Monday, April 7, 2014

Substitusi : Allah Menggantikanku

Roma 3:25-26
25  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
26  Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

Ibrani 4:14-15
14  Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.
15  Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Ibrani 7:26-27
26  Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
27  yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.

2 Kor 5:15
15  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.

Pendahuluan

                Dalam perjalanan melayani Tuhan dan beribadah sebagai orang Kristen, saya telah mendengar berbagai kesaksian hidup orang-orang Kristen. 3 contoh di antaranya :
1.     Ada seorang  bapak yang mengganti agama dan menggadaikan iman demi karir di kantornya. Ada jemaat yang bekerja sebagai polisi berkata bahwa jenjang karir orang Kristen di kepolisian paling tinggi mayor. Kalaupun ada yang berpangkat jendral, jumlahnya sangat sedikit. Itu pun susah sekali. Sedangkan bila orang Kristen berkarir sebagai pegawai negeri paling tinggi golongan 2 atau 3, sedangkan golongan 4 sangat sulit dicapai. Sehingga faktanya di lapangan banyak orang Kristen yang rela mengganti imannya demi karir dan hidupnya.
2.     Seorang pemuda/i  rela memeluk agama lain karena terpincut pacarnya dan demi menikah dengan pasangannya.
3.     Seorang pelajar Kristen menyontek di kelas demi nilai yang baik dan lulus sekolah.
Dari contoh-contoh di atas, timbul pertanyaan mengapa sedemikian rendah seorang Kristen memandang imannya (tidak bisa melihat iman Kristen yang sedemikian agung)?  Padahal di dalam Alkitab dan perjalanan iman orang-orang suci (saleh), kita bisa melihat perjalanan hidup mereka dalam mempertahankan imannya, walaupun mereka tetap jatuh dalam dosa. Setelah mengenal karya Kristus di kayu salib, seharusnya paradigma hidup kita berubah.

Substisusi : Allah Menggantikanku (Karya Kristus di Kayu Salib)

                Pengertian substitusi secara sederhana adalah menggantikan artinya bukan saya tetapi orang lain. Dulu waktu pemeriksaan tiket pesawat tidak terlalu ketat, penumpang yang batal pergi dapat diganti dengan orang lain dengan menggunakan tiketnya. Belajar karya Kristus penting untuk iman kita. Untuk memahami istilah substisusi kita mulai dari jabatan kristus yang ditulis di kitab suci. Ada 3 jabatan yang disandang Kristus dalam Kitab Suci dalam perjalanan hidupnya :

1.     Nabi. Nabi adalah seorang yang menyatakan kehendak Allah bagi umat Tuhan tentang keselamatan. Yoh 1:18
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. Yesus menyatakan Allah yang tidak kelihatan supaya manusia beroleh selamat sehingga jabatan sebagai nabi dilaksanakan Yesus dengan baik. Kepada umat manusis, Dia menyatakan kehendak Allah.

2.     Raja. Fungsi raja adalah menaklukkan bangsa-bangsa. Sebagai raja, Yesus menaklukkan kita kepada diriNya sehingga kita percaya kepada Dia. Itulah karyanya Dia memberi hati yang percaya dan menaklukkan kita kepada diriNya. Dia bukan saja menaklukkan juga memerintah orang yang dipimpinanNya. Sebagai raja, Dia melindungi umatNya dalam hidupnya. Sebagai raja Dia menaklukkan musuhNya dan musuh kita sebagai orang percaya.

3.     Imam. Jabatan inilah yang berkaitan dengan tema khotbah yakni subsitusi. Seorang imam adalah perantara antara Allah dengan umatNya. Itu sebabnya di antara 12 suku Israel, suku Lewi dipilih untuk memegang jabatan imam. Suku inilah yang melayani Allah supaya umat Tuhan tidak binasa karena hidup dalam kesalahan mereka. Itu sebabnya seorang imam harus menjadikan dirinya supaya hidup dalam hukum-hukum Tuhan karena ia akan melayani dan membawa umatNya kepada Allah dan membawa persembahan kepada Allah. Itu sebabnya kitab Ibrani mengatakan Yesus Kristus adalah Imam Besar yang hidup. Dia membawa pergumulan umat kepada Allah. Ibrani 7:26-27 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,  yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.Kitab Ibrani menjelaskan persembahan diri Yesus di kayu salib cukup satu kali dan itu cukup untuk orang percaya.

