Tuesday, April 16, 2013

Mengubah Paradigma



Sharing Bagaimana Membuat Paradigma Baru dalam Gereja Saat ini
Pdt Benny Solihin
11 April 2013, Sidang Tahun Sinode GKKK

Perubahan Paradigma
2 Tim 4:2 Beritakanlah firman (Preach the word), siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

2 Tim 4:2 merupakan hal yang ditulis Rasul Paulus kepada Timotius saat Rasul Paulus sedang mengalami krisis :
1.       “Beritakanlah firman” ditulis Rasul Paulus dalam penjara saat ia sedang mengalami krisis dan akan meninggal. Kalau sampai ia meninggal dunia, siapa yang akan meneruskannya?
2.       Timotius orang yang minder dan merupakan anak rohani tokoh besar, yang dikelilingi orang-orang yang memiliki pengetahuan filsafat yang luar biasa.
3.       Injil
Walau sedang krisis, Rasul Paulus berkata kepada Timotius , “Preach the wod” (beritakanlah firman) yaitu firman yang didengar dari ibunya, neneknya dan Rasul Paulus. Rasul Paulus tidak bilang, “tetap peganglah ibadah” atau belajarlah filsafat sedikit. Ada beberapa hamba Tuhan saat ini yang mulai goyah dan mengikuti gaya motivasi dan mengutip kata-kata motivasi.

Kenapa Timotius harus mengorbankan firman Tuhan?
1.       Orang-orang benar akan tetap dalam kebenaran. Pasal 1:3-5 supaya anak-anak Tuhan tidak goyah.
2.       Firman Tuhan yang menyelamatkan jiwa manusia
3.       Firman Tuhan yang menguasakan / menguatkan.
4.       Masyarakat akan diubah oleh orang yang dilengkapi oleh firman Tuhan.
Pada ulang tahun SAAT ke-60 temanya Back to Bible (firman harus dijaga , jangan tertukar  / tereliminasi)
Khotbah harus firman Tuhan yang punya kuasa untuk mengubah orang.
Rasul Paulus yang sangat kaku (tidak bisa diubahkan), yang mengejutkan  lihat 1 Kor 9:19-23

19   Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.
20  Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
21  Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.
22  Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.
23  Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.

Rasul Paulus seolah-olah hidup dalam hukum Taurat supaya bisa memenangkan orang yang hidup dalam hukum Taurat. Dalam prinsip yang kaku “preach the word”, cara komunikasinya sangat fleksibel (bagi orang Yahudi, aku menjadi seperti orang Yahudi, bagi orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah). Secara bentuk kaku, kemasan fleksibel (sangat cair). Ini menimbulkan inspirasi dalam bergereja. Iman tidak bisa dijual, pemberitaannya sesuai dengan konteks masyarakat.

Keadaan gereja Injili dan protestan, pertumbuhannya stagnan bahkan menurun. Dalam pertumbuhan masyarakat yang naik, bila jumlah jemaat stagnan , maka berarti sebenarnya jemaatnya mengalami penurunan. Rata-rata gereja sedang struggle (untuk menahan saja). Kalau bisa menahan pemuda sebanyak 20 orang , maka persekutuan yang berbahagia. Sedangkan bila lebih dari 50 orang,  persekutuan tersebut langka. Jumlah anak-anak muda ke gereja menurun. Di sebuah gereja Medan, belasan tahun lalu jumlah pemudanya 700 orang. Hari ini jumlahnya merosot. Saat saya berada di sana lagi, kebaktian dipimpin oleh pemuda. Namun jumlah pemuda yang datang di KKR tersebut kurang dari 20 orang dengan jemaat 600 orang.  Jarang gereja protestan bisa membawa pemuda hadir dalam gereja. Kalau Sekolah Minggu dan remaja masih ok. Lalu di mana pemuda kita? 10 tahun terakhir terjadi keresahan. Bagaimana menahan pemuda untuk stay di gereja. Mereka ada di persimpangan, untuk itu harus ambil action. Harus dicari solusi dan hal itu harus dicari tahu dulu penyebabnya.

