Sunday, March 4, 2018

Suara dari Seberang! (Misi Paulus ke Eropa)




Ev. Susan Kwok

Kisah 16:4-10
4  Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya.
5  Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya.
6  Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia.
7  Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.
8  Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas.
9  Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!"
10  Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.

Pendahuluan

              Kalau membaca kitab Kisah Para Rasul,  pasal 1 berbicara tentang Yesus naik ke sorga, pasal 2 berbicara tentang Roh Kudus turun, Rasul Petrus berkhotbah dan hari itu 3.000 orang bertobat, maka gereja kecil mulai bertumbuh. Setiap hari karena kehidupan mereka begitu menggambarkan kasih Tuhan, maka Tuhan menambahkan kepada mereka banyak sekali petobat baru. Intinya pada pasal 2-15 gereja berkembang walau pada pasal 7 ada penganiayaan yang membuat para rasul dan orang-orang percaya tersebar dari Yerusalem pergi ke kota-kota lain. Tuhan tidak menginginkan jemaat Tuhan menjadi eksklusif. Salah satu caranya adalah melalui penganiayaan yang dimulai dengan dibunuhnya Stefanus (Kisah 7). Tetapi penganiyaan itu tidak memadamkan semangat penginjilan dan memadamkan Roh Kudus yang bekerja menjangkau jiwa-jiwa. Gereja tidak mati  karena penganiayaan, tetapi gereja semakin besar ketika ada penganiayaan. Sebaliknya sejarah gereja membuktikan bahwa gereja akan mati ketika gereja hidup mapan (tenang-tenang saja), hidup stabil, semua terpenuhi, hidup makmur, tidak ada tantangan yang membuat mereka berteriak minta tolong kepada Tuhan, saat itu gereja akan melempem dan lama kelamaan mati. Itu sebabnya gereja perlu dianiaya, tetapi tentu ada dalam ketetapan (rencana) Allah, Allah yang tahu kapan harus berbuat dan bertindak untuk gerejaNya. Ketika kekristenan berkembang pesat, maka orang-orang yang percaya kepada Yesus, bukan saja dari golongan orang Yahudi (ada orang Farisi, ahli Taurat, suku-suku di Israel)  yang bertobat tapi Injil juga dipercaya oleh orang-orang non Yahudi (orang -orang di luar Israel, seperti orang-orang Romawi dan Yunani dan bangsa lain).

Tuhan Memberkati GerejaNya yang Bersatu

Tetapi ada masalah yaitu orang Yahudi sangat ekslusif. Dia tidak memperbolehkan orang -orang non-Yahudi masuk ke sinagoge (bait Allah) mereka dengan alasan itu hanya untuk orang Yahudi. Non Yahudi tidak boleh bersama-sama beribadah dengan mereka. Mereka mengharuskan orang non Yahudi, kalau mau menjadi orang percaya harus melakukan tradisi-tradisi dan upacara-upacara yang dilakukan oleh orang Yahudi. Mereka harus melakukan banyak hal supaya mereka nanti menjadi orang Yahudi dahulu baru mereka bisa menjadi orang Kristen. Itu sebabnya ada istilah yang muncul yaitu baptisan proselit.
Baptisan proselit adalah ketika orang non Yahudi dibaptis menurut cara Yahudi, maka ia menjadi orang Yahudi dahulu setelah itu ia baru menjadi orang Kristen dan diakui sebagai Kristen. Yang kedua harus dilakukan adalah sunat. Orang Yahudi harus disunat, sedangkan orang non Yahudi tidak mengenal sunat secara lahiriah (fisik). Mereka mengharuskan orang non-Yahudi disunat terlebih dahulu baru mereka boleh menjadi Kristen. Maka dalam sidang para rasul dan panatua diputuskan bahwa orang Kristen non Yahudi tidak perlu disunat dan tidak perlu melakukan upacara-upacara Yahudi untuk bisa menjadi orang Kristen. Itulah yang di dalam ayat 4 , Rasul Paulus dan Silas membawa misi (keputusan) ini untuk disampaikan ke banyak gereja pada waktu itu supaya jemaat-jemaat menurutinya. Tugas ini pasti susah , karena pikiran orang bermacam-macam, belum tentu mereka mau menerima. Tetapi Paulus dan Silas sangat antusias. Mereka memasang strategi harus ke kota mana terlebih dahulu. Mereka berpikir sangat strategis. Mereka menetapkan dan melakukan langkah-langkah supaya keputusan ini didengar oleh semua orang. Awalnya mereka melakukan perjalanan-perjalanan itu, semua diberkati Tuhan. Setelah mereka masuk ke kota A , kasih tahu keputusan-keputusan para rasul, berkhotbah dan menjelaskan, semua jemaat mendengar dan menurutinya. Maka jemaat pada pasal 5 diteguhkan dalam iman yang benar (bukan iman berdasarkan tradisi Yahudi) dan semakin lama semakin bertambah besar jumlahnya.
Pelajaran yang bisa dipetik, ketika gereja bisa bersatu maka kesatuan itu (visi , misi, hati , beban, iman)  sama-sama mau bergandengan tangan,berjalan, menuruti iman yang benar maka Tuhan akan membekati gerejaNya. Tetapi sebaliknya gereja yang tidak bisa bersatu (selalu cenderung untuk ribut, bertikai) tidak akan pernah bisa menjadi besar, maju dan di dalamnya berantakan dan orang di luar juga tidak respek dan tidak punya keinginan untuk masuk ke dalam. Karena baginya, “Dunia sudah susah untuk apa lagi masuk ke dalam gereja karena akan membuat kepala bertambah pusing”.

