesus benar-benar bangkit? Sekarang banyak pengajaran yang mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit. Momen kebangkitan Yesus semakin menguatkan atau malah melemahkan iman kita? Kebangkitan Yesus membuat orang-orang percaya , murid-murid saat itu memiliki kerohanian yang hidup di hadapan Tuhan. Mereka memiliki iman, pengharapan dan kasih karena Kristus ada bersama dengan mereka. Mereka bertambah sukacita saat Yesus menampakkan diri. Ketika Yesus datang, Ia ikut makan. Yesus meminta roti dan ikan (goreng) untuk membuktikan bahwa Ia benar-benar hidup. Mungkin ini sederhana tetapi itu bukti bahwa Yesus adalah nyata dan benar. Terlebih lagi Ia berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”. Inilah suatu janji dan peneguhan yang diberikan Tuhan.
Saat perayaan Paskah Sekolah minggu lalu dibagi 2 kelas untuk firman, yakni kelas besar dan kelas kecil. Untuk kelas yang besar berupa KKR dan saat itu ada formulir  yang harus diisi para anak sekolah minggu. Dari 49 formulir yang diisi ada 1 anak yang cukup membuat saya terharu dan memberi perhatian kepadanya. Di dalam doanya ia menulis, “Tuhan terima kasih karena Tuhan sudah mengampuni saya. Tetapi saya punya satu permintaan. Tuhan tolong sembuhkan penyakit autis parah saya!” Ia tahu bahwa ia menderita sakit autis. Ketika membacanya, saya merenungkan sebentar apakah saya akan seperti anak ini yang meminta pembebasan dari Tuhan? Ia bukan dari kelas sekolah Minggu di sini namun saya mengenalnya. Ia jujur di hadapan Tuhan. Ia meminta pembebasan dan hanya Tuhan yang mampu membebaskannya. Sekalipun kita kuat, pintar dan melakukan segala sesuatu, namun tanpa Tuhan semuanya sia-sia. Bersama Tuhan kita menjadi kuat dan mampu. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah dibebaskan dan dikuatkan dengan berita kebangkitan Kristus?