Kita bergeser dari zaman Modern ke Post Modern. Perubahan di Indonesia tidak sederas di Amerika. Kita ikut arus, ambil ikan secepat-cepatnya untuk beritakan Injil dengan cepat. Perubahan ini  membuat perubahan gaya hidup. Kalau pakai konsep berpikir 20 tahun yang lalu tidak cocok. Saya lulusan manajemen, sekarang tidak bisa ikut kalau masuk kuliah manajemen. Perubahannya cepat sekali. Gereja warisan zaman Belanda tidak cocok karena tidak menampung perubahan masyarakat. Kita harus berpikir ulang. Dengan pola pikir usia 30-40 tahun yang sudah berubah, apalagi anak muda yang akrab dengan era digital. Karena dilahirkan di bidang digital maka gelombangnya sama sehingga mudah mengikuti peralatan digital. Otak bekerjanya multi tasking, padahal dulu kita konsentrasinya 1 hal saja. Kalau ikut arus orang bicara, saya lupa apa yang sedang dibicarakan. Anak-anak kita bukan saja lebih canggih, otaknya multi tasking, tidak konsentrasi seperti kita. Dalam waktu bersamaan mengerjakan 5 pekerjaan. Orang seperti ini bosa di gereja yang hanya melihat pendeta saja, layar tidak bergerak, apalagi pendeta yang hanya membaca saja. Anak sekarang ingin melihat sesuatu yang bergerak, movable, 2-3 detik layar diganti. Ini mempengaruhi otak. TV Yang tidak ganti layar belakang adalah TVRI dan TV Malang. 5 menit sekali baru ganti. Saat ingin tenang saya putar saluran tersebut. Tenanglah Jiwaku. Mereka senang dalam jejaring khusus & sosialita. Bisa beri pendapat dan berinteraksi walau terkesan remeh. Pendapat apapun masukin ke facebook, lalu tekan like dan disklike. Bagaimana anak muda bangkit? Kalau buat acara ditujukan untuk anak muda , yang datang mungkin 700 orang namun setelah itu mereka kabur. Serahkanlah event kepada anak muda, jangan kita yang kelola. Kalau mereka diajak makan, mereka pilih fast food atau junk food. Kalau diajak pergi , tanya siapa saja yang diajak? Kalau orang tua, mereka tidak mau. Karena mereka terbiasa berpikir kritis dan ajukan pendapat. Mereka jadi orang yang pragmatis, kalau tidak bermanfaat tidak mau. Walau hal ini tidak benar, tapi perlu diantisipasi. Yang disenangi mau diikuti. Jiwa pragmatis sulit masuk ke gereja. Mereka jadi sensitive dengan klaim-klaim kebenaran. Jangan lagi khotbah menjelek-jelekkan orang atau pandang rendah aliran lain, karena tidak akan didengar. Belum turun dari mimbar, mereka tulis di status “garing dengn pendeta kritik orang terus”. Orang merasa kebenaran untuk kamu saja, jangan jelek-jelekkan orang. Harus dukung dan beri jawaban yang positif. Dulu saya juga susah untuk tahan diri tidak kritik begitu saja. Orang-orang seperti ini sulit dijangkau oleh gereja injili dan protestan. Kita tidak mampu jaring mereka. Kita tidak pahami jiwa mereka.
Usia 30-40 yang tidak dipahami. Untuk kalau mereka hanya pindah gereja. Jumlahnya semakin banyak. Seperti pyramid. Sekarang 67% merupakan usia 35 tahun ke bawah. Kalau masuk ke 40 tahun ke atas , kita kehilangan anak muda. 10 tahu lalu hilang, makin lama makin kosong. Anak muda ini yang akan jadi majelis. Tidak berarti abaikan orang tua, mereka adalah jemaat yang loyal. Dilawat saja mereka loyal. Harusnya jaring anak-anak 35 tahun ke bawah, kalau tidak akan habis.
Kita buat komisi anak-anak pre-school – SD6. Tunas remaja. Tiap paskah-natal, anggaran besar untuk anak-anak. Saat remaja hilang separuh, pemuda tinggal 10%. Ada yang kabar ke gereja lain, bila tidak memilukan hati. Ibarat berinvestasi, sudah investasi tidak balik modal.
Di pesawat saya bertemu dengan seorang pendeta muda GBI. Saat SD-SMA ia bergereja di GKKK sekarang jadi pendeta muda GBI. Secara Kalam Kudus rugi besar, tidak mampu tampung. Walau dari Kerajaan Allah bersyukur karena banyak yang tidak ke gereja lagi. Kita tidak bisa paksakan anak muda. Gereja lambat menangani hal ini dan masih konsen ke orang tua.
KKR PGTI 4 tahun lalu yang diikuti 9-10 sekolah Kristen, ada 4.000 orang yang datang. Ada ribuan yang terima Yesus. Tapi hanya sekali saja dilakukan. Kalau gereja fokus ke orang tua, akhirnya hilang anak muda.