3 Aspek Subsitusi

1.     Menggantikan diri saya. Waktu Yesus mempersembahan diriNya , Ia memuaskan keadilan ilahi. Allah itu Allah yang kudus dan tidak pernah kompromi dengan dosa. Dosa bagi Dia adalah dosa dan dosa harus dihukum. Jadi keadilan Allah tidak boleh disepelekan. Kalau berdosa maka kita tanggung karena dosa adalah dosa. Kalau kita memahami dosa begitu menakutkan maka kita harus menjaga diri dari perkara itu. Pengadilan atas dosa membuahkan hukuman. Tapi dalam karakter kasih, Dia rindu orang percaya mendapat keselamatan. Orang-orang pilihanNya adalah orang-orang yang diberikan keselamatan. Tidak mudah memahami kedua karakter Allah (kasih dan adil) yang sepertinya bertentangan. Karakter pertama, Dia kasih dan menyelamakan orang berdosa. Karakter kedua , Dia akan menghukum orang berdosa dan tidak kompromi dengan dosa. Dua karakter ini yang dilakukan Yesus sehingga memuaskan keadilan Allah. Roma 3:25-26  Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata, bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Yesus merendahkan diriNya untuk meredakan kemurkaan Allah. Ini sesuatu yang luar biasa. Yesus menggantikan kita karena apa yang menjadi keadilan Allah harus dijalankan. Di dalam menjalankan keadilan Allah, kasih Allah nyata dalam diri Yesus yang menggantikan manusia. Alkisah di satu kerajaan terdapat peraturan bahwa kalau lonceng berbunyi di istana berarti ada orang yang akan dihukum mati. Suatu kali ada pemuda yang harus menjalani hukuman mati. Orang muda yang seharusnya punya masa depan cerah, melakukan kesalahan dan divonis hukuman mati. Orang muda tersebut tinggal memiliki ibu yang sangat mengasihinya (ayahnya sudah meninggal). Ibunya sedih karena anaknya harus menjalani hukuman mati, namun peraturan kerajaan tidak bisa ditolak dan besok pagi lonceng akan dibunyikan tanda hukuman akan dilaksanakan. Namun keesokan pagi , setelah prajurit menarik bandul lonceng ternyata tidak terdengar bunyi sama sekali. Orang bingung mengapa lonceng tersebut tidak bunyi. Karena lonceng tidak berbunyi berarti tidak ada hukuman mati. Akhirnya orang muda ini tidak jadi dihukum mati. Setelah diselidiki ternyata ditemukan ibu anak muda  telah meninggal dunia dalam posisi memeluk bandul lonceng. Rupanya sang ibu melakukan hal itu sehingga waktu bandul ditarik pengawal, tubuhnya yang terkena dinding lonceng. Semakin keras ditarik, maka tubuh ibu itu semakin keras mengenai dinding lonceng sampai mengeluarkan darah dan akhirnya sang ibu meninggal demi menyelamatkan anaknya. Waktu saya pertama mengenal Tuhan, saya ingat ilustrasi yang sedemikian mengharukan. Demi putranya, sang ibu mau mengorbankan dan menggantikan dirinya. Ia mengorbankan dirinya dihantam ke dinding lonceng sehingga darahnya tercurah. Pada waktu Kristus di salib, lonceng tetap berbunyi karena lonceng menandakan kematian Yesus. Itulah penggantian (substitusi) yang sifatnya memuaskan keadilan Allah.

2.     Mendamaikan kita dengan Allah. Hal ini dipahami orang Yahudi karena Perjanjian Lama (PL) mengajarkan mereka. PL menggambarkan substisusi dengan jelas dari manusia kepada binatang. Orang berdosa membawa binatang lalu dikorbankan. Lalu imam melakukan ritual ini untuk menggambarkan pemindahan dosa manusia kepada binatang. Hal ini terjadi untuk mendamaikan Allah dengan manusia yang berdosa. Allah benci dosa sehingga perlu didamaikan. Waktu korban disembelih dan mengeluarkan darah , di situ terjadi pembunuhan yang menggambarkan nyawa yang tertumpah dan saat itulah Allah didamaikan dengan manusia yang berdosa.  Jadi Allah memberikan aturan seperti ini untuk mendamaikan diriNya dengan umatNya yang berdosa. Ibarat manusia hidup di suatu negara dan ia bermusuhan dengan pemimpin negaranya, itu sama saja hidup dalam keadaan mati. Nazaruddin, bendahara partai demokrat, melarikan diri ke Amerika karena bersalah. Ia tidak berani menghadapi penegak hukum Indonesia karena ia melakukan kesalahan (korupsi). Waktu berdosa, kita lari dari Allah karena takut. Kita pakai cara dan usaha kita sendiri untuk mengenal Allah tapi sesungguhnya Allah murka. Itu sebabnya supaya kita berdamai dengan Allah, maka Yesus menggantikan kita dari hukuman dosa.

