Sunday, April 14, 2013

Keluarlah dari Zona Nyaman

(Khotbah pada sesi pembinaan Sidang Tahunan GKKK dan Rakernas YKKI, 11 April 2013)
Tidak diedit oleh pembicara

Pdt Benny Solihin

Kel 3:10 “Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir."

Comfort zone adalah wilayah di mana kita merasa nyaman, tidak ada rasa takut, gelisah dan unsur dadakan. Semua sesuai dengan planning. Saat datang menghadiri sidang tahunan / rakernas, kita tidak merasa nyaman karena kita tidur bersama dengan orang lain.  Walau kita sama-sama tidur dengan bersuara keras (ngorok), tapi ada yang tidak bisa menerima teman sekamar yang juga ngorok. Saat pindah pelayanan, kita pun merasa tidak nyaman. Allah melalui Musa memanggil umat Israel keluar Mesir. Tuhan mengguncang zona nyaman Musa. Firaun tahu saat Musa membunuh orang Mesir, sehingga Musa mengembara ke Midian terlunta-lunta. Dia meninggalkan zona nyaman di istana. Lalu ada Yitro yang menampung dan bahkan memberi anaknya sebagai istri. Setelah 40 tahun di Midian, Musa sudah tidak berpikir lagi sebagai pahlawan Israel. Dia mimpi habiskan hari tua sebagai pengembala. Tiap hari merawat, memberi minum domba, mengawinkan domba. Lalu dombanya beranak cucu. Sebuah hari pensiun yang nyaman. Sampai kemudian Allah mengutus Musa untuk pergi menghadap Firaun, sehingga Musa tidak merasa nyaman lagi. Dia merasa tidak nyaman karena diutus bertemu dengan tokoh Firaun yang tidak ingin ditemui. Dia merasa tidak nyaman karena ingin saat pensiun ia berada bersama dengan istrinya. Dia kemudian berontak. Perintah Tuhan membuatnya tidak nyaman dengan berkata,”Siapakah aku ini yang harus menghadap Firaun?”, “Siapa yang mengutus aku?” , “Bagaimana kalau mereka tidak percaya?” , “Ah Tuhan, saya tidak pandai bicara.” Musa pintar debat dengan Tuhan. Terakhir dia berkata,”Utus yang lain saja.” Dia tidak rela tinggalkan zona nyaman. Dia susah meninggalkan kenyamanannya. Zona nyaman bahaya buat kita. Zona nyaman membuat kita tidak peka terhadap kehendak Tuhan.

Musa tidak peka dan tidak mau pikir. Apa maksud Tuhan memberi waktu 40 tahun sebagai pangeran dan memberi pengetahuan yang banyak di Mesir. Dia sudah merasa nyaman sebagai peternak. Itu membuat kita tidak peka terhadap maksud Tuhan. Seharusnya kita menyadari bahwa kita ada untuk kemuliaan Tuhan. Hidup kita bukan tentang kita tapi tentang sejarah dan karya Tuhan. Karena Dialah diciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu diciptakan untuk Dia dan oleh Dia. Kadang zona nyaman menghilangkan kepekaan terhadap kehendak Tuhan. Paradigma kita juga bisa  menjadi zona nyaman. Walau sudah pensiun, tetap tidak mau tinggalkan tempat pelayanan dan membiarkan orang lain menggantikan. Zona nyaman membuat tidak peka, padahal hidup kita adalah instrument dari kemuliaan Allah (glory of God). Dalam bukunya “Rethinking of Church” Jerry White menulis tentang bagaimana mengkombinasikan lagu hymne dengan lagu Kristen kontemporer. Ada seorang ibu tua datang kepadanya setelah ia selesai khotbah dan bertanya,”Maksudmu, kita ubah lagu hymne jadi kontemporer?” Jerry White terdiam. Nenek tua itu kemudian melanjutkan, “Saya punya lagu hymne favorit. Mulai hari ini jangan peduli lagu-lagu favorit saya. Demi anak-anak muda lakukanlah perubahan itu.” Nenek tua itu keluar dari zona nyaman demi anak-anak muda. Lagu-lagu “Precious Lord”, “PujiHu”, “Kasih Allah Sangat Besar” itu laguku. Tapi demi anak muda kita keluar dari zona nyaman untuk masuk ke dalam lagu yang ritme dan liriknya mungkin tidak enak. Suatu kali saat saya diundang khotbah, kebaktian dipimpin oleh seorang MC yang masih muda yang menyanyikan lagunya dengan tidak enak. Saya bertanya kepada ibu pendeta tentang lagunya. Sang ibu pendeta juga menjawab lagunya tidak enak. Tapi demi anak-anak muda, saya dan ibu pendeta tepuk tangan. Karena begitu diam, mereka merasa kita sebagai orang asing. Saya goyang ikut anak-anak muda itu karena tidak ingin dianggap orang asing demi bisa diterima.