Hasil survey di gereja. Dari sudut anak muda, gereja seperti apa? (berdasar interview dan baca buku) :
1.       Gereja menjadi tempat yang asing
Kalau ke gereja, tidak mengerti ngomong apa.  Saya kesulitan bahasa Inggris waktu belajar di Barat. Waktu dengar frustasi, tidak mengerti padahal di Malang saya mengerti. Anak muda yang tidak mengerti, benar-benar terasing, tersisih, sendiri. Liturgos masuk, votum dan salam mungkin juga asing. Saat lagu dinyanyikan, lagunya asing. Kalau di gereja Korea, tidak bisa nyanyi. Bahasa Afrika dan suku tidak dimengerti. Lulusan SAAT nyanyinya PujiHu. Hu bahasa apa? Apa artinya?  Juga kata “mukhalisku”. Lagu-lagu dari abad 16-17-18. Bahasa sekarang lebih hidup, cara ungkapkan nya beda. Anak-anak kita diminta nyanyi dengan lagu yang lalu yang tidak mereka kenal. Gereja jadi tempat asing. Ketika anak-anak remaja (SMP2, SD6) 4 tahun di Amerika. Mereka berubah, orang tua tidak berubah. Paradigma kita juga perlu berubah. Yang sulit waktu di mobil. Saya mengambil CD putar lagu Praise The Lord. Anak saya ganti dengan lagu rock. Saya bilang, “Ini lagu papa.” Dijawab anak saya,”Kan mobilnya sama-sama”. Lain kali dia putar lagu duluan. Akhirnya ditentukan yang duluan yang putar lagu. Lama-lama saya pikir, kenapa bapa tidak turun ke anak saja? Untuk orang yang hampir mati tenggelam, penjaga pantai tidak bisa berteriak tunggu-tunggu, tapi harus langsung terjun. Anak saya mau ke gereja tidakmandi, pakai sandal jepit, celana pendek. Saya bilang pakai sepatu kalau tidak, tidak ke gereja. Ternyata di gereja, pendetanya pakaiannya santai (pakai kaos oblong). Anak saya bilang, “Jangan nilai orang dari yang dipakai.” Anak saya ingin ditato dan di-piercing (dibolongin telinganya). Saya bilang tidak boleh, nanti kalau sudah umurnya 17 baru boleh. Saat usianya sudah 17 tahun, dia tanya boleh tidak? Saya bilang prinsipnya tidak boleh. Lalu dia pergi dan 10 jam kemudian dia sudah pakai anting. Saya bilang cakep juga. Dia bilang, jangan lihat orang dari anting. Lalu dia tato. Kalau kita lihat remaja, pakai kacamata remaja. Kita bergumul. Demi mereka ke gereja, banyak hal kita stretching etiket kita. Merka tidak kurang ajar amat. Itu gaya mereka. Mereka datang ke tempat yang liturgy dan lagunya asing. Khotbahnya juga asing. Saya bilang, untuk menyampaikan khotbah pikirkan sedalam-dalamnya sampaikan sesimpel-simpelnya. Jangan suruh orang awam naik ke bahasa kita. Ada 4.000 kata asing saat belajar teologia. Untuk berkhotbah perlu berbahasa yang sama dengan audience. Bagi  orang lemah, seolah-olah aku orang lemah. Khotbah ke remaja, bahasa gaul seperti alay (bahasa gaul) agar saya efektif berbicara ke pemuda remaja. Harus pahami mereka, kalau kaku, pakai bahasa asing, dilihat sebagai orang asing, dan mereka tidak tahan. Perasaan asing membuat tidak betah dan tidak mau kembali. Buat mereka tidak asing. Apakah buat kebaktian pemuda? Belum tentu dinikmati karena dianggap second class karena itu tidak terisi penuh. Buatlah kebaktian umum berjiwa muda, baru mereka datang. Disain kebaktian kontemporer. Kita punya kebaktian pagi-sore lalu buat disain kontemporer walau yang masuk orang tua. Mungkin 10% yang datang adalah orang tua. Disain kontemporer dengan gaya anak muda. Bila yang datang 300 mungkin 60 orang tua yang mau kemuda-mudaan. Banyak orang tua yang suka kontemporer. Buat anak muda kelola kebaktian. Dari awal sampai penutup serahkan mereka. Di Makasar ada gereja Bethany. Saat masuk disambut oleh pemuda pakai jeans & kaos. Yang dipilih yang cantik dan ganteng. Kalau protestan yang jadi penyambut 60 tahun ke atas (collagen sudah kurang). Padahal di mal-mal, istri saya dipanggil “bunda”. Istri saya bilang, “kapan saya lahirkan dia?” Beri anak muda kepercayaan. Kenapa majelis dipaksa jadi liturgos? Pilih orang yang sesuai talenta.  Di gereja kapasitas 3.500 orang, tanpa singer, choir tidak akan penuh. Pilih yang bertalenta memimpin pujian , yang bisa membawa suasana. Cukup 2 orang WL (worship leader) yang dekat Tuhan daripada majelis yang jadi liturgos tidak bisa membedakan nada C & D. Di Kharismatik, WL dibayar sama besar dengan pendeta. Sekali tampil dibayar Rp 1,5 juta. Sehingga ada yang bajak membajak WL. Anak muda ingin WL yang dekat di hati. Sound system penting. Ada gereja yang bilang, kita pakai mike Rp 75 juta. Mau ditukar dengan yang dari Jerman Rp 8 miliar! Mana ada gereja Injil yang mau  pikirkan yang demikian. Yang penting bisa bunyi. Kita tidak punya pikiran beri yang terbaik untuk Tuhan. Kebaktian pakai LCD, sering operate nya terlambat. Ada yang belum pindah-pindah slidenya padahal lagu sudah ganti liriknya. Itu tidak terjadi di gereja-gereja kharismatik. Di Surabaya, ada gereja kurang lebih 15.000 jemaat. Kalau sampai hal itu terjadi, petugasnya dimarahi agar jangan sampai terjadi. Di kita , tidak apa-apa. Anak muda punya jiwa sempurna. Waktu saya mau khotbah, dikasih run-down. Di kebaktian ada event organizer, yang bukan hamba Tuhan (sekarang ada hamba Tuhan yang jadi event organizer). Kalau perlu bayar. SAAT sedang mencari event organizer. Dia bertugas menyiapkan liturgy, orang-orangnya disiapkan. Di GKI sudah ada e.o. Sekarang kebaktian harus ada e.o. baru kebaktian tanpa gangguan. Bila mike bunyi, dievaluasi. Jangan sampai terjadi lagi. Kalau tidak ada, beli. Jadi perlu berpikir terus, jangan zona nyaman terus.
Saat kolekte jangan lama-lama. Bila banyak pengunjungnya, kolektannya diperbanyak. Kalau firman Tuhan panjang, dinanti-nanti orang, kalau kolekte lama untuk apa?
Perjamuan kudus. Puji Tuhan, sekarang roti & anggur digabung. Tidak ditentukan roti dulu baru anggur. Itu mempercepat. Hikmat harus dipertahankan.
Saat baca pengumuman, untuk warta komisi tidak dibaca. Hanya untuk yang umum saja diwartakan. Karena kalau ada 12 komisi , tiap komisi 1 menit maka perlu 12 menit. Selebihnya baca di warta. Kalau pengumuman 7-10 menit setelah khotbah, yang diingat pengumuman, khotbahnya lupa.
Penutup. Khotbah ditutup dengan perasaan yang gloomy (guilty feeling/ mellow) seharusnya pulang dengan celebration. Maka music harus mendukung (di Karismatik ditanya siapa yang dapat berkat?). Kalau Injili : setelah khotbah , mari kita beri persembahan. Orang pulang setelah berkat. Yang percaya katakana Amin, nyanyi dengna pujian. Buatlah orang pulang dengan positif.

2.       Gereja tempat yang membosankan.  Otak terlatih melihat yang banyak. Di gereja layar tidak bererak, tidak ada singer. Hanya ada liturgos / pendeta Mata yang biasa bergerak melihat hanya 1 titik. Saat khotbah jangan ragu bergerak sedikit. Ini membuat tidak jemaat tidak mengantuk. Kalau tidak bergerak, mata yang terbiasa melihat yang bergerak jadi mengantuk. Gunakan power point, kasih anak muda yang buat. Gunakan potensi anak muda, sehingga khotbah sangat canggih (audio visual). WL dengan singer, serahkan ke anak-anak yang partisipasi.
Penyanyi koor pakai uniform? Sekarang jenuh memandang. Belang-belang tapi indah. Seragam jadi jenuh. Yang penting perubahan paradigma.
Hamba Tuhan berpikir terus.  Semalam kami membawa 50an nasi bungkus untuk tukang-tukang beca dan gelandangan. Ada tukang beca yang parkir dekat tong sampah. Bagaimana bisa laku? Paradigma tidak berubah-ubah, kalau dia berpikir maka pelanggannya lebih banyak. Terus berpikir, jangan diam / status quo. Setahun lalu SAAT pindah, ada yang tanya mau jadi apa? Bukan mewah atau megah, makannya tetap Rp 4.000 / sekali makan , siswa tetap dididik dengan disiplin. Kalau pindah ke tempat baru masih pakai kayu, maka 5 tahun sekali ganti. Ayo berubah.



Lagu Pujian
Gereja Injili / protestan lebih kaya karena bisa menggabung lagu hymne dan kontemporer. Lagu kontemporer bahkan ada yang sebagian diciptakan oleh jemaat dari gereja Injili / protestan.  Contoh pencipta lagu kontemporer dari gereja injili : Jonatan Prawira, Jeffry S Tjandra, VG Yerikho yang berasal dari GKI Samanhudi. Awalnya lagu mereka ditentang oleh majelis sehingga mereka terpencar. Yang penting nyanyikan yang bagus. Lagu hymne bila tidak bagus dinyanyikannya untuk apa?