3.     Dia terus menerus menjadi perantara kita dengan Allah. Dalam kitab Ibrani dijelaskan bahwa  Kristus yang menggantikan saya, sekarang jadi pengantara kita dengan Allah di sorga. Itu membuat kita berani datang kepada Dia karena punya perantara. Karena sifat penggantian inilah , maka kita yang harusnya mati menjadi hidup. Itu sebabnya dalam 2 Kor 5:15 dikatakan  Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Jika karya Kristus di salib benar-benar nyata dan dialami secara luar biasa, Dia yang suci menggantikan saya di kayu salib, maka Rasul Paulus mengatakan bahwa implikasinya kita (orang percaya) harus mengalami perubahan dari hari ke hari. Pengetahuan kognitif tentang subsituti seharusnya masuk dalam hidup kita. Betapa mengerikan substitusi tapi betapa agung karya substitusi. Mengerikan karena harusnya sayalah yang dihukum tapi Dia telah menggantikan saya. Mengagungkan karena Dia mau menggantikan saya. Itu sebabnya kita seharusnya mengalami perubahan hidup dari hari ke hari. Dengan demikian, apakah kita akan terus hidup dalam berbohong? Berbohong adalah perkara yang berbahaya. Dosa berbohong dilakukan dari anak sampai orang paling tua sekalipun. Dosa ini paling mudah dilakukan karena lidah tidak sakit waktu digunakan saat berbohong. Bagi Paulus, hal ini tidak boleh terjadi lagi. Memang kita bisa berdosa tapi kita tidak harus berdosa. KaryaNya yang agung tidak mungkin dihinakan dengan diri kita yang menyontek. Seringkali kita terpancing menyontek supaya dapat nilai tinggi supaya ortu tidak marah dan untuk naik kelas. Tujuan itu tidak sebanding dengan Yesus yang mati dan seharusnya tidak.  Sebagai orang Kristen kita harus menjaga supaya tidak memfitnah orang sesuai dengan pepatah Indonesia  “memfitnah lebih kejam daripada membunuh”. Karena kalau dibunuh, orang akan langsung mati dan orang yang langsung mati tidak mengalami kesusahan lagi. Kalau difitnah dia tetap hidup tapi sesungguhnya sudah mati. Dia menjalani hidup dengan susah, karena lingkungan sudah mendengar fitnahnya sehingga sesungguhnya dia sudah mati. Seorang tokoh rohani, Jonatan Edward pernah difintah sehingga ia harus meninggalkan kampung halamannya. Tetapi setelah beberapa waktu berlalu dan ia telah meninggal kemudian terungkap ternyata fitnahan itu tidak benar. Ini peristiwa yang mengerikan. Fitnah terkadang lebih banyak di gereja daripada di luar. Mari kita merefleksikan karya Yesus yang mengantikan kita dan jangan lagi melakukan perbuatan-perbuatan yang mendukakan hati Allah seperti berjudi, berselingkuh dll. Biarlah karya Kristus yang sedemikian agung bernar-benar nyata dalam hidup kita.

Oleh : Pdt. Hery Kwok

Monday, March 31, 2014

Give Thanks




Mazmur 84:1-8, 11
1 Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah.
2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!
3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
4 Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela
6  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
7  Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
8 Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.
11  Lebih baik satu hari di Rumah-Mu daripada seribu hari di tempat lain. Aku memilih menjadi penjaga pintu di Rumah Allahku daripada tinggal di rumah orang jahat.

Pendahuluan

                Mazmur 84 menggambarkan perjalanan bangsa Israel yang mau menghadap dan memuliakan Tuhan serta mengucap syukur. Meskipun harus berjalan jauh, mereka memiliki kewajiban untuk melakukannya setiap tahun (seperti yang dilakukan orang Kristen setiap minggu di gereja). Lagu Gitit merupakan lagu Ibrani yang dimulai dengan irama perlahan , kemudian lebih cepat dan terus meningkat kecepatannya dan tidak pernah turun kecepatannya. Ini irama khusus dan dipilih pemazmur untuk menggambarkan hal yang penting. Dalam terjemahan bahasa Inggris dikatakan  They go from strength to strength, every one of them in Zion appeareth before God (Kekuatan mereka semakin bertambah, waktu berjalan ke Sion). Bangsa Israel berjalan ke Yerusalem dengan kekuatan yang semakin bertambah (kekuatan demi kekuatan). Dalam perjalanan , mereka harus menghadapi tantangan karena harus melintasi lembah Baka (dalam bahasa Ibrani artinya lembah penderitaan atau lembah air mata). Siapapun yang berjalan melalui lembah ini akan mengeluarkan air mata sehingga disebut lembah air mata. Hal ini disebabkan pada lembah ini ada tumbuhan yang mengeluarkan bau-bauan pedas seperti (daun) bawang sehingga walau sedang bersukacita , orang yang melewati lembah ini akan mengeluarkan air mata.

Melalui Lembah Baka untuk Mengucap Syukur

Bagi orang yang mau mengucap syukur dalam perjalanan ziarah ada lembah air mata. Untuk melaluinya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1.    Gairah (Passion)
Maz 84:2 Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Kata “disenangi” dalam bahasa aslinya berarti “bergairah”. Bila punya gairah, maka semangat dan kekuatan seseorang  semakin bertambah.  Tanpa gairah, apapun yang dilakukan tidak akan berhasil. Jadi awalnya dimulai dengan punya gairah terlebih dulu (untuk menggapai cita-cita harus punya gairah dulu). Dalam terjemahan Bible New Living kata “betapa disenangi” diterjemahkan sebagai “how lovely” atau betapa indahnya (menyenangkan, bergairahnya). Yang perlu direnungkan : “berapa gairah yang kita miliki untuk berjalan bersama Kristus ; aktif dalam gereja; menjadi pemberita Injil Kristus; menyaksikan Kristus?”