Kita tidak diciptakan untuk music atau lagu yang kita sukai tapi untuk jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan. Saya pura-pura lucu, bukan untuk diriku, tetapi agar anak muda simpati pada pengkhotbah agar bisa diterima. Aku taruh jiwaku di sana dan minta Tuhan berkati. Sewaktu PGTI adakan KKR yang diikuti oleh 9-10 sekolah Kristen dengan jumlah yang hadir 4.000 orang, hati saya sedih. Ada 2 orang yang kurang yaitu anak-anakku yang terhilang. Saya berdoa,”Tuhan hari ini saya mengabarkan Injil Yesus tapi tolong selamatkan anakku , agar mereka ke gereja. Yang penting mereka ke gereja. Yang aku peduli menangkan jiwa anak-anaku. Aku dan istriku tidak sanggup lagi. Aku mohon ada orang yang menginjili mereka.” Itu tangisan airmataku. Tetap kurang 2 orang, anakku. Asal Kristus jamah mereka, itu cukup. Saat ingin memenangkan jiwa, kita ingin tetap pertahankan liturgy, untuk apa? Anak sulung saya kemudian telepon dan berkata,”Mama saya tidak lulus…” Istri saya berkata,”Yang penting bukan angka, tetapi yang penting engkau terima Yesus!” Anak saya berkata,”Bagaimana terima Kristus?” Istri saya membimbingnya untuk berlutut dan menerima Kristus.  Ada orang tua yang menjerit, anaknya tenggelam dalam dosa. Kita tahu susahnya hidup di zaman ini. Kalau dulu mau nonton video porno, kita harus memiliki pemutar VHS yang besar bentuknya dan saat sewa video kita merasa malu. Kalau sekarang masuk kamar lalu tinggal klik muncul gambar porno. Mereka terjepit kanan kiri. Tolonglah anak-anak kita. Janganlah kita hidup dalam zona nyaman kita! Berapa banyak anak majelis yang tidak bergereja di gereja ibu – bapaknya? Bila tidak bisa mengikuti liturgi gereja, mereka keluar. Mereka muda dan tidak berdaya. Kita punya aturan, kalau tidak bisa ikuti, mereka pergi ke gereja lain. Rangkullah anak. Kamu mau apa nak? Mereka maunya untuk dikasih sedikit kebebasan dalam aturan gereja. Keluarlah dari zona nyaman. Bahaya zona nyaman adalah  tidak melihat kehendak Tuhan.