Bersatu di Dalam Perbedaan

              Ada sebuah cerita (bukan kejadian sebenarnya). Cerita ini saya baca waktu masih remaja. Ada dua orang ibu yang sedang ribut di pasar. Sewaktu ribut dan berkelahi , ada seorang teman mereka  yang berkata kepada keduanya, “Kalau mau ribut jangan di pasar. Pasar itu tempat orang untuk berdagang, tempat mencari uang (rejeki), mencari pelanggan (klien), jadi kalau ribut di sini nanti tidak ada yang mau belanja”. Akhirnya mereka berhenti dan bertanya, “Kalau begitu kalau kami ribut, harus ribut di mana?” Dijawab,”Kalau mau ribut, di gereja saja karena gereja itu memang tempat untuk ribut.” Ini cerita konyol, sinis, tapi menyindirinya cukup sadis. Ini cerita orang sekuler . Sebenarnya apa yang ingin mereka katakan? Mereka melihat bahwa di gereja banyak keributan (ribut A, B, C dsb-nya). Hari ini banyak gereja ribut karena ambisi pribadi atau motivasi yang tidak benar. Saya tidak bermaksud menghakimi, tetapi ada orang yang marah karena tidak terpilih menjadi majelis. Berbeda dengan di GKKK Mabes yang susah mencari majelis. Rupanya ia ada maunya kalau menjadi majelis (ada ambisi pribadi). Ketika ia tidak terpilih, ia merasa harga dirinya diinjak-injak. Baginya, menjadi majelis adalah sebuah prestise. Ia tidak mengerti pelayanan. Jadi majelis itu capai dan perlu banyak pengorbanan. Prestise kalau menjadi majelis, sepertinya berwibawa dan dihormati orang. Ketika tidak dipilih, dianggapnya teman-temannya menusuk dari belakang. Rupanya di gereja tersebut, kalau mau ada pemilihan majelis, seperti pemilihan DPR (walau tanpa politik uang tapi lobbynya kencang). Menurut peraturan bila ada 5 orang yang mengajukan nama satu orang, maka ia bisa dipilih. Saya berkata, “Kalau begitu lebih baik jangan ada pemilihan majelis, karena akan membuat gereja runtuh karena ada ambisi dan motivasi yang lain”. Gereja menjadi ribut karena ada jemaat ataupun orang yang hadir di gereja memiliki banyak perbedaan dan mereka menonjolkan perbedaan itu menjadi hal yang paling utama (bukannya memikirkan bagaimana bekerjasama tetapi mereka mempertajam perbedaan-perbedaan).
              Sekitar 3 bulan lalu, saya diundang untuk menyampaikan khotbah di salah satu arisan ibu-ibu orang Batak . Arisan ini dikelola oleh ibu-ibu kaya (The Haves). Mendengar mereka bicara, saya ternganga. Taraf mereka sangat tinggi. Ada yang bercerita, “Saya sudah bilang ke bapak saya kalau mau bantu masyarakat, jangan tanggung-tanggung, Kita buka Pom Bensin di sana, kan di sana belum ada SPBU.” Sepertinya bicaranya enak sekali. Membuat satu pom bensin sangat mahal biayanya. Sepertinya mendirikan SPBU sangat mudah. “Setidaknya 7-8 pom bensin kita dirikan”, katanya lagi. Saya tidak betanya darimana uangnya (semoga uang pribadi). Mungkin ia ingin memberikan shock therapy agar saya berkhotbah sesuai dengan kemauan dia. Dia berkata,”Saya paling tidak suka di gereja, karena Pak Pendetanya kuno sekali. Saya sudah berkata, ‘kalau khotbah harus begini-begini’”. “Maksudnya begini-begini bagaimana?