Tuesday, May 7, 2013

Komunitas yang Saling Memberkati

Pdt. Lim Ie Liong

1 Petrus 3: 8-12
8   Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,
9  dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:
10  "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
11  Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
12  Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Pendahuluan.
       Hari ini perkataan “Tuhan memberkatimu”  menjadi hambar dan sekedar basa-basi di antara orang Kristen, tanpa kita memahami maknanya. Sehingga tidak terjadi kehidupan jemaat  yang seharusnya saling memberkati.  Jemaat yang diberkati Tuhan tidak menyalurkan berkatnya kepada saudara-saudar seiman, sehingga jemaat tidak merasakan hubungan yang  saling memberkati.
Kata “Memberkati” artinya  memohon kepada Allah dengan kasih karuniaNya, untuk dicurahkan kepada semua orang , termasuk orang yang melakukan kejahatan kepada orang Kristen (konteks di surat Petrus ini, dimana orang Kristen diaspora/perantauan sedang dalam penderitaan /penganiayaan karena mengikut Kristus). Surat Petrus ini ditulis kepada orang-orang Kristen yang sebagai pendatang  tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Bitinia (1 Pe.1:1).  Orang-orang Kristen pada waktu itu menghadapi berbagai  penderitaan karena mereka orang Kristen.  Dalam keadaan yang sedemikian Rasul Petrus  memerintahkan agar mereka saling memberkati. (lihat ay.9 janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dngan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil , yaitu utnuk memperoleh berkat).

Apa itu KOMUNITAS?
        Komunitas: suatu tempat di mana dan dengan siapa orang-orang dapat berhubungan, member kontribusi, dan mempunyai rasa memiliki.        Komunitas mungkin merupakan keinginan terbesar  yang  tidak dapat ditemui oleh orang-orang dalam kebudayaan kita. Lebih dari apapun juga, gereja kecil dan ibadahnya merupakan ukuran yang tepat dalam menyediakan hal-hal tersebut. Contoh: sebelum memulai ibadah, memberikan salam terlebih dulu, suasana kegembiraan, kehangatan , serta kepeduliaan tercipta. Dalam survey ibadah kami, waktu kegembiraan dan kepedulian merupakan komponen tertinggi kedua dalam ibadah. Para pengunjung sering menemukan diri mereka terbuka kepada orang yg beberapa menit sebelumnya tampak sebagai orang asing. Rendahnya tingkat anggota/jemaat yg keluar dari komunitas jemaat kami merupakan bukti dari tingginya tingkat persekutuan kami. (dikutip dari buku “Gereja yang Hidup”, ditulis oleh David R. Ray).

1.       HIDUP YANG SALING BERDAMAI.
Dahulu kita orang berdosa, yang  ketika kita bertobat dan percaya pada Tuhan Yesus , kita berdamai dengan Allah oleh penebusan Yesus Kristus di atas kayu salib, sehingga kita memiliki damai sejahtera, agar kita dapat berdamai juga dengan sesama kita. (Matius 5:9 - Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka  akan disebut anak-anak Allah).
Disini Rasul Petrus  menekankan  mereka yang berbalik dari dosa perkataan dan perbuatan serta mencari damai sejahtera  akan mengalami:
a)       Hidup yang penuh berkat dan perkenanan Allah.
b)       KehadiranNya yang dekat dengan pertolonganNya  dan Kasih KaruniaNya ( 1 Petrus 3:12).
c)       Jawaban Allah atas doa mereka. (bnd. Yak. 5:16; 1 Yoh.3:21-22).
       Hidup yang saling berdamai karena  kita sudah berdamai dengan Allah, maka kita dapat berdamai dengan sesama kita, terlebih lagi kita sebagai jemaat dalam komunitas, seharusnya hidup saling berdamai, sehingga kita dapat memberkati.

2.       HIDUP YANG SALING MENGASIHI.
Yohanes 13:35 – dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. Saudara kita dapat saling memberkati, kalau kita hidup saling mengasihi.  Lihat ay. 8. Rasul Petrus memerintahkan … hendaklah kamu semua seia sekata (satu tujuan) , seperasaan, mengasihi saudara2, penyayang (belas kasihan), dan rendah hati. (lihat ayat.9 jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, caci maki …dst).Disini kita bisa menjadi berkat satu dengan yang lain di mana komunitas jemaat yang saling mengasihi, satu tujuan dan satu perasaan memiliki belas kasihan. Dan satu karakter yaitu rendah hati. Saudara orang yang rendah hati dapat memberi / membagi kasih kepada saudara-saudara yang membutuhkan kasih atau belas kasihan.
Dalam komunitas jemaat di mana memiliki tinggi hati / kesombongan / gengsi , seringkali timbul perselisihan / pertengkaran seperti jemaat di Korintus, sehingga di 1 Korintus 13 , Rasul Pualus berbicara tentang KASIH.dan 1 Kor. 14:1, Rasul Paulus berkata: Kejarlah kasih itu,…… Saudara komunitas jemaat yang saling memberkati, apabila hidup dalam komunitas jemaat yang saling mengasihi.