2.    Kerinduan
Maz 84:3 Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Ayat ini mengungkapkan kerinduan bangsa Israel untuk datang kepada Tuhan. Dalam bahasa Ibrani kerinduan berarti jarak yang jauh menjadi dekat. Ibarat orang yang sedang berpacaran, maka walaupun pasangan berada di tempat jauh terasa dekat. Seperti dulu sewaktu pacaran saya di Jakarta sedangkan pacar di Bandung. Saat itu tidak ada telpon seluler dan telpon masih susah. Bahkan bila kirim surat bisa 2 minggu baru sampai. Dengan Honda 125 yang saat itu terbilang paling top dan mahal, saya berangkat ke Bandung. Di tengah hujan angin saya tiba di Bandung dalam tempo 4 jam (biasanya 6 jam karena ngebut)!  Contoh lain : dulu di sebelah rumah saya ada gereja. Tapi karena tidak mempunyai kerinduan beribadah, saya tidak pernah ke gereja. Saya lulusan seminari ordo Jesuit yang terkenal karena pengajaran kognitif yang tertinggi dari seluruh ordo. Namun akhirnya saya dijamah Tuhan melalui seorang artis tahun 1960 yang sering menyanyi di istana pada zaman Soekarno menjadi presiden. Dia bertanya, “Kalau kau mati mau kemana?” Saya berpikir dan menjawab, “Saya tidak punya kepastian. Kalau kamu?” saya balik bertanya. Dia pun menjawab, “Saya punya Yesus. Jadi pasti masuk surga”. Jadi saya mengambil keputusan masuk sekolah teologia. Dulu pikiran filsafat saya belum dihancurkan sehingga sulit menerima pengajaran. Akhirnya salah satu dosen berkata,”Di dalam otakmu ada ‘kotak’ anti-Kristus yang belum dihancurkan” sehingga ia pun mendoakannya dalam nama Yesus dan menghancurkannya. Tanpa memiliki kerinduan, walau jaraknya dekat, namun sesungguhnya jauh. Dengan mengikut Tuhan, kita  bersyukur karena bisa  berjalan dengan makin lama makin kuat. Kalau dulu saya bilang  ke orang yang mau ke gereja, “Kirim salam buat Yesus ya” tapi setelah memiliki kerinduan, 10 km berjalan kaki ke gereja pun dijalani.

3.    Rasa aman dan tenang.
Maz 84:4  Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Burung pipit adalah burung yang sangat kecil. Di Israel  burung ini tidak pernah membangun sarangnya di lapangan terbuka atau di rumah penduduk, melainkan di celah-celah mezbah Tuhan, yang hanya bisa dimasuki oleh imam besar atau imam yang betugas. Menurut tradisi Yahudi, mezbah ini dijaga oleh orang-orang dari suku Lewi selama 24 jam dengan tombak untuk menghindari burung pemakan bangkai memakan daging korban bakaran. Sedangkan burung pipit dibiarkan saja hidup dan dan membangun sarang di mezbah Tuhan. Ibarat burung pipit, jemaat Tuhan membangun hidup rohani kita dalam rumah Tuhan (gereja). Dengan masuk gereja, hidup kita terlindungi karena di luar banyak pergaulan yang tidak berdasarkan azas-azas kekristenan yang akhirnya bisa menyelewangkan kita. Termasuk di dalamnya ada gerakan pluralistis , bahkan ‘gereja’ setan. Saya pernah mengusir setan dari mantan orang pernah beribadah di sana dan setannya baru bisa keluar setelah 1,5 bulan! Istilah ‘gereja’ setan tidak tepat karena kata gereja diartikan sebagai perkumpuluan. Padahal kata “gereja” bukan sekedar perkumpulan tapi berasal dari kata Yunani kuriakê yang artinya perkumpulan milik Tuhan jadi bukan sekedar himpunan umat tapi kumpulan umat yang dipanggil keluar (eukalio) dari kegelapan masuk ke dalam terang menjadi murid Kristus. Dengan berada di dalam gereja, kita merasa aman. Firman Tuhan berbicara tuntas sehingga kita berjalan dengan percaya diri dan tidak terombang-ambing. Orang yang berjalan makin lama makin kuat tidak tergoda kiri kanan, walau di depannya ada lembah air mata, harus yakin melewatinya dengan penuh percaya diri.

4.    Pujian
 Maz 84:5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Pujian membuat kita tenang melewati apapun. Waktu di AS selama 4,5 tahun kami sempat menyaksikan para mariner menempuh latihan fisik sambil bernyanyi. Karena dilakukan sambil bernyanyi, tahu-tahu mereka sudah menempuh jarak sepanjang 5 mil! Orang yang menaikkan pujian menolong dirinya sendiri karena roh Allah bersama dia. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.   Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat 11:29-30) Karena orang suka memasang kuk yang salah. Saya pernah mengalami 10 menit jantung berhenti (layar monitor EKG menunjukkan grafik datar) sewaktu di Tiongkok dan tubuh saya sudah ditutup dengan kain putih. Selama 10 menit itu saya melihat banyak dan setelah itu setiap 2 bulan sekali saya pergi ke Kalimatan memberitakan Injil. Makin tua kami semakin sering bernyanyi. Ada masalah kami bernyanyi terus. Basilea Schlink, seorang suster gereja Lutheran, berkata, “Jika engkau memandang persoalan terus menerus maka Tuhanmu menjadi kecil, tapi kalau engkau memandang Tuhan terus,maka persoalanmu menjadi kecil”. Banyak orang Kristen kehilangan pujian dalam keluarga dan saat menghadapi persoalan karena cara memujinya tanpa arti sama sekali. Lakukanlah gerakan untuk mengikuti Tuhan dengan setia dengan pujian. Jangan sampai kehilangan pujian dalam melangkah bersama Kristus.

