Monday, April 21, 2014

Yesus Sudah Menang, Maka Aku Bisa Menang



Pdt. Arganita Saragih

1 Kor 15:24-26, 54-58
24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan.
25  Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya.
26  Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.
54  Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan.
55  Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
56  Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.
57  Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
58  Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Paradoks Kemenangan

                Dalam suatu pertandingan, bila ada pihak yang menang pasti ada pihak yang kalah, karena paradox dari kemenangan adalah kekalahan. Orang suka memenangkan sesuatu. Contoh pada pemilu calon legislatif Rabu, tanggal  9 April 2014. Para calon berusaha sekuatnya dan melakukan promosi agar mereka menang,  sehingga ada calon yang setelah kalah mengalami gangguan (jiwa) karena sudah banyak mengeluarkan usaha dan uang (bahkan ada yang meminjam). Kemenangan membuat prestise (harga diri) membumbung tinggi sehingga tidak ada yang mau kalah. Hari ini kehidupan modern sangat menekankan kesuksesan sehingga orang-orang berupaya menang (bahkan kalau perlu dengan menghalalkan segala cara). Banyak orang yang mengeluarkan uang untuk menghadiri ceramah dari para motivator untuk memenangankan pertandingan dan memperoleh kesuksesan sehingga menjadi orang terpandang. Kemenangan seperti ini juga dihayati oleh orang-orang  karismatik. Bila ada orang sakit lalu didoakan dan sembuh, itu berarti menang. Sehingga ibadah kesembuhan banyak didatangi orang. Saat saya sakit, seorang teman dari gereja karismatik mengajak saya untuk mengikuti ibadah kesembuhan. Saya tidak ikut dan berkata,” Kalau Tuhan mau sembuhkan, saya akan disembuhkan walau tidak ke ibadah kesembuhan”.

Paradoks Orang Kristen dan Orang Dunia

                Mengapa orang ingin sembuh dan kaya? Karena kesembuhan dan kekayaan dianggap sebagai kemenangan. Kalau begitu istilah kemenangan sebagai orang Kristen yang ditebus di kayu salib berbeda dengan kemenangan orang dunia ini. Saya membuat perbedaan (paradox) di  antara keduanya : orang yang sungguh-sungguh  hidup sesuai dengan firman Tuhan itu baru orang Kristen, karena menjadi orang Kristen berarti menjadi murid Kristus. Jadi terdapat paradoks antara nilai yang dipegang oleh orang dunia dengan orang Kristen. Nilai kemenangan orang Kristen ada di atas kayu salib saat Yesus Kristus mengatakan “sudah selesai (bahasa Yunani : tetelestai) - Yoh 19:28” karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. (Ibr 10:20)  Orang percaya harus memiliki nilai yang berbeda dengan orang dunia. Kalau hanya “menang-kalah” dalam menghadapi sebuah kompetisi apa bedanya orang Kristen dengan orang dunia? Orang dunia bertengkar kanan-kiri untuk menang. Kalau orang Kristen seperti itu, apa bedanya dengan orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus? Maka setiap kita agar punya penghayatan yang berbeda tentang arti kemenangan karena bagi orang Kristen kemenangan terletak pada Tuhan Yesus.

                Saya pernah ditanya, “Menurut kamu mana yang lebih istimewa : Natal atau Paskah?”. Saya jawab, “Paskah” karena Yesus akan sama dengan manusia biasa saat lahir di dunia ini kalau kemudian Ia tidak naik ke atas kayu salib, menderita, mengosongkan diri sama sekali menjadi rupa manusia (kenosis - self-emptying), memikul salib yang bukan karena kesalahanNya tapi karena dosa manusia, lalu mati di kayu salib”. Kalau Ia tidak menjalani hal tersebut, berarti matinya sama dengan matinya manusia biasa. Namun Ia berbeda karena karena pada hari ketiga Ia bangkit. Hal ini dibuktikan dengan kubur kosong. Itu berbeda dengan kebangkitan lainnya. Contoh : Nabi Elia mati tapi tidak ditemukan kuburannya (tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke surga dalam angin badai. 2 Raja-Raja 2:11). Juga Henokh diangkat Allah (Kej 5:24; Ibr 11:5). Tidak ada tokoh agama lain yang bangkit. Hanyalah Yesus yang adalah Allah yang turun ke dunia, karena manusia tidak mampu ke sorga dengan segala usahanya. Selama sekitar 8.000 tahun, manusia telah mencari jalan keselamatan, namun semuanya  gagal sehingga Allah harus turun dari surga  menjelma jadi manusia, menjadi daging yang bisa mati, dan merasakan sakit, sedih, marah, sukacita dll. Ini adalah kekristenan yang utuh. Banyak orang di gereja yang tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi tidak bisa menjelaskan mengapa Dia harus turun ke dunia menggantikan kita. Yesus lebih mulia dari malaikat (Ibr 1:4), sehingga orang yang takut setan , bukan orang Kristen. Orang Kristen harus tahu ia lebih mulia dari segala ciptaan Allah termasuk malaikat (1 Kor 6:3). Pada Perjanjian Lama, di pada Hari Raya Pendamaian (Yom Kippur, Imamat 16) tertentu binatang disembelih sebagai korban untuk menghapus dosa manusia. Ibarat emas yang hilang tidak bisa diganti dengan besi, jadi manusia berdosa tidak bisa ditebus (diganti) oleh binatang. Binatang derajatnya lebih rendah dari manusia, maka Allah harus turun menggantikan manusia. Syarat domba yang dikorbankan harus jantan, tidak bercela, berumur setahun (Kel 12:5). Pada umur 1 tahun, kondisi domba sedang bagus-bagusnya dan produktif. Demikian juga Yesus yang maskulin dan mati di usia 33 tahun. Usia produktif pria antara 30-40 tahun. Jadi usia manusia 30 tahun seperti usia domba 1 tahun. Setiap orang percaya harus mengetahui bahwa Yesus Kristus adalah pengganti domba Allah karena dosa manusia tidak bisa ditebus oleh uang atau domba melainkan hanya bisa ditebus oleh darah Kristus.