2.       Kebangkitan Kristus memberi kepastian iman dan tujuan hidup

Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Suatu janji, pengharapan, bukan saja impian, tetapi suatu pandangan di masa mendatang, setelah selesai di dunia ini kita akan jelas dan pasti akan kemana. Yesus menjanjikan itu. Kita juga akan mengalami kebangkitan. Maka dalam Pengakuan Iman Rasuli ada kalimat, “Kebangkitan orang mati”. (digunakan istilah “kebangkitan tubuh” atau dalam vesi yang lama dikatakan”kebangkitan daging”). Itu adalah kebangkitan orang mati. Kita akan dibangkitkan, dijemput dan disongsong. Tetapi yang sulung dari yang dibangkitkan adalah Kristus. Yesus mengawali kebangkitan itu. Setelah Ia bangkit mengalahkan maut, maka kita pun turut dibangkitkan nanti. Kita yang sudah memiliki kepastian iman di dalam Krsitus harus tetap berpegang di dalam kepastian itu. Kepastian itu harus mampu mengubah kehidupan kita. Kepastian itu harus bisa membawa diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Sebelum dan sesudah mengenal Yesus harus ada perubahan yang nyata, walaupun kita berada di tengah-tengah krisis iman yang meyulitkan.
Tomas ketika Yesus menampakan diri kepada murid-muridNya, tidak ada. Ada penafsir Alkitab yang mengatakan bahwa Tomas sengaja menjauhkan diri dari kumpulan para murid (mungkin malu). Sehingga ketika Yesus muncul, ia tidak ada. Murid-murid Yesus yang lain berkata, “Ya, Yesus bangkit!” Ketika Tomas masuk disampaikan bahwa benar Yesus bangkit ia menentangkannya dengan alasan yang ia sampaikan. Terkadang dalam hidup , kita menuntut bukti yang nyata dan bisa dipegang, dilihat dan menyakinkan kita bahwa hal itu benar. Misal untuk memastikan uang kertas denominasi Rp 100.000 itu asli atau tidak, kita harus melihat, menerawang dan merabanya. Kalau Sdr. Aldin yang tidak bisa melihat dengan meraba saja dia bisa tahu. Sebelum khotbah, saya bertanya kepadanya,”Bagi kamu apa makna kebangkitan Kristus?” Ia menjawab,”Tuhan memulihkan hidup saya”. Saya bertanya lagi,”Seperti apa?” Dia menjawab lagi,”Saya bisa memberi pengampunan kepada orang-orang di sekitar saya”. “Mengapa kamu harus memberi pengampunan?” “Karena saya bergumul dengan perasaan dan dendam yang saya miliki”. Itulah kepastian di dalam Tuhan .
Hidup kita harus diubahkan. Kalau orang berkata dan mengingatkan , jangan buru-buru menolak mentah-mentah, tetapi terima dan dengarkan dahulu. Mungkin Rasul Tomas seperti itu, sewaktu yang lain menjelaskan ia menolak percaya. Dengarkan dulu menjadi pendengar yang yang baik. Sebelum berespon, pikirkan terlebih dulu. Jangan sampai kita malu karena salah. Rasul Tomas pernah berada di posisi demikian. Mungkin di antara kita ada yang seperti demikian. Kita belajar mengoreksi hati di hadapan Tuhan. Akibatnya apa? Tomas tidak mengalami sukacita kebangkitan Tuhan seperti murid-murid lain karena penolakan diri. Tetapi ketika Yesus menampakkan diri kepadanya, baru ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Maka Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak melihat tapi percaya” yaitu kita. Kita tidak melihat kebangkitan Tuhan Yesus, kita modalnya percaya. Dan percaya itu hanya Tuhan yang bisa memberikannya. Terlepas ketika kita belajar dan membaca (semua kita tahu) tetapi kalau nurani tidak disentuh dan hati tidak diubahkan maka semuanya akan sia-sia. Tuhan yang membuat kita berani berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku” sama seperti Tomas.
Dalam persiapan Jumat Agung dan Paskah kemarin, saya  bersama Sdri. Ervina dan Sdr. Jackson diminta untuk menjadi panita. Ada 2 ibadah besar yaitu Jumat Agung dan Paskah. Saya pilih orang-orang yang akan melayani dan mereka bersedia. Latihan sudah jelas. Tapi Tuhan mengijinkan saya bertemu dengan suatu situasi. Saya dan laoshi Irene memikirkan siapa yang akan dilibatkan. Kalau pada ibadah Jumat Agung semuanya pemuda, sedangkan pada ibadah Paskah saya teringat Sdri. Santi, Sdri. Feli, Sdr. Santo dan Sdr. Kevin. Semua dihubungi dan semuanya bersedia jadi singer. Tetapi setelah itu terbentur dengan waktu. Selanjutnya susah mencari waktu latihan yang sesuai. Setelah itu bergumul dengan lagu-lagunya yang dikatakan sulit. Nada lagunya tinggi-tinggi. Jadi saya berkonsultasi dengan pemusik, “Bagaimana kalau nadanya diturunkan?”  Tapi dikomentari,”Tidak enak”. Jadi yang lain harus mengikuti (belajar). Minggu depannya ada lagi pergumulan lain. Ada penatalay yang minta dieliminasi dalam waktu yang sudah singkat. Saya minta tolong ,”Jangan. Jangan. Kita sudah latihan” sehingga akhirnya ia tetap latihan. Minggu depannya lagi ada yang satunya lagi juga minta dieliminasi. Sehingga akhirnya saya berkata,”Kalau ada  yang mengundurkan diri, maka saya tidak akan minta digantikan.” Saya tidak tahu keberanian mengatakan hal itu dari mana. Akhirnya ia berkata, “Ya saya akan coba” sehingga pada akhirnya semua pelayanan berjalan dengan baik. Sampai saat ini, saya bergumul tentang hal ini, saya berkata, “Tuhan Kau sungguh luar biasa!” Kalau Tuhan yang memampukan dan memberikan kekuatan maka kita bisa. Ada kemampuan yang diberikan, namun kita tidak peka dengan kemampuan itu. Kita lemah tapi jangan biarkan dengan kelemahan yang dimiliki tapi pandanglah Yesus. Ketika ia berkata, “Pandanglah Yesus” Ia memampukan kita untuk melayani. Inilah kepastian yang Tuhan berikan.”