“ tanya saya. “Begini Bu Pendeta. Kalau khotbah, banyaklah kasih kesaksian orang-orang. Kesaksian orang itu kalau dikhotbahkan banyak membuat kita semangat. Jangan buka lagi Alkitab.. Alkitab…Alkitab… Alkitab!”. Dalam hati saya berkata,”Kalau saya hanya kesaksian orang dan tidak kasih Alkitab, maka lebih baik buat CD atau apa saja. Oh.. mungkin dia mau kasih shock therapy buat saya,” Tetapi saya berdoa,”’Tuhan tolong saya dengan persiapan yang sudah saya lakukan, karena saya tidak tahu isi hati dan pergumulan mereka. Ingatkan saya kalau saya harus memberi contoh atau sesuatu supaya hati saya peka agar firman Tuhan yang disampaikan bisa masuk ke dalam hati mereka.” Saya tidak mau tertutup dengan masukan yang diberikan  tetapi saya juga tidak ingin tergoyahkan. Setelah berkhotbah , saya bertanya,”Bagaimana Ibu, apakah khotbahku kuno atau sudah modern sedikit?” Dia menjawab“Khotbah Ibu pendeta, sudah lebih sangat modern dibanding Pak Pendeta aku, tapi dibandingkan Pak Gilbert Lumoindong Ibu belum modern” Saya berkata,”Oh iya, saya tidak kenal dengan Pdt. Gilbert Lumoindong dan  saya hanya melihatnya di TV”. Orang Batak langsung berbicara jadi kita tidak perlu sakit hati. Tiap suku memang berbeda, jadi kita tidak perlu baper (bawa perasaan, red) dan sakit hati. Hal itu biasa saja.
              Contoh seperti ini bisa membuat jemaat tidak bisa bersatu. Ada jemaat yang berkata,”Pendeta itu saya tidak saya suka, ganti dia. Panggil pendeta yang lain.” Kalau datang pendeta yang lain dan dia tidak suka maka ganti lagi yang lain. Jadi kapan majunya kalau berdasarkan kesenangan? Pada ayat 4-5 Paulus berhasil datang ke kota-kota yang sudah ditentukan dan menyampaikan keputusan-keputusan para rasul. Jumlah jemaat bertambah banyak dan  sekarang mereka akan pergi ke tempat lain . Dikatakan pada ayat 6-7 Rasul Paulus mempunyai rencana yang baik untuk dari kota kota Frigria menyeberang ke kota Asia . Tetapi Roh Kudus mencegah sehingga mereka masuk ke Misia dan mau masuk ke kota Bitinia, tetapi Roh Kudus juga tidak mengijinkan. Jadi sampai 2 kali dikatakan Roh Kudus tidak mengijinkan (mencegah) mereka masuk ke Asia dan Bitinia. Akhirnya mereka pergi ke kota Troas. Di kota inilah Paulus mendapat penglihatan tentang suara dari seberang yaitu Makekonia.