Zona nyaman tidak membuat kita peka akan kebutuhan orang lain. Kita tahu cara mencapai kebutuhan kita. Kita asyik dengan rutinitas sehingga tidak peka lagi dengan kebutuhan orang lain. Musa 40 tahun jadi gembala, saya yakin ia masih melakukan family altar, berdoa, menyanyi dll, tapi pada saat yang sama umat Allah mengerang dan menjerit. Dalam zona nyamannya, ia tidak bisa lagi mampu melihat kebutuhan sesama. Allah melihat bangsa Israel menderita, mengeluarkan air mata, tetapi Musa tidak peduli. Ia hidup 40 tahun tidak mau mendengar penderitaan umat Israel. Tuhan Yesus rela dibongkar habis-habisan zona nyamannya. Ia turun jadi manusia, lahir di kandang yang hina, 3 kali ia berdoa yang sama tentang cawan pahit yang harus diminumnya, dianiaya, disiksa, mati dengan mengerikan. Namun setelah mati, hasilkan buah yang tidak terhingga. Ketika kita keluar dari zona nyaman, kita serahkan ke Tuhan dengan air mata maka berbuah luar biasa. Tidak ada nama yang lebih tinggi dari nama Yesus Kristus. Kita ditantang untuk meninggalkan zona nyaman. Bongkar aku Tuhan. Seorang dosen dari universitas Yale dan Harvard di bidang pendidikan teologi lalu melepaskan semuanya, hidup di panti asuhan. Hidup dengan orang-orang cacat. Berteman dengan orang epilepsy , orang yang tidak jelas omongannya dll. Ia belajar bagaimana Yesus melayani manusia. Kalau aku diberi harta lebih dari orang lain, itu untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk zona nyaman. Kalau dipindah ke tempat lain, kenapa takut kalau untuk kemuliaan Tuhan? Pdt Buby Ticoalu & Ibu Corry melayani dan merawat anak kecil yang suaranya bising , apalagi baginya di hari tua. Pdt Buby keluar dari zona nyamannya setelah pensiun . Hayo kita kembali peka. Dulu waktu muda semangat pelayanan. Sekarang setelah nyaman jadi gembala sudah tidak semangat seperti dulu lagi. Tuhan tidak melihat rupa tapi hati kita. Jangan-jangan kita tidak punya hati hamba tapi hati tuan yang nyaman untuk siapkan pensiun kita. Juga untuk guru dan kepala sekolah. Hidup kita untuk Tuhan, jangan pernah cari nyaman. Nikmati hidup dengan Tuhan, untuk kembali bersama Tuhan. Saat menerima anggur dan roti pada perjamuan kudus, ingatlah Yesus telah meninggalkan zona nyamanNya dan Dia menjadi berkat bagiku dan bagimu. Didiklah aku supaya aku mau seperti Yesus dan Musa. Setelah Musa bilang ok, hidupnya luar biasa. Tuhan ini umatmu, sayangi mereka. Tuhan ini umatMu, sayangi mereka , yang penting bukan aku tapi jiwa-jiwa ini.

Giatlah Selalu Dalam Pekerjaan Tuhan

Pdt Heri Kwok

1 Kor 15:58
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Suatu kali saya pergi ke Yogyakarta, melihat Keraton Yogya dan bertemu abdi dalam (orang yang melayani di keraton). Bapak tersebut berusia 60-an dan sudah melayani keraton sekitar 40 tahun. Walau sudah bekerja  40 tahun gajinya tidak lebih dari UMR. Sebuah angka yang tidak masuk diakal , sangat minim untuk orang yang bekerja 40 tahun. Namun dia berkata, gaji tersebut mencukupi hidup keluarganya. Bagi abdi dalam bekerja di keraton merupakan kebanggaan dan kemuliaan untuk melayani Sultan.  Saya cukup terperangah, karena ia bangga melayani sultan selama 40 tahun. Meskipun gaji secara ukuran manusia tidak layak, tetapi ia merasa bangga dan mulia. Kebanggaan dan kemuliaan kepada Sultan membuat saya berpikir pada tulisan Rasul Paulus pada 1 Korintus 15:58. Ayat 58 merupakan ayat penutup tentang perikop kebangkitan kepada jemaat.