3.       Kebangkitan Kristus mengubah kehidupan kita.

Tuhan Yesus dengan penuh kasih Tomas untuk mencucukkan tangannya. Tapi Tomas tidak melakukannya. Ia hanya berkata,”Ya Tuhan dan Allahku”. Ini bukti, Yesus tetap mengasihi Tomas  yang ragu-ragu dengan imannya. Ia tetap mempedulikan Tomas sekalipun dengan ketidakpercayaannya. Tuhan Yesus tetap mau merangkul Tomas walaupun ia berkata, “Kalau aku tidak melihatNya, maka aku tidak percaya” seakan-akan sedang menentang Tuhan. Tuhan Yesus tetap mengasihi Tomas. Kapan iman kita bisa turun naik di dalam hidup  kita? Kapan keyakinan kita boleh tetap percaya kepada Tuhan tanpa ragu? Kapan iman kita bisa turun dan mungkin sedang meragukan Tuhan di dalam hidup kita? Kita adalah manusia dan kita harus jujur akan Allah. Kristus yang telah bangkit menampakkan diri pada murid-muridNya dan menguatakan iman mereka, memperbarui hidup mereka, mengubah pola pikir mereka dan mempersiapkan mereka untuk pergi menjadi saksi-saksinya di seluruh dunia. Itu tugas yang Tuhan berikan ketika Ia berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”. Ada tanggung jawab lebih dan tugas. Pernyataan damai itu kekuatan bagi para murid. Yang diubahkan adalah semua murid. Rasul Petrus  yang pernah menyangkal Yesus diubahkan menjadi pengkhotbah yang besar dalam dalam sekali waktu pernah berkhotbah ia menobatkan 3.0000 orang. Berubah hidupnya. Tomas dan juga murid-muridNya yang lain, kecuali Yudas Iskariot karena sudah mengakhiri hidupnya. Tetapi murid yang lainnya menjadi martir karena mati dengan iman mereka bersama dengan Tuhan. Saulus diubah menjadi Paulus. Dalam surat Paulus banyak bicara tentang anugerah dan anugerah semata. Itu artinya anugerah yang mengubahkan hidupnya.
Seberapa lama kita sudah menjadi Kristen? Berapa lama kita sudah menjadi percaya? Adakah iman kita turun naik, stabil atau sama sekali kita tidak beriman ? Hanya sebatas beragama saja. Para murid Yesus yang menyaksikan Yesus telah bangkit, mendapati iman mereka semakin kuat dan diteguhkan (dikokohkan). Setelah itu mereka berani keluar dan mulai menceritakan Yesus  yang telah bangkit, walaupun mereka harus berjuang dengan tantangan yang datang dari pemerintah Romawi. Setelah Yesus bangkit, murid-murid berkata, “Yesus adalah anak Allah”. Saat itu yang disebut Anak Allah atau anak dewa hanyalah mereka yang menjabat sebagai kaisar Romawi saat itu. Itu artinya bertentangan  ketika para murid keluar dan berkata,”Yesus adalah Anak Allah”. Tetapi kebangkitan itu mengubah mereka. Bagaimana dengan kehidupaan kita? Kristus yang sulung dibangkitkan dari antara orang mati. Perubahan yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri. Artinya kita harus bisa meng-upgrade diri kita seperti aplikasi dari handphone yang harus di-upgrade. Kalau belum di-upgrade akan diberi notifikasi Setrelah itu berarti aplikasi tambah baik. Kehidupan kita juga harus di-upgrade menjadi lebih baik, itu yang Tuhan tuntut dalam kehidupan kita.
Bagaimana hidup kita bisa berubah? Salah satunya dengan belajar Firman, mendengar firman Tuhan, hati yang memang mau berubah. Kalau keras hati kita akan sulit berubah. Kalau kita keraskan hati, maka Tuhan akan mengubahkan dengan cara yang lebih sulit juga sehingga kita merasa kesakitan ketika diubahkan oleh Tuhan. Tetapi murid-murid saat itu mau diubahkan oleh Tuhan dengan lembut.