Kekosongan yang Harus Diisi Tuhan Yesus

Makedonia adalah kota yang penting waktu itu karena Makedonia adalah  suatu propinsi (daerah) yang besar dengan ibukota Filipi. Ratusan tahun kota Makedonia telah menjadi pusat kekuatan militer untuk penjajah (Romawi) jadi bukan kota sembarangan yang bisa dimasuki. Orang-orang yang hebat ada di sana. Pasti banyak jendral dan pasukan. Kota ini adalah pusat budaya Yunani. Walau sudah diruntuhkan oleh Romawi, tetapi secara budaya Yunani tidak bisa diruntuhkan. Sehingga kebudayaan Yunani (helenisme), sekalipun penjajahnya Romawi tetapi cara berpikir, filsuf-filsuf yang ada dan budaya yang ada kiblatnya ke Yunani.  Sehingga bahasa pasarannya adalah  bahasa Yunani bukan bahasa Romawi sehingga Yesus terkadang masuk ke bahasa Yunani. Perjanjian Baru juga  diterjemahkan ke bahasa Yunani karena budaya Yunani begitu hebat mencengkram. Intinya, Tuhan menyuruh dia untuk datang ke Makedonia, melalui satu penglihatan di mana ada seorang yang berkata, “Menyeberang ke mari dan tolonglah kami.” Ini sesuatu yang luar biasa. Orang-orang  di sana bukan orang sembarang, akan banyak orang hebat, pintar, berbudaya, berilmu tinggi, tetapi mereka perlu untuk ditolong. Mereka mempunyai kekosongan yang tidak bisa diisi baik oleh kekuatan militer dan kepintaran yang ada. Ada kekosongan yang tidak bisa diisi kecuali oleh suatu pribadi yaitu Yesus Kristus!
              Ada satu pelajaran untuk kita semua yaitu manusia sepanjang zaman di dunia memiliki suatu kekosongan yang tidak bisa tidak harus diisi oleh satu pribadi yaitu Yesus, baru ia tidak merasa kosong lagi. Ilmu , kekayaan, kedudukan dan kekuasaan tidak bisa menggantikanNya dan  Allah tahu itu. Manusia sekalipun tidak menyadari atau tidak mau mengakui kekosongan, namun Allah tahu kekosongan itu ada dan harus diisi. Itu sebabnya Allah dalam mimpi memberitahu Paulus untuk membawa Injil kepada orang-orang yang ada di sana. Paulus punya rencana yang strategis, ia bukan orang bodoh tetapi orang pintar. Ia pemimpin yang hebat dan bukan pemimpin tanpa perencanaan. Ia tahu rencana, tujuan dan cara mencapainya. Tetapi kita lihat di sini sampai 2 kali Roh Kudus mencegah dan tidak mengijinkan, dan kepekaan Rasul Paulus sangat tajam sehingga ia tidak jadi datang ke tempat yang tidak diijinkan tersebut. Rencananya sebagai manusia adalah hal yang penting. Namun bagaimana rencana dia harus dipadukan (dikombinasikan) dengan apa yang Allah mau. Ia tahu Allah sedang mengintervensi dan memberi dia tugas khusus untuknya. Di sini kepekaan dia sebagai seorang rasul ditampakkan dan dibuktikan luar biasa. Sehingga akhirnya ia yakin bahwa mereka akan ke Makedonia (ayat 10b kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana).
              Setiap kita perlu membuat rencana dalam hidup tetapi kita perlu kepekaan dari Allah. Tidak semua rencana kita bisa dijalankan dan selaras dengan maunya Tuhan. Kadang bisa selaras kadang berbeda. Kadang Allah perlu membelokkan dan menyetopnya. Tidak ada rumus yang mudah untuk mengetahui apa yang Allah mau dalam hidup saya. Tidak ada generalisasi , tidak bisa kita mengambil kesimpulan umum bahwa setelah begini pasti begitu. Itu sifatnya pribadi sekali dan sifatnya adalah hubungan yang hidup dengan Tuhan. Masing-masing pribadi perlu tahu maunya Tuhan apa dengan saya. Hanya saya yang harus bergumul , punya hubungan dengan Tuhan untuk mengetahui maunya Tuhan.  Kita harus punya hubungan dengan Tuhan, tidak bisa mengikuti yang lain. Apa yang Tuhan mau untuk dia tidak sama dengan yang lainnya untuk pergumulan pribadi masing-masing. Sehingga hubungan yang hidup dengan Allah sangat penting.