Ada 3 penekanan pada kebangkitan.
1.       Kebangkitan Kristus (ayat 1-11). Rasul Paulus menyampaikan bahwa karena Kristus bangkit maka iman kita ada dasarnya. Pada ayat 2 dikatakan kamu diselamatkan asal kamu berpegang teguh pada Injil. Kebangkitan Yesus bukan mitos tetapi fakta karena Dia menyatakan diri kepada orang-orang.
2.       Kebangkitan kita sebagai orang percaya (ayat 12-24). Bagi Rasul Paulus kematian dan kebangkitan Yesus merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan yang menyatakan kemuliaan TUhan Yesus sendiri. Dasar iman kita adalah Yesus yang mati dan Yesus yang bangkit sesuai dengan Kitab Suci. Jika Kristus mati tapi tidak dibangkitkan, maka kematian mengalahkanNya. Tetapi tidak mungkin ada kebangkitan bila tidak ada kematian terlebih dahulu. Oleh sebab itu, kematian dan kebangkitan tidak bisa dipisahkan dan menjadi dasar bagi iman orang percaya. Itu sebabnya bila ada orang yang meragukan , itu yang membuat Rasul Paulus bingung. Karena kalau Kristus tidak bangkit, semua yang menaruh percaya menjadi sia-sia. Sia-sia karena iman menaruh kepercayaan pada Dia yang dijanjikan bangkit tetapi tidak bangkit. Rasul Paulus mengatakan bahwa bila Dia tidak bangkit maka sebagai pemberita Injil ia berbohong. Kriteria menjadi rasul adalah menyaksikan keberadaan Yesus. Rasul Paulus berkata bahwa kalau saya sebagai saksi yang melihat Yesus bangkit tapi tidak memberitakannya, saya akan jadi pembohong besar.  Bagi rasul ini perkara penting, pemberitaan bukan perkataan manusia tapi firman Tuhan. Itu sebabnya jika pemberitaan berdasarkan perkataan orang dan saya pembohong, tidak mungkin membawa pembaharuan. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka semua orang terdahulu yang sudah mati yang menaruh pengharapan kepadaNya, akan sia-sia. Kalau kita punya keyakinan pada Kristus yang bangkit tapi tidak bangkit, maka kita menjadi orang yang paling malang di dunia. Paling malang dibanding dengan orang dunia yang hidup dengan sembrono dan menikmati dunia kalau orang percaya setelah mati tidak mendapatkan surga. Itu sebabnya kalau kita menaruh harapan pada Kristus yang tidak bangkit, maka kita paling malang dari semuanya. Itu sebabnya pada ayat 20 tertulis,” Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang lain.” Puji Tuhan itulah berita yang menjadi dasar dari iman : Kristus sudah bangkit!
3.       Kebangkitan tubuh. Sekarang Rasul Paulus berbicara tentang bagaimana orang percaya hidup di dunia lalu masuk ke dalam kekekalan. Orang yang mati dalam Kristus , ia akan bersama dengan Allah. Di dalam kebersamaan dengan Allah mengubah tubuh kita yang fana menjadi tubuh kebangkitan.  Jadi tubuh yang hina , hancur karena kematian sekarang bangkit dengan tubuh kemuliaan yang Allah berikan.  Rasul Paulus waktu menulis ini, ingin mengatakan kepada orang yang punya filsafat tentang manusia yang telah mati. Filsafat manusia : setelah manusia mati, maka berhentilah keberadaan dirinya. Maka tinggallah rohnya yang kembali pada penciptanya. Itu sebabnya dalam filsafat Yunani tubuh dianggap jahat karena memenjarakan yang rohani dan setelah mati yang rohani kembali kepada penciptanya. Bagi Rasul Paulus , konsep kristiani tidak seperti ini. Waktu mati kita akan mengenakan tubuh yang Allah berikan. Kita tidak akan melayang-layang seperti roh yang gentayangan. Karena tubuh kebangkitan seperti Kristus yang dinyatakan dalam diri orang percaya adalah tubuh kemuliaan. Waktu Rasul Paulus berbicara akan berjumpa dengan Allah, maka kita akan menikmati yang luar biasa itu.

