Tuesday, May 13, 2014

Memberi Tak Menjadikan Miskin





Ev. Esther Kurniati

Amsal 11:24-26
24  Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
25  Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
26  Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum.
Amsal 21:13 Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.
Amsal 22:9   Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.
Amsal 28:7-8, 22
7  Orang yang memelihara hukum adalah anak yang berpengertian, tetapi orang yang bergaul dengan pelahap mempermalukan ayahnya.
8  Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah.
22  Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan.

Pendahuluan

                Di zaman dan kondisi yang sulit (tidak mudah mendapat pekerjaan dan orang kaya takut miskin walau hidup serba berkecukupan), tema “Memberi Tak Menjadikan Miskin” ini menarik. Di zaman ini, manusia cenderung berpusat pada diri sendiri (sulit memikirkan orang lain) dan banyak orang yang merasa mampu mengatasi masalah tanpa Tuhan. Di tengah kondisi seperti ini terdapat ada 2 kelompok manusia yakni :
-        orang mengindroktinasi (mensugesti) diri sendiri bahwa ia mampu. Jadi ia coba menenangkan diri sedemikian rupa bahwa “saya bisa melakukan dan mencukupi diri sendiri”
-        tenggelam dalam kebingunan, ketakutan dan akhirnya depresi.
Namun keduanya berpusat pada diri sendiri dan menyebabkan masalah psikis dan rohani tercampur.
Kata “memberi” sendiri memiliki pengertian yang luas. Kita bisa memberi kepada gereja dan orang di sekeliing kita. Tapi apapun yang diberikan, apakah tema ini relevan? Apakah tema ini terbukti? Bandingkan dengan filosofi dunia “siapa cepat , ia dapat”. Kita berpacu dalam apapun juga untuk mendapat keuntungan. Yang lebih cepat, lebih untung. Misalnya supir mikrolet dan angkot yang mengebut untuk rebutan penumpang. Atau prinsip ekonomi yang diajarkan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapat hasil yang sebesar-besarnya”. Filosofi-filosofi seperti di atas bertentangan dengan yang diajarkan Alkitab sehingga kita tertantang dengan tema di atas karena sudah banyak ditinggalkan. Amsal banyak memberikan pelajaran tentang bagaimana memberi kepada orang yang miskin. Hal ini perlu diperhatikan dalam menjalani kehidupan di Indonesia yang dilanda krisis kepedulian. Seperti adanya pemimpin daerah yang mobil koleksiannya saja berjumlah beberapa puluh (mengalahkan ruang pamer mobil) padahal masih banyak bayi yang tidak pernah merasakan enaknya susu. Sebagai jemaat Tuhan , mari kita memperhatikan orang-orang yang “miskin” (termasuk di gereja). Gereja bisa jadi “miskin” kalau tidak yakin Allah kita kaya.

Kekontrasan di Alkitab
Tema kita senada dengan Amsal 11:24 Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.  Ada bagian yang dkontraskan di kitab Amsal. Ayat sebelum dan sesudahnya dibandingkan dengan kontras walau ada juga yang hanya dibandingkan saja. Contoh : yang ini merah dan yang itu biru (kontras). Ada juga ayat yang saling mendukung. Yang ini biru, yang lain bilang benar yang ini biru. Orang yang punya harta untuk diberi dan disebarkan maka dia bertambah kaya. Ada yang menghemat secara luar biasa (kikir?)  namun selalu berkekurangan (ini kontras). Ada yang menahan gandum (ayat 26) dikutuki orang (dikontraskan), siapa yang banyak memberi berkat diberi kelimpahan (ayat 25). Filosofi Alkitab aneh tapi nyata! Apakah mungkin dengan banyak memberi, tidak menjadikan miskin?

3 Prinsip dalam Memberi dalam kaitannya dengan “Memberi Tak Menjadikan Miskin

1.     Apa yang kita punya (uang, harta  dll) bukan milik kita tetapi milik Tuhan. Sehingga Ayub berkata, "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Kita seringkali lupa dan menganggap bahwa kita punya harta karena kita rajin bekerja. Semakin rajin, semakin sering lupa bahwa kita bukanlah pemilik harta tersebut. Ada orang tua mahasiswa yang berkata, “Hari ini jangan banyak-banyak ayat Alkitabnya. Karena yang penting anak itu, bisa punya gelar dan itu pun karena di dunia ini tanpa gelar tidak dianggap. Yang penting kerja keras! Saya bila tidak bekerja keras tidak dapat. Orang bilang kalau berkata, tidak ke gereja tidak diberkati. Tapi tanpa bekerja? Dulu saya bekerja beberapa jam, sekarang bertambah lama sehingga dapat menjadi seperti sekarang.” Padahal semuanya bukan milik kita, kita hanyalah pengelola. Kita bukan siapa-siapa tapi diberikan kepercayaan untuk mengelola milik Tuhan termasuk uang. Dalam mendidik anak dalam hal keuangan, anak perlu mengerti tentang kecukupan. Saat anak merengek minta dibelikan barang yang sudah dimiliki, saya berkata, “Mama punya uang. Tapi masalahnya, uang mama ini adalah titipan Tuhan, karena itu punya Tuhan. Jadi waktu mau dipakai harus tanya dulu. Tuhan apakah cocok tidak untuk memakai uang untuk membeli mainan itu. Bukannya mainan sudah banyak, apakah perlu beli lagi?” Sehingga anak saya tidak merengek dan bergulung untuk meminta barang.  Perlu dibedakan antara “keperluan” dan “keinginan”. Untuk suatu keperluan akan disediakan Tuhan. Sedangkan untuk keinginan , kalau kita tidak punya tidak masalah karena kita hanya bisa mengelola. Yang berhak mengatur adalah Tuhan. Pada premarital conselling, saya bertanya, “Siapa yang berhak atur uang di rumah?” Di jawab , “Kaum pria karena mereka yang bekerja” . Ada juga yang berkata, “Yang bekerja”. Pada Alkitab dikatakan, yang mengatur adalah pemiliknya yaitu Allah. Allah yang berhak punya cara dan aturan main tentang apa yang kita punya. Pada waktu saya ganti mobil, anak saya yang besar berkata, “Ma rasanya tidak ada orang yang mau ganti mobil pergumulannya seperti mama”. Saya kumpulkan anak-anak dan bertanya, “Apakah perlu ganti mobil tidak?” Jadi waktu ganti mobil saya bertanya,”Untuk apa kita ganti? Untuk prestise?” Sehingga anak saya berkata, “Beli mobil ribet amat”. Saya menjawab, “Karena ini milik Tuhan , untuk apa ganti mobil? Semua milik Tuhan.” Kita hanyalah saluran berkat, Tuhan memberi lewat kita. Tuhan memberi kita, lalu kita berikan lagi ke orang lain. Tapi kalau lupa, kita seperti lautan mati. Semuanya untuk kita sehingga kita tidak mengalami indahnya Tuhan. Apakah mungkin memberi? Sangat mungkin, karena yang ada, bukan punya kita, maka berilah! Kecuali dalam memberi banyak salahnya misalnya : cara memberi salah. Itu salahnya kita. Allah yang sempurna, kalau Dia memberikan sesuatu , itu sempurna! Ayub yang begitu kaya, tahu prinsip ini. Meskipun semua meragukan apa yang dialaminya, dia menjawab, “Bukan saya tapi Tuhan yang berhak”. Kita tidak miskin, kita memberi karena Tuhan yang perintahkan dan  yang kita berikan itu semua kepunyaan Allah!