5.       Ada Kekuatan
Maz 84:6A Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, Nats ini diambil dari kitab Kejadian. Kata “berbahagialah” memiliki konotasi “diberkatilah”. Manusia diciptakan dari debu tanah (adama)  sehingga akan kembali lagi menjadi debu tanah, sehingga manusia tidak perlu sombong. Kekuatan debu tanah datang dari apa? Saat ditiup, debu akan terbang sehingga debu dianggap tidak ada nilai. Mayim (bahasa Ibrani)  artinya air yang menggambarkan Tuhan karena dengan air, debu jadi berbobot sehingga bila ditiup tidak terbang lagi. Jadi hubungan kita (debu) dengan Tuhan (air) harus diperkuat. Mulailah pagi hari dengan berdoa kepada Tuhan seperti Maz 90:14 yang ditulis Musa pada usia 120 tahun, “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.” Ibarat air yang ditaruh pada debu tanah yang membuatnya menjadi kuat dan dengan kekuatan inilah kita berjalan dengan makin lama makin kuat. Suatu kali Pdt. Billy Graham ditanya oleh seorang ateis, “Tolong jelaskan orang Kristen itu apa?”. Pdt. Billy menjawab,”Mudah. Menjadi orang Kristen tidaklah dengan memuji, menyembah Tuhan di gereja, memberi persembahan dan aktif di gereja. Tapi seorang Kristen punya hubungan pribadi dengan Kristus. Itulah kekristenan.” Jadi bukan punya hubungan pribadi dengan pendeta, majelis melainkan dengan Kristus. Saya sudah 39 tahun melayani Tuhan sehingga saat ini pendeta senior di gereja tinggal saya. Sampai hari ini, khotbah saya lahir dari hubungan dengan Tuhan tiap pagi. Saat itu tidak boleh diganggu bahkan oleh istri. Gereja membutuhkan bukan saja pimpinan rohani yang pintar tetapi yang lebih penting adalah memiliki kedekatan dengan Kristus sehingga punya kekuatan untuk menghadapi berbagai persoalan. Kata Yesus, Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7). Kata “di dalam (in)” artinya hubungan kita ada di dalam Dia, sehingga kita makin hari makin kuat berjalan bersama Dia.

6.    Ada komitmen
Maz 84:6b yang berhasrat mengadakan ziarah! Kata  “berhasrat” mengandung arti memiliki komitmen berjalan bersama Tuhan. Kalau tidak punya komitmen, kapan bisa bertumbuh makin kuat? Kalau punya komitmen, maka Tuhan terus bersama pada apapun yang kita lakukan. Namun tidak berarti Allah melakukan apa yang saya mau (ini kekeliruan teologis) karena kita seharusnya melakukan kehendakNya seperti yang tertuang pada doa Bapa Kami , jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga (Mat 6:10b) jadi bukan kehendak kita yang jadi.

7.    Berkat
Apa akibatnya kalau berjalan makin kuat saat menyeberangi lembah air mata? Kita menjadikan penderitaan ini menjadi berkat. Saya tahu penyakit saya menjadi berkat. Saya dan istri diundang untuk khotbah dalam 3 kebaktian di gereja Hok Im Tong Bandung. Dengan menceritakan sakit penyakit yang saya alami, mereka merasa dapat berkat dan saya  diundang lagi mingu depannya, sehingga total saya 6 kali khotbah di sana. Jemaat Tuhan harus ikut ambil bagian dalam kegiatan misi. Jangan memberi persembahan minim untuk misi. Ada jemaat yang memberi sedikit untuk gereja. Harusnya yang besar untuk Tuhan bukan yang kecil kalau tidak kita memandang Tuhan semakin kecil (harusnya aku yang makin kecil). Lembah air mata menjadi lembah permata air karena kita sudah melewati dengan 7 langkah untuk berjalan makin lama makin kuat. (Maz 84:7, Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Jangan sampai kita kehilangan gairah, motivasi, tujuan hidup. Kalau kehilangan maka kita berdoa untuk disemangati ulang sehingga kita benar-benar hidup di jalan Tuhan. Maz 84:11a Lebih baik satu hari di Rumah-Mu daripada seribu hari di tempat lain.Itu akibat dari menjalankan dasar syarat itu, sehingga berjalan makin lama makin kuat. Firman Tuhan sangat dalam maknanya untuk kita. Tetapi firman Tuhan hari ini memberi kita semangat untuk melangkah dengan pasti.

Oleh : Pdt. Dicky Ngelyaratan

Berasal dari Maluku Tenggara Barat (dulu Maluku Tenggara) yang berbatasan dengan Timor Leste dan Australia. Ayah keturunan Tionghoa sedangkan ibu dari Maluku Tenggara Barat. 6 tahun lalu menjalani cangkok ginjal di Tiongkok (dokter di Jakarta sudah menyerah) dan pernah dinyatakan meninggal oleh dokter saat itu. Namun sekarang tetap segar di usia 63 tahun.  Istri berasal dari Jawa Barat dan dikaruniai 2 orang anak. Sekarang sedang menantikan seorang cucu.