3.       HIDUP YANG SALING MEMBAGI (SHARE).
       Saudara komunitas jemaat yang saling memberkati, karena jemaat saling membagi berkat kepada saudara-saudara seiman. Tanpa berbagi (share), maka tidak mungkin kita dapat memberkati, agar saudara seiman dapat memperoleh berkat.  Baik berkat rohani maupun berkat jasmani/materi.
Jemaat mula-mula setelah hari Pentakosta, mereka hidup yang saling berbagi berkat Tuhan yang mereka telah terima.  (lihat. Kisah 2:44… semua orang yg telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.( Ay. 45….. menjual, lalu membagi-bagikannya sesuai … keperluan masing2).Apa yang terjadi , jika komunitas jemaat yang saling memberkati, bukan saja menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman, tetapi juga menjadi kesaksian/berkat kepada saudara-saudara yg belum percaya.
Perhatikan ayat 47…. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari ada orang yang diselamatkan.
       Hal yang rohani, yaitu jika berkat-berkat rohani, pengalaman bersama dengan Tuhan kita sharingkan/bagikan melalui kesaksian , sehingga kita dapat menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman,  Sehingga kita saling menguatkan dan membangun iman rohani kita.

PENUTUP:
       Marilah jemaat kita menjadi komunitas  yang saling memberkati, sehingga berkat yang kita telah peroleh dari Tuhan dapat dibagikan kepada saudara-saudara seiman, sehingga saudara-saudara seiman mendapat berkat melalui kita (baik berkat rohani maupun berkat jasmani/materi bagi mereka yang  membutuhkan pertolongan). Tuhan mau memakai kita yang diberkati untuk menyalurkan berkat-berkat Tuhan yang telah kita terima. Janganlah menjadi orang Kristen yang hanya menikmati berkat-berkat Tuhan untuk diri sendiri, tetapi bagikan kepada saudara2 seiman, sehingga kita menjadi komunitas jemaat yang saling memberkati. Kiranya Tuhan memberkati FirmanNya yang telah kita renungkan. Amin.


Sunday, April 28, 2013

Penderitaan yang Memurnikan dan Mendewasakan



Sekar Wulan

Ayub 42:1-6,
1   Maka jawab Ayub kepada TUHAN:
2  "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
3  Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
4  Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
5  Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
6  Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu."