2.      Memberi memiutangi Tuhan, apapun yang diberi. Amsal 19:17 Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu. Jadi janganlah kita sombong kalau sudah memberi, karena yang diberikan itu milik Tuhan. Kita tidak punya apa-apa. Mama saya pekerja keras. Saya berusia 13 tahun ketika papa dipanggil Tuhan. Lalu mama bekerja sendiri dan  membuka toko pk 3.30 pagi. Ia bekerja keras sehingga bisa membesarkan anak-anaknya. Sekarang kalau kami berikan uang untuk mama , dia berikan ke cucunya. Saya katakan,”Ma, anak-anak senang dengan barang yang mama berikan ke mereka”. Ia hanya jawab, “Itukan uang dari kamu.” Tanpa mengetahui prinsip dasar bahwa segala sesuatu milik Tuhan, maka kita cenderung merasa kita ini hebat. Siapa yang memberi terbesar? Tuhan Yesus! Karena semua punya Tuhan. Kalau kita memberi, itu punya TUhan. Kita memiutangi dan Tuhan tidak pernah tidak membayar “utangNya” kepada kita. Tuhan tidak pernah berhutang. Tuhan bisa bayar yang kita berikan. Kalau kita dipercayakan Tuhan untuk memberi ke orang lain, maka apakah sulit orang tersebut membayar kembali ke kita? Tuhan itu kreditor yang selalu membayar tunai. Tuhan tidak pernah berhutang kepada saya. Dia berikan lebih banyak dan belum tentu dalam bentuk kas juga. Terkadang rasa humorNya tinggi. Saya merasa tidak layak tapi Dia buka jalan sedemikian rupa. Anak saya yang pertama, doanya seperti nya dijawab Tuhan persis seperti yang dia mau. Dari kecil sejak kecil, dia dapat apa yang dia doakan. Sehingga waktu dia ingin masuk ke sekolah yang notabene mahal, saya bilang dibayar pakai apa? Tapi Tuhan bukan jalan, selama sekolah, dia hanya bayar 1/3 atau ¼ dari yang lain dan tidak pernah dinaikan uang sekolahnya. Dia bisa berikan dengan caraNya sendiri. Kalau Dia beri perintah dan Dia akan mem-backup semua dan tidak pernah berhutang kepada kita. Seharusnya saat memberi, kita dengan semakin ringan memberi, karena tahu itu milik Tuhan. Allah itu Allah yang berdaulat. Gereja injili menekankan Allah adalah Allah yang berdaulat, bekerja dan punya. Ia adil dan memberikan janji serta menggenapinya. Di kitab Amsal kita menemukan banyak ayat tentang memberi. Contoh : Amsal 21:13; 22:9; 28:22. Orang yang kikir tergesa-gesa mengejar harta, dan tidak mengetahui bahwa ia akan mengalami kekurangan (Ams 28:22). Orang yang tidak sadar diri siapa dia. Semua milikkku dan bersandar pada diri sendiri. Dia terus mengejar harta itu. Tergopoh-gopoh, jiwanya tidak bisa tenang. Kalau teman bisa beli apartemen, dia juga ingin punya. Dia pikir kalau dikejar tidak akan kekurangan. Dia pikir ia bisa menjagai lumbungnya (ukuran kekayaan dulu dilihat dari agaris). Ketika harta miliknya ada dimana-mana, ia merasa tidak akan hilang. Kaum “the haves” (orang kaya) memiliki tekanan luar biasa dalam hidup mereka dan terikat pada harta itu. Ketika Tuhan memerintahkan untuk memberi, maka Tuhan minta kita tidak pelit. Amsal 28:8   Orang yang memperbanyak hartanya dengan riba dan bunga uang, mengumpulkan itu untuk orang-orang yang mempunyai belas kasihan kepada orang-orang lemah. Bandingkan dengan ayat 28:27 Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki. Itu sebenarnya cara kerja Tuhan. Yang berhak mengatur dan mengalokasikan uang kita adalah Dia. Jadi kita harus tunduk pada cara kerja Tuhan. Kita adalah saluran berkat untuk dibagikan. Tuhan bisa memberikan semuanya, berdaulat, tidak terjangkau cara pikiranNya. Pilihan di kita , apakah kita mau tunduk kepada Tuhan? Pengkhotbah 11:1 Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu. Kalau saudara tidak ingin sia-sia, maka seperti nasehat Salomo- raja yang penuh hikmat, nanti sesuai dengan kedaulatan Tuhan maka engkau akan mendapatkannya kembali. Tuhan tidak pernah berhutang kepada kita. Apa yang kita beri sama dengan memiutangi Tuhan.