Khotbah
Gereja injili / protestan lebih kaya. Misal : Matius 6:24 khotbah tentang rasa khawatir. Kalau karismatik, ujung-ujungnya “mammon”. Khotbah ekspository merupakan filosofi berkhotbah yang kemudian bisa disampaikan secara deduktif, induktif, narasi & tekstual. Misal : khotbah ekspositori dengan perikop tekstual dll. Semuanya bersumber dari Alkitab. Kalau diluar Alkitab berarti khotbah pendapat sendiri.
Sekarang ini banyak yang menggunakan cerita. Bahkan dari binatang seperti tikus, beruang digunakan dalam cerita. Cerita bukan alat tapi dapat dipakai untuk membawa kebenaran. Tuhan Yesus sendiri memakai perumpamaan.
Sekarang zaman pragmatis. Hamba Tuhan juga harus menunjukkan kesaksian hidup. Bukan yang sukses saja, tapi juga kegagalan juga disaksikan (bagaimana ditegur).
Pada zaman postmodern, dibutuhkan teladan / bukan teori saja.
Dulu kalau khotbah 7 sesi tanpa cerita hidup kita, yang mendengar tidak bosan, sekarang 2 sesi saja bosan, apalagi yang dengar anak muda.
Terjemahan mandarin. Survei memperlihatkan gereja yang menggunakan bahasa yang diterjemahkan , tidak maju Mendengar 2 bahasa ada time lag (menunggu). Kalau ada bahasa Mandarin, jangan di waktu utama yakni pk 8-9, tetapi pk 6/7 masih ok. Karena ortu yang senang bangun pagi. Kalau ada yang penuh, karena tidak punya alternative lain. Kebaktian prime-time jangan diterjemahkan. Untuk kebaktian yang diterjemahkan, maka penterjemah harus mengikuti irama yang membawakan khotbah (yang diterjemahkan). Demikian juga untuk penterjemah liturgos. Sekarang disebut WL bukan MC. WL tidak boleh banyak komentar, kalau banyak komentar itu pemimpin pujian / dirigen. Sekarang jangan diperintah-perintah (orang sekarang tidak merasa nyaman). WL kasih contoh (jangan atur orang). Saat WL mengatakan,”Mari kita sembah”, dia ikut menyembah. Kebanyakan WL kita komentar, misal : tadi fals di bagian ini. Seharusnya komentar seperti itu merupakan bagian dari belajar lagu bukan kebaktian.
Doa juga tidak langsung. Seharusnya tidak perlu kata-kata, langsung masuk , diiringin music langsung masuk.

Liturgi yang harus ada  (tidak boleh diubah) di GKKK adalah votum, salam, khotbah, pengakuan iman rasuli, doxology dan doa berkat.
Kebaktian kering karena terpotong. Votum-salam, pengakuan iman rasuli lalu pujian terus, sehingga waktu ujian tanpa banyak komentar. Lalu khotbah (jangan tersekat). Untuk kebaktian Mandarin, dapat diajari dulu lagu kontemporer 15 menit sebelumnya. Kebaktian yang ada dipertahankan, yang prime-time yang kontemporer. Yang Old-style pk 6. Hamba Tuhan tidak semuanya menonjol di khotbah. Untuk hamba Tuhan yang menonjol bisa diminta untuk khotbah 1 bulan 2 kali atau seminggu sekali. Yang kurang lebih jarang diminta khotbah misal : 1 bulan sekali dengan harapan persiapan lebih panjang.

Persekutuan Doa
Ibadah dan Persekutuan Doa merupakan kebaktian utama (makanan). Kalau pokok doa mendoakan program kerja, orang tidak datang. Orang datang karena ada kebutuhan. Sehingga pokok doa seperti program kerja diletakkan di akhir. Karena bila tidak seperti abuse jemaat untuk doakan gereja. Format doa : pujian ½ jam dengan WL, singer dan music yang baik baru firman ½ jam dan doa ½ jam.
Biarkan mereka nangis sendiri. Jangan putar-putar doakan program gereja.
Tidak salah bila ada doa (kebaktian) penyembuhan.
Misal  ditanya : Siapa yang ingin didoakan, angkat tangan. Tuhan akan menyembuhkan anda.
Yang perlu berlutut, disediakan bantal. Berikan ruang untuk Allah bekerja. Lalu setelah disembuhkan minggu depan beri kesaksian. Bisa juga yang mau didoakan berdiri di depan, lalu didoakan bersama-sama oleh para hamba Tuhannya.
Doa jangan kering.

Sekolah
Sekolah lebih kontemporer dibanding gereja. Untuk gereja doakan untuk bangku-bangku kosong. Jangan membuat gereja menjadi asing sehingga sulit menangkap anak muda.
Namun demikian : budaya pakai sandal ke gereja di Amerika tidak perlu dicontoh. Hanya kita maklumi budaya anak muda. Kita tetap harus sopan, tapi bukan berarti harus berjas. Biarlah paradigm diperluas (jiwa memaklumi lebih besar), misal : gereja dengan jins.

Lagu
Musik identitas lagu. Jangan ubah kebaktian yang dicintai jemaat. Riset lagu apa yang cocok dengan mereka. Yang penting content nya firman Tuhan. Anak muda ada yang suka dengan Pdt Stephen Tong, namunada yang tidak suka yang perlu diwadahi. Warna gereja Injili adalah beritakan Injil. Yang ditahan bukan tradisi, karena akan selalu berubah. Yang tidak berubah adalah “preach the word”. Khotbah yang terlalu panjang, Tuhan jadi masa lalu, Tuhan tidak eksis. Aplikasinya menghadirkan Tuhan masa sekarang.
Kalau lagu kontemporer, Tuhan hadir dalam hidup sekarang.
Anak sekolah sedikit yang masuk ke GKKK , tetapi banyak yang karismatik.

Gereja kontemporer
Ada di hotel / mal, ini langkah cerdik terhadap respon. Kita kalau pakai pola lama, mulai dari pos, lalu kirim penginjil. Dari 10-20 jemaat. Penginjil yang keluar ganti yang baru terus begitu sampai 20 tahun, baru jadi gereja dengan anggota 120 orang.
Orang kontemporer tidak mulai dengan ruko / pos. Langsung dirikan gereja. Hari ini orang tidak mau datang ke pos tapi ke gereja. Pos PI harus dinamakan gereja bukan Pos PI.
Kelemahan pakai sekolah untuk gereja : kalau yang diundang orang yang menengah ke atas untuk datang ke aula sekolah, sekali datang kemudian tidak datang lagi. Apalagi kalau ke tolit SD.
Sedangkan kalau di mal , banyak yang belajar bahasa Inggris dan lain-lain (banyak yang senang ke mal).
Jangan lagi beli ruko, itu seakan-akan tempat restoran coba-coba. Sekarang masuklah ke mal seperti CP.
Untuk khotbah kirim WL dan pengkhotbah yang terbaik. Saat launching berikan yang terbaik supaya datang kembali.
Jangan ragu mentahbiskan penginjil jadi pendeta. Yang cukup baik, dorong jadi pendeta.
“Kurikulum” harus terus diganti, tapi visi dan misi tetap.
Dukung guru punya ipad. Buat jemaat bangga jadi bagian dari Kalam Kudus.