1 Perus 1:6-9
6  Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.
7  Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
8  Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,
9  karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Pendahuluan
Benarlah yang mengatakan, bahwa hidup kita bukanlah produk yang “sekali jadi”, melainkan suatu “proses menjadi”. Bergerak. Berkembang. Bertumbuh. Berubah. Dalam setiap proses pertumbuhan ini, satu unsur tak terhindarkan: kesakitan. Bertumbuh itu menyakitkan. Membingungkan. Menimbulkan ketidakpastian. Penderitaan adalah proses yang akan dialami oleh setiap roang percaya untuk berubah dan berbuah ke arah yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan dalam kehidupan manusia. Yang tidak dapat dipungkiri, kita memang manusia yang sejak awal telah jatuh ke dalam dosa dan menerima penderitaan itu sebagai ganjaran. Tetapi dibalik setiap penderitaan yang kita alami, apakah Tuhan tidak pernah peduli? Apakah Tuhan tidak memiliki kebaikan-kebaikan di dalam penderitaan yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Pergumulan Hidup (Ayub 42:1-6)
Ayat-ayat ini menunjukkan suatu perubahan yang total di dalam pengalaman seorang yang saleh. Ayub adalah seorang saleh yang di zaman yang sangat awal, dan ia mungkin lebih dahulu ada daripada Musa. Ayub hidup di zaman yang sangat kuno, ia tidak hidup dalam arus orang Yahudi dan tidak menerima Perjanjian Lama (Hukum Taurat). Namun ia memiliki pengalaman yang ajaib dengan Tuhan. Ia mengalami pencobaan dari iblis. Pencobaan itu diijinkan oleh Tuhan dan dipakai oleh Tuhan sebagai ujian. Jadi, pada satu pihak ia menerima pencobaan dari iblis, di pihak lain Allah menggunakan pencobaan itu sebagai ujian bagi Ayub. Hal inilah yang menimbulkan konflik iman di dalam diri Ayub sehingga ia mengalami pergumulan yang sangat berat. Pergumulan yang paling berat adalah tuduhan dari mereka yang menganggap bahwa penderitaannya pasti karena akibat dari perbuatan dosanya yang tersembunyi. Pergumulan ini terus berlangsung dan Tuhan sepertinya tidak memberikan jawaban apa-apa. Seolah-olah membiarkan orang itu terus bergumul. Di tengah pergumulan itu, terjadi perdebatan antara Ayub dengan ketiga temannya. Ayub, satu orang melawan tiga orang temannya. Sampai pada akhirnya terbukti bahwa ketiga orang teman Ayub tidak mengerti rencana Allah yang jauh melebihi konsep manusia. Ayub sepertinya tidak menerima suatu imbalan yang umumnya dimengerti oleh manusia. Pada saat ia mengalami kesulitan tersebut, seharusnya ia mendapatkan penghiburan dari mereka yang sehati dan dekat dengannya. Tetapi justru sebaliknya yang Ayub dapatkan: fitnahan, kritikan, kutukan dari mereka yang seharusnya paling mengerti keadaannya.
Kalau kita perhatikan, ketiga teman Ayub sebenarnya begitu mengasihi dan memperhatikan Ayub. Sehingga begitu mereka mendengar bahwa Ayub sedang menghadapi musibah, yaitu sepuluh anaknya mati, seluruh hartanya hilang dan Ayub sendiri menderita penyakit yang berat, mereka datang dari tempat yang jauh untuk menghibur Ayub. Selain itu, mereka tidak menghibur Ayub dengan kata-kata kosong belaka. Disinilah letak kesulitan kita. Ketika kita melihat orang lain mengalami kesulitan dan bencana, seringkali kita dengan mudahnya berkata, “Jangan sedih, jangan menangis, banyaklah berdoa. Tuhan tahu, serahkan saja pada Tuhan.” Perkataan yang membosankan ini tidak akan pernah memberikan penghiburan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya seringkali ketika kita menghibur orang yang sedang dalam kesulitan, makin kita hibur ia justru makin merasa jengkel dengan kita. Karena kita belum pernah sungguh-sungguh mengerti kesedihannya.
Akan tetapi, ketika ketiga teman Ayub datang untuk menghibur Ayub, mereka menghibur dengan cara yang sangat berbeda, yaitu dengan berdiam diri. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun, tidak menegur ataupun berbicara. Mereka duduk di samping Ayub selama 7 hari 7 malam. Ini semacam pendampingan atau simpati yang dinyatakan dengan berdiam diri dan di dalam kesunyian. Penghiburan semacam ini sangat berarti dan merupakan sebuah pernyataan simpati yang luar biasa. Namun, pada akhirnya mereka juga sudah tidak tahan lagi. Setelah 7 hari 7 malam, mereka mulai berbicara untuk mengkritik Ayub. Semuanya ini menandakan bahwa simpati dan cinta kasih manusia bagaimanapun besarnya, tetap terbatas.
Jangan berharap bahwa orang yang paling dekat dengan saudara akan bisa mengerti segala kesulitan dan kesusahan yang kita alami. Istri Ayub, seorang yang seharusnya paling dengat dengannya, justru berkata: “Kalau Tuhanmu hidup mengapa anakmu semuanya mati? Mengapa keadaanmu menjadi seperti ini? Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” Orang yang paling dekat dengan Ayub justru mengucapkan perkataan seperti itu.
Ketiga teman Ayub juga mulai menuduh dan menghakimi Ayub. Mereka berkata bahwa jika Ayub adalah orang yang cinta Tuhan, dan sekarang mengalami kemalangan seperti ini, maka pastilah ada dosa-dosa yang tidak kelihatan.
Tuduhan ini muncuk karena mereka mempunyai konsep bahwa Allah adalah Allah yang Maha adil, dan Allah yang Maha adil tidak mungkin melakukan suatu perbutan yang tidak adil. Menurut mereka, Ayub pasti teah berbuat sesuatu yang mengakibatkan dosa, sehingga oleh karena dosa itulah maka ia dihakimi oleh Allah.
Memang benar bahwa Allah adalah Allah yang Maha adil. Memang benar bahwa apa yang Allah kerjakan tidak mungkin berdasarkan ketidakadilan. Konsep ini memang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tetapi ada satu kalimat yang belum mereka katakan, dan kalimat itu dikatakan oleh Ayub (42:3 - baca).
Kalimat ini menyatakan tentang kehendak Allah yang tersembunyi, yang melampaui segala kemungkinan pengertian kita. Kehendak yang tersembunyi dan misterius dari rencana Allah yang kekal, tidak mungkin kita mengerti seluruhnya.
Di tengah pergumulan hidup kita, kita perlu mengerti tentang poin ini. Jika tidak, maka kita akan selalu mengeluh dan bersungut-sungut, tidak puas, tidak rela taat, bahkan bisa meninggalkan Tuhan. kita akan terus bertanya, “Mengapa orang lain hidupnya lebih baik daripada saya? Mengapa orang lain tidak mengalami kesulitan seperti yang saya alami?”
Tidak ada orang hidup yang tidak merasakan kesulitan, tanpa air mata dan tidak mengalami ketidakadilan. Jika saudara tidak mau menerima fakta, maka saudara akan terus memikul salib yang tidak ada harganya. Semakin saudara marah, semakin saudara lemah; semakin saudara lemah, semakin saudara jengkel, dan akhirnya saudara akan terus berada dalam lingkaran pergumulan saudara.
Inilah titik bahaya bagi Ayub. Jika ia tidak berhasil keluar dari titik ini, maka dia akan menjadi orang yang mencela Allah, menjadi ateis dan menjadi alat di tangan iblis. Namun, akhirnya Ayub bisa keluar dan ia mulai melihat pemecahan masalahnya, yaitu pada Allah yang tidak dapat dimengerti oleh akal manusia (Trancendency of God).
Allah tidak boleh diukur dengan ukuran, atau dimasukkan ke dalam “kotak” rumusan, atau dikurung dalam prinsip yang dibangun oleh manusia. Di sinilah letak pemecahan masalah Ayub. Ayub mengerti bahwa Allah tidak dapat dimengerti sepenuhnya oleh manusia yang sangat terbatas. Oleh karena pengertian seperti inilah, maka Ayub bisa keluar dari lingkaran permasalahannya.