Bagi Rasul Paulus kemuliaan tidak bisa dibandingkan dengan apapun di muka bumi. Bagi rasul Paulus, ia hanya bisa membalas cinta Tuhan dengan hidup yang melayani. Itu sebabkan dalam ayat 59 dikatakan “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Bagi Rasul Paulus, karya Kristus yang mati dan dibangkitkan dengan tujuan untuk orang yang ditebus. Memang tujuan Kristus yang utama, memberikan pendamaian kepada Allah melalui penghapusan dosa kita. Tetapi bukan sampai di sana lalu berhenti setelah jadi orang-orang yang diselamatkan. Pemahaman ini penting, setelah kita diselamatkan lalu tidak tahu selanjutnya, maka kita tidak mengerti keselamatan yang sejati. Bagaimana Yesus mati dengan mengerikan,lalu bangkit  mempunyai arti bagi orang percaya. Dia ingin orang tebusan menyatakan diri dalam hidupnya sebelum dipanggil dalam pelayanan. Ada banyak orang Kristen setelah dibaptis, hidup hanya di sana. Yang penting, setiap minggu di gereja, memberikan persembahan, perpuluhan, lalu selesai. Hal tersebut tidak salah, tetapi belum cukup untuk mengerti kekristenan. Orang yang diselamatkan harus menyatakan kemuliaan Tuhan dengan melayani Tuhan sebagai respon yang tepat. Kalau orang dunia seperti abdi dalam bisa melihat hal yang fana dia mau melayani Sultan dengan luar biasa. Bagi Rasul Paulus kebangkitan merupakan kemuliaan yang luar biasa sehingga kita melayani dia dengan sungguh-sungguh. Waktu kita percaya pada Kristus, itu karya Dia melalui Roh Kudus. Kita tidak bisa percaya kepada Dia kalau tidak melalui Roh Kudus. Saya lahir baru setelah sekolah di fakultas hukum. Saya mengalami lahir baru sewaktu dicelikkan saya membutuhkan Kristus dalam hidup saya. Setelah tahu diselamatkan, apa tindakan saya? Apa respon saya, setelah tahu Dia mati buat saya? Apakah kita hidup seperti biasa-biasa saja? Rutin  bangun tidur, aktivitias, tidur lagi, minggu ke gereja seperti biasa? Kalau itu yang kita miliki, karya Kristus sangat kasihan sekali. Bagi Rasul Paulus, untuk kemuliaan yang akan diterima kelak ia harus meresponi dengan melayaninya seumur hidupnya. Di gereja, waktu masuk periode pencarian majelis, alasan yang diberikan jemaat banyak sekali. Saat disampaikan, “Bapak, nama bapak tercantum dalam daftar pilihan , apakah bapak bersedia melayani di gereja?” Dijawab,”Terima kasih Pak Pendeta, nama saya telah dipikirkan jemaat namun saya tidak bisa.” “Kenapa tidak bisa?” tanya saya. Lalu dibilang, “Pekerjaan banyak di kantor , pulang malam sehingga takut tidak bisa melayani Tuhan.” Ada lagi seorang ibu yang namanya terpilih berkata, “Saya tidak bisa melayani Tuhan karena sehari-hari melayani suami dan anak-anak sudah sibuk sehingga tidak bisa melayani Tuhan.” Saya jadi pikir, apa suami dan anak buat dia pusing sehingga tidak bisa melayani? Suatu kali seorang hamba Tuhan menawarkan jemaatnya untuk ambil bagian dalam pelayanan. Jemaat tersebut benar-benar masih energik dan mempunyai kemampuan yang luar biasa sehingga ditawarkan pelayanan. Waktu itu dia jawab, “Saya sibuk, banyak urusan saya sehingga saya tidak bisa melayani.” Hamba Tuhan tersebut bercerita jemaat tersebut kemudian terkena stroke dan  waktu dia sakit berdoa kepada Tuhan, “Kalau Tuhan sembuhkan ,saya mau melayani Tuhan.” Saya teringat kisah orang yang terombang-ambing di dalam gelombang laut berdoa, kalau diselamatkan mau memberikan kerbau. Setelah perahu sudah mau sampai daratan, “Tuhan saya akan memberikan kambing.” Begitu selamat, ayam saja yang saya berikan. Lalu ayamnya ternyata juga lupa dikasih kepada Tuhan. Kenapa? Karena sudah selamat. Sang jemaat tadi berdoa, “Tuhan kalau sudah sembuh, saya akan melayani.” Puji Tuhan, Tuhan kasih sehat. Tapi strokenya membuat dia berada di kursi roda. Lalu ia bilang, “Pak saya ingin melayani Tuhan.” Sekarang yang bingung pendetanya. Bingung karena mau kasih pelayanan apa? Waktu anda sehat, saya akan kasih pelayanan banyak, sekarang di kursi roda bingung mau kasih apa. Sebagai hamba Tuhan, ia berkata, “Bapak ikut ambil bagian dalam mendoakan. Doa itu bukan sesuatu yang remeh, setelah sakit baru berdoa. Jika punya konsep seperti itu, persekutuan doa akan sepi. Karena