                Ketika Yesus naik ke atas salib, itu merupakan hal yang mengerikan sekali. Good Friday seharusnya diberikan sebuah pengertian bahwa penyakit kitalah yang ditanggungNya, begitu mengerikan.

Kesaksian Jim Caviezel pemeran Yesus dalam pembuatan film The Passion of the Christ
                Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.
                Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.
                Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan di tanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.
                Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju. Para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung di atas kayu salib, di atas bukit yang tertinggi di situ. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasanya mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.
                Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.
                Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada di atas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung di atas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung di atas kayu salib itu. Di samping kami ada di bukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.
                Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul di sekeliling saya, sambil berteriak-teriak “Dia sadar! Dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi di sini). “Apa yang telah terjadi?” tanya saya. Mereka bercerita bahwa halilintar telah menghantam saya di atas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Menang bagi orang percaya adalah menang atas kuasa maut. Yaitu hidup dari mati selama-lamanya (bukan mati lalu selesai). Karena kalau mati kekal, kita tetap hidup tapi disiksa di dalam neraka selamanya (tidak ada akhirnya). Kita sering berpikir masalah ada akhirnya tapi di neraka tidak ada akhirnya, tapi selama-lamanya. Yesus turun ke dunia orang mati untuk menyatakan “Aku menang” (ditahlukkannya kuasa maut). Jadi kemenangan orang Kristen harusnya lebih tinggi dari kesembuh orang sakit, pelunasan hutang (pinjaman) atau kesenangan hidup. Kemenangan orang Kristen bukan seperti itu. Kita menang ketika mengalahkan maut. Kemenangan itu harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

                Kemenangan sudah dibuktikan Yesus dalam kehidupanNya sebelum kemenangan di kayu salib. Hal ini dapat dilihat pada bagian Alkitab tentang pencobaan Kristus di padang gurun di mana iblis menggoda Yesus dengan 3 penawarannya (Mat 4:1-11) namun Yesus menang. Juga di taman Getsemani ketika kesengsaraan dan penderitaan hebat menjelang di hadapanNya Yesus berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku” (Mat 26:29a). Kalau sampai di sini doanya berhenti, maka Yesus tidak menang karena Dia tidak mau menderita, tapi kalimat selanjutnya membuktikan kemenangan Yesus, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki“ (Mat 26:39b). Hal ini berbeda dengan manusia yang seringkali tidak mau menderita(tertekan) dan suka menghindari masalah. Seharusnya kesuksesan seseorang untuk kemuliaan nama Tuhan. Jangan karena sukses dan punya banyak uang seolah-olah bisa mengontrol Tuhan dan menjadi Tuhan di keluarga, sehingga menjadi orang yang playing God (berkeinginan jadi Tuhan seperti iblis). Orang yang hidupnya sungguh-sungguh melepaskan keinginan daging berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, pembalasan itu adalah hak-Mu” (bdsk Roma 12:19). Maka berhati-hatilah orang yang sedang berkonflik dan ingin membalas maka berarti ia mengambil hak Tuhan karena Tuhanlah yang akan memberi perhitungan kepada kita. Pada saat Yesus berdoa, “Melainkan seperti yang Engkau kehendaki yang jadi”, Ia melepaskan semua hakNya ke dalam Tuhan Allah yang berkuasa, yang telah mengutusNya masuk ke dunia ini.

Menang dalam Kehidupan Sehari-Hari

                Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari konflik baik di kantor, keluarga, dengan pasangan. Manusia  tidak pernah lepas dari masalah , karena dunia dikuasai maut. Hanya orang mati yang tidak bermasalah. Tetapi Firman Tuhan mengatakan Ia mengalahkan kuasa maut, sehingga orang yang ditebus Kristus, bisa mengalahkan kedagingan yang dikuasai iblis. Contoh kedagingan : ingin membalas orang yang menipu dan membuat sakit hati , menipu saat dagang,  suami berselingkuh walau sudah punya istri dan anak. Atau, istri bukan tunduk tapi tanduk suami sehingga dunia punya filosofi “istri itu lehernya suami”. Orang Kristen tidak boleh (seharusnya suami-istri sejajar).  Di gereja dan sekolah Kristen, juga banyak orang yang ingin popular dan ingin menjadi Tuhan. Inti dari kemenangan Kristen adalah mengalahkan kedagingan, bukan saja mendapatkan jaminan mulia. Selama hidup dalam dunia, kita menang atas keinginan daging. Saya menentang gaya hidup modern seperti  sekulerisme, hedonisme, konsumerisme. Sekarang ada orang kalau stres pergi ke mal-mal berbelanja (shopping). Ada pengusaha kayu yang hampir cerai. Istrinya kalau stress karena suami punya simpanan, pergi ke AS dan membeli jam seharga Rp 3 miliar untuk memuaskan keinginannya. Ada juga seorang General Manager wanita yang diselingkuhi suaminya yang punya anak 2 dengan selingkuhannya. Dia tidak bisa tidur, lalu pergi ke psikiater dan makan obat baru bisa tidur. Setiap hari terjadi banyak hal yang bisa menggeser fokus manusia dari Allah dengan barang-barang. Di mal-mal ada midnite sale 70-90% sehingga banyak orang memborong barang bermerek. Ada juga yang ketika bekerja bukan untuk kemuliaan Tuhan tapi hanya pentingkan gaji. Saya sering menasehati staf, “Kalau mau melayani Tuhan dan bila tahu itu tempat dari Tuhan, kamu akan tetap setia di sini, karena Tuhan akan penuhi semua kebutuhan”.

                Kalahkan kedagingan ketika ada tawaran dari dunia karena kuasa maut sudah hancur. Tapi orang Kristen sering kalah, karena tidak hidup dalam kemenangan Firman Tuhan. Saat diadakan persekutuan guru-guru di sekolah tempat saya mengajar, saya mengatakan,”Kita harus menggali sendiri pemaknaan tentang Firman Tuhan”. Sejak hari itu para guru menggali Firman Tuhan sendiri. Mereka pernah bertanya, “Kalau salah bagaimana?” Saya menjawab,”Sebagai orang Kristen awam kalau salah menafsir, itu hal yang wajar. Tapi kalau lulusan sekolah teologi masih salah , itu kurang ajar.” Karena hal ini berarti dia tidak menggali dan menghidupi firman itu baik-baik. Karena setiap hamba Tuhan harus berkhotbahlah seperti yang Tuhan ingin katakan. Saat hamba Tuhan akan naik ke atas mimbar untuk menyampaikan firman Tuhan, ia harus melepaskan keinginan daging untuk mengatakan keinginan sendiri (bukan kehendak Allah). Kalau jemaat “dihabisi” (dipersalahkan)  di atas mimbar, maka dalam perkataannya  tidak ada kuasa Roh Kudus. Saat melayani keinginan daging, maka kuasa Roh Kudus tidak bisa masuk. Supaya bisa menjadi umat pemenang, lawanlah hal-hal yang membuat kita menderita. Kalau ada yang menderita, sakit dan bermasalah , ingatlah bahwa  kita hidup antara Allah dan iblis. Ketika masalah datang mau dibawa ke mana masalah ini? Mau mempertanyakan Tuhan, “Ya Tuhan kau ada di mana? Mengapa Engkau diam Tuhan?” karena Allah tidak pernah meninggalkan  kita. Allah hanya sekali meninggalkan Yesus ketika Ia menanggung dosa manusia di atas kayu salib karena Allah merasa jijik melihat dosa kita. Tapi tidak pernah dalam sejarah dunia, Ia meninggalkan umatnya. Hanya sekali saja Allah meninggalkan Yesus ketika Yesus berkata, "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46). Masalah yang dibawa ke iblis mengakibatkan iman kita dihancurkan. Sebenarnya masalah adalah ujian dari iman untuk bertumbuh agar serupa Kristus. Itulah pembentukan. Kemenangan Yesus di atas salib harusnya membawa kita menang dari hari-ke hari. Siapa yang tertekan ingatlah maut dan iblis telah dikalahkan, masa tidak bisa diselesaikan. Oleh karena itu jangan menganggap kecil Firman Tuhan yang berkata,”Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:20b) dan (1Kor 15:55)  Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Namun hari ini, banyak yang tidak ingat dan bertekun lagi kepada Tuhan. Masalah kita tidak lebih besar dari Kristus. Untuk menuntun hidup kita dari hari ke hari, kemenangan sudah diberikan kepada kita. Sehingga ditegaskan, kita pasti masuk surga. Agama yang lain hanya berkata “Mudah-mudahan, tetapi di dalam kekristenan , kamu pasti masuk surga.” Dalam menghidupi hari-hari, Yesus menjamin bahwa kita dapat memperoleh kemenangan ketika kita tahu kememangan itu dari mana. Melewati hidup yang pedih melampaui segala akal ada dalam diri kita. Sehingga dalam 1 Kor 15: 58, “berdirilah teguh” karena media dunia ini sedang menggeroti iman kita. Karena media sedang membuat kita jauh dari Allah. Contoh lirik lagu bimbo tentang Allah yang terdiri, “Jauh atau dekat nya tergantung kita”. Ada juga gambar yang berisikan tulisan ,”Bila orang itu tidak mengutamakan dan mencintai kamu mengapa kamu mengutamakan dan mencintai orang itu?” Kata-kata ini sesat. Karena sumber keutamaan dan cinta kita adadah Allah yang tidak terkondisi dengan objek yang dikasihi. Oleh karena itu “Berdirilah  teguh , jangan goyah”. Jadilah jemaat aktif dalam melayani karena itu kemenangan kita. Semua orang sibuk, tetapi apakah kita mau punya hati untuk mengalahkan keinginan daging? Apakah kita mau punya hati untuk melayani Tuhan? Semua usahamu tidak ada yang sia-sia sampai suatu kali ketemu muka dengan Tuhan dan Ia berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21). Jangan setiap hari ,berdoa “Tuhan pakai saya". Karena sebagai alat, kalau tidak dipakai dibuang. Tetapi berdoalah, “Tuhan pakai saya, buat saya setia sampai akhir”. Yang utama adalah menjadi yang terakhir, supaya sampai akhir kita jadi orang setia dan benar Kemenangan sudah dimulai sejak sekitar 2.000 tahun yang lalu di atas kayu salib!

Saturday, April 19, 2014

Kasih dari Kalvari





Kasih dari Kalvari *)

Pdt. Hery Kwok

Fil 2:8
8  Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Yoh 18:1-11
1   Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.
2  Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya.
3  Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.
4  Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: "Siapakah yang kamu cari?"
5  Jawab mereka: "Yesus dari Nazaret." Kata-Nya kepada mereka: "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati Dia berdiri juga di situ bersama-sama mereka.
6  Ketika Ia berkata kepada mereka: "Akulah Dia," mundurlah mereka dan jatuh ke tanah.
7  Maka Ia bertanya pula: "Siapakah yang kamu cari?" Kata mereka: "Yesus dari Nazaret."
8  Jawab Yesus: "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi."
9  Demikian hendaknya supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: "Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorangpun yang Kubiarkan binasa."
10  Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus.
11  Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"

Pendahuluan
Saya pernah memberikan nasehat kepada sepupu saya dan ternyata nasehat itu salah. Saat itu, sepupu saya sedang mengalami masalah karena pertunangannya putus dan tunangannya pergi meninggalkan dia. Rasanya tidak masuk akal. Keduanya tidak berasal dari keluarga yang berada, mereka berjuang dari bawah dan mereka sudah mengetahui keberadaan masing-masing. Oleh sebab itu seharusnya mereka menjadi pasangan yang luar biasa (ideal) karena lahir dari cinta. Putusnya pertunangan mereka tidak bisa masuk dalam pikiran saya. Oleh sebab itu saya memberi nasehat, “Ambil lagi apa yang sudah kamu berikan kepadanya seperti kalung emas. Karena keenakan.  Sesudah mendapatkannya, sekarang putus dan ia pergi meninggalkan kamu.” Hari itu saya emosi dan marah sehingga saya memberikan nasehat yang tidak bagus. Tidak bagus karena sesungguhnya hati yang mengasihi lahir dari ketulusan dan tidak pernah main hitung-hitungan. Waktu saya menyuruh ambil, ibaratnya saya menempatkan cinta pada tempat pegadaiaan dan kemudian menyuruhnya mengambil kembali. Seharusnya esensi (inti) dari kasih adalah hati yang tulus, sunguh-sungguh rela, dan memberikan totalitas kepada orang yang dikasihi.

Kasih dari Kalvari
Pada minggu pertama dan kedua tema khotbah di gereja adalah doktrin tentang karya Kristus. Pada minggu pertama, temanya substitusi  yang artinya menggantikan. Maksudnya harusnya saya yang mati tapi Kristus yang mati menggantikan saya. Harusnya saya yang tergantung di kayu salib tetapi Yesus yang menggantikan posisi saya di sana. Pada minggu kedua, temanya tentang harga yang telah lunas dibayar oleh Kristus atas dosa manusia. Perkara atau karya yang Kristus lakukan dengan membayar lunas memberi petunjuk bahwa kita sekarang sudah menjadi milik Allah. Kamis kemarin pada persekutuan doa tema-nya salib Kristus adalah lambang pengampunan. Salib adalah tempat dimana orang terkutuk ada di sana. Terkutuk adalah orang dilaknat dan layak menerima hukuman yang paling berat. Dari khotbah yang membawa kita kepada doktrin tentang karya Allah yang sedemikian hebat timbul pertanyaan apa yang menggerakkan sehingga karya itu dilakukan Allah di dalam AnakNya? Pada Jumat Agung inilah kita menemukan jawabannya. Seluruh karya Kristus digerakkan oleh kasih yang turun dari Kalvari. Pada Filipi 2:8 Rasul Paulus mengatakan bahwa Ia telah merendahkan diri dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib. Di dalam esensi kasih Rasul Paulus memberikan petunjuk yang jelas, Ia merendahkan diri dan taat sampai mati. Di dalam kasih seperti itulah kristus melakukan karya Allah yang telah digenapiNya di kayu salib.  Di dalam kasihnya di mana Ia merendahkan diri dan taat disitulah Ia menggantikan saya. Di dalam kasihNya Ia membayar saya lunas di kayu salib, menjadi kutuk dimana Ia dilaknati oleh Tuhan Allah.

Pada Yohanes 18 disampaikan gambaran tentang kasihNya yang terefleksi dalam ketaatanNya sampai mati. Ada 2 hal yang ditunjukkan oleh Rasul Yohanes tentang bagaimana Kristus menunjukkan kasihNya melalui ketaatan dan kerendahan diri.

1.     Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah ia bersama murid-muridNya ke taman Getsemani (Yoh 18:1
Setelah Yesus mengatakan semuanya itu keluarlah Ia dari situ bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman dan Ia masuk ke taman itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya). Arti dari frase “setelah Yesus mengatakan semuanya itu” dengan membandingkan keempat kitab Injil adalah setelah Ia mengajar murid-muridNya dan melakukan perjamuan kudus yang terakhir. Di sana dijelaskan bahwa Anak Manusia harus disiksa dan dibunuh oleh manusia yang jahat. Pengajaran ini diterapkan oleh Yesus saat Ia masuk ke taman Getsemani. Di taman inilah , detik-detik yang menentukan untuk Ia masuk ke jalan salib (via dolorosa).  Di dalam pasal 18 inilah saat yang genting karena Yesus harus melakukan misi yang berat sekali sehingga Yesus mengatakan, “Kalau boleh cawan ini lalu daripadaKu”. Perkataan ini menunjukkan betapa mengerikan dan dahsyatnya dosa kita. Bagi Kristus perpisahan dengan bapaNya dimana ia mengambil cawan itu, itulah dosa kita yang paling menjijikkan. Pada pasal 18, Rasul Yohanes mau menggambarkan detik-detik  menentukan apakah Ia mau melakukan karya Allah atau tidak. Waktu kita mau melakukan dosa, sesungguhnya detik di mana Ia mau melakukan atau tidak itulah momen yang sangat mahal sekali. Seorang anak yang masih bersekolah menyontek atau tidak sampai pada detik-detik di mana ia harus menentukan. Di dalam detik-detik itu berkecamuk pikiran, apakah ia tidak akan menyontek karena taat kepada Yesus dan memuliakan Tuhan namun nilainya jelek (mungkin ia sudah mendengar bahwa Tuhan Yesus telah menebus dia), tapi gambaran mamanya yang galak dan akan memarahinya bila dapat nilai jelek membuat ia berpikir untuk menyonteknya. Detik-detik seperti itulah yang menentukan seseorang untuk melakukan sesuatu.  Sebelum seorang pemuda Kristen dalam dosa seks, ia tiba pada detik-detik yang genting untuk memutuskan apakah akan melakukannya atau tidak. Sebagai orang Kristen, ia tahu bahwa  itu bukan hidup yang diperkenan Tuhan tapi begitu ia melihat perempuan yang sexy ia berpikir untuk melakukannya juga. Ada satu buku yang coba menjelaskan bahwa detik itulah saya harusnya menentukan untuk tidak melakukan tapi di situlah saya jatuh. Harusnya ia lari tapi ternyata malah ia jatuh. Konselornya bertanya seharusnya kalau kamu lari seperti Yusuf, kamu tidak akan masuk ke dosa perzinahan. Lalu ia bilang, justru pada detik itulah saya memutuskan lari di tempat dan jatuh! Waktu Yesus bergumul di taman Getsemani itulah Yesus bergumul sehingga peluhnya menetes seperti darah. Di dalam detik-detik pergumulan di taman itulah Yesus menyatakan kasihNya dalam ketaatan dan kerendahan hati. Kalau kita membaca Filipi 2 secara keseluruhan, Rasul Paulus menyatakan Dia, Dia yang Allah maha kuasa, merendahkan diri. Kita mengenal Allah kita Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tiga pribadi yang esa tidak mungkin terpisah satu dengan yang lain, sama-sama setara dan sejajar, Dialah Allah! Tetapi Dia merendahkan diri dari KeallahanNya dan mau taat atas apa yang BapakNya minta. Itu sebabnya Kalvari merupakan bentuk dari kasih yang tercurah luar biasa. Waktu membaca Yoh 18:1 , kita harusnya bersyukur, ia membuktikan kasihNya pada  detik-detik ia mengambil keputusan. Memasuki ibadah Jumat Agung kita diingatkan betapa luar biasanya kasih Allah ini. Seluruh karyaNya yang disebut penggantian (substitusi) dan pelunasan digerakan oleh Kasih Allah. Itu sebabnya di dalam kasihNya dalam detik-detik yang menentukan Ia memutuskan mengambil cawan yang pahit.

2.     Kasih Allah yang nyata di dalam ketaatan dan kerendahan hatiNya dalam ayat-ayat berikutnya. Ayat kedua dikatakan Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Bagi yang belum pernah mengalami pengkhianatan, tidak bisa memahani pengkhianatan yang sempurna, pengkhianatan yang paling menyakitkan bagi orang yang dikhianati. Sesungguhnya yang terjadi adalah kebencian dari yang awalnya cinta. Orang sering berkata bahwa antara benci dan cinta perbedaannya tipis sekali dan yang membatasinya pengkhianatan. Waktu seorang terdorong mencintai seseorang dan mendapati orang itu mengkhianatinya maka cintanya berubah menjadi benci.  Beberapa waktu lalu, media menceritakan bagaimana seorang pejabat dituntut oleh wanita selingkuhannya agar dinikahi. Karena didesak, pejabat itu kemudian membunuh wanita tersebut. Kalau ia benar-benar cinta, mengapa malah membunuh? Unsurnya ia takut didesak terus karena ia sudah mempunya istri yang sah! Yang paling pedih dan menyakitkan, saat benci itu lahir dari pengkhianatan. Kalau kita dikhianati, apa yang kita janjikan tidak mampu kita laksanakan. Bandingkan dengan ayat kedua. Yudas adalah salah satu dari 12 murid Tuhan yang selama 3 tahun bersama-sama tapi kemudian mengkhianatiNya! Mari coba bersama-sama menghayati Ia melakukan tugas yang menyakitkan karena Ia mengalami peristiwa pengkhianatan.  Rasul Yohanes menuliskan ayat ini, kasih Calvary membuatNya tetap melakukan semua itu. Dia tidak berbelok dari tujuan yang Allah minta karena di sanalah dinyatakan kasihNya melalui ketaatan sampai mati. Dikatakan prajurit dan Simon Petrus menggunakan kekerasan (kekuatan). Pada waktu Yesus berkata kepadanya (Petrus) : "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? (Mat 26:52-53). Dalam istilah ketentaraan Romawi, pasukan atau Legiun atau Legion (seperti waktu Tuhan Yesus mengusir roh jahat di Gerasa) artinya banyak. 1 pasukan bisa terdiri dari 4.000-6.000 prajurit. Sehingga 12 pasukan malaikat jumlahnya bisa mencapai 72.000 malaikat yang bisa menjagaNya dari pasukan Romawi. Padahal seperti di Perjanjian Lama, waktu Sodom dan Gomora ditunggangbalikan malaikat, hanya diutus 2 malaikat yang  kemudian menarik Lot dan keluarganya supaya keluar dari kota itu dan menghukum penduduk Sodom dan Goroma yang berdosa. Karena malaikat diberikan Tuhan kuasa yang luar biasa. Kalau 12 pasukan malaikat berarti betapa luar biasanya Yesus mempunyai kuasa atas mereka tapi tidak dilakukanNya saat prajurit datang dan Simon membelaNya. Bahaya yang menghinggapi orang berkuasa adalah kekuasaannya. Yang berbahaya dalam diri orang kaya adalah kekayaannya.  Karena saat berkuasa dan punya uang, orang menganggap dirinya hebat dan bisa melakukan apa saja. Itu sebabnya Nabi Yeremia berkata "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya” (Yer 9:23). Karena saat itulah orang menunjukkan ego dan jati dirinya yang jahat kepada orang lain. Yesus Kristus menunjukkan bahwa Dia orang yang mengasihi. Di dalam kekuasaan dan kebesaranNya Ia tidak menggunakan itu semua. Bahkan dengan perkataanNya saja yang membawa wibawa yang hebat sehingga saat mengatakan “Akulah Dia” membuat pasukan yang akan menangkapNya jatuh (Yoh 18:6). Rasul Yohanes menceritakan sesuatu yang hebat saat Yesus berkata dan sepasukan prajurit itu jatuh. Prajurit Romawi bukanlah pasukan lemah, tapi sudah dilatih dan memiliki tubuh yang kuat. Saat ia berkata “Akulah Dia” mundurlah mereka dan jatuh ke tanah. Saya membayangkan dalam imaginasi saya, ini luar biasa. Kalau kita yang berteriak, siapa yang akan jatuh? Tapi dikatakan di sini  perkataanNya pun punya wibawa yang luar biasa. Tapi semua tidak dilakukanNya karena Dia mengasihi kita.  Dalam kasih yang tercurah di Kalvari, Dia belajar taat dan merendahkan diri, supaya kita tidak binasa. Pertanyaannya kalau kasih sudah tercurah di Kalvari apa respon kita terhadap kasih itu? Masihkah kitamenjalani hidup dengan sia-sia tanpa tujuan? Tidak melihat betapa pentingnya mengenal Tuhan dalam hidup? Kalvari yang mengerikan, namun justru di sanalah turun kasih yang agung dan mulia.

Ilustrasi film (https://www.youtube.com/watch?v=8H3wJFcukrY). Ada seorang pria yang memiliki seorang putra yang sangat dicintainya. Ia bekerja sebagai penjaga jembatan yang bisa dinaikturunkan untuk melayani jalur kereta api yang melalui jembatan tersebut dan perahu yang melayari sungai di bawah jembatan. Anaknya sangat suka mengamati-amati kereta api. Suatu kali berangkatlah sebuah kereta yang akan melalui jembatan tersebut. Kereta tersebut berisikan banyak penumpang dengan berbagai jenis manusia. Ada orang-orang yang sedang mengalami kesepian, marah-marah,  egois (tidak mau bergaul dengan sesama), tersakiti bahkan pecandu narkoba!  Beberapa saat sebelum kereta melewati jembatan, sang pria mengangkat tuas sehingga jembatan terangkat karena ada sebuah perahu yang ingin melewati sungai di bawah jembatan tersebut. Sementara perahu melewati kolong jembatan, sang anak yang sedang mengamati kondisi di luar ruang kontrol, tiba-tiba melihat asap kereta api yang bergerak cepat menuju jembatan. Ia pun berteriak memberitahukan ayahnya bahwa ada kereta api yang bergerak sangat cepat menuju jembatan. Sang pria pun melihat asap kereta tersebut. Namun saat sang ayah mencari anaknya dari ruang kontrolnya, ia tidak menemukan di tempat biasanya ia bermain (di pinggir sungai). Dari ruangnya dengan panik ia melihat keluar mencari-cari di mana anaknya berada. Akhirnya ia melihat anaknya sedang berusaha menurunkan tuas jembatan di luar karena sang anak mengira ayahnya tidak melihat kereta yang akan lewat sehingga ia khawatir ayahnya tidak akan punya waktu yang cukup untuk menurunkan jembatan itu kembali. Sayangnya karena masih kecil, saat tangannya hendak menjangkau tuas tersebut, sang anak terjatuh ke bawah jembatan. Sang pria terkejut melihatnya dan ia ingin segera menyelamatkannya. Namun ia menyadari ada sebuah kereta yang sedang bergerak cepat menuju jembatan. Saat itu ia mengalami dilema (konflik batin) yang luar biasa) antara melakukan tugasnya untuk menurunkan tuas agar jembatan kembali bisa dilalui kereta atau menyelamatkan sang anak. Karena bila tuas jembatan diturunkan sementara tubuh sang anak ada di bawah jembatan, tubuh sang anak akan tergencet jembatan. Ia sungguh gelisah.  Ia pun memukul dinding  ruang kontrolnya. Ia hanya memiliki sedikit waktu untuk mengambil keputusan. Itulah detik-detik ia harus mengambil keputusan. Dengan menahan kepedihan hatinya, akhirnya ia berketetapan hari menurunkan tuas sehingga jembatan kembali turun dan kereta bisa melewati jembatan. Di sisi lain, hal ini mengakibatkan tubuh anaknya terjepit jembatan dan kematian pun menghampiri sang anak! Sebagian penumpang kereta saat itu sedang tertidur nyenyak, sebagian lagi sedang bermain dengan gembira dengan teman-temannya, ada juga seorang perempuan muda yang sedang membakar sendok untuk memanaskan narkoba yang akan dipakainya sementara kereta melalui jembatan itu dengan aman. Sang pria hanya bisa menangisi kematian sang anak. Pemakai narkoba yang melihat keluar kereta api, menyaksikan seorang pria menangis pilu. Sang pria pun melihat pemudi pemakai narkobanya sedang memandangnya. Kemudian pemudi ini melihat sang pria mengangkat jasad sang anak. Hatinya tersentuh melihatnya. Hatinya tergerak menyaksikan kesedihan sang pria yang sangat mengasihi anaknya. Hatinya menyadari masih ada cinta di dunia ini. Di sisi lain, sang pria telah memilih untuk menyelamatkan banyak orang dan mengorbankan anaknya sendiri yang sangat dikasihi. Sang pria telah mengorbankan anaknya agar orang-orang di atas kereta memiliki masa depan yang penuh harapan.  Setelah lama berselang, di stasiun kereta sang pria kembali berjumpa dengan pemudi tersebut. Pemudi itu sedang menggendong anaknya yang masih kecil dengan ceria. Mereka saling memandang dan tersenyum. Rupanya sang pemudi pemakai narkoba sudah mendapatkan kembali hidup normalnya dan memiliki anak yang yang membuatnya bahagia. Melihat kegembiraan sang pemudi tersebut, sang pria mengucap syukur. Tidak sia-sialah pengorbanannya. Yoh 3 : 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (Tuhan Yesus Kristus), supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ilustrasi yang diambil dari film MOST tersebut menggambarkan sebagian kecil kasih Allah yang telah mengorbankan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan dosa manusia.


*) Wycliffe: Luk 23:33 - Di tempat yang bernama Tengkorak
Di tempat yang bernama Tengkorak (Kalvari). Lokasi persisnya tempat ini tidak diketahui. Semua tanda sudah dimusnahkan bersama dengan kota itu, sehingga pengindentifikasian menjadi mustahil. Tempat pelaksanaan hukuman adalah di luar tembok kota, dekat jalan raya yang banyak dilalui orang. Pendapat dewasa ini terpecah di antara yang beranggapan bahwa tempat itu adalah di Gereja Makam Kudus, atau di Kalvari Gordon, di utara Gerbang Damaskus. Kalvari (Latin) atau Golgota (Aram) berarti "tengkorak." Bukit tersebut rupanya dinamakan demikian karena bentuk tanahnya yang mirip sebuah tengkorak, atau mungkin karena tulang-tulang berserakan di situ. Alternatif kedua berkemungkinan lebih kecil mengingat keberatan orang Yahudi apabila mayat-mayat tidak dikubur.



Sunday, April 13, 2014

Ransom : Allah Menebusku dan Lunas Terbayarkan

Ev. Lili Suwandi

1 Kor 6:19-20
19  Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,  —  dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
20  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Pada 1 Kor 6:19b Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus (yang kaya namun punya  banyak masalah) dengan kalimat yang indah bahwa “kamu bukan milik kamu sendiri”. Ini berarti aku bukan milik aku lagi tapi milik Tuhan Yesus Kristus karena Allah telah menebusku dan semua utang(dosa)ku lunas dibayar. 3 hal yang dapat dipelajari dari penebusan (ransom) ini.

1.     Pengorbanan tentang Tuhan Yesus. Dia telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita. Sehingga saat memikirkan kasih Tuhan, kita tidak akan mundur. PengorbananTuhan Yesus sedemikian besar, sehingga Dia bahkan berseru kepada Allah,”Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15: 34b). Saat memikirkan kasih Tuhan, kita seharusnya seperti Rasul Petrus. Ia orang yang berterus terang (spontan). Apa yang dirasakan dan dipikirkan , itu yang langsung dikatakan. Dalam kelemahannya, ia punya kekuatan. Rasul Petrus adalah seorang murid Tuhan yang pintar. Orang Tiongkok (Utara) mendidik anak dengan 3 cara. Yang pertama untuk anak yang pintar, mereka menggunakan mata sebagai bahasa isyarat untuk mengajarnya. Sehingga dengan kedipan mata saja maka sang anak akan mengerti apa keinginan sang ibu (seperti ada kontak batin). Cara yang kedua, bila sang anak tidak mengerti dengan tatapan mata, maka harus diucapkan (diajar dengan mulut) misalnya dengan berkata,”Jangan nakal ya”. Cara ketiga untuk anak yang kurang pandai. Dalam mengajar, sang ibu akan berkata “bodoh” kepada anaknya (sang anak dibodoh-bodohi). Bila seorang hamba Tuhan berkata terus-terang , maka jemaat biasanya tidak suka. Karena biasanya perkataan sejati tidak sedap didengar, sedangkan perkataan yang tidak benar (bohong) diucapkan dengan lambat. Sehingga di kepolisian, seorang pelaku  kejahatan diproses lama untuk mengetahui apakah ia sedang berbohong atau tidak dengan cara mengulang-ulang pertanyaannya. Rasul Petrus dikatakan pintar karena setelah tiga kali ia menyangkal Tuhan Yesus, hanya dengan tatapan mata Tuhan Yesus Rasul Petrus menyadari kesalahan (kelemahan) nya dan menangis tersedu-sedu seperti yang dikatakan pada Lukas 22:61-62 Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku. Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Biasanya seorang gentleman seperti Petrus boleh mencucurkan darah dan keringat tapi tidak air mata (gengsi untuk menangis). Ia melihat cinta kasih Tuhan dan pengorbananNya yang luar biasa sehingga ia menangis. Saat di atas kayu salib, Tuhan Yesus mati pelan-pelan karena darahNya keluar setetes-setetes demi saya dan Tuhan Yesus mengucapkan 7 perkataan di kayu salib, di antaranya adalah :
-        Yang pertama, Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk 23:34). 
-        Yang kedua, Yesus berkata saat seorang penjahat (penyamun) yang disalibkan bersama Yesus berkata : "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."  Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:42-43).  Penjahat tersebut tidak sempat datang ke gereja, dibaptis atau ikut katekisasi. Tatkala menyadari siapa Tuhan Yesus yaitu Juruselamat,  Ia mengaku sebagai orang berdosa dan minta pengampunan.
-        Perkataan yang ketiga dan keempat dapat dilihat pada Yoh 19: 27-29 Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.  Tuhan Yesus menitipkan ibunya (Maria) kepada muridNya (Rasul Yohanes). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah anak yang berbakti kepada orang tua. Ada yang bilang orang Kristen tidak berbakti kepada orang tua karena  kalau orang tuanya meninggal setelah meninggal tidak dikasih makan di kuburannya. Padahal seharusnya kalau sayang orang tua, maka kita harus menunjukkan kasih itu selagi orang tua hidup. Jangan saat hidup hanya dikasih makan supermie, sedangkan setelah meninggal dikasih daging samseng (artinya: tiga macam daging yang terdiri dari tiga jenis macam binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi) padahal sudah tidak bisa makan lagi. Saat ini, anak harus meneladani Tuhan Yesus supaya iman yang kita peroleh adalah iman yang sejati.

2.     Kita harus mengenal diri kita sendiri bahwa kita milik Allah. Sehingga kita jangan sombong (angkuh). Manusia diberkati Allah sehingga memiliki kepandaian dan bisa membuat kapal terbang. Namun saat pesawat MAS dengan nomor penerbangan MH 370 hilang, sampai saat ini belum bisa ditemukan. Manusia bisa menjadi hebat tapi tidak ada artinya bila tanpa Tuhan. Selain beriman, manusia memiliki kebijaksanaan. Manusia yang ingin membesarkan diri , dalam bahasa Mandarin 自(zi, sendiri) 大 (da, besar) yang artinya sendiri menjadi besar tapi kalau kedua huruf digabung menjadi huruf 臭chou (bau). Jadi orang jangan membesarkan diri tapi harus selalu bersyukur kepada Tuhan dalam segala perkara dan meninggikan Kristus sehingga hidup menjadi indah. Dalam bahasa Mandarin, huruf “indah” (mei, 美) terdiri dari 2 huruf yakni 羊 (yang,  domba) dan 大 (da, membesarkan). Hidup bisa jadi indah dengan membesarkan (meninggikan) anak domba Allah. Saat kita meninggikan Allah dan merendahkan diri, maka hidup menjadi indah. Tatkala Tuhan Yesus menebus kita, Roh Allah tinggal di dalam kita sehingga kita perlu bersyukur kepada Tuhan dalam berbagai hal (termasuk dalam kesulitan). Bersyukur dalam bahasa Mandarin è°¢ (xie) terdiri dari 3 huruf yakni yaituè® (zhi, kata- firman) , 身(shen, tubuh-Allah) dan寸 (cun, inci - ukuran). Melalui kata, tubuh dan ukuran yang menjadi tolok ukur kita adalah Alkitab (Firman Allah menjadi ukuran kita). Sehingga kita perlu hidup bersyukur kepada Tuhan agar kita bisa hidup dengan tenang. Dengan hidup penuh ucapan syukur maka kita bisa menikmati betapa besar anugerah Tuhan dalam hidup kita. Roh Allah ada dalam hati kita sehingga kita menjadi luar biasa, karena bisa memahami bahwa kita sudah ditebus. Ada seorang anak muda Kristen yang berhasil karirnya. Suatu hari ia diundang rekan bisnisnya keluar negeri dan disodorkan seorang teman wanita (lady-escort) gratis. Namun ia menolak dan berkata, “Saya adalah anak dari Tuhan yang sudah menebus diri saya dengan darahNya yang sangat mahal”. Sehingga rekan bisnisnya merasa malu dan meminta wanita tersebut keluar. Sang anak muda menyadari bahwa tubuhnya adalah bait Allah sehingga jangan dipakai untuk berzinah (1Kor 3:16  Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?). Perzinahan  (fornication) bisa bermakna ganda yaitu tubuh yang berzina atau penyembahan berhala (berzina rohani).

3.     Muliakanlah Tuhan dengan hidup kita. Ada 3 prinsip dalam memuliakan Allah yaitu :

a.     Setiap hal boleh kita lakukan tapi jangan diperhamba. Ada orang yang suka merokok sampai kecanduan (tidak bisa menghentikan kebiasaan merokoknya). Ada juga yang suka kopi (setiap pagi, siang dan malam, ia harus minum kopi minimal 1 gelas) sehingga kalau tidak minum kopi maka kepalanya menjadi pusing. Jangan tanya,”Ini boleh atau tidak?”. Segala sesuatu boleh (halal) ,tapi jangan sampai dibelenggu. Kalau sudah terbelenggu, maka kita harus mengatakan, “Tuhan, hidup saya bukan untuk ini.”
b.   Segala sesuatu boleh, tetapi harus ditanya berguna tidak dan apakah membangun orang lain tidak. Baik kita makan atau minum , makan sampai mati jangan sampai mati tidak makan. Waktu anak masih kecil, saya tidak pernah tanya kepada anak saya tentang hari ini mereka mau makan apa. Suami saya saja tidak komplain. Saya harus mengajar dan menyampaikan khotbah. Apa yang mama dan papa makan, anak harus bisa makan walau saat sedang sibuk saya hanya bisa menyiapkan 1 jenis makanan saja, yang penting sehat. Kamu ingat kamu tidak selalu akan dengan mama. Suatu kali dengan moto itu kamu akan easy goling. Sekarang mereka sudah besar dan jauh dari saya, benar sih mama. Mereka, jangan banyak ngomong dengan mama tidak bakal menang.  Memang tidak mudah menjadi seorang mama. Dalam bahasa Mandarin kata 妈 (ma) terdiri dari dua kata yaitu女 (nÇš, perempuan) dan马 (ma, kuda) sehingga kata mama punya konotasi seorang perempuan yang bekerja seperti kuda. Hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk sambung hidup.
c.   Semua boleh dilakukan, tetapi belum tentu bisa dilakukan karena semuanya harus memuliakan Tuhan. Makan itu hak saya. Tetapi kalau kita makan harus memuliakan Tuhan, jangan sampai mendewakan perut dan makan terus. “Makan sampai mati” adalah moto yang salah karena tubuh kita adalah bait Allah.
Untuk memuliakan Tuhan :
-   Harus bayar harga (waktu, uang dan perasaan). Seperti persembahan Maria saat diadakan perjamuan untuk Yesus, dia bukan saja meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu murni yang sangat mahal bahkan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Rambut adalah mahkota wanita. Wanita cantik karena ada rambutnya. Tatkala Maria mempersembahkan, yang mengkritik nya adalah murid Yesus sendiri yang menjadi bendahara (Yudas, yang kemudian menjual Tuhan Yesus) seperti tertulis pada Yoh 12:5, "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Tetapi Maria melihat Tuhan Yesus tidak melihat murid-muridNya. Dia menyeka Tuhan Yesus dengan rambutnya, mahkotanya.  Meskipun korban perasaan, tapi Maria rela. Sehingga Yesus berkata, “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Markus 14:9).
-   Melakukan yang baik. Tuhan mengorbankan diriNya untuk kita, apa yang kita korbankan untukNya? Kalau baik, jangan tolak, berbuatlah kebaikan. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa (Yak 4:17). Mungkin kita tidak melihat hasilnya saat ini, tapi apa yang ditaburkan tidak akan sia-sia. Kalau tahu baik, tidak dilakoni, kita berdosa kepada Tuhan. Tuhan Yesus telah menebus kita dan lunas dibayar, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan saat ini?

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari rumah ke rumah, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa sen saja, dan saat itu dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya, hanya untuk menutupi rasa laparnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya punya keberanian meminta segelas air untuk menghilangkan dahaganya. Ketika wanita muda tersebut melihat, dan ia berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah sangat lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, “Berapa uang yang harus saya bayar untuk segelas besar susu ini?” Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu membayar apapun.” “Orang tua kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk sebuah kebaikan, “Kata wanita itu menambahkan. Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku berterima kasih pada anda.” Belasan bahkan puluhan tahun kemudian, wanita muda ini sudah menjadi tua, ia mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota kecil dimana ia tinggal, sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tua tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui ruang rumah sakit, menuju kamar si wanita tua tersebut. Dengan jubah kedokterannya ia menemui si wanita tua itu. Ia langsung mengenali wanita tua itu dengan pasti pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya yang terbaik untuk menyelamatkan hidup wanita tua itu. Mulai hari itu, ia selalu memberikan perhatian khusus pada penanganan wanita tua itu. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya wanita tua ini disembuhkan. Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk minta persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien. Wanita tua itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut sekalipun ia harus mencicil seumur hidupnya. Akhirnya ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca sebuah tulisan yang berbunyi. “TELAH DIBAYAR LUNAS DENGAN SEGELAS BESAR SUSU.” TERTANDA, DR. HOWARD KELLY. Air mata kebahagiaan membanjiri mata wanita tua ini, ia ingat pada peristiwa beberapa tahun lalu. Ia kemudian berdoa, “Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia.” (http://sangpemulungkisah.blogspot.com/2012/10/segelas-susu.html)

Ev. Lili Suwandi (Wang Lie Lie), istri dari Pdt. Samuel Suwandi, melayani di Bandung dan sekarang sudah emeritus (selama 5 tahun). Dikaruniai 2 putri (di luar negeri) dan 1 putra (di Indonesia). Masuk ke Sekolah Alkitab Asia Tenggara (SAAT) angkatan 66 (angkatan terakhir yang menggunakan bahasa Mandarin) di bawah Pdt. Paulus Sung 2 tahun.