Kalau kita mempunyai pengertian tentang rencana dan kehendak kekal Allah yang misterius, yang jauh melampaui kemungkinan kita untuk mengerti, maka kita akan dilepaskan dari ikatan-ikatan pemahaman kita yang terbatas. Jika kita menerima dan menghadapi fakta dengan berani, dan kemudian mengaitkan fakta itu dengan rencana kekal Allah yang misterius, maka kita akan terlepas dari ikatan masalah dan pergumulan hidup kita.
Namun bagaimana kita dapat mencapai atau memperoleh keberanian untuk menghadapi kesulitan dan masalah hidup kita? Bagaimana caranya supaya kita dapat mempunyai kekuatan untuk menghadapi kesulitan yang menggerogoti iman kita sehingga kita tetap dapat hidup dalam sukacita?
Ini tidak mudah! Tetapi, inilah yang disebut hidup rohani, yaitu hidup yang menerima fakta dengan berdasarkan pengertian tentang rencana Allah yang melampaui pengertian kita dan menerima rencana Allah yang kekal dan yang misterius itu.
Ayub bisa mengakui ketidak mampuannya untuk mengerti rencana Allah yang msiterius, karena ia tahu bahwa Allah itu Maha kuasa. Ayub mengatakan, “Aku tahu, Engkau Maha kuasa (sanggup melakukan segala sesuatu).” Kita tahu Allah itu Maha kuasa, namun seringkali kita tidak mengerti arti sebenarnya dari penyataan itu. Pernyataan ini seringkalai hanya sekedar pengetahuan umum saja. Allah Maha kuasa artinya Ia menguasa segala sesuatu di dalam seluruh aspek hidup kita. Ayub melanjutkan, “Tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Terjemahan yang tepat, “tidak ada yang bisa merintangi-Mu.” Tidak ada orang yang bisa merintangi kehendak-Mu karena Engkau Maha kuasa.
Karena pengetahuan dan pemahaman kita telah dirusak oleh dosa, maka pengetahuan kita tentang Allah yang Maha kuasa juga rusak. Itulah sebabnya kita sering bertanya, “Kalau Allah itu Maha kuasa, mengapa ia tidak menyelamatkan saya? Mengapa Ia tidak menolong saya dan malah membiarkan saya dalam kesengsaraan ini?” Jika tidak ada yang bisa merintangi-MU, “Waktu Engkau mau menolong saya, Engkau dirintangi oleh siapa, sehinga Engkau tidak jadi menolong saya?
Jika Engkau benar-benar Maha kuasa, mengapa Engkau tidak menolongku? Jika Engkau menolongku, namun aku tetap menderita, maka bukankah hal itu berarti Engkau dirintangi?” Iman  kita mulai menjadi goncang. Apakah hal seperti ini pernah terjadi di dalam kehidupan saudara?
Apakah selama ini kemahakuasaan Allah membuat saudara bingung? Saudara dan saya bingung karena pemahaman dan pengertian kita telah rusak. Kita tidak mampu benar-benar mengerti kemahakuasaan Allah. Mari kita belajar dari Ayub.
Ketika Ayub sadar, ia mengubah semua situasinya dan mulai mengakui, “Engkau Mahakuasa, sebaliknya aku tidak mungkin mengerti.” Ini berarti sama dengan mengatakan, “Kemahakuasaan-Mu jauh melebihi rasioku.”
Kehendak dan rencana Allah yang kekal jauh melampaui kata-kata yang dapat diucapkan. Perbendaharaan kata yang ada tidaklah cukup untuk menyatakannya. Kehendak dan rencana Allah jaug melampaui perkiraan rasio manusia. Pengetahuan Allah melampaui semua kemungkinan pengetahuan kita. Kemahakuasaan Allah juga melampaui pengalaman dan emosi kita.
Itulah sebabnya Ayub mengatakan, “dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” Ungkapan ini adalah sebuah kiasan, karena pada waktu itu, cara orang-orang yang tinggal di Timur Tengah, di dalam mengutarakan kesedihan yang begitu mendalam adalah dengan menaburkan abu di atas kepala, muka dan tubuhnya.
Apa yang Ayub sesali? Ayub menyesal karena dengan pengertiannya yang terbatas, ia sudah terlalu cepat menilai Allah, dan ia sudah berusaha memasukkan Allah ke dalam kotak logikanya sendiri. Ia juga sudah menyalahkan Allah dan tidak mau menerima fakta. Ia telah beranggapan bahwa jika Allah Maha kuasa, maka mengapa Dia menimpakan kesulitan itu kepadanya.
Tetapi sekarang dia sudah memahami bahwa pengertian seperti itu adalah salah dan ia sudah mengerti bahwa Allah melebihi pengertiannya. Oleh karena itu, sekarang ia tunduk pada rencana Allah, karena ia tahu bahwa kehendak Allah lebih tinggi dari pengetahuan dan pengertiannya. Perubahan semacam ini adalah suatu perubahan yang luar biasa.
Kunci perubahan ada dalam kalimat ini, “dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (46:5). Pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang bersifat sangat pribadi, antara pribadi dengan pribadi.
Ayub berkata, “tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Bagaimana caranya kita memandang Allah? Kita melihat Allah bukan secara fisik, karena Allah itu Roh. Karena Roh Allah itu suci, maka hanya jika hati kita suci dan rohani kita murni, barulah kita dapat melihat Allah.
Tuhan Yesus mengatakan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).
Saudara lihat! Betapa pentingnya mengenal Allah secara pribadi. Bukan dengar dari perkataan orang lain, tetapi kita secara pribadi yang mengalaminya. Pengenalan Allah secara pribadi mempengaruhi seluruh kehidupan rohani kita dan sudut pandang kita dalam memandang hidup, masalah dan kesulitan yang kita alami.
Inilah hal yang paling penting yang harus kita cari dalam hidup kita, dan harus menjadi tujuan utama dalam hidup kita, yaitu mengenal Allah secara pribadi. Seorang teolog Finlandia mengatakan, “Mengenal Tuhan secara pribadi itu sangat pahit.” Pertama kali mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh secara pribadi, pengalaman pengenalan itu adalah pengalaman yang pahit. Tetapi banyak gereja sekarang berusaha supaya orang dapat mengenal Allah dengan pengalaman pertama yang manis.
Mengapa pengalaman pengenalan Tuhan secara pribadi merupakan pengalaman yang pahit? Mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh secara pribadi, berarti saudara dan saya harus melucuti/ menelanjangi segala topeng kemunafikan kita, dosa kita, kepalsuan kita yang selama ini menutupi hidup kita. Bukankah ini merupakan pengalaman yang pahit?
Biarlah Allah yang menlucuti segala topeng kemunafikan, dosa dan kepalsuan kita, sehingga kita benar-benar menjadi orang yang menganal Dia secara pribadi. Inilah kehidupan rohani yang sejati. Inilah yang harus menjadi tujuan utama dalam seluruh kehidupan kita.
Mengenal Allah secara pribadi inilah yang akan memampukan kita berjalan dalam kehidupan yang penuh dengan pergumulan, masalah dan penderitaan. Dengan telanjang secara rohani kita menyatakan diri kepada Tuhan, “Tuhan, jika Engkau mau menolong saya atau tidak menolong saya dari kesulitan, itu terserah pada kedaulatan-Mu.” Orang yang benar-benar mengenal Allah secara pribadi, dia akan mampu mengucapkan kalimat itu tanpa keraguan ataupun protes.
Ayub menerima fakta. Ayub tahu bahwa kematian anaknya, istrinya yang meninggalkannya dan penderitaannya, semuanya berada di dalam kedaulatan Tuhan. Ayub sadar bahwa kehendak Allah jauh melampaui pengertian manusia, dan Ayub pun menyesal karena kata-katanya yang bodoh. Sesudah terjadi penerobosan ini, maka Tuhan baru mulai menolong dia. Baru setelah Ayub sungguh-sungguh mengerti secara pribadi, maka kemahakuasaan Allah dinyatakan.