Tuesday, March 25, 2014

Full Heart


Ev. Lusia

Mat 22:34-40
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36  "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
37  Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Matius 23:4, 14, 16, 23
4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya;
14 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
16 Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Ulangan 6:4-9
4  Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,
9  dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.)

Imamat 19:18
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Kasih yang Hilang (Kasih Aspal - Kristen Aspal)


                Ada sebuah video rekaman yang ditayangkan youku.com yang berasal dari rekaman camera CCTV yang dipasang menghadap jalan pada tanggal 13 Oktober 2011. Di video itu terlihat seorang anak perempuan berusia 2,5 tahun bernama Yue Yue sedang berjalan tanpa menyadari bahwa ia sedang berada di jalan yang ramai lalu lintasnya di kota Foshan (di selatan Guangdong, provinsi terkaya di Tiongkok). Lalu sebuah mobil van menabraknya sehingga sang anak berada di bawah mobil tersebut. Mobil berhenti sejenak sebelum sang pengemudi melanjutkan perjalanannya dengan melindas perut sang anak. Belakangan diketahui bahwa sang supir sedang menelpon dengan HPnya saat menabraknya. Yue Yue tergeletak dan mengerang-erang di jalan yang dilalui oleh banyak orang dan kendaraan. Setidaknya ada 18 orang yang melihatnya dan hanya melaluinya saja tanpa berhenti untuk menolongnya. Bahkan ada mobil yang dengan tega melindas kaki Yue Yue. Akhirnya ada seorang ibu pemulung sampah (Chen Xian Mei) yang menemukan dan menolongnya. Ibu ini mengangkatnya dan melihat bahwa salah satu matanya tertutup, ada air mata di matanya, dan pendarahan dari mulut, hidung dan bagian belakang kepalanya. "Saya ingin menggendongnya tapi badannya sangat ringkih dan rapuh jadi saya takut untuk mencoba lagi. Saya akhirnya  menyeretnya ke sisi jalan dan berteriak untuk meminta pertolongan. Tapi tak seorang pun muncul,”ujar ibu Chen yang dikutip di Yang Cheng Evening News. Akhirnya ia pun berteriak minta bantuan orang lain dan kesulitan mendapat pertolongan. Ibu Chen kemudian mencari orang tua dari Yue Yue yang ternyata sedang menjaga toko. Mamanya dengan cepat membawa Yue Yue ke rumah sakit, malangnya sang anak akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. Mama sang anak menangis tersedu-sedu. Sikap apatis dari orang-orang di lingkungan itu telah menimbulkan reaksi  publik. Banyak komentator media dan netizen (pengguna internet) di Tiongkok mempertanyakannya, "Apa yang terjadi dengan moralitas kita?" "Di mana hati dan simpati kita?" "Bagaimana kita pernah bisa menjadi lebih kejam dan keras hati dari hewan berdarah dingin?"

                Hal ini juga bisa terjadi pada orang Kristen. Ada orang Kristen yang kehilangan kasih dalam hidupnya. Seharusnya nilai kasih menjadi nilai plus dalam hidup orang Kristen, tapi karena rasa egois akhirnya nilai kasih itu hilang. Di gereja ada pasangan Kristen yang selingkuh dan punya simpanan, majelisnya korupsi dalam gereja, memanipulasi kekuasaan dalam gereja dan lain-lain. Ini fakta bahwa kekristenan semakin luntur dalam nilai kasihnya. Sekarang ini, para politikus sedang melakukan kampanye. Ada yang melakukan kampanye kasih namun tidak diketahui apakah mereka mempraktekkannya tidak. Pada pemilu yang lalu, ada seorang caleg datang ke sebuah gereja minta didoakan supaya bisa terpilih. Saat didoakan dia berkata bahwa hatinya tergerak saat melihat kondisi gereja yang minim dan mengatakan di depan mimbar untuk menyumbang seperangkat alat musik supaya gereja itu makin semangat dalam memuji Tuhan (alat musik, band, sound system). Tapi kemudian caleg ini tidak terpilih dan kemudian menarik kembali alat-alat yang sudah disumbangkannya. Sehingga salah seorang majelis di gereja itu mengatakan, “Barang yang sudah diberi tidak bisa dikembalikan." Banyak sekali kampanye kasih yang aspal (asli tapi palsu) alias tidak tulus. Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya mempraktekkan kasih dari anak Tuhan yang tulen (tidak palsu).