3.  Kita tidak miskin karena kita punya status sebagai orang yang tidak mungkin “miskin”. Kita adalah anak dari Raja Diraja. Kita orang benar.  Amsal 29:7 Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya. Orang benar berbeda dengan orang baik. Orang benar seharusnya pasti baik. Tapi orang baik belum tentu orang benar. Orang baik belum tentu kenal Kristus, belum tentu milik Tuhan dan punya  kerajaan Sorga. Tetapi kita diubahkan menjadi orang benar, yakni dari orang yang berdosa , dibenarkan dan dosanya dihapus. Orangnya tidak kudus tapi dikuduskan. Kata “di” menunjukkan ke-pasif-an karena yang mengerjakan Allah. Benar karena kita milik Allah dan sorga. Identitas kita baru, itu tidak ada di agama apapun.  Kita focus pada 1 hal yang penting. Beda antara kita memberi dengan orang di luar Kristus memberi. Apakah kita berani bersaing dalam memberi? Kita gentar. Mereka memakai kaus putih lalu memegang sampah, memberi sana-sini sehingga ada anak yang pindah dari sekolah Kristen ke sekolah mereka yang digratiskan. Karena bagi mereka kalau amal banyak, akan pergi ke surga. Sehingga mereka berjuang. Kita karena yakin masuk sorga sehingga tidak berjuang. Memang benar, surga itu sdah pasti miliki kita. Tapi kita seringkali malu-maluin. Padahal kita adalah orang paling kaya di dunia ini, semua milik Bapa. Di Sekolah Minggu saya berkata, “Ibu Ester merasa paling bahagia karena paling kaya sedunia”. Anak-anak Sekolah Minggu protes, “Mobil ibu Ester apa? Rumahnya di mana?” Saya jawab, “Langit punya siapa? Tuhan. Tuhan adalah Bapa dari Ibu Ester.” Kita terkadang malu-maluin, warga surga tapi tidak seperti warga surga. Orang fasik tidak mengerti prinsip ini. Orang benar tahu status. Orang benar harusnya orang baik. Kalau tidak benar, status benarnya dipetanyakan. Jangan-jangan anak gereja tapi bukan anak surga. Orang benar sangat suka berbuat baik, karena hatinya diubah Tuhan. Amsal 21:26 Keinginan bernafsu sepanjang hari, tetapi orang benar memberi tanpa batas. LAI tidak mencantumkan kontrasnya secara harafiah, kalau orang benar dikontraskan dengan orang fasik  the weak man (dalam kitab bahasa Inggris). Orang fasik kalau punya keinginan rakus. Dikontraskan dengan kita anak Allah. Bukan berarti pulang dari gereja , rumah dijual lalu tidak punya apa-apa tetapi untuk memberi itu tidak merasa lelah dan tidak merasa cukup. Dari muda sampai tua terus memberi. Yang penting adalah identitas warga kerajaan sorga dengan kekayaan rohani (anugerah dari Tuhan). Orang benar memberi tanpa batas, karena dia tanpa batas. Orang yang belum dibenarkan, wajar kalau ia ketakutan. Karena belum tentu ia punya, karena sumbernya tidak jelas.

Kesimpulan

Apakah kita bisa memberikan tanpa jadi miskin? Pasti. Dia yang punya dan memberikan perintah itu (perintah untuk memberi). Waktu kita memberi, yang kita berikan itu punya Tuhan. Kita hanya saluran. Kita orang benar. Status kita diuji apakah kita orang benar atau kita baru di level orang baik yang berusaha menjadi orang baik untuk mendapat kavling di surga. Orang yang dapat kavling di sorga adalah orang benar. Kita harus buktikan, status kita dengan jadi orang baik. Namun ada yang berbuat baik karena kendala psikis. Ada orang yang terlalu baik sehingga dimanfaatkan orang. Dia selalu memberi. Ini something wrong. Setelah 3 sesi konseling, saya mendapat akar masalahnya. Jiwa orang ini, jiwa dari orang yan g minder. Ia perlu kebutuhan psikis untuk dihargai orang. Dia merasa berarti kalau memberi. Walau dia hutang sana sini, dan merasa benar, dengan memberi ke sana sini. Saat menjadi saluran berkat, maka pusatnya adalah Allah. Kita memberi , ternyata untungnya untuk kita, prestise dan ketenangan jiwa kita. Ketika memberi, kita tahu karena kita terlebih dahulu diberi, bukan untuk membuat kita tenang (berpusat pada diri sendiri). Ilustrasi : ada seorang kakek yang punya tongkat ajaib berkeliling desa. Anak-anak boleh minta apa saja dengan tongkat ajaib , namun setiap anak hanya boleh minta satu permintaan dan diberi kesempatan untuk memikirkannya satu malam. “Pikirkan malam ini, besok kakek datang. Sekali minta tidak boleh diganti”. Sehingga malam itu tidak anak yang tidur. Orang tua juga ikut tidak tidur. Karena sebenarnya orang tua yang tamak. Jadi ia sarankan untuk minta yang lebih mahal. Keesokan harinya, semua anak meminta dari tongkat ajaib. Ada yang minta sepeda dan minta yang mahal-mahal. Tinggal 1 anak yang tidak minta. Ditanya, “Kenapa tidak minta?” Ia merasa ragu tapi akhirnya berkata, “Saya sudah tahu apa yang mau saya minta, tapi apakah kakek akan menepati janji?” Kakek marah, karena diragukan. Dipanggillah para saksi dan sang anak diminta untuk mengajukan permintaannya dengan cepat karena kakek tersebut mau pergi ke desa lain. Akhirnya si anak berkata, “Saya hanya minta 1 hal. Saya minta tongkat kakek itu!” Rupanya dia pikir semalam, kalau minta motor atau mobil dikasih tapi hanya sekali. Kalau tongkat di tangan, maka bisa minta apa saja. Sorga punya kita , dan sorga bagaikan tongkat ajaib. Marilah kita hidup , supaya tongkat jadi berkat bagi kita semua.

Monday, May 5, 2014

Berilah Apa yang Ada Padamu



Pdt. Hery Kwok

1 Raja 17:7-16
7  Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu.
8  Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia:
9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."
10  Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum."
11  Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti."
12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."
13  Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu.
14  Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi."
15  Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
16  Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Pendahuluan

                Seorang pendeta yang melayani di suatu desa berkunjung ke jemaatnya. Saat berkunjung, ia bertanya ke jemaatnya, “Kalau Bapak diberikan motor, apakah Bapak mau memberikan motor itu untuk mendukung pekerjaan Tuhan?” Jemaat itu menjawab, “Ya, saya akan memberikannya untuk mendukung pekerjaan Tuhan.” Pendeta itu senang mendengar respon sang jemaat. Lalu ia bertanya lagi, “Kalau Tuhan memberikan sapi, apakah Bapak mau memberikan sapi itu untuk mendukung pekerjaan Tuhan?” Dijawabnya ,”Iya. Saya akan menjual dan memberikan hasilnya untuk pekerjaan Tuhan”. Sang Pendeta tambah senang.  Lalu sang pendeta mengajukan pertanyaan ketiga, ”Jika kamu punya dua ekor ayam, maukah kamu memberikan yang satu ke gereja untuk pekerjaan Tuhan?” Dijawabnya, “Maaf Pendeta, saya harus pikir-pikir dulu.”. Rupanya karena sang jemaat saat itu belum memiliki motor dan sapi, ia mau memberikannya. Namun untuk ayam, karena saat ini dia sudah memiliki dua ekor ayam dan dia tidak bersedia memberikannya , maka ia perlu memikirkannya dulu. Tema “Berilah Apa yang Ada Padamu” mengarahkan kita pada pertanyaan, “Apakah kita sudah mempunyai pandangan yang luas dalam memberi?” Dalam memberi bukan materi yang menjadi ukuran tetapi hati yang memberi yang menjadi kunci. Ibarat saat jatuh cinta, jangan hanya janji-janji saja tapi buktikan janjimu itu. Ungkapan itu menunjukkan, jika kamu benar-benar mencintai, maka berikan hatimu dalam bentuk yang nyata.