persekutuan doa kumpulan orang sakit yang hanya bisa berdoa. Dulu waktu ada kesempatan yang banyak ia tidak gunakan. Rasul Paulus mengatakan, belum tentu kesempatan datang dua kali. Maka giatlah dalam pekerjaan Tuhan karena kemuliaan itu luar biasa sekali. Kalau kita sudah jadi orang diselamatkan, berpikirlah apa yang harus kamu berikan. Roma 12:1 “Berikan diri sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan”. Itu sebabnya dalam ayat 58 ayat penutup yang menegaskan kepada kita. Imanmu dan iman saya tidak sia-sia. Dan kemuliaan yang Allah berikan kepada kita sangat luar biasa (mulia). Mari pikir bagaimana bisa melayani Tuhan dalam hidup saya.
Ayat ini meneguhkan bagi tiap orang yang melayani : giat selalu dalam pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan tidak selalu sesuatu yang indah.  Waktu masuk pelayanan, jangan kaget. Dalam pelayanan itu banyak sekali kita menemukan boroknya. 
Mulai dari rohaniawan. Dulu waktu saya belum pelayanan , jadi pendeta itu baik sekali. Tetapi begitu tahu saya tidak berani ngomong lagi. Dari luar sang pendeta bagus sekali, tetapi begitu melayani bersama, saya bingung dengan konsep sang pendeta. Jadi kalau jemaat tentang itu, berarti sedang bicara tentang saya. Maka ada yang berkata, kalau begitu lebih baik tidak pelayanan. Atau rekan majelis / aktivis melihat rekannya bermasalah, mulai menjadi lemas. Ada seorang anak Tuhan yang ditawarkan melayani, mengatakan majelis hidupnya tidak menjadi berkat.  Jadi seringkali , yang melayani melihat titik-titik kelemahan. Tetapi Rasul Paulus minta kita melihat kemuliaan yang begitu agung. Kemuliaan tersebut tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kau lihat dalam dunia ini. Memang engkau melihat banyak kelemahan dalam pekerjaan Allah yang seringkali dilemahkan oleh manusia. Tetapi bagi rasul Paulus tidak menjadi penghalang melihat kemuliaan yang begitu agung. Ayat ini membawa hamba Tuhan, aktivis melihat kemuliaan. Peristwia Jumat Agung dan Paskah mengantar kita melihat kemuliaan yang luar biasa.
Dr Stephen Tong berkata,”Seorang yang melayani Tuhan hanya punya satu kata yaitu PERGI!”. Dan tidak berpikir untuk pulang artinya dalam diri orang yang melayani Tuhan hanya punya satu konsep waktu Tuhan perintahkan pergi, maka ia pergi. Waktu Tuhan suruh bekeja, maka bekerja yang dilakukan. Pergi dan bekerja. Jangan pikir meninggalkan pelayanan saat melihat kesulitan.
Rasul Paulus maka berkata, “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan oleh karena dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payah kita tidak sia-sia”. Ayat ini tidak berkata ada timbal balik dalam melayani Tuhan. Kalau melayani Tuhan, maka usaha kita akan makmur. Kalau melayani Tuhan, maka kita akan naik pangkat, rumah tangga akan harmonis dan semuanya diberkati. Ayat ini tidak bicara, kalau melayani Tuhan, Tuhan balas kita. Hanya dikatakan jerih payahmu tidak sisa-sia, artinya Tuhan terima. Sekecil apapun pelayanan kita, Dia terima. Saya punya jemaat yang berusia 90 tahunan, jalanan nya pun sudah bongkok sekali tetapi matanya masih awas. Saat saya datang ke gereja, dia selalu memanggil saya dan memberi salam, “Pdt Heri, saya selalu doakan kamu.” Waktu dia ngomong, saya terharu sekali. Kalau saya pikir, “Mendoakan saya apa sih artinya dibandingkan dengan melayani mimbar?”. Sepertinya tidak sebanding. Tetapi di mata Tuhan itu diperhitungkan. Itu diterima. Melayani Tuhan itu sesuatu yang luar biasa. Sangat indah dan mulia karena Tuhan disenangkan. Itu sebabnya jemaat yang melayani akan “hidup”. Saya tidak bicara gereja ini mati, saya bicara tentang bangku yang harus diisi. Jiwa itulah yang harus ibu-bapak layani. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengatakan , “Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan”. Karena dia tidak mau umat Tuhan tidak menghargai karya Tuhan di kayu salib. Mari lihat tempat kita melayani. Tiap-tiap orang mulai memikirkan saya mau melayani. Kalau hati mau melayani, Tuhan memampukan untuk melayani. Kesempatan belum tentu dua kali. Maka hargai hidup dengan sebaik-baiknya, biarlah hidup kita melayani sampai Dia memanggil kita.