Sunday, April 14, 2013

Keluarlah dari Zona Nyaman

(Khotbah pada sesi pembinaan Sidang Tahunan GKKK dan Rakernas YKKI, 11 April 2013)
Tidak diedit oleh pembicara

Pdt Benny Solihin

Kel 3:10 “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."

Comfort zone adalah wilayah di mana kita merasa nyaman, tidak ada rasa takut, gelisah dan unsur dadakan. Semua sesuai dengan planning. Saat datang menghadiri sidang tahunan / rakernas, kita tidak merasa nyaman karena kita tidur bersama dengan orang lain.  Walau kita sama-sama tidur dengan bersuara keras (ngorok), tapi ada yang tidak bisa menerima teman sekamar yang juga ngorok. Saat pindah pelayanan, kita pun merasa tidak nyaman. Allah melalui Musa memanggil umat Israel keluar Mesir. Tuhan mengguncang zona nyaman Musa. Firaun tahu saat Musa membunuh orang Mesir, sehingga Musa mengembara ke Midian terlunta-lunta. Dia meninggalkan zona nyaman di istana. Lalu ada Yitro yang menampung dan bahkan memberi anaknya sebagai istri. Setelah 40 tahun di Midian, Musa sudah tidak berpikir lagi sebagai pahlawan Israel. Dia mimpi habiskan hari tua sebagai pengembala. Tiap hari merawat, memberi minum domba, mengawinkan domba. Lalu dombanya beranak cucu. Sebuah hari pensiun yang nyaman. Sampai kemudian Allah mengutus Musa untuk pergi menghadap Firaun, sehingga Musa tidak merasa nyaman lagi. Dia merasa tidak nyaman karena diutus bertemu dengan tokoh Firaun yang tidak ingin ditemui. Dia merasa tidak nyaman karena ingin saat pensiun ia berada bersama dengan istrinya. Dia kemudian berontak. Perintah Tuhan membuatnya tidak nyaman dengan berkata,”Siapakah aku ini yang harus menghadap Firaun?”, “Siapa yang mengutus aku?” , “Bagaimana kalau mereka tidak percaya?” , “Ah Tuhan, saya tidak pandai bicara.” Musa pintar debat dengan Tuhan. Terakhir dia berkata,”Utus yang lain saja.” Dia tidak rela tinggalkan zona nyaman. Dia susah meninggalkan kenyamanannya. Zona nyaman bahaya buat kita. Zona nyaman membuat kita tidak peka terhadap kehendak Tuhan.

Musa tidak peka dan tidak mau pikir. Apa maksud Tuhan memberi waktu 40 tahun sebagai pangeran dan memberi pengetahuan yang banyak di Mesir. Dia sudah merasa nyaman sebagai peternak. Itu membuat kita tidak peka terhadap maksud Tuhan. Seharusnya kita menyadari bahwa kita ada untuk kemuliaan Tuhan. Hidup kita bukan tentang kita tapi tentang sejarah dan karya Tuhan. Karena Dialah diciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu diciptakan untuk Dia dan oleh Dia. Kadang zona nyaman menghilangkan kepekaan terhadap kehendak Tuhan. Paradigma kita juga bisa  menjadi zona nyaman. Walau sudah pensiun, tetap tidak mau tinggalkan tempat pelayanan dan membiarkan orang lain menggantikan. Zona nyaman membuat tidak peka, padahal hidup kita adalah instrument dari kemuliaan Allah (glory of God). Dalam bukunya “Rethinking of Church” Jerry White menulis tentang bagaimana mengkombinasikan lagu hymne dengan lagu Kristen kontemporer. Ada seorang ibu tua datang kepadanya setelah ia selesai khotbah dan bertanya,”Maksudmu, kita ubah lagu hymne jadi kontemporer?” Jerry White terdiam. Nenek tua itu kemudian melanjutkan, “Saya punya lagu hymne favorit. Mulai hari ini jangan peduli lagu-lagu favorit saya. Demi anak-anak muda lakukanlah perubahan itu.” Nenek tua itu keluar dari zona nyaman demi anak-anak muda. Lagu-lagu “Precious Lord”, “PujiHu”, “Kasih Allah Sangat Besar” itu laguku. Tapi demi anak muda kita keluar dari zona nyaman untuk masuk ke dalam lagu yang ritme dan liriknya mungkin tidak enak. Suatu kali saat saya diundang khotbah, kebaktian dipimpin oleh seorang MC yang masih muda yang menyanyikan lagunya dengan tidak enak. Saya bertanya kepada ibu pendeta tentang lagunya. Sang ibu pendeta juga menjawab lagunya tidak enak. Tapi demi anak-anak muda, saya dan ibu pendeta tepuk tangan. Karena begitu diam, mereka merasa kita sebagai orang asing. Saya goyang ikut anak-anak muda itu karena tidak ingin dianggap orang asing demi bisa diterima.