Cara Allah Menyatakan KebesaranNya

                Pasal  1 Raja 17 dilatar-belakangi kehidupan Nabi Elia di tengah bangsa Israel yang hidup dalam penyembahan berhala. Nabi Elia hidup dalam zaman Raja Ahab yang begitu bejat moralnya dengan menyembah berhala. Pasal selanjutnya, nabi Elia perang dengan nabi Baal yang jumlahnya 450 orang (1 Raj 18:22). Itu sebabnya seluruh negeri dan sekitarnya dipengaruhi penyembahan berhala dan membuat orang Israel sulit mengenal Allah dengan baik. Pasal 17 Allah memberikan pernyataan ke umatNya dalam peristiwa di mana Elia berdoa supaya Tuhan jangan menurunkan hujan dan hujan benar-benar tidak turun selama 3 tahun 6 bulan (Yak 5:17). Hal ini menunjukkan iman nabi Elia ke Allah dan kebesaran Allah membuktikannya. Berhala tidak bisa melakukannya tapi Allah bisa. Lalu peristiwa burung gagak membawa daging ke Elia (1 Raja 17:6 Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu). Bagaimana mungkin burung gagak yang suka daging tapi ia bisa membawa daging ke nabi Elia? Itulah gambaran Allah yang besar dalam kebesaranNya. Allah juga menyatakan kebesaranNya melalui seorang janda di Sarfat. (1 Raj 17:9 "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." Dalam menunjukkan kebesaranNya, Allah tidak memakai orang “besar” (hebat) tetapi serangkali memakai orang “kecil” untuk menyatakan kebesaranNya kepada dunia. Cara Allah menyatakan kebesaranNya berbeda dengan orang dunia, karena ia sering memakai orang kecil. Seorang nabi besar (Elia) dalam perjalanannya punya pergumulan sendiri. Sebagai hamba Tuhan, saya juga sering belajar dari iman jemaat yang secara kasat mata tidak diperhitungkan tapi taat (setia) dipakai Tuhan.

Di dalam cara Allah memakai janda dari Sarfat ada beberapa hal yang dapat dipelajari :

1.     Allah memakai janda dari Sarfat sebagai alat Tuhan dalam kondisi yang susah (1 Raja 17:7  Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu). Kemungkinan kekeringan saat itu sudah memasuki 2 tahun pertama dan merupakan perkara pelik. Kalau berkepanjangan , kekeringan itu bukan saja menyengsarakan manusia, tapi pohon dan hewan juga akan mati dan mengakibatkan manusia tambah susah. Keterbatasan materi dari janda ini dapat ditemukan pada ayat 10 (Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api)  dan 12 (Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati."). Dalam kondisi susah, justru kebesaran Allah sungguh nyata dalam kehidupan orang percaya. Di dalam kondisi yang tidak mungkin, Allah bisa menyatakan kemulianNya sedemikian hebat kepada orang percaya. Jangan berpikir, saat “kekeringan” menghadang Allah membuat kita susah, tapi sebaliknya Allah pakainya agar kita melihat kemuliaanNya. Mungkin kekeringan yang dialami adalah kekeringan dalam bidang ekonomi (keuangan), kesehatan kita dan lainnya. Kebenaran Firman Tuhan menyatakan, justru dalam kondisi susah , Tuhan memakai janda dari Sarfat untuk menyatakan kemulianNya. Padahal saat susah, kita sering banyak mengeluh. Hal ini normal karena kita manusia. Tetapi yang yang dianggap “normal” ini,  bisa menutup mata rohani kita akan karya Allah yang sedang dikerjakan. Pelajaran pertama, janda dari Sarfat memberikan dari apa yang ada padanya walau dalam kondisi kesulitan. Waktu memiliki dalam jumlah berlebih, tidak terlalu sulit bagi kita untuk memberikan sesuatu. Sebaliknya waktu kita kekurangan, untuk memberikan sesuatu merupakan ujian yang berat. Itu sebabnya dalam kitab Injil Yesus memuji janda yang memberikan persembahan sebanyak 2 peser (satu duit) dibandingkan orang kaya yang memberikan sedemikian banyaknya (Lukas 21:3, Markus 12:43). Kitab suci tidak menjelaskan pemberian kecil diterima Allah sedangkan pemberian besar tidak, tetapi kitab suci mengatakan janda ini mau memberikan dirinya kepada Allah.

2.     Bagaimana ketaatan janda ini pada janji Allah. 12 Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." Waktu kita baca ayat 12 ada 2 kata yang menarik yakni segenggam (tepung di dalam tempayan) dan sedikit (minyak dalam buli-buli). Ini menunjukkan kondisi bahwa janda ini benar-benar susah. Menurut penafsir, kemungkinan janda ini sebelumnya mungkin orang kaya karena ia punya rumah yang berloteng seperti yang tertulis pada ayat  19  Kata Elia kepadanya: "Berikanlah anakmu itu kepadaku." Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya. Beberapa penafsir mengatakan kemungkinan besar janda ini jatuh bangkrut dan mengalami hal yang susah sekali. Tidak mudah orang memberikan apa yang tinggal di dalam dirinya, kalau tidak ada keberanian untuk taat. Ketaatan inilah yang harus dibangun dalam persekutuan dengan Tuhan. Ketaatan itu tidak langsung didapat, tetapi melalui proses dalam persekutuan dan relasi antara kita dengan Dia. Waktu Yusuf digoda istri Potifar, ia tidak berzina karena ia mendengar firman Tuhan dari ayahnya (Yakub) sejak kecil. Kita perlu berdoa karena itulah yang membantu kita belajar taat kepada Allah. Hidup di dunia susah dan penuh godaan untuk kita berbuat jahat.  Bagi seorang pengacara ,yang paling susah dari profesinya adalah bagaimana menghindarkan “politik uang” untuk memenangkan kasus yang ditangani. Pergumulan orang percaya dalam dunia adalah tidak mudahnya untuk taat kepada Tuhan. Sama susahnya waktu janda dari Sarfat bergumul tentang “segenggam” dan “sedikit” untuk diberikan. Karena seperti tertulis pada  ayat 12, taruhan ketaatannya adalah dia dan anaknya akan mati.  Sekarang ini, saya tidak pernah mendengar ada orang mau memberi sampai mati untuk Tuhan dan berkata,”Pa saya persembahkan buat Tuhan, lalu saya dan keluarga saya akan mati”. Sedangkan ketaatan janda dari Sarfat merupakan pergumulan antara hidup dan mati. Tetapi ayat ke 15 dikatakan “Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya” . Janda itu pergi berbuat seperti yang dikatakan nabi Elia. Ketaatan ini dibuktikan dalam langkahnya, karena ia mempunyai dasar pada ayat 14 tentang janji Tuhan yang terkadang sulit diterima akal kita. Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.Artinya “segenggam” dan “sedikit” menjadi “berlimpah” dan “banyak” dan orang percaya dikuatkannya saat menghadapi pergumulan dalam hidupnya. Waktu janda ini memberikan apa yang ada padanya, sebenarnya Alkitab menceritakan bahwa ia memberikan hatinya buat Tuhan. Itulah yang mahal di mata Tuhan. Kadang waktu melihat contoh yang diberi jangan terjebak pada materi semata (kuantitas besar dan kecil). Tetapi mari kita lihat isi dan kualitas yaitu hati yang memberi. Kalau Allah memberikan kita untuk memberi besar, jangan takut untuk memberi besar. Waktu Allah memberikan materi yang “tidak berlimpah” tapi memberi dalam kekurangan , justru Allah memperhitungkan hati kita. 