Sunday, April 7, 2013

Sukacita dan Damai

Pdt Liem Ie Liong

Yohanes 20:19-23
19  Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"
20  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.
21  Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."
22  Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus.
23  Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

 Yoh. 14:27
 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Filipi 4:4.
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Pendahuluan.
            Hari ini banyak orang yang stress, yang memerlukan terapi dengan tertawa. Tertawa tidak sama dengan sukacita. Untuk menghilangkan stress, ada yang dengan tertawa, sehingga nonton film yang lucu agar tertawa.
            Beberapa perempuan pergi ke kubur Yesus pagi-pagi hari , masih dalam suasana sedih, tiba-tiba malaikat Tuhan berkata, “Dia tidak ada di sini, sebab Dia telah bangkit, sama seperti yg telah dikatakanNya.” Berita kebangkitan Yesus  membuat mereka berubah, yaitu mereka memperoleh sukacita (kesedihan mereka diubah menjadi sukacita) dan Yesus mengubah ketakutan mereka, dengan memberikan salam… “damai sejahtera”. Berita kebangkitan yang memberi mereka sukacita harus diberitakan kepada murid-muridNya. Lalu Yesus juga menampakkan diriNya kepada murid-muridNya dan berkata, “damai sejahtera bagi kamu”.  Dan setelah mereka menerima salam damai sejahtera itu, lalu Yesus menunjukan bekas paku di tanganNya dan bekas tombak di lambungNya kepada murid-muridNya. Firman Tuhan  mengatakan ,” Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat TUHAN YESUS  sudah Bangkit (Ia sudah Hidup )”.

Mengapa ada orang Kristen yang kehilangan sukacita? Mengapa ada orang Kristen yang kehilangan damai sejahtera? Karena tidak hidup dalam kemenangan, tetapi sebaliknya hidup dalam kekalahan, yaitu jatuh dalam dosa/berbuat dosa lagi. Sehingga orang Kristen tidak memiliki sukacita dan damai sejahtera.
      
Setelah Yesus terangkat ke Sorga, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Saudara sukacita mereka diwujudkan dengan mereka senantiasa berada di dalam bait Allah dan memuliakan Allah. Sukacita yang mereka alami , membawa mereka menyembah Allah di  bait Allah dan memuliakan Allah dengan memuji Allah.

Lihat Mazmur 32:11.  Bersukacitalah dalam Tuhan, bersorak-soraklah orang-orang benar dan orang-orag jujur. Sukacita itu dialami oleh orang-orang benar/orang-orang jujur.  

Sukacita kita karena kehadiranNya. (Yoh. 15:11 “Semua ini Kukatakan kepadamu, supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh”). Tuhan memberikan sukacita di hati kita, bukan dari luar diri kita  atau dari dunia ini. Ketika kehadiranNya kita rasakan di dalam persekutuan kita dengan Tuhan Yesus.
Yesus  menyediakan sukacita  bagi kita, bukan dari dunia ini.
Bagaimana kita mentaati tuntutan Yesus, Bergembiralah  karena dunia membenci kita dan Bersukacitalah karena kita mengalami penganiayaan/penderitaan karena namaNya. -Lukas 6:22-23.  Kita harus memperhatikan fakta bahwa Yesus menyerahkan diriNya untuk mati demi pengampunan dosa kita – pengampunan akan kegagalan kita yang seharusnya bersukacita di dalam Dia.
 Pada perjamuan terakhir, Ia mengambil cawan dan berkata, “inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28). Inilah alasan yang utama Ia datang: “ Anak Manusia datang… untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45). Maka sukacita kita mempunyai dasar yang kuat yakni  Yesus mencurahkan darahNya agar kegagalan kita untuk bersukacita di dalam Dia dapat diampuni. Jadi Yesus mati untuk menyediakan sukacita bagi kita. Ketika MANUSIA BERDOSA berdamai dengan Allah.

Rasul Paulus dalam Filipi 4:4 mengatakan,”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan, sekali lagi ku katakan bersukacitalah.” Tidak ada limit (batasan) pada intensitas sukacita di dalam  Tuhan Yesus. Rasul Paulus menulis surat Filipi ketika ia ada di dalam penjara, tetapi di dalam penjara ia dan silas dapat memuji Tuhan. Rasul Paulus bersukacita di dalam keadaan ia tidak enak di dalam penjara, tapi ia tetap bersukacita.