Penutup

Pada hari Jumat lalu dalam persekutuan usia indah, para ayi membuat tulisan dengan menggunakan kuas, “Yesu ai wo” atau “wo ai Yesu”. Ada seorang ayi yang menepuk lengan saya dan meminta saya duduk. Lalu ia membuka tasnya dan mengeluarkan dompet kecil serta mengeluarkan kertas kecil putih. Ia langsung memberikan kepada saya  dan meminta saya membacanya. Saya pun membacanya dan ternyata itu adalah pertanyaan teologis. Saya bertanya ,”Darimana pertanyaan ini?” Ayi ini kemudian menjawab,”Saya belajar, membaca dan menulis apa yang tidak saya mengerti.” Saya terharu mendengar ucapannya. “Cuang dao tolong saya untuk mengerti pertanyaan-pertanyaan ini. Pertama, bagaimana engkau bisa mengenal kehendak Tuhan dalam kehidupan anda? Bagaimana sikap anda ketika banyak hal terjadi dalam hidup anda? Apa karakteristik yang paling menonjol dari Yesus?” Setelah itu saya berdiskusi, bercerita akhirnya saya bertanya apakah ia mengerti dan  ia pun mengangguk dan berkata bahwa ia mengerti.
Dari beliau saya belajar salah satu yang dapat membuat kita berubah adalah dengan belajar dan dengan membaca. Apa yang kita dapatkan , kita pertanyakan kalau kita mengerti. Apa yang kurang kita yakini kita tanyakan agar iman kita makin jelas. Iman makin jelas dan terang, kepercayaan kita makin diteguhkan. Kita harus diubahkan hidupnya supaya serupa dengan Allah. Tentunya di dunia ini, kita banyak mengahadapi tantangan seperti ketidakadilan. KIta harus berjuang dengan orang-orang yang curang di sekitar kita. Mungkin di tempat pekerjaan ada orang-orang yang memanipulasi banyak hal atau kita sendiri yang melakukan kecurangan tersebut. Kita harus berjuang dengan ketidakadilan dan budaya. Apakah kita bisa membangun budaya kekristenan dalam pekerjaan kita? Apakah kita bisa memikirkan satu hal dengan konsep pemikiran kerajaan Allah? Dalam ibadah pasutri Jumat kemarin, kita diajar mengatur keuangan di dalam keluarga. Kesaksian pembicaranya sangat memberkati. Semua harus diatur dengan konsep kerajaan Allah bukan kerajaanku. Inilah perenungan dari bagian ini. Segala sesuatu yang harus dipikirkan harus dipikirkan berdasarkan kebenaran Allah. Kalau memang Kristus bangkit dan menguatkan iman kita, kita berani harus berkata, “tidak” untuk hal-hal yang Tuhan tidak senangi. Ketiga, kita harus berjuang dengan  penginjilan sama seperti para murid. Mereka harus keluar dan bertemu banyak budaya, dengan kultur , Tuhan memampukan mereka.
Hari ini kita ditantang dengan hal demikian. Mari bersama menikmati anugerah kebangkitan Kristus yang memampukan kita. Bukan hanya pada pengajaran Kristus kita berharap, bukan hanya pada mujizat Kristus kita percaya, bukan hanya pada apa yang Yesus karyakan kita bisa meyakini bahwa Ia adalah Juruselamat, tetapi yang paling penting adalah yang membuat kita percaya adalah Dia yang adalah Tuhan. Semua yang Ia karyakan hanyalah pembuktian bahwa Ia adalah Allah. Tetapi yang lebih dari itu, Dia-nya y ang harus kita percayai. Karena Dia yang menciptakan kehidupan kita. Apakah kebangkitan Kristus telah menjadi penghiburan bagi kita? Apakah yang masih sangat membebani hidup kita sampai saat ini? Apakah yang mungkin menjadi pergumulan, isi hati , doa , pengharapan yang mungkin belum dijawab sampai hari ini? Mungkin ada yang tengah bergumul di kehidupan keluarga, berjuang dengan kehidupan ekonomi atau relasi, tetapi janji pembebasan dari Tuhan menjadi bagian dari iman kita. Ada sebuah lagu himne “Hai Bangkit Bagi Yesus” (Stand Up, Stand Up for Jesus, George James Webb, 1837) yang liriknya berbunyi, “Hai bangkit bagi Yesus, pahlawan salibNya! Anjungkan panji Raja dan jangan menyerah” sebab kita masih ada di dunia. Sukacita kebangkitan itu akan selalu memampukan kita untuk hidup menjadi lebih baru. Kalau Kristus mau mentransformasi kehidupan kita maka kita harus siap ditransformasi. Kalau Kristus mau mengubah hidup kita, maka kita harus mau diubahkan sesuai dengan cara dan stragegi Tuhan. Sebagai keluarga di tempat ini, kita boleh berjalan bersama dalam iman, kepercayaan kita kepada Tuhan. Jangan hanya saat Paskah dan Jumat Agung tiap tahun hanya sebatas perayaan saja, tetapi ambillah setiap pesan dan makna  dari apa yang sampaikan kepada kita. Amin.

No comments:

Post a Comment