Kesimpulan

1.     Allah dapat menyatakan kemulianNya dalam kondisi apa pun. Sehingga saat kita punya keyakinan Allah sanggup melakukan perkara yang tidak mungkin, apakah kita mau taat? Saat dilakukan renovasi gedung gereja GKKK Mabes tahap pertama, ada pergumulan tentang kebutuhan dana untuk renovasi. Kalau dana sudah tersedia, maka renovasi bukan hal yang sulit. Tapi dalam kesulitan, lalu kita berteriak maka Allah akan menunjukkan kemulianNya. Renovasi ini untuk pekerjaan Tuhan , sehingga kita belajar taat dan kita bertanggung jawab dalam hal penggunaan dana yang terkumpul. Saat harus memberi, janganlah kita pelit kepada Tuhan karena disitulah kita menunjukkan hati kepada Tuhan. Jadi waktu Allah mau memakai kita seperti memakai janda dari Sarfat, maka kita akan melihat Allah memakai kita dalam berbagai pekerjaan Allah.

2.     Maukah  kita dipakai Allah dalam memberi untuk menyatakan kemulianNya? Saya dan shi mu diajak makan oleh teman. Ia terbeban untuk membantu beban renovasi tahap kedua. Waktu saya ucapkan terima kasih, dia mengucapkan bahwa “Tidak usah kamu ucapkan terima kasih atau tidak enak, tetapi Allah telah memakai doa kalian berteriak sehingga membuat saya ikut terlibat”.  Bangunan gereja kita sudah 15 tahun tidak pernah direnovasi sedikitpun setelah cicilan pinjaman untuk dana pembangunan selesai dilunasi. Dana pembangunan yang dibutuhkan baru lunas 12 tahun lalu sehingga kita tidak bisa merenovasi dengan baik. Itu pergumulan dari pendahulu sampai selesai mendirikan bangunan. Saya terharu. Kita sebagai generasi kedua dipakai untuk merenovasi gedung ini. Pdt Suryawan Edi berkata, “Kadang saya melihat iman dari orang dahulu hebat sekali”. Allah memakai mereka dengan iman dan visinya sehingga punya bangunan gereja untuk diwariskan ke generasi selanjutnya yaitu kita. Mari kita belajar dari janda dari Sarfat untuk memberikan apa yang ada pada kita.

Monday, April 28, 2014

Iman Sejati Versus Iman Palsu

Ev. Jimmy Lukas *)

Yoh 3:1-13
1   Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.
2  Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."
3  Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."
4  Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"
5  Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
6  Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.
7  Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.
8  Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."
9  Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"
10  Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?
11  Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.
12  Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?
13  Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Roma 10:17  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Yak 2:14-17
14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
15  Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
16  dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!," tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
17  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Pendahuluan
Iman adalah topik yang menarik, mengandung kontroversi dan sering diperdebatkan dalam kehidupan kekristenan. Tidak ada yang berdebat tentang “orang Kristen seharusnya adalah orang yang beriman”. Namun bagaimana orang Kristen harus beriman dan bagaimana menerapkan iman dalam kehidupan sehari-hari banyak diperdebatkan. Adik seorang teman yang berada dalam kondisi pailit mengalami musibah karena anaknya sakit. Ia kemudian membawa anaknya ke rumah sakit terbaik di kotanya. Anaknya dirawat di sana sampai sembuh dengan biaya biaya Rp 10-15 juta. Karena ia tidak bisa membayar tagihan rumah sakit, anaknya disandera rumah sakit sampai tagihan dilunasi. Ia pun menelepon saudara-saudaranya meminta bantuan. Sewaktu ditanya, saat memasukkan anaknya ke rumah sakit tersebut apakah ia tidak memikirkan biayanya? Ia hanya menjawab bahwa ia melakukannya dengan iman. Apakah benar melakukan sesuatu secara sembarangan dikatakan beriman? Melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang dikatakan beriman? Jadi apa beda antara iman dan nekat? Orang yang beriman pecaya bahwa Tuhan akan menolongnya sedangkan, orang yang nekat tidak memakai perhitungan (lakukan dulu)? Mama saya berkata bahwa saya merupakan anaknya yang paling ‘ngotot’ dan kalau mengatakan  sesuatu harus dilakukan. Ia pernah bertanya , “Kamu seorang hamba Tuhan mengapa tidak beriman?” Saya menjawab,” Ma, saya kan rohaniwan masa tidak tahu beriman?” Ketika melakukan sesuatu, orang yang kelihatannya berserah dan bersandar kepada Tuhan tanpa melakukan apa-apa dikatakan beriman sedangkan orang yang ngotot kerja dibilang tidak beriman.

Iman Sejati dan Iman Palsu.