Kita tidak diciptakan untuk music atau lagu yang kita sukai tapi untuk jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan. Saya pura-pura lucu, bukan untuk diriku, tetapi agar anak muda simpati pada pengkhotbah agar bisa diterima. Aku taruh jiwaku di sana dan minta Tuhan berkati. Sewaktu PGTI adakan KKR yang diikuti oleh 9-10 sekolah Kristen dengan jumlah yang hadir 4.000 orang, hati saya sedih. Ada 2 orang yang kurang yaitu anak-anakku yang terhilang. Saya berdoa,”Tuhan hari ini saya mengabarkan Injil Yesus tapi tolong selamatkan anakku , agar mereka ke gereja. Yang penting mereka ke gereja. Yang aku peduli menangkan jiwa anak-anaku. Aku dan istriku tidak sanggup lagi. Aku mohon ada orang yang menginjili mereka.” Itu tangisan airmataku. Tetap kurang 2 orang, anakku. Asal Kristus jamah mereka, itu cukup. Saat ingin memenangkan jiwa, kita ingin tetap pertahankan liturgy, untuk apa? Anak sulung saya kemudian telepon dan berkata,”Mama saya tidak lulus…” Istri saya berkata,”Yang penting bukan angka, tetapi yang penting engkau terima Yesus!” Anak saya berkata,”Bagaimana terima Kristus?” Istri saya membimbingnya untuk berlutut dan menerima Kristus.  Ada orang tua yang menjerit, anaknya tenggelam dalam dosa. Kita tahu susahnya hidup di zaman ini. Kalau dulu mau nonton video porno, kita harus memiliki pemutar VHS yang besar bentuknya dan saat sewa video kita merasa malu. Kalau sekarang masuk kamar lalu tinggal klik muncul gambar porno. Mereka terjepit kanan kiri. Tolonglah anak-anak kita. Janganlah kita hidup dalam zona nyaman kita! Berapa banyak anak majelis yang tidak bergereja di gereja ibu – bapaknya? Bila tidak bisa mengikuti liturgi gereja, mereka keluar. Mereka muda dan tidak berdaya. Kita punya aturan, kalau tidak bisa ikuti, mereka pergi ke gereja lain. Rangkullah anak. Kamu mau apa nak? Mereka maunya untuk dikasih sedikit kebebasan dalam aturan gereja. Keluarlah dari zona nyaman. Bahaya zona nyaman adalah  tidak melihat kehendak Tuhan.

Zona nyaman tidak membuat kita peka akan kebutuhan orang lain. Kita tahu cara mencapai kebutuhan kita. Kita asyik dengan rutinitas sehingga tidak peka lagi dengan kebutuhan orang lain. Musa 40 tahun jadi gembala, saya yakin ia masih melakukan family altar, berdoa, menyanyi dll, tapi pada saat yang sama umat Allah mengerang dan menjerit. Dalam zona nyamannya, ia tidak bisa lagi mampu melihat kebutuhan sesama. Allah melihat bangsa Israel menderita, mengeluarkan air mata, tetapi Musa tidak peduli. Ia hidup 40 tahun tidak mau mendengar penderitaan umat Israel. Tuhan Yesus rela dibongkar habis-habisan zona nyamannya. Ia turun jadi manusia, lahir di kandang yang hina, 3 kali ia berdoa yang sama tentang cawan pahit yang harus diminumnya, dianiaya, disiksa, mati dengan mengerikan. Namun setelah mati, hasilkan buah yang tidak terhingga. Ketika kita keluar dari zona nyaman, kita serahkan ke Tuhan dengan air mata maka berbuah luar biasa. Tidak ada nama yang lebih tinggi dari nama Yesus Kristus. Kita ditantang untuk meninggalkan zona nyaman. Bongkar aku Tuhan. Seorang dosen dari universitas Yale dan Harvard di bidang pendidikan teologi lalu melepaskan semuanya, hidup di panti asuhan. Hidup dengan orang-orang cacat. Berteman dengan orang epilepsy , orang yang tidak jelas omongannya dll. Ia belajar bagaimana Yesus melayani manusia. Kalau aku diberi harta lebih dari orang lain, itu untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk zona nyaman. Kalau dipindah ke tempat lain, kenapa takut kalau untuk kemuliaan Tuhan? Pdt Buby Ticoalu & Ibu Corry melayani dan merawat anak kecil yang suaranya bising , apalagi baginya di hari tua. Pdt Buby keluar dari zona nyamannya setelah pensiun . Hayo kita kembali peka. Dulu waktu muda semangat pelayanan. Sekarang setelah nyaman jadi gembala sudah tidak semangat seperti dulu lagi. Tuhan tidak melihat rupa tapi hati kita. Jangan-jangan kita tidak punya hati hamba tapi hati tuan yang nyaman untuk siapkan pensiun kita. Juga untuk guru dan kepala sekolah. Hidup kita untuk Tuhan, jangan pernah cari nyaman. Nikmati hidup dengan Tuhan, untuk kembali bersama Tuhan. Saat menerima anggur dan roti pada perjamuan kudus, ingatlah Yesus telah meninggalkan zona nyamanNya dan Dia menjadi berkat bagiku dan bagimu. Didiklah aku supaya aku mau seperti Yesus dan Musa. Setelah Musa bilang ok, hidupnya luar biasa. Tuhan ini umatmu, sayangi mereka. Tuhan ini umatMu, sayangi mereka , yang penting bukan aku tapi jiwa-jiwa ini.

Giatlah Selalu Dalam Pekerjaan Tuhan

Pdt Heri Kwok

1 Kor 15:58
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Suatu kali saya pergi ke Yogyakarta, melihat Keraton Yogya dan bertemu abdi dalam (orang yang melayani di keraton). Bapak tersebut berusia 60-an dan sudah melayani keraton sekitar 40 tahun. Walau sudah bekerja  40 tahun gajinya tidak lebih dari UMR. Sebuah angka yang tidak masuk diakal , sangat minim untuk orang yang bekerja 40 tahun. Namun dia berkata, gaji tersebut mencukupi hidup keluarganya. Bagi abdi dalam bekerja di keraton merupakan kebanggaan dan kemuliaan untuk melayani Sultan.  Saya cukup terperangah, karena ia bangga melayani sultan selama 40 tahun. Meskipun gaji secara ukuran manusia tidak layak, tetapi ia merasa bangga dan mulia. Kebanggaan dan kemuliaan kepada Sultan membuat saya berpikir pada tulisan Rasul Paulus pada 1 Korintus 15:58. Ayat 58 merupakan ayat penutup tentang perikop kebangkitan kepada jemaat.