Orang Farisi dan Hukum Kasih

                Orang-orang Farisi kagum pada Yesus yang dapat membuat  orang-orang Saduki terdiam (Matius 22: 23-33) dan bukan karena Yesus mempertahankan kebenaran, sehingga mereka bisa menguji Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa hanya mereka yang bisa mengujiNya. Orang Farisi terdiri dari pemimpin agama, pengamat dan mereka tahu dengan jelas tentang hukum Taurat yang memuat 613 perintah. Mereka hanya bisa mencanangkan firman Tuhan tapi prakteknya nihil (mereka tidak mempraktekkannya). Banyak orang Kristen yang pintar mendisain firman Tuhan untuk orang lain (bukan dirinya sendiri). Misalnya saat perintah “Jangan berzina” dinilainya hanya untuk orang yang selingkuh, dan tidak berlaku untuk dirinya sendiri.  Mereka gemar menggunakan hal-hal yang tampak rohani untuk mengabaikan tanggung jawab mereka kepada sesama (Mat 23:4,14,16,23). Mereka tidak setuju, waktu dikatakan ada hukum yang terbesar. Mereka membagi perintah Tuhan menjadi perintah yang berat dan yang ringan (yang bisa diabaikan). Mereka menelan rumah janda-janda, mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang, bersumpah demi bait suci (ini fatal), mereka rajin (setia) memberi perpuluhan tetapi kewajiban terhadap sesama diabaikan. Mereka tahu bahwa Tuhan Yesus sangat berprinsip memegang firman Tuhan. Mereka ingin mempermalukan Tuhan Yesus, dengan menjebaknya lewat pertanyaaan yang diajukan.  Lalu mereka mengutus seorang juru bicara, pakar hukum di antara mereka. Kemudian juru bicara tersebut mengajukan pertanyaan kepada Tuhan Yesus. Ia dengan sangat sopan memanggil Yesus sebagai guru"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" (Mat 22:36). Tuhan Yesus tahu rencana jahat mereka, tetapi Ia menjawab dengan sopan dan tegas. Tuhan Yesus tidak menyebutkan satu jenis hukum. Mereka tidak berhasil menjatuhkan Tuhan Yesus. Yesus menjelaskan dengan padat dan benar yaitu Tuhan Yesus memberi  jawaban dari shema , pengakuan, ikrar, doa yang diucapkan orang Yahudi sehari dua kali seperti yang terdapat pada Ul 6:4-9. Tuhan Yesus orang yang ahli, ia selalu mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak membuat sesuatu yang baru tapi mengambil dari hal-hal yang terjadi sehari-hari.

                Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.Kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hatimu, lalu ditambahkan dengan bobot yang sama, kasiiilah sesamamu manusia (Mat 22:37-39). Ini merupakan golden rule (hukum emas, hukum kasih) yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Hukum kasih ke atas (vertical)  dengan Tuhan (Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu - Mat.22:37)  dan ke samping (horizontal) ke sesama (Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri - Mat.22:39). Ketika berhasil melaksanakan hukum kasih ini, berarti kita bisa melakukan seluruh hukum Taurat (di dalam hukum kasih ini tercantum hukum Taurat). Perintah ke 1-4 dari Sepuluh Perintah Allah (Dasa Titah) termasuk hukum pertama (hubungan vertikal ke Tuhan) sedangkan Perintah 5-10 menggambarkan hubungan horizontal dengan sesama. Hukum yang Tuhan Yesus jelaskan bisa dipraktekkan oleh  setiap anak Tuhan baik pada zaman Israel dulu juga pada zaman sekarang. Pada Ul 5:1-3, Musa menyampaikan bahwa hukum ini masih berlaku untuk setiap kita yang masih hidup.

                Tuhan Yesus memberikan jawaban dari Shema (kredo/pernyataan/pengakuan iman/ikrar kesetiaan kepada satu Tuhan) dalam Ulangan 6:4-9. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu (Ul 6:5). Golden Rule merupakan hukum yang telah disempurnakan oleh Tuhan Yesus demi memudahkan setiap kita melaksanakannya. Dengan demikian anak-anak Tuhan dapat berfokus pada ajaran Tuhan Yesus (Mat 22:37) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Sangat penting bagi kita untuk memiliki sebuah passion (gairah/semangat/antusiasme/kesukaan yang luar biasa) untuk mengasihi Tuhan.  Jika pasangan kita hanya memberi setengah hati, maka kita tidak senang. Saat ini banyak keluarga yang hanya memberi perhatian 40%-50% kepada anggota keluarga lainnya, selebihnya pekerjaan (bisnis) dan barang elektroniknya yang semakin canggih dll. Sehingga tidak heran gadget-mobil-motor menjadi istri (suami) kedua. Karena barang teknologi seperti BlackBerry (BB) menghilangkan sebagian kasih dari keluarga. Saat makan mereka lebih banyak ke BB atau tablet, padahal ini adalah acara keluarga. Kecanggihan teknologi melunturkan kasih dalam keluarga.