Terdapat beberapa karakterisitik dari iman sejati, 3 di antaranya adalah :

1.     Iman sejati melahirkan kembali. Yoh 3:14-21 merupakan bagian Alkitab tentang apa yang Tuhan Yesus lakukan untuk menyelamatkan manusia. Banyak orang (termasuk kita) mengaku percaya kepada Yesus. Saya baru pulang dari melayani KKR para siswa di Pontianak selama 4 hari 3 malam di Pontianak. Pada acara tersebut saya sampaikan bahwa semua manusia telah berdosa, upah dosa adalah maut, tidak ada manusia yang bisa menyelamatkan diri sendiri sehingga pasti manusia masuk ke neraka dan satu-satunya solusi untuk mengatasinya adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan dilahirbarukan kembali. Para siswa yang datang bukan saja dari Pontianak tapi juga berasal dari seputar Kalimantan Barat dan  mereka kebanyakan berasal dari “aliran keras” di mana orang tuanya sulit untuk mengijinkan anak datang kepada Tuhan Yesus dan mereka enggan menjadi Kristen. Namun mendengar berita Injil yang disampaikan saat KKR, mereka maju ke depan altar dan langsung percaya. Namun berdasarkan pengalaman perlu ditindaklanjuti apakah mereka benar-benar percaya kepada Tuhan Yesus. Karena ada yang berkata, “Saya mau percaya agar bisa masuk sorga bukan karena Yesus.” Sama seperti ada orang takut hukuman dosa tapi bukan dosanya. Itu ketakutan atas hukuman, begitu mendapat keselamatan dari Yesus dan merasa sudah bebas, jadi tidak takut lagi lalu besok kembali melakukan dosa. Tapi kalau mengerti tentang dosa dan jahatnya dosa, dosa adalah dosa dan kita harus menyesali serta tidak lagi melakukannya, walau hal ini sulit. Banyak yang percaya, iman yang sejati adalah iman yang melahirkan kembali. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus sungguh-sungguh, pasti dilahirkan kembali. Berdasarkan Yohanes 3 dikatakan bahwa orang masuk ke sorga karena percaya Yesus, itu doktrin keliru. Yang benar, orang masuk sorga karena dilahirkan kembali. Masalahnya bagaimana bisa lahir kembali? Dengan percaya kepada Yesus dengan sungguh-sungguh, baru dilahirkan kembali dan masuk ke dalam kerajaan surga. Iman sejati melahirkan kembali. Tidak semua orang Kristen adalah saudara seiman, kalau ia sudah lahir baru, baru saudara seiman. Kalau tidak lahir baru, ia hanya mengaku-ngaku saja. Untuk mengetahui orang yang lahir baru ibarat angin yang tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan. Ada sepasang suami istri datang mau cerai, namun sebelum bercerai, mereka diminta untuk mengikuti konseling dengan saya. Sang suami orangnya keras dan bersikeras mau cerai. Istrinya tidak mau cerai. Mereka berbeda usia hampir 15 tahun. Sang suami jelek, miskin, tidak berpendidikan. Kebalikannya dengan istri yang cantik, dari keluarga kaya dan berpendidikan tinggi. Anehnya yang mau bercerai adalah suaminya karena merasa tidak bahagia. Padahal bahagia baru terjadi, kalau keduanya mau memperjuangkan rumah tangga mereka walau pasti ada gesekan. Tapi dengan komitemen pasti membaik. Sang suami tetap ingin bercerai, karena dia merasa tidak bahagia. Yang penting dirinya bahagia walau itu berarti membuat keluarganya tidak bahagia. Setelah beberapa bulan, istrinya menyerah dan berkata, “Kalau suami mau cerai tidak apa-apa. Tetapi harta dan pabrik milik saya karena atas nama saya” sehingga sang suami tidak dapat apa-apa! Menyadari hal tersebut, sang suami tidak jadi minta cerai. Beberapa bulan kemudian, sang istri menjadi percaya kepada Yesus dan mengubah keputusannya. Ia tidak mau bercerai dan mau memperjuangkan pernikahannya. Setelah percaya, ia berubah. Usahanya dijalankan dengan benar, ia lebih berbelas kasihan, dia mempertahankan suaminya sebab Alkitab tidak memperkenankan perceraian. Begitu ketemu Yesus, perspektif dan hidupnya berubah. Mereka  menjadi pasangan yang serasi. Suaminya juga berubah dan menjadi percaya. Di status BB suaminya tertulis ,”I love Jesus”. Namun setelah suaminya berhasil menguasai harta sang istri , ia kemudian kembali mau cerai. Keduanya percaya Yesus, namun berbeda imannya (yang satu palsu yang lain sejati). Iman sejati menghasilkan kelahiran baru. Kalau tidak lahir kembali, berarati tidak punya iman sejati dan  tidak bisa masuk ke dalam kerajaan surga. Masuk surga tidak gampang, beriman tidak gampang. Iman sejati melahirkan kembali. Setelah 10-20 tahun ke gereja dan kelihatannya  dari luar begitu saleh / baik, pertanyaannya apakah aku sudah dilahirkan kembali? Kalau belum inilah saat dilahirkan kembali, serahkan hidup dan bersandar kepada Yesus.