Pada  1 Petrus 5: 7 Masalah kekuatiran, membuat kita kehilangan sukacita.
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Inilah yang dijanjikan Tuhan, ketika kita menyerahkan segala kekuatiran kita, maka ada kedamain  yang sejati. (bukankah ini juga sudah diajarkan Tuhan Yesus dalam kotbah di Bukit dalam matius 6. Jangan kuatir akan apa yang kita makan, minum dan pakai, dan jangan kuatir akan haris esok. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. Ini merupakan jaminan yang Tuhan berikan kepada kita,   Orang Kristen yang percaya pada pemeliharaan Allah, akan mendapatkan damai sejahtera.
Ada seorang raja yang akan memberikan hadiah pada seniman yg dapat membuat suatu lukisan terbaik tentang kedamaian. Banyak seniman yang mencobanya. Raja melihat hasil semua lukisan-lukisan itu. Tetapi hanya ada dua yang ia suka, dan ia harus memilih salah satu di antaranya. Salah satu lukisan menggambarkan danau yang tenang. Danau itu bagaikan cermin yang sempurna bagi gunung-gunung yang menjulang tinggi di sekelilingnya. Di atasnya langit biru dengan awan di sana-sini. Semua orang yang melihatnya akan berpendapat itulah lukisan yang sempurna tentang kedamaian. Lukisan yang satu lagi menggambarkan gunung-gunung juga, tetapi tampak tegak, angkuh dan kasar. Langit  hitam berawan gelap, ada halilintar di situ. Di bawah  ada air terjun yang airnya bergejolak. Tampak tak ada kedamaian sama sekali. Tetapi raja melihat di belakang air terjun ada sarang burung, Diantara riak gejolak air, duduk seekor induk burung yang  sedang memberi makan pada anaknya dengan penuh kedamaian. Lukisan yang mana yang Anda kira akan menang? Raja memilih lukisan yang kedua.  Karena kata raja,  damai bukan berarti tempat yang tidak ada kegaduhan, permasalahan dan kerja keras. Kedamaian berarti  bila di tengah-tengah semuanya itu tetap ada ketenangan di hati dan tanpa kuatir. Itulah makna sejati kedamaian.

Kekuatiran adalah upaya untuk melindungi diri seperti selimut. Dengan kuatir seolah-olah kita berjaga-jaga. Kekuatiran itu seperti alarm dan seringkali tidak terjadi. Antara kekuatiran dengan ketakutan, secara psikologi dibedakan  menjadi dua, yang memiliki objek dan tidak memiliki objek. Kekuatiran itu ketidakpercayaan kepada Allah. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 5:7 mengatakan  ,”Serahkanlah (dalam bahasa Yunani berarti “Lemparkanlah) segala kekuatiran kita kepada Allah. Ia yang memelihara kita”.

 2 kunci yang harus kita lakukan sebagai anak-anak Tuhan, ketika ada kekuatiran.
 1. Berdoa “serahkanlah kepada Allah”.
 2. Mempraktekkan penyerahan diri yang terus menerus kepada Allah.
 Dalam Buku:”Kuasa penyerahan diri“,ditulis oleh Jerry White, menulis:” Penyerahakan diri setiap hari merupakan jalan yang indah untuk kita tetap tinggal dalam penyerahan pada kehendakNya”
Hidup orang Kristus yang demikian, dapat memiliki damai sejahtera yang                   melampaui  segala akal, akan memelihara  hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:7).

Penutup:
Di dalam dunia ada kesusahan, ada penderitaan, ada tantangan dalam kehidupan ini , kita tidak punya kuasa mengerti apa yang akan terjadi pada hari esok.  Maka percayalah dan alami selalu KUASA KEBANGKITAN  YESUS KRISTUS  dalam kehidupan saudara dan saya. Orang benar  akan hidup  oleh iman / percaya kepada Tuhan Yesus, bukan karena  melihat. Inipun dikatakan Rasul Paulus ( 2 Kor. 5:7).  Tuhan Yesus berkata: Berbahagialah mereka yang tidak melihat ,namun percaya . (Yoh. 20:29).
Ada jaminan untuk hari esok, maka Sukacita dan  Damai sejahtera itu  kita miliki, dalam  Yesus  yang sudah BANGKIT!   Kristus  sudah  HIDUP…! (seperti pada pujian “ Sebab Dia Hidup, ada hari esok”).