Hubungan yang hidup

              Paulus, Lukas, Timotius, Silas yang ada  dalam perjalanan misi yang kedua ke Makedonia, mempunyai hubungan yang hidup dengan Tuhan. Hubungan yang hidup artinya hubungan yang bukannya ritual tetapi bersifat spiritual. Bukan sekedar ibadah, upacara, sekedar pergi ke gereja lalu selesai, tetapi bagaimana dan apa yang sudah dilakukan secara ritual, seremonial, ibadah , harafiah dan tampak luar, betul-betul dijalankan di dalam keseharian dan dalam seluruh aspek hidup kita. Bukan sekedar membaca Alkitab dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu tetapi bagaimana menghidupi firman Tuhan untuk kita dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekedar menghafal ayat Alkitab tetapi tidak menghidupinya. Bukan hanya sekedar datang ke gereja, tetapi sehari-harinya berbeda. Bukan hanya untuk hidup pribadi, tetapi juga untuk hidup sesama, pelayanan, keluarga dan komunitas. Itulah hubungan yang hidup. Allah memakai orang-orang yang berbeda. Paulus berbeda dengan Lukas, Timotius, Silas, tetapi perbedaan itu bisa disatukan karena punya hati yang sama yaitu  hati yang mau menyeberang menolong orang. Hati yang seperti hati Allah yang ingin menolong orang lain. Orang sering berkata,”Kita bisa menolong orang dan mau menolong orang ketika sudah tahu indahnya dan petingnya ditolong orang” Kalau kita tidak tahu itu maka sulit untuk menolong orang lain. Kalau kita menghidupi, tahu dan sadar bahwa keselamatan itu anugerah maka kita punya hati untuk membagikan itu kepada orang lain.
              Minggu lalu kami (saya dan mu shi) berlibur ke Bali dengan suami-istri jemaat gereja lain. Mereka senang bisa berbincang-bincang dengan kami. Suaminya walau sudah berumur tetapi masih sigap, senang jalan-jalan dan kesukaannya makan daging babi! Setiap hari kami makan daging babi, sehingga saya sampai berkata,”Aduh Pak, kalau kita lama-lama di Bali, kita bisa ke-babi-an. Lebih baik makan yang lain.” Namun waktu makan tetap babi lagi, saya sampai sudah mual. Sehingga kalau makan babi, saya bagi berdua dengan mu shi. Dia begitu suka dengan makanan babi sehingga begitu sampai dan mendarat di Bali , dia langsung mencari makanan babi. Terus makan babi membuat saya mual, sehingga berapa hari ini saya berhenti dahulu makan babi. Selain itu ia juga senang dengan berenang,  tetapi ia maunya berenang di pantai. Padahal di hotel ada kolam renang yang bagus dan besar. Ia berkata, “Setelah renang di laut lalu naik ke gunung.” Waktu sampai di pantai, anginnya kencang sehingga diingatkan agar jangan berenang ke tengah (ada batas berupa  bendera yang tidak boleh dilalui, namun saat renang batasan ini terkadang tidak disadari). Tetapi Bapak tersebut dan mu shi berdua tetap mau berenang. Sebelum berenang , kacamata mu shi dititip ke saya, jadi saat renang pandangannya buram. Saya hanya bercakap-cakap dengan istrinya yang suka bercakap-cakap. Istrinya sambil bercakap terus melihat ke suaminya. Ia kemudian berteriak-teriak ke suaminya walau jaraknya jauh, “Papa!! Naik!! Naik!!” Saya tertawa saja karena yakin suaranya tidak akan terdengar. Ia berkata,“Bu Susan, lihat mereka tambah ke tengah” Saya pun memperhatikan dan benar saja yang terlihat hanya tangan mereka saja padahal tidak ada lagi ombak besar yang membawa mereka ke pantai. Sebaliknya ombak malah membuat mereka bertambah jauh ke tengah. Hati saya menjadi tidak tenang. Karena tidak ada jalan pintas memberitahu mereka, saya ikut berteriak, “Naik!! Naik!!” Mendengar teriakan saya, barulah penjaga pantai mengeluarkan dan membunyikan pluit. Akhirnya ada wisatawan asing yang membantu mereka ke pantai. Ternyata mereka benar-benar sudah terseret ke tengah.  Mereka berdua sempoyongan setelah diselamatkan. Kondisinya memang berada dalam keadaan, “nyawa sudah di ujung tanduk”. Dalam kondisi seperti ini, baru manusia merasa sedang genting dan perlu diselamatkan.

Penutup

              Siapa di antara kita yang punya hati Allah yang peka? Hati yang bisa membuat telinga kita mendengar teriakan orang ataukah kita hanya duduk diam, memberikan teori atau berbicara saja dan tidak melakukannya? Saat mendengar permintaan tolong orang Makedonia , Rasul Paulus pun bertindak dengan datang ke Makedonia. Mungkin ada di antara keluarga kita, orang-orang dekat yang belum percaya.  Ada kekosongan dalam diri mereka dan hanya ada satu pribadi yaitu Yesus Kristus yang bisa menolong. Maukah kita datang kepada mereka dan menyampaikan Injil untuk menolong mereka?
             

No comments:

Post a Comment