2.     Iman sejati lahir dari relasi. Banyak orang berpikir iman lahir dari pengetahuan namun setuju dengan fakta Alkitab tidak berarti beriman. Banyak orang bingung, mengapa setuju dengan kata Alkitab belum tentu beriman. Contoh : Pangeran Diponegoro (1785-1855) pernah hidup di Indonesia. Namun apakah ada yang beriman kepada Pangeran Diponegoro? Semua orang Kristen percaya Allah yang kita sembah adalah Jehova Rapha (Allah yang menyembuhkan). Kalau kita sakit, apakah Allah mau menyembuhkannya sekarang? Allah sanggup menyembuhkan, tapi berbeda dengan apakah Allah mau menyembuhkan. Pernyataan yang kita pergumulkan adalah pernyataan yang kedua. Allah kita adalah Allah yang menyembuhkan , memberkati, menjaga, melindungi tapi apakah Ia mau menyembuhkan, memberkati, menjaga dan memberkatiku? Kenapa penyakit tidak sembuh-sembuh? Iman sejati bukan iman yang diakselerasi dan berdasarkan keyakinan sugesti. Dalam seminar motivasi dikatakan,”Kalau kamu percaya bahwa kamu bisa, maka kamu pasti bisa!” Itu namanya disugesti. Seperti juga saat ada yang sakit dikatakan, “Allah akan menyembuhkan penyakitmu.  Amin?” Itu sugesti. Itu bukan iman sejati. Sugesti memaksakan segala sesuatu. Ada yang mengklaim, Yesus adalah Raja dan kita adalah anak Raja, lalu roh miskin ditengking. Itu sugesti, bukan iman. Iman sejati lahir dari relasi. Roma 10:17  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Alkitab itu adalah logos yang tertulis, tersistematis dengan baik. Logos adalah pengetahuan yang dibukukan , disistematiskan dengan baik, sedangkan pendengaran pengertiannya dari  perkataan yang terucap. Contoh : menerima surat cinta itu pribadi sifatnya, tapi hubungannya tidak langsung (versi sekarang dengan menggunakan BlackBerry / BB). Sepasang suami istri makan di restoran, keduanya menggunakan BB dalam berkomunikasi. Suami (ketik pesan di BB) : Mau makan apa? lalu kirim pesannya (send). Dijawab istri lewat BB : Terserah (send). Suami : Makan ayam?  (send). Istri : Boleh juga (Send). Suami : Baby kaylan? (Send). Di sini ada komunikasi tetapi lewat media tulis-menulis (logos), berbeda dengan omong langsung (rhema). Ketika ada hubungan pribadi, tingkat kepercayaan bertambah. Kalau seperti contoh , maka antara suami-istri, lama kelamaan jarang bicara.  Berbeda kalau saling mendengarkan dan bicara, lama-lama ada kepercayaan. Saya mulai menjadi pengkhotbah keliling dari tahun 2008. Sebelumnya saya pelayanan sebagai hamba Tuhan tetap di gereja. Saat itu jumlah jemaat dan yang ikut PD bertambah, semuanya dihitung dengan angka. Lama-lama saya jadi stress (depresi). Pernah sewaktu nonton TV, walau gonta-ganti saluran TV tapi saya tidak menonton, sehingga istri saya menepuk saya dan bertanya, “Kamu kenapa?”. Setelah diteliti ternyata saya stress dan tidak tidur selama 2 malam. Saya berdoa. Dilihat dari sisi pendapatan, kondisi keuangan dan pelayanan tidak ada masalah. Kemudian saya ikut seminar di Singapore dan Tuhan berbicara ke saya sehingga saya tahu jawabannya yakni Tuhan mau saya jadi pengkhotbah keliling.  Hal itu berarti saya harus keluar dari gereja, tidak punya gaji, fasilitas, tunjangan alias tidak punya apa-apa (totally zero). Istri bertanya, “Kamu yakin itu maunya Tuhan?” Saya menjawab,”Yakin”. Istri bertanya lagi, “Yakin dari Tuhan?” Kembali saya menjawab, “Yakin. Kalau tidak yakin, kita tetap di gereja ini.” Istri saya berkata, “Kalau dari Tuhan, kalau kamu lapar saya juga lapar, kemana kamu pergi saya juga pergi”. Sehingga kita memutuskan keluar dari pelayanan di suatu gereja secara tetap. Hubungan yang membuat istri berkata, “Saya ikut kamu kemana pun”. Karena sudah sering bersama, berdialog, berdiskusi, sehingga ia percaya kepada suami. Tetapi sekalipun suami berkecukupan, tapi kalau komunikasi dan relasi tidak ada, maka istri tidak bisa percaya dan kalau pulang malam, ia akan bertanya-tanya. Iman sejati dihasilkan dari relasi, ketika percaya maka akan mendengar suara Allah dan berpegang pada Allah. Saat ada yang sakit datang minta saya doakan , ada beberapa yang sembuh dan ada juga yang meninggal.  Kalau waktu berdoa, saya merasa “kosong” maka saya berdoa, “Berilah yang terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan” dan ternyata orangnya meninggal. Tapi kalau yakin sembuh saya berdoa, “Tuhan, Engkau Jehova Jireh, di dalam nama Yesus sembuh.” Hal ini tidak mudah. Setiap hari saya menjalin hubungan dengan Allah, membaca Alkitab dan berdoa. Malamnya saya mengajak anak-istri berdoa. Pk 3 pagi bangun berdoa. Sehingga dalam menghadapi kasus kehidupan, kita bertanya, “Apa itu yang Tuhan mau?” Kita imani apa yang Tuhan beri, bukan apa yang kita minta yang kita imani. Dengan membangun relasi dengan Allah, iman sejati muncul dan selanjutnya mempercayai apa yang Tuhan mau.

3.     Iman sejati menghasilkan aksi. Yak 2:14-17.  Banyak orang yang setelah percaya lalu diam (tidak melakukan perbuatan apa pun). Yakobus berkata "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak 2:18b). Iman sejati menghasilkan perbuatan (melahirkan aksi). Kalau percaya, kita akan bertindak. Iman tidak mungkin mendorong seseorang untuk tidak bertindak. Ada konselor yang berkata,”Apa yang dipikirkan orang berdampak besar pada apa yang akan dilakukan”. Ada seorang guru yang melakukan penelitian terhadap siswi yang cantik. Ia berdiri di depan sekolah dan setiap kali bertemu dengan siswi tersebut, ia berkata bahwa sang siswi jelek. Reaksi sang siswi pada awalnya tidak percaya dan hanya berkomentar ,”Ah Bapak”. Tiap hari saat ketemu sang siswi, sang guru berkata hal yang sama. Pada hari pertama dan kedua, sang siswi masih berpenampilan rapi. Pada hari yang ketiga mulai kusut. Hari keempat penampilannya berantakan. Hari kelima, mukanya acak-acakan. Begitu ketemu lagi sang guru pada hari keenam, sang siswi berkata,”Saya tahu saya jelek.” Apa yang diyakini orang, melahirkan aksi. Ada sebuah gereja di Tebing Tinggi yang mau memugar dan memperbesar gerejanya. Duit yang ada berupa dana abadi sebesar Rp 100 juta, sedangkan dana yang diperlukan sebesar Rp 5 miliar! Majelis gereja itu bertanya, “Apakah pendeta yakin?”. Sang pendeta berkata,”Iya. Ini kehendak Tuhan!” Karena ini kehendak Allah, pasti Tuhan akan sediakan. Tapi walaupun majelis sudah percaya bahwa hal itu adalah kehendak Tuhan, tidak ada yang mau bergerak. Kemudian sang pendeta mulai bernisiatif. Ia membawa paduan suara ke gereja-gereja lain tempatnya diundang khotbah dan mencari dana. Jemaat bersikap skeptis. Tapi sang pendeta terus berindak walau majelisnya berkata, paling hanya dapat Rp 1 juta . Waktu dibuka ternyata mendapat dana sebesar Rp 10 juta. Majelisnya kaget. Lalu di kemudian hari ada juga yang memberi Rp 250 juta! Jadi apakah majelisnya punya iman?  Tidak punya karena tidak punya aksi. Iman menghasilkan aksi.  Kalau percaya mau diberkati, bekerja keraslah, berhemat dan lakukan yang perlu. Kalau ingin Allah menyembuhkan, jangan diam-diam saja tapi carilah dokter (dan pengobatan). Ada yang beriman bahwa Tuhan akan sembuhkan penyakitnya dan tidak mencari dokter sehingga akhirnya meninggal. Ada yang berdoa minta Tuhan berkati ladangnya karena  tidak ada hujan. Selain itu ia harus mencoba misalnya dengan mengambil air dari sungai dan buka sungai. Jangan atas nama iman tidak melakukan apa-apa. Buat yang tidak mau beraksi , orang itu tidak akan melihat pertolongan Allah.
                                                                                                                                                                                                               