Ilustrasi: Pohon terkenal
Di California Selatan ada sebatang pohon yang terkenal di seluruh Amerika. Sepanjang tahun pohon itu dikunjungi ribuan wisatawan dari dalam dan luar negeri. Bentuk pohon itu sama sekali tidak sedap dipandang mata. Tingginya kurang dari 2 meter dengan batang agak pipih & melintir. Hanya sebagian cabang ditumbuhi daun, sedang bagian lainnya gundul. Pohon itu menjadi terkenal karena tumbuh di atas batu granit yang keras. Tingginya sekitar 100 mtr di atas permukaan laut, menghadang langsung Samudera Pasifik yang anginnya keras  mendera. Tidak ada pohon lain yang tumbuh di sekitarnya, kecuali pohon itu. Rupanya beberapa tahun lalu sebutir biji pohon terbawa angin, dan jatuh di celah batu granit yang ada tanahnya. Benih itu kemudian tumbuh, tetapi setiap kali batang muncul keluar, langsung hancur diterpa angin Pacifik yang kencang. Terkadang pohon itu tumbuh agak besar, tapi badai kembali memporakporandakann ya. Sekalipun demikian, akarnya terus tumbuh menghunjam ke bawah mencapai tanah melewati poros-poros batu granit sambil menghisap mineral-mineral di sekitarnya. Sementara itu batangnya tumbuh terus setelah berkali-kali dihancurkan angin kencang, makin lama makin kokoh dan liat sampai akhirnya cukup kuat menahan terpaan badai, sekalipun bentuknya tidak karuan. Oleh orang Amerika, pohon tersebut dianggap sebagai simbol ketegaran karena seakan-akan memberi pelajaran kepada umat manusia untuk tetap tabah dan gigih dalam menghadapi berbagai cobaan dan gelombang kehidupan.