                Ada ilustrasi tentang seorang nenek tua yang dengan keterbatasannya sangat mengasihi cucunya. Sang nenek tidak tahu bagaimana menggunakan rice-cooker. Akhirnya neneknya keluar rumah dengan niat membeli makanan untuk cucunya. Karena sudah tua, ia bingung sewaktu mengganti baju karena kancingnya tidak pas. Tapi ada rasa sukacita di raut wajahnya dan berkata bahwa ia keluar mau membelikan cucunya makanan. Cucunya bertanya , “Nenek tidak masak?” Ia menjawab,”Saya tidak bisa memakai rice-cooker”. Cucunya berpesan, “Nenek cepat pulang ya”. Sang nenek membelikan cucunya nasi ayam dengan tambahan daging. Setelah itu ia ingin balik ke rumah  tapi lupa rumahnya di mana. Cucunya di rumah mulai kelaparan, akhirnya masak sendiri. Ternyata rice-cooker belum dicolok listriknya. Sang nenek di jalan mengiba-iba kepada orang-orang yang dijumpainya di jalan untuk mengantarkan ia pulang ke rumah. Namun orang-orang bingung karena tidak tahu alamatnya. Dia tidak putus asa dan terus bertanya, “Tolong antarkan saya pulang. Cucu saya kelaparan menantikan makanan ini.” Dia tetap ngotot. Tapi bagaimana antarkan pulang karena tidak tahu alamatnya? Saat anak dan menantunya tiba di rumah , menantunya bertanya kepada anaknya, “Apakah nenek tidak memasakkan untukmu?” Dijawab tidak. “Apakah nenek belum kembali sampai saat ini?” tanyanya lagi. Dijawab tidak. Akhirnya anak dan menantu mulai bingung di mana harus mencari sang nenek. Cucunya merasa bersalah, Di jalan nenek masih berjuang mencari jalan pulang. Dalam pikirannya bagaimana pulang untuk kasih cucunya makanan. Anak dan cucu sang nenek mencari terus sampai malam. Sang nenek mulai lemas. Akhirnya anak-mantunya menemukan sang nenek. Tapi sang nenek tidak mengenali anak-mantunya sendiri. Ia minta ke mantunya untuk diantar pulang. Ia hanya mengingat cucunya. Dia tidak peduli dirinya yang kelaparan. Setelah bertemu cucunya, ia segera menawarkan makanan ke cucunya dan berkata,”Cucu jangan marah. Ini adalah nasi ayam kesukaanmu. Makanlah! Cepatlah kamu makan!” Padahal dia sendiri kelaparan. Akhirnya untuk menyenangkan hati sang nenek, cucunya makan dan meminta maaf. Cucunya bertanya , “Nenek, apakah baik? Dijawabnya,”Baik”. Cucunya merasa bersalah, ia makan sambil menangis terharu. Inilah kasih yang full-heart. Kasih yang seratus persen dan anak Tuhan diharapkan punya jenis kasih seperti ini. Kasih nenek yang tulus menndorong dia tetap mendahulukan cucunya walau ia kelaparan. Tuhan ingin kita mempraktekkan kasih seperti ini. Bukan hanya mengasihi orang yang se”level”, sehobi tapi tanpa pandang kecerdasan dll dan bahwa harus dengan tegas mengasihi orang.

Full heart (sepenuh hati mencintai/mengasihi Tuhan) 

                Kita mengasihi Tuhan tapi tidak mengasihi sesama kita, itu sama dengan NATO (No Action Talk Only – ngomong doang), sama dengan berteologi tapi tidak mempraktekkan. Ketika manusia bisa secara total mengasihi Tuhan maka tidaklah sulit untuk mengasihi sesama. Jika tidak bisa mengasihi sesama,  maka  100% tidak mengasihi Allah (1Yoh 4:20-21). Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya. Bagaimana passion (gairah) kita selama ini dalam mengasihi Tuhan?   Apakah kita sudah  kehilangan passion untuk mengasihi Tuhan? Apakah kita mulai menjadi orang Farisi masa kini yang tahu firman Tuhan tapi tidak mau mempraktekkannya? Jika passion mengasihi Tuhan secara full heart sudah luntur, segeralah minta ampun pada Tuhan dan mohon Tuhan memperbaharui hati, sehingga passion menjadi full heart. Untuk tetap full heart maka harus rajin beribadah, berdoa, bersaat teduh dan membaca Alkitab.

                Full heart (sepenuh hati) mengasihi Tuhan maka pasti akan mau taat 100% pada Tuhan dan tidak akan sulit untuk mengasihi sesama, bergembira dan menangis bersama sesama, mengasihi orang yang telah menyakiti kita dan berani menegur orang yang melakukan kesalahan bukan mendiamkan. Ada moto kalimat yang berbunyi, “Terimalah kasih , berilah kasih. Terimalah kasih , berilah kasih……”  terus diulangi demikian. Kita yang sudah menerima kasih dari Allah , tidaklah egois tapi harus memperhatikan sesama kita dan membagikan dan terus diulangi demikian. Kasih terbesar yang kita terima adalah kasih Allah.  Setelah kita menerima dan mengalami kasih Allah maka kita harus full heart untuk mengasihi-Nya, dan ketika kita sudah full heart mengasihi-Nya maka kita belajar memberi kasih (mengasihi) sesama.  Dan terus kita ulangi untuk mengingatkan diri. Jangan beri kesempatan iblis untuk membiarkan kita menjadi orang Farisi. Tetap miliki passion (gairah) untuk full heart mengasihi Tuhan dan juga full heart  mengasihi sesama, tetap ingat kalimat  “Terimalah kasih.  Berilah kasih.  Terus ulangi demikian.“ sehingga kita menjadi anak Tuhan yang menjadi berkat buat sesama.