Ada seorang laki - laki yang tinggal di dekat sebuah sungai. Bulan - bulan musim penghujan sudah dimulai. Hampir tidak ada hari tanpa hujan baik hujan rintik-rintik maupun hujan lebat. Pada suatu hari terjadi bencana di daerah tersebut. Karena hujan turun deras agak berkepanjangan, permukaan sungai semakin lama semakin naik, dan akhirnya terjadilah banjir. Saat itu banjir sudah sampai ketinggian lutut orang dewasa. Daerah tersebut pelan-pelan mulai terisolir. Orang - orang sudah banyak yang mulai mengungsi dari daerah tersebut, takut kalau permukaan air semakin tinggi. Lain dengan orang-orang yang sudah mulai ribut mengungsi, lelaki tersebut tampak tenang tinggal dirumah. Akhirnya datanglah truk penyelamat berhenti di depan rumah lelaki tersebut. “Pak, cepat masuk ikut truk ini, nggak lama lagi banjir semakin tinggi”, teriak salah satu regu penolong ke lelaki tersebut. Sang lelaki menjawab: “Tidak, terima kasih, anda terus saja menolong yang lain. Saya pasti akan diselamatkan Tuhan. Saya ini kan sangat rajin berdoa.” Setelah beberapa kali membujuk tidak bisa, akhirnya truk tersebut melanjutkan perjalanan untuk menolong yang lain. Permukaan air semakin tinggi. Ketinggian mulai mencapai 1,5 meter. Lelaki tersebut masih di rumah, duduk di atas almari. Datanglah regu penolong dengan membawa perahu karet dan berhenti di depan rumah lelaki tersebut. “Pak, cepat kesini, naik perahu ini. Keadan semakin tidak terkendali. Kemungkinan air akan semakin meninggi. Lagi-lagi laki-laki tersebut berkata: ” Terima kasih, tidak usah menolong saya, saya orang yang beriman, saya yakin Tuhan akan selamatkan saya dari keadaan ini. Perahu dan regu penolong pun pergi tanpa dapat membawa lelaki tersebut. Perkiraan banjir semakin besar ternyata menjadi kenyatan. Ketinggian air sudah sedemikian tinggi sehingga air sudah hampir menenggelamkan rumah-rumah disitu. Lelaki itu nampak di atas wuwungan rumahnya sambil terus berdoa. Datanglah sebuah helikopter dan regu penolong. Regu penolong melihat ada seorang laki-laki duduk di wuwungan rumahnya. Mereka melempar tangga tali dari pesawat. Dari atas terdengar suara dari megaphone: ” Pak, cepat pegang tali itu dan naiklah kesini. “, tetapi lagi-lagi laki-laki tersebut menjawab dengan berteriak:”Terima kasih, tapi anda tidak usah menolong saya. Saya orang yang beriman dan rajin berdoa. Tuhan pasti akan menyelamatkan saya. Ketinggian banjir semakin lama semakin naik, dan akhirnya seluruh rumah di daerah tersebut sudah terendam seluruhnya. Lelaki tersebut akhirnya mati tenggelam. Di akhirat dia dihadapkan pada Tuhan. Lelaki ini kemudian mulai berbicara bernada protes:”Ya Tuhan, aku selalu berdoa padamu, selalu ingat padamu, tapi kenapa aku tidak engkau selamatkan dari banjir itu?” Tuhan menjawab dengan singkat: “Aku selalu mendengar doa-doamu, untuk itulah aku telah mengirimkan truk, kemudian perahu dan terakhir pesawat helikopter. Tetapi kenapa kamu tidak ikut salah satupun?”

Sebuah cerita menarik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita bekerja dan selalu melakukan doa kepada Tuhan. Dan Tuhan sudah sering mengirimkan “truk”, “perahu”, dan “pesawat” kepada kita, tapi kita tidak menyadarinya. Jangan berlindung di belakang kata “iman” untuk menutup kemalasan dan ketidak percayaan. Kalau beriman do something (lakukan sesuatu).  Dulu saya pernah jadi kernet (pembantu supir angkutan umum), pemulung, tinggal di bilik kecil tanpa jamban. Setelah percaya Yesus, Dia menghendaki yang terbaik untuk anakNya dan kalau mencintai Yesus, saya akan memberi yang terbaik buat Yesus. Setiap aksi yang dilakukan menunjukkan kesungguhan. Saya bukan orang baru di gereja Injli dan telah berkhotbah di Australia, Singapore, Malaysia dan seluruh Indonesia dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris. Saya sudah berkhobah 20 tahun dan sekarang tidak jalan kaki. Saya tidak kaya dan sekarang tinggal di Kelapa Gading. Tapi bukan berarti kalau kurang dari itu artinya kurang beriman. Kalau beriman, maka berikan (bukan terima) yang terbaik. Jangan ongkang-ongkang kaki saja. Iman bukan masalah apa yang kita percaya tentang Allah yang ada bersama kita (bukan fakta saja), tapi juga melakukan perbuatan dengan pantas. Suatu kali ada kebakaran yang besar, asapnya banyak sekali, tebal dan gelap. Di dalam rumah yang terbakar ada seorang anak kecil yang tertinggal dan ia lalu berteriak, “Papa tolong, pa!”. Sang Papa bilang, “Nak lompat!” Anaknya berkata, “Pa, saya tidak lihat bisa lihat apa-apa. Asapnya tebal.” Papanya menjawab, “Tidak apa-apa. Saya bisa melihat kamu. Lompat!” Akhirnya sang anak melompat dan selamat. Dalam kehidupan, terdapat begitu banyak asap yang menghalangi pandangan kita. Tapi jangan berhenti beriman! Ada Allah yang “menangkap” kita. Itu iman!

*) Tinggal di Kelapa Gading. Sudah berkeluarga dengan 2 anak (anak pertama perempuan berusia 5 tahun dan anak kedua pria berusia 1 tahun). Tidak melayani secara tetap di suatu gereja melainkan  tiap hari keliling gereja. Tiap hari bekerja di Horeb Coaching Centre dan Corpus Magnus Training Centre (yang melayani gereja dan sekolah dengan mengadopsi prinsip/ide/kepimimpinan/manajemen/bisnis dari luar negeri.