ketika kita hidup di dunia ini, Tuhan tidak menjanjikan bahwa mengikut Dia, berarti kita akan bebas dari penderitaan, bahwa kita akan bebas dari kesusahan, tekanan, sakit penyakit, kelemahan. Dia tidak menjanjikan bahwa pekerjaan kita akan selalu lancar, bahwa semua orang akan menyukai kita, bahwa tidak akan ada persoalan hidup dalam hidup kita. Tetapi setiap kita sebagai orang-orang percaya didalam penderitaan terus belajar di proses menjadi seorang yang memiliki iman dan kesetiaan dalam Tuhan. melalu penderitaan, Tuhan memurnikan dan mendewasakan iman kita, semakin teguh dan semakin kuat di dalam dia.

Penderitaan mendekatkan kita kepada Tuhan, penderitaan memberitahukan kepada kita betapa kita ini lemah dan butuh bersandar kepada Tuhan dan bukan kepada diri kita sendiri.

Pergumulan hidup yang seperti apakah yang saat ini saudara dan saya hadapi? Bagaimana saduara dan saya hadapi pergumulan itu? Jika selama ini kita masih mempertanyakan kemahakuasaan Allah, dan ingin Allah segera menolong kita keluar dari pergumulan hidup kita, maka kita tidak akan pernah menjadi dewasa secara rohani.
Marilah kita mulai membuka diri kepada Tuhan, membiarkan Tuhan yang menelanjangi hidup rohani kita, pengetahuan dan pemahaman kita yang terbatas. Biarkan Tuhan yang menyatakan Diri-Nya secara pribadi kepada saudara, sehingga saudara juga dapat mengenal-Nya secara pribadi. Kejarlah hidup rohani yang baik, maka saudara dan saya akan mampu menghadapi pergumulan hidup dengan pertolongan dari Allah yang Mahakuasa dan tidak dapat dimengerti oleh keterbatasan kita. Amin.

Pada akhirnya kitab Ayub mengantar kita kembali kepada karunia Ilahi. Kitab Ayub mendorong kita agar memandang segala sesuatu dari segi ilahi, bukan dari segi manusiawi.

Iman berarti belajar mempercayai Allah dalam kegelapan, dalam ketidaktahuan, dalam bayang-bayang kegagagalan. Iman adalah pemberian Tuhan kepada kita agar kita dapat menerima ketidakpastian.



Sunday, April 21, 2013

Makna Pelayanan

Pdt. Paulus Daun

Mark 10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Kata melayani dalam bahasa Yunani “diakonia” (diakonein = melayani, diakonos = pelayan).Banyak pemimpin gereja yang menyalahpahami kata diakonia sebagai hanya pelayanan di bidang sosial saja seperti membagi sembako, pengobatan gratis dll. Tetapi sebenarnya arti kata diakonia sangat luas. Kalau boleh didefinisikan , setiap apa yang kita pikir, lihat, dengar, katakan, lakukan, motivasi, orientasi kepada Allah itu yang disebut diakonia. Banyak umat Kristen menyalahpahami arti diakonos. Diakonos dikatakan segilintir orang yang duduk dalam organisasi seperti para pendeta, penginjil, majelis, dan pengurus, sedangkan anggota gereja awam bukan diakonos. Oleh karena kesalahpahaman makna diakonos, maka banyak orang Kristen bersikap apatis terhadap gereja. Asal setiap minggu datang ke gereja sudah cukup, beri persembahan sudah lumayan, apalagi memberikan perpuluhan hebat sedangkan pergumulan dan masalah di gereja tidak mau pusing. Padahal yang dimaksud dengan diakonos, adalah setiap orang yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, memiliki hidup Kristus, entah kaya- miskin, punya posisi atau tidak, asal percaya Yesus dan mempunyai hidup Kristus dalam dirinya, dia adalah diakonos (pelayan). Banyak orang Kristen mempunyai pelayanan tetapi setelah lama ikut pelayanan jadi ogah-ogahan. Ada juga yang bila senang dengan pendeta melayani, tidak senang tidak melayani. Mengapa ada tendensi demikian? Karena banyak orang Kristen tidak mengerti tentang makna pelayanan. Kalau setiap kita mengerti makna pelayanan, tidak perlu pendeta mendorong, mengimbau dsbnya, masing-masing akan berlomba-lomba partisipasi dalam pelayanan.

Makna pelayanan

1.       Kita dipanggil , dipilih dan mau dipakai sebagai pelayan. Itu hak istimiewa yang diberikan Tuhan kepada kita. Allah kita Maha Mulia, Agung, Tinggi, Dia dihormati , dimuliakan oleh malaikat, jauh di atas sana pada tahta Kerajaan Sorga. Dalam kitab Mazmur, kita adalah debu tanah. Di hadapan Allah posisi kita sangat rendah, kita tidak berarti sama sekali. Tetapi Allah tidak melecehkan kita, di antara demikian banyak orang. Allah memilih, memanggil dan memakai kita. Inilah hak istimewa yang Tuhan berikan pada kita. Kalau mengerti hak istimewa, penghargaan luar biasa yang diberikan Allah kepada kita, beranikah kita melalaikan, meremehkan posisi kita sebagai diakonos?
2.       Kita dipanggil, dipilih dan dipakai Allah, ini merupakan anugerah. Hadiah yang diberikan oleh orang yang lebih tinggi dari kita yang sebenarnya tidak layak kita terima, tetapi sudah diberikan. Inilah yang dimaksudkan dengan anugerah. Keselamatan dalam Yesus kita peroleh karena anugerah. Tetapi sebagai pelayan juga merupakan anugerah. Misalnya sebagai  pemilik perusahaan, tatkala merekrut tenaga kerja, saya memilih tenaga kerja, kita pilih  yang pandai, terampil, penampilan menarik, kalau bisa IPKnya 4. Kalau Allah Bapa memilih tenaga kerja sama seperti pemilik di perusahaan tersebut, kita tidak akan mendapat bagian. Mungkin di gereja paling kaya, tetapi dibanding kekayaan orang dunia, kita tidak terhitung apa-apa. Mungkin di gereja kita orang terpintar , tetapi dibandingkan kepintaran orang dunia, tidak ada apa-apanya. Mungkin pendidikan kita paling tinggi di gereja (S3), tetapi dibadingkan pendidikan orang dunia jauh ketinggalan. Allah kita luar biasa, tidak memanggil, memakai orang dunia , tetapi memanggil kita menjadi pelayan. Inilah anugerah. Kalau kita menyadari kita bisa menjadi pelayan Tuhan, bukan karena kita pintar atau hebat, ini adalah anugerah yang diberikan. Berani kita sia-siakan anguerah Tuhan?
3.       Kita jadi diakonos merupakan kesempatan yang diberikan kepada kita. Kesempatan tidak selalu ada. Hari ini ada, belum tentu besok ada. Begitu kesempatan berlalu untuk selama-lamanya kita tidak bisa mengambilnya. Sewaktu jadi gembala sidang, saya suka melibatkan seluruh jemaat. Suatu kali saya menugaskan seorang ibu tua menjadi penyambut tamu yang berdiri di depan gereja memberi warta gereja, buku nyanyian dan Alkitab. Menurut pandangan banyak orang , pelayan peyambutan tidak ada arti apa-apa,  tidak menarik perhatian. Tetapi yang dinamakan pelayanan untuk Tuhan , di mata Tuhan tidak ada yang besar atau kecil. Kalau sungguh-sungguh melayani dengan tulus hati, Tuhan bisa memakai kita. Orang bisa bertobat karena mendengar khotbah pendeta yang luar biasa. Namun penyambut tamu, juga bisa menobatkan orang. Sebagai pelayan penyambut tamu, saya mempersiapkan diri baik-baik, berdoa, “Pakai saya Tuhan sebagai penyambut tamu hingga bisa menjadi berkat bagi orang lain”, berpakaian sopan, menyambut tamu dengan wajah senyum , menyapa jemaat satu per satu datang, hati penuh dengan kedamaian. Mungkin ada yang baru pertama kali datang, merasakan sambutan yang luar bisa hangatnya, muka penuh ramah tamah dan senyum. Dia tidak pernah merasakan yang demikian di dunia tetapi di gereja. Ia merasakan damai sejahtera. Ia tidak hanya datang sekali, tapi 2 x, 3 x terus jadi anggota gereja. Pelayanan kecil tapi berakibat luar biasa besar. Tapi sang ibu berkata,”Lain kali jangan tugaskan saya menjadi penyambut tamu.”  Sewaktu saya katakan, “Ini pelayanan”, ia berkata, “Sekali lagi, saya tegaskan jangan atur saya.” Akhirnya saya tidak atur lagi. Suatu hari saya menerima telpon. Orang di sebrang menangis dan berkata,”Muse cepat datang ke rumah sakit. Mama saya (ibu tua tadi) anval”. Ternyata secara medis, sudah tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali kuasa Tuhan. Setelah didoakan akhirnya ia sembuh namun mati separuh badan dan dirawat di rumah. Saat dibesuk, ia menangis. Dia pegang saya, “Muse , doakan saya. Kalau Tuhan sembuhkan, jangankan penyambut, kunjungan atau apapun yang diatur saya laksanakan.” Saya hibur dia, tapi dalam hati berteriak. “Ibu kenapa waktu ada kesempatan tidak melayani. Kenapa ksempatan berlalu baru ibu mau pegang. Menyesal kemudian tidak ada gunanya.” Sampai menghembuskan nafas terakhir tidak punya kesempatan lagi. Ungkapan orang Yunani berkata, “Orang bodoh selalu menyia-nyiakan kesempataan. Orang biasa selalu menunggu kesempatan. Orang pintar memegang setiap kesempatan yang diberi.” Saya tambahkan, “Orang pintar dan bijaksana, bukan saja memegang tapi menciptakan kesempatan.” Bila kita datang ke gereja, tidak melayani maka ciptakan kesempatan dengan datang ke hamba Tuhan dan katakan,”Saya sudah lama datang ke gereja dan sudah siap melayani.” Ini namanya menciptakan kesempatan, karena kesempatan melayani tidak selalu ada. Kalau berlalu tidak bisa dibeli dengan air mata, uang dan apapun. Begitu diberikan kesempatan,peganglah.