Ada 3 penekanan pada kebangkitan.
1.       Kebangkitan Kristus (ayat 1-11). Rasul Paulus menyampaikan bahwa karena Kristus bangkit maka iman kita ada dasarnya. Pada ayat 2 dikatakan kamu diselamatkan asal kamu berpegang teguh pada Injil. Kebangkitan Yesus bukan mitos tetapi fakta karena Dia menyatakan diri kepada orang-orang.
2.       Kebangkitan kita sebagai orang percaya (ayat 12-24). Bagi Rasul Paulus kematian dan kebangkitan Yesus merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan yang menyatakan kemuliaan TUhan Yesus sendiri. Dasar iman kita adalah Yesus yang mati dan Yesus yang bangkit sesuai dengan Kitab Suci. Jika Kristus mati tapi tidak dibangkitkan, maka kematian mengalahkanNya. Tetapi tidak mungkin ada kebangkitan bila tidak ada kematian terlebih dahulu. Oleh sebab itu, kematian dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan dan menjadi dasar bagi iman orang percaya. Itu sebabnya bila ada orang yang meragukan , itu yang membuat Rasul Paulus bingung. Karena kalau Kristus tidak bangkit, semua yang menaruh percaya menjadi sia-sia. Sia-sia karena iman menaruh kepercayaan pada Dia yang dijanjikan bangkit tetapi tidak bangkit. Rasul Paulus mengatakan bahwa bila Dia tidak bangkit maka sebagai pemberita Injil ia berbohong. Kriteria menjadi rasul adalah menyaksikan keberadaan Yesus. Rasul Paulus berkata bahwa kalau saya sebagai saksi yang melihat Yesus bangkit tapi tidak memberitakannya, saya akan jadi pembohong besar.  Bagi rasul ini perkara penting, pemberitaan bukan perkataan manusia tapi firman Tuhan. Itu sebabnya jika pemberitaan berdasarkan perkataan orang dan saya pembohong, tidak mungkin membawa pembaharuan. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka semua orang terdahulu yang sudah mati yang menaruh pengharapan kepadaNya, akan sia-sia. Kalau kita punya keyakinan pada Kristus yang bangkit tapi tidak bangkit, maka kita menjadi orang yang paling malang di dunia. Paling malang dibanding dengan orang dunia yang hidup dengan sembrono dan menikmati dunia kalau orang percaya setelah mati tidak mendapatkan surga. Itu sebabnya kalau kita menaruh harapan pada Kristus yang tidak bangkit, maka kita paling malang dari semuanya. Itu sebabnya pada ayat 20 tertulis,” Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang lain.” Puji Tuhan itulah berita yang menjadi dasar dari iman : Kristus sudah bangkit!
3.       Kebangkitan tubuh. Sekarang Rasul Paulus berbicara tentang bagaimana orang percaya hidup di dunia lalu masuk ke dalam kekekalan. Orang yang mati dalam Kristus , ia akan bersama dengan Allah. Di dalam kebersamaan dengan Allah mengubah tubuh kita yang fana menjadi tubuh kebangkitan.  Jadi tubuh yang hina , hancur karena kematian sekarang bangkit dengan tubuh kemuliaan yang Allah berikan.  Rasul Paulus waktu menulis ini, ingin mengatakan kepada orang yang punya filsafat tentang manusia yang telah mati. Filsafat manusia : setelah manusia mati, maka berhentilah keberadaan dirinya. Maka tinggallah rohnya yang kembali pada penciptanya. Itu sebabnya dalam filsafat Yunani tubuh dianggap jahat karena memenjarakan yang rohani dan setelah mati yang rohani kembali kepada penciptanya. Bagi Rasul Paulus , konsep kristiani tidak seperti ini. Waktu mati kita akan mengenakan tubuh yang Allah berikan. Kita tidak akan melayang-layang seperti roh yang gentayangan. Karena tubuh kebangkitan seperti Kristus yang dinyatakan dalam diri orang percaya adalah tubuh kemuliaan. Waktu Rasul Paulus berbicara akan berjumpa dengan Allah, maka kita akan menikmati yang luar biasa itu.

Bagi Rasul Paulus kemuliaan tidak bisa dibandingkan dengan apapun di muka bumi. Bagi rasul Paulus, ia hanya bisa membalas cinta Tuhan dengan hidup yang melayani. Itu sebabkan dalam ayat 59 dikatakan “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Bagi Rasul Paulus, karya Kristus yang mati dan dibangkitkan dengan tujuan untuk orang yang ditebus. Memang tujuan Kristus yang utama, memberikan pendamaian kepada Allah melalui penghapusan dosa kita. Tetapi bukan sampai di sana lalu berhenti setelah jadi orang-orang yang diselamatkan. Pemahaman ini penting, setelah kita diselamatkan lalu tidak tahu selanjutnya, maka kita tidak mengerti keselamatan yang sejati. Bagaimana Yesus mati dengan mengerikan,lalu bangkit  mempunyai arti bagi orang percaya. Dia ingin orang tebusan menyatakan diri dalam hidupnya sebelum dipanggil dalam pelayanan. Ada banyak orang Kristen setelah dibaptis, hidup hanya di sana. Yang penting, setiap minggu di gereja, memberikan persembahan, perpuluhan, lalu selesai. Hal tersebut tidak salah, tetapi belum cukup untuk mengerti kekristenan. Orang yang diselamatkan harus menyatakan kemuliaan Tuhan dengan melayani Tuhan sebagai respon yang tepat. Kalau orang dunia seperti abdi dalam bisa melihat hal yang fana dia mau melayani Sultan dengan luar biasa. Bagi Rasul Paulus kebangkitan merupakan kemuliaan yang luar biasa sehingga kita melayani dia dengan sungguh-sungguh. Waktu kita percaya pada Kristus, itu karya Dia melalui Roh Kudus. Kita tidak bisa percaya kepada Dia kalau tidak melalui Roh Kudus. Saya lahir baru setelah sekolah di fakultas hukum. Saya mengalami lahir baru sewaktu dicelikkan saya membutuhkan Kristus dalam hidup saya. Setelah tahu diselamatkan, apa tindakan saya? Apa respon saya, setelah tahu Dia mati buat saya? Apakah kita hidup seperti biasa-biasa saja? Rutin  bangun tidur, aktivitias, tidur lagi, minggu ke gereja seperti biasa? Kalau itu yang kita miliki, karya Kristus sangat kasihan sekali. Bagi Rasul Paulus, untuk kemuliaan yang akan diterima kelak ia harus meresponi dengan melayaninya seumur hidupnya. Di gereja, waktu masuk periode pencarian majelis, alasan yang diberikan jemaat banyak sekali. Saat disampaikan, “Bapak, nama bapak tercantum dalam daftar pilihan , apakah bapak bersedia melayani di gereja?” Dijawab,”Terima kasih Pak Pendeta, nama saya telah dipikirkan jemaat namun saya tidak bisa.” “Kenapa tidak bisa?” tanya saya. Lalu dibilang, “Pekerjaan banyak di kantor , pulang malam sehingga takut tidak bisa melayani Tuhan.” Ada lagi seorang ibu yang namanya terpilih berkata, “Saya tidak bisa melayani Tuhan karena sehari-hari melayani suami dan anak-anak sudah sibuk sehingga tidak bisa melayani Tuhan.” Saya jadi pikir, apa suami dan anak buat dia pusing sehingga tidak bisa melayani? Suatu kali seorang hamba Tuhan menawarkan jemaatnya untuk ambil bagian dalam pelayanan. Jemaat tersebut benar-benar masih energik dan mempunyai kemampuan yang luar biasa sehingga ditawarkan pelayanan. Waktu itu dia jawab, “Saya sibuk, banyak urusan saya sehingga saya tidak bisa melayani.” Hamba Tuhan tersebut bercerita jemaat tersebut kemudian terkena stroke dan  waktu dia sakit berdoa kepada Tuhan, “Kalau Tuhan sembuhkan ,saya mau melayani Tuhan.” Saya teringat kisah orang yang terombang-ambing di dalam gelombang laut berdoa, kalau diselamatkan mau memberikan kerbau. Setelah perahu sudah mau sampai daratan, “Tuhan saya akan memberikan kambing.” Begitu selamat, ayam saja yang saya berikan. Lalu ayamnya ternyata juga lupa dikasih kepada Tuhan. Kenapa? Karena sudah selamat. Sang jemaat tadi berdoa, “Tuhan kalau sudah sembuh, saya akan melayani.” Puji Tuhan, Tuhan kasih sehat. Tapi strokenya membuat dia berada di kursi roda. Lalu ia bilang, “Pak saya ingin melayani Tuhan.” Sekarang yang bingung pendetanya. Bingung karena mau kasih pelayanan apa? Waktu anda sehat, saya akan kasih pelayanan banyak, sekarang di kursi roda bingung mau kasih apa. Sebagai hamba Tuhan, ia berkata, “Bapak ikut ambil bagian dalam mendoakan. Doa itu bukan sesuatu yang remeh, setelah sakit baru berdoa. Jika punya konsep seperti itu, persekutuan doa akan sepi. Karena persekutuan doa kumpulan orang sakit yang hanya bisa berdoa. Dulu waktu ada kesempatan yang banyak ia tidak gunakan. Rasul Paulus mengatakan, belum tentu kesempatan datang dua kali. Maka giatlah dalam pekerjaan Tuhan karena kemuliaan itu luar biasa sekali. Kalau kita sudah jadi orang diselamatkan, berpikirlah apa yang harus kamu berikan. Roma 12:1 “Berikan diri sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan”. Itu sebabnya dalam ayat 58 ayat penutup yang menegaskan kepada kita. Imanmu dan iman saya tidak sia-sia. Dan kemuliaan yang Allah berikan kepada kita sangat luar biasa (mulia). Mari pikir bagaimana bisa melayani Tuhan dalam hidup saya.
Ayat ini meneguhkan bagi tiap orang yang melayani : giat selalu dalam pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan tidak selalu sesuatu yang indah.  Waktu masuk pelayanan, jangan kaget. Dalam pelayanan itu banyak sekali kita menemukan boroknya. 
Mulai dari rohaniawan. Dulu waktu saya belum pelayanan , jadi pendeta itu baik sekali. Tetapi begitu tahu saya tidak berani ngomong lagi. Dari luar sang pendeta bagus sekali, tetapi begitu melayani bersama, saya bingung dengan konsep sang pendeta. Jadi kalau jemaat tentang itu, berarti sedang bicara tentang saya. Maka ada yang berkata, kalau begitu lebih baik tidak pelayanan. Atau rekan majelis / aktivis melihat rekannya bermasalah, mulai menjadi lemas. Ada seorang anak Tuhan yang ditawarkan melayani, mengatakan majelis hidupnya tidak menjadi berkat.  Jadi seringkali , yang melayani melihat titik-titik kelemahan. Tetapi Rasul Paulus minta kita melihat kemuliaan yang begitu agung. Kemuliaan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kau lihat dalam dunia ini. Memang engkau melihat banyak kelemahan dalam pekerjaan Allah yang seringkali dilemahkan oleh manusia. Tetapi bagi rasul Paulus tidak menjadi penghalang melihat kemuliaan yang begitu agung. Ayat ini membawa hamba Tuhan, aktivis melihat kemuliaan. Peristwia Jumat Agung dan Paskah mengantar kita melihat kemuliaan yang luar biasa.
Dr Stephen Tong berkata,”Seorang yang melayani Tuhan hanya punya satu kata yaitu PERGI!”. Dan tidak berpikir untuk pulang artinya dalam diri orang yang melayani Tuhan hanya punya satu konsep waktu Tuhan perintahkan pergi, maka ia pergi. Waktu Tuhan suruh bekeja, maka bekerja yang dilakukan. Pergi dan bekerja. Jangan pikir meninggalkan pelayanan saat melihat kesulitan.
Rasul Paulus maka berkata, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan oleh karena dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia”. Ayat ini tidak berkata ada timbal balik dalam melayani Tuhan. Kalau melayani Tuhan, maka usaha kita akan makmur. Kalau melayani Tuhan, maka kita akan naik pangkat, rumah tangga akan harmonis dan semuanya diberkati. Ayat ini tidak bicara, kalau melayani Tuhan, Tuhan balas kita. Hanya dikatakan jerih payahmu tidak sisa-sia, artinya Tuhan terima. Sekecil apapun pelayanan kita, Dia terima. Saya punya jemaat yang berusia 90 tahunan, jalanan nya pun sudah bongkok sekali tetapi matanya masih awas. Saat saya datang ke gereja, dia selalu memanggil saya dan memberi salam, “Pdt Heri, saya selalu doakan kamu.” Waktu dia ngomong, saya terharu sekali. Kalau saya pikir, “Mendoakan saya apa sih artinya dibandingkan dengan melayani mimbar?”. Sepertinya tidak sebanding. Tetapi di mata Tuhan itu diperhitungkan. Itu diterima. Melayani Tuhan itu sesuatu yang luar biasa. Sangat indah dan mulia karena Tuhan disenangkan. Itu sebabnya jemaat yang melayani akan “hidup”. Saya tidak bicara gereja ini mati, saya bicara tentang bangku yang harus diisi. Jiwa itulah yang harus ibu-bapak layani. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan , “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Karena dia tidak mau umat Tuhan tidak menghargai karya Tuhan di kayu salib. Mari lihat tempat kita melayani. Tiap-tiap orang mulai memikirkan saya mau melayani. Kalau hati mau melayani, Tuhan memampukan untuk melayani. Kesempatan belum tentu dua kali. Maka hargai hidup dengan sebaik-baiknya, biarlah hidup kita melayani sampai Dia memanggil kita.