4.       Mempunyai nilai kekal. Semua yang ada dalam dunia bersifat sementara. Suatu hari kita akan melepas semuanya. Ada orang yang mengejar kekayaan. Bekerja pagi, sore dan malam. Bukan saja suami , tetapi istreri juga bekerja. Cari uang agar cepat kaya, namun begitu mata “tertutup”, semuanya akan habis. Ayub mengatakan, “Dengan telanjang aku lahir di dunia. Dengan telanjang juga aku akan pergi dari dunia.” Tetapi melayani, nilainya kekal. Bukan kita rasakan dalam dunia ini, tetapi dibawa saat meninggalkan dunia. Dulu ada orang Kristen kaya sekali tapi pelit. Bicara rohani luar biasa, tapi saat bicara tentang uang, dia yang nomor satu melarikan diri. Suatu malam saat tidur, ia bermimpi. Malaikat membawa dia jalan ke sorga. Waktu lihat surga, indah sekali. Malaikat lalu membawa dia ke suatu tempat, ada rumah yang luar biasa besar dan mewah, perabotnya luar biasa mengkilap. Lalu dia bertanya ke malaikat, “Ini rumah siapa?” Malaikat menejlaskan bahwa itu rumah milik A. Ia kaget , A adalah nama tetangga yang miskin. Orang miskin punya rumah yang besar di sorga. Lalu dia gembira , kalau yang miskin  rumahnya luar biasa, apalagi dia yang kaya. Ia lihat ke kiri dan kanan. Malaikat berjalan di jalan yang dibuat dari emas batangan. Pelan-pelan dia diajak ke jalan yang dibuat berturut-turut dari hotmix, aspal, batu, becek-becek ,  baru di sana ia melihat rumah gubuk , reot, bau, basah dsbnya. Ia di bawa ke rumah tsb. Ia pun bertanya, “Ini rumah siapa?” Malaikat menjawab,”Inilah rumahmu.” Ia kaget dan protes, “Tidak benar, mungkin administrasi sorga salah. Masa tetangga yang miskin rumahnya mewah, tetapi berbeda dengan rumahnya.” Malaikat menjawab,” Admin sorga tidak pernah salah. Benar di dunia miskin, tetapi setiap peser di dunia dia rajin menabung di sorga. Jadi di dunia ia miskin, tetapi kaya di sorga. Kamu kaya dunia, depositokan di bank dunia, tetapi bank sorga kosong. Maka di dunia kamu kaya, di sorga miskin.” Begitu kagetnya, sampai ia bangun. Untung mimpi. Sejak itu ia bertobat, bukan saja bicara tetapi keluar uang juga nomor satu. Bangun gereja, teorinya banyak, keluar uang juga banyak. Saya yakin rumahnya di surga juga luarbiasa. Setiap air mata, dana yang dipersembahkan di hadapan Allah, tidak sia-sia. Oleh karena itu dalam kitab Wahyu dikatakan ”berbahagialah orang yang meninggal dalam Tuhan. Bukan saja ia istirahat, segala sesuatu yang mengiringi dia dunia, mengiringinya masuk ke sorga. Untuk apa bekerja mati-matian pada dunia yang fana, seharusnya untuk yang bersifat kekal lebih mati-matian. Tetapi sering kita terbalik. Untuk makan bakmi, bakso, nasi padang, kita rela keluarkan uang ratusan ribu, tetapi untuk pekerjaan Tuhan , keluarkan uang seperti mencabut nyawa kita. Setiap kolekte dijalankan, sambil nyanyi buka dompet. Yang merah , biru, hijau disingkirkan, yang abu-abu dikeluarkan. Untuk dunia banyak kita keluarkan uang, tetapi untuk pekerjaan Tuhan pelit. Bagaimana dengan rumah Tuhan yang rusak? Siapa di yang perhatikan? Kalau setiap kita sadar, apa saja yang kita lakukan untuk Tuhan. Sampah di gereja, diambil dan taruh di tempat sampah. Orang lain tidak melihat tetapi mata Tuhan melihat. Nilainya luar biasa.
5.       Melayani itu sumber berkat. Tiap tahun ulang tahun. Saat merayakannya, apa keinginan kita? Angpao? Yang dirindukan, diungkapkan yakni “panjang umurnya.” Supaya umur panjang. Setiap orang rindu punya umur panjang.  Kalau kita mau umur panjang, rajin melayani. Tuhan Yesus memberi perumpamaan. Tuhan melihat pohon ara di kebut. Tahun pertama tidak berbuah. Tahun kedua, ketiga tidak berbuah. Jengkel tuannya, tukang kebun dipanggil untuk potong. Tukang kebuh bilang, “Kasihan dia, beri kesempatan. Beri pupuk biar tahun depan bisa berbuah. Bila tidak berbuah juga, tebanglah dia.” Kalau mau cepat mati, tiap minggu datang terkantuk-kantuk, bukannya mengerti firman Tuhan. Allah di surga melihat. Orang yang tidak ada sumbangsih untuk dunia, tidak ada gunanya, maka tebanglah.
Setiap anggota yang mengerti makna pelayanan berkata seperti perkataan Tuhan Yesus, “Manusia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.” Rela menyerahkan nyawa. Itulah makna pelayanan. Jangan sedikit keluar keringat, ngomel. Tuhan Yesus bukan saja mencucurkan air mata, keringat, waktu dan tenaganya tapi juga mencucurkan darah dan serahkan nyawa karena Dia tahu